BEST PICTURE NOMINEES 2018: And The Oscar Goes To… Let’s Predict… One By One!

Best Pictures Oscar 20182

Tak ada kejadian  khusus hingga saya memutuskan untuk meresensi singkat lengkap sembilan nominator Film Terbaik Oscar tahun ini, kecuali hanya karena seorang teman yang bertanya, ”Menurutmu siapa saja pemenang Oscar nanti?” Saya bisa saja asal jawab tanpa pikir panjang, tapi saya sendiri tak puas rasanya. Saya belum pernah melakukan ini sebelumnya. Maka mulailah saya hunting para nominator Film Terbaik yang belum saya tonton. Saya hanya ingin gali lebih dalam isi masing-masing film, dan coba cari tahu apa istimewanya. Ternyata saya menikmati sekali proses ini. Nonton film berkualitas memang selalu memuaskan dan memperkaya inspirasi.

Terlepas dari latar belakang saya yang hanya pengamat film, bukan mahasiswa sekolah film apalagi pembuat film, membicarakan Oscar dengan banyak nominasi teknisnya tak lantas bikin saya patah arang. Setiap orang bisa belajar dan boleh berpendapat sebatas kapasitasnya. Maka, disini saya coba memprediksi, mana yang bagus dan  mana yang lebih bagus menurut selera saya. Pemenang Oscar belum tentu sesuai prediksi, tapi mendalami sembilan film ini telah memberi sensasi tersendiri.

Peringatan: Spoiler Alert di semua film. Tapi pepatah mengatakan, perjalanan tak kalah penting dari pencapaian. Jadi, silakan menikmati bagaimana film-film ini berproses di benak dan hati kita, meski info cerita sudah lengkap dibaca. Baiklah, mari kita mulai, in alphabetical order.

  1. CALL ME BY YOUR NAME

call_me_by_your_name___fanmade_poster_by_mintmovi3-dblwb7oJames Ivory mengadaptasi skenario Call Me By Your Name dari novel dengan judul sama. Saat saya menulis artikel ini, anugerah Screen Writers Guild Award untuk Skenario Adaptasi Terbaik telah berhasil disabetnya. Sutradara, Penulis dan Produser utama dari rumah produksi Merchant Ivory (A Room With A View, Maurice, Howards End, The Remains Of The Day) ini berhasil mencipta kisah coming-of-age antara seorang remaja 17 tahun dan mahasiswa S2 – sesama pria – menjadi sebuah ilustrasi nafsu dan cinta yang indah namun tetap membumi. Konon adalah obsesi sang Sutradara asal Italia – Luca Guadagnino – untuk membuat trilogi film tematik tentang desire, dan film ini adalah penutupnya setelah I Am Love (2009) dan A Bigger Splash (2015), yang keduanya diperani oleh Tilda Swinton. Menurut saya, setelah film pertama yang memenangkan nafsu, lalu film kedua yang mengeksplorasi cemburu, triloginya Pak Luca ini diakhiri bijaksana dengan film yang menyorot cinta dengan lebih tulus.

Film ini sungguh sangat sederhana, namun justru menonjol karenanya. Kisah eksplorasi fisik (seksual) dan perasaan (cinta) dari remaja bernama Elio ini sangat relatable untuk siapapun yang pernah jadi remaja, tak peduli preferensi seksual kita straight atau gay. Kebetulan saja dikisahkan disini dia lebih jatuh cinta pada sesama pria ketimbang teman wanitanya, tapi esensinya sama, yaitu ditinggal kawin itu nyesek, bro! Tapi kisahnya tak berhenti pada cinta yang terpisah. Ada pesan moral yang luar biasa indah dari sang Ayah. Meski porsinya sedikit, unsur parenting di film ini menusuk maksimal. Saya sampai tak sabar menunggu anak saya dewasa kelak dan mengalami masa patah hati, supaya saya bisa menasihati dia sebagaimana nasihat Ayahnya Elio disini.

