THE GREATEST SHOWMAN: Kisah Musikal Bapak Promotor Entertainment Amerika

Greatest-Showman-Web-Banner1024x403

Tips menonton film ini: jangan datang terlambat. Sejak menit pertama kita akan disuguhi extravagansa musikal serta spektakularnya visual. Dan itu semua sukses dipertahankan hingga akhir film. Jika anda suka film Moulin Rouge, nominator film terbaik Oscar tahun 2001, maka The Greatest Showman ini akan luar biasa menghibur anda. Termasuk saya. Jadi, film ini bagus banget dong? Well… Mari kita analisa bersama.

PhotoGrid_1514620298366Film ini saya nanti sejak lama. Tentu saja. Film musikal adalah kegemaran saya. Selama menontonnya di bioskop Premiere XXI Ciwalk Bandung, yang mana wajib disitu meski mahal karena tidak diputar di bioskop XXI standard manapun seantero Bandung – balada klasik pemutaran film musikal di negri ini yang terbatas penggemarnya – saya sangat menikmatinya dari awal hingga akhir. Saya nyanyi-nyani sambil goyang-goyang, karena lagunya amat kekinian dan selalu megah. Saya suka banget. Bahkan saya akan mau nonton lagi dan lagi jika ada kesempatan. But somehow… ada rasa hampa seusai nonton. Tampaknya jiwa film ini kurang ‘jleb’ di hati.

PT BARNUM

d56bdad70914de6fe1e4d6794b56ade5Phineas Taylor Barnum adalah sumber cerita film ini. Hidup di tahun 1810 hingga 1891, PT Barnum dikenal abadi berkat konsep hiburan keliling “Sirkus” yang dia ciptakan saat usianya yang 60 tahun. Sejak saat itu hingga 21 Mei 2017 tahun lalu – atau tepatnya selama 147 tahun – sirkusnya telah melanglang buana menghibur rakyat Amerika dan dunia. Ironis memang warisan sirkusnya harus gulung tikar hanya tujuh bulan sebelum film spektakuler tentang biografi pendirinya ini diedarkan. Sirkus tak lagi jadi sumber hiburan keluarga di era digital masa kini, dan para kelompok penyayang binatang mendesak mati-matian untuk menutup hiburan yang mereka nilai sebagai eksploatasi binatang itu. Adapun film The Greatest Showman sendiri menceritakan kiprah Barnum sejak kecil hingga bisnis sirkusnya dimulai.

The Greatest Showman2Namun sejatinya Barnum tak hanya menjual Sirkus. Konon dia adalah seorang Promotor Entertainment sejati, yang berhasil membawa hiburannya ke Eropa, dan menghibur Amerika melalui tour keliling penyanyi dari Eropa. Pada masa itu butuh seorang businessman inovatif untuk melakukan export import hiburan seperti ini, yang belum pernah dilakukan sebelumnya. Bankpun enggan memberi pinjaman. Prinsip bisnisnya adalah: jual tiket yang banyak, dapetin untungnya, dan lakukan segala cara untuk mencapainya. Maka, bohongpun dia lakukan, hoax pun dia sebarkan, yang penting dapat modal dan penonton senang.

The Greatest Showman-001Kompleksnya karakter Barnum yang setengah baik setengah licik ini – dipadu dengan elemen entertainment yang melingkunginya – telah menarik perhatian para pembuat film maupun dramawan panggung sejak dulu hingga kini. Sumbernya tak sulit ditemukan, karena Barnum bahkan pernah menulis biografinya sendiri di tahun 1854, serta beberapa buku lain tentang opini pribadi dan bisnis, hingga sukses membawanya ke arena politik. Salah satu produksi yang terkenal adalah drama panggung musikal Broadway bertajuk Barnum di tahun 1980an, yang mendapat nominasi Drama Musikal Terbaik di Amerika dan Inggris, serta menganugerahkan Jim Dale dengan Tony Award (USA) di tahun 1980, dan Michael Crawford dengan Laurence Oliver Award (UK) di tahun 1981, keduanya untuk Pemeran Utama yang sama. Tapi jangan harap film Hugh Jackman terbaru ini sebagai adaptasi dari panggung ke layar lebar. Beda banget!

CHARACTER vs STORYLINE vs ENTERTAINING

The Greatest Showman1Hugh Jackman konon sangat berambisi memproduksi film musikal The Greatest Showman ini. Kenapa tidak, toh karakter Barnum sendiri sudah kuat dari aslinya, sehingga aktor sekelas Hugh pastilah tertantang memerankannya. Namun sayangnya – tak seperti musikal panggungnya – porsi pendalaman karakter dan alur kisah sesuai sejarah tampaknya banyak dikorbankan di film ini demi efek hiburan yang membahana. Dan itu bukan pilihan buruk. Sah-sah saja. Penonton terhibur, box office mengalir lancar, what more do you want? Awards? Golden Globes memberi tiga nominasi, tapi tampaknya Oscar tak akan memberi banyak. Perkiraan saya hanya di lagu dan kostum saja nominasinya. Cukup bukan?

