Saya MUSLIM Dan Saya Ingin Beribadah Di JERUSALEM

Naik Haji adalah prioritas utama dalam hidup saya dan istri, jika nanti kami ada rejeki. Dan setelah itu masih ada satu lokasi yang ingin saya datangi, Insyaa Allah sebelum saya mati. Jerusalem.

Obsesi ini baru saja saya dapati setelah mencermati tiga agama serumpun, sebagaimana saya tulis di link ini: https://primasantika.wordpress.com/category/life/sejarah-tuhan/ . Tak pernah sebelumnya saya berpikir tentang Jerusalem untuk dikunjungi. Bagi seorang romantis seperti saya, cita-cita traveling kedua setelah Mekah dan Madinah adalah Paris dan London. Tapi kini ternyata romantisme saya menuju ke arah spiritual. Kalau ditanya kenapa, saya angkat tangan saja. Toh sejatinya tak semua rencana kita akan terlaksana, dan tak selalu arah menuju  itu kita tahu.

Tadinya saya kira Jerusalem itu tempat menuju bagi umat Nasrani untuk melakukan perjalanan suci, seperti layaknya kaum Muslim melakukan perjalanan Umroh dan Haji ke Tanah Suci di Arab Saudi. Tapi ternyata saya salah besar, saya baru sadar.

ImaxLihatlah link Youtube ini: https://www.youtube.com/watch?v=LYa9VPVAJI8 . Video ini adalah trailer dari film dokumenter produksi National Geographic tahun 2014 dalam format IMAX, sebuah teknologi sinema paling maksimal jika dinikmati di bioskop khusus dengan layar super besar dan tata suara digital teknologi teranyar. Akankah bisa dinikmati di Indonesia? Entahlah. Sementara DVD nya pun belum bisa kita nikmati, lihatlah video berdurasi 6 menit ini, semacam extended trailer dari film Jerusalem itu: https://www.youtube.com/watch?v=8__iefpi1Go .

Tadinya yang saya tahu tentang Jerusalem dalam kaitannya dengan agama saya Islam hanyalah adanya Masjidil Aqsa yang terletak tak jauh dari The Dome Of The Rock atau Kubah Batu. Kisahnyapun saya tahu dari dulu bahwa lokasi itu adalah tempat terjadinya perjalanan Isra’ Mi’raj yang dialami Nabi Muhammad SAW hanya dalam satu malam. Sang Rasul melakukan perjalanan Isra’ dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsa di Jerusalem menaiki Bouraq, lalu memimpin semua Nabi beribadah di dalamnya. Kemudian dari Masjidil Aqsa Sang Nabi dipercaya menjalani Mi’raj, yaitu naik ke Surga yang berlapis hingga puncaknya, bertemu para Rasul, dan mendapat perintah Sholat lima waktu langsung dari Allah SWT.

Itu saja yang saya tahu, ditambah dengan sedikit informasi yang justru menjauhkan keinginan saya untuk mengunjungi Jerusalem. Ketegangan antara Palestina dan Israel.

PhotoGrid_1446732039499Tapi kemudian saya bertemu dengan video dokumenter produksi stasiun televisi PBS bertajuk “Sacred Journey With Bruce Failer” Episode Jerusalem. Linknya disini: https://www.youtube.com/watch?v=gfc1VHGa75E . Dari video ini, dan juga beberapa video lain yang bertebaran di YouTube, saya baru tahu bahwa kota Jerusalem itu terbagi dalam dua bagian, yaitu wilayah Kota Tua yang dikelilingi dinding pembatas, dan selebihnya adalah kota modern. Di wilayah Kota Tua yang kecil itulah spiritualitas keagamaan terasa kental, dan tampaknya kecil kemungkinan terjadinya aksi militer atau terorisme di wilayah suci ini. Di masa lalu tentunya ada, tapi di video itu tampaknya Jerusalem kondisinya damai sentosa raya, dan semua pemeluk agama hidup berdampingan secara manis harmonis.

