BERNIE SANDERS: Seorang YAHUDI Calon Presiden AMERIKA Yang Membela PALESTINA

Pemilu Presiden Amerika adalah sebuah proses panjang. Pemilu utamanya atau disebut General Election baru akan dilaksanakan tanggal 8 November 2016 nanti, namun perjalanan para kandidatnya sendiri sudah dimulai sejak akhir tahun 2015 yang lalu. Dari 17 kandidat di Partai Republik dan 6 kandidat di Partai Demokrat, sampai dengan tulisan ini saya buat tinggal Donald Trump yang tersisa di Partai Republik, dan dua kandidat yang sedang bersaing di Partai Demokrat, yaitu Hillary Clinton dan Bernie Sanders.

fb-share

Saya jatuh cinta pada seorang BERNIE SANDERS. Dialah – dan hanya dia – pemilik sudut pandang yang lebih adil dan berperikemanusiaan dalam wacana perdamaian konflik Israel Palestina. Berawal dari ketidaksengajaan saya membuka video Youtube ini https://www.youtube.com/watch?v=jkLXgWmpBkI yang berisi cuplikan debat Calon Presiden terkait topik Israel-Palestina sekitar awal April lalu, saya tiba-tiba takjub melihat kenyataan bahwa ada seorang Calon Presiden Amerika yang membela Palestina. Sejak saat itu hingga kini saya tak sabar dan selalu berdebar menanti sebuah penentuan: mampukah dia mengalahkan Hillary Clinton sebagai Calon Presiden dari Partai Demokrat? Dan selanjutnya, berhasilkah dia terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat nantinya?

Sementara ini, Hillary Clinton masih memimpin klasemen sementara. Terus terang saya jadi pesimis, apalagi saat saya mulai mengerti se-demokratis apa sebenarnya Pemilu Presiden di Amerika Serikat. Tapi demi Tuhan, untuk perdamaian Israel-Palestina, Bernie Sanders adalah sebuah harapan besar!

 

SEKILAS TENTANG PILPRES AMERIKA 2016

Simaklah link Youtube ini untuk melihat jadwal rangkaian Pemilu Presiden di Amerika Serikat selama tahun 2016: https://www.youtube.com/watch?v=xAB8IpmdtQc . Perjalanan yang panjang dan berliku bukan? Saya akan coba tuliskan dengan beberapa penjelasan tambahan disini.

*PELAKSANAAN Dalam Pemilu Calon Presiden*

PhotoGrid_1463022489192Rangkaian Pemilu Presiden diawali dengan memilih kandidat Presiden dari masing-masing partai. Hanya ada dua partai di Amerika Serikat, yaitu Partai Republik dan Partai Demokrat. Pemilu dilakukan selama beberapa bulan, disertai dengan jadwal kampanye dan penayangan Debat Calon Presiden di beberapa stasiun televisi secara bergantian. Selama perjalanan Pemilu, para kandidat yang mendapat suara sedikit mulai mengundurkan diri. Di setiap negara bagian dilakukan Pemilu menggunakan salah satu dari dua cara, yaitu Caucus dan Primary. Link ini menjelaskan perbedaan keduanya: https://www.youtube.com/watch?v=_XeELfd-xgo .

Caucus dilakukan dengan mengumpulkan banyak orang di sebuah ruang luas, lalu beberapa simpatisan masing-masing kandidat melakukan orasi kampanye bergantian, kemudian barulah Pemilu dilaksanakan. Di Partai Republik, Pemilu menggunakan kertas berisi pilihan nama kandidat yang bisa dipilih salah satu. Sedangkan di Partai Demokrat, orang-orang yang datang harus berkumpul dengan para simpatisan yang sama, lalu dihitung jumlah masing-masing simpatisan. Jika ada simpatisan yang jumlahnya sedikit (kurang dari 15%), maka simpatisan kandidiat Presiden tersebut harus berpencar dan berkumpul dengan simpatisan kandidat Presiden yang lain. Barulah disitu dihitung jumlah akhir simpatisan masing-masing kandidat.

Primary dilakukan lebih mirip dengan Pemilu yang biasa kita ketahui, yaitu masing-masing pemilih menentukan pilihannya di bilik tertutup. Ada tiga jenis Primary, yaitu Open, Closed, dan Semi Closed. Dalam Open Primary pemilih bebas memilih kandidat manapun dari partai manapun. Kebalikannya, dalam Closed Primary para pemilih hanya boleh memilih kandidat Presiden dari partainya sendiri saja, yang mana berarti jika mereka bukan simpatisan salah satu partai (independent atau unaffiliated istilahnya), mereka tidak bisa memilih. Sedangkan dalam Semi Closed Primary, masing-masing simpatisan hanya boleh memilih kandidat di partainya sendiri, sedangkan bagi mereka yang independent boleh ikut memilih salah satu dari kandidat kedua partai yang ada. Bagi Bernie Sanders, konsep closed primary dan semi closed primary sangat merugikan baginya, karena konon pendukung terbanyak Bernie justru datang dari kalangan independent.

