FOR PALESTINE WITH LOVE: Sekilas tentang Zionism, Antisemite, Islamophobia dan KTT LB OKI 2016

PhotoGrid_1457398099347Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa (KTT LB) dari negara-negara angota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) baru saja selesai dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 6-7 Maret 2016 yang lalu. Konferensi yang ditujukan khusus untuk membantu tercapainya kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel dan dukungan atas status pembagian kota Jerusalem – yang diakui oleh kedua pihak berselisih sebagai ibukota masing-masing negara – ini diberi tajuk “United For A Just Solution”. Tema tesebut bisa dimaknai sebagai seruan bagi semua anggota OKI untuk bersatu membantu Palestina, karena seperti halnya sila ketiga Pancasila yang menyatukan semua suku di Indonesia, konon negara-negara OKI pun butuh “dipersatukan” dan selalu diingatkan untuk tetap bersatu. Sejarah telah membuktikan itu.

Pak Jokowi dalam pidato penutupan KTT LB OKI 2016 tersebut menyerukan salah satunya boikot atas produk Israel yang diproduksi di tanah pendudukan. Apa ini maksudnya? Di tataran kita warga negara kelas menengah yang bersosialisasi di perkotaan dan melek teknologi, bisa jadi kita berasumsi bahwa boikot ini akan berpengaruh pada produk-produk yang dihasilkan oleh orang-orang Yahudi. Satrbucks dan Facebook – di Indonesia khususnya – sangat terkenal identik dengan Yahudi. Tapi apakah itu yang dimaksud dengan produk Israel? Apakah Yahudi adalah sama dengan Israel? Jawaban singkatnya: TIDAK.

Israel adalah negara, Yahudi adalah Agama. As simple as that. Meski kedengarannya sederhana, namun kenyataan dalam memaknainya jauh lebih rumit. Saya akan coba menjelaskannya sesingkat mungkin.

 

ZIONISM

Israel sebagai negara berdaulat memproklamirkan kemerdekaannya dari pendudukan Inggris pada tahun 1948, namun bukannya tanpa masalah. Untuk memahami masalahnya, kita harus mundur lagi hingga akhir abad ke-19, dimana seorang Yahudi bernama Theodor Herzl menulis buku di tahun 1896 yang membeberkan visinya tentang berdirinya sebuah negara tempat semua orang Yahudi yang tersebar di seluruh dunia berkumpul kembali. Konon, umat Yahudi sejak masa Nabi Musa hingga kini selalu hidup dalam “pengungsian”. Kisah-kisah dalam kitab Taurat, Injil dan Al-Qur’an bisa menjelaskan mengapa dan bagaimana nya.

Visi baru ini mendapat sambutan dari kaum Yahudi. Gerakan nasionalis dari visi ini kemudian dikenal dengan nama Zionism, yang mana pada awal abad ke-20 menjadikan nyata impian mereka dengan sebuah konferensi yang memutuskan bahwa lokasi paling ideal dari negara Yahudi baru ini adalah wilayah Palestina, yaitu tanah bersejarah Judea dan Samaria dari masa kejayaan dua kerajaan Yahudi di masa lalu. Masalahnya adalah, Palestina telah sejak lama dari generasi ke generasi dihuni oleh penduduk yang mayoritas Arab – baik Islam maupun Kristiani – yang keberatan dengan masuknya orang-orang Yahudi ke wilayah mereka. Adalah Inggris yang pada waktu itu menduduki wilayah Palestina, yang mengijinkan masuknya orang Yahudi dari berbagai belahan dunia. Puncaknya terjadi pada masa Perang Dunia Kedua, dimana Hitler melakukan pembunuhan massal kaum Yahudi. Maka, orang Yahudi dari berbagai belahan Eropa pun datang membanjiri Palestina.