The Greatest Showman4Semua aktor bermain bagus sebatas skenario yang menuntutnya. Agak disayangkan, tuntutannya tidak disertai dengan bangunan emosi yang terstruktur. Mungkin kurang panjang durasinya yang Cuma satu setengah jam, atau mungkin sengaja dipangkas agar tidak membosankan. Toh film ini ditujukan untuk edar di masa Natal, dimana range penontonnya adalah anak-anak hingga dewasa. Jangan sampai penonton anak dan remaja terbosankan karena dialog berkepanjangan. Mending setiap adegan dibuat singkat, agar segera masuk ke lagu megah berikutnya. Alhasil, film ini alurnya cepat dan tidak membosankan.

PhotoGrid_1514942187804Tuntutan fisik diluar akting tampak lebih ditonjolkan. Suara para aktor mengalun merdu, meski salah satu pemeran utamanya melakukan full lip-sync, yaitu si cantik Rebecca Ferguson yang memerankan penyanyi Jenny Lind dari Eropa. Tak perlu dipusingkan, nikmati saja, lagunya bagus kok, emosi lagunya dapet. Michelle Williams, Zac Efron dan Zendaya bermain prima dengan akting, tari dan nyanyian mereka. Bahkan untuk Zac dan Zen, duo remaja yang sama-sama berhutang ketenaran pada Disney, mereka harus extra latihan akrobat trapeze untuk satu lagu cinta yang mereka lakukan – benar-benar tanpa jaring pengaman – di udara. Melayang dengan tali tanpa stuntman, aksi nyanyian mereka sungguhlah flawless.

The Greatest Showman5Sang Sutradara yang baru kali ini menyutradarai sebuah film panjang – namanya Michael Gracey – tampak sangat piawai mencipta gambar-gambar indah untuk tiap momentum. Dan karena film ini musikal – yang mana tiap momentum adalah lagu – maka saya punya kesan seperti kumpulan video klip musik. Kurang mengalir. Jauh dibandingkan La La LandAnd speaking of La La Land, penulis lagu-lagu film ini adalah duo penulis lirik lagu – Benj Pasek dan Justin Paul – pemenang Oscar di film musikal super keren itu. The Greatest Showman berisikan lagu-lagu megah, dan hanya lagulah yang saya ingat, bukan musiknya. Tidak seperti La La Land yang original score nya menghantui telinga saya berbulan-bulan setelah nonton bioskop, ilustrasi musik di film ini tampak tak penting. Tapi jangan salah, lagu-lagunya top markotop, keren banget! Hampir semua lagu akan bikin anda goyang badan. Sayapun demikian.

THIS IS ME! 

Pada akhirnya, pesan moral film ini tak lagi tentang Barnum seorang, melainkan pesan generik untuk semua orang. Kejarlah mimpimu dan jangan malu jadi diri sendiri. Pesan ini tentunya disuka para remaja hingga orang tua, dan menyentuh isu kemanusiaan atas nama hak asasi manusia tanpa pandang SARA. Bukan tanpa sengaja jika film ini meraup box office tinggi melalui komunikasi pesan moral yang efektif pada penontonnya. Oleh karena itu, segala kritik saya diatas jadi tak lagi penting. Segala kekurangan di film ini bukan lagi keputusan buruk untuk sebuah produksi film.

The Greatest Showman3Film ini terang-terangan mengakui ketidakcocokannya dengan sejarah Barnum yang mendasarinya. Sebagai contoh, karakter Zac Efron secara nama (Philip Carlyle) tidak ada, namun secara esensi ada dalam sejarahnya yaitu sebagai potret James Bailey, partner Barnum yang ternama. Jadi karakter Zac disini setengah fiksi setengah nyata. Lalu, kisah cintanya dengan Zendaya adalah murni fiksi, ditujukan untuk penekanan unsur SARA. Ada masalah? Ternyata tidak! Ternyata, selama sebuah produksi film tahu apa yang dimau, serta fokus pada hasil film yang ingin ditayangkan, maka jadilah sebuah film layak jual dengan potensi sukses di pasar dan penghargaan, meski harus menuai banyak kritik dan saran. Alhasil, atas segala sanjung dan caci yang menyertai, The Greatest Showman adalah bukti sukses sebuah determinasi.

 

***  T  A  M  A  T  ***

Advertisements