Surat Buat Anakku Tentang Jokowi

Screenshot_2014-10-21-13-01-33 - Copy

Jakarta, 20 Oktober 2014

Dear Mas Pram…

Presiden Indonesia ke-7 dilantik hari ini. Papah tadi pagi turun ke jalan bersama ribuan warga Jakarta – disaksikan jutaan rakyat Indonesia lainnya lewat televisi – bersemangat menyambut kehadiran pasangan presiden baru yang diarak menaiki Kereta Kencana dari Bundaran HI sampai Monas. Terik maksimal matahari ibukota yang membakar kulit Papah hingga terasa perihnya malam ini, tak Papah acuhkan sepanjang siang tadi. Papah dan semua yang ada disitu rela terpanggang perlahan demi menyambut hari baru untuk negara tercinta ini.

Ya, anakku. Hari baru. Harapan baru. Hidup baru.

Screenshot_2014-10-16-13-20-13 - CopyPresiden baru kita ini bernama Pak Joko Widodo. Beliau didampingi oleh Pak Jusuf Kalla sebagai wakilnya. Kita sebut saja presiden baru ini dengan panggilan akrab beliau, yaitu Pak Jokowi. Kamupun yang sekarang masih berusia enam tahun, mengenal dengan baik nama dan wajah beliau setiap kali muncul di televisi. Konon sejak masa kampanye pemilu presiden yang lalu, hampir tak ada seorangpun di Indonesia – dari balita sampai manula – yang tak kenal lagu Salam Dua Jari dari Slank. Kamupun dengan lantang dan riang menyanyikannya berulang kali setiap hari, “Salam dua jari, jangan lupa pilih Jokowi!”

Mas Pram, Papah ingin suatu hari kelak kamu mengerti apa yang Papah rasakan saat ini. Tahun ini adalah tahun dimana Pak Jokowi muncul dan bersinar, sangat terang hingga merubah hati dan pikiran banyak orang, termasuk Papah. Tahun dimana Papah mendapatkan banyak pembelajaran kenegaraan tentang setidaknya tiga hal, yaitu politik, konsep kerakyatan dan persatuan. Ironisnya – sebagaimana hidup akan mengajarimu dengan sendirinya – pembelajaran itu justru muncul dari kondisi buruk, bukan kondisi ideal. Tak ada yang ideal terjadi di negri ini atas ketiga hal tadi. Disinilah Pak Jokowi hadir menawarkan perubahan, sebuah angin segar diantara kotornya politik dan hilangnya kepercayaan rakyat pada kekuasaan. Papah bahkan sempat menulis beberapa pengalaman pribadi dan analisa politik seputar pemilu presiden beberapa bulan lalu, yang bertendensi dukungan kepada Pak Jokowi, idola baru Papah, yang pertama dan satu-satunya di dunia politik.

Ya, sekagum itulah Papah kepada Pak Jokowi. Profil kehidupan beliau bisa kamu Google kalau mau. Banyak hal bisa diambil suri tauladannya dari sejarah hidup beliau yang terlahir dari keluarga miskin, bekerja keras hingga jadi pengusaha sukses, dan akhirnya memilih mengabdikan diri untuk rakyat dengan menjadi pejabat. Beliau tidak menjadi pejabat untuk mencari kekuasaan agar dilayani rakyat. Buktinya? Sederhana saja. Beliau tidak korupsi selama jadi Walikota Solo dan Gubernur Jakarta. Konon – Mas Pram anakku sayang tolong camkan ini – korupsi adalah hidangan haram terlezat yang keenakan disantap oleh banyak pejabat. Dan atas nama korupsi jualah semua kekacauan terjadi di negri ini. Kekuasaan menjadi pejabat seringkali justru disalahgunakan untuk melindungi perilaku korupsi. Politik menjadi ajang meraup harta berlimpah, rakyat diperas atas pajak yang alirannya tak jelas, atas kekayaan bangsa yang dijual entah untuk kemakmuran siapa. Pak Jokowi tidak melakukan itu. Kebenaran sejati memang hanya diketahui oleh Yang Maha Tahu, tapi Papah memilih untuk percaya sama Pak Jokowi.

