THE GREAT GATSBY: Novelnya, Filmnya dan Maknanya

great_gatsby_ver24_xlg

Pada saat saya dengar bahwa Baz Luhrmann akan mengadaptasi novel klasik ini menjadi sebuah film, saya sangat gembira dan tak sabar menanti penayangannya. Singkat cerita, setelah menontonnya di hari pertama pemutarannya di Indonesia, 17 Mei 2013, saya keluar dari gedung dengan rasa puas tiada tara. Baz Luhrmann memang hebat! Saya suka sekali film ini!

great_gatsby_ver15_xlgSaya sadar bahwa banyak kritikus film yang berpendapat sebaliknya, bisa jadi karena pemunduran jadwal tayang yang semula pada hari Natal tahun lalu, kemudian adanya kekhawatiran bahwa adaptasi versi Luhrmann ini PASTI akan lebih mementingkan style daripada esensi cerita apalagi dengan menggunakan 3D dan musik hiphop  untuk mengadaptasi kisah drama berlatar tahun 1920-an ini, dan yang terakhir adalah adanya beda pendapat diantara penonton film ini saat ditayangkan sebagai film pembuka di ajang The 66th Cannes Film Festival 2013. Dengan semua kondisi itu [bahkan lebih] yang membebani film ini, saya secara pribadi hanya bisa berpendapat: bahwa setiap orang berhak mengungkapkan apa yang DIRASA! Bagimanapun juga film adalah sebuah karya seni! Seperti halnya buku atau musik atau lukisan, jika kita suka ya kita beli, dan kalaupun tidak suka ya sudah, karena setiap orang pasti punya selera berbeda. Sesederhana itu, menurut saya.

Tapi sudahlah, sebaiknya sekarang kita bicarakan tentang THE GREAT GATSBY: bukunya, filmnya, dan nilai yang terkandung didalamnya. Namun demikian, sebaiknya saya infokan sedikit tentang diri saya, bahwa saya adalah penggemar berat Jane Austen. Oleh karenanya, bukunya F. Scott Fitzgerald ini sebetulnya bukan jenis buku yang biasa saya baca. Hanya saja, setelah menonton filmya, saya jadi ingin membaca novelnya untuk mengetahui struktur asli dari kisah ini. Selain itu, saya juga membongkar koleksi film untuk mencari video versi tahun 1974 yang dibintangi Robert Redford dan Mia Farrow. Sayapun menemukannya dan segera menontonnya. Dan inilah RASA yang saya peroleh.

 

NOVELNYA

great_gatsby_ver16_xlgNovelnya berisi sembilan bab. Berlokasi di New York pada masa kejayaan ekonomi dunia di tahun 1920-an yang kerap disebut “The Roaring Twenties” pasca Perang Dunia Pertama, novel ini dinarasi oleh seorang pria bernama Nick Carraway. Dia baru saja pindah ke New York dan tinggal di suatu area bernama “Telur Barat” di Long Islan dekat kota New York tempat dia bekerja sebagai Pialang Saham. Dia menyewa rumah kecil yang kebetulan bertetangga dengan rumah mewah bak istana milik seorang pria misterius bernama Jay Gatsby, yang mana hampir setiap malam selama musim panas itu selalu menghelat pesta besar-besaran. Berada diantara cara hidup metropolitan New York, di sepanjang novel dikisahkan bagaimana Nick mengalami hal-hal yang berbeda dengan kebiasaannya. Ini nantinya akan menjadi penerapan atas nasihat ayahnya yang selalu dia kenang, tertulis di halaman pertama di novel ini, yang mana menetapkan karakter seorang Nick yang bisa dipercaya memegang rahasia, dan juga tidak terlalu cepat berprasangka saat mengamati karakter orang lain.

“Jika kamu merasa hendak mengkritik orang lain, ingatlah selalu bahwa tidak semua orang di dunia ini seberuntung diri kamu.”