Pilihan untuk melakukan Caucus atau Primary adalah hak otonomi masing-masing negara bagian. Sedangkan untuk biaya penyelenggaraannya, Caucus dibiayai oleh partai, sedangkan Primary dibiayai oleh negara bagian. Sesuai dengan kondisinya, Caucus memang lebih murah daripada Primary, namun hasil dari keduanya sama-sama dipergunakan untuk menghitung jumlah pendukung kandidat Presiden di semua negara bagian di Amerika Serikat.

*PEMILIH Dalam Pemilu Calon Presiden*

PhotoGrid_1462935897637Di Amerika Serikat, Calon Presiden maupun Presiden tidak dipilih langsung oleh rakyat, melainkan dipilih oleh para utusan atau delegasi. Rakyat Amerika usia 18 tahun atau lebih memang memiliki suara dalam Caucus atau Primary, namun tidak langsung memilih Calon Presiden. Hasil Pemilu ini hanya menentukan jumlah Delegate untuk masing-masing Calon Presiden di semua Negara Bagian. Nantinya, diharapkan para Delegate ini akan membawa suara mereka sesuai dengan hasil Caucus dan Primary, namun hal itu tidak wajib. Para Delegate ini bebas memilih siapa yang mereka suka pada waktu diminta suaranya di tahap selanjutnya, yaitu saat digelar National Convention.

Acara National Convention dilakukan selama empat hari di suatu tempat oleh masing-masing Partai untuk menentukan secara resmi satu orang Calon Presiden dari masing-masing Partai beserta Calon Wakil Presiden pasangannya. Yang berhak menghadiri dan memiliki hak suara dalam acara ini tidak hanya para Delegate, namun juga para Super Delegate, yaitu para petinggi Partai dari semua negara bagian dan para Mantan Presiden, yang mana jumlahnya adalah 30% dari total suara dalam Partai. Super Delegate tidak mewakili siapapun, dan berhak memberikan suara untuk Calon Presiden manapun. Sampai disini, proses Pemilu Calon Presiden selesai. Cukup membingungkan? Simak video ini yang menjelaskan dengan animasi: https://www.youtube.com/watch?v=_95I_1rZiIs . Bagi Bernie Sanders, mendapatkan suara dari Super Delegate sangatlah sulit, karena disana berisi para pejabat yang tidak nyaman kalau Bernie memenangkan Pemilu Presiden nantinya.

Usainya National Convention menandai terpilihnya dua orang Calon Presiden beserta wakilnya untuk dipilih oleh rakyat dalam Pemilu Presiden yang akan jatuh pada hari Selasa, 8 November 2016.

*ELECTORAL COLLAGE Dalam Pemilu Presiden*

obama-win-2012Pada saat Pemilu Presiden nanti, seluruh rakyat Amerika Serikat akan melakukan Pemilu untuk memilih satu dari dua Calon Presiden beserta wakilnya. Tapi ini hanya fase pertama dalam Pemilu Presiden. Disini, meskipun rakyat memilih Calon Presiden saat melakukan pencoblosan, sebenarnya yang mereka pilih hanyalah sejumlah wakil dari Negara Bagian mereka, yang disebut sebagai Elector. Jumlah Elector untuk masing-masing dari 50 Negara Bagian di Amerika Serikat (ditambah satu wilayah khusus DC) ini tidak sama antara satu dengan yang lain, disesuaikan dengan proporsi jumlah penduduk, namun jumlah total nasional harus 538 Elector. Untuk bisa memenangkan Pemilu Presiden, pasangan Calon Presiden dan wakilnya harus mengantongi  setidaknya 270 suara Elector, atau 50% dari total nasional Elector ditambah satu.

Cara penunjukan anggota Elector bisa berbeda-beda di setiap Negara Bagian. Dan lagi-lagi, suara final sekelompok Elector ini tidak wajib sama dengan hasil jumlah suara terbanyak dari Pemilu yang dilakukan rakyat di Negara Bagian yang bersangkutan. Tapi yang wajib terjadi adalah satu dukungan bulat untuk satu Negara Bagian. Alhasil, disini terbuka peluang bahwa meskipun seorang Calon Presiden mendapat suara rakyat lebih banyak, pemenang akhirnya bisa jadi adalah Calon Presiden lawannya. Meski jarang, tak pelak hal ini pernah terjadi beberapa kali. Kasus terakhir adalah terpilihnya George Bush dari Partai Republik sebagai Presiden di tahun 2000, mengalahkan lawannya dari Partai Demokrat. Link Youtube ini bisa menjelaskan bagaimana hal itu mungkin terjadi: https://www.youtube.com/watch?v=W9H3gvnN468 .