Ibaratnya, kalau korupsi adalah wabah penyakit yang harus segera disembuhkan, maka Pak Jokowi adalah dokter harapan kita. Beliau tak hanya steril dari korupsi, beliau bahkan berjanji memberantasnya. Dan sebagai masyarakat beragama sesuai sila pertama Pancasila, yang mempercayai bahwa sejatinya semua penyakit dan kesembuhan datangnya dari Yang Maha Mencipta, maka Mas Pram, jangan berhenti berdoa. Itu juga yang bisa Papah lakukan untuk membantu Pak Jokowi, agar beliau dimudahkan dan dikuatkan dalam segala keputusan yang diambilnya, demi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

PhotoGrid_1413794402991Mas Pram, Papah melihat Pak Jokowi itu seperti kiriman Tuhan buat Indonesia. Beliau bukan nabi, bukan manusia suci, dan kita tidak boleh memuja dan menempatkan beliau lebih tinggi dari manusia biasa. Tapi kenyataannya, kita semua membebankan harapan yang sangat berat kepada beliau. Kalau Tuhan tidak sengaja menempatkan beliau menjadi Presiden Indonesia sekarang, maka beliau tak akan diambil sumpah kepresidenannya hari ini. Kalau semua skenario hidup ditentukan manusia sendiri, tentunya Pak Jokowi akan tetap pada pendirian awalnya menolak tawaran jadi presiden. Tuhan berkehendak, maka Tuhan memberi jalan. Pernyataan yang klise memang, tapi Papah melihatnya begitu, meskipun proses bersedianya beliau menjadi presiden masih menyisakan kontroversi. Ada yang menuduh beliau hanyalah boneka segelintir penguasa, antek kepentingan asing, sampai penganut aliran Islam yang sesat. Papah tak percaya itu semua, dan beliaupun menyangkalnya. Pun kenyataannya, tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar rakyat Indonesia mencintainya, mempercayainya. Ya, sebagian saja, karena sebagian lainnya sibuk mencela dan menghalangi jalan beliau, sejak dulu, sekarang dan hingga nanti. Itu pasti.

Pasti? — Ya, pasti. Karena Al-Qur’an menyebutkannya.

Al-Qur’an memprediksi tentang Pak Jokowi? — Tidak, tentu saja.

Lantas? – Konon tidak ada kisah satu nabipun yang kepemimpinannya mulus tanpa penghalang.

Papah yakin semua agama menceritakan kisah serupa, bahwa Tuhan – meski tahu manusia menghendaki kebaikan dan memberi jalan untuk pencapaiannya – akan selalu memberi cobaan. Seorang Rasul yang dimuliakan oleh-Nya pun tidak dibiarkan mencapai kemakmuran tanpa penderitaan. Dari Nabi Ibrahim yang harus mengorbankan anaknya, Nabi Musa yang menentang kepemimpinan Firaun, Nabi Isa yang dikhianati muridnya, sampai Nabi Muhammad yang menghadapi kaum Quraisy. Sekali lagi, anakku, Pak Jokowi itu bukan nabi. Tapi Indonesia saat ini butuh perubahan radikal menuju keadilan dan kemakmuran yang lebih baik dan merata. Mungkin Tuhan sedang memberi jalan buat Indonesia untuk berubah, maka dimulailah dengan menempatkan Pak Jokowi sebagai pemimpin negara. Dan sebagai penghalangnya, diciptalah kemenangan demi kemenangan di pihak oposisi, khususnya di arena legislatif, dari pembentukan koalisi politik di Parlemen, revisi UU MD3, hingga yang terakhir dihapusnya Pilkada. Persatuan Indonesiapun mau tidak mau terpecah – meski tidak secara ekstrim karena semua pihak mengklaim tindakan mereka sebagai pro rakyat. Pihak manakah yang benar? Sejauh ini Papah masih percaya kebenaran ada di pihak Pak Jokowi.