Video ini adalah serial televisi yang dipandu oleh Bruce Failer, seorang petualang dan penulis beberapa buku traveling dan keagamaan asal Amerika. Saya sudah jatuh cinta dengan salah satu episodenya yang menceritakan tentang perjalanan beberapa Muslim Amerika dalam menjalankan ibadah Haji, dan kini saya kembali menyukai episode lainnya yang berkisah tentang perjalanan suci beberapa orang Yahudi dan Nasrani asal Amerika di Jerusalem. Dikisahkan disitu seorang wanita Yahudi asal Amerika yang jauh-jauh datang ke Jerusalem setiap tahun untuk merayakan hari raya Sukkot, salah satu dari tiga hari raya penting bagi kaum Yahudi. Dia sedang berpikir untuk pindah permanen ke Jerusalem karena di kota ini aura keagamaan Yahudi yang diinginkannya sangat kental. Lalu ada seoran pemuda Nasrani Amerika keturunan Asia yang mengalami krisis keyakinan, berharap dengan melakukan napak tilas berjalan kaki yang pernah dilakukan Yesus atau Nabi Isa AS dia akan mendapati kayakinannya kembali. Perjalanan dimulai dari kota masa muda Yesus di Nazareth sampai ke Laut Galilee, dan berakhir dengan pembaptisan ulang dirinya di sungai Jordan. Lalu dikisahkan sepasang suami istri Nasrani asal Amerika yang ingin merealisasi kisah-kisah Yesus dalam Injil dengan melakukan napak tilas yang sama dan berakhir dengan ritual “Jalan Salib” di Via Dolorosa, menelusuri jalan-jalan sempit didalam kota tua Jerusalem yang dipercaya sebagai jalur yang dilalui Yesus saat membawa salib.

Imax-001Video ini tidak menceritakan perjalanan Muslim Amerika di Jerusalem. Perjalanan Muslim sudah dikisahkan panjang lebar di episode Haji yang spektakuler. Bagi seorang Muslim, Jerusalem memang bukan tujuan wajib untuk ibadah, sehingga tidak ada yang khusus untuk diliput dalam film dokumenter ini, tidak seperti perayaan Sukkot bagi Yahudi di Tembok Ratapan [Wailing Wall] atau Western Wall, dan Jalan Salib bagi Nasrani yang berakhir di gereja suci Holy Sepulchre. Meski demikian, video ini tidak menghilangkan keberadaan pemeluk agama Islam diantara penduduk Jerusalem. Ketiga agama ini saling terkait dalam hidup keseharian warganya, hingga tak mungkin menceritakan satu agama tanpa menceritakan juga yang lainnya.

Imax2Salah satu yang unik adalah apa yang terjadi setiap hari sejak ratusan tahun lalu hingga saat ini di gereja Holy Sepulchure, gereja paling penting bagi umat Nasrani karena dipercaya sebagai tempat penyaliban dan makam Yesus sebelum jasadnya hilang dan dinaikkan ke Surga. Percaya atau tidak, kunci gerbang utama gereja ini ternyata dipegang secara turun temurun oleh keluarga Muslim. Dikisahkan di video ini, setiap pagi sebelum matahari terbit [setelah sholat Subuh] dua orang dari keluarga yang telah ditunjuk tersebut selalu datang membukakan pintu gerbang utama, yang mana didalamnya terdapat beberapa biarawan penunggu gereja yang tinggal disana. Ratusan tahun berlalu, dan tugas tersebut tak pernah lalai dilakukan. Alkisah di Jerusalem belasan abad lalu, beberapa sekte keagamaan Nasrasi saling bertengakar menggunakan kekerasan untuk memperebutkan semacam “wilayah kekuasaan” atas bagian-bagian tertentu di gereja suci tersebut. Gerbang utama tentunya adalah wilayah terpenting yang diperebutkan. Tak suka dengan pertengkaran itu, Sang Sultan yang berkuasa disana akhirnya menunjuk keluarga Muslim ternama disana untuk memegang kunci gerbang utama. Jadi kesimpulannya, kunci atas gereja tersuci agama Nasrani dipegang oleh keluarga Muslim di wilayah kekuasaan Yahudi. Inilah kerukunan umat beragama. Mari berdoa agar toleransi selalu terjaga selamanya disana.

Padahal kenyataannya, sejak berakhirnya perang dunia kedua hingga kini tak pernah terjadi kerukunan yang hakiki di Jerusalem, khususnya antara pemeluk agama Islam dan Yahudi. Jerusalempun diakui sebagai ibukota dua negara, Israel dan Palestina, sangking pentingnya. Tapi disini saya tidak akan mengupas tentang perang dan politik perebutan wilayah itu. Saya sedang ingin meromantisasi kota ini.