Rakyat Palestina pun berontak. Perang demi perang terjadi antara penduduk asli Arab dengan pendatang Yahudi. Tidak sendiri, Palestina dibantu oleh negara-negara tetangga Arab lainnya, diantaranya Mesir, Yordania, Turki, Libanon dan Siria. Namun sejarah menulis, tidak bersatunya para penguasa negara-negara Arab mengakibatkan kekalahan di pihak Palestina. Maka, tahun 1948 yang oleh warga Israel diperingati sebagai hari kemerdekaan, bagi warga Palestina diperingati sebagai “al-Nakba” atau masa sengsara, dimana mereka harus mengungsi sebagai akibat dari kekalahan perang yang diderita. Sejak hari itu hingga hari ini, sejarah mencatat banyak perang, banyak korban, banyak negosiasi damai, namun tak satupun kemerdekaan hakiki bagi Palestina. Israel bagai penjajah abadi di mata warga Palestina.

Screenshot_2016-02-24-21-26-56Mereka berselisih karena perebutan tanah, berebut wilayah untuk hidup. Saat ini pemerintah Israel menguasai hampir semua wilayah Palestina kecuali Jalur Gaza dan beberapa wilayah di Tepi Barat sungai Jordan (West Bank). Mungkin sekarang hanya kota Ramalla, Bethlehem, Hebron, dan beberapa kota besar lain yang menjadi pusat kehidupan warga Arab Palestina di Tepi Barat. Tadinya Tepi Barat secara keseluruhan adalah milik Palestina, namun kini sebagian wilayahnya ditempati oleh warga Israel melalui fasilitas rumah murah yang dibangun oleh pemerintah. Biasanya pemukiman dibangun diatas tanah kosong, namun tak jarang pemerintah menggusur paksa pemukiman berpenghuni maupun ladang sumber penghasilan warga Palestina. Hal ini jelas-jelas menyalahi ketentuan Mahkamah Kriminal Internasional (International Criminal Court atau ICC) yang melarang pemindahan warga negara ke wilayah negara jajahan. Pemukiman yang sudah ditempati tak kurang dari lima ratus ribu orang inilah yang sekarang menjadi penghalang utama terciptanya wacana “solusi dua negara” (two-state solution), dimana Palestina dan Israel berdiri sejajar sebagai negara berdaulat meski menduduki wilayah yang saling silang. Hampir semua negara mengutuk perbuatan Israel ini. Hampir, kecuali Amerika sebagai sekutu Israel.

Sebagai rakyat terjajah, warga Palestina hanya bisa meregang derita dibawah penjajahan Israel di masa modern sekarang ini, yaitu masa dimana kolonialisme sudah lenyap dan apartheit sudah punah. Tapi itulah Israel, sebuah wujud nyata dari gerakan Zionisme, yang pada perkembangannya memberlakukan tindakan bak kolonialisme dan apartheit sekaligus di Palestina.

 

ANTISEMITE AND ISLAMOPHOBIA

Yang perlu kita garis bawahi disini adalah, bahwa perang antara Israel dan Palestina bukanlah perang antar agama. Bukan perang antara Yahudi melawan Islam. Tidak semua umat Yahudi tinggal di Israel. Tidak semua umat Yahudi mendukung gerakan Zionisme. Konon umat Yahudi Ortodox di berbagai belahan dunia sangat menentang Zionisme. Bahkan mereka yang tinggal di Israel sekalipun menolak wajib militer yang diharuskan bagi mereka. Pemerintah Israel bukanlah perwakilan umat Yahudi. Pemerintah Israel tidak berhak memposisikan diri sebagaimana Vatikan bertindak sebagai pemimpin umat Katolik di seluruh dunia. Agama Yahudi – serupa dengan Islam – tidak mengenal pusat kekuasaan atas agama.