Screenshot_2014-10-24-01-10-56 - CopyMas Pram, dalam pidato pelantikan presiden tadi pagi, Pak Jokowi menyeru kepada seluruh rakyat Indonesia untuk “Bekerja! Bekerja! Dan bekerja!” Ya, sampai tiga kali beliau melantangkan himbauannya itu. Ini pasti penting karena beliau sangat tekankan. Beliau percaya bahwa tak ada perubahan yang akan tercapai kalau kita semua tidak bekerja. Maka, anakku, bekerjalah, berusahalah dengan giat mencapai cita-citamu. Malas bukan pilihan, mengeluh tolong jauhkan, dan mencela jangan lakukan! Meski saat kamu dewasa nanti mungkin Pak Jokowi sudah tidak menjabat sebagai presiden lagi, etos kerja beliau perlu kamu contoh. Dalam pidatonya itu, dengan penuh semangat Pak Jokowi mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bergotong royong, saling bahu membahu membangun bangsa, karena “Kita tidak pernah betul-betul merdeka tanpa kerja keras!” Begitu beliau menegaskan.

Bekerja adalah hakekatnya kemerdekaan, bukan hanya menikmati kebebasan, apalagi terbuai kenyamanan. Berkreasilah sebebasmu, anakku, tapi pastikan hasilnya positif dan bermanfaat. Disitulah letak bijaksanamu kelak, tanggung jawabmu pada diri sendiri dan lingkungan, yaitu menjauhi aktivitas  yang negatif dan tiada guna.

Satu hal lagi Mas Pram, kamu harus tumbuh menjadi manusia yang peduli sama negaramu. Dan itu tak mungkin terjadi kalau kita selalu mengesampingkan dunia politik. Itulah yang akhirnya Papah lakukan setelah sekian lama mengacuhkan politik. Papah tidak golput saat pemilu presiden, dan bahkan – untuk pertama kalinya seumur hidup – Papah menyuarakan pilihan. Ini langkah besar buat Papah yang selama ini selalu sembunyi. Bersuara itu melegakan. Meringankan beban dan memperluas wawasan di waktu bersamaan. Sangat menyenangkan. Dan ternyata Papah tidak sendiri. Banyak, sangat banyak, masyarakat yang tadinya sembunyi dan bahkan golput, memilih untuk muncul dan bersuara. Kemunculan mereka bisa untuk Pak Jokowi atau Pak Prabowo, kandidat pesaing. Tapi buat Papah pribadi, mungkin kalau kandidatnya bukan Pak Jokowi, Papah tidak akan mau berubah sedrastis ini.

Kamu tak harus menjadi pelaku politik, anakku. Jadilah apa yang kamu mau. Tapi jangan egois. Politik itu ada untuk kepentingan orang banyak, maka cermatilah dan lakukan sesuatu. Caranya? Sebagai warga negara yang baik, gunakan hak pilih dalam pemilu, jangan pernah golput. Kalaupun tak ada pilihan sempurna, maka pilihlah yang paling sedikit buruknya. Caranya lagi? Carilah informasi, gunakan akal sehat dan hati yang ikhlas. Insya Allah dengan niat baik, Tuhan akan memberi jalan menuju kebaikan untuk hidup kita di negri ini. Seperti itulah yang dialami Papah saat dihadapkan pada sosok Pak Jokowi sebagai pilihan calon presiden.

Screenshot_2014-10-21-10-50-36 - CopyApakah akan berhasil nantinya? Tentu saja Papah tak bisa melihat masa depan. Tak ada yang tahu. Pak Jokowi bisa saja nantinya berubah menjadi sosok yang dibenci. Biarlah itu masalah nanti. Tuhan adalah Maha Pembolak Balik Hati, apapun bisa terjadi. Tapi Papah tetap ingin memanfaatkan momen penuh eforia ini untuk berbagi rasa denganmu, anak Papah tercinta, dengan harapan suatu hari kelak sosok Pak Jokowi ini bisa menginspirasi.

Dengan penuh cinta,

Papah.

PicsArt_1413654318239 - Copy

 

Advertisements