AHOK, FPI dan HTI: Ujian Bagi Demokrasi Indonesia

IMG_20170513_223521 (1)

Tanggal 9 Mei 2017 tiba-tiba menjadi catatan penting sejarah untuk peradilan di Indonesia. Rakyat Indonesia terbelah dua. Keadilan di negara hukum ini serta merta menuai puji dan caci. Agama dan Politik beradu kuasa mempengaruhi Hukum untuk satu keputusan pengadilan paling kontroversial di negri ini. Alkisah, adalah Ahok, seorang Kristen keturunan Cina, Gubernur Jakarta pengganti Jokowi, dituduh melecehkan agama Islam dan dijerat pasal penistaan agama. Umat Islam pun mendukung tuduhan itu dengan meluncurkan aksi demo akbar 411 dan 212 yang berhasil menggalang tak kurang dari dua juta orang di Jakarta. Pada akhirnya, Ahok dinyatakan bersalah dan diganjar 2 tahun penjara oleh Majelis Hakim, melebihi tuntutan Jaksa Penuntut yang hanya meminta 1 tahun penjara. Sehari sebelumnya, ormas Islam bertajuk Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang berdiri sejak tahun 1980-an, dibubarkan oleh Pemerintah, diumumkan melalui konferensi pers Menkopolkam Wiranto di kantornya.

Adakah kedua kejadian ini saling berhubungan dan disengaja? Apakah ini sebuah skenario “reality show” dalam panggung politik? Tak ada bukti tertulis yang mendukung, namun atas nama analisa saya membenarkan hipotesa tersebut. Pertanyaan selanjutnya, sekuat itukah sebuah Mayoritas – baik itu Agama maupun Suku Bangsa – mempengaruhi kestabilan Politik dan Hukum, hingga mampu menggoyang “Bhinneka Tunggal Ika” di Indonesia? Jika jawabannya “ya”, maka bagaimana dengan Demokrasi di negri ini yang seharusnya menyamaratakan hak dan kewajiban semua warga negara tanpa pandang SARA? Meski tak ada negara yang sempurna mengadopsi Demokrasi, dengan mencuatnya kasus Ahok ini menunjukkan bahwa Indonesia masih harus banyak berbenah diri.

MAYORITAS vs MINORITAS

Menurut data hasil sensus penduduk 2010, umat Islam mendominasi tanah air kita dengan 87% populasi. Ini berarti pemeluk agama lain adalah kaum minoritas dipandang dari sisi Agama. Dalam sisi Suku Bangsa, warga asli pribumi tentunya adalah mayoritas dibanding jumlah penduduk keturunan negara asing. Adapun keturunan Cina tercatat hanya berjumlah 1,2% dari seluruh penduduk Indonesia. Ahok adalah seorang Non Muslim dan Keturunan Cina pula, atau bisa dibilang Minoritas di dalam Minoritas. Kenyataanpun mencatat bahwa sangat langka seorang Keturuna Cina berminat terlibat dan berhasil masuk dalam dunia politik di Indonesia. Maka Ahok bisa disebut sebagai satu diantara sejuta, Langkanya luar biasa.

Lantas, apakah Warga Negara Indonesia (WNI) Keturunan Cina bisa dibilang kurang petriotik terhadap Bangsa Indonesia? Data Sensus Penduduk tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Maka yang seyogyanya kita simpulkan secara umum adalah bahwa sebagai sesama WNI yang tinggal di Indonesia, yang mencari nafkah dan membina keluarga di tanah yang sama dengan 98,8% WNI lainnya, patriotisme seorang WNI Suku Cina adalah tak lebih dan tak kurang dari patriotisme WNI Suku Jawa, Sunda hingga Papua. Kita semua sederajat di bumi Indonesia, wajib mengamalkan ideologi Pancasila, membangun bersama negara kita, dan berhak diperlakukan setara tak pandang SARA. Jika ini sudah kita pegang, maka siapapun pemimpin kita di ranah Pemerintah hanya akan dinilai dari keahliannya dan kepeduliannya dalam mensejahterakan rakyat yang dipimpinnya. Bukan Agamanya, bukan Sukunya.

Indonesia tampaknya masih harus bergelut dengan diri sendiri dalam implementasi kesetaraan ini. Meski dalam ranah perundang-undangan tak ada diskriminasi atas SARA tertentu bagi semua WNI, namun secara riil kita bisa saksikan bukti nyatanya dalam kasus Ahok. Munculnya retorika dari sebagian masyarakat dalam masa Pilkada DKI Jakarta yang menyeru “siapapun gubernurnya asal bukan Ahok” mencerminkan diskriminasi pada predikat Agama dan Suku minoritas yang disandang Ahok. Memang, kenyataan bahwa Ahok terjerat pidana kasus penistaan Agama juga ambil bagian sebagai pemicu munculnya retorika itu, namun rekam jejak kepribadian – dan terutama kinerja – Ahok yang dinilai baik oleh sebagian lain masyarakat dalam negri dan para pengamat politik negara lain, justru menjadikan jeratan pidana tersebut sebagai bahan kritik di mata dunia untuk demokrasi di Indonesia.

Mari kita lihat peraturan yang menjerat Ahok dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP):

Pasal 156: Barang siapa di muka umum menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap suatu atau beberapa golongan rakyat Indonesia, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau pidana denda paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. Perkataan golongan dalam pasal ini dan pasal berikutnya berarti tiap-tiap bagian dari rakyat Indonesia yang berbeda dengan suatu atau beberapa bagian lainnya karena ras, negeri asal, agama, tempat, asal, keturunan, kebangsaan atau kedudukan menurut hukum tata negara.

Pasal 156a: Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barang siapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: (a) yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia; (b) dengan maksud agar supaya orang tidak menganut agama apa pun juga yang bersendikan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Pasal 156 (terkait SARA secara umum) dan 156a (khusus tentang Agama) dalam KUHP yang memasang pagar untuk menghindari munculnya pernyataan kebencian terhadap SARA tertentu, dinilai telah memasung kebebasan mengemukakan pendapat di Indonesia, apalagi secara riil dalam kasus Ahok implementasinya menuai kontroversi. Secara pribadi saya melihat pasal tersebut cukup baik tujuannya dan sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia yang menjunjung tinggi persatuan antar SARA agar tidak memecah belah bangsa. Tapi mungkin terlalu naif untuk berpikir bahwa sebuah aturan akan selalu baik dan tidak pernah disalahartikan apalagi disalahgunakan. Jangankan aturan hukum yang buatan manusia, bahkan Kitab Suci yang dipercaya sebagai kalimat Tuhan saja bisa diselewengkan. Tentunya bukan hukumnya atau kitab sucinya yang disalahkan. Manusialah sebagai penggunanya yang perlu dipertanyakan, baik keahliannya maupun – terutama – niatannya.

Dalam pelaksanaan hukum, adalah Majelis Hakim yang memutuskan bersalah atau tidaknya seorang terdakwa pidana, dengan bekal integritas manusiawi yang mereka miliki tentunya. Apakah ada intervensi? Baik secara langsung lewat bisikan pihak-pihak tertentu, maupun secara tidak langsung lewat berita dan demo yang terjadi di masyarakat, Majelis Hakim tentunya adalah manusia yang rentan terhadap asupan informasi dan kepentingan. Meski Presiden Jokowi membisu dan Pemerintah secara politis menyerahkan kasus ini kepada Hukum yang berlaku, namun para ahli hukum, para pemuka agama, para cendekiawan dan masyarakat luas, lantang berkomentar melalui media pilihannya, bahkan tak jarang saling hujat. Ajang pengerahan massa pun digelar dan menuia sukses. Demo 411 dan 212 yang secara umum dimotori oleh organisasi Front Pembela Islam (FPI) pimpinan Rizieq Shihab dan diikuti oleh dua juta rakyat dari belahan Indonesia menuju Monas di Jakarta, lantang menuntut Ahok dipenjara. Disini, apakah dibenarkan Majelis Hakim mengambil keputusan karena intimidasi para demonstran atau pertimbangan keamanan sosial? Keadilan semacam justice by mob ini sama lemahnya dengan intervensi bisikan pihak berkepentingan, karena belum tentu dua juta orang yang turun ke jalan itu mewakili pendapat ratusan juta warga lainnya yang nonton tv di rumah. Dan yang lebih hakiki, belum tentu keputusan yang sejalan dengan pendemo itu mencerminkan keadilan yang sesungguhnya, mengingat yang disidang disini hanyalah seorang Ahok dengan dakwaannya, bukan bagaimana pengaruhnya pada kondisi sosial nasional.

FPI sebagai motor utama pengerak demo “penjarakan Ahok” dipandang sebagai salah satu organisasi Islam radikal dalam upayanya menegakkan ajaran Islam yang seringkali berbenturan dengan kepentingan agama lain serta tak jarang menggunakan kekerasan, meski hal itu tidak terjadi pada aksi akbar 411 dan 212. Dari sweeping tempat makan dan hiburan malam di bulan Ramadhan, penutupan dan penghentian paksa aktivitas dan bangunan Gereja, ancaman dan pemblokiran konser musik, dan sebagainya hingga yang terakhir sweeping ke pusat perbelanjaan yang memasang ornamen perayaan Natal tahun lalu, aksi-aksi yang dilakukan FPI sejak berdirinya tahun 1998 hampir selalu diwarnai kontroversi. Penentangan tak hanya berasal dari pihak agama lain, namun tak jarang juga dari kalangan Muslim sendiri. Aksi-aksi itu dianggap tidak mengindahkan toleransi terhadap kaum minoritas di Indonesia.

Namun kemudian angin seolah berbalik arah saat Pilkada Jakarta berlangsung dan kasus penistaan agama Ahok mencuat. FPI seperti mendapat angin segar dengan banyaknya dukungan dari umat Muslim, dan dipertegas pula dengan kesuksesan demo 411 dan 212. Terlepas dari kasus yang saat ini menjerat Rizieq secara pribadi, organisasi FPI yang dipimpinnya akan tetap tercatat sebagai organisasi yang berhasil memenjarakan Ahok. Keberhasilan ini tentunya menjadi perhatian semua pengamat politik baik di dalam maupun di luar negri, maka tak heran jika keputusan Majelis Hakim atas Ahok akan dinilai dunia sebagai kemenangan pengaruh organisasi Islam radikal di Indonesia.

Alhasil, apapun keputusan Majelis Hakim pasti akan menjadi kontroversi bagi pihak yang tidak sejalan. Saya pribadi merasa pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang menyinggung Surat Al-Maidah ayat 51 dalam Al-Qur’an itu memang sebuah kesalahan Ahok pribadi. Ucapan itu sangat berpotensi menyakiti hati umat Muslim yang mendengarnya. Dan benar saja, FPI pun menuai dukungan dari banyak umat Muslim diluar anggotanya atas kasus ini. Namun bagi saya, yang perlu Ahok lakukan cukup meminta maaf kepada pihak yang tersinggung, mengingat pidatonya itu tidak disertai penghinaan langsung secara umum bagi Agama Islam dan pemeluknya. Kalaupun nasi sudah menjadi bubur saat insiden ini memasuki ranah pengadilan, maka bagi saya rekam jejak Ahok sebelum dan sesudah masa pidatonya itu akan cukup untuk memberinya kebebasan bersyarat diluar penjara. Ahok tidak mencerminkan pribadinya sebagai orang yang selalu “dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: (a) bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia” (KUHP pasal 156a).

Jika memang keputusan Majelis Hakim itu lebih berdasar pada kestabilan keamanan nasional, maka Pemerintah pun tak pelak harus turut ambil bagian. Saya melihat, bahwa dibubarkannya HTI sehari sebelum putusan dipenjaranya Ahok adalah penyeimbang kestabilan ideologi bangsa. Indonesia perlu menunjukkan kepada dunia bahwa Demokrasi masih tegak berdiri disini, bahwa Indonesia tidak sedang ditundukkan oleh kelompok-kelompok Islam radikal di negri sendiri.

REPUBLIK vs KILAFAH

Saat ini jumlah penduduk dunia telah mencapai 7,5 milyar. Diambil dari beberapa data sensus, Wikipedia mencatat bahwa pemeluk agama Islam berjumlah 1,7 milyar (23%), nomer dua setelah Kristiani yang berjumlah 2,2 milyar (32%). Indonesia adalah negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, yaitu 205 juta orang, yang disusul Pakistan sejumlah 178 juta. Secara kumulatif, Asia Tenggara dan Asia Selatan mendominasi hampir separuh dari populasi Muslim dunia, yaitu 45%, mengalahkan Timur Tengah dan Afrika Utara yang hanya 23%. Tak heran jika selain Timur Tengah yang dikenal sebagai tempat tumbuh kembang organisasi Islam radikal berskala internasional, Asia Selatan dan Tenggara – termasuk Indonesia – tak luput dari pantauan teropong dunia, terutama dalam kaitannya dengan terorisme.

Islam bukan teroris, dan terorisme bisa dilakukan oleh orang beragama dan tidak beragama, tak hanya Islam. Retorika Islamophobia yang berkembang terutama di negara barat belakangan ini memang dipicu oleh rasa takut terhadap aksi terorisme yang harus diakui beberapa diantaranya dilakukan oleh – yang kemudian disebut sebagai – organisasi Islam radikal. Sebutlah Al-Qaeda, ISIS, Hisbullah, atau Taliban sebagai beberapa yang terkenal. Hizbut Tahrir – berdiri di Palestina tahun 1953 – adalah salah satu diantaranya yang memiliki jaringan di beberapa negara di dunia, termasuk Indonesia sejak diperkenalkannya pada tahun 1983. Apakah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) termasuk radikal? Jika radikal yang dimaksud adalah melancarkan aksi teroris hingga meledakkan bom dan membunuh orang tak bersalah, jawabannya tidak. Namun jika radikal adalah menginginkan hukum Islam dijalankan sepenuhnya dalam negara yang dipimpin oleh seorang Khalifah, maka jawabannya ya. Hizbut Tahrir secara internasional memang mengupayakan berdirinya negara Islam dengan spesifikasi khusus, yaitu pemimpinnya seorang Khalifah, yang berarti semua umat Islam di dunia bisa merujuk kepada beliau sebagai pemimpinnya, mirip dengan seorang Paus yang berdomisili di Vatikan bagi umat Katolik. Bedanya adalah cakupan kekuasaan seorang Khalifah yang jauh lebih luas dari seorang Paus yang hanya berurusan dengan sisi spiritualnya saja dari umat Katolik.

Khalifah adalah sebutan bagi seorang pemimpin dalam sistem kenegaraan Khilafah, yaitu suatu negara dimana mayoritas penduduknya beragama Islam dan semua warganya tunduk pada aturan hukum yang mengacu pada Al-Qur’an dan Hadist Nabi, atau lebih populer dengan sebutan Hukum Syariah. Sepeninggal Nabi Muhammad SAW, terdapatlah empat kali masa Khilafah yang lebih dikenal dengan masa kepemimpinan para Khulafaur Rasyidin, yaitu Khalifah Abu Bakar, Umar, Ustman dan Ali, selama total 29 tahun. Sebetulnya Khilafah bukanlah satu-satunya sitem kepemimpinan dalam dunia politik Islam, namun ini lebih dikenal mengingat mayoritas Muslim yang beraliran Sunni, baik di Indonesia maupun di dunia saat ini. Adapun sistem lainnya adalah Imamah, dengan pemimpinnya seorang Imam. Khilafah dianut oleh aliran Sunni, sedangkan Imamah dari aliran Syiah. Meski berbeda istilah, sejarah, dan terutama penafsiran Hukum Syariah, pada intinya keduanya sama, yaitu memberi umat Islam seduania satu orang pemimpin. Sekali lagi, satu orang Khalifah ini mirip dengan satu orang Paus, tapi kekuasaannya mencakup ekonomi, sosial, hukum, politik dan militer, lengkap selayaknya Presiden.

Buat apa bikin Khilafah? Sejalan atau tidak dengan Demokrasi dan Pancasila? Dalam sebuah debat di televisi berita nasional, Ismail Yusanto, juru bicara HTI, mengemukakan bahwa dunia membutuhkan sistem Khilafah untuk menghentikan hegemoni Amerika Serikat yang dinilai menguasai hampir semua aspek kehidupan dan bernegara dunia saat ini. Meski bukan satu-satunya tujuan mengingat HTI juga mengajarkan dakwah keilmuan Islam kepada masyarakat, namun hal ini menumbuhkembangkan kesan bahwa Islam saat ini sedang dalam kondisi tertindas. Padahal, saya sebagai Muslim tidak merasa tertindas menjalankan kehidupan dan ibadah saya disini. Indonesia bagi saya justru adalah surga bagi pemeluk agama Islam, karena kami mayoritas dan tersedia semua fasilitas. Jika kita ambil contoh kondisi di negara-negara Timur Tengah yang saat ini benar-benar tertindas dan terjajah, seperti Irak, Syiria, atau Palestina misalnya yang secara langsung maupun tidak langsung dipercaya menjadi korban hegemoni Amerika Serikat, kemudian kita berasumsi bahwa apa yang terjadi disana akan terjadi juga di Indonesia, dan oleh karenanya Indonesia butuh Khilafah, maka pendapat ini sama dengan meragukan kekuatan NKRI sebagai negara merdeka dan Pancasila sebagai ideologi bangsa. HTI, meskipun dalam anggaran dasarnya mengakui NKRI dan Pancasila, namun tetap mengajarkan bahwa sistem Khilafah dan Hukum Syariah lebih baik bagi umat Muslim di Indonesia.

Dalam ranah Demokrasi, konsep Khilafah ini tidak menjalankannya sebagaimana pengertian Demokrasi pada umumnya. Suara rakyat bukannya tidak didengar, namun bukan menjadi penentu utama dan tidak dipakai dalam pembuatan sebuah aturan Hukum. Kedaulatan hanya ada di tangan Tuhan lewat Al-Qur’an, bukan rakyat. Pemimpin bisa jadi dipilih oleh rakyat, namun hanya untuk menjalankan Hukum Syariah. Namun sejatinya Hukum Syariah inipun bukannya bebas dari campur tangan manusia, mengingat banyaknya versi penafsiran Al-Qur’an dan Hadist Nabi yang seringkali berseberangan. Secara global, adanya aliran Sunni dan Syiah dalam Islam saja sudah seperti menjamin adanya perbedaan nyata yang tidak bisa disatukan, sepeti juga dalam Kristiani ada Katolik dan Protestan. Meskipun perbedaan penafsiran dan munculnya sekte-sekte adalah wajar dalam konteks keagamaan di agama manapun, namun jika ini dijadikan wacana untuk penyatuan suluruh umat dalam sebuah sistem kenegaraan, maka kita bisa menilai kemungkinan berhasilnya sangat kecil.