Kala film Brokeback Mountain (2005) muncul sedekade lalu, dunia seperti tersentak dengan tampilnya tema LGBT di aliran mainstream berkaliber Film Terbaik Oscar dalam perfilman Amerika. Alhasil, meski sang Sutradara Ang Lee berhasil menggondol Oscar, dan anugerah Skenario Adaptasi Terbaik berhasil diraih, namun tidak untuk filmnya. Pro dan kontra sempat merajalela waktu itu, namun tak akan demikian di masa kini. Kalaupun menang, Call Me By Your Name tak akan dipuji karena tema LGBT nya, dan kalaupun kalah tak jadi masalah. Tema LGBT sudah diterima secara wajar di perfilman saat ini. Dunia sudah berubah. Kemanusiaan makin dijunjung tinggi, wanita Hollywood berontak “Time Is Up!” di Golden Globe, dan preferensi seksual tak lagi jadi soal. Tapi tentu saja saya tidak sedang bicara tentang Indonesia.

Apakah Call Me By Your Name akan menggondol Film Terbaik Oscar? Saya rasa tidak, meski film ini bikin baper dan musiknya memorable. Musik disini mendukung perjalanan emosi dalam cerita tanpa harus romantis berlebihan, sayangnya tidak ternominasikan. Nominasi Lagu Asli Terbaik berhasil didapat dalam lagu Mystery Of Love yang dilantunkan Sufjan Stevens, namun sepertinya berat menyaingi This Is Me dari The Greatest Showman. Pada akhirnya, saya tulus berharap Timothee Chalamet – aktor muda pemeran Elio – bisa membawa pulang Best Actor di Oscar nanti. Lihat saja kekuatan aktingnya di penutup film ini, maka anda akan setuju dengan saya. Peluangnya cukup kuat mengingat  di ajang BAFTA Timothee mengantongi nominasi Rising Star Award juga selain Best Actor tahun ini.

  1. DARKEST HOUR

DARKEST-HOUR-2017_pf_2Joe Wright adalah Sutradara yang saya gemari, sayangnya belum pernah masuk nominasi Oscar hingga kini. Sebagai pecinta mati penulis klasik Inggris Jane Austen, saya amat berterima kasih untuk adaptasi indahnya di film Pride And Prejudice (2005). Adapun dalam film terbarunya – Darkest Hour –  tak pelak yang bersinar adalah sang Aktor kawakan Gary Oldman. Mungkin sudah waktunya beliau menang Oscar mengingat karir yang lama dengan kualitas yang bagus selama ini. Dan tampaknya memang demikian yang akan kejadian. Setelah Golden Globe dan Screen Actors Guild Award diraihnya untuk Aktor Terbaik, tinggal menunggu BAFTA dan Oscar saja untuk melengkapinya. Meski saya menjagokan Aktor lain, saya sangat menikmati aktingnya disini.

Saya tak henti membandingkan akting Gary Oldman dengan Meryl Streep  di film The Iron Lady (2011) yang memberinya Oscar kedua sebagai Aktris Terbaik. Dan saya tak akan heran jika Best Make Up And Hairstyling akan dibawa pulang juga oleh Darkest Hour seperti halnya di The Iron Lady, karena di film seperti ini sang Aktor tak akan mampu tampil maksimal tanpa kinerja luar biasa dari team periasnya. Tapi bagaimanapun juga, akting Gary Oldman memang luar biasa. Karakter Winston Churchill yang diperaninya tetiba hidup dengan kemanusiawiannya yang unik dan rentan didalam, meski harus tampil tegar diluar sebagai penyemangat bagi rakyat.

Film ini mengisahkan sepak terjang sang Perdana Mentreri Inggris yang baru menjabat di masa perang paling sulit dalam sejarah Inggris, yaitu pada bulan Mei 1940. Perdana Menteri yang sebelumnya menjabat dituntut mundur, dan sebagai gantinya tak ada yang bersedia kecuali Winston Churchill. Bergelut diantara semangat juang dan keraguan, dengan karakter pribadi yang jauh dari karismatik namun ditopang oleh istri bijaksana dan keluarga yang solid, Churchill harus membuat keputusan terberatnya, berdamai dengan Nazi Jerman atau melanjutkan perang. Resikonya adalah tiga ratus ribu tentara yang saat itu tersudut di pantai Dunkirk bisa jadi tewas di tangan Nazi Jerman. Pada akhirnya propaganda semangat juang yang digemakan Churchill membuahkan hasil. Rakyatpun suka rela menjemput pulang para pejuang mereka di Dunkirk.

