MENDADAK POLITIK: Saran Memilih Presiden Untuk Yang [Biasanya] Buta Politik

debat-capres-cawapres - Copy

Saya mendadak ngikutin berita politik!! Saya sendiri sampai terheran-heran!! Saat itu hari Kamis, 5 Juni 2014, sepulang kantor saya nggak ada kerjaan dan mulai buka-buka Youtube. Saya lihat yang lagi trending adalah awal kampanye pemilu Capres, saya buka satu berita. Kok menarik. Lalu saya tonton satu berita lagi, lalu satu dialog, lalu satu debat antar Tim Sukses, dan seterusnya sampai saya baru bisa tidur jam tiga pagi!! Resmilah sudah: saya hooked up!

Saya memang biasanya nggak suka politik. Konsekwensinya, kalau saya diolok ‘buta politik’ pun saya nggak keberatan. Menurut saya, kalaupun saya punya pendapat politik, saya nggak akan bisa merubah apapun untuk negara ini. Saya bukan orang besar yang suaranya didengar, bukan juga anggota partai. Yang akan ada hanyalah keberpihakan saya pada satu kubu atau pendapat tertentu, dan akan sakit hati kalau kepercayaan saya itu diserang, apalagi kalau terbukti salah. Tapi di sisi lain, saya tahu kewajiban saya sebagai warga negara yang baik. Sejak usia tujuh belas sampai memasuki dasawarsa keempat saat ini, saya selalu menggunakan hak pilih dengan baik dalam setiap pemilu.

Seiring dengan kegemaran baru saya mengikuti berita, debat, maupun diskusi tentang Capres tahun ini, saya jadi terdorong untuk nantinya bisa memilih sesuai keyakinan yang saya miliki dengan bekal gelas informasi yang penuh, bukan lagi gelas kosong seperti biasanya. Maka, mulailah saya membuka mata dan telinga, hati dan logika, untuk merasa dan menelaah, sebetulnya apa yang saya butuhkan dari pasangan Presiden dan Wakil Presiden dalam memimpin negri ini. Disinilah saya ingin berbagi pengalaman selama saya menjalani proses tersebut seminggu belakangan ini, serta saran bagi pembaca yang merasa senasib dan berkenan membaca tulisan ini.

 

RAKYAT: MENELITI UNTUK PEDULI

Secara pribadi, memilih Presiden adalah menimbang apa keuntungannya buat saya sendiri. Tapi kalau kita lihat jargon dari kedua Capres, mereka sama-sama bercita-cita mensejahterakan rakyat. Sayapun adalah bagian dari rakyat, saya pikir. Saya tidak akan hidup nyaman kalau rakyat kebanyakan tidak hidup nyaman juga. Alhasil, secara tidak sadar saya mulai meneliti rakyat. Meneliti ini menurut saya adalah bagian paling awal dari keseluruhan konsep peduli rakyat. Ya, saya ngaku aja bahwa baru sampai disinilah langkah saya dalam kepedulian sosial kerakyatan. Meskipun saya selalu menjaga kesopanan kepada siapapun, kaya miskin maupun setara, saya juga bayar pajak dan bayar zakat yang mana adalah bagian dari membantu rakyat juga, tapi saya sebelumnya tidak pernah meneliti rakyat. Saya merasa seperti orang tua yang hanya mencukupi kebutuhan anaknya dengan cara memberi uang jajan dan biaya sekolah tanpa memberi perhatian dan kasih sayang. Kali ini saya ingin memberi lebih, yaitu dengan cara memilih Capres yang menurut kesimpulan saya nanti di hari Pemilu 9 Juli 2014 bisa memberi kenyamanan bagi rakyat.