Negara Islam bukannya tidak ada di dunia ini, namun tak satupun menerapkan sistem Khilafah. Sebutlah Arab Saudi dan Iran yang terbesar. Arab Saudi berbasis Sunni, sedangkan Iran berbasis Syiah. Arab Saudi adalah negara dengan sistem Monarki, sedangkan Iran menerapkan sistem Republik. Keduanya menerapkan penuh Hukum Syariah untuk semua warganya, baik yang Muslim maupun Non Muslim. Di mata dunia, kedua negara ini seringkali dikritik dalam hal persamaan derajat bagi wanita, baik dari sisi pernikahan, warisan, sosial, ekonomi hingga politik. Konon di Arab Saudi wanita baru bisa mengikuti pemilu lokal sejak tahun 2015, dan meski Arab Saudi menjamin hak wanita dalam pendidikan tinggi, mereka tetap tidak diijinkan mengendarai kendaraan bermotor hingga kini. Berbeda dengan Iran yang membolehkan wanita berpartisipasi dalam lebih banyak aspek sosial politik – boleh juga setir mobil bahkan ada yang jadi pembalap – namun tetap mewajibkan wanita menutup rambut dengan kerudung setidaknya. Jika HTI akan menciptakan Khilafah, manakah yang menjadi acuan? Dari dua negara raksasa ini saja penerapan Hukum Syariahnya sudah berbeda, dan isu kesetaraan wanita akan menjadi masalah besar nantinya.

Turki dan Indonesia adalah contoh negara yang mayoritas penduduknya Muslim namun tetap berpijak pada konsep Sekular dengan tidak mengadopsi aturan keagamaan sebagai dasar Hukum. Oleh HTI, Sekularisme ini dianggap merupakan produk negara Barat yang meracuni kehidupan keislaman di seluruh dunia. HTI berpendapat bahwa umat Islam selama ini tengah dilimpahi konsep kebebasan dalam ilmu pengetahuan Sekular, yang merupakan senjata negara Barat untuk menjajah umat Islam. Wanita Muslim tak selayaknya independen, karena Feminisme adalah bagian dari ajaran Sekular yang harus dihilangkan. Contoh doktrinasi seperti ini menempatkan HTI pada posisi yang berseberangan dengan sistem yang dianut oleh banyak negara, termasuk Indonesia yang memiliki semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Maka, dimanakah posisi HTI dalam kebinnekaan ini jika semua aspek kehidupan untuk semua pemeluk agama harus berdasarkan ajaran Islam radikal? Tentunya untuk membela pendapat HTI, tak ada pilihan selain mengesampingkan Pancasila dan UUD 1945. Bahkan organisasi Islam terbesar di Indonesia, NU dan Muhammadiyah, tidak pula mendukung keberadaan HTI.

BHINNEKA TUNGGAL IKA

Islam tidak mengajarkan umatnya untuk menjauhi toleransi. Bahkan dalam banyak ayat di Al-Qur’an, umat Muslim diwajibkan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan, menerima keragaman, dan menghormati agama lain. Perbedaan pada manusia adalah ciptaan Tuhan, dan tugas kita adalah saling mengenal, saling menghormati, saling mengasihi, sehingga tercipta kemanusiaan dan perdamaian dimanapun kita berada. Semakin kita beriman pada Tuhan seharusnya kita semakin menghargai perbedaan, bukan menghilangkannya. “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Indonesia adalah negara Sekular yang memisahkan Politik dengan Agama. Namun di Indonesia ada Pancasila sebagai pilar bangsa, yang mana sila pertamanya mengacu kepada Agama, mewajibkan setiap warganya untuk mengimani Tuhan Yang Maha Esa. Ajaran agamanya bebas, pilih saja salah satu dari enam agama yang diakui Pemerintah Indonesia. Dengan demikian, Indonesia seharusnya merupakan negara yang nyaman bagi semua pemeluk agama. Meski berbeda, masing-masing agama tetap mendapat perlindungan yang sama dari Pemerintah.

Pancasila tidaklah berseberangan dengan ajaran Islam. Bahkan secara politik, adalah Presiden Abdurrahman Wahid – seorang pemimpin NU organisasi Islam terbesar di Indonesia – yang justru memulai pengakuan adanya Hari Raya Imlek yang dirayakan Suku Bangsa Cina oleh Pemerintah Indonesia. Konon di masa kepemimpinan Nabi Muhammad SAW pun terdapat suku-suku dibawah kekuasannya yang warganya beragama lain, seperti Kristiani dan Yahudi, dengan tetap mendapat perlindungan dan kebebasan beribadah yang sama dengan pemeluk agama Islam. Di masa kini, hal inipun diterapkan juga di Iran sebagai negara Republik Islam, dimana terdapat komunitas Kristiani dan Yahudi disana, memperoleh hak kursi juga di Dewan Perwakilannya, bahkan ada Rumah Sakit Umum Yahudi yang pelayanannya tidak memandang agama, seperti Rumah Sakit Kristiani yang ada di negara kita. Negri kita juga tak beda. Dengan predikat NKRI, yaitu Negara Kesatuan Republik Indonesia, dimana Demokrasi yang kokoh adalah jaminan terdengarnya suara rakyat dalam sistem Republik, slogan “NKRI Harga Mati!!” seharusnya tidak berarti memaksakan pemahaman satu agama kepada agama lain.

Jika Pancasila tidak berseberangan dengan Islam, jika kebhinnekaan adalah konsep yang dimuliakan dalam Islam, maka keberadaan organisasi Islam yang melakukan aksi dan bersudut pandang radikal di Indonesia patut dipertanyakan niatan nya. Benarkah mereka ingin turut serta membangun bangsa dengan ideologi Pancasila dan konsep Bhinneka Tunggal Ika? Benarkah mereka berkeinginan turut menjaga keamanan dan stabilitas nasional yang berlaku bagi semua umat beragama? Tentunya secara singkat, semua organisasi yang mengantongi ijin operasi di Indonesia akan menjawab “ya”. Namun jika kemudian dihadapkan pada sidang pengadilan dengan proses lama seperti kasus Ahok, didiskusikan dalam sesi dengar DPR, disandingkan dengan peraturan perundangan di Indonesia, dimana detil pertanyaan bisa mengerucut pada inti niatan, maka jawabannya tidak akan sesederhana “ya” atau “tidak”. Maka adalah tugas para pemangku jabatan terkaitlah untuk mengambil keputusan, dan di tangan merekalah – untuk saat ini – tegaknya Demokrasi di Indonesia dipertaruhkan.

 

***  T  A  M  A  T  ***

Advertisements

BERNIE SANDERS: Seorang YAHUDI Calon Presiden AMERIKA Yang Membela PALESTINA

Pemilu Presiden Amerika adalah sebuah proses panjang. Pemilu utamanya atau disebut General Election baru akan dilaksanakan tanggal 8 November 2016 nanti, namun perjalanan para kandidatnya sendiri sudah dimulai sejak akhir tahun 2015 yang lalu. Dari 17 kandidat di Partai Republik dan 6 kandidat di Partai Demokrat, sampai dengan tulisan ini saya buat tinggal Donald Trump yang tersisa di Partai Republik, dan dua kandidat yang sedang bersaing di Partai Demokrat, yaitu Hillary Clinton dan Bernie Sanders.

fb-share

Saya jatuh cinta pada seorang BERNIE SANDERS. Dialah – dan hanya dia – pemilik sudut pandang yang lebih adil dan berperikemanusiaan dalam wacana perdamaian konflik Israel Palestina. Berawal dari ketidaksengajaan saya membuka video Youtube ini https://www.youtube.com/watch?v=jkLXgWmpBkI yang berisi cuplikan debat Calon Presiden terkait topik Israel-Palestina sekitar awal April lalu, saya tiba-tiba takjub melihat kenyataan bahwa ada seorang Calon Presiden Amerika yang membela Palestina. Sejak saat itu hingga kini saya tak sabar dan selalu berdebar menanti sebuah penentuan: mampukah dia mengalahkan Hillary Clinton sebagai Calon Presiden dari Partai Demokrat? Dan selanjutnya, berhasilkah dia terpilih menjadi Presiden Amerika Serikat nantinya?

Sementara ini, Hillary Clinton masih memimpin klasemen sementara. Terus terang saya jadi pesimis, apalagi saat saya mulai mengerti se-demokratis apa sebenarnya Pemilu Presiden di Amerika Serikat. Tapi demi Tuhan, untuk perdamaian Israel-Palestina, Bernie Sanders adalah sebuah harapan besar!

 

SEKILAS TENTANG PILPRES AMERIKA 2016

Simaklah link Youtube ini untuk melihat jadwal rangkaian Pemilu Presiden di Amerika Serikat selama tahun 2016: https://www.youtube.com/watch?v=xAB8IpmdtQc . Perjalanan yang panjang dan berliku bukan? Saya akan coba tuliskan dengan beberapa penjelasan tambahan disini.

*PELAKSANAAN Dalam Pemilu Calon Presiden*

PhotoGrid_1463022489192Rangkaian Pemilu Presiden diawali dengan memilih kandidat Presiden dari masing-masing partai. Hanya ada dua partai di Amerika Serikat, yaitu Partai Republik dan Partai Demokrat. Pemilu dilakukan selama beberapa bulan, disertai dengan jadwal kampanye dan penayangan Debat Calon Presiden di beberapa stasiun televisi secara bergantian. Selama perjalanan Pemilu, para kandidat yang mendapat suara sedikit mulai mengundurkan diri. Di setiap negara bagian dilakukan Pemilu menggunakan salah satu dari dua cara, yaitu Caucus dan Primary. Link ini menjelaskan perbedaan keduanya: https://www.youtube.com/watch?v=_XeELfd-xgo .

Caucus dilakukan dengan mengumpulkan banyak orang di sebuah ruang luas, lalu beberapa simpatisan masing-masing kandidat melakukan orasi kampanye bergantian, kemudian barulah Pemilu dilaksanakan. Di Partai Republik, Pemilu menggunakan kertas berisi pilihan nama kandidat yang bisa dipilih salah satu. Sedangkan di Partai Demokrat, orang-orang yang datang harus berkumpul dengan para simpatisan yang sama, lalu dihitung jumlah masing-masing simpatisan. Jika ada simpatisan yang jumlahnya sedikit (kurang dari 15%), maka simpatisan kandidiat Presiden tersebut harus berpencar dan berkumpul dengan simpatisan kandidat Presiden yang lain. Barulah disitu dihitung jumlah akhir simpatisan masing-masing kandidat.

Primary dilakukan lebih mirip dengan Pemilu yang biasa kita ketahui, yaitu masing-masing pemilih menentukan pilihannya di bilik tertutup. Ada tiga jenis Primary, yaitu Open, Closed, dan Semi Closed. Dalam Open Primary pemilih bebas memilih kandidat manapun dari partai manapun. Kebalikannya, dalam Closed Primary para pemilih hanya boleh memilih kandidat Presiden dari partainya sendiri saja, yang mana berarti jika mereka bukan simpatisan salah satu partai (independent atau unaffiliated istilahnya), mereka tidak bisa memilih. Sedangkan dalam Semi Closed Primary, masing-masing simpatisan hanya boleh memilih kandidat di partainya sendiri, sedangkan bagi mereka yang independent boleh ikut memilih salah satu dari kandidat kedua partai yang ada. Bagi Bernie Sanders, konsep closed primary dan semi closed primary sangat merugikan baginya, karena konon pendukung terbanyak Bernie justru datang dari kalangan independent.

Pilihan untuk melakukan Caucus atau Primary adalah hak otonomi masing-masing negara bagian. Sedangkan untuk biaya penyelenggaraannya, Caucus dibiayai oleh partai, sedangkan Primary dibiayai oleh negara bagian. Sesuai dengan kondisinya, Caucus memang lebih murah daripada Primary, namun hasil dari keduanya sama-sama dipergunakan untuk menghitung jumlah pendukung kandidat Presiden di semua negara bagian di Amerika Serikat.

*PEMILIH Dalam Pemilu Calon Presiden*

PhotoGrid_1462935897637Di Amerika Serikat, Calon Presiden maupun Presiden tidak dipilih langsung oleh rakyat, melainkan dipilih oleh para utusan atau delegasi. Rakyat Amerika usia 18 tahun atau lebih memang memiliki suara dalam Caucus atau Primary, namun tidak langsung memilih Calon Presiden. Hasil Pemilu ini hanya menentukan jumlah Delegate untuk masing-masing Calon Presiden di semua Negara Bagian. Nantinya, diharapkan para Delegate ini akan membawa suara mereka sesuai dengan hasil Caucus dan Primary, namun hal itu tidak wajib. Para Delegate ini bebas memilih siapa yang mereka suka pada waktu diminta suaranya di tahap selanjutnya, yaitu saat digelar National Convention.

Acara National Convention dilakukan selama empat hari di suatu tempat oleh masing-masing Partai untuk menentukan secara resmi satu orang Calon Presiden dari masing-masing Partai beserta Calon Wakil Presiden pasangannya. Yang berhak menghadiri dan memiliki hak suara dalam acara ini tidak hanya para Delegate, namun juga para Super Delegate, yaitu para petinggi Partai dari semua negara bagian dan para Mantan Presiden, yang mana jumlahnya adalah 30% dari total suara dalam Partai. Super Delegate tidak mewakili siapapun, dan berhak memberikan suara untuk Calon Presiden manapun. Sampai disini, proses Pemilu Calon Presiden selesai. Cukup membingungkan? Simak video ini yang menjelaskan dengan animasi: https://www.youtube.com/watch?v=_95I_1rZiIs . Bagi Bernie Sanders, mendapatkan suara dari Super Delegate sangatlah sulit, karena disana berisi para pejabat yang tidak nyaman kalau Bernie memenangkan Pemilu Presiden nantinya.

Usainya National Convention menandai terpilihnya dua orang Calon Presiden beserta wakilnya untuk dipilih oleh rakyat dalam Pemilu Presiden yang akan jatuh pada hari Selasa, 8 November 2016.

*ELECTORAL COLLAGE Dalam Pemilu Presiden*

obama-win-2012Pada saat Pemilu Presiden nanti, seluruh rakyat Amerika Serikat akan melakukan Pemilu untuk memilih satu dari dua Calon Presiden beserta wakilnya. Tapi ini hanya fase pertama dalam Pemilu Presiden. Disini, meskipun rakyat memilih Calon Presiden saat melakukan pencoblosan, sebenarnya yang mereka pilih hanyalah sejumlah wakil dari Negara Bagian mereka, yang disebut sebagai Elector. Jumlah Elector untuk masing-masing dari 50 Negara Bagian di Amerika Serikat (ditambah satu wilayah khusus DC) ini tidak sama antara satu dengan yang lain, disesuaikan dengan proporsi jumlah penduduk, namun jumlah total nasional harus 538 Elector. Untuk bisa memenangkan Pemilu Presiden, pasangan Calon Presiden dan wakilnya harus mengantongi  setidaknya 270 suara Elector, atau 50% dari total nasional Elector ditambah satu.

Cara penunjukan anggota Elector bisa berbeda-beda di setiap Negara Bagian. Dan lagi-lagi, suara final sekelompok Elector ini tidak wajib sama dengan hasil jumlah suara terbanyak dari Pemilu yang dilakukan rakyat di Negara Bagian yang bersangkutan. Tapi yang wajib terjadi adalah satu dukungan bulat untuk satu Negara Bagian. Alhasil, disini terbuka peluang bahwa meskipun seorang Calon Presiden mendapat suara rakyat lebih banyak, pemenang akhirnya bisa jadi adalah Calon Presiden lawannya. Meski jarang, tak pelak hal ini pernah terjadi beberapa kali. Kasus terakhir adalah terpilihnya George Bush dari Partai Republik sebagai Presiden di tahun 2000, mengalahkan lawannya dari Partai Demokrat. Link Youtube ini bisa menjelaskan bagaimana hal itu mungkin terjadi: https://www.youtube.com/watch?v=W9H3gvnN468 .

Begitulah potret Pemilu Presiden di Amerika Serikat, yang tentunya sangat berbeda dengan konsep demokrasi yang kita adopsi di Indonesia dalam Pemilu Presiden. Konsep satu warga satu suara tidak berlaku di Amerika. Konsep ini sebetulnya bukan tanpa keunggulan, seperti yang dijelaksan di video ini: https://www.youtube.com/watch?v=V6s7jB6-GoU . Jadi, meski Bernie Sanders diakui sebagai kandidat yang dicinta rakyat, jauh melebihi Hillary Clinton yang didukung pejabat, dengan kondisi demokrasi seperti itu cukup beralasan bagi saya untuk merasa pesimis atas kemenangan kandidat jagoan saya ini nantinya.

Pada bulan Desember 2016, suara Elector dari semua Negara Bagian akan dikumpulkan, dan disitulah akan terpilih Presiden baru Amerika Serikat yang menggantikan Barack Obama dari Partai Demokrat. Apakah Partai Demokrat akan tetap berjaya tahun ini? Dan siapakan kandidatnya, Hillary Clinton atau Bernie Sanders? Siapapun itu, dia harus berjuang keras mengalahkan Donald Trump, yang hampir pasti menjadi Calon Presiden dari Partai Republik tahun ini dengan dukungan besar dari rakyat Amerika Serikat. Ya, dukungan rakyat Amerika – terutama simpatisan Partai Republik – sangat besar untuk Donald Trump, sampai-sampai semua kandidat Presiden dari Partai Republik mengundurkan diri dari kancah Pemilu Presiden tahun ini.

 

RETORIKA PARA CAPRES

trump-hrc-cruz-bernieInilah beberapa kandidat kuat Presiden Amerika Serikat. Dari Partai Demokrat ada Hillary Clinton dan Bernie Sanders, dan dari Partai Republik ada Donald Trump dan Ted Cruz. Terus terang saya hanya mengikuti acara Debat Calon Presiden dari sisi Partai Demokrat saja, yaitu antara Hillary dan Bernie. Debat yang menurut saya cukup menarik dan jauh dari dangkal. Sedangkan di sisi lain, saya sama sekali tidak tertarik dengan Debat Calon Presiden di Partai Republik. Mengapa? Retorika para kandidatnya saja sangat fasis dan rasis. Saya merasa tak bisa berharap banyak dari orang seperti mereka untuk urusan kemanusiaan dan perdamaian dunia.