Diantara beberapa hal yang dialaminya adalah melihat dengan jelas, bahwa bagi seorang pria bernama Gatsby, cinta benar-benar tak pernah padam. Gatsby jatuh cinta kepada sepupu Nick yang bernama Daisy lima tahun yang lalu sebelum perang dimulai. Saat itu Gatsby bergabung dengan Angkatan Bersenjata untuk ikut berperang. Setelah sekian lama menunggu namun Gatsby tak kunjung tiba, Daisy kemudian menikahi Tom. Tom ternyata adalah suami yang buruk karena sering kali berselingkuh dibelakang Daisy. Namun meski Daisy mengetahuinya, dia tetap tak meninggalkan suaminya dan hidup bersama di rumah mewah mereka di area “Telur Timur” bersama anak perempuan mereka. Di lain pihak, Gatsby berhasil menjadi orang kaya. Dia sengaja membeli rumah di “Telur Timur” agar bisa hidup dekat dengan Daisy yang lokasinya hanya terpisah teluk. Gatsbypun sengaja membuat pesta besar di rumahnya dengan harapan Daisy akan muncul di salah satu pesta tersebut. Namun hal itu tak pernah terjadi.

great_gatsby_ver17_xlgSebesar itulah cinta Gatsby kepada Daisy, dari seorang pemuda miskin menjadi kaya raya hanya agar bisa sejajar dengan Daisy dan menikahinya suatu hari kelak. Nick kemudian menjadi penghubung diantara mereka berdua, dimana dia bisa melihat cinta maha besar yang mereka miliki satu sama lain. Tapi Gatsby meminta lebih jauh dari sekedar cinta yang diberikan Daisy untuknya. Daisy tidak bisa mengulang masa lalu karena saat ini dia sudah menikah dengan Tom dan tak semudah itu meninggalkan suaminya. Tapi Gatsby tak hendak menyerah begitu saja untuk mencapai mimpinya menikahi Daisy dengan jalur yang benar, BUKAN hanya perselingkuhan. Hingga suatu saat terjadi sebuah tragedi yang menyudahi semua usahanya.

Dari sudut pandang Nick, kehidupan di New Yor sangat dipenuhi orang-orang munafik, dari para pendatang pesta sampai para pejabat dan pesohornya, dan bahkan Daisy sepupunyapun bertindak demikian karena tak mampu menghargai Gatsby yang telah mencintainya begitu besar. Nick bahkan harus rela kehilangan Jordan, seorang wanita yang dia suka, hanya karena Nick merasa muak dengan hal-hal lain yang terjadi di sekelilingnya. Di sisi lain, Gatsby adalah satu-satunya orang yang dipandangnya sebagai baik dan jujur. Meski bisnis yang dijalaninya tidak halal dan dia kerap kali berbohong kepada orang lain tentang sejarah dirinya menjadi orang kaya, namun Nick tetap menghargai kesungguhan Gatsby mencintai Daisy dan kebaikannya berteman dengan Nick. Pada akhir kisah, Nick tak tahan dengan kehidupan di New York dan memilih pindah ke kota lain.

 

FILMNYA

great_gatsby_ver19_xlgSebetulnya saya menonton tiga film adaptasi novel ini. Versi tahun 1974 yang dibintangi Robert Redford dan Mia Farrow, versi film televisinya di tahun 2000 yang dibintangi Toby Stephens dan Mira Sorvino dan Paul Rudd sebagai Nick, dan yang terakhir versi 2013 hasil karya Sutradara favorit saya Baz Luhrmann dan dibintangi oleh Leonardo DiCaprio dan Carey Mulligan. Masing-masing versi mungkin bersinar pada masanya, namun bagi saya tentu saja yang terakhir inilah yang paling benderang. Saya bahkan tak bisa membayangkan dalam satu atau dua dekade mendatang novel ini akan diproduksi ulang – terutama di layar lebar – setelah adaptasi tingkat tinggi yang dipamerkan Baz Luhrmann ini. Film ini sangat luar biasa menghadirkan visualisasi dan proyeksi karakter, hingga Hollywood tak akan berani membuatnya lagi dalam bentuk “film drama biasa”.

