LES MISERABLES: Kisah Kemalangan Yang Luar Biasa Indah

les_miserables_ver11Bagi orang seperti saya, Warga Negara Indonesia yang tinggal dalam negri, penggemar berat musik dari panggung musikal Broadway dan West End namun hanya bisa mimpi untuk berkunjung ke New York dan London, menunggu sebuah adaptasi karya musikal panggung ke layar lebar adalah sebuah siksaan. Sebulan sejak saya dapat info bahwa LES MISERABLES akan tayang di bioskop Indonesia, rasanya seperti seabad lamanya. Sama seperti saat saya dulu menunggu Evita, Phantom Of The Opera, Mamma Mia, Chicago  dan Nine. Dengan lagu-lagu yang sudah tak asing di telinga, beberapa bahkan hafal luar kepala, atau sengaja sudah persiapan menghafalkannya sebelum masuk bioskop, penilaian saya terhadap film-film seperti ini – saya akui – sedikit subyektif.

 

Tapi untuk LES MISERABLES ini, saya berani bilang – secara subyektif dan obyektif – bahwa film ini benar-benar BAGUS! Salah satu perbedaan yang nyata dibandingkan dengan film adaptasi musikal serupa adalah keputusan sang sutradara Tom Hooper [Academy Award Winner of Best Director for The King’s Speech] untuk melakukan shooting film dengan kondisi para aktor bernyanyi LIVE ON SET! Keputusan ini menurut saya sangat SANGAT tepat dilakukan untuk mengadaptasi drama musikal yang satu ini, meski belum pernah dilakukan pada film musikal manapun sebelumnya. Saya bahkan tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau para aktor disini tidak bernyayi LIVE saat mengiterpretasikan lagu-lagu yang butuh pendalaman emosi teramat sangat. Betapa tidak, di sepanjang film, Les Miserables mengedepankan kisah sedih yang tiada henti dari masing-masing karakternya.

 

les_miserables_ver5 les_miserables_ver4Bersetting Perancis di pertengahan abad ke-19, dengan rentang waktu lebih dari 10 tahun, film ini mengisahkan perjalanan hidup Jean Valjean [diperankan luar biasa bagusnya oleh Hugh Jackman] setelah keluar dari hukuman penjara 19 tahun lamanya hanya karena mencuri roti dengan alasan kelaparan. Adalah Javert [diperankan oleh Russel Crowe dengan suara yang – menurut saya pribadi – tak seragam dengan aktor lainnya di film ini], seorang polisi yang pantang menyerah mencari Jean Valjean lantaran dilaporkan telah melarikan diri dari masa percobaan luar tahanan. Hidup kedua karakter utama ini tak pernah tenang sepanjang masa, bagai kucing dan tikus seumur hidup mereka.

 

les_miserables_ver6Tentu bukan mereka berdua saja yang menderita di film Les Miserables ini, yang kalau judulnya diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia kira-kira menjadi “Orang-Orang Yang Menderita”. Ada Fantine [diperankan Anne Hathaway yang rela kehilangan rambut indahnya] yang cantik tapi miskin, terpaksa jadi pelacur karena butuh uang untuk menghidupi anaknya yang masih kecil dan ditinggal raib oleh pria yang menghamilinya. Ada cinta segitiga antara Cosette, Marius dan Eponine. Cosette yang kehilangan masa kecilnya, Marius yang hampir mati di medan laga, dan Eponine yang cintanya pada Marius bertepuk sebelah tangan. Amanda Syfried sebagai Cosette dewasa ternyata punya suara sopran yang indah. Saya tak menyangka demikian, karena saat dia bermain di Mamma Mia, suara melengking itu tak terdengar diantara lagu-lagu ABBA yang hingar bingar.

 

les_miserables_ver7Namun tak dapat disangkal bahwa bintangnya bintang dari film ini adalah Anne Hathaway saat dia menyanyikan lagu “I Dreamed A Dream”. Dilantunkan dengan suara aslinya yang LIVE, ditayangkan dengan tanpa edit apapun sepanjang lagu, diperankan dengan emosi teramat dalam dilengkapi tangis yang menghisap kalbu siapapun, saya tak bisa menghindar dari sesenggukan yang mencekik dada saat menontonnya. Suasana di bioskop seketika senyap, seolah-olah semua penonton menahan nafas. Saya tidak membesar-besarkan penggambaran suasana ini, karena bisa saya jelaskan secara logis. Ini adalah film musikal, yang hampir sepanjang film dipenuhi kemegahan orkestra yang mengiringinya. Sebelum Fantine menyanyikan lagu ini, lagu sebelumnya cukup hingar bingar [judulnya “Lovely Ladies”], lalu langsung berlanjut dengan lagu “I Dreamed A Dream” ini yang diawali secara acapella. Barulah kemudian iringan orkestra masuk, dari sayup hingga sedikit kencang tanpa melampaui suara Anne Hathaway yang dengan tangis lantangnya membawa emosi penonton pada puncaknya. Hebat, bukan?

 

Karya panggung musikalnya sendiri adalah adaptasi dari novel Perancis berjudul sama karangan Victor Hugo di tahun 1862. Diangkat menjadi drama panggung musikal pertama kali dalam bahasa Perancis di Paris tahun 1980, kemudian dibuat versi bahasa Inggrisnya yang dihelat di West End, London tahun 1985, lalu di Broadway, New York tahun 1987. Les Miserables tercatat sebagai salah satu drama panggung musikal dengan masa tayang terlama sepanjang masa, baik di West End maupun di Broadway, sehingga tak heran kalau mengadaptasikannya ke layar lebar merupakan beban berat bagi semua pihak terkait di film ini. Penggemar versi panggungnya pasti akan membandingkan pengalaman menonton mereka di bioskop dengan di gedung opera, dan menurut saya – sekali lagi – keputusan teknis film ini untuk bernyanyi LIVE ON SET sangat menentukan keberhasilannya. Ditambah dengan banyaknya tampilan CLOSE-UP yang menyorot amat dekat wajah para aktornya, membuat kita hanyut dalam emosi yang ditampakkan tiap karakternya. Hasil akhirnya adalah, bahwa semua aspek dalam film ini terekam sangat menawan, dan penggemar setianya tidak kecewa. Buktinya, Les Miserables berhasil masuk dalam jajaran Box Office saat pemutaran perdananya di Inggris dan Amerika pada bulan Desember 2012.

 

amanda-seyfried-eddie-redmayne-les-miserables-photo - SMALLNamun demikian, kalau boleh saya sarankan bagi calon penonton yang tidak terbiasa dengan film musikal, bersiaplah untuk “menyesuaikan diri” selama durasi tayang film yang amat panjang, yaitu dua setengah jam. Di sepanjang film, semua dialog dilantunkan dalam nyanyian. Tak sedikitpun ada komunikasi normal tanpa nada yang dilakukan para pemainnya. Istilahnya dalam bahasa Inggis, it’s a “sung-through” musical. Saya memberi peringatan ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi justru saya mengajak membuka diri untuk sebuah pengalaman menonton yang baru. Beberapa resensi film ini di Amerika menyatakan bahwa penonton akan tetap bisa menikmati keseluruhan film ini meski mereka bukan penggemar film musikal. Jadi, tak ada salahnya mencoba. Lagipula pepatah mengatakan, musik adalah bahasa dunia, bukankah demikian?

 

Selamat menikmati indahnya kisah tentang kemalangan.