CALL ME BY YOUR NAME: Antara Novel dan Filmnya, Tentang Parenting dan Cinta Pertama

Call Me By Your Name-001xAlkisah, saya sedang me-review sembilan film nominator Best Picture untuk Oscar 2018 yang berulang tahun ke 90 tahun ini. Maka, bertemulah saya dengan film penuh perasaan ini. Serupa tahun lalu kala saya terobsesi dengan La La Land, tahun ini Call Me By Your Name menyentuh lubuk hati saya. Meski sadar bahwa film kecil nan sederhana ini tak akan menang melawan nominator besar pesaingnya – beda dengan La La Land yang saya mati-matian ngejagoin – saya tak peduli. Yang saya serap dari film ini melekat erat bagai tak mau lepas dari benak dan hati, sembari berharap saya tak akan lupa hingga tua nanti. Menang satu Oscar dari Skenario Adaptasi Terbaik untuk James Ivory yang sudah sepuh, maka novelnyapun tak luput dari perhatian saya. Di usia saya yang tak lagi muda, beristri wanita luar biasa, beranak tunggal tumpuan harap di masa depan – komposisi yang sama dengan keluarga Perlman di kisah ini – Call Me By Your Name memberi mimpi indah keluarga pintar dengan nilai cinta dan moral ideal, terutama dalam hubungan anak dengan orang tuanya.

Call Me By Your Name-002Memang, film ini punya muatan homoseksual yang biasanya tak disuka di ranah keluarga, serta bakal pasti menuai kontroversi jika diputar di bioskop negri ini. Tapi saya toh bukan Tuhan, yang Maha Tahu masa depan, yang Maha Penentu segala pahala dan dosa. Anak saya masih di sekolah dasar, Insyaa Allah masa depannya masih terbentang luas di depan sana. Mau jadi apa dia, tak tahulah saya. Yang saya tahu hanyalah keinginan untuk selalu ada di sampingnya sepanjang hidup saya, berbicara dengan dia, mencintainya. Nilai moral dan religi sejak dini pastinya adalah kurikulum wajib semua orang tua, tapi kita bukanlah Yang Maha Kuasa. Film ini menawarkan kedekatan dan cinta luar biasa dari orang tua kepada anaknya, tanpa konflik, tanpa drama. Saya sampai tak sabar rasanya menunggu anak saya dewasa, lalu berbincang dari hati ke hati dengannya, mengerti perasaannya, menenangkannya, menasihatinya berbekal pengalaman hidup saya sebagai manusia.

 

CINTA PERTAMA

Call Me By Your Name-005Tersebutlah seorang remaja pria 17 tahun bernama Elio Perlman, anak semata wayang nan cerdas pandai seperti ayahnya yang Professor Arkeologi. Setiap tahun selama liburan musim panas, Sang Ayah selalu mengundang seorang mahasiswa S2 untuk magang di rumahnya, somewhere in Northern Italy, begitu yang tertulis di layar film. Nama kota tidak disebut, mengingat di novelnyapun daerah-daerah di sekitar rumah itu hanya tertulis sebagai “B.” dan “N.”, hingga konon Sang Sutradara yang asal Italia Luca Guadagnino  menentukan kota Crema – kota kecil nan cantik tempat