Begitulah potret Pemilu Presiden di Amerika Serikat, yang tentunya sangat berbeda dengan konsep demokrasi yang kita adopsi di Indonesia dalam Pemilu Presiden. Konsep satu warga satu suara tidak berlaku di Amerika. Konsep ini sebetulnya bukan tanpa keunggulan, seperti yang dijelaksan di video ini: https://www.youtube.com/watch?v=V6s7jB6-GoU . Jadi, meski Bernie Sanders diakui sebagai kandidat yang dicinta rakyat, jauh melebihi Hillary Clinton yang didukung pejabat, dengan kondisi demokrasi seperti itu cukup beralasan bagi saya untuk merasa pesimis atas kemenangan kandidat jagoan saya ini nantinya.

Pada bulan Desember 2016, suara Elector dari semua Negara Bagian akan dikumpulkan, dan disitulah akan terpilih Presiden baru Amerika Serikat yang menggantikan Barack Obama dari Partai Demokrat. Apakah Partai Demokrat akan tetap berjaya tahun ini? Dan siapakan kandidatnya, Hillary Clinton atau Bernie Sanders? Siapapun itu, dia harus berjuang keras mengalahkan Donald Trump, yang hampir pasti menjadi Calon Presiden dari Partai Republik tahun ini dengan dukungan besar dari rakyat Amerika Serikat. Ya, dukungan rakyat Amerika – terutama simpatisan Partai Republik – sangat besar untuk Donald Trump, sampai-sampai semua kandidat Presiden dari Partai Republik mengundurkan diri dari kancah Pemilu Presiden tahun ini.

 

RETORIKA PARA CAPRES

trump-hrc-cruz-bernieInilah beberapa kandidat kuat Presiden Amerika Serikat. Dari Partai Demokrat ada Hillary Clinton dan Bernie Sanders, dan dari Partai Republik ada Donald Trump dan Ted Cruz. Terus terang saya hanya mengikuti acara Debat Calon Presiden dari sisi Partai Demokrat saja, yaitu antara Hillary dan Bernie. Debat yang menurut saya cukup menarik dan jauh dari dangkal. Sedangkan di sisi lain, saya sama sekali tidak tertarik dengan Debat Calon Presiden di Partai Republik. Mengapa? Retorika para kandidatnya saja sangat fasis dan rasis. Saya merasa tak bisa berharap banyak dari orang seperti mereka untuk urusan kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Ini contohnya. Donald Trump dalam pidato pengumuman pencalonan dirinya sebagai kandidat Presiden di New York bulan Juni 2015, menyatakan tanpa beban bahwa para imigran dari Mexico dan negara latin lainnya hanyalah pecundang, bahwa mereka kebanyakan adalah pemerkosa, pengedar narkoba dan kriminal di negara asalnya. Ini link cuplikannyanya: https://www.youtube.com/watch?v=C6QEqoYgQxw . Dan dia juga mengumumkan dalam sebuah kampanye di Pearl Harbour bulan Desember 2015, bahwa jika terpilih sebagai Presiden dia akan melarang masuknya orang Muslim ke Amerika. Ini linknya: https://www.youtube.com/watch?v=-sz0KY-3PbQ . Kandidat Presiden dari Partai Republik yang lain juga tak beda retoriknya. Ted Cruz dalam salah satu kampanyenya di bulan Maret 2016 tak lama setelah meledaknya bom di Brussels Belgia, menyatakaan bahwa pihak Kepolisian Amerika harus selalu mewaspadai dan meningkatkan patroli di area komunitas Muslim di Amerika. Dengan kata lain, warga Muslim Amerika – yang jumlahnya sekitar 3,3 juta orang – tak layak dipercaya. Ini linknya: https://www.youtube.com/watch?v=vWLeXdHKOOM .

PhotoGrid_1463074577348Uniknya – dan ini saya akui sejujurnya dari otak dan hati saya – setelah sekian minggu mengikuti Debat Calon Presiden antara Bernie dan Hillary, saya bisa mengerti mengapa sebagian rakyat Amerika mencintai Donald Trump. Bernie Sanders dalam setiap kampanye dan debat yang dijalaninya selalu menyuarakan fakta ketidakadilan sistem ekonomi di Amerika yang mengakibatkan orang kaya makin kaya, golongan ekonomi menengah seolah menghilang, dan sebagai gantinya golongan ekonomi lemah makin meningkat. Dia bilang total kekayaan 1% warga terkaya Amerika lebih besar daripada 99% rakyat lainnya. Ini tidak adil, seru Bernie. Dan salah satu penyebab menghilangnya golongan ekonomi menengah adalah hilangnya lapangan kerja akibat beberapa perusahaan besar Amerika membuka pabrik baru justru di luar negri, seperti Cina, Vietnam dan Mexico, demi biaya tenaga kerja dan pajak yang lebih murah. Calon Presiden dari partai manapun berposisi sama dalam memandang masalah lapangan kerja ini..