Ini contohnya. Donald Trump dalam pidato pengumuman pencalonan dirinya sebagai kandidat Presiden di New York bulan Juni 2015, menyatakan tanpa beban bahwa para imigran dari Mexico dan negara latin lainnya hanyalah pecundang, bahwa mereka kebanyakan adalah pemerkosa, pengedar narkoba dan kriminal di negara asalnya. Ini link cuplikannyanya: https://www.youtube.com/watch?v=C6QEqoYgQxw . Dan dia juga mengumumkan dalam sebuah kampanye di Pearl Harbour bulan Desember 2015, bahwa jika terpilih sebagai Presiden dia akan melarang masuknya orang Muslim ke Amerika. Ini linknya: https://www.youtube.com/watch?v=-sz0KY-3PbQ . Kandidat Presiden dari Partai Republik yang lain juga tak beda retoriknya. Ted Cruz dalam salah satu kampanyenya di bulan Maret 2016 tak lama setelah meledaknya bom di Brussels Belgia, menyatakaan bahwa pihak Kepolisian Amerika harus selalu mewaspadai dan meningkatkan patroli di area komunitas Muslim di Amerika. Dengan kata lain, warga Muslim Amerika – yang jumlahnya sekitar 3,3 juta orang – tak layak dipercaya. Ini linknya: https://www.youtube.com/watch?v=vWLeXdHKOOM .

PhotoGrid_1463074577348Uniknya – dan ini saya akui sejujurnya dari otak dan hati saya – setelah sekian minggu mengikuti Debat Calon Presiden antara Bernie dan Hillary, saya bisa mengerti mengapa sebagian rakyat Amerika mencintai Donald Trump. Bernie Sanders dalam setiap kampanye dan debat yang dijalaninya selalu menyuarakan fakta ketidakadilan sistem ekonomi di Amerika yang mengakibatkan orang kaya makin kaya, golongan ekonomi menengah seolah menghilang, dan sebagai gantinya golongan ekonomi lemah makin meningkat. Dia bilang total kekayaan 1% warga terkaya Amerika lebih besar daripada 99% rakyat lainnya. Ini tidak adil, seru Bernie. Dan salah satu penyebab menghilangnya golongan ekonomi menengah adalah hilangnya lapangan kerja akibat beberapa perusahaan besar Amerika membuka pabrik baru justru di luar negri, seperti Cina, Vietnam dan Mexico, demi biaya tenaga kerja dan pajak yang lebih murah. Calon Presiden dari partai manapun berposisi sama dalam memandang masalah lapangan kerja ini..

Disinilah Donald Trump menjadi angin segar bagi rakyat. Saat dia menyebut dirinya sendiri sebagai “Presiden yang akan mencipta lapangan kerja terbanyak sepanjang sejarah Amerika”, rakyat percaya. Donald Trump – kalaupun belum membuktikan diri sebagai Politikus handal – adalah seorang yang sukses sebagai pengusaha. Terpuruknya ekonomi Amerika beberapa tahun belakangan ini membuat derita panjang bagi warganya. Tak heran kalau mereka mulai berpikir, mungkin seorang CEO akan lebih baik memimpin negara daripada seorang negarawan.

Bernie Sanders dicinta rakyat karena keberaniannya menolak pemberian dana kampanye dari perusahaan besar yang berkepentingan ingin mengatur sistem perekonomian negara melalui Presiden Amerika terpilih nantinya. Tidak seperti Hillary Clinton dan Ted Cruz, semua dana kampanye Bernie diperoleh dari rakyat, yang jika dirata-rata setiap simpatisan menyumbang 27 USD. Serupa dengan Bernie, Donald Trump juga menolak pemberian dana kampanye dari siapapun. Alasannya tentu sangat jelas. Dia kaya raya! Tak ada yang bisa mempengaruhi keputusannya kelak karena dia tak berhutang budi pada siapapun. Itu janjinya, dan rakyat pun menyambut gembira. Video singkat Al-Jazeera ini adalah buktinya: https://www.youtube.com/watch?v=s1w8lGnv8x0 .

Saya bukan warga Amerika, jadi saya sebetulnya tidak berkepentingan dengan semua kasus dan janji ekonomi sosial politik yang diusung dalam setiap kampanye atau perdebatan para Calon Presiden disana. Tapi saat mereka bicara soal politik luar negeri, terutama terkait Timur Tengah, saya mau tak mau tersedot kedalamnya, karena sejatinya Amerika Serikat adalah pemain utama dalam hampir semua masalah yang terjadi di Timur Tengah. Konflik Israel-Palestina adalah salah satunya. Dan sebagai Calon Presiden Amerika, tak akan sempurna kampanye mereka tanpa menyatakan dukungan penuh untuk Israel. Konferensi AIPAC adalah wahana permainannya.

 

“AIPAC vs BDS” DAN “ISRAEL vs PALESTINA”

PhotoGrid_1463118476787AIPAC – American Israel Public Affairs Comittee – adalah organisasi yang bertujuan melakukan lobby kepada para petinggi Amerika Serikat demi memastikan dukungan dan bantuan, baik secara ekonomi maupun militer, untuk Israel. AIPAC mengadakan konferensi tahunan pada bulan Maret 2016 yang lalu di Washington DC. Konferensi mewah ini sengaja mengundang semua Calon Presiden Amerika untuk berorasi sebagai kampanye dihadapan lebih dari sepuluh ribu simpatisan pro-Israel yang hadir dari berbagai penjuru Amerika. AIPAC Policy Conference adalah hajatan besar. Tapi Bernie Sanders justru tidak datang.

Dalam pidato-pidato mereka, para Calon Presiden Amerika ini, baik Hillary Clinton, Donald Trump maupun Ted Cruz meneriakkan jargon yang persis sama, yaitu Amerika akan tetap 100% mendukung Israel jika mereka terpilih jadi Presiden nantinya. Dukungan utama adalah dari sisi militer. Mereka bahkan tak canggung menyebut jenis-jenis senjata dan teknologi pertahanan militer teranyar yang telah dan akan mereka implementasi untuk melindungi Israel dari serangan teroris. Siapakah yang mereka sebut teroris untuk Israel? Tak lain adalah rakyat Palestina, terutama dua organisasi politik resmi yang ada disana, yaitu Fatah di Tepi Barat dan Hamas di Jalur Gaza.

Amerika juga akan membantu Israel dalam menentang gerakan BDS, atau Boicott, Divestment and Sanction untuk segala kerjasama yang terkait dengan Israel. Indonesia dan negara-negara Islam dalam KTT LB OKI di Jakarta beberapa bulan lalu mendukung gerakan BDS ini dengan tujuan untuk menekan Israel agar menghentikan penjajahan di Palestina. Tapi Amerika tak akan gentar, apalagi nanti kala mereka terpilih jadi Presiden. Di Amerika sendiri misalnya, ada beberapa universitas yang memberlakukan BDS kepada pelajar asal Israel di kampus mereka. Para Calon Presiden ini justru menggolongkan BDS ini sebagai gerakan Antisemite (membenci orang Yahudi hanya karena mereka Yahudi, yang mana tak ada kaitannya sama sekali dengan Israel) yang amat rasis, dan tak akan segan menindak dengan sangsi terberat bagi siapapun yang mengimplementasi BDS ini.

Silakan simak link-link pidato mereka disini kalau tertarik mendengarkannya. Hillary Clinton ada disini:  https://www.youtube.com/watch?v=MXI9LTg3LZk . Donald Trump ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=2ZGgMJ3QDAQ . Ted Cruz ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=sRyiT1geIGs .

Saya hanya bisa mengelus dada.

Tak berhenti sampai disitu, Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga melakukan pidato jarak jauh dari Jerusalem. Pidato ini bahkan lebih parah dari pidato para Calon Presiden karena dilengkapi dengan berbagai propaganda Israel yang sangat merendahkan rakyat Palestina. Ini linknya: https://www.youtube.com/watch?v=DxRPehGMq6o .

Saya amat sedih dibuatnya.

PhotoGrid_1463123687464Tapi kemudian ada Bernie Sanders yang tidak hadir di Konferensi AIPAC, namun tetap menyampaikan pidatonya dari Utah dimana dia sedang mengadakan kampanye disana. Tidak seperti pidato jarak jauh Netanyahu dari Jerusalem, pidato Bernie yang ditujukan untuk AIPAC tersebut tidak disiarkan langsung di Konferensi AIPAC. Mengapa? Karena kampanye politik Bernie Sanders tentang konflik Israel-Palestina bertolak belakang dengan Calon Presiden lainnya.

Siapa dan mengapa sejatinya Bernie Sanders ini sampai rela menjauh dari forum penting sekelas AIPAC? Yang pasti dia bukannya tidak hadir hanya karena jadwal yang berbenturan dengan urusan kampanye di Utah. Orasi di AIPAC mungkin bahkan jauh lebih menguntungkan karena disiarkan langsung dari berbagai stasiun televisi nasional. Apapun alasan sebenarnya, tindakan ini menyiratkan bahwa Bernie konsisten dengan pendiriannya, yaitu tidak mau mengambil keuntungan sedikitpun dari apa yang disebut sebagai establishment, yaitu semua pihak, baik pengusaha, politikus, perusahaan, maupun organisasi besar, yang sudah mendapat – dan ingin mempertahankan – kenyamanan posisinya saat ini atas berlakunya kebijakan politik ekonomi yang menguntungkan mereka tapi membuat rakyat menderita.

Kembali pada topik Israel, merasakan beberap bulan masa kecilnya di Israel dan berasal dari keluarga Yahudi yang beberapa anggotanya menjadi korban holocost yang kejam oleh Nazi, Bernie Sanders tentu saja tidak membenci Israel. Dan sebagai warga Amerika Serikat yang sangat paham tentang tali persaudaraan yang erat antara negaranya dengan Israel, Bernie pun menyatakan bahwa dia – seperti halnya Calon Presiden lainnya – mendukung Israel sebagai negara yang berdaulat dan membenarkan Israel untuk membentengi diri dari segala tindakan terorisme yang mengancam warganya. Lalu, apa bedanya dengan Calon Presiden lain yang berkampanye di AIPAC?

Bedanya adalah Bernie Sanders lebih – bahkan jauh lebih – menghargai keberadaan negara dan kesejahteraan warga Palestina dibanding semua Calon Presiden lainnya.

Simaklah video pidato Bernie di Utah untuk AIPAC yang tidak diliput apalagi disiarkan langsung oleh media besar manapun: https://www.youtube.com/watch?v=RrmWTTXW4_k . Disini Bernie Sanders memaparkan konsep penyelesaian konflik yang akan digagasnya. Amerika harus menjadi teman untuk kedua belah pihak, yaitu Israel dan Palestina. Jika salah satu tidak dibantu, niscaya perdamaian tak akan terlaksana. Negosiasi harus mengacu pada landasan two-state solution, atau negara yang sama-sama merdeka bagi Israel maupun Palestina, dengan niat mulia untuk bersama mewujudkannya. Proses ini mungkin akan panjang berliku, dan hasilnya nanti seperti apa tak ada yang tahu. Puluhan tahun kebelakang adalah bukti negosiasi yang selalu gagal mencapai kesepakatan. Namun diharapkan, dengan landasan kayakinan kepada satu sama lain, niat baik dari masing-masing pihak, serta kemauan mengambil keputusan demi perdamaian meski harus dibarengi dengan kompromi, maka kesepakatan akan tercapai.

Tak hanya kedua belah pihak, semua negara di dunia harus mengakui kedaulatan negara Israel dan juga Pelstina yang sama-sama memiliki hak hidup dalam damai tanpa pertentangan dari manapun. Organisasi berbasis militer semacam Hamas di Jalur Gaza dan Hisbullah di Libanon (dua wilayah perbatasan Israel) harus menghargai keamanan wilayah Israel, karena Israel harus terbebas dari serangan apapun dan dari siapapun. Sebaliknya, demikian juga untuk Palestina, yang membutuhkan hak kelola mandiri bagi negaranya, kestabilan ekonomi dan kesetaraan hak asasi manusia. Ini berarti menghentikan penjajahan Israel terhadap Palestina.

Konsekuensinya adalah menyepakati batas wilayah kedua belah pihak, dan menghentikan pembangunan serta mengembalikan warga Israel dari pemukiman ilegal di wilayah Tepi Barat milik Palestina, atau yang disebut sebagai wilayah settlement. (Link penjelasan tentang settlement: https://www.youtube.com/watch?v=1sib5HbdEV4 ) Bernie Sanders menyatakan bahwa – sejalan dengan pendapat banyak negara dunia dan PBB – pembangunan settlement oleh Israel menghambat tercapainya kesepakatan damai dengan Palestina, yang pada ujungnya justru membahayakan keamanan Israel sendiri.

PhotoGrid_1463491181746Pemerintahan Benjamin Netanyahu di Israel dinilai sangat salah dalam membangun makin banyak wilayah settlement dari tahun ke tahun, dan memungut pajak yang sangat tinggi kepada warga Palestina yang mana seharusnya pajak tersebut dikelola sendiri oleh pemerintahan Palestina. Di sisi lain, Presiden Mahmoud Abbas di Palestina juga dinilai salah dalam meminta pembatalan Perjanjian Oslo yang dibuat tahun 1993, yang isinya justru menghindarkan dari tindak kekerasan.

Jalur Gaza, wilayah milik Palestina, harus dibebaskan dari blokade ekonomi  di darat, laut dan udara yang selama ini diberlakukan Israel, serta berhak mendapatkan penyaluran air bersih yang memadai bagi warganya yang selama ini 80% nya dikuasai oleh Israel, sehingga diharapkan Israel dan Palestina bisa bertetangga dengan baik. Palestina berhak untuk dapat mengelola hidupnya sendiri, termasuk untuk pasokan air bersih.

Perdamaian yang hakiki berarti patuhnya kedua belah pihak pada hukum kemanusiaan internasional yang berlaku. Hal ini berarti Israel tidak boleh menyerang Palestina dengan serangan balasan yang tidak wajar, meskipun di sisi Palestina serangan apapun ke Israel juga tidak dibenarkan. Yang pada awalnya hanya disebabkan oleh meluncurnya roket milik Hamas dari wilayah Gaza ke Israel dan penculikan beberapa warga Israel, serangan balasan Israel untuk itu sangat tidak proporsional

Hamas dinilai bersalah atas roket yang ditembakkan ke arah Israel dari rumah penduduk sipil di Gaza. Hamas juga harus mengakui kedaulatan negara Israel yang mana selama ini tidak diakuinya. Hamas juga dilarang mempergunakan bantuan yang seharusnya dipakai untuk membangun infrastruktur di Jalur Gaza, namun malah disalahgunakan untuk membangun terowongan bawah tanah untuk keperluan militer.

Di sisi lain Israel dinilai bersalah atas serangan balasan yang terjadi di Jalur Gaza pada tahun 2014 tersebut, dimana Israel menjatuhkan bom di wilayah pengungsian penduduk sipil, sekolah dan rumah sakit, yang tercatat membunuh dan melukai lebih dari 14.000 warga Palestina disana.

Kondisi Gaza saat ini masih sangat menyedihkan. Semua pihak secara internasional harus membantu bangkitnya kembali Gaza, baik perumahan warga, sekolah dan rumah sakit, namun tidak untuk kepentingan militer.

 

VATIKAN, TIMUR TENGAH DAN ISLAM

PhotoGrid_1463395372004Penentangan Bernie Sanders yang kuat terhadap establishment di Amerika bergema hingga ke Vatican. Maka pada tanggal 15 April 2016, ditengah jadwal kampanye dan debat yang padat, Bernie berkunjung ke Vatican untuk memenuhi undangan Paus Francis, mengemukakan pandangannya terkait ekonomi, sosial dan lingkungan hidup dalam sebuah konferensi di Vatican. Ini link pidatonya: https://www.youtube.com/watch?v=sTfTabMRRpw . Paus Francis dikenal selalu memberi perhatian khusus pada moralitas sistem ekonomi masa kini yang membuat orang kaya makin kaya dan meningkatnya kemiskinan, serta memburuknya kepedulian manusia terhadap lingkungan hidup yang menghantui masa depan bumi, terutama mengenai global warming. Dalam hal ekonomi, Bernie Sanders berencana pasang badan untuk menjatuhkan penguasa Wall Street yang menurutnya sudah kelewat batas menikmati sistem ekonomi yang berpihak pada keuntungan mereka, dan dalam isyu global warming dia akan menekan pengusaha bahan bakar alam dan menumbuhkembangkan penciptaan dan penggunaan energi yang bebas polusi dan ramah lingkungan. Kesamaan visi ini membuat Bernie tanpa banyak pertimbangan menyempatkan diri untuk memenuhi undangan Sang Paus, meski di saat yang hampir bersamaan jadwal debat dan pemilu primary di New York yang sangat penting sedang menantinya di tanah air.

Meski sangat mengagumi Paus Francis, Bernie Sanders sejatinya adalah seorang Yahudi yang secara definisi tidak mempercayai Yesus atau Nabi Isa sebagai seorang Al-Masih, sebuah doktrin utama dalam ajaran Kristiani. Kenyataannya, toh hal ini tidak menghalangi keduanya untuk saling menghargai satu sama lain. Konon, diberitakan bahwa Bernie dalam kesehariannya tidaklah terlalu taat beragama. Informasi ini bisa saya analogikan begini: mungkin kalau dia beragama Islam di Indonesia, Bernie adalah sosok “Islam KTP”, yaitu orang Islam yang tidak menjalankan sholat lima waktu, sholat Jumat hanya kadang-kadang, tapi rajin sholat Ied dua kali setahun karena disitu ada perayaan agama. Apakah ini salah? Secara agama pasti salah. Namun secara kemanusiaan, derajat kedekatan seseorang kepada Tuhannya adalah hak asasi individual.

Lahir di Brooklyn, New York, 8 September 1941, saat ini dirinya masih menjabat sebagai Senator dari Vermont. Pernah juga menjabat sebagai Walikota Burlington di Vermont, Bernie sejatinya adalah simpatisan baru bagi Partai Demokrat. Sejak tahun 1979 hingga 2015 Bernie tercatat sebagai politikus Independent atau tidak berafiliasi dengan Partai Republik maupun Demokrat. Hal ini kerap menjadi serangan dari para pesaingnya, namun tampaknya tak jadi masalah dalam pencalonan dirinya sebagai kandidat Presiden dari Partai Demokrat, meskipun tetap menjadi sandungan kala harus bersaing di lokasi pemilu yang memakai konsep Closed Primary, dimana para pemilih independent tidak bisa ikut serta dalam pemilu. Bernie biasanya kalah disitu.