Dibanding film-film terbaik pesaingnya, Darkest Hour termasuk kurang populer di kalangan juri Oscar. Keindahan visualnya cukup diakui melalui nominasi Cinematography, Costume Design dan Production Design, namun sisi penulisan dan penyutradaraan tak mendapat sorotan. Film Terbaik mungkin tak akan diraihnya, tapi Gary Oldman bisa dipastikan pulang membawa Oscar tahun ini.

  1. DUNKIRK

Dunkirk 1Saya lelah hayati menonton film ini, dirundung tegang berkepanjangan, mostly karena takut kena tembak. Ini adalah film perang, dan hanya peranglah yang ada di film ini. Hampir tanpa dialog meski bukan film bisu, Dunkirk tampil sangat maksimal dengan mengantongi hampir semua nominasi teknis, termasuk nominasi penyutradaraan yang pertama untuk sang Maestro Christopher Nolan. Semua aspek teknisnya membuahkan efek yang luar biasa “nyata”. Dulu waktu saya nonton Saving Private Ryan (1998), suara dentingan pelurunya saya ingat banget adalah yang terbaik pada masanya, dan sayapun merinding dibuatnya. Kini hal itu terulang lagi dengan level yang lebih nyata – bukan lebih dramatis – hingga saya lebih miris dibuatnya. Film ini hebat luar biasa dalam segi sudut pandang baru yang segar untuk sebuah film perang.

Tampaknya film ini memang tak menuntut pengakuan di bidang selain teknis. Yang paling menonjol buat saya adalah pemaksimalan Music Score dan Sound Mixing, dimana keduanya mendapat nominasi Oscar. Ilustrasi musiknya memang tidak menghantui saya seusai menontonnya, tapi digabung dengan tata suara yang canggih, emosi penonton tergiring menuju ketegangan melalui indra pendengarannya. Apalagi dengan minimnya dialog dan akting manusia, dalam banyak adegan suara menjadi unsur terpenting bagi penonton untuk rela diajak serta ke dalam suasana yang diinginkan.

Meski demikian, Dunkirk tak lantas mengesampingkan para aktornya. Bahkan aktor kawakan sekelas Kenneth Branagh di-casting disini, dan beliaupun menunjukkan kemampuan maksimalnya. Bahkan keharuan saya di akhir film ini dipicu oleh rona wajah Pak Kenneth yang bangga pada negara dan rakyat yang menjemputnya. Tom Hardy pun bermain bagus, meski sebagai Pilot pesawat tempur wajahnya hampir selalu tertutup helm. Adapun aktor-aktor muda lainnya yang berperan sebagai prajurit, tak ada yang berakting buruk disini meski saya kadang bingung mengenali para karakternya yang tak bernama dan berpotongan rambut serupa.

Dunkirk menurut saya berkesempatan menjadi Film Terbaik Oscar, atau setidaknya berada di jajaran top three or top four diantara para nominator. Ceritanya meski sederhana namun cukup kuat. Alur waktu yang tidak linear – meski sedikit membingungkan – justru menambah kesegaran pada ide orisinil sudut pandangnya. Buat penggemar Darkest Hour, saya sarankan untuk menonton Dunkirk – demikian juga sebaliknya – karena kisah sejarahnya bisa saling melengkapi. Prediksi saya sih film ini tidak menang Film Terbaik Oscar, tapi saya yakin mereka tidak pulang bertangan hampa.

  1. GET OUT

get_out_ver2_xlg-2Genre Horror terhitung jarang masuk deretan nomitator Film Terbaik Oscar, namun tampaknya film Get Out berhasil menarik perhatian para kritikus dan juri festival film. Senasib dengan masalah kesetaraan gender di Hollywood, kesetaraan rasial dalam kepemimpinan Donald Trump di Amerika saat ini mencuat sebagai isu nasional. Dalam situasi inilah Get Out menawarkan tema rasial melalui medium yang tidak umum – yaitu genre horor komedi – namun ternyata amat tepat sasaran. Tak heran jika kemudian Screen Writers Guild Award untuk Skenario Asli Terbaik berhasil diraih Jordan Peele sang Penulis sekaligus Sutradara dan Produser film ini. Dialog rasialnya cerdas tanpa kesan menggurui, dan justru jadi wahana komedi dalam beberapa adegan melalui akting brilian para pemerannya.