Disinilah Donald Trump menjadi angin segar bagi rakyat. Saat dia menyebut dirinya sendiri sebagai “Presiden yang akan mencipta lapangan kerja terbanyak sepanjang sejarah Amerika”, rakyat percaya. Donald Trump – kalaupun belum membuktikan diri sebagai Politikus handal – adalah seorang yang sukses sebagai pengusaha. Terpuruknya ekonomi Amerika beberapa tahun belakangan ini membuat derita panjang bagi warganya. Tak heran kalau mereka mulai berpikir, mungkin seorang CEO akan lebih baik memimpin negara daripada seorang negarawan.

Bernie Sanders dicinta rakyat karena keberaniannya menolak pemberian dana kampanye dari perusahaan besar yang berkepentingan ingin mengatur sistem perekonomian negara melalui Presiden Amerika terpilih nantinya. Tidak seperti Hillary Clinton dan Ted Cruz, semua dana kampanye Bernie diperoleh dari rakyat, yang jika dirata-rata setiap simpatisan menyumbang 27 USD. Serupa dengan Bernie, Donald Trump juga menolak pemberian dana kampanye dari siapapun. Alasannya tentu sangat jelas. Dia kaya raya! Tak ada yang bisa mempengaruhi keputusannya kelak karena dia tak berhutang budi pada siapapun. Itu janjinya, dan rakyat pun menyambut gembira. Video singkat Al-Jazeera ini adalah buktinya: https://www.youtube.com/watch?v=s1w8lGnv8x0 .

Saya bukan warga Amerika, jadi saya sebetulnya tidak berkepentingan dengan semua kasus dan janji ekonomi sosial politik yang diusung dalam setiap kampanye atau perdebatan para Calon Presiden disana. Tapi saat mereka bicara soal politik luar negeri, terutama terkait Timur Tengah, saya mau tak mau tersedot kedalamnya, karena sejatinya Amerika Serikat adalah pemain utama dalam hampir semua masalah yang terjadi di Timur Tengah. Konflik Israel-Palestina adalah salah satunya. Dan sebagai Calon Presiden Amerika, tak akan sempurna kampanye mereka tanpa menyatakan dukungan penuh untuk Israel. Konferensi AIPAC adalah wahana permainannya.

 

“AIPAC vs BDS” DAN “ISRAEL vs PALESTINA”

PhotoGrid_1463118476787AIPAC – American Israel Public Affairs Comittee – adalah organisasi yang bertujuan melakukan lobby kepada para petinggi Amerika Serikat demi memastikan dukungan dan bantuan, baik secara ekonomi maupun militer, untuk Israel. AIPAC mengadakan konferensi tahunan pada bulan Maret 2016 yang lalu di Washington DC. Konferensi mewah ini sengaja mengundang semua Calon Presiden Amerika untuk berorasi sebagai kampanye dihadapan lebih dari sepuluh ribu simpatisan pro-Israel yang hadir dari berbagai penjuru Amerika. AIPAC Policy Conference adalah hajatan besar. Tapi Bernie Sanders justru tidak datang.

Dalam pidato-pidato mereka, para Calon Presiden Amerika ini, baik Hillary Clinton, Donald Trump maupun Ted Cruz meneriakkan jargon yang persis sama, yaitu Amerika akan tetap 100% mendukung Israel jika mereka terpilih jadi Presiden nantinya. Dukungan utama adalah dari sisi militer. Mereka bahkan tak canggung menyebut jenis-jenis senjata dan teknologi pertahanan militer teranyar yang telah dan akan mereka implementasi untuk melindungi Israel dari serangan teroris. Siapakah yang mereka sebut teroris untuk Israel? Tak lain adalah rakyat Palestina, terutama dua organisasi politik resmi yang ada disana, yaitu Fatah di Tepi Barat dan Hamas di Jalur Gaza.

Amerika juga akan membantu Israel dalam menentang gerakan BDS, atau Boicott, Divestment and Sanction untuk segala kerjasama yang terkait dengan Israel. Indonesia dan negara-negara Islam dalam KTT LB OKI di Jakarta beberapa bulan lalu mendukung gerakan BDS ini dengan tujuan untuk menekan Israel agar menghentikan penjajahan di Palestina. Tapi Amerika tak akan gentar, apalagi nanti kala mereka terpilih jadi Presiden. Di Amerika sendiri misalnya, ada beberapa universitas yang memberlakukan BDS kepada pelajar asal Israel di kampus mereka. Para Calon Presiden ini justru menggolongkan BDS ini sebagai gerakan Antisemite (membenci orang Yahudi hanya karena mereka Yahudi, yang mana tak ada kaitannya sama sekali dengan Israel) yang amat rasis, dan tak akan segan menindak dengan sangsi terberat bagi siapapun yang mengimplementasi BDS ini.