Saya sebetulnya tidak terlalu tertarik pada detail perjalanan karir politik Bernie Sanders, hanya saja dalam semua debat Calon Presiden yang saya lihat, saya mendapat gambaran bahwa apa yang dia perjuangkan sejak awal kiprah politiknya hingga kini selalu konsisten dan berjalan di posisi yang – menurut hemat saya meski saya akui agak bias – benar.

PhotoGrid_1463382021735Salah satunya adalah keputusan Amerika untuk menyerang Iraq di tahun 2003, dimana saat itu Bernie Sanders melakukan voting menentang serangan itu, namun Hillary Clinton melakukan voting sebaliknya. Ini link salah satu debat mereka: https://www.youtube.com/watch?v=OWVvOajToE4 . Bernie khawatir bahwa perang di Iraq, kalaupun ternyata berhasil menundukkan Saddam Hussein yang menguasai Iraq secara tirani saat itu, dalam perkembangannya akan memunculkan fraksi-fraksi militan baru akibat kekosongan kekuasaan dan meningkatnya pengangguran akibat buruknya ekonomi pasca perang, yang pada masa kedepannya justru sulit dikendalikan oleh Amerika. Maka, makin berkibarlah para ekstimis militer seperti ISIS hingga sekarang. Alih-alih merubah Iraq menjadi negara demokrasi seperti yang diinginkan, Amerika justru memperburuk situasi. Dan jika Amerika masih tetap ingin memimpin serangan terhadap ISIS, maka resmilah campur tangan Amerika di wilayah Iraq yang hampir tiada henti sejak Perang Iran-Iraq tahun 1980-1988 hingga serangan pada Iraq oleh Amerika beserta aliansinya di 2003-2011. Sejarah singkatnya simak link Al Jazeera ini: https://www.youtube.com/watch?v=0BVVW2clM1o .

Dalam setiap kesempatan kampanye, debat maupun wawancara dalam kapasitasnya sebagai Calon Presiden Amerika Serikat, posisi Bernie Sanders dalam menangani masalah terorisme di Timur Tengah ini adalah menyerahkan serangan militer kepada  negara-negara Islam. Ini salah satu link wawancara Bernie dengan PBS: https://www.youtube.com/watch?v=waKJHhDGgwM . Amerika, Rusia dan negara-negara Eropa harus mendukung serangan tersebut, namun bukan sebagai penyerang utama. Terorisme di Timur Tengah menurut Bernie adalah masalah bagi umat Islam, dimana ajaran Islam disalahgunakan hingga muncul berbagai tindak kekerasan yang mengatasnamakan agama Islam. Maka, negara-negara Islam di wilayah Timur Tengah sendirilah yang berkepentingan memusnahkan para ekstrimis ini dan menempatkan Islam pada sudut pandang yang benar. Wawasan ini pernah diserukan oleh Raja Abdullah dari Jordania, dan Bernie Sanders sangat mendukungnya. Menurut Bernie, negara-negara Timur Tengah yang kaya itu harus bersatu dalam memerangi para ekstrimis ini. Amerika tidak bisa senantiasa jadi “Polisi” bagi dunia. Bagi Bernie, budget untuk militer bisa dikurangi untuk pembangunan sosial ekonomi dalam negri Amerika.

Diluar Timur Tengah, nasib umat Islam sebagai warga negara di Amerika sendiri masih jauh dari sempurna. Islamophobia masih merajalela sejak terjadinya aksi teroris WTC di New York tahun 2001, hingga meluasnya terorisme ISIS dan meluapnya pengungsi Siria yang sampai ke Amerika beberapa tahun terakhir ini. Umat Islam – sebagaimana kaum minoritas lainnya seperti para imigran, warga kulit hitam dan komunitas LGBT – masih menjadi sasaran empuk rasisme dan pelecehan di berbagai wilayah di Amerika, baik oleh warga sipil maupun pihak kepolisian. Bernie Sanders berniat mengakhiri tindakan-tindakan tidak manusiawi ini. Kemanusiaan dan persamaan derajat sangat dijunjung tinggi oleh Bernie.

PhotoGrid_1463358034666Salah satu buktinya, simaklah video ini, versi tanpa edit: https://www.youtube.com/watch?v=urnFap_MRJA . Alkisah, dalam sebuah kampanye di George Mason University tanggal 28 Oktober 2015, seorang mahasiswi Muslim bertanya kepada Bernie tentang Islamophobia dan apa yang akan dilakukannya jika terpilih menjadi Presiden nanti. Sang Mahasiswi yang berhijab ini melempar pertanyaan dengan kobaran amarah yang menggebu kala mencurahkan perasaan atas retorika para Calon Presiden seperti Donald Trump dan lainnya, yang menyudutkan serta merendahkan warga Islam Amerika. Bernie seketika menunjukkan gesture yang simpatik. Dia berjalan menghampiri Mahasiswi itu yang berdiri di pinggir panggung, menggandeng tangannya, mengajaknya berjalan ke tengah panggung, lalu berdiri bersamanya di podium orasi. Bernie kemudian menjawab pertanyaan itu pada level personal dengan menceritakan bahwa dirinya adalah seorang Yahudi yang keluarganya pernah menjadi korban kebencian rasial oleh Nazi, maka dia tidak akan membiarkan keburukan serupa terjadi di Amerika. Mengakhiri jawaban tak hanya dengan janji persamaan hak asasi, Bernie juga menunjukkan simpati bagai seorang ayah kepada anaknya. Bernie memeluk Sang Mahasiswi sebagai simbol yang menenangkan, bahwa apa yang diserukan orang-orang picik macam Donald Trump tak akan dibiarkan terjadi bersamanya. Versi video yang lebih pendek dengan pilihan ilustrasi musik yang menggugah ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=NqfIrU79Wf4 .

Di sepanjang pengamatan saya tentang kampanye, debat maupun interview yang dilakukan Bernie selama masa pencalonan dirinya sebagai Presiden Amerika Serikat, bagi saya karakter seorang Bernie Sanders tak hanya memuaskan sisi logika saja.  Selain kenyataan bahwa retorikanya selalu benar dalam hampir semua topik bahasan dengan mengedepankan sisi kemanusiaan dan keadilan, namun lebih dari itu Bernie Sanders berhasil menunjukkan gesture yang membuktikan ketulusannya. Disini, Bernie berhasil menyentuh sisi hati, baik bagi saya pribadi maupun bagi para pendukungnya. Maka sayapun tak punya pilihan selain mempercayakan pencapaian perdamaian dunia di pundaknya. Semoga Tuhan memberi jalan dan rahmat-Nya untuk keadilan, kemanusiaan serta perdamaian dunia. Dan mungkin, Bernie Sanders adalah salah satu jawabannya. Insyaa Allah.

 

***  T  A  M  A  T  ***

FOR PALESTINE WITH LOVE: Sekilas tentang Zionism, Antisemite, Islamophobia dan KTT LB OKI 2016

PhotoGrid_1457398099347Konferensi Tingkat Tinggi Luar Biasa (KTT LB) dari negara-negara angota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) baru saja selesai dilaksanakan di Jakarta pada tanggal 6-7 Maret 2016 yang lalu. Konferensi yang ditujukan khusus untuk membantu tercapainya kemerdekaan Palestina dari penjajahan Israel dan dukungan atas status pembagian kota Jerusalem – yang diakui oleh kedua pihak berselisih sebagai ibukota masing-masing negara – ini diberi tajuk “United For A Just Solution”. Tema tesebut bisa dimaknai sebagai seruan bagi semua anggota OKI untuk bersatu membantu Palestina, karena seperti halnya sila ketiga Pancasila yang menyatukan semua suku di Indonesia, konon negara-negara OKI pun butuh “dipersatukan” dan selalu diingatkan untuk tetap bersatu. Sejarah telah membuktikan itu.

Pak Jokowi dalam pidato penutupan KTT LB OKI 2016 tersebut menyerukan salah satunya boikot atas produk Israel yang diproduksi di tanah pendudukan. Apa ini maksudnya? Di tataran kita warga negara kelas menengah yang bersosialisasi di perkotaan dan melek teknologi, bisa jadi kita berasumsi bahwa boikot ini akan berpengaruh pada produk-produk yang dihasilkan oleh orang-orang Yahudi. Satrbucks dan Facebook – di Indonesia khususnya – sangat terkenal identik dengan Yahudi. Tapi apakah itu yang dimaksud dengan produk Israel? Apakah Yahudi adalah sama dengan Israel? Jawaban singkatnya: TIDAK.

Israel adalah negara, Yahudi adalah Agama. As simple as that. Meski kedengarannya sederhana, namun kenyataan dalam memaknainya jauh lebih rumit. Saya akan coba menjelaskannya sesingkat mungkin.

 

ZIONISM

Israel sebagai negara berdaulat memproklamirkan kemerdekaannya dari pendudukan Inggris pada tahun 1948, namun bukannya tanpa masalah. Untuk memahami masalahnya, kita harus mundur lagi hingga akhir abad ke-19, dimana seorang Yahudi bernama Theodor Herzl menulis buku di tahun 1896 yang membeberkan visinya tentang berdirinya sebuah negara tempat semua orang Yahudi yang tersebar di seluruh dunia berkumpul kembali. Konon, umat Yahudi sejak masa Nabi Musa hingga kini selalu hidup dalam “pengungsian”. Kisah-kisah dalam kitab Taurat, Injil dan Al-Qur’an bisa menjelaskan mengapa dan bagaimana nya.

Visi baru ini mendapat sambutan dari kaum Yahudi. Gerakan nasionalis dari visi ini kemudian dikenal dengan nama Zionism, yang mana pada awal abad ke-20 menjadikan nyata impian mereka dengan sebuah konferensi yang memutuskan bahwa lokasi paling ideal dari negara Yahudi baru ini adalah wilayah Palestina, yaitu tanah bersejarah Judea dan Samaria dari masa kejayaan dua kerajaan Yahudi di masa lalu. Masalahnya adalah, Palestina telah sejak lama dari generasi ke generasi dihuni oleh penduduk yang mayoritas Arab – baik Islam maupun Kristiani – yang keberatan dengan masuknya orang-orang Yahudi ke wilayah mereka. Adalah Inggris yang pada waktu itu menduduki wilayah Palestina, yang mengijinkan masuknya orang Yahudi dari berbagai belahan dunia. Puncaknya terjadi pada masa Perang Dunia Kedua, dimana Hitler melakukan pembunuhan massal kaum Yahudi. Maka, orang Yahudi dari berbagai belahan Eropa pun datang membanjiri Palestina.

Rakyat Palestina pun berontak. Perang demi perang terjadi antara penduduk asli Arab dengan pendatang Yahudi. Tidak sendiri, Palestina dibantu oleh negara-negara tetangga Arab lainnya, diantaranya Mesir, Yordania, Turki, Libanon dan Siria. Namun sejarah menulis, tidak bersatunya para penguasa negara-negara Arab mengakibatkan kekalahan di pihak Palestina. Maka, tahun 1948 yang oleh warga Israel diperingati sebagai hari kemerdekaan, bagi warga Palestina diperingati sebagai “al-Nakba” atau masa sengsara, dimana mereka harus mengungsi sebagai akibat dari kekalahan perang yang diderita. Sejak hari itu hingga hari ini, sejarah mencatat banyak perang, banyak korban, banyak negosiasi damai, namun tak satupun kemerdekaan hakiki bagi Palestina. Israel bagai penjajah abadi di mata warga Palestina.

Screenshot_2016-02-24-21-26-56Mereka berselisih karena perebutan tanah, berebut wilayah untuk hidup. Saat ini pemerintah Israel menguasai hampir semua wilayah Palestina kecuali Jalur Gaza dan beberapa wilayah di Tepi Barat sungai Jordan (West Bank). Mungkin sekarang hanya kota Ramalla, Bethlehem, Hebron, dan beberapa kota besar lain yang menjadi pusat kehidupan warga Arab Palestina di Tepi Barat. Tadinya Tepi Barat secara keseluruhan adalah milik Palestina, namun kini sebagian wilayahnya ditempati oleh warga Israel melalui fasilitas rumah murah yang dibangun oleh pemerintah. Biasanya pemukiman dibangun diatas tanah kosong, namun tak jarang pemerintah menggusur paksa pemukiman berpenghuni maupun ladang sumber penghasilan warga Palestina. Hal ini jelas-jelas menyalahi ketentuan Mahkamah Kriminal Internasional (International Criminal Court atau ICC) yang melarang pemindahan warga negara ke wilayah negara jajahan. Pemukiman yang sudah ditempati tak kurang dari lima ratus ribu orang inilah yang sekarang menjadi penghalang utama terciptanya wacana “solusi dua negara” (two-state solution), dimana Palestina dan Israel berdiri sejajar sebagai negara berdaulat meski menduduki wilayah yang saling silang. Hampir semua negara mengutuk perbuatan Israel ini. Hampir, kecuali Amerika sebagai sekutu Israel.

Sebagai rakyat terjajah, warga Palestina hanya bisa meregang derita dibawah penjajahan Israel di masa modern sekarang ini, yaitu masa dimana kolonialisme sudah lenyap dan apartheit sudah punah. Tapi itulah Israel, sebuah wujud nyata dari gerakan Zionisme, yang pada perkembangannya memberlakukan tindakan bak kolonialisme dan apartheit sekaligus di Palestina.

 

ANTISEMITE AND ISLAMOPHOBIA

Yang perlu kita garis bawahi disini adalah, bahwa perang antara Israel dan Palestina bukanlah perang antar agama. Bukan perang antara Yahudi melawan Islam. Tidak semua umat Yahudi tinggal di Israel. Tidak semua umat Yahudi mendukung gerakan Zionisme. Konon umat Yahudi Ortodox di berbagai belahan dunia sangat menentang Zionisme. Bahkan mereka yang tinggal di Israel sekalipun menolak wajib militer yang diharuskan bagi mereka. Pemerintah Israel bukanlah perwakilan umat Yahudi. Pemerintah Israel tidak berhak memposisikan diri sebagaimana Vatikan bertindak sebagai pemimpin umat Katolik di seluruh dunia. Agama Yahudi – serupa dengan Islam – tidak mengenal pusat kekuasaan atas agama.

Intinya adalah, kita tidak boleh membenci umat Yahudi. Gerakan membenci orang Yahudi – hanya karena mereka beragama Yahudi – disebut dengan Antisemite, sebuah istilah yang berawal di Jerman pada abad ke-19. Yahudi di negara manapun adalah kaum minoritas, termasuk di Eropa dan Amerika dimana kaum Muslim juga bernasib sama. Sebagai minoritas, sejarah mencatat bahwa penerimaan dari warga mayoritas yang berbeda budaya dan agama seringkali tidak sempurna dengan berbagai alasan. Bagi umat Muslim, terorisme yang banyak dilakukan atas nama Islam menumbuhkan resistensi orang terhadap pemeluknya, atau disebut dengan istilah Islamophobia.

cartoon fatah x hamas617Di Palestina, Antisemite dan Islamophobia menjadi isu penting dan dijadikan alasan Israel untuk membentengi diri dengan militerisasi berlebih. Tembok setinggi tak kurang dari delapan meterpun dibangun untuk memisahkan penduduk pemukiman Israel di Tepi Barat dari warga Arab Palestina yang dipandang sebagai Antisemite. Tembok bak apartheit ini dilengkapi dengan check points militer yang melarang warga Palestina melewatinya tanpa ijin khusus yang susah didapat. Check points ini tersebar di berbagai wilayah, bahkan seringkali menghambat warga Muslim Jerusalem yang ingin beribadah di Masjidil Aqsa. Semua ini dilakukan atas nama keamanan, dimana pihak Israel beralasan melindungi diri dari serangan bom bunuh diri yang pernah dilakukan warga Palestina, tanpa memandang lebih jauh bahwa alasan serangan itu tak lain dan tak bukan adalah akibat dari penindasan berkepanjangan.

Islamophobia pun disuburkan dengan memandang Hamas sebagai teroris. Di Palestina terdapat dua partai besar dengan karakter berbeda yang sebenarnya memperjuangkan hal serupa yaitu kemerdekaan bangsanya. Fatah menguasai Tepi Barat, sedangkan Hamas menguasai Jalur Gaza. Fatah lebih moderat dengan perjuangan diplomasinya di kancah internasional, sedangkan Hamas lebih radikal dengan perlawanan militer. Hamas adalah partai oposisi resmi yang sukses memenangkan pemilu di wilayah Gaza. Meski Hamas bukan kelompok militan semacam ISIS dan Al Qaeda yang menginginkan terciptanya negara Islam, propaganda Israel justru memberi label teroris kepada Hamas sebagai pembenaran atas aksi militernya memblokade Jalur Gaza dari darat, laut dan udara. Blokade ini bahkan membatasi suplai listrik dan air, serta keluar masuknya barang kebutuhan pokok bagi warga Gaza. PBB pun sampai menjuluki Gaza sebagai “penjara terbuka”, namun tak sanggup berbuat apa-apa untuk menghentikannya.

 

FAITH AND HOPE

PhotoGrid_1457512166463KTT LB OKI 2016 ingin membantu Palestina menghentikan itu semua. Israel harus dihentikan. Tapi bagaimana? Sementara ini, berdasarkan Deklarasi Jakarta hasil konferensi kemarin, kita mendapatkan kesan adanya persatuan dari seluruh negara anggota OKI dalam posisinya mendukung Palestina merdeka menjadi negara yang diakui keberadaannya. Kita juga melihat niat kuat memboikot produk Israel yang diproduksi dari wilayah pendudukan, desakan kepada PBB untuk menghentikan tindakan ilegal Israel, melindungi situs-situs penting semua agama di Jerusalem, dan berbagai tindakan politik lainnya. Akankah terlaksana? Jikapun terlaksana, apakah akan terjadi di masa hidup kita? Sudah hampir 70 tahun konflik ini berlangsung, mau berapa lama lagi?

Pada akhirnya, adalah Ketuhanan yang menyatukan semua agama, adalah Kemanusiaan yang menjadi ajaran untuk perdamaian dunia, adalah Persatuan yang mencipta cita-cita jadi nyata, adalah Musyawarah yang memberi jalan pada  solusi tanpa kekerasan, dan adalah Keadilan yang harus selalu ditegakkan melalui hukum yang berlaku. Ya, saya mengutipnya dari Pancasila, kenapa tidak jika memang menjadi jawaban dalam penyelesaian konflik berkepanjangan di Palestina. Antara keyakinan dan harapan yang kadang tak sejalan demi melihat kondisi yang ada, kita hanya bisa berdoa semoga Tuhan mencipta damai untuk semua umat manusia. Amin.