Disini saya tidak hanya menyoroti penggunaan teknologi 3D dan musik dari Jay-Z, yang mana sangat efektif menghadirkan glamorisasi dalam mengemas film ini. Tidak, tidak hanya itu yang membuatnya bagus! Yang menarik perhatian saya justru kepandaian skenario film ini untuk setia dengan novelnya, dan bahkan memberi warna yang kontras pada tiap adegan maupun karakter. Dramatisasinya luar biasa! Kita tidak perlu menebak apa yang dirasa oleh para aktornya, karena semua itu ditampakkan. Saat Baz ingin suatu adegan terkesan vulgar dan menjijikkan namun tetap kontemplatif buat Nick, dia benar-benar membuatnya seperti itu, simak saja adagan pesta kecil di sebuah apartemen di New York. Kita bisa benar-benar merasa bahwa Nick pastilah muak dengan ke-vulgar-an seperti itu, dan sebagai warna kontrasnya dibuatlah sebuah adegan sebagaimana tertulis dalam novel tentang kontemplasi Nick terhadap kehidupan di New York, yang mana Baz berhasil mem-visual-kannya dengan sempurna. Adegan ini tidak ada di versi film tahun 1974. Di akhir cerita kita akan “sungguh” mengerti betapa kehidupan di New York sangatlah menjijikkan bagi Nick. Dan saat Baz menginginkan adegan pesta extravaganza di rumah mewah milik Gatsby di Long Island, kita tak perlu lagi mempertanyakan kepiawaian sang maestro untuk mewujudkannya. Sungguh luar biasa! Dan yang terakhir adalah adegan-adegan romantis. Indahnya tak terkira! Glamornya tahun duapuluhan, rumah-rumah mewah, selambu yang beterbangan, mawar putih yang memenuhi ruangan, semua ditampakkan pada level terbaiknya! Ini adalah film kencan yang sempurna, meski tragis di akhir kisahnya.

great_gatsby_ver21_xlg

Setiap karakter diberi ruang dan waktu untuk menampakkan dirinya. Para aktor bermain cemerlang, terutama Leonardo DiCaprio yang menurut saya terlahir untuk menjadi Gatsby. Saya tidak mengatakan bahwa mereka akan mendapat nominasi Oscar di film ini, namun saya bisa bilang bahwa tak ada satupun dari mereka yang bermain buruk. Dan jika dibandingkan dengan versi adaptasi yang lain, saya lebih bisa mengenal Gatsby lebih baik di film ini. Leo dengan skenarionya dengan sinematografinya, telah membuat visualisasi yang jelas untuk Gatsby, tentang kebodohannya, kebaikannya, dan obsesinya terhadap cinta.

Satu-satunya yang tidak dimunculkan disini dari novelnya adalah munculnya ayah Gatsby di penghujung kisah. Menurut saya pribadi, hal ini tak terlalu mempengaruhi inti cerita. Kalaupun ada, itu hanyalah menambah deretan kebaikan Gatsby yang  kita sudah kenali sepanjang film, karena disini dia dikisahkan sebagaia anak yang berbakti kepada orang tua dan meminta maaf serta menyantuni mereka saat dia sudah jadi orang kaya dan sukses. Keputusan Baz untuk menghilangkan adegan ini cukup bisa dimengerti, mengingat durasi film ini sudah cukup lama yaitu 140 menit tanpa adegan tersebut. Dia mungkin juga mempertimbangkan untuk tidak memperpanjang antiklimaks setelah cerita berada pada puncaknya saat tragedi terjadi.

great_gatsby_ver7_xlg

Dengan segala kematangan di setiap aspek, menurut saya ini adalah film yang sangat baik dalam kaitannya untuk memahami sebuah karya sastra klasik. Film ini sangat efektif untuk memperkenalkan novel klasik yang berat kepada generasi yang lebih muda. Dan keberanian yang ditunjukkan oleh pihak distributor untuk meluncurkan film ini di musim panas berbarengan dengan film-film blockbuster seperti Ironman dan Startrek, adalah sebuah bukti optimisme mereka bahwa film “drama” ini benar-benar sebuah tontonan yang menghibur.