Silakan simak link-link pidato mereka disini kalau tertarik mendengarkannya. Hillary Clinton ada disini:  https://www.youtube.com/watch?v=MXI9LTg3LZk . Donald Trump ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=2ZGgMJ3QDAQ . Ted Cruz ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=sRyiT1geIGs .

Saya hanya bisa mengelus dada.

Tak berhenti sampai disitu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga melakukan pidato jarak jauh dari Jerusalem. Pidato ini bahkan lebih parah dari pidato para Calon Presiden karena dilengkapi dengan berbagai propaganda Israel yang sangat merendahkan rakyat Palestina. Ini linknya: https://www.youtube.com/watch?v=DxRPehGMq6o .

Saya amat sedih dibuatnya.

PhotoGrid_1463123687464Tapi kemudian ada Bernie Sanders yang tidak hadir di Konferensi AIPAC, namun tetap menyampaikan pidatonya dari Utah dimana dia sedang mengadakan kampanye disana. Tidak seperti pidato jarak jauh Netanyahu dari Jerusalem, pidato Bernie yang ditujukan untuk AIPAC tersebut tidak disiarkan langsung di Konferensi AIPAC. Mengapa? Karena kampanye politik Bernie Sanders tentang konflik Israel-Palestina bertolak belakang dengan Calon Presiden lainnya.

Siapa dan mengapa sejatinya Bernie Sanders ini sampai rela menjauh dari forum penting sekelas AIPAC? Yang pasti dia bukannya tidak hadir hanya karena jadwal yang berbenturan dengan urusan kampanye di Utah. Orasi di AIPAC mungkin bahkan jauh lebih menguntungkan karena disiarkan langsung dari berbagai stasiun televisi nasional. Apapun alasan sebenarnya, tindakan ini menyiratkan bahwa Bernie konsisten dengan pendiriannya, yaitu tidak mau mengambil keuntungan sedikitpun dari apa yang disebut sebagai establishment, yaitu semua pihak, baik pengusaha, politikus, perusahaan, maupun organisasi besar, yang sudah mendapat – dan ingin mempertahankan – kenyamanan posisinya saat ini atas berlakunya kebijakan politik ekonomi yang menguntungkan mereka tapi membuat rakyat menderita.

Kembali pada topik Israel, merasakan beberap bulan masa kecilnya di Israel dan berasal dari keluarga Yahudi yang beberapa anggotanya menjadi korban holocost yang kejam oleh Nazi, Bernie Sanders tentu saja tidak membenci Israel. Dan sebagai warga Amerika Serikat yang sangat paham tentang tali persaudaraan yang erat antara negaranya dengan Israel, Bernie pun menyatakan bahwa dia – seperti halnya Calon Presiden lainnya – mendukung Israel sebagai negara yang berdaulat dan membenarkan Israel untuk membentengi diri dari segala tindakan terorisme yang mengancam warganya. Lalu, apa bedanya dengan Calon Presiden lain yang berkampanye di AIPAC?

Bedanya adalah Bernie Sanders lebih – bahkan jauh lebih – menghargai keberadaan negara dan kesejahteraan warga Palestina dibanding semua Calon Presiden lainnya.

Simaklah video pidato Bernie di Utah untuk AIPAC yang tidak diliput apalagi disiarkan langsung oleh media besar manapun: https://www.youtube.com/watch?v=RrmWTTXW4_k . Disini Bernie Sanders memaparkan konsep penyelesaian konflik yang akan digagasnya. Amerika harus menjadi teman untuk kedua belah pihak, yaitu Israel dan Palestina. Jika salah satu tidak dibantu, niscaya perdamaian tak akan terlaksana. Negosiasi harus mengacu pada landasan two-state solution, atau negara yang sama-sama merdeka bagi Israel maupun Palestina, dengan niat mulia untuk bersama mewujudkannya. Proses ini mungkin akan panjang berliku, dan hasilnya nanti seperti apa tak ada yang tahu. Puluhan tahun kebelakang adalah bukti negosiasi yang selalu gagal mencapai kesepakatan. Namun diharapkan, dengan landasan kayakinan kepada satu sama lain, niat baik dari masing-masing pihak, serta kemauan mengambil keputusan demi perdamaian meski harus dibarengi dengan kompromi, maka kesepakatan akan tercapai.