 

 

Surat Buat Anakku Tentang Jokowi

Screenshot_2014-10-21-13-01-33 - Copy

Jakarta, 20 Oktober 2014

Dear Mas Pram…

Presiden Indonesia ke-7 dilantik hari ini. Papah tadi pagi turun ke jalan bersama ribuan warga Jakarta – disaksikan jutaan rakyat Indonesia lainnya lewat televisi – bersemangat menyambut kehadiran pasangan presiden baru yang diarak menaiki Kereta Kencana dari Bundaran HI sampai Monas. Terik maksimal matahari ibukota yang membakar kulit Papah hingga terasa perihnya malam ini, tak Papah acuhkan sepanjang siang tadi. Papah dan semua yang ada disitu rela terpanggang perlahan demi menyambut hari baru untuk negara tercinta ini.

Ya, anakku. Hari baru. Harapan baru. Hidup baru.

Screenshot_2014-10-16-13-20-13 - CopyPresiden baru kita ini bernama Pak Joko Widodo. Beliau didampingi oleh Pak Jusuf Kalla sebagai wakilnya. Kita sebut saja presiden baru ini dengan panggilan akrab beliau, yaitu Pak Jokowi. Kamupun yang sekarang masih berusia enam tahun, mengenal dengan baik nama dan wajah beliau setiap kali muncul di televisi. Konon sejak masa kampanye pemilu presiden yang lalu, hampir tak ada seorangpun di Indonesia – dari balita sampai manula – yang tak kenal lagu Salam Dua Jari dari Slank. Kamupun dengan lantang dan riang menyanyikannya berulang kali setiap hari, “Salam dua jari, jangan lupa pilih Jokowi!”

Mas Pram, Papah ingin suatu hari kelak kamu mengerti apa yang Papah rasakan saat ini. Tahun ini adalah tahun dimana Pak Jokowi muncul dan bersinar, sangat terang hingga merubah hati dan pikiran banyak orang, termasuk Papah. Tahun dimana Papah mendapatkan banyak pembelajaran kenegaraan tentang setidaknya tiga hal, yaitu politik, konsep kerakyatan dan persatuan. Ironisnya – sebagaimana hidup akan mengajarimu dengan sendirinya – pembelajaran itu justru muncul dari kondisi buruk, bukan kondisi ideal. Tak ada yang ideal terjadi di negri ini atas ketiga hal tadi. Disinilah Pak Jokowi hadir menawarkan perubahan, sebuah angin segar diantara kotornya politik dan hilangnya kepercayaan rakyat pada kekuasaan. Papah bahkan sempat menulis beberapa pengalaman pribadi dan analisa politik seputar pemilu presiden beberapa bulan lalu, yang bertendensi dukungan kepada Pak Jokowi, idola baru Papah, yang pertama dan satu-satunya di dunia politik.

Ya, sekagum itulah Papah kepada Pak Jokowi. Profil kehidupan beliau bisa kamu Google kalau mau. Banyak hal bisa diambil suri tauladannya dari sejarah hidup beliau yang terlahir dari keluarga miskin, bekerja keras hingga jadi pengusaha sukses, dan akhirnya memilih mengabdikan diri untuk rakyat dengan menjadi pejabat. Beliau tidak menjadi pejabat untuk mencari kekuasaan agar dilayani rakyat. Buktinya? Sederhana saja. Beliau tidak korupsi selama jadi Walikota Solo dan Gubernur Jakarta. Konon – Mas Pram anakku sayang tolong camkan ini – korupsi adalah hidangan haram terlezat yang keenakan disantap oleh banyak pejabat. Dan atas nama korupsi jualah semua kekacauan terjadi di negri ini. Kekuasaan menjadi pejabat seringkali justru disalahgunakan untuk melindungi perilaku korupsi. Politik menjadi ajang meraup harta berlimpah, rakyat diperas atas pajak yang alirannya tak jelas, atas kekayaan bangsa yang dijual entah untuk kemakmuran siapa. Pak Jokowi tidak melakukan itu. Kebenaran sejati memang hanya diketahui oleh Yang Maha Tahu, tapi Papah memilih untuk percaya sama Pak Jokowi.

Ibaratnya, kalau korupsi adalah wabah penyakit yang harus segera disembuhkan, maka Pak Jokowi adalah dokter harapan kita. Beliau tak hanya steril dari korupsi, beliau bahkan berjanji memberantasnya. Dan sebagai masyarakat beragama sesuai sila pertama Pancasila, yang mempercayai bahwa sejatinya semua penyakit dan kesembuhan datangnya dari Yang Maha Mencipta, maka Mas Pram, jangan berhenti berdoa. Itu juga yang bisa Papah lakukan untuk membantu Pak Jokowi, agar beliau dimudahkan dan dikuatkan dalam segala keputusan yang diambilnya, demi kemakmuran seluruh rakyat Indonesia.

PhotoGrid_1413794402991Mas Pram, Papah melihat Pak Jokowi itu seperti kiriman Tuhan buat Indonesia. Beliau bukan nabi, bukan manusia suci, dan kita tidak boleh memuja dan menempatkan beliau lebih tinggi dari manusia biasa. Tapi kenyataannya, kita semua membebankan harapan yang sangat berat kepada beliau. Kalau Tuhan tidak sengaja menempatkan beliau menjadi Presiden Indonesia sekarang, maka beliau tak akan diambil sumpah kepresidenannya hari ini. Kalau semua skenario hidup ditentukan manusia sendiri, tentunya Pak Jokowi akan tetap pada pendirian awalnya menolak tawaran jadi presiden. Tuhan berkehendak, maka Tuhan memberi jalan. Pernyataan yang klise memang, tapi Papah melihatnya begitu, meskipun proses bersedianya beliau menjadi presiden masih menyisakan kontroversi. Ada yang menuduh beliau hanyalah boneka segelintir penguasa, antek kepentingan asing, sampai penganut aliran Islam yang sesat. Papah tak percaya itu semua, dan beliaupun menyangkalnya. Pun kenyataannya, tak bisa dipungkiri bahwa sebagian besar rakyat Indonesia mencintainya, mempercayainya. Ya, sebagian saja, karena sebagian lainnya sibuk mencela dan menghalangi jalan beliau, sejak dulu, sekarang dan hingga nanti. Itu pasti.

Pasti? — Ya, pasti. Karena Al-Qur’an menyebutkannya.

Al-Qur’an memprediksi tentang Pak Jokowi? — Tidak, tentu saja.

Lantas? – Konon tidak ada kisah satu nabipun yang kepemimpinannya mulus tanpa penghalang.

Papah yakin semua agama menceritakan kisah serupa, bahwa Tuhan – meski tahu manusia menghendaki kebaikan dan memberi jalan untuk pencapaiannya – akan selalu memberi cobaan. Seorang Rasul yang dimuliakan oleh-Nya pun tidak dibiarkan mencapai kemakmuran tanpa penderitaan. Dari Nabi Ibrahim yang harus mengorbankan anaknya, Nabi Musa yang menentang kepemimpinan Firaun, Nabi Isa yang dikhianati muridnya, sampai Nabi Muhammad yang menghadapi kaum Quraisy. Sekali lagi, anakku, Pak Jokowi itu bukan nabi. Tapi Indonesia saat ini butuh perubahan radikal menuju keadilan dan kemakmuran yang lebih baik dan merata. Mungkin Tuhan sedang memberi jalan buat Indonesia untuk berubah, maka dimulailah dengan menempatkan Pak Jokowi sebagai pemimpin negara. Dan sebagai penghalangnya, diciptalah kemenangan demi kemenangan di pihak oposisi, khususnya di arena legislatif, dari pembentukan koalisi politik di Parlemen, revisi UU MD3, hingga yang terakhir dihapusnya Pilkada. Persatuan Indonesiapun mau tidak mau terpecah – meski tidak secara ekstrim karena semua pihak mengklaim tindakan mereka sebagai pro rakyat. Pihak manakah yang benar? Sejauh ini Papah masih percaya kebenaran ada di pihak Pak Jokowi.

Screenshot_2014-10-24-01-10-56 - CopyMas Pram, dalam pidato pelantikan presiden tadi pagi, Pak Jokowi menyeru kepada seluruh rakyat Indonesia untuk “Bekerja! Bekerja! Dan bekerja!” Ya, sampai tiga kali beliau melantangkan himbauannya itu. Ini pasti penting karena beliau sangat tekankan. Beliau percaya bahwa tak ada perubahan yang akan tercapai kalau kita semua tidak bekerja. Maka, anakku, bekerjalah, berusahalah dengan giat mencapai cita-citamu. Malas bukan pilihan, mengeluh tolong jauhkan, dan mencela jangan lakukan! Meski saat kamu dewasa nanti mungkin Pak Jokowi sudah tidak menjabat sebagai presiden lagi, etos kerja beliau perlu kamu contoh. Dalam pidatonya itu, dengan penuh semangat Pak Jokowi mengajak seluruh rakyat Indonesia untuk bergotong royong, saling bahu membahu membangun bangsa, karena “Kita tidak pernah betul-betul merdeka tanpa kerja keras!” Begitu beliau menegaskan.

Bekerja adalah hakekatnya kemerdekaan, bukan hanya menikmati kebebasan, apalagi terbuai kenyamanan. Berkreasilah sebebasmu, anakku, tapi pastikan hasilnya positif dan bermanfaat. Disitulah letak bijaksanamu kelak, tanggung jawabmu pada diri sendiri dan lingkungan, yaitu menjauhi aktivitas  yang negatif dan tiada guna.

Satu hal lagi Mas Pram, kamu harus tumbuh menjadi manusia yang peduli sama negaramu. Dan itu tak mungkin terjadi kalau kita selalu mengesampingkan dunia politik. Itulah yang akhirnya Papah lakukan setelah sekian lama mengacuhkan politik. Papah tidak golput saat pemilu presiden, dan bahkan – untuk pertama kalinya seumur hidup – Papah menyuarakan pilihan. Ini langkah besar buat Papah yang selama ini selalu sembunyi. Bersuara itu melegakan. Meringankan beban dan memperluas wawasan di waktu bersamaan. Sangat menyenangkan. Dan ternyata Papah tidak sendiri. Banyak, sangat banyak, masyarakat yang tadinya sembunyi dan bahkan golput, memilih untuk muncul dan bersuara. Kemunculan mereka bisa untuk Pak Jokowi atau Pak Prabowo, kandidat pesaing. Tapi buat Papah pribadi, mungkin kalau kandidatnya bukan Pak Jokowi, Papah tidak akan mau berubah sedrastis ini.

Kamu tak harus menjadi pelaku politik, anakku. Jadilah apa yang kamu mau. Tapi jangan egois. Politik itu ada untuk kepentingan orang banyak, maka cermatilah dan lakukan sesuatu. Caranya? Sebagai warga negara yang baik, gunakan hak pilih dalam pemilu, jangan pernah golput. Kalaupun tak ada pilihan sempurna, maka pilihlah yang paling sedikit buruknya. Caranya lagi? Carilah informasi, gunakan akal sehat dan hati yang ikhlas. Insya Allah dengan niat baik, Tuhan akan memberi jalan menuju kebaikan untuk hidup kita di negri ini. Seperti itulah yang dialami Papah saat dihadapkan pada sosok Pak Jokowi sebagai pilihan calon presiden.

Screenshot_2014-10-21-10-50-36 - CopyApakah akan berhasil nantinya? Tentu saja Papah tak bisa melihat masa depan. Tak ada yang tahu. Pak Jokowi bisa saja nantinya berubah menjadi sosok yang dibenci. Biarlah itu masalah nanti. Tuhan adalah Maha Pembolak Balik Hati, apapun bisa terjadi. Tapi Papah tetap ingin memanfaatkan momen penuh eforia ini untuk berbagi rasa denganmu, anak Papah tercinta, dengan harapan suatu hari kelak sosok Pak Jokowi ini bisa menginspirasi.

Dengan penuh cinta,

Papah.

PicsArt_1413654318239 - Copy

 

MESIN PENYUKSES CAPRES: Analisa Sederhana Pilpres 2014

Seminggu telah berlalu sejak Pemilu Presiden 9 Juli 2014, namun kondisi politik Indonesia masih terus bergejolak, tak kalah panas dengan masa kampanye selama sebulan sebelumnya. Berawal dari deklarasi kemenangan oleh kedua kubu Capres, saat-saat pencoblosan yang damai di pagi hari seketika buyar menjadi keresahan massal yang tak kunjung padam hingga hari ini. Tak berhenti sampai disitu, berbagai kejadian baru, terkait manuver politik dan kondisi sosial, terus bermunculan mewarnai – atau justru memperkeruh – suasana demokrasi negri ini. Tak bisa dielakkan, lini masa di berbagai jejaring sosial masih menjadi ajang perang opini atas apa yang terjadi meski hari pemilu telah berlalu.

Pemilu Presiden Republik Indonesia kali ini dibarengi dengan banyak drama. Dan adalah pilihan bagi kita sebagai warga negara yang baik, untuk memutuskan bagaimana menyikapinya secara bijaksana.

IMG_24023800748045

Tadinya saya kira tugas saya sebagai relawan jurkam sosmed dadakan untuk Jokowi-JK sudah selesai saat Pilpres berlangsung. Ternyata tidak. Tugas saya belum selesai. Tugas kita – penyeru salam dua jari – belum selesai. Jauh dari perkiraan saya bahwa quick count akan menampakkan dua pemenang. Tapi itulah yang terjadi. Dan meskipun kemenangan Jokowi-JK didukung oleh lebih banyak lembaga survey, hal itu tak lantas memastikan mulusnya jalan menuju kemenangan pada tanggal 22 Juni 2014 nanti saat hasil real count diumumkan oleh KPU. Banyak kejadian bisa diatur di balik layar selama periode dua minggu ini yang tak terjangkau oleh tangan kita rakyat biasa sebagai relawan diluar lapangan dalam mengawal suara hasil pemilu. Kejadian yang mungkin mencoreng buruk perjalanan demokrasi negri ini. Kejadian yang pada ujungnya hanyalah Tuhan yang tahu. Dan untuk itu teman-teman, sembari menjaga hati dari prasangka buruk yang bisa memecah persatuan bangsa kita selama periode menunggu ini, tugas baru kita sekarang adalah berdoa. Semoga negara kita selalu aman dan damai, serta mendapat perlindungan dan petunjuk ke arah kebaikan dari Tuhan Yang Maha Menentukan. Amin.

Namun kalau boleh jujur, selama seminggu belakangan ini hati saya jauh dari tenang.

 

DEKLARASI KEMENANGAN

Meskipun saya berpihak pada Jokowi-JK, namun di hari pencoblosan itu saya tetap terkejut dan mempertanyakan, apakah deklarasi kemenangan oleh kubu Jokowi-JK di Taman Proklamasi pada sore itu tidak terlalu cepat? Belum selesai saya mencerna berita tersebut, terdengar lagi berita bahwa kubu Prabowopun melakukan hal yang sama, yaitu melakukan deklarasi kemenangan dan menghelat syukuran kemenangan di Gedung Bidakara. Saya akhirnya menyimpulkan bahwa tak satupun dari kedua kubu Capres ini yang mau terlihat kalah – setidaknya selama tenggang tunggu dua minggu – sabelum benar-benar ketok palu oleh KPU tanggal 22 Juli nanti.

PhotoGrid_1404914862145

Deklarasi kemenangan seharusnya wajar dilakukan saat sudah ada informasi quick count dari berbagai lembaga survey. Pak SBY pun melakukannya pada saat beliau menang quick count sebagai Capres lima tahun lalu. Bedanya, sekarang ini Capresnya hanya dua dan elektabilkitasnya nyaris seimbang. Kalaupun ada kubu yang kalah tapi tidak mau terlihat kalah, itupun secara kasat mata masih berada dalam taraf kewajaran, karena tak ada yang berani meng-klaim hal itu sebagai kemustahilan. Nah, disinilah mesin penyukses Capres akan dijalankan secara maksimal. Tenggang tunggu dua minggu ini adalah masa penentuan hidup atau mati bagi Capres, dan gagal atau berprestasi bagi kinerja tim sukses. Disinilah letak deklarasi kemenangan ini berfungsi, karena ini adalah pintunya. Kalau deklarasi tidak dilakukan, maka persepsi publik bahwa Capres tersebut punya potensi menang tak akan terbentuk.

 

QUICK COUNT

Kalau orang bilang, menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan, maka kita semua patut berterimakasih kepada Ilmu Statistika. Hanya selang sedikit jam saja dari berakhirnya proses pencoblosan di semua TPS seantero nusantara, para lembaga survey bisa segera mengumumkan hasil akhir karya ilmiahnya melalui berbagai stasiun televisi rekanan mereka. Ya, bagi yang belum tahu, quick count adalah sebuah karya ilmiah. Ilmu Statistika dipergunakan disini untuk kemaslahatan seluruh umat manusia Indonesia, dalam hal ini manfaat informasi cepat.

Karya ilmiah ini didasarkan pada pengambilan sample dengan sebaran merata di seluruh negri. Konon makin banyak samplenya makin mendekati kenyataan hasilnya. Tapi bagaimanapun juga, ada celah kecil yang bisa dijadikan argumen besar, bahwa secara kodratnya ilmu perkiraan bukanlah sebuah kepastian. Tak ada yang bisa dan berani melawan takdir dengan memberi 100% keyakinan bahwa quick count adalah cerminan mutlak dari kenyataan, meski margin of error hanya 1%, meski yang melakukan perhitungan adalah lembaga super kredibel. Inilah yang dijadikan argumen kubu yang kalah, bahwa quick count tidak bisa dijadikan dasar kemenangan, bahwa kita masih harus melewati dua minggu yang melelahkan untuk mendapat hasil akhir yang benar-benar benar.