Daniel Kaluuya berakting cemerlang di film ini. Sebagai seorang asal Inggris, saya tak mendengar sedikitpun aksen aslinya keluar selama memerankan Fotografer muda Amerika disini. Perubahan emosinyapun berjalan mulus mengikuti kondisi yang harus diperaninya. Dikisahkan dia diajak bertemu orang tua pacarnya yang berkulit putih di rumah pedesaan keluarga mereka jauh dari kota. Disanalah kejadian-kejadian aneh berlangsung yang sedikit demi sedikit menuntun situasi ke suasana mencekam. Tidak ada hantu di film ini, yang ada hanyalah hipnotis. Dan visualisasi hipnotis disini sangat efektif membawa penonton paham akan adanya jarak antara dunia sadar dan dunia perangkap kala dihipnotis.

Sejujurnya saya agak heran film semacam Get Out ini berhasil masuk jajaran nominator Film Terbaik Oscar. Pertama karena genrenya horor, kedua karena terlalu negro – tanpa bermaksud rasis tentunya – yang biasanya tak dilirik para juri Oscar. Namun ternyata komposisi juri Oscar sendiri tahun ini berubah total setelah tahun lalu mendapat sindiran telak #OscarSoWhite. Konon tahun ini pihak AMPAS memperbanyak prosentase juri wanita dan kulit berwarna untuk mendapat kesetaraan juri dari sisi kemanusiaan. Alhasil, Jordan Peele yang baru menelorkan satu film ini saja sebagai awal karir penyutradaraannya, harus rela kebanjiran nominasi sekaligus mencatat rekor orang kulit hitam pertama yang mengantongi nominasi tiga kriteria sekaligus, yaitu Sutradara Terbaik, Penulis Skenario Asli Terbaik, dan Film Terbaik. Ditambah lagi, dia adalah orang ketiga dalam sejarah Oscar – setelah Warren Beatty (di film Heaven Can Wait – 1978) dan James L Brook (di film Terms Of Endearment – 1983) – yang berhasil mendapati sekaligus tiga nominasi tersebut dalam karya perdana.

Dari empat nominasi Oscar yang dikantongi film ini, saya pesimis mereka akan pulang membawa Oscar. Aktor, Sutradara dan Film Terbaik saingannya sangat berat dan tidak termasuk unggulan menurut saya. Satu-satunya kemungkinan menang hanya di Skenario Asli, namun tampaknya Three Billboards dan Lady Bird masih jadi penghalang kuat di kategori ini.

  1. LADY BIRD

lady_bird_ver2Saoirse Ronan yang masih berusia dua puluh tiga, tahun ini sekali lagi mengantongi nominasi Oscar di bidang akting. Sudah yang ketiga sekarang ini setelah Atonement (2008) dan Brooklyn (2016). Meski kemenangan belum tentu diraih mengingat Frances McDormant pesonanya kuat banget tahun ini di Three Billboards, tapi prestasinya cukup membanggakan buat seorang aktris muda. Didukung dengan alur cerita kuat dan masalah kompleks yang tertuang dalam Skenario Asli – masuk daftar nominasi juga – Lady Bird berada setingkat lebih tinggi dari film-film coming-of-age pada umumnya.

Berkisah tentang seorang murid SMU Katolik di pinggir kota Sacramento, yang di sekolahnya dia tidaklah populer, tidak pula berprestasi, kecerdasannya rata-rata, dan keluarganya berekonomi pas-pasan, tersebutlah seorang remaja putri bernama julukan Lady Bird. Nama itu adalah karangannya sendiri untuk dipakainya sendiri, terutama di kalangan sekolah. Kondisi keluarga yang tidak kondusif, ditambah hubungan yang tidak harmonis dengan ibunya sendiri, Christine – nama aslinya – bercita-cita tinggi untuk kelak bisa kuliah jauh dari kotanya sekarang. Dia ingin ke New York, yang jaraknya super jauh bagai Sabang ke Merauke dari Sacramento.