Tak hanya kedua belah pihak, semua negara di dunia harus mengakui kedaulatan negara Israel dan juga Pelstina yang sama-sama memiliki hak hidup dalam damai tanpa pertentangan dari manapun. Organisasi berbasis militer semacam Hamas di Jalur Gaza dan Hisbullah di Libanon (dua wilayah perbatasan Israel) harus menghargai keamanan wilayah Israel, karena Israel harus terbebas dari serangan apapun dan dari siapapun. Sebaliknya, demikian juga untuk Palestina, yang membutuhkan hak kelola mandiri bagi negaranya, kestabilan ekonomi dan kesetaraan hak asasi manusia. Ini berarti menghentikan penjajahan Israel terhadap Palestina.

Konsekuensinya adalah menyepakati batas wilayah kedua belah pihak, dan menghentikan pembangunan serta mengembalikan warga Israel dari pemukiman ilegal di wilayah Tepi Barat milik Palestina, atau yang disebut sebagai wilayah settlement. (Link penjelasan tentang settlement: https://www.youtube.com/watch?v=1sib5HbdEV4 ) Bernie Sanders menyatakan bahwa – sejalan dengan pendapat banyak negara dunia dan PBB – pembangunan settlement oleh Israel menghambat tercapainya kesepakatan damai dengan Palestina, yang pada ujungnya justru membahayakan keamanan Israel sendiri.

PhotoGrid_1463491181746Pemerintahan Benjamin Netanyahu di Israel dinilai sangat salah dalam membangun makin banyak wilayah settlement dari tahun ke tahun, dan memungut pajak yang sangat tinggi kepada warga Palestina yang mana seharusnya pajak tersebut dikelola sendiri oleh pemerintahan Palestina. Di sisi lain, Presiden Mahmoud Abbas di Palestina juga dinilai salah dalam meminta pembatalan Perjanjian Oslo yang dibuat tahun 1993, yang isinya justru menghindarkan dari tindak kekerasan.

Jalur Gaza, wilayah milik Palestina, harus dibebaskan dari blokade ekonomi  di darat, laut dan udara yang selama ini diberlakukan Israel, serta berhak mendapatkan penyaluran air bersih yang memadai bagi warganya yang selama ini 80% nya dikuasai oleh Israel, sehingga diharapkan Israel dan Palestina bisa bertetangga dengan baik. Palestina berhak untuk dapat mengelola hidupnya sendiri, termasuk untuk pasokan air bersih.

Perdamaian yang hakiki berarti patuhnya kedua belah pihak pada hukum kemanusiaan internasional yang berlaku. Hal ini berarti Israel tidak boleh menyerang Palestina dengan serangan balasan yang tidak wajar, meskipun di sisi Palestina serangan apapun ke Israel juga tidak dibenarkan. Yang pada awalnya hanya disebabkan oleh meluncurnya roket milik Hamas dari wilayah Gaza ke Israel dan penculikan beberapa warga Israel, serangan balasan Israel untuk itu sangat tidak proporsional

Hamas dinilai bersalah atas roket yang ditembakkan ke arah Israel dari rumah penduduk sipil di Gaza. Hamas juga harus mengakui kedaulatan negara Israel yang mana selama ini tidak diakuinya. Hamas juga dilarang mempergunakan bantuan yang seharusnya dipakai untuk membangun infrastruktur di Jalur Gaza, namun malah disalahgunakan untuk membangun terowongan bawah tanah untuk keperluan militer.

Di sisi lain Israel dinilai bersalah atas serangan balasan yang terjadi di Jalur Gaza pada tahun 2014 tersebut, dimana Israel menjatuhkan bom di wilayah pengungsian penduduk sipil, sekolah dan rumah sakit, yang tercatat membunuh dan melukai lebih dari 14.000 warga Palestina disana.

Kondisi Gaza saat ini masih sangat menyedihkan. Semua pihak secara internasional harus membantu bangkitnya kembali Gaza, baik perumahan warga, sekolah dan rumah sakit, namun tidak untuk kepentingan militer.

 