Secara pribadi maupun mewakili lembaga, para ilmuwanpun angkat bicara, karena mereka merasa dicela dan tidak dipercaya. Ilmu adalah jati diri, dan kredibilitas adalah harga diri. Keduanya harus selalu dijaga. Dan sekarang adalah saatnya untuk mempertaruhkan segalanya dengan mengatasnamakan keresahan masyarakat atas informasi yang berbeda. Dua belas lembaga survey, delapan memenangkan Jokowi-JK, empat memenangkan Prabowo-Hatta. Siapa yang benar, siapa yang salah? Siapa yang jujur, siapa yang bohong? Seperti halnya para Capres, tak ada satupun yang mau mengaku salah dan kalah. Sebetulnya, dipandang dari rekam jejak, para lembaga survey yang memenangkan Jokowi-JK dinilai lebih kredibel dibanding lembaga survey yang memenangkan Prabowo-Hatta. Namun sekali lagi, seperti halnya Capres, rekam jejak saja tak lantas memuluskan jalan untuk diakui sebagai pihak yang benar dan menang.

quick-count-pilpres

Perang antar lembaga surveypun dimulai, dan auditpun dilakukan. Bahkan lembaga survey Puskaptis – salah satu yang memenangkan Prabowo-Hatta dan muncul tiba-tiba sebagai rekanan quick count TVOne menggantikan Poltracking yang memenangkan Jokowi-JK – secara terang-terangan menantang semua lembaga survey dengan bersesumbar bahwa siapapun yang terbukti nanti hasilnya berbeda dengan KPU, harus berani membubarkan diri. Meski hal ini lantang dikumandang, pada kenyataannya Puskaptis sendiri menolak diaudit oleh asosiasi lembaga survey Persepi sebelum adanya keputusan KPU di tanggal 22 Juli nanti. Sebuah lembaga survey lainnya bernama JSI yang hasil quick count nya memenangkan Prabowo-Hatta, juga tidak hadir saat dilakukan audit. Persepipun pada akhirnya mengeluarkan kedua  lembaga itu dari keanggotaan asosiasi.

Apakah drama ini merupakan bagian dari bekerjanya mesin penyukses Capres untuk membangun opini publik tentang tingginya keyakinan menang Pemilu, khususnya di kubu Prabowo-Hatta? Saya rasa begitu. Kehadiran empat lembaga survey baru saat menjelang pemilu di TVOne, serta kredibilitas mereka yang kurang diakui, menurut saya terlalu kasat mata untuk diacuhkan.

 

REAL COUNT

Kalau kita mau lepas dari rasa bosan menunggu hasil Pilpres kali ini, cobalah ikuti berita disana-sini, bisa di koran, internet atau tivi. Kalaupun sebagian dari kita tak suka dengan intrik politiknya, maka kita bisa mengambil sisi edukasinya dari kasus-kasus yang ada. Niscaya, kita akan tahu bagaimana tahapan Pemilu yang dilakukan oleh KPU.

Real count saat ini sedang berjalan, yang mana adalah sistem hitung nyata. Selain KPU, beberapa Partai besar memiliki tim khusus dalam mesin penyukses Capres mereka yang melakukan real count ini sebagai bahan bukti untuk mendukung perhitungan jumlah suara dalam rangka mengawal suara rakyat. Informasi yang saya tahu hingga saat ini, dari kubu Jokowi-JK partai PDIP dan Nasdem melakukan real count secara kontinyu. Sedangkan di kubu Prabowo-Hatta, partai PKS juga melakukan hitung nyata ini namun sekarang dihentikan pelaporannya, dengan alasan menghormati fatwa KPI [Komisi Penyiaran Indonesia] yang melarang stasiun televisi menyiarkan hasil quick count dan real count dari sumber manapun kecuali dari KPU di tangal 22 Juli nanti. Apakah ini bisa diartikan bahwa kubu Jokowi-JK lebih percaya diri untuk menang, sedangkan kubu Prabowo-Hatta takut menginformasikan kekalahan? Atau ada cara lain melihat kondisi ini? Guna melepas rasa bosan menunggu keputusan, mungkin hal ini layak dipikirkan.

Bagi KPU, real count adalah dasar untuk mengumumkan pemenang resmi dari pemilu presiden nantinya. KPU melakukannya dengan cara mengumpulkan semua hasil rekap suara dari tiap TPS di seluruh Indonesia beserta barang bukti berupa surat suara riilnya. Karena negri kita ini teramat luas, maka tak heran KPU butuh waktu dua minggu untuk menyelesaikan seluruh proses perhitungan yang bertahap ini, dari tingkat terkecil di TPS Daerah hingga KPU Pusat. Disinilah utamanya mesin penyukses Capres bekerja.

Politik uang adalah aplikasi dasar yang langsung menyentuh substansi kebutuhan manusia. Manusia ingin harta. Tinggal input saja digit rupiahnya, maka outputnya akan terlihat pada perhitungan suara. Begitu teorinya. Kenyataannya?  Terjadi kericuhan saat pemilu di Hong Kong, beberapa Formulir C1 yang digelar online di situs KPU dinilai janggal, beberapa TPS dinyatakan bermasalah hingga dilakukan Pemilu Ulang, dan bahkan di Madura ada beberapa TPS melaporkan perolehan suara 100% untuk Prabowo-Hatta yang menurut beberapa pengamat politik dinilai tidak wajar. Itu beberapa diantara banyak kasus lainnya. Meski tak ada info resmi yang menyatakan bahwa kasus-kasus tersebut adalah hasil dari politik uang, toh tak ada pula info resmi sebaliknya. Jadi saya rasa kita sah-sah saja mengasumsikan adanya keterkaitan.

Pertanyaannya adalah, siapakah yang melakukan politik uang ini? Mungkinkah ini dilakukan oleh kubu yang lebih sering dirugikan? Dari berbagai berita yang beredar mengenai temuan kecurangan, kubu Jokowi-JK lebih banyak menderita kerugian. Meski demikian, pastinya masing-masing kubu tak mungkin mengaku, masing-masing menuduh kubu lawan, dan masing-masing menyeru hal yang kurang lebih sama, “Mari kita jaga suara Pemilu, karena Suara Rakyat adalah Suara Tuhan.” Berarti, salah satu dari kedua kubu Capres adalah pembohong. Atau kalaupun keduanya melakukan kebohongan, salah satunya pasti berbohong lebih besar demi memenangkan Pemilu. Bukankah sama bohongnya? Iya, sama. Hanya saja kalau saya boleh berdoa untuk kebaikan Indonesia – diantara ketidaktahuan saya atas apa yang sejatinya terjadi – semoga yang bohongnya jauh lebih besar tidak dimenangkan. Amin.

 

MEDIA

Media adalah sarana paling efektif dalam membentuk opini publik.  Belakangan ini KPI [Komisi Penyiaran Indonesia] telah melarang semua stasiun televisi menayangkan hasil perhitungan suara apapun bentuknya selain dari KPU, sedangkan Komisi Satu DPR RI berniat memanggil RRI yang dipersalahkan lantaran menyiarkan quick count secara live, karena dirasa hasilnya terkesan memihak kepada salah satu Capres yang dimenangkan.

Di sisi lain, televisi adalah alat terbesar dalam mesin penyukses Capres. Sudah menjadi rahasia umum bahwa MetroTV adalah kendaraan kampanye kubu Jokowi-JK, sedangkan TVOne dan jaringan MNC Group adalah milik Prabowo-Hatta. Di masa kampanyepun, tak lantas pihak KPI maupun Komisi Satu DPR RI memberi fatwa larangan tayang berita bagi televisi yang memihak. Semua bekerja maksimal menyuarakan berbagai bentuk kampanye, dari kampanye positif sampai negatif, dari yang putih sampai yang hitam.

Screenshot_2014-07-17-15-54-08 - Copy

Saya pribadi tidak sependapat dengan gagasan pembatasan gerak jurnalistik ini. Sederhananya, informasi harus disampaikan kepada masyarakat seterbuka mungkin, apalagi di saat Pemilu seperti ini. Keterbukaan informasi akan memudahkan masyarakat memantau perhitungan suara, dan bahkan inilah yang selalu dianjurkan oleh Capres kedua kubu. Kawal suara rakyat! Memang jadinya bak buah simalakama, dibiarkan bebas rakyat bisa resah, dipasung rakyat terbutakan. Disinilah pembelajaran masyarakat tentang politik praktis diperdalam. Bahkan kalau saya bilang, keseluruhan pesta demokrasi rakyat kali ini benar-benar sebuah proses belajar yang besar buat rakyat, termasuk saya. Rakyat harus mampu memilah informasi mana yang baik dan yang buruk, dan kemudian bagaimana menyikapinya secara cerdas dan bijaksana. Boleh menyuarakan pendapat, boleh membela kebenaran, tapi jangan fitnah karena dapat memecah belah persatuan bangsa. Itu kuncinya.

Kalau boleh saya berhipotesa, apakah upaya pembatasan gerak jurnalistik ini adalah bagian dari kinerja mesin penyukses Capres? Mungkin saja. Mungkin salah satu kubu Capres merasa terhambat usahanya dalam membentuk opini publik tentang kemenangan kubunya, sehingga dirasa perlu melumpuhkan kebebasan jurnalistik secara nasional agar menghambat pemberitaan pihak lawan. Kalau benar demikian, maka usaha ini meminta pengorbanan yang terlalu besar di sisi jurnalistik, hanya dengan bersembunyi dibalik tema keresahan masyarakat.

 

PALESTINA, UU MD3 DAN KOALISI PERMANEN

Sekali lagi, buat kita rakyat yang tak terlibat, kita hanya bisa larut dalam kebosanan – atau kegelisahan – menunggu waktu. Sementara itu, mesin penyukses Capres justru tak bosan-bosannya bekerja dengan menghalalkan segala cara.

Pesta demokrasi Indonesia kali ini dilakukan bersamaan waktunya dengan penderitaan saudara-saudara kita di belahan bumi lain, tepatnya Palestina. Perang di jalur Gaza seperti biasa selalu mengundang perhatian banyak pihak di dalam negri kita, terutama sebagai wujud solidaritas kaum muslim. Caprespun menggunakan momentum ini untuk bersuara lantang membela kaum tertindas. Kubu Jokowi-JK memberi pernyataan keprihatinan melalui rencana pertemuan dengan Duta Besar Palestina, serta janji sumbangan yang diambil dari saldo rekening kampanye Jokowi-JK milik rakyat, sebagai implementasi dari visi misi mereka mendukung kemerdekaan Palestina yang dicanangkan saat Debat Capres yang lalu. Di sisi lain, kubu Prabowo-Hatta menyampaikan keprihatinannya dihadapan ribuan massa aksi solidaritas untuk Palestina di Bundaran HI Jakarta yang diprakarsai oleh KNRP [Komite Nasional untuk Rakyat Palestina]. Diantara orasinya, Pak Prabowopun menjanjikan sumbangan dana 1 milyar Rupiah dari dana pribadinya sendiri.

Apakah ini lantas jadi ajang pencitraan? Bisa jadi. Yang pasti, kita boleh berharap bahwa sumbangan kedua pihak tak hanya diucap, tapi segera dilaksanakan. Pencitraan sebetulnya tak perlu, toh pemilu sudah usai. Tapi mungkin kedua Capres ingin mengambil simpati agar mendapat dukungan rakyat saat diumumkan menang jadi Presiden nantinya. Pertanyaannya, siapakah yang lebih butuh simpati dari rakyat? Silakan dipersepsi sendiri.

Screenshot_2014-07-17-14-56-35 - Copy

Tentunya pencitraan hanyalah secuil kecil dari pekerjaan mesin penyukses Capres. Efeknya tidak terlalu besar dibandingkan politik uang, misalnya. Sesuatu yang lebih besar justru muncul dari sisi badan legislatif. Tepat sehari sebelum hari pencoblosan, malam hari pula, Dewan Perwakilan Rakyat RI bersepakat mengesahkan Revisi Undang Undang MPR, DPR, DPRD dan DPD [UU MD3]. Salah satu yang menimbulkan kontroversi dari revisi ini adalah adanya pasal yang bersifat melindungi anggota DPR dari panggilan penyidikan oleh pihak berwenang terkait tindak pidana, yaitu harus dengan ijin tertulis dari Mahkamah Kehormatan DPR [yang baru akan dibentuk] dan dalam tenggang waktu 30 hari. Banyak pihak berpendapat – termasuk Ketua KPK yang bertugas mengandangkan para koruptor negri ini – revisi UU MD3 ini menunjukkan sikap DPR yang tidak mendukung pemberantasan korupsi. Kesannya seperti membentengi diri sendiri dari jangkauan penegak hukum, termasuk memberi peluang cukup lama untuk menghilangkan barang bukti atau lari ke luar negri untuk menghindari investigasi.

Hal lain yang juga dirubah dan dinilai janggal adalah pemilihan Ketua DPR yang tidak lagi otomatis diangkat dari wakil partai pemenang Pemilu, padahal partai pemenang pemilu adalah hasil pilihan langsung oleh rakyat. Selain itu ada juga beberapa hal lain seperti penghapusan keterwakilan perempuan, tidak wajib lapor pengelolaan anggaran keuangan, dan beberapa lainnya. Meski penetapan ini diputuskan resmi oleh DPR RI pada malam itu, konon tidak semua fraksi menyetujuinya. Fraksi PDIP, PKB dan Hanura menyuarakan penolakan dan akhirnya melakukan walk out. Apakah ini termasuk dalam kinerja mesin penyukses Capres, padahal ini tentang DPR? Meski tidak terkait secara langsung dalam pemenangan Capres, namun dalam perkembangannya ternyata terkait juga, yaitu pembentukan Koalisi Permanen.

Pada hari Senin, 14 Juli 2014, bertempat di Tugu Proklamasi, kubu Capres Prabowo-Hatta mendeklarasikan terbentuknya Koalisi Permanen yang beranggotakan para partai yang selama ini tergabung dalam Koalisi Merah Putih pendukung pasangan Capres tersebut, yaitu Gerindra, Golkar, PAN, PKS, PPP, dan PBB. Sederhananya, ini adalah deklarasi unjuk kekuasaan. Keterkaitannya nanti di lembaga legislatif DPR RI adalah, jika Prabowo-Hatta menang Pilpres, maka koalisi ini akan selalu mempermudah semua proyek yang dijalankan oleh Presiden. Tapi jika nanti Jokowi-JK yang menjabat Presiden, gimana? Akankah koalisi ini akan menghambat jalannya pemerintahan Jokowi-JK? Naga-naganya sih demikian.

Disinilah mesin penyukses Capres di kubu Prabowo-Hatta bekerja, yaitu tak hanya untuk memenangkan Capres, tapi juga membangunkan jalan sukses saat berkuasa nantinya, meskipun belum ada keputusan resmi terkait kemenangan. Disini juga opini publik dibangun bahwa Prabowo-Hatta yakin menang dan akan menang. Meskipun seringkali kedua kubu Capres menyarankan rakyat Indonesia untuk menunggu dengan tenang hasil akhir dari KPU tanggal 22 Juli nanti, pembentukan Koalisi Permanen ini justru tidak menyiratkan ketenangan. Perumpamannya, ini seperti membangun rumah diatas tanah yang belum resmi dibeli. Kalau nggak terbeli nantinya, bisa jadi rumah ini akan digugat atau dibongkar oleh si pemilik tanah.

 

GRAND DESIGN

Pada hari Jumat, 11 Juli 2014, Bapak Prabowo Subianto mendapat kesempatan diwawancara oleh Babita Sharma dari BBC News. Link Youtube-nya disini: http://youtu.be/NvJ25vwt9lo Dalam wawancara dengan stasiun berita Inggris itu, Pak Prabowo memulai dengan tenang menyatakan bahwa semua real count yang sudah masuk menunjukkan kemenangan baginya, sehingga beliau merasa telah memperoleh mandat dari rakyat Indonesia. Namun tak lama setelahnya, saat penyiar menyebut nama beberapa lembaga survey yang kredibel di Indonesia telah memenangkan Capres Jokowi-JK, beliau langsung menuduh bahwa semua lembaga survey itu adalah partisan dari tim kampanye Jokowi-JK. Beliau bahkan menambahkan, mereka semua perusahaan komersial, dan bila perlu beliau bisa tunjukkan 16 lembaga survey lain yang memenangkan dirinya. Ini semua adalah sebuah Grand Design untuk memanipulasi persepsi publik, ujar beliau. Transkrip selengkapnya wawancara tersebut ada di link ini: http://m.kompasiana.com/post/read/663974/3/transkrip-wawancara-prabowo-dengan-bbc-news.html

PhotoGrid_1405582738548Bisa ditebak, dialog selanjutnya akan berisi hujatan kepada pihak lawan dan pembelaan pada diri sendiri. Dan memang itulah yang terjadi selama sekitar sepuluh menit kedepan dalam wawancara itu, lengkap dengan emosi Pak Prabowo yang berapi-api disana-sini. Bahkan beliau sempat membuat pernyataan bahwa julukan Pemimpin Merakyat yang melekat pada Pak Jokowi itu sejatinya palsu, hanya rekayasa semata demi pencitraan. Sangat disayangkan memang, kesempatan didengar oleh dunia luar justru dipergunakan untuk mengobarkan permusuhan. Mungkin sikap ini sengaja dilakukan, atau bahkan mungkin disarankan oleh tim penasihat beliau, karena konon kabarnya seorang konsultan politik asal Amerika bernama Rob Allyn – yang pernah menjadi bagian dari tim konsultan George W. Bush – dimasukkan dalam jajaran tim penasihat politik Prabowo-Hatta.

Meminjam istilah Pak Prabowo bahwa ada yang namanya Grand Design untuk memanipulasi opini publik dalam usaha memenangkan sebuah kompetisi pemilu, maka tulisan saya ini adalah analisa pribadi untuk menjawab sebuah hipotesa: siapakah yang memiliki Grand Design dalam mesin penyukses Capresnya, yang bekerja super hebat dengan berbagai manuver politiknya, sejak sebelum hingga sesudah hari pencoblosan sampai hari ini? Untuk saya, analisa saya sejak awal tulisan sampai berakhir disini telah menjawabnya. Untuk anda, silakan dipersepsi sendiri.

Tulisan politik saya kali ini berhenti sampai disini. Analisa ini adalah hasil pembelajaran saya yang tadinya sangat buta dan kurang peduli politik. Saya senang punya kemauan untuk menganalisa suasana politik, karena sedikit banyak yang saya rasakan adalah bertambahnya rasa cinta pada negri ini. Salah atau benar itu adalah bahan diskusi bagi yang mau mendalami. Tapi setidaknya saya sudah memulai. Anda punya analisa sendiri? Mari kita menulis.

 

 

Swing Voters, This Jazzy R&B Song REVOLUSI MENTAL Is For You!