Selain ingin melihat dunia, alasan pribadinya adalah menjauh dari keluarga. Sedikit atau banyak, keinginan untuk lepas dari situasi rumah yang tak nyaman pasti dimiliki oleh semua remaja. Minggat adalah solusi tercepat di benak mereka tanpa pikir panjang konsekuensinya, baik secara finansial maupun perasaan. Maka, meski akhirnya Christine diterima kuliah di New York, namun dia justru merindu kampung halamannya di Sacramento dan merasa kehilangan Ayah Ibunya yang kini jauh. Banyak konflik membumi yang dimunculkan disini, dari masalah pertemanan, pacaran, hubungan dengan orang tua dan guru, hingga eksplorasi seksual sang Lady Bird. Kekuatan skenario merupakan stimulan penting dalam melambungkan performa para aktornya, tak terkecuali di film ini. Tak heran jika pemeran Christine dan juga sang Ibu menapat nominasi Oscar.

Adalah Greta Gerwig, seorang aktor wanita Amerika yang menulis sekaligus menyutradarai film ini sebagai karya perdananya, dan memperoleh nominasi Oscar dari keduanya. Mungkin pihak AMPAS tidak mau mendapat sindiran lagi dari Natalie Portman yang diatas panggung Golden Globe kemarin berucap sinis bahwa semua nominator Sutradara adalah pria. Maka jadilah Greta Gerwig sebagai nominator Sutradara Tebaik wanita kelima dalam sejarah Oscar. Meski gelar Best Picture dan Best Actress bergasil disabet Lady Bird di ajang Golden Globe yang lalu dari kategori Comedy/Musical, gelar Film Terbaik Oscar mungkin masih jauh dari genggaman, mengingat kategori Drama biasanya lebih merajai di ajang Oscar.

  1. PHANTOM THREAD

phantom-thread-alternate-poster-3-620x916Konon kabarnya, Daniel Day-Lewis akan pensiun dari dunia akting setelah menyelesaikan Phantom Thread ini. Mari berdoa itu tidak terjadi. Dia aktor berkelas yang perlu dilestarikan. Di usianya yang enam puluh tahun saat ini, dia adalah pemegang rekor perolehan Oscar untuk Aktor Terbaik, yaitu sebanyak tiga kali, masing-masing dalam film My Left Foot, There Will Be Blood, dan Lincoln. Meski kemampuan aktingnya tak perlu diragukan, namun memerankan seorang Perancang Busana yang bergelut dengan kekakuan pribadi menurut saya akan sulit menandingi performa Gary Oldman dan Timothee Chalamet tahun ini.

Dikisahkan dalam film ini sosok lelaki berpenampilan selalu rapi, bekerja tiada henti, sukses dan ternama di bidangnya, namun kesulitan menjalin hubungan dengan wanita. Dia pikir dia terkutuk oleh cinta, hingga tak akan mendapatkan pendamping hidup selamanya. Sebagai film fiksi yang bukan fantasi, tentu saja kutukan itu hanyalah bukti betapa sempit pemikiran sang Maestro Adi Busana ini dalam memandang hubungan saling memberi dan menerima antara pria dan wanita. Tak butuh pendidikan tinggi untuk bisa jatuh cinta, tapi bahkan bagi orang sejenius Reynolds Woodcock dalam film ini, sangatlah sulit menyisihkan sedikit hati untuk menghargai wanita-wanita pendampingnya. Adalah Alma, seorang wanita pramusaji rumah makan dari desa yang jatuh cinta pada Reynolds dan bertahan ingin selalu mencintainya. Terkadang cinta butuh usaha luar bisa, dan bagi Alma memberi racun pada makanan Reynolds adalah kuncinya.

Sampai disini jika anda berpikir film ini berakhir tragis, atau berubah wujud dari film drama percintaan menjadi thriller pembunuhan, anda salah besar. Sang Penulis Skenario sekaligus Produser dan Sutradara film ini Paul Thomas Anderson, yang pernah berhasil mengarahkan Daniel Day-Lewis hingga meraih Oscar di film There Will Be Blood sepuluh tahun lalu, surprisingly membuat film ini happy ending. Sayangnya Skenario Asli tidak meraih nominasi disini, meski dalam proses observasinya yang titi teliti meneliti tak kurang dari empat Designer ternama di era sekitar Perang Dunia 1 dan 2 sebagai inspirasi karakter dan latar belakang dunia fesyen. Alhasil, Phantom Thread sukses menggambarkan industri Haute Couture di London pada tahun 1950an, lengkap dengan segala kemewahan dan operasional harian sebuah rumah mode pada masanya.