Rakyat adalah semua orang di Indonesia, yang secara ekonomi pengelompokannya adalah kaya, menengah dan miskin. Ini pengelompokan yang sederhana saja, karena saya nggak mau juga terlalu ribet, yang nantinya malah membuat saya sendiri pusing, lalu capek, lalu mandeg. Saya cari yang simple-simple saja. Orang kaya bisa saya teliti kebutuhannya lewat berita elit politik sampai gosip artis. Saya tidak bisa masuk langsung ke lingkungan mereka karena saya orang biasa, nggak beken, nggak juga kaya raya. Kalau orang golongan ekonomi menengah bisa saya lihat diantara lingkungan saya sendiri di rumah, di kantor atau di mall. Sedangkan orang miskin bisa saya teliti melalui berita dan juga melihat langsung. Berdialog langsung? Tentu tidak! Tapi kalau anda-anda para pembaca yang budiman mau berdialog langsung, ya silakan, itu jauh lebih baik. Karakter saya tidak seperti itu. Saya pasif. Yang saya lakukan cuma berada diantara mereka, memperhatikan lalu lalang mereka, lalu membayangkan bagaimana kehidupan mereka. Nggak susah sih, dan nggak harus disengaja mendatangi mereka. Cukup belanja aja di pasar tradisional, jumatan di masjid deket situ, lalu jajan di warung mie ayam.

Gimana kalau saya salah menilai? Ya nggak papa. Kan nggak ada yang bisa nge-judge saya, wong saya melakukan kontemplasi di dalam hati saya sendiri. Tapi setidaknya, berada diantara rakyat yang bekerja di tempat yang jauh dari nyaman akan mengasah sensitifitas hati dan pikiran, yang kedepannya akan mendasari saya dalam menyerap informasi dalam mencermati berita dan dialog tentang Pemilu Capres ini. Toh, pada akhirnya kedua Capres kita sama-sama punya tujuan mulia dalam visi dan misi mereka, yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bagi saya, secara sederhana, yang disebut sejahtera adalah terciptanya nyaman dalam berkehidupan, baik di rumah maupun saat mencari nafkah. Dan yang paling tidak nyaman dalam hal ini adalah rakyat miskin. Dari situ saya mulai menimbang-nimbang, Capres mana yang mampu mencipta kenyamanan ini untuk semua.

 

CAMPAIGN: NEGATIVE OR BLACK?

Salah satu yang sudah “kelewat nyaman” di jaman sekarang adalah laju informasi dan kebebasan berpendapat. Fasilitasnya: social media. Tampaknya, inilah yang membedakan masa kampanye dalam Pemilu Capres kali ini dengan pemilu lima atau sepuluh tahun yang lalu. Positifnya, saya bisa mudah menelusuri berita-berita tentang kedua kubu Capres, baik dalam bentuk bacaan maupun visual. Hobi baru saya sekarang setiap hari adalah searching Youtube, mencari berita, dialog dan debat terbaru maupun yang lalu seputar Pemilu Capres. Dan yang saya dapat – sekali lagi positifnya – adalah pembelajaran tentang ilmu politik praktis buat diri saya sendiri. Salah satunya adalah perbedaan antara Negative Campaign dengan Black Campaign.

Singkatnya, Kampanye Negatif itu boleh dilaksanakan, caranya dengan menunjukkan kekurangan pihak lawan dengan fakta yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Sedangkan Kampanye Hitam itu tidak boleh dilakukan, karena sifatnya fitnah tanpa didukung fakta. Nah, inilah yang membuat semaraknya masa kampanye. Seringkali tidak ada perbedaan yang jelas antara kampanye negatif dengan hitam. Dan sekali suatu informasi – entah fakta entah fitnah – terlanjur menyebar ke masyarakat, maka mau tak mau kubu yang dirugikan harus rela sibuk menjelaskan, meluruskan, atau bahkan menangkis tuduhan yang diajukan. Disinilah kita dituntut bijaksana untuk membaca situasi. Yang bisa saya lakukan adalah reading between the lines, atau kira-kira maksudnya melihat yang tersirat diantara yang tersurat dan terlihat.

Foto4 - Copy - Copy

Meneliti berita, dialog dan debat terkadang sangat melelahkan, terutama debat antar Tim Sukses. Seringkali dari kedua kubu angkat bicara di waktu yang sama dengan berapi-api, hingga sulit menyimak mereka. Tapi bersabarlah, saudaraku. Orang sabar disayang Tuhan, kata pepatah. Tetaplah pasang mata dan telinga, hati dan logika, berharap pencerahan akan mengilhami anda. SARAN: buatlah variasi tontonan. Artinya, jangan tonton berita melulu, atau dialog melulu, apalagi debat melulu. Menurut saya itu tidak sehat. Buatlah variasi yang memungkinkan hati dan logika kita menyerap dan mempertimbangkan informasi dengan baik.