Jika anda menggemari lagu HAPPY milik Pharrell Williams yang merupakan lagu resmi International Day of Happiness 2014 dari PBB, maka anda akan menyukai juga lagu REVOLUSI MENTAL karya anak bangsa ini. Simak disini: http://youtu.be/0QOU0Xjdkt4  Ini lagu asli, bukan jiplakan! Digagas oleh JFlow dan Barry Likumahuwa, lagu ini merupakan salah satu dari sangat banyak bukti dukungan hebat dari para pekerja Industri Kreatif yang dijanjikan dukungan penuh oleh JOKOWI-JK agar mendunia jika mereka memegang ujung tombak pemerintahan Indonesia nantinya.

PhotoGrid_1404399013165

Anda dan saya mungkin berada pada kelompok demografi yang sama di negri ini, yaitu kalangan ekonomi menengah, berpendidikan tinggi, usia produktif, dan tinggal di kota besar. Orang-orang macam kita biasanya melek teknologi dan informasi, menghargai seni, dan menyukai intelektualitas. Dan kalau kita sudah merasa diri sebagai orang baik, hidup sudah teratur, bayar pajak dan tidak menyusahkan orang lain, biasanya kita lalu menghindari konflik dan cuek terhadap apa yang terjadi di luar kepentingan kita sendiri. Ujungnya, kita cuek dengan politik. Kita menyerah pada kondisi yang ada karena merasa tak mampu melakukan perubahan. Dan tak jarang, kita menjadi golput dalam setiap ajang pemilu. Nah, jika anda merasa begitu, maka lagu ini ditujukan untuk kita. Untuk anda dan saya.

DEBAT CAWAPRES

Alkisah, saya mengikuti Debat Cawapres di tivi. Saya tadinya termasuk swing voter, tapi saat debat itu terjadi, saya sudah menetapkan pilihan kepada Jokowi-JK. Saya tentunya memberi perhatian lebih kepada Pak JK – jagoan saya – yang menurut saya sudah menuangkan dengan baik visi misi kubu nomer dua di bidang Iptek dan Pendidikan. Namun keesokan harinya saya browsing Youtube dan menemukan Dialog Debat Cawapres di laman Berita Satu, ini linknya: http://youtu.be/cSdF6vIJnUQ Seorang Ibu Direktur Eksekutif dari PERLUDEM [Perkumpulan Pemilu Dan Demokrasi] mengungkapkan temuannya bahwa terlihat di arena sosmed banyak orang memuji penampilan Pak Hatta.

Kesan intelektual Pak Hatta sangat terlihat, baik dari gestur tubuhnya, sistematika penyampaiannya, hingga susunan kalimatnya. Dan ini sangat menarik perhatian para swing voters di kelompok demografi kita, hingga mereka yang tadinya sudah condong memilih Jokowi-JK mulai berpikir untuk pindah ke kubu nomer satu. Begitu kata Ibu itu. Wah, ini bahaya, pikir saya. Mereka para swing voters ini harus disadarkan bahwa bukan keahlian berorasinya yang perlu dipertimbangkan, namun yang jauh lebih penting adalah esensi dari visi misi Jokowi-JK ini yang harus bisa dilihat dan dimengerti oleh mereka. Namun tak lama kemudian, betapa bahagianya saya saat menemukan lagu Revolusi Mental ini di Youtube. Inilah jawabannya! Ya musiknya, ya liriknya!

PhotoGrid_1404496228841

REVOLUSI MENTAL

Apa itu Revolusi Mental yang selalu didengung-dengungkan oleh Jokowi-JK? Silakan simak disini http://youtu.be/cpmqFBBCiRo dan disini http://youtu.be/1Mx7Z-3lqlA maka anda akan tahu bahwa lagu ini – secara lirik dan visual – mengambil intisari dari konsep tersebut. Terbalut dalam jenis urban music yang modern dengan kandungan Jazz dan R&B, sepanjang pengetahuan saya lagu ini adalah karya kampanye yang sangat tidak mainstream, namun sangat cerdas! Tanpa harus menyebut nama Jokowi-JK, semua orang Indonesia juga tahu bahwa “two fingers in the air” adalah sama tangguhnya dengan “salam dua jari” untuk mendukung Jokowi. Menurut saya, lagu ini sangat berdaya jual [meski not for sale] dan bernuansa internasional. Saya yakin para muda di negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia, pasti sedang iri mendengar lagu ini, melihat pesta demokrasi super kreatif yang sedang dialami negri ini. Mari kita simak liriknya.

Siapa bilang kaum muda tak peduli

Siapa bilang suaramu tak berarti

Kini saatnya kita bersatu

Masa depan ada di tanganmu

Indonesia mari tersenyum menyambut masa depan

Dan inilah kesempatan

Membawa pembaruan

[Bagian pertama lagu ini menyarankan kita untuk tidak golput. Ingat, banyak orang di kelompok demografi kita cuek terhadap politik, merasa bahwa satu suara tak bisa mengubah keadaan. Well, my friend, not this time!]

Stand up and get down to the beat

We light it up, show what you feelin

Two fingers in the air

Stand up for what you believed in

Revolution

[Bagian reffrain menekankan untuk tak hanya memilih, tapi juga mendukung. Tunjukkan pilihan, acungkan dua jari, dan mari kita lakukan revolusi!]

Stop! Cut to the chase, down to the base, urgency is the case

We gotta stop this whole confusion

Time for some mental revolution

We young but we’re not stupid

Havin’ fun but we gonna prove it

Two fingers from side to side

Time to stand on the right side

[Bagian kedua dinyanyikan dalam format rap. JFlow mengajak kaum muda untuk merapatkan barisan, tunjukkan kita bisa, kita tidak bodoh, acungkan dua jari, kita tuntut perubahan melalui Revolusi Mental.]

Sekaranglah waktunya kita bersuara

Untuk Indonesiaku tercinta, Indonesia pusaka

Mata, hati, telinga kita, jiwa, raga dan rasa kita

Tumpah ruah seluruh rasa syukur, pekik “Merdeka!”

[Bagian bridge ini dibawakan oleh Ivan Saba, mengajak kita menyuarakan aspirasi kita untuk Indonesia dengan semangat juang dan pekik Merdeka!]

Nah, para swing voters, bagaimana pendapat anda? Masih juga galau dengan pilihan anda? Masih belum yakin pada Jokowi-JK dengan dukungan kreatif yang semakin hari semakin membahana? Atau measih ragu dengan Revolusi Mental? Asal tahu saja, di kubu nomer satu – kalaupun visi misinya sama indahnya dengan milik Jokowi-JK – tidak ada visi pendidikan moral yang ground-breaking sedahsyat Revolusi Mental. Jika kita benar-benar percaya, dan benar-benar mau menjalankannya, merubah diri kita, bersuara dan berkarya, maka tak lama lagi akan kita lihat perubahan hakiki di negri ini!

Salam dua jari!!

Merdeka!!

 

 

KAMPANYE KREATIF: Untuk JOKOWI Sepenuh Hati

Baru empat hari saya mengumumkan keberpihakan saya pada Capres-Cawapres JOKOWI-JK dalam tulisan di blog WordPress, rasanya adalah empat hari yang melegakan. What a relieve! Tak  pernah saya duga sebelumnya bahwa menyuarakan pilihan politik bisa senyaman ini.

IMG_305081396238898

Pada awalnya memang rada-rada canggung, baik di dunia maya – facebook, path, twitter – maupun di rumah, apalagi di kantor. Seperti punya aib yang diketahui umum, saya cangung menghadapi beberapa interaksi dengan rekan yang beda dukungan. Tapi tak lama kemudian dukunganpun datang, terutama dari rekan seperjuangan dimanapun berada. “Salam Dua Jari” adalah kata kunci yang menyatukan semua pendukung Jokowi, di seluruh Indonesia, di seluruh dunia, di arena maya maupun nyata. Sayapun jadi bersemangat untuk selalu menyuarakan rasa percaya saya pada Jokowi-JK.

Saya bukanlah juru kampanye, apalagi masuk jajaran tim sukses. Saya hanyalah simpatisan yang berani bilang jatuh hati sama Jokowi, dan relawan yang rela nyumbang waktu dan tulisan, tak beda dengan jutaan rakyat Indonesia lainnya yang mendukung Jokowi dengan caranya sendiri-sendiri. Oleh karena itu, saya masih sangat berhati-hati dengan opini-opini saya. Postingan status atau tautan laman via facebook dan path saya lakukan dengan banyak pertimbangan. Pada intinya adalah Kampanye Positif, yang ternyata tidak mudah juga implementasinya. Butuh sabar dan hati-hati. Saya hindari kesan terlalu mengkultuskan Jokowi, dan saya usahakan [sebisa mungkin] tidak menyebut atau membandingkan suatu hal dengan kubu Capres lain, atau kalaupun musti membandingkan saya harus menjaga kesan adil dan obyektif. Tidak mudah,tapi harus. Berbuat baik memang selalu disertai usaha.

IMG_302316972079430Termasuk dalam usaha tersebut, saya harus kreatif. Kreatifnya bisa dari diri saya sendiri saat menyampaikan opini, atau dari kreasi orang lain di dunia maya yang bisa saya lampirkan. Dan ternyata, menemukan kreatifitas yang segar untuk bahan kampanye Jokowi saat berlayar di dunia maya tidaklah sulit. Banyak banget! Saya jadi merasa seperti terseret dalam arus deras uforia rakyat yang mendukung Jokowi-JK. Derapnya sangat hebat! Saya sangat senang! Saya adalah bagian dari sebuah gerakan perubahan di tanah air ini! Saya tak pernah sangka sebelumnya, karena setau saya kalau kita mau berjuang untuk perubahan di negara yang sudah merdeka, caranya adalah ikutan demo dimana-mana, sedangkan usia saya tak lagi muda. Jaman sudah berubah, Bro! Dari depan laptop dan genggaman hape saja, saya sudah bisa merasa ikut berjuang! Berjuang untuk pembaruan Indonesia, berjuang untuk persatuan Indonesia! Saya bangga bisa begini!

Dan ini semua tidak mungkin terjadi jika tak ada Jokowi, yang menyuarakan revolusi, yang saya dukung dari hati.

 

REVOLUSI MENTAL

Tampaknya – mungkin bahkan tanpa disadari sebelumnya oleh Jokowi sendiri saat menemukan gagasan ini – Revolusi Mental adalah sebuah jargon yang dipegang erat oleh rakyat. Dan bagi rakyat kreatif negeri ini, jargon yang singkat-padat-jelas ini bisa dipakai sebagai bahan baku dalam menggaungkan sebuah perjuangan. Apalagi didukung oleh pernyataan Jokowi saat debat Capres yang lantang mendukung penuh Industri Kreatif negri ini. Seperti diguyur air di kala haus, para pelaku ‘kreatif praktis’ sontak berkarya cepat untuk memberi dukungan. Dukungan yang kreatif, dukungan yang harmonis, cinta damai, cinta perbedaan, cinta persatuan, cinta Jokowi, cinta Indonesia. Dan semua itu datangnya dari hati. Tak ada pencitraan, tak ada paksaan. Semua suka rela memberi dan memberi, lagi dan lagi, hanya untuk Jokowi dan harapan “Indonesia lebih baik” yang dinanti.

PhotoGrid_1404282678323Saya disini tidak akan mengupas isi dari Revolusi Mental ini. Saya hanya akan menyorotinya dari sisi komunikasi kreatifnya kepada masyarakat. Setidaknya ada tiga video narasi menarik yang bisa saya temukan, yang berusaha menjelaskan dengan seringan mungkin untuk sesuatu yang sehebat Revolusi Mental ini. Dan ini berhasil! Mengunakan visualisasi animasi dari tangan seorang kartunis, esensi dari Revolusi Mental ini bisa tergambar dengan jelas. Mungkin justru jauh lebih jelas daripada pemaparan singkat oleh Jokowi-JK saat debat di tivi. Dan di saat berkembang banyak pendapat negatif muncul dari pihak-pihak yang sinis dengan revolusi ini, beberapa video di Youtube ini dapat jadi referensi agar kita lebih mengerti:

  1. Revolusi Mental Jokowi (Final): http://youtu.be/cpmqFBBCiRo
  2. Revolusi Mental: “Menghadirkan Negara yang Bekerja”: http://youtu.be/1Mx7Z-3lqlA
  3. Revolusi Mental The Movie (Keluarga Kopi): http://youtu.be/_KOPF0t5bT4

Screenshot_2014-06-30-22-58-05Tak berhenti disitu, beberapa musisipun tak tinggal diam mengapresiasi hadirnya Revolusi Mental ini. Tak kurang dari kelompok musik yang paling dicintai rakyat Indonesia, yaitu SLANK, berkolaborasi dengan beberapa musisi lainnya, ikut menyuarakan revolusi ini melalui lagu. Tak pelak lagi, jargon baru “Salam Dua Jari” yang ada di lagu itu langsung menjadi kata sandi nasional yang dipakai oleh semua pendukung Jokowi. Lagu-lagu lainpun bermunculan dalam berbagai aliran, dari pop, dangdut, rock, sampai jazzy r&b pun ada untuk menggaungkannya. Ada beberapa video yang menarik perhatian saya:

  1. Slank Dkk: Salam 2 Jari – Komunitas Revolusi Harmoni: http://youtu.be/N9H8IWxZMu4
  2. Marzuki Muhammad: http://youtu.be/yaVRHHZ-Ojw
  3. Jflow, Dira Sugandi, dkk: http://youtu.be/0QOU0Xjdkt4

PhotoGrid_1404275745203Tak mau ketinggalan, para insan pembuat film juga turut berkontribusi. Adalah seorang Edward Suhadi, pemilik rumah produksi foto dan video atas namanya sendiri, yang membuat kompilasi video-video singkat bertajuk “60 Detik Buat Kamu Yang Masih Bingung”. Silakan simak laman Youtube-nya. Disana ada beberapa pekerja seni dan public figure yang mengungkap pendapat mereka tentang alasan mendukung Jokowi, hanya dalam durasi video semenit. Simaklah. Dan dalam kesederhanaan akan anda temui, ungkapan hati mereka yang mencintai Jokowi.

Tanpa sengaja, semua kreatifitas ini adalah bagian dari Revolusi Mental. Rakyat sedang menginginkan perubahan, dan secara tidak sadar, kita sendiri sedang merubah pola pikir dan tindakan kita, untuk berani bicara, mengungkap isi hati yang kita percaya sebagai kebaikan, penuh manfaat, dilandasi perdamaian, untuk ditularkan kepada sesama manusia, di Indonesia, dan bahkan dunia pada saatnya.

Saya merasa sudah memulai revolusi ini pada diri saya sendiri. Anda ingin ikut serta? Silakan!

Capres 2014: Saya Memilih Dan Mendukung JOKOWI Untuk Indonesia

Adalah orasi Anies Baswedan di Youtube yang membuat saya angkat bicara disini. Judulnya: “Anies Baswedan’s Great Speech: Mengapa Jokowi?” Dan ini alamatnya: http://m.youtube.com/watch?v=r0iVrQXveOM Saya memilih Jokowi, dan untuk pertama kalinya seumur hidup, saya mempublikasikan dukungan politik saya.

keep-calm-and-vote-jokowi-jk-5

Pemilu kali ini memang jauh berbeda dari pemilu-pemilu sebelumnya. Maka tak heran kalau sayapun melakukan sebuah perubahan radikal terkait bagaimana saya menyikapi politik. Ini besar buat saya! Kalaupun memilih Jokowi bisa saya lakukan dalam hati, mendukungnya secara publik adalah hal baru yang bagi saya butuh waktu lama untuk memberanikan diri. Ini bukan saya, sejatinya. Tapi dalam hidup, kita terkadang harus berani membuat perubahan, berharap kebaikan akan datang menghampiri kita nantinya. Seperti halnya menikah, atau pindah rumah, atau pindah kerja, bagi saya menyuarakan pandangan politik butuh pertimbangan yang tidak sedikit.

Dalam tulisan saya di awal masa kampanye Pilpres 2014, yang mengungkapkan betapa buta saya terhadap politik hingga saya butuh untuk mulai mempelajari situasi politik demi memilih Presiden dengan informasi yang cukup, saya sudah merasa senang menjadi swing voter dan mendukung kampanye “anti golput”. Saya pikir waktu itu hanya sebatas itulah komunikasi politik yang berani saya sampaikan kepada publik. Namun kemudian hati saya meminta lebih. Seperti jatuh cinta yang selalu ingin dunia tahu “betapa besar cintaku padamu”, perkembangan kampanye Pilpres yang marak ini mendorong saya untuk berani memberi dukungan nyata. Dukungan ini memang buat Jokowi. Tapi karena beliau saya dukung sebagai pemimpin negri, maka saya bisa bilang bahwa dukungan saya ini adalah untuk Indonesia. Terlalu klise? Nggak juga. Namanya juga cinta. Saya jatuh cinta sama Jokowi, dan saya cinta negara saya Indonesia. Itu saja.

 

MENGAPA JOKOWI? MENGAPA SEKARANG?

PhotoGrid_1403972033841Terlambatkah saya? Pemilu tinggal hitungan jari lagi menghitung hari, sedangkan saya baru memutuskan untuk bersuara. Iya, agak terlambat. Tapi tak mengapa. Setidaknya saya berutang tulisan ini buat diri sendiri dan anak cucu saya nanti, untuk menjelaskan bahwa saya – atau ayahnya, atau eyangnya – ini dulu pernah mendukung Pak Jokowi, orang baik dan berprestasi milik Indonesia, apapun jadinya beliau nanti. Saya percaya kiprah beliau tak akan berhenti sampai disini. Mau di puncak atau di bawah, karakter beliau layak jadi panutan.

Terus terang, saat Pemilu Legislatif 2014 berlangsung, saya masih memandang sebelah mata pada iklan PDIP yang menjanjikan Jokowi sebagai Presiden. Saya pikir PDIP hanya mendompleng kepopuleran Jokowi untuk menang Pemilu. Dan saya juga merasa Jokowi ini belum saatnya jadi Presiden. Terlalu dini. Jadi Gubernur Jakarta aja belum kelar masa jabatannya. Presiden kan besar banget tanggung jawabnya. Begitulah jalannya logika saya waktu itu.

Tapi kemudian hari penobatan pasangan resmi Capres-Cawapres pun tiba. Jokowi adalah salah satu dari hanya dua kandidatnya. Mau tak mau saya harus memilih nantinya salah satu dari dua kandidat Capres yang saya tidak kenal baik orangnya. Maklum, saya buta politik. Buta banget! Maka mulailah saya meneliti karakter keduanya, mempelajari rekam jejaknya, mencari berita – baik fakta maupun fitnah – tentang mereka, sampai debat capres, tim sukses, serta visi misi masing-masing kubu. Lambat laun saya rasakan, hati dan otak saya cenderung memihak pada Jokowi.