Paul mengantongi nominasi Oscar sebagai Sutradara dan Produser di tahun ini. Selain itu ada juga nominasi Aktris Pendukung, Tata Busana dan Musik Asli, hingga total 6 nominasi disematkan untuk Phantom Thread. Kemewahan memang esensial di dunia fesyen, tak terkecuali di film ini. Saya menjagokan Oscar untuk Best Original Score. Musiknya yang classic jazzy didominasi biola dan piano, berhasil mencipta nuansa mewah dan tegang secara efektif. Untuk anugerah Film Terbaik Oscar tampaknya masih berat menyaingi The Shape Of Water dan Three Billboards.

  1. THE POST

post-poster-main-xlMengantongi hanya dua kategori nominasi Oscar, yaitu Film Terbaik dan Aktris Terbaik, menurut saya The Post adalah nominator terlemah diantara delapan film lainnya. Tentu saja film ini jauh dari jelek, tapi seusai nonton saya hanya mendapat pencerahan sejarah, tak lebih. Berbeda dengan Spotlight (2015) – pemenang Film Terbaik Oscar – yang berkisah serupa tentang pengejaran berita di sebuah kantor surat kabar. Meski sama-sama berdasar pada Skenario Asli atas sebuah kisah nyata, bukan Adaptasi dari sebuah buku atau jurnal penelitian, Spotlight menawarkan cerita yang lebih kompleks, karakter yang lebih bervariasi, serta pilihan-pilihan penting dalam hidup para tokohnya. Saya mendapati The Post terkesan datar dan kurang makna. Mungkin karena saya tidak tinggal di Amerika.

Pesan moral dan politik film ini bisa jadi sangat dibutuhkan oleh pers Amerika saat ini, dimana Presiden Donald Trump tak mengakui berita apapun yang dilansir oleh semua kantor berita, baik koran maupun televisi. Karena kebanyakan berita berisi kritik pada dirinya dan pemerintahannya, Donald Trump menyebut semuanya Fake New, kecuali stasiun berita televisi Fox News yang mendukungnya. Tak heran jika di ajang Golden Globe – festival film yang jurinya adalah asosiasi wartawan HFPA – The Post cukup berjaya dengan mengantongi tambahan nominasi untuk Steven Spelberg sebagai Sutradara Terbaik, untuk Tom Hanks sebagai Aktor Terbaik, dan juga nominasi untuk Skenario Terbaik.

The Post adalah kependekan dari The Washington Post, salah satu koran ternama di Amerika. Dikisahkan pada awal tahun 1970an, tersebarlah sebuah dokumen rahasia Pentagon yang berisikan analisa tentang Perang Vietnam dan posisi Amerika yang tidak menguntungkan berada disana. Sebagian dari dokumen tersebut telah dicetak lebih dulu oleh The New York Times, yang mengakibatkan dicekalnya koran tersebut oleh Pengadilan. Di sisi lain, The Washington Post yang sedang gencar mencari investor melalui bank dan pasar modal, harus bergelut dengan keputusan apakah turut mencetak dokmen tersebut atau tidak, saat wartawannya mendapat dokumen itu langsung dari sumber pembocornya. Adalah seorang wanita yang tadinya ibu rumah tangga lalu menjanda dan tetiba menjadi pemimpin koran The Post bernama Katharine Graham lah yang harus mengambil keputusan terpenting untuk perusahaannya, dan juga bagi dirinya pribadi, untuk membuktikan kepemimpinannya, yang mana sebagai wanita kerap kali dipandang sebelah mata.

Meryl Streep bagi saya tak akan menggondol Oscar tahun ini. Sama seperti filmya, bukan berarti Meryl berakting buruk, melainkan unsur kompleksitas masalah dan kepribadian Katharine yang diperankannya tak terlalu menonjol. Filmya sendiri, dalam beberapa adegan pengambilan keputusan, urgency-nya tampak terlalu dipaksakan demi mengisi dramatisasi suasana. Saya pribadi tidak mendapat greget perasaan di film ini, maka sayapun tidak menjagokannya untuk menang Oscar di nominasi apapun.