Saya kebetulan masih netral. Istilah politiknya, saya ini termasuk swing voters, yaitu para calon pemilih yang masih bisa kesana kemari, belum menetapkan dukungan. Namun demikian, saya tak memungkiri bahwa sesekali saya pernah juga lebih condong mendukung ke salah satu kubu. Beberapa kali berubah-ubah pula. Plin-plan, maksudnya? Mungkin. Tapi kan nggak ada yang tahu, wong itu hanya ada di pikiran saya sendiri. Lagi-lagi saya nggak takut salah dalam menganalisa. Belum tentu pendapat orang lain lebih benar, dan belum tentu juga yang fitnah itu salah. Kalau ditarik sampai dasarnya filsafat, maka ya hanya Tuhan yang tahu segala sesuatu. Itulah salah satu keuntungan dari sikap diam bagi saya, yaitu bisa mempertimbangkan dengan tenang, tanpa beban mempertahankan pendapat yang pernah diucap.

 

SOCIAL MEDIA: PERSATUAN INDONESIA

Kalau saya memilih diam, orang lain banyak yang memilih teriak. Dan tanpa harus menghabiskan pita suara, mereka melantangkan keberpihakan lewat media jejaring sosial. Tentu saja ini sangat-sangat sah di era kebebasan bicara seperti sekarang. Bahkan dalam sudut pandang tertentu, hal ini memperindah keberagaman warna di masa kampanye Capres. Saya yang masih netral, justru mencari perbedaan pendapat ini di berbagai sosmed. Beberapa dari mereka menyuguhkan pendapat dilengkapi dengan link ke situs berita, yang bagi saya sangat membantu dalam mengumpulkan informasi dari kedua kubu Capres.

Sayangnya, tidak semua orang bisa dan bersedia dengan ikhlas menyikapi perbedaan ini dengan positif. Beberapa membuatnya sebagai bahan pertengkaran karena berbeda kubu Capres, yang kemudian diakhiri dengan unfriend di sosmed. Beberapa lagi justru tidak pakai bertengkar – karena mungkin masih netral – tapi langsung unfriend secara sepihak dengan temannya yang suka ‘teriak’ di jejaring sosial. Ini sangat disayangkan. Ayolah saudaraku yang kebetulan membaca tulisan ini, kita kan sama-sama Warga Negara Indonesia. Mau nomer urut Satu atau Dua pilihan Capres kita, nomer Tiga dari Pancasila harus tetap kita jaga: Persatuan Indonesia.

 

MEMILIH PRESIDEN: JANGAN GOLPUT!!

Menutup tulisan ini, saya akan ikutan ‘teriak’ tentang satu hal: JANGAN GOLPUT!! Dalam banyak hal saya akan tetap saya, bungkamnya saya tentang politik mungkin tidak akan berubah. Tapi kalau saya boleh unjuk pendapat sebagai bagian atas suara kolektif dari 200 juta lebih penduduk Indonesia, maka saya akan mempergunakan kesempatan itu. Kapan lagi? Lima tahun lagi? Padahal dalam lima tahun kedepan – mungkin dibawah kepemimpinan Presiden pilihan saya – kehidupan kita semua sebagai rakyat Indonesia bisa jadi sudah lebih baik.

Bagaimana kalau Capres saya kalah? Ya hormati saja dengan ikhlas Presiden baru yang terpilih. Dan kalau ternyata kehidupan jadi lebih buruk justru disebabkan menangnya Capres yang kita pilih? Ya itu sudah takdir. Seperti kehidupan pada umumnya, dimanapun manusia berada, ya kita jalani saja hidup ini dengan ikhlas juga. Yang penting saya sudah berusaha maksimal dengan cara turut serta dalam menentukan nasib bangsa melalui Pemilu. Karena menurut kepercayaan saya, kondisi apapun tidak akan berubah menjadi lebih baik kalau tidak disertai usaha terhadapnya. Masalah berhasil atau gagal – setelah ada usaha – itu adalah hak mutlak dari Yang Maha Kuasa.