Mengapa Jokowi? Satu yang utama adalah beliau mau bekerja. Ini kesan yang belum pernah saya dapat sebelumnya dari siapapun juga. Saya bukannya bilang bahwa Capres atau Presiden sebelum ini tidak mau bekerja, hanya saja dalam karakter Jokowi saya mendapat kesan bahwa orang ini dalam pencalonannya sebagai Presiden tidak semata memburu jabatan atau kekuasaan. Ini kesan ya, bisa jadi adalah hasil dari pencitraan, tapi saya memilih untuk tidak berprasangka negatif terhadap beliau, karena kebenaran sejati hanya beliau dan Tuhan yang tahu. Beliau tidak ingin berkuasa, beliau hanya ingin bekerja sesuai mandat yang diserahkan kepadanya untuk rakyat. Dan ini sudah terbukti sejak beliau menjabat Walikota Solo dan Gunernur Jakarta. Ini namanya amanah. Jabatan itu dipercayakan, bukan dicari sendiri.

Akibatnya, karena beliau ingin bekerja, maka visi misi yang dibuat oleh beliau cenderung aplikatif dan rinci. Saya suka ini! Saya jadi tahu, nantinya programnya Pak Jokowi ini apa saja dan penerapannya seperti apa. Dan saya jadi deg-deg-an sendiri sebagai antisipasinya, seperti tak sabar menunggu terjadinya. Apakah nanti akan terlaksana dan berhasil baik? Kita bisa mendiskusikannya, mendebatnya, mendukungnya, melaksanakannya, tapi sejatinya Tuhanlah yang menentukan, manusia hanya bisa berusaha dan berdoa. Tapi kalau jawabannya dikaitkan pada takdir Ilahi, berarti Capres lain juga punya kesempatan yang sama, dong! Benar sekali! Semua visi misi pasti baik, dan tujuannya pasti untuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Tapi diantara dua kandidat Capres ini, kita cuma bisa pilih salah satu, maka kita harus bertanya pada diri sendiri, Capres mana yang lebih kita percaya bisa mewujudkan visi misinya. Bagi saya, saya percaya sama Jokowi-JK.

 

KAMPANYE POSITIF

IMG-20140617-WA0005Kalau di tulisan saya sebelumnya ada ulasan tentang kampanye negatif dan kampanye hitam, maka dalam mendukung Jokowi ini saya akan mengedepankan kampanye positif, yaitu mengeksplorasi sebanyak mungkin keunggulan dan visi misi Capres-Cawapres Jokowi-JK. Inilah kelebihan visi misi yang aplikatif, yaitu membuka peluang untuk diteliti lebih rinci. Diskusinya nanti bisa dukungan bisa bantahan, tapi yang pasti semua yang menelitinya jadi makin pintar, karena mereka jadi belajar, karena gagasan itu membuka wawasan.

Visi Misi Capres di jaman teknologi informasi secanggih sekarang ini seharusnya gampang diakses dan dicari via internet. Saya berniat turut menyebarluaskan program-program unggulan dari Jokowi-JK agar lebih dikenal oleh khalayak ramai. Tentu saja bukan tulisan saya sendiri yang saya sebarluaskan. Saya cukup memberi sedikit opini saja atas berita atau tautan laman yang banyak tersebar di seantero internet, sebatas otak saya yang cuma lulusan sarjana ekonomi ini bisa mencernanya. Opini selanjutnya, terserah anda. Tentu saja, apapun topik yang disampaikan adalah bahan dasar untuk sebuah diskusi panjang. Dalam banyak hal, saya bukanlah orang yang ahli di bidangnya untuk menjawab pertanyaan seputar visi misi tersebut. Namun jika saya ditanya lebih lanjut, maka akan saya usahakan mencari jawabannya semampu saya mencarinya.

Dalam rangka dukungan ini, saya kemudian membuka page baru di Facebook, judulnya “Prima Santika On Indonesia HEBAT”, selain saya juga punya blog di wordpress untuk membantu penyebarannya. Mohon maaf kalau saya agak narsis dengan mencantumkan nama saya disitu, karena alkisah saya ini seorang penulis novel, yang mana saya butuh menjual nama saya untuk page satunya lagi yang membicarakan tentang buku saya itu, judul Facebooknya “Prima Santika On Jane Austen”. Jadi, ini hanya masalah konsistensi saja buat saya pribadi. Cita-cita saya dengan page baru ini adalah berbagi informasi seputar visi misi dan prestasi Jokowi-JK untuk kampanye kepresidenan beliau berdua, serta kedepannya Insya Allah saya ingin bisa berbagi opini atas apa yang terjadi di sekitar kita dalam rangka menuju cita-cita mulia, Indonesia HEBAT! Saya ingin berpartisipasi, dan untuk sementara ini baru itulah yang bisa saya lakukan.

Beberapa page Facebook dibawah ini bisa menjadi referensi untuk mengetahui informasi dan dukungan buat Jokowi-JK:

Joko Widodo: https://www.facebook.com/JKWofficial

Jokowi-JK: https://www.facebook.com/JokowiJK2014

Kenapa Jokowi: https://www.facebook.com/KenapaJokowi

Dan yang ini punya saya: https://www.facebook.com/primasantikaonindonesiahebat

Saya sudah memilih, bagaimana dengan anda? Ingin turut bersuara? Silakan saja! Masih swing voter, boleh juga, asal jangan Golput nantinya. Bagi sahabat dan kerabat yang kebetulan mendukung Capres yang sama, mari kita dukung kampanye Jokowi-JK dengan baik, positif, kreatif dan bermanfaat. Dan bagi sahabat dan kerabat yang mendukung Capres lain, mari kita sukseskan bersama Pilpres 2014 ini dengan niat tulus untuk tetap bersatu, karena yang jauh lebih penting dibanding dukungan apapun untuk Capres manapun, dan juga jauh lebih penting dari Indonesia HEBAT atau Indonesia BANGKIT, adalah sila ketiga dari Pancasila, yaitu PERSATUAN INDONESIA!

MERDEKA!!!

 

 

MENDADAK POLITIK: Saran Memilih Presiden Untuk Yang [Biasanya] Buta Politik

debat-capres-cawapres - Copy

Saya mendadak ngikutin berita politik!! Saya sendiri sampai terheran-heran!! Saat itu hari Kamis, 5 Juni 2014, sepulang kantor saya nggak ada kerjaan dan mulai buka-buka Youtube. Saya lihat yang lagi trending adalah awal kampanye pemilu Capres, saya buka satu berita. Kok menarik. Lalu saya tonton satu berita lagi, lalu satu dialog, lalu satu debat antar Tim Sukses, dan seterusnya sampai saya baru bisa tidur jam tiga pagi!! Resmilah sudah: saya hooked up!

Saya memang biasanya nggak suka politik. Konsekwensinya, kalau saya diolok ‘buta politik’ pun saya nggak keberatan. Menurut saya, kalaupun saya punya pendapat politik, saya nggak akan bisa merubah apapun untuk negara ini. Saya bukan orang besar yang suaranya didengar, bukan juga anggota partai. Yang akan ada hanyalah keberpihakan saya pada satu kubu atau pendapat tertentu, dan akan sakit hati kalau kepercayaan saya itu diserang, apalagi kalau terbukti salah. Tapi di sisi lain, saya tahu kewajiban saya sebagai warga negara yang baik. Sejak usia tujuh belas sampai memasuki dasawarsa keempat saat ini, saya selalu menggunakan hak pilih dengan baik dalam setiap pemilu.

Seiring dengan kegemaran baru saya mengikuti berita, debat, maupun diskusi tentang Capres tahun ini, saya jadi terdorong untuk nantinya bisa memilih sesuai keyakinan yang saya miliki dengan bekal gelas informasi yang penuh, bukan lagi gelas kosong seperti biasanya. Maka, mulailah saya membuka mata dan telinga, hati dan logika, untuk merasa dan menelaah, sebetulnya apa yang saya butuhkan dari pasangan Presiden dan Wakil Presiden dalam memimpin negri ini. Disinilah saya ingin berbagi pengalaman selama saya menjalani proses tersebut seminggu belakangan ini, serta saran bagi pembaca yang merasa senasib dan berkenan membaca tulisan ini.

 

RAKYAT: MENELITI UNTUK PEDULI

Secara pribadi, memilih Presiden adalah menimbang apa keuntungannya buat saya sendiri. Tapi kalau kita lihat jargon dari kedua Capres, mereka sama-sama bercita-cita mensejahterakan rakyat. Sayapun adalah bagian dari rakyat, saya pikir. Saya tidak akan hidup nyaman kalau rakyat kebanyakan tidak hidup nyaman juga. Alhasil, secara tidak sadar saya mulai meneliti rakyat. Meneliti ini menurut saya adalah bagian paling awal dari keseluruhan konsep peduli rakyat. Ya, saya ngaku aja bahwa baru sampai disinilah langkah saya dalam kepedulian sosial kerakyatan. Meskipun saya selalu menjaga kesopanan kepada siapapun, kaya miskin maupun setara, saya juga bayar pajak dan bayar zakat yang mana adalah bagian dari membantu rakyat juga, tapi saya sebelumnya tidak pernah meneliti rakyat. Saya merasa seperti orang tua yang hanya mencukupi kebutuhan anaknya dengan cara memberi uang jajan dan biaya sekolah tanpa memberi perhatian dan kasih sayang. Kali ini saya ingin memberi lebih, yaitu dengan cara memilih Capres yang menurut kesimpulan saya nanti di hari Pemilu 9 Juli 2014 bisa memberi kenyamanan bagi rakyat.

Rakyat adalah semua orang di Indonesia, yang secara ekonomi pengelompokannya adalah kaya, menengah dan miskin. Ini pengelompokan yang sederhana saja, karena saya nggak mau juga terlalu ribet, yang nantinya malah membuat saya sendiri pusing, lalu capek, lalu mandeg. Saya cari yang simple-simple saja. Orang kaya bisa saya teliti kebutuhannya lewat berita elit politik sampai gosip artis. Saya tidak bisa masuk langsung ke lingkungan mereka karena saya orang biasa, nggak beken, nggak juga kaya raya. Kalau orang golongan ekonomi menengah bisa saya lihat diantara lingkungan saya sendiri di rumah, di kantor atau di mall. Sedangkan orang miskin bisa saya teliti melalui berita dan juga melihat langsung. Berdialog langsung? Tentu tidak! Tapi kalau anda-anda para pembaca yang budiman mau berdialog langsung, ya silakan, itu jauh lebih baik. Karakter saya tidak seperti itu. Saya pasif. Yang saya lakukan cuma berada diantara mereka, memperhatikan lalu lalang mereka, lalu membayangkan bagaimana kehidupan mereka. Nggak susah sih, dan nggak harus disengaja mendatangi mereka. Cukup belanja aja di pasar tradisional, jumatan di masjid deket situ, lalu jajan di warung mie ayam.

Gimana kalau saya salah menilai? Ya nggak papa. Kan nggak ada yang bisa nge-judge saya, wong saya melakukan kontemplasi di dalam hati saya sendiri. Tapi setidaknya, berada diantara rakyat yang bekerja di tempat yang jauh dari nyaman akan mengasah sensitifitas hati dan pikiran, yang kedepannya akan mendasari saya dalam menyerap informasi dalam mencermati berita dan dialog tentang Pemilu Capres ini. Toh, pada akhirnya kedua Capres kita sama-sama punya tujuan mulia dalam visi dan misi mereka, yaitu meningkatkan kesejahteraan rakyat. Bagi saya, secara sederhana, yang disebut sejahtera adalah terciptanya nyaman dalam berkehidupan, baik di rumah maupun saat mencari nafkah. Dan yang paling tidak nyaman dalam hal ini adalah rakyat miskin. Dari situ saya mulai menimbang-nimbang, Capres mana yang mampu mencipta kenyamanan ini untuk semua.

 

CAMPAIGN: NEGATIVE OR BLACK?

Salah satu yang sudah “kelewat nyaman” di jaman sekarang adalah laju informasi dan kebebasan berpendapat. Fasilitasnya: social media. Tampaknya, inilah yang membedakan masa kampanye dalam Pemilu Capres kali ini dengan pemilu lima atau sepuluh tahun yang lalu. Positifnya, saya bisa mudah menelusuri berita-berita tentang kedua kubu Capres, baik dalam bentuk bacaan maupun visual. Hobi baru saya sekarang setiap hari adalah searching Youtube, mencari berita, dialog dan debat terbaru maupun yang lalu seputar Pemilu Capres. Dan yang saya dapat – sekali lagi positifnya – adalah pembelajaran tentang ilmu politik praktis buat diri saya sendiri. Salah satunya adalah perbedaan antara Negative Campaign dengan Black Campaign.

Singkatnya, Kampanye Negatif itu boleh dilaksanakan, caranya dengan menunjukkan kekurangan pihak lawan dengan fakta yang jelas dan bisa dipertanggungjawabkan. Sedangkan Kampanye Hitam itu tidak boleh dilakukan, karena sifatnya fitnah tanpa didukung fakta. Nah, inilah yang membuat semaraknya masa kampanye. Seringkali tidak ada perbedaan yang jelas antara kampanye negatif dengan hitam. Dan sekali suatu informasi – entah fakta entah fitnah – terlanjur menyebar ke masyarakat, maka mau tak mau kubu yang dirugikan harus rela sibuk menjelaskan, meluruskan, atau bahkan menangkis tuduhan yang diajukan. Disinilah kita dituntut bijaksana untuk membaca situasi. Yang bisa saya lakukan adalah reading between the lines, atau kira-kira maksudnya melihat yang tersirat diantara yang tersurat dan terlihat.

Foto4 - Copy - Copy

Meneliti berita, dialog dan debat terkadang sangat melelahkan, terutama debat antar Tim Sukses. Seringkali dari kedua kubu angkat bicara di waktu yang sama dengan berapi-api, hingga sulit menyimak mereka. Tapi bersabarlah, saudaraku. Orang sabar disayang Tuhan, kata pepatah. Tetaplah pasang mata dan telinga, hati dan logika, berharap pencerahan akan mengilhami anda. SARAN: buatlah variasi tontonan. Artinya, jangan tonton berita melulu, atau dialog melulu, apalagi debat melulu. Menurut saya itu tidak sehat. Buatlah variasi yang memungkinkan hati dan logika kita menyerap dan mempertimbangkan informasi dengan baik.

Saya kebetulan masih netral. Istilah politiknya, saya ini termasuk swing voters, yaitu para calon pemilih yang masih bisa kesana kemari, belum menetapkan dukungan. Namun demikian, saya tak memungkiri bahwa sesekali saya pernah juga lebih condong mendukung ke salah satu kubu. Beberapa kali berubah-ubah pula. Plin-plan, maksudnya? Mungkin. Tapi kan nggak ada yang tahu, wong itu hanya ada di pikiran saya sendiri. Lagi-lagi saya nggak takut salah dalam menganalisa. Belum tentu pendapat orang lain lebih benar, dan belum tentu juga yang fitnah itu salah. Kalau ditarik sampai dasarnya filsafat, maka ya hanya Tuhan yang tahu segala sesuatu. Itulah salah satu keuntungan dari sikap diam bagi saya, yaitu bisa mempertimbangkan dengan tenang, tanpa beban mempertahankan pendapat yang pernah diucap.

 

SOCIAL MEDIA: PERSATUAN INDONESIA

Kalau saya memilih diam, orang lain banyak yang memilih teriak. Dan tanpa harus menghabiskan pita suara, mereka melantangkan keberpihakan lewat media jejaring sosial. Tentu saja ini sangat-sangat sah di era kebebasan bicara seperti sekarang. Bahkan dalam sudut pandang tertentu, hal ini memperindah keberagaman warna di masa kampanye Capres. Saya yang masih netral, justru mencari perbedaan pendapat ini di berbagai sosmed. Beberapa dari mereka menyuguhkan pendapat dilengkapi dengan link ke situs berita, yang bagi saya sangat membantu dalam mengumpulkan informasi dari kedua kubu Capres.

Sayangnya, tidak semua orang bisa dan bersedia dengan ikhlas menyikapi perbedaan ini dengan positif. Beberapa membuatnya sebagai bahan pertengkaran karena berbeda kubu Capres, yang kemudian diakhiri dengan unfriend di sosmed. Beberapa lagi justru tidak pakai bertengkar – karena mungkin masih netral – tapi langsung unfriend secara sepihak dengan temannya yang suka ‘teriak’ di jejaring sosial. Ini sangat disayangkan. Ayolah saudaraku yang kebetulan membaca tulisan ini, kita kan sama-sama Warga Negara Indonesia. Mau nomer urut Satu atau Dua pilihan Capres kita, nomer Tiga dari Pancasila harus tetap kita jaga: Persatuan Indonesia.

 

MEMILIH PRESIDEN: JANGAN GOLPUT!!

Menutup tulisan ini, saya akan ikutan ‘teriak’ tentang satu hal: JANGAN GOLPUT!! Dalam banyak hal saya akan tetap saya, bungkamnya saya tentang politik mungkin tidak akan berubah. Tapi kalau saya boleh unjuk pendapat sebagai bagian atas suara kolektif dari 200 juta lebih penduduk Indonesia, maka saya akan mempergunakan kesempatan itu. Kapan lagi? Lima tahun lagi? Padahal dalam lima tahun kedepan – mungkin dibawah kepemimpinan Presiden pilihan saya – kehidupan kita semua sebagai rakyat Indonesia bisa jadi sudah lebih baik.

Bagaimana kalau Capres saya kalah? Ya hormati saja dengan ikhlas Presiden baru yang terpilih. Dan kalau ternyata kehidupan jadi lebih buruk justru disebabkan menangnya Capres yang kita pilih? Ya itu sudah takdir. Seperti kehidupan pada umumnya, dimanapun manusia berada, ya kita jalani saja hidup ini dengan ikhlas juga. Yang penting saya sudah berusaha maksimal dengan cara turut serta dalam menentukan nasib bangsa melalui Pemilu. Karena menurut kepercayaan saya, kondisi apapun tidak akan berubah menjadi lebih baik kalau tidak disertai usaha terhadapnya. Masalah berhasil atau gagal – setelah ada usaha – itu adalah hak mutlak dari Yang Maha Kuasa.