  1. THE SHAPE OF WATER

shape-of-water-poster 2Mendapat 13 nominasi Oscar – terbanyak tahun ini – The Shape Of Water menggunakan genre fantasi bervisual cantik sebagai wahana penyampaian kisah tentang cinta dan kesepian. Dibuat ala dongeng dengan latar Amerika di tahun 1960an, film ini menghibur dengan kualitas gambar dan cerita yang memuaskan.  Guillermo Del Toro yang disini mendapat tiga nominasi sekaligus, yaitu sebagai Sutradara, Penulis Skenario Asli dan Produser, kembali sukses mencipta dunia setengah nyata setengah maya seperti Pan’s Labyrinth yang dibuatnya tahun 2006 silam. Didukung akting yang kuat dari tiga nominator Oscar di film ini, yaitu Sally Hawkins sebagai karakter utama Elisa yang bisu tapi tak tuli, serta Octavia Spencer dan Richard Jenkins dalam karakter pendukung sebagai sahabat Elisa, aspek manusiawi film ini terwujud nyata.

Semua karakter di film ini adalah orang-orang kesepian. Ada Elisa yang bisu dan tak punya teman sesama bisu, ada sahabat prianya yang gay dan sahabat wanitanya yang berkulit hitam – dua aspek kemanusiaan yang terkucilkan di jaman itu – lalu ada sang Ilmuwan mata-mata Rusia yang baik hati tapi penuh rahasia pribadi, dan bahkan tokoh antagonisnya sang Kolonel pembawa mahluk air pun juga kesepian karena menyukai keheningan yang tak didapat dari istrinya. Kisah mereka kemudian berorbit pada si mahluk Manusia Ikan, dimana Elisa jatuh cinta padanya karena sama-sama bisu, si Kolonel berusaha membunuhnya, dan yang lain membantu Elisa menculik dan mengembalikan mahluk asing itu ke laut. Pendalaman karakter masing-masing tokoh yang cukup sebelum adegan puncak berlangsung, memberi latar perasaan kuat yang membuat film ini enjoyable. Dan seperti Pan’s Labyrinth, ending film ini bisa happy atau sad tergantung dari dunia yang mana anda melihatnya.

Saya penggemar Sally Hawkins sejak melihatnya di film televisi Inggris produksi ITV berdasar novel Jane Austen berjudul Persuasion (2007). Sally yang tidak cantik – dan memang dituntut demikian di novelnya – bagi saya berhasil mencipta karakter Anne Elliot favorit saya. Sejak itu saya lalu menikmati kiprahnya di Happy Go Lucky, Blue Jasmin, dan yang terakhir di film Peddington beserta sequel-nya. Saya berharap dia menang Oscar di film ini hanya karena saya ngefans sama dia. Tapi sayapun sadar bahwa tahun ini kandidat terkuatnya adalah Frances McDormand di Three Billboards. Di bagian Aktor dan Aktris Pendukung, peluang Octavia Spencer masih jauh dibawah Allison Janney yang memerankan bunda sakit jiwa dalam I, Tonya, sedangkan dua nominator Aktor Pendukung di Theree Billboards masih akan bersaing diatas Richard Jenkins.

Dua jagoan saya untuk Oscar Film Terbaik adalah film ini dan Three Billboards. Film ini unggul di lebih banyak sisi teknis, sedangkan Three Billboards lebih kuat di karakter dan cerita. Keduanya sama-sama dari Skenario Asli, jadi disitupun mereka bersaing. Terkutuklah jika dari 13 nominasi yang dikantongi, film ini lalu pulang dengan tangan hampa. Maka, serupa dengan situasi La La Land jagoan saya tahun lalu, saya hanya menjagokan Oscar Sutradara Terbaik untuk Guillermo Del Toro yang berhasil mengintegrasi sekian banyak unsur teknis dan non teknis dalam The Shape Of Water ini hingga menjadi sebuah film dengan pencapaian luar biasa.

  1. THREE BILLBOARDS OUTSIDE EBBING, MISSOURI

three_billboards_outside_ebbing_missouriAlkisah di sebuah kota kecil bernama Ebbing, seorang ibu tengah habis sabar menunggu Kepala Polisi setempat menemukan pembunuh sekaligus pemerkosa anak gadisnya sejak delapan bulan lalu. Demi melihat tiga papan iklan nganggur di tepian kota, sang ibupun punya ide cemerlang menyewanya dan menulis besar-besar seruan untuk pihak Kepolisian, bahkan sampai menyebut nama sang Pimpinan, untuk menemukan si pelaku kejahatan. Tak pelak pihak Kepolisianpun kebakaran jenggot, dan seisi kota yang berisi segelintir orang itu jadi heboh. Kisah kemudian berlanjut dengan pendalaman karakter dan alur kisah linear yang berkali-kali memberi kejutan. Ending nya justru menurut saya anti klimaks, bahkan sayapun sudah bisa menduganya kala durasi film sudah menunjukkan cukup lama. Tapi di sepanjang film penonton disuguhi manuver-manuver tajam yang tak terdeteksi sebelumnya namun tetap masuk akal. Disinilah titik kuatnya film ini, yaitu cerita dan akting.