VATIKAN, TIMUR TENGAH DAN ISLAM

PhotoGrid_1463395372004Penentangan Bernie Sanders yang kuat terhadap establishment di Amerika bergema hingga ke Vatican. Maka pada tanggal 15 April 2016, ditengah jadwal kampanye dan debat yang padat, Bernie berkunjung ke Vatican untuk memenuhi undangan Paus Francis, mengemukakan pandangannya terkait ekonomi, sosial dan lingkungan hidup dalam sebuah konferensi di Vatican. Ini link pidatonya: https://www.youtube.com/watch?v=sTfTabMRRpw . Paus Francis dikenal selalu memberi perhatian khusus pada moralitas sistem ekonomi masa kini yang membuat orang kaya makin kaya dan meningkatnya kemiskinan, serta memburuknya kepedulian manusia terhadap lingkungan hidup yang menghantui masa depan bumi, terutama mengenai global warming. Dalam hal ekonomi, Bernie Sanders berencana pasang badan untuk menjatuhkan penguasa Wall Street yang menurutnya sudah kelewat batas menikmati sistem ekonomi yang berpihak pada keuntungan mereka, dan dalam isyu global warming dia akan menekan pengusaha bahan bakar alam dan menumbuhkembangkan penciptaan dan penggunaan energi yang bebas polusi dan ramah lingkungan. Kesamaan visi ini membuat Bernie tanpa banyak pertimbangan menyempatkan diri untuk memenuhi undangan Sang Paus, meski di saat yang hampir bersamaan jadwal debat dan pemilu primary di New York yang sangat penting sedang menantinya di tanah air.

Meski sangat mengagumi Paus Francis, Bernie Sanders sejatinya adalah seorang Yahudi yang secara definisi tidak mempercayai Yesus atau Nabi Isa sebagai seorang Al-Masih, sebuah doktrin utama dalam ajaran Kristiani. Kenyataannya, toh hal ini tidak menghalangi keduanya untuk saling menghargai satu sama lain. Konon, diberitakan bahwa Bernie dalam kesehariannya tidaklah terlalu taat beragama. Informasi ini bisa saya analogikan begini: mungkin kalau dia beragama Islam di Indonesia, Bernie adalah sosok “Islam KTP”, yaitu orang Islam yang tidak menjalankan sholat lima waktu, sholat Jumat hanya kadang-kadang, tapi rajin sholat Ied dua kali setahun karena disitu ada perayaan agama. Apakah ini salah? Secara agama pasti salah. Namun secara kemanusiaan, derajat kedekatan seseorang kepada Tuhannya adalah hak asasi individual.

Lahir di Brooklyn, New York, 8 September 1941, saat ini dirinya masih menjabat sebagai Senator dari Vermont. Pernah juga menjabat sebagai Walikota Burlington di Vermont, Bernie sejatinya adalah simpatisan baru bagi Partai Demokrat. Sejak tahun 1979 hingga 2015 Bernie tercatat sebagai politikus Independent atau tidak berafiliasi dengan Partai Republik maupun Demokrat. Hal ini kerap menjadi serangan dari para pesaingnya, namun tampaknya tak jadi masalah dalam pencalonan dirinya sebagai kandidat Presiden dari Partai Demokrat, meskipun tetap menjadi sandungan kala harus bersaing di lokasi pemilu yang memakai konsep Closed Primary, dimana para pemilih independent tidak bisa ikut serta dalam pemilu. Bernie biasanya kalah disitu.

Saya sebetulnya tidak terlalu tertarik pada detail perjalanan karir politik Bernie Sanders, hanya saja dalam semua debat Calon Presiden yang saya lihat, saya mendapat gambaran bahwa apa yang dia perjuangkan sejak awal kiprah politiknya hingga kini selalu konsisten dan berjalan di posisi yang – menurut hemat saya meski saya akui agak bias – benar.

PhotoGrid_1463382021735Salah satunya adalah keputusan Amerika untuk menyerang Iraq di tahun 2003, dimana saat itu Bernie Sanders melakukan voting menentang serangan itu, namun Hillary Clinton melakukan voting sebaliknya. Ini link salah satu debat mereka: https://www.youtube.com/watch?v=OWVvOajToE4 . Bernie khawatir bahwa perang di Iraq, kalaupun ternyata berhasil menundukkan Saddam Hussein yang menguasai Iraq secara tirani saat itu, dalam perkembangannya akan memunculkan fraksi-fraksi militan baru akibat kekosongan kekuasaan dan meningkatnya pengangguran akibat buruknya ekonomi pasca perang, yang pada masa kedepannya justru sulit dikendalikan oleh Amerika. Maka, makin berkibarlah para ekstimis militer seperti ISIS hingga sekarang. Alih-alih merubah Iraq menjadi negara demokrasi seperti yang diinginkan, Amerika justru memperburuk situasi. Dan jika Amerika masih tetap ingin memimpin serangan terhadap ISIS, maka resmilah campur tangan Amerika di wilayah Iraq yang hampir tiada henti sejak Perang Iran-Iraq tahun 1980-1988 hingga serangan pada Iraq oleh Amerika beserta aliansinya di 2003-2011. Sejarah singkatnya simak link Al Jazeera ini: https://www.youtube.com/watch?v=0BVVW2clM1o .