Intinya adalah, kita tidak boleh membenci umat Yahudi. Gerakan membenci orang Yahudi – hanya karena mereka beragama Yahudi – disebut dengan Antisemite, sebuah istilah yang berawal di Jerman pada abad ke-19. Yahudi di negara manapun adalah kaum minoritas, termasuk di Eropa dan Amerika dimana kaum Muslim juga bernasib sama. Sebagai minoritas, sejarah mencatat bahwa penerimaan dari warga mayoritas yang berbeda budaya dan agama seringkali tidak sempurna dengan berbagai alasan. Bagi umat Muslim, terorisme yang banyak dilakukan atas nama Islam menumbuhkan resistensi orang terhadap pemeluknya, atau disebut dengan istilah Islamophobia.

cartoon fatah x hamas617Di Palestina, Antisemite dan Islamophobia menjadi isu penting dan dijadikan alasan Israel untuk membentengi diri dengan militerisasi berlebih. Tembok setinggi tak kurang dari delapan meterpun dibangun untuk memisahkan penduduk pemukiman Israel di Tepi Barat dari warga Arab Palestina yang dipandang sebagai Antisemite. Tembok bak apartheit ini dilengkapi dengan check points militer yang melarang warga Palestina melewatinya tanpa ijin khusus yang susah didapat. Check points ini tersebar di berbagai wilayah, bahkan seringkali menghambat warga Muslim Jerusalem yang ingin beribadah di Masjidil Aqsa. Semua ini dilakukan atas nama keamanan, dimana pihak Israel beralasan melindungi diri dari serangan bom bunuh diri yang pernah dilakukan warga Palestina, tanpa memandang lebih jauh bahwa alasan serangan itu tak lain dan tak bukan adalah akibat dari penindasan berkepanjangan.

Islamophobia pun disuburkan dengan memandang Hamas sebagai teroris. Di Palestina terdapat dua partai besar dengan karakter berbeda yang sebenarnya memperjuangkan hal serupa yaitu kemerdekaan bangsanya. Fatah menguasai Tepi Barat, sedangkan Hamas menguasai Jalur Gaza. Fatah lebih moderat dengan perjuangan diplomasinya di kancah internasional, sedangkan Hamas lebih radikal dengan perlawanan militer. Hamas adalah partai oposisi resmi yang sukses memenangkan pemilu di wilayah Gaza. Meski Hamas bukan kelompok militan semacam ISIS dan Al Qaeda yang menginginkan terciptanya negara Islam, propaganda Israel justru memberi label teroris kepada Hamas sebagai pembenaran atas aksi militernya memblokade Jalur Gaza dari darat, laut dan udara. Blokade ini bahkan membatasi suplai listrik dan air, serta keluar masuknya barang kebutuhan pokok bagi warga Gaza. PBB pun sampai menjuluki Gaza sebagai “penjara terbuka”, namun tak sanggup berbuat apa-apa untuk menghentikannya.

 

FAITH AND HOPE

PhotoGrid_1457512166463KTT LB OKI 2016 ingin membantu Palestina menghentikan itu semua. Israel harus dihentikan. Tapi bagaimana? Sementara ini, berdasarkan Deklarasi Jakarta hasil konferensi kemarin, kita mendapatkan kesan adanya persatuan dari seluruh negara anggota OKI dalam posisinya mendukung Palestina merdeka menjadi negara yang diakui keberadaannya. Kita juga melihat niat kuat memboikot produk Israel yang diproduksi dari wilayah pendudukan, desakan kepada PBB untuk menghentikan tindakan ilegal Israel, melindungi situs-situs penting semua agama di Jerusalem, dan berbagai tindakan politik lainnya. Akankah terlaksana? Jikapun terlaksana, apakah akan terjadi di masa hidup kita? Sudah hampir 70 tahun konflik ini berlangsung, mau berapa lama lagi?

Pada akhirnya, adalah Ketuhanan yang menyatukan semua agama, adalah Kemanusiaan yang menjadi ajaran untuk perdamaian dunia, adalah Persatuan yang mencipta cita-cita jadi nyata, adalah Musyawarah yang memberi jalan pada  solusi tanpa kekerasan, dan adalah Keadilan yang harus selalu ditegakkan melalui hukum yang berlaku. Ya, saya mengutipnya dari Pancasila, kenapa tidak jika memang menjadi jawaban dalam penyelesaian konflik berkepanjangan di Palestina. Antara keyakinan dan harapan yang kadang tak sejalan demi melihat kondisi yang ada, kita hanya bisa berdoa semoga Tuhan mencipta damai untuk semua umat manusia. Amin.