La La Land: Revolutionary By Being Traditionalist

c0xx3k0Film ini jauh dari orisinil. Bagi penggemar akut film musikal macam saya, tidak butuh waktu lama saat nonton untuk sadar, bahwa film bernuansa jazz ini sarat akan “remake” dari puluhan film yang sebelumnya ada. Pertanyaannya adalah: apakah saya membencinya? Oh, tentu tidak!! Saya bahkan bahagia tak terkira. Pertanyaan selanjutnya: apakah Hollywood mencacinya? Sama sekali tidak!! Bahkan, the whole movie industry embraces it. Tujuh Golden Globes pun disabet habis. Kesimpulannya: orisinil tak lagi penting kala sebuah karya seni dibuat dengan penuh kesungguhan dan disajikan dalam konteks kekinian.

Adalah Swing Time, Shall We Dance, Singing In The Rain, An American In Paris, Funny Face, dan sederet panjang film klasik singing-and-dancing lainnya – sejak era film hitam putih hingga masa teknologi warna Technicolor ditemukan dalam industri perfilman Hollywood – yang dijadikan rujukan dalam membuat film ini. Sang Sutradara pun terang terangan, bahkan konsisten, menerapkan konsep film musikal klasik sebagai nyawa penggeraknya. Saat film ini dimulai, dari detik pertama pun sudah terasa nuansa klasiknya. “Presented in CinemaScope” terpampang di layar lebar, yang bagi saya penggemar film Hollywood klasik di Indonesia hanya bisa mimpi melihat tulisan itu di bioskop sini di masa hidup saya. CinemaScope berhenti digunakan di tahun 1967. Dan film ini pun diakhiri dengan tulisan “The End” berhuruf latin yang menghilang pelan-pelan dalam lingkaran mengecil berwarna hitam. Sungguh old school nan jadul film ini.

photogrid_1484469122345Kisahnya pun – meski dibalut modernisasi dan tambahan muatan emosi – sebenarnya tak jauh dari tema klasik. Boy and girl meet, benci pada awalnya, lalu cinta di akhirnya. Kisah cinta yang seklasik AADC kalau di Indonesia. Cemen? Silakan berpendapat demikian. Bosankah kita? Ternyata tidak juga. Tidak di Amerika karena film ini sukses meraup dollar maupun prestasi, dan tidak pula di Indonesa yang mana AADC 2 terbukti masih dibanjiri penonton seantero nusantara. Jadi, salahkah kalau sebuah karya seni dibilang tidak orisinil tapi berhasil? Seperti banyak hal dalam hidup kita, tak ada yang pasti selain matematika. Di dunia perfilman, tidak ada rumus 1+1=2. Dalam hal ini, “tidak orisinil” ditambah “kisah cemen”, ternyata tidak sama dengan “film jelek”.

SANG PEMIMPI

gallery-item04Mia bermimpi jadi aktris. Sebastian atau Seb bermimpi punya jazz night club. Masing-masing berusaha menggapai mimpi di kota La La Land, alias Los Angeles. Tak saling kenal, mereka beberapa kali bertemu tak sengaja, namun selalu saling benci. Keduanya mulai saling suka sejak bernyanyi tengkar dan berduel tap dance dalam lagu “A Lovely Night”. Tips menikmati film musikal: jangan tanya soal masuk akal atau tidaknya sebuah adegan tari dan nyanyi. Itu sudah hukum alam. Terima saja kenyataan bahwa mereka bisa saling suka melalui pertengkaran dalam lagu, lalu sekonyong-konyong menari tap dance berdua di pinggir jalan, bahkan si Mia pun sudah menyiapkan sepatu khusus tap dance di dalam tasnya. Mari kita sepakati saja bahwa “malam nan indah” yang tercipta pada saat itu, turut menumbuhkan benih-benih cinta diantara mereka berdua. Lagunya keren, tarian merekapun bagus. Luar biasa? Tidak juga.

Koreografi dan lagu-lagu dalam film ini sangat “disesuaikan” dengan kemampuan kedua aktor ternama para pemeran utamanya. Jelekkah? Sama sekali tidak! Baik Ryan Gosling maupun Emma Stone yang sama-sama bukan penari dan penyanyi profesional, berhasil melaksanakan tugas musikal dan tari-menari mereka dengan baik. Bahkan konon Ryan Gosling yang bukan pianis, musti kursus kilat belajar piano untuk melakoni perannya disini. Tapi bagaimanapun juga, mereka bukanlah pasangan legendaris Fred Astaire dan Ginger Roberts yang berjaya dengan tarian tap dance dan ballroom dance keahlian mereka, membintangi sepuluh film musikal bersama di masa film masih hitam putih. Atau, mereka bukan pula pasangan Gene Kelly dan Leslie Caron yang mampu menari semi ballet di film An American In Paris yang sudah mulai berwarna. Apakah Ryan dan Emma harus sebagus mereka? Tentu tidak! Yang dibutuhkan oleh Hollywood masa kini dalam sebuah film musikal, adalah aktor yang bisa tari dan nyanyi, bukan penari yang bisa akting.

gallery-item07Hasilnya akhirnya, luar biasa! Mari kita nikmati akting kedua pemeran utama ini. Ryan Gosling patut diacungi jempol atas usaha tari, nyanyi dan pianonya. Tidak mudah bermain piano – apalagi jazz piano – dan tampak meyakinkan selayaknya profesional. Sedangkan Emma Stone sunggung memesona dengan mata beloknya yang “otomatis basah” saat dibutuhkan, baik itu saat karakternya memang sedang sedih, maupun saat dia harus “pura-pura akting” dalam beberapa kali adegan audisi. Dan sebagai pasangan, mereka berdua sangat meyakinkan. Skenario yang bagus membuat penonton tak sadar akan dibawa kemana arah dialog mereka, dan keduanyapun mampu menghadirkan impact yang luar biasa tanpa harus melakukan dramatisasi yang berlebihan terhadap adegan yang dimainkan. Bagi penonton yang level sensitifitas di hatinya “menengah” saja, menurut saya dialog sederhana ditambah ekspresi wajah pasangan kekasih ini cukuplah pemicu untuk meneteskan air mata. Apalagi buat yang sensitifitas hatinya tinggi, bersiaplah untuk menangis selama lima belas menit terakhir film ini. Sad ending kah? Bagi saya, menangis kala nonton film tak harus karena sad ending. Jadi, silakan ditonton sendiri. Saya menghindari spoiler alert disini.

MERAIH MIMPI

gallery-item06Dalam sebuah dialog, teman Sebastian yang diperankan oleh John Legend memberi kritik yang bagi Seb terasa bagai tertusuk sembilu mendengarnya. Diceritakan bahwa Seb adalah seorang musisi jazz yang sangat menjunjung tinggi musisi jazz klasik beserta hasil karya mereka. Lalu temannya mengkritik seperti ini: “How can you be a revolutionary, if you’re such a traditionalist? You hold on to the past, but jazz is about the future!” Kritik ini terdengar membangun dan sempat mengubah arah hidup Sam, menjauhkannya dari idealisme diri sendiri, dan mulai merintis sukses secara material dengan merubah aliran musik yang dimainkannya agar lebih “menjual”. Dia rela melakukan pengorbanan ini demi Mia yang dicintainya, agar mereka punya banyak uang dan bisa menikah untuk membangun rumah tangga. Menurutnya, “melepas mimpi” adalah cara untuk menjadi dewasa dan mulai mengambil tanggung jawab hidup, untuk bisa mandiri, dan tak lagi bergantung pada bantuan finansial dari orang tua dan kakaknya yang mulai merongrong hidup Seb dengan perjodohan yang tak diinginkan. Terkadang idealisme harus dikorbankan untuk bisa melanjutkan hidup pada “tahapan berikutnya”.

Terlepas dari apa yang akan menjadi akhir cerita bagi Seb, secara realita film ini merupakan bukti yang menentang kritik tersebut. Film ini sungguh sangat tradisional dan tidak orisinil sampai ke setiap detil, terutama di bagian tari dan lagu. Meski jelas-jelas “hold on to the past” di saat semua film box office saling berlomba untuk lebih futuristik dengan teknologi tercanggih, film ini sungguh amat revolusioner justru lewat keberhasilannya melakukan rekonstruksi film klasik yang hampir seabad tak pernah lagi diangkat. Berbeda dengan film musikal masa kini lainnya seperti Les Miserables, Dream Girls, bahkan Moulin Rouge dan yang terbaru Into The Woods yang semuanya juga mendapat sambutan positif, La La Land membawa cerita kekinian, problem yang membumi dialami manusia berusia produktif jaman sekarang, dalam kemasan klasik yang terasa baru walau aslinya kuno. Kalau konteksnya makanan, film ini adalah ramuan bahan sayur daging yang tersedia di supermarket, dibuat  dalam resep tradisional, menggunakan alat masak modern, yang hasilnya untuk lidah masa kini terasa lezat dan inovatif, sangking lamanya resep itu tidak pernah dibuat. Pertanyaannya: apa kita mau nambah? Kita lihat saja nanti, apakah ada film serupa yang mengikuti.

2400Di akhir cerita, Seb dan Mia pun menjalani apa yang mereka sebut sebagai “dewasa”. Ada tulisan “musim” di sepanjang film, yang jika diperhatikan bukanlah penunjuk periode waktu, atau bukan pula informasi perubahan cuaca yang sedang terjadi di LA. Musim-musim itu menunjukkan kondisi hidup dan hati kedua tokoh utama. Dimulai dengan Winter kala mereka sedang gagal meraih mimpi, Spring kala cinta bersemi, Summer saat mereka bersama, Fall saat mereka berantem, dan diakhiri dengan musim yang tak akan saya jadikan spoiler alert disini, karena musim terakhir akan berada setelah kurun waktu lima tahun berlalu.  Dalam periode setengah dekade itu, kehidupan tak lagi sama. Keduanya sama-sama berada pada “tahapan berikutnya” dalam hidup mereka. Jika mimpi tercapai, itu adalah buah dari usaha mereka. Dan jikapun tidak, salah satu kunci menjadi dewasa adalah melepas ikhlas yang kini dimiliki, berharap suatu saat mimpi akan menemukan caranya sendiri untuk dicapai.

Uniknya dalam film ini, ada porsi Epilogue di akhir film yang menutur ulang alur alternatif dari semua kejadian, sejak awal pertemuan Seb dan Mia hingga akhir dimana kini mereka berada. Diiringi ilustrasi musik yang indah tiada tara bagi telinga saya, tak ada pilihan selain keluar dari bioskop dengan mata sembab dan senyum dikulum, serta musik dan lagu yang terngiang selalu.

*** THE END ***

Advertisements