 

MAKNANYA

Dalam membaca buku atau menonton film, menurut saya penting bagi kita untuk mendapat makna darinya, baik yang baik maupun yang buruk. Dengan melakukan hal itu, kita akan bisa memperkaya diri dengan sensitifitas atas apapun yang terjadi dalam hidup kita maupun di dunia ini. Kita bisa memperluas wawasan dan mempertajam penilaian kita atas sesuatu, yang mana pada akhirnya akan membawa kita pada kebijaksanaan yang lebih baik. Saya biasanya dengan mudah mendapatkannya dari buku-buku Jane Austen, yang saking sukanya sampai saya buat sebuah novel terhadapnya. Dan sekarang, meskipun kisah di novel ini berbeda dengan novel-novel Jane Austen, saya akan coba mengemukaan beberapa makna disini.

great_gatsby_ver10_xlgCinta tak pernah padam, terutama bagi Gatsby. Nah, kalau saya masih di usia dua puluhan dulu saat sedang mengalami cinta pertama, saya mungkin akan mengusahakan sejauh itu untuk mendapatkan kembali cinta dari gadis yang meninggalkan saya. Tapi karena saya menontonnya sekarang di usia yang sudah menjelang empat puluh, saya cuma bisa bilang bahwa tindakan seperti itu tidak bijaksana. Satu hal yang tidak dimiliki Gatsby adalah kemampuan meng-IKHLAS-kan, meski jelas terlihat bahwa dia seorang yang baik hati dan penyayang. Dia percaya bahwa cinta Daisy untuknya tak pernah berubah dan tetap SAMA seperti dulu kala. Dia tidak mempertimbangkan bahwa kehidupan telah membentuk Daisy selama lima tahun mereka berpisah. Daisy sudah menikah! Dan PERNIKAHAN adalah sebuah konsep yang sagat berbeda dengan CINTA. Gatsby tidak mengerti itu.

great_gatsby_ver9_xlgDi sisi lai, Daisy adalah seorang yang “cantik nan bodoh”, seperti ungkapan yang dipakainya saat dia mendoakan anak perempuannya kelak jika sudah besar nanti. Namun demikian, sebagaimana cermin atau koin yang punya dua sisi, untuk kebahagiaan hidupnya sendiri Daisy justru adalah seorang yang bisa dengan cepat meng-IKHLAS-kan rasa sedihnya. Dia mencintai Gatsby sepenuh hati, dan bahkan hampir membatalkan pernikahannya dengan Tom saat mendapat surat dari Gatsby sehari sebelumnya. Tapi setelah kembali dari bulan madunya, Daisy berubah menjadi istri yang sangat mencintai suaminya. Nah, meskipun disini terkesan bahwa Daisy adalah karakter yang jahat, bodoh dan tak berperasaan karena begitu cepatnya berpaling hati dari Gatsby kepada Tom, saya secara pribadi berpendapat bahwa: berusaha sebaik mungkin untuk mencintai seorang yang kita nikahi adalah tindakan yang sangat bijaksana. Semua orang punya masa lalu yang ingin kita kesampingkan dari hidup kita. Bukan karena kita membenci masa lalu itu, namun lebih pada kesadaran kita bahwa masa lalu itu tak ada kaitannya dengan masa depan yang akan kita bangun. Sayangnya dalam kasus ini, Tom adalah seorang karakter yang buruk dibanding Gatsby, sehingga penonton akan dengan mudahnya lebih berpendapat bahwa Daisy adalah wanita bodoh karena tetap setia pada Tom, daripada melihatnya sebagai seorang bijaksana yang berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangga.

Demikianlah RASA yang saya punya tentang THE GREAT GATSBY. Film adaptasinya tentunya sangat memanjakan mata, dan novelnya adalah karya klasik yang perlu kita baca. Dan di akhir novel ini, sebagaimana dikatakan oleh Nick di filmnya, kita bisa menarik pelajaran yang bagus dari Gatsby, yaitu bahwa apapun yang terjadi jangan pernah berputus asa untuk meraih kembali kebahagiaan yang dulu pernah kita rasakan. Hanya saja, pastikan kita melakukannya dengan cara yang baik, dan untuk tujuan yang baik pula.

“…esok kita akan lari lebih kencang, ulurkan tangan lebih panjang, sampai suatu hari nanti…kita akan terjang apapun, naiki kapal dan tentanglah arus, berusaha tak kenal lelah untuk kembali ke masa lalu.”

THE GREAT GATSBY