Adalah Frances McDormand sebagai sang ibu bernama Mildred, Woody Harrelson sebagai Kepala Polisi Chief Willoughby, dan Sam Rockwell sebagai anak buahnya bernama Dixon, yang menghidupkan kisah kota kecil ini jadi gemilang. Dengan mengantongi nominasi untuk Aktris Terbaik dan Aktor Pendukung Terbaik, mereka bertiga memerankan karakter sesuai dengan porsinya tanpa kehilangan kedalaman emosinya. Frances yang pernah membawa pulang Oscar Best Actress untuk aktingnya di film Fargo (1996) kemungkinan besar akan mengulang sukses tahun ini. Sedangkan pertarungan dua nominasi Aktor Pendukung Terbaik di film ini, bagi saya akan dimengani oleh Sam Rockwell yang karakternya lebih dinamis dibanding karakter Woody Harrelson.

Penonton dibuat simpati dan benci silih berganti pada tiap karakter dalam film ini. Tak ada manusia yang sempurna, semua punya dosa, hingga penonton akan kecewa jika tak membuka hati dan logika, saat tokoh yang disangka protagonis ternyata mampu melakukan tindakan sadis. Banyak amarah dalam film ini, yang tak hendak diikhlaskan hingga tumpang tindih makin bertumpuk, hingga membuat para tokoh lekas terbakar emosi dan melakukan tindakan keji. Namun pada akhirnya manusia baik akan membuka diri dan belajar dari situasi. Para tokoh utama disini bukanlah manusia jahat, hingga satu persatu dari mereka harus mulai berhadapan dengan yang namanya ikhlas.

Oscar Film Terbaik mungkin akan dianugerahkan pada Three Billboards menurut saya, meski Martin McDonagh sebagai Sutradara, Penulis dan Produser harus rela tidak dinominasikan sebagai Sutradara Terbaik di Oscar, saat Golden Globe dan BAFTA menominasikan dirinya. Jika benar menang, maka hal ini akan mengulang kejadian Argo (2012) yang meraih Oscar Film Terbaik tanpa menominasikan Ben Affleck sebagai Sutradara Terbaik. Selain itu saya juga menjagokan film ini untuk Skenario Asli Terbaik, meski Screen Writers Guild lebih memilih Get Out sebagai pemenangnya. Sampai disini, it’s still everyone’s game dalam lomba perolehan piala Oscar tahun ini.

And the Oscar goes to…

  1. Best Actress in a Leading Role: Frances McDormand in Three Billboards Outside Ebbing, Misoury
  2. Best Actress in a Supporting Role: Allison Janney in I, Tonya
  3. Best Actor in a Leading Role: Timothee Chalamet in Call Me By Your Name
  4. Best Actor in a Supporting Role: Sam Rockwell in Three Billboards Outside Ebbing, Misoury
  5. Best Animated Feature: Loving Vincent
  6. Best Cinematography: The Shape Of Water
  7. Best Costume Design: Darkest Hour
  8. Best Film Editing: The Shape Of Water
  9. Best Makeup and Hairstyling: Darkest Hour
  10. Best Original Score: Phantom Thread
  11. Best Original Song: This Is Me in The Greatest Showman
  12. Best Production Design: The Shape Of Water
  13. Best Sound Editing: Dunkirk
  14. Best Sound Mixing: Dunkirk
  15. Best Visual Effects: Star Wars: The Last Jedi
  16. Best Adapted Screenplay: Call Me By Your Name
  17. Best Original Screenplay: Three Billboards Outside Ebbing, Missouri
  18. Best Director: Guillermo del Toro in The Shape Of Water
  19. Best Picture: Three Billboards Outside Ebbing, Missouri

 

***  T A M A T  ***

 

 

Advertisements