Dalam setiap kesempatan kampanye, debat maupun wawancara dalam kapasitasnya sebagai Calon Presiden Amerika Serikat, posisi Bernie Sanders dalam menangani masalah terorisme di Timur Tengah ini adalah menyerahkan serangan militer kepada  negara-negara Islam. Ini salah satu link wawancara Bernie dengan PBS: https://www.youtube.com/watch?v=waKJHhDGgwM . Amerika, Rusia dan negara-negara Eropa harus mendukung serangan tersebut, namun bukan sebagai penyerang utama. Terorisme di Timur Tengah menurut Bernie adalah masalah bagi umat Islam, dimana ajaran Islam disalahgunakan hingga muncul berbagai tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama Islam. Maka, negara-negara Islam di wilayah Timur Tengah sendirilah yang berkepentingan memusnahkan para ekstrimis ini dan menempatkan Islam pada sudut pandang yang benar. Wawasan ini pernah diserukan oleh Raja Abdullah dari Jordania, dan Bernie Sanders sangat mendukungnya. Menurut Bernie, negara-negara Timur Tengah yang kaya itu harus bersatu dalam memerangi para ekstrimis ini. Amerika tidak bisa senantiasa jadi “Polisi” bagi dunia. Bagi Bernie, budget untuk militer bisa dikurangi untuk pembangunan sosial ekonomi dalam negri Amerika.

Diluar Timur Tengah, nasib umat Islam sebagai warga negara di Amerika sendiri masih jauh dari sempurna. Islamophobia masih merajalela sejak terjadinya aksi teroris WTC di New York tahun 2001, hingga meluasnya terorisme ISIS dan meluapnya pengungsi Siria yang sampai ke Amerika beberapa tahun terakhir ini. Umat Islam – sebagaimana kaum minoritas lainnya seperti para imigran, warga kulit hitam dan komunitas LGBT – masih menjadi sasaran empuk rasisme dan pelecehan di berbagai wilayah di Amerika, baik oleh warga sipil maupun pihak kepolisian. Bernie Sanders berniat mengakhiri tindakan-tindakan tidak manusiawi ini. Kemanusiaan dan persamaan derajat sangat dijunjung tinggi oleh Bernie.

PhotoGrid_1463358034666Salah satu buktinya, simaklah video ini, versi tanpa edit: https://www.youtube.com/watch?v=urnFap_MRJA . Alkisah, dalam sebuah kampanye di George Mason University tanggal 28 Oktober 2015, seorang mahasiswi Muslim bertanya kepada Bernie tentang Islamophobia dan apa yang akan dilakukannya jika terpilih menjadi Presiden nanti. Sang Mahasiswi yang berhijab ini melempar pertanyaan dengan kobaran amarah yang menggebu kala mencurahkan perasaan atas retorika para Calon Presiden seperti Donald Trump dan lainnya, yang menyudutkan serta merendahkan warga Islam Amerika. Bernie seketika menunjukkan gesture yang simpatik. Dia berjalan menghampiri Mahasiswi itu yang berdiri di pinggir panggung, menggandeng tangannya, mengajaknya berjalan ke tengah panggung, lalu berdiri bersamanya di podium orasi. Bernie kemudian menjawab pertanyaan itu pada level personal dengan menceritakan bahwa dirinya adalah seorang Yahudi yang keluarganya pernah menjadi korban kebencian rasial oleh Nazi, maka dia tidak akan membiarkan keburukan serupa terjadi di Amerika. Mengakhiri jawaban tak hanya dengan janji persamaan hak asasi, Bernie juga menunjukkan simpati bagai seorang ayah kepada anaknya. Bernie memeluk Sang Mahasiswi sebagai simbol yang menenangkan, bahwa apa yang diserukan orang-orang picik macam Donald Trump tak akan dibiarkan terjadi bersamanya. Versi video yang lebih pendek dengan pilihan ilustrasi musik yang menggugah ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=NqfIrU79Wf4 .

Di sepanjang pengamatan saya tentang kampanye, debat maupun interview yang dilakukan Bernie selama masa pencalonan dirinya sebagai Presiden Amerika Serikat, bagi saya karakter seorang Bernie Sanders tak hanya memuaskan sisi logika saja.  Selain kenyataan bahwa retorikanya selalu benar dalam hampir semua topik bahasan dengan mengedepankan sisi kemanusiaan dan keadilan, namun lebih dari itu Bernie Sanders berhasil menunjukkan gesture yang membuktikan ketulusannya. Disini, Bernie berhasil menyentuh sisi hati, baik bagi saya pribadi maupun bagi para pendukungnya. Maka sayapun tak punya pilihan selain mempercayakan pencapaian perdamaian dunia di pundaknya. Semoga Tuhan memberi jalan dan rahmat-Nya untuk keadilan, kemanusiaan serta perdamaian dunia. Dan mungkin, Bernie Sanders adalah salah satu jawabannya. Insyaa Allah.

 

***  T  A  M  A  T  ***