Imax1Dari usia ketiga agama, Yahudi adalah yang tertua. Bagi pemeluknya, daerah yang sebelum lahirnya negara Israel merupakan wilayah kependudukan warga Arab yang disebut Palestina ini, dipercaya sebagai “The Promised Land”, sebuah daerah yang dijanjikan oleh Tuhan untuk para Bani Israil yang nantinya dari sana akan tercipta kembali kemakmuran dan kejayaan agama Yahudi. Di Jerusalem, tempat tersuci mereka adalah Tembok Ratapan yang berada di sisi barat dari kompleks Kubah Batu dan Masjidil Aqsa yang berdiri megah diatasnya. Mereka percaya bahwa bangunan paling suci yang pernah mereka miliki – disebut sebagai “The First and Second Temple” [Bait Pertama dan Kedua] pernah berdiri tepat di kompleks Kubah Batu dan Masjidil Aqsa tersebut. Nabi Sulaiman membangun Bait Pertama yang kemudian dihancurkan oleh bangsa Babylonia, dan Bait Kedua sebagai renovasi Bait Pertama dibangun ratusan tahun setelahnya yang kemudian dihancurkan lagi oleh Kerajaan Romawi. Tembok Ratapan, atau yang juga disebut The West Wall, adalah sisa keruntuhan kedua Bait tersebut. Hingga kini, dimanapun orang Yahudi berada, tembok ini adalah kiblat mereka kala melakukan ibadah harian, seperti sholat bagi kaum Muslim. Kompleks Tembok Ratapan inipun akhirnya menjadi sebuah Sinagog [tempat ibadah kaum Yahudi, semacam Gereja atau Masjid] terbuka dan paling suci bagi umat Yahudi. Disinilah pula semua pemeluk Yahudi dari seluruh dunia melakukan perjalanan sucinya, seperti naik Haji kalau bagi umat Islam.

Imax3Tepat diatas Tembok Ratapan milik kaum Yahudi, berdirilah tempat tersuci ketiga bagi umat Islam setelah Masjidil Haram di Mekah dan Masjid Nabawi di Madinah, yaitu Masjidil Aqsa yang lokasinya bersebelahan dengan Kubah Batu. Di kedua bangunan itu umat Muslim boleh melakukan sholat, meskipun sejatinya Kubah Batu sendiri bukanlah masjid. Di dalam Kubah Batu ada sebuah lokasi sempit dibawah lantai utama yang dipercaya sebagai tempat Rasul meletakkan Bouraq dalam perjalanan Isra’ Mi’raj.

Masjidil Aqsa adalah tempat ibadah yang dipercaya kaum Muslim bahwa setiap sholat akan diganjar pahala berlipat ganda didalamnya. Dengan tingkat kesucian yang sama tingginya – yang sebetulnya bisa mencerminkan keserumpunan atau “brotherhood” kedua agama meski tak banyak yang memaknai demikian – maka tak heran jika masing-masing pemeluk agama tersebut seringkali bersitegang memperebutkan dan menjaga hak masing-masing atas tempat suci mereka di lokasi yang sama.

Jerusalem adalah tempat yang amat suci, pernah menjadi kiblat sholat umat Muslim hingga di masa awal hijrahnya Nabi Muhammad SAW ke Madinah, sebelum kemudian Allah SWT berfirman memerintahkan Sang Nabi dan umatnya berkiblat ke Ka’bah dalam setiap sholat. Nabi Muhammad SAW dalam sebuah hadist bahkan pernah berkata, “Baitul Maqdis (atau Al Quds atau Jerusalem) adalah tempat para Nabi dan berkumpulnya mereka untuk beribadah. Tidak ada sejengkalpun tanah di tempat itu yang tidak dipakai beribadah oleh para Nabi atau para Malaikat”. Silakan simak video ini untuk sepintas memasuki Masjidil Aqsa: https://www.youtube.com/watch?v=tn2mOze4JvY .

Demikianlah sekelumit tentang kota tua nan suci bagi peradaban umat manusia, Jerusalem. Lebih dari sekedar wisata, sebagai seorang Muslim tentunya saya ingin melakukan ibadah sholat di Masjidil Aqsa, Kubah Batu, dan beberapa Masjid bersejarah lain di Jerusalem dan sekitarnya. Dan lebih dari sekedar ibadah, saya ingin mendatangi jejak sejarah ketiga agama monotheis warisan Nabi Ibrahim disana. Tujuan saya sederhana, yaitu membuka wawasan tentang agama. Meski saya tahu bahwa tak ada yang sederhana terkait agama, tapi setidaknya saya ingin terjun dan berusaha. Semoga Tuhan membukakan jalan kesana dan membentangkan ilmu bagi saya, Insyaa Allah, amin.