KEESAAN TUHAN DAN KEMANUSIAAN: Secuil Pengalaman Kala Sedikit Mendalami Tiga Agama Serumpun Yahudi, Nasrani Dan Islam

Alkisah, saya ingin naik haji. Sebagai seorang muslim, tentu saja melakukan kewajiban agama “jika mampu” itu adalah impian sejak lama. Tapi apalah daya, kondisi “jika mampu” itu belum kesampaian di tahun 2015 ini, sebagaimana tahun-tahun sebelumnya. Tak apa lah, mungkin memang belum waktunya, masih diuji sabar dulu. Nah, untuk tahun ini kesabaran saya ternyata diganjar dengan tambahan ilmu melalui kemajuan teknologi. Disini saya berhutang terima kasih pada Smartfren.

C360_2015-09-18-14-39-11-221Smartfren, salah satu perusahaan telekomunikasi terkemuka nusantara, baru saja meluncurkan layanan 4G LTE Advaced-nya yang memungkinkan saya berseluncur nyaman di dunia Youtube, mendonlot banyak video kualitas HD tanpa lelet, lengkap dengan paket data yang tidak pelit. Saya hanya perlu membeli Mobile Wifi [MiFi] Andromax M2P yang berteknologi 4G LTE sebagai piranti koneksi internet saya ke laptop. Konon hanya dengan enam puluh ribu rupiah saja saya bisa mendapat kuota 2 GB dan “tambahan kuota malam” sebanyak 12 GB yang berlaku dari jam 1 dini hari hingga jam 7 pagi. Kuota malam inilah yang sangat menguntungkan, karena setelah sholat Subuh saya masih punya jeda waktu yang cukup untuk menikmati kuota itu. Saya tinggal donlot video-video berdurasi panjang [1-3 jam] dengan cepat, lalu menikmatinya di waktu luang saya. Terima kasih banyak, Smartfren!

PhotoGrid_1444316860191Saat saya menikmati video-video tentang haji, saya menemukan sebuah video dokumenter produksi stasiun televisi non profit Amerika bernama PBS yang bercerita tentang perjalanan haji sekelompok muslim asal Boston. Link videonya disini: https://www.youtube.com/watch?v=cCEBwSk0ePM . Video ini sangat menarik dan informatif, menceritakan secara dekat pengalaman para jemaah dari negara maju yang moyoritas penduduknya non-mulslim. Dijelaskan pula urutan tempat dan ibadah selama perjalanan haji tersebut oleh seorang ulama Amerika secara baik dan benar. Disini saya baru tahu bahwa di Mekah seorang non-muslim dilarang masuk, sehingga peliput asli serial ini yang tidak beragama Islam harus rela mendelegasikan seorang reporter muslimah asal New York untuk mengikuti rombongan jemaah Boston tersebut.

Video berdurasi satu jam ini ternyata merupakan salah satu episode dari beberapa perjalanan keagamaan yang diliput oleh seorang jurnalis dan penulis buku keagamaan/spiritual/petualangan asal Amerika bernama Bruce Feiler. Selain episode haji ini, ada pula episode lain tentang perjalanan umat Nasrani menuju Lordes Perancis, umat Hindu di sungai Gangga India, umat Yahudi di Jerusalem Palestina, dan lain-lain. Sampai disini saya masih tidak berminat dengan perjalanan suci agama lain. Saya ingin naik haji, maka saya pikir sebaiknya saya mencari video-video lain tentang haji atau pendalaman ilmu tentang agama Islam.

PhotoGrid_1444317625330Maka bertemulah saya dengan video menarik lainnya, yaitu tentang kisah hidup Nabi Muhammad SAW produksi dari PBS juga, yang bertajuk “Muhammad: Legacy Of A Prophet”. Link videonya disini: https://www.youtube.com/watch?v=N4u8UHLJ-2Y . Selain menarasikan perjalanan kenabian Sang Rasul dari beberapa ahli teologi dan ulama Islam di Amerika, video berdurasi dua jam ini juga menceritakan tentang kehidupan para muslim disana, terutama pasca peristiwa pemboman gedung WTC di New York tanggal 11 Sepetember 2001, atau yang lebih dikenal dengan sebutan peristiwa 9/11 [dibaca Nine Eleven, untuk menyingkat September Eleventh]. Dikisahkan disitu, beberapa dari mereka harus melakukan banyak aktivitas edukasi untuk meyakinkan warga Amerika bahwa terorisme bukanlah ajaran agama Islam. Hal ini penting sekali dalam membangun kembali kerukunan antar umat beragama di Amerika.

ISLAM DAN PERANG

Saya tahu konsep itu. “Islam is NOT a religion of sword” tidak seperti asumsi kebanyakan masayarakat di Amerika. Tapi saya ingin tahu juga bagaimana media di Amerika, atau negara-negara Barat lainnya, mengangkat Islam dalam produksi dokumenter mereka sebagai bagian dari edukasi pada masyarakat tentang Islam, bukan hanya jurnalisme dalam pemberitaannya saja. Pasca peristiwa 9/11 di New York, Islam sekonyong-konyong menjadi agama sorotan dunia, baik bagi mereka yang ingin menghujat Islam dengan ketidaktahuannya, maupun bagi mereka yang ingin tahu tentang bagaimana sebetulnya ajaran yang ada dalam Islam dan bagaimana kehidupan keseharian para muslim secara mayoritas. Disini saya kemudian menemukan dua video dokumenter produksi History Channel di Amerika.

Screenshot_2015-10-08-22-30-50Pertama, video “Inside Islam” yang berdurasi 1,5 jam – linknya disini: https://www.youtube.com/watch?v=tU8p2fBN8xY – menceritakan tentang sejarah Islam terutama dari sisi politik dan kekuasaan, dari masa sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAW hingga tragedi 9/11, dari Perang Badar di masa kenabian Sang Rasul hingga Perang Teluk dan berbagai pemimpin Islam di Timur Tengah. Namun diantara perunutan sejarah itu, dimasukkan pula sisipan apa sebetulnya ajaran Islam itu, lima Rukun Islam yang wajib dilaksanakan oleh semua muslim di seluruh dunia, dan bagaimana Islam memandang “jihad” yang sebenarnya. Para narasumber yang ditampilkanpun berasal dari berbagai kalangan, mulai dari warga muslim di Amerika, para ahli teologi dan ulama Islam, sampai beberapa Pastor dari agama Nasrani dan Rabbi dari agama Yahudi. Semua narasumber menceritakan dan menyimpulkan hal yang sama, bahwa Islam adalah agama cinta kasih dan perdamaian, tidak ada bedanya dengan agama lain di bumi ini. Hanya kaum ekstrimislah – yang mana jumlahnyapun tak seberapa dibanding jumlah umat Islam di seluruh dunia – yang mencoreng nama Islam dalam sudut pandang “kemanusiaan”.

Screenshot_2015-10-08-22-34-20Video kedua dari History Channel adalah dua episode dari serial “Decoding The Past” yang mana keduanya bertajuk “Secrets Of The Koran”. Part One linknya disini: https://www.youtube.com/watch?v=OVxVOmXblkY , sedangkan Part Two ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=Ju-6ap5uNOU . Video yang masing-masing berdurasi sekitar 45 menit itu menceritakan sejarah yang sama dengan video “Inside Islam” namun dengan beberapa detail tambahan, yaitu Islam yang muncul sebagai kelanjutan atas dua agama sebelumnya [Yahudi dan Nasrani], dilanjutkan dengan bagaimana Al-Quran dan Islam mempengaruhi peradaban dunia di masa kejayaannya setelah meninggalnya Nabi Muhammad, dan diakhiri dengan bagaimana para muslim hingga saat ini memahami isi dari Al-Quran. Kejadian-kejadian dalam sejarah disajikan dengan memunculkan cuplikan ayat Al-Quran yang terkait. Salah satu yang dibahas tentunya terkait ayat-ayat tentang “jihad” yang digunakan para ekstrimist untuk menyebar terorisme. Jihad tertingi sebetulnya terdapat pada konteks pribadi, yaitu pertempuran setiap muslim dalam melawan nafsu yang ada pada diri sendiri. Memang jihad dalam konteks perang fisik juga ada dalam Al-Quran, namun selalu dalam kondisi “jika terpaksa”, yaitu tidak boleh memulai peperangan, dan kondisi para muslim harus pada posisi tertindas.

Saya tidak akan mengembangkan analisa perang ini terlalu jauh. Pastinya ada sisi lain diluar agama, seperti politik, kekuasaan atau ekonomi yang terkait dengan perang yang tak berujung pangkal di wilayah Timur Tengah itu hingga kini. Saya lebih tertarik pada sisi “kemanusiaan” dalam agama. Dan yang saya perhatikan dari berbagai video diatas adalah keterkaitan, kesinambungan dan kesamaan antara tiga agama warisan keturunan Nabi Ibrahim, yaitu Yahudi, Nasrani dan Islam. Adapun hal utama dan pertama menyatukan ketiga agama ini adalah TUHAN. Tentu banyak juga perbedaan yang memisahkan keyakinan masing-masing penganut agama ini, namun pada akhirnya ketiganya menyembah Tuhan yang sama. Tuhan Yang Maha Esa.

SEJARAH KEESAAN TUHAN

PhotoGrid_1444320139925Ada masanya beberapa tahun yang lalu saya mengalami apa yang kemudian saya maknai sebagai “cobaan hidup”. Pada saat yang sama saya mendapati diri saya mendatangi kelompok pengajian rutin bersama para tetangga terdekat di rumah saya. Dengan ilmu agama yang makin hari makin saya perhatikan dan pelajari – baik dikarenakan keingintahuan saya maupun atas kebutuhan pribadi untuk melalui cobaan hidup kala itu melalui sudut pandang keagamaan – saya kemudian dipertemukan dengan buku lama pemberian seorang teman sewindu sebelumnya yang belum sempat saya baca. Judulnya “Muhammad Sang Nabi”, sebuah buku terjemahan tentang biografi Sang Rasul karangan Karen Armstrong, seorang Ahli Teologi perempuan asal Inggris. Saya sangat suka dengan buku itu, baik dari cerita Sang Nabinya maupun dari cara penulisnya bertutur, hingga saya menuliskan kekaguman itu di Notes akun Facebook saya. Link blognya disini: https://primasantika.wordpress.com/2012/05/18/catatan-tentang-biografi-nabi-muhammad-saw/ . Sayapun kemudian tahu bahwa Karen Armstrong juga menulis buku keagamaan lain yang bertajuk “A History Of God”. Sayangnya setiap kali saya melihatnya di toko buku, saya selalu tidak berminat membelinya. Judul lengkapnya saja dalam bahasa Indonesia begini “SEJARAH TUHAN: Kisah Pencarian Tuhan Yang Dilakukan Oleh Orang-Orang Yahudi, Nasrani Dan Islam Selama 4000 Tahun”. Dengan ketebalan buku yang jauh dari tipis, sudah terbayang betapa berat membaca buku itu nantinya. Maka saya putuskan sejak saat itu tak akan pernah membelinya.

Screenshot_2015-10-08-22-43-01Barulah beberapa bulan lalu saya tahu bahwa teman saya di kantor ada yang punya, maka sayapun meminjamnya. Dan selama beberapa bulan itu pula buku itu tergeletak manis di meja kerja saya. Mungkin karena tidak ada dorongan khusus dari lubuk hati terdalam, maka setelah beberapa belas halaman terbaca, langsung saya tutup dan tak pernah saya buka lagi. Tapi bukunya juga nggak saya kembalikan. Sampai akhirnya sekarang buku itu saya buka lagi karena keingintahuan saya tentang Tuhan saat ini. Saya belum selesai membacanya sampai saya menulis ini, tapi kemudian saya menemukan video dokumenter berjudul “A History Of God” produksi History Channel yang mengedepankan Karen Armstrong sebagai salah satu narasumbernya. Linknya disini: https://www.youtube.com/watch?v=KJkNs512Lsk . Meski bukan dibuat khusus untuk buku itu, namun video berdurasi 1,5 jam ini cukup membantu saya dalam memahami apa yang ditulis Karen Armstrong di bukunya.

Jadi cerita singkatnya begini. Secara filosofi, manusia tercipta dengan kebutuhan dasar yang mempertanyakan keberadaan dirinya di dunia ini, baik tentang asal muasalnya, tentang sebab musabab terjadinya nestapa dan bahagia dalam hidupnya, tentang kejadian alam di sekitarnya, tentang hidup dan mati, dan banyak lagi lainnya. Atas kebutuhan ini, manusia mencari jawaban melalui kepercayaan atas sesuatu diluar jangkauan fisik dan pikirnya, maka muncullah karakter “Tuhan” pada masa lalu. Sayangnya, Tuhan yang diciptakan oleh daya pikir manusia ini tidaklah satu, melainkan banyak, biasanya tergantung kebutuhan saat itu. Ada Tuhan/Dewa Kemakmuran, Dewa Panen, Dewa Perang, dan sebagainya. Dan untuk membuatnya lebih dekat dengan manusia, mereka membuat patung/berhala yang diberi nama, disembah, dan bahkan diberi tumbal manusia. Inilah sekilas kondisi manusia saat itu yang disebut sebagai Politheis, menyembah banyak Tuhan. Di kaum-kaum seperti inilah Tuhan “yang sesungguhnya” – bukan Tuhan hasil kebutuhan dan keinginan manusia – kemudian mengirimkan para Rasul-Nya untuk menyuruh umat manusia menyembah hanya kepada-Nya, Tuhan Yang Satu. Tidak ada Tuhan selain Tuhan. Inilah Monotheis yang kita percayai hingga saat ini.

PARA RASUL MONOTHEIS

Screenshot_2015-10-08-22-43-18Saya akan menceritakan sedikit tentang beberapa Rasul, dimana melalui merekalah konsep Tuhan Esa ini tercapai hingga saat ini. Tapi sebelumnya, perlu saya sampaikan bahwa saya tidak melakukan riset khusus yang lebih jauh tentang kisah para Rasul yang saya tulis disini. Saya hanya menyajikan apa yang digambarkan oleh video “A History Of God”. Pernyataan tersebut penting mengingat saya tidak pernah membaca langsung kitab Taurat dan Injil, yang mana di video ini menjadi dasar penceritaan dan analisa sejarah oleh para narasumber, terutama atas cerita kenabian sebelum Nabi Muhammad, sebelum munculnya Al-Qur’an. Namun demikian, bukan berarti video ini memisahkan Taurat dan Injil dari Al-Qur’an. Ketiganya saling berkelanjutan dalam sejarah dan ajaranya. Tentunya ada perbedaan dalam pendetailan cerita, namun juga ada persamaan diantara ketiganya. Kesamaan inilah yang dalam tulisan ini ingin saya munculkan.

Kita mulai saja dari Nabi Ibrahim. Beliau hidup diantara para pemuja berhala dan masyarakat yang menumbalkan manusia untuk dewa-dewa mereka. Nabi Ibrahim yang menyebarkan wahyu dari Tuhan bahwa hanya ada satu Tuhan justru mendapat ujian terbesar dalam hidupnya, yaitu diutus untuk menyembelih putranya sendiri. Nabi Ibrahimpun melakukannya dalam ketaatan penuh pada perintah Tuhan, dan dalam sekejap Tuhan mengganti anak yang akan disembelih itu dengan seekor domba. Dalam kepercayaan Yahudi dan Nasrani anak yang disembelih adalah Nabi Iskak, sedangkan menurut kepercayaan Islam adalah Nabi Ismail. Diluar perbedaan tersebut, salah satu hal penting yang bisa dimaknai disini adalah Tuhan tidak menginginkan manusia menumbalkan manusia lain untuk Tuhan sebagaimana pada masa itu banyak dilakukan.

Setelah beberapa Nabi lain, muncullah Nabi Musa yang diutus untuk melindungi Bani Israil dari kekejaman Sang Firaun Raja Mesir yang memeperbudak mereka. Nabi Musa bertemu dengan Tuhan, yang oleh pemeluk agama Yahudi hingga kini disebut sebagai Yahweh, salah satu nama Tuhan bagi mereka. Pada saat kejadian yang dikenal dengan nama “Exodus” dalam kitab suci Taurat dan di Perjanjian Lama dalam kitab suci Injil, Nabi Musa berhasil membawa selamat masyarakat Bani Israil keluar dari Mesir melewati Laut Merah yang terbelah, sebagaimana diceritakan juga dalam kitab suci Al-Qur’an. Bani Israil kemudian hidup di kaki gunung Sinai. Nabi Musa sendiri kemudian dikisahkan bertemu dengan Tuhan Yahweh di puncak gunung Sinai dan mendapat wahyu berupa sepuluh peraturan berkehidupan bagi Bani Israil yang terkenal dengan sebutan “The Ten Commandments”. Salah satu diantara peraturan itu adalah larangan menyembah apapun selain Tuhan. Namun hingga meninggalnya Nabi Musa, sebagian masyarakat Bani Israil masih belum bisa menerima konsep Keesaan Tuhan. Maka muncullah Nabi-Nabi selanjutnya untuk Bani Israil dengan ajaran yang pada intinya sama, yaitu menyembah kepada satu Tuhan.

Jauh setelah era Nabi Musa, antara tahun 800 hingga 200 Sebelum Masehi, adalah masa munculnya beberapa agama dan kepercayaan lain di dunia, seperti agama Hindu dan Budha di India, lalu kepercayaan lain di Cina dan sekitarnya, di Eropa juga ada, dan juga di Timur Tengah sendiri dengan Monotheisme yang pada saat itu disebut sebagai agama Yahudi dengan Tuhan bernama Yahweh. Di saat yang sama, manusia mulai mengenal “pasar”, mulai banyak orang kaya yang menghimpit orang miskin, kehidupan kota mulai terasa berat bagi sebagian manusia yang kurang beruntung. Selain itu, perang juga makin merajalela. Bagi Bani Israil, masa itu dikenal dengan nama “Exile Age” dimana mereka tersisih keluar dari Jerusalem – kota sakral pemeluk Yahudi  – karena kekalahan mereka dari serangan kerajaan Babilonia. Bagi pemeluk Yahudi yang taat, kepercayaan kepada Tuhan adalah harapan mereka untuk bertahan hidup dan bersabar dimanapun mereka berada. Namun bagi sebagian yang lainnya, mereka kembali pada kepercayaan pada banyak Dewa sebagaimana dibawa oleh para penguasa baru. Disamping itu, kehidupan dibawah tirani Kerajaan Romawi sangat menghimpit dan menekan kaum Bani Israil. Di masa inilah kemudian Tuhan menurunkan Rasul-Nya lagi untuk terakhir kali bagi mereka, yaitu Nabi Isa, atau yang oleh penganut Nasrani disebut sebagai Yesus Kritus.

Diceritakan kemudian sejarah tentang munculnya ajaran Nasrani, tentang bagaimana pemeluk Nasrani memandang Yesus sebagai Tuhan, dan penyebaran agama Nasrani yang mulai meluas hingga diluar Kerajaan Romawi. Hingga kinipun dunia masih memiliki ajaran Yesus dalam agama Nasrani, yang mana jumlah pemeluknya terbanyak di muka bumi.

YESUS DALAM ISLAM

Sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an, sorang muslim wajib beriman kepada para Rasul dan Kitab Suci yang diturunkan Allah SWT, termasuk terhadap Nabi Musa dengan Kitab Taurat untuk kaum Yahudi yang diajarkannya, serta terhadap Nabi Isa atau Yesus dengan kitab suci Injil untuk penganut Nasrani. Para penganut Yahudi dan Nasrani ini dalam Al-Qur’an disebut sebagai “Ahlul Kitab”, atau dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “People Of The Book”, yang pada intinya adalah para penganut ajaran yang sama, yaitu beriman kepada satu Tuhan yang sama.

PhotoGrid_1444321846935Di Indonesia hanya ada agama Nasrani dan Islam – karena agama Yahudi tidak dikenal dalam deretan Agama Resmi negara kita – maka para muslim harus mempercayai keberadaan Yesus sebagaimana pemeluk agama Nasrani mempercayainya, meski tidak dalam konsep yang sama. Salah satunya, Nasrani mengakui Yesus sebagai Tuhan yang hadir dalam bentuk manusia. Konsep Trinitas atau Tritunggal dalam memaknai Tuhan Maha Esa yang hadir dalam tiga bentuk, yaitu sebagai Allah Bapa, sebagai Putra, dan sebagai Roh Kudus, tidak dikenal dalam Islam. Namun demikian, kita semua harus yakin bahwa Nasrani dan Islam mengimani Tuhan yang sama, dan mengakui keberadaan Yesus atau Nabi Isa yang sama.

Simaklah video ini: https://www.youtube.com/watch?v=hGBxlHzhnEE . Video bertajuk “The Muslim Jesus” ini adalah film dokumenter produksi ITV, sebuah stasiun tv swasta terkemuka di Inggris. Film ini menunjukkan kepada orang Barat yang mayoritas beragama Nasrani, bahwa seperti mereka, pemeluk agama Islam juga mengakui keberadaan Yesus, dan percaya bahwa Yesus akan datang kembali ke bumi untuk meyelamatkan umat manusia. Bahkan, konon di samping makam Nabi Muhammad di Madinah telah disediakan satu tempat kosong untuk makam Yesus nantinya. Beberapa kisah nabi pun yang ada di Injil, ada pula di Al-Qur’an. Di luar kesamaannya, perbedaannyapun diungkapkan disini.

PicturesSelain video tersebut, saya juga menemukan satu video lagi yang menyatakan hal serupa, dipandang dari sudut pemuka Gereja. Ini linknya: https://www.youtube.com/watch?v=7NVji3Itrfg . Video bertajuk “Judaism, Christianity And Islam” ini adalah salah satu episode dari serial “Mysteries Of The Church” produksi NET TV, sebuah stasiun tv kabel swasta yang khusus menayangkan program acara religi Nasrani yang berkedudukan di Brooklyn New York.

Pada akhirnya memang, semua diserahkan kembali kepada para pemeluk agama masing-masing tentang apa yang mereka percayai. Namun diharapkan dengan mengetahui adanya kesamaan, akan muncul toleransi yang lebih baik untuk tujuan kemanusiaan. Lebih baik menghormati kepercayaan orang lain dan mengimani kepercayaan diri sendiri, daripada berdebat kusir tentang sebuah kebenaran yang masing-masing pemeluk agama tak akan bisa berpaling dari apa yang tertulis dalam kitab sucinya.

AKHIR SEJARAH TUHAN

Kembali pada video “A History Of God”, Tuhan menurunkan seorang Rasul lagi sekitar 600 tahun setelah masa kenabian Yesus, kali ini yang terakhir untuk selamanya. Namun kali ini Sang Nabi tidak diturunkan untuk Bani Israil, melainkan untuk orang Arab yang sedang berada di masa “Jahiliyah”, masa suram penuh ketidakadilan, perbudakan dan banyak Tuhan yang disembah dalam bentuk berhala. Nabi Muhammad diutus untuk merubah itu semua. Cerita berlanjut pada kisah penerimaan wahyu Tuhan oleh Nabi Muhammad, tentang konsep ajaran Islam dalam kemanusiaan dan memandang Tuhan, serta bagaimana Islam memandang dirinya sebagai bagian yang sama dengan ajaran monotheisme lainnya, yaitu Yahudi dan Nasrani. Dan kisah sejarah Tuhan dalam video inipun berakhir dengan munculnya Islam.

Bagian penutup dari video ini menampilkan pendapat para narasumber yang terdiri dari  para pemuka masing-masing agama, serta para ahli Teologi, tentang Tuhan dan Kemanusiaan. Salah satu kalimat singkat yang menarik perhatian saya adalah ini, “Diversity is the will of God. The more we respect God, the more we respect diversity”.  Dengan kata lain, keragaman yang ada di dunia ini harus kita hargai sebagai bagian dari keimanan kita kepada Tuhan. Keragaman adalah ciptaan Tuhan. Kalaupun Tuhan menghendaki semua manusia terlahir sama – sama agamanya, warna kulitnya, isi hati dan pikirannya, dan sebagainya – tentunya bisa saja. Tapi bukan itu yang dikehendaki Tuhan, karena nyatanya masing-masing manusia tidak tercipta sama. Dengan demikian, apa yang bisa kita lakukan sebagai manusia untuk menerima ciptaan Tuhan, dan untuk bisa hidup damai sejahtera di muka dunia? Tak lain dan tak bukan adalah menjunjung tinggi kemanusiaan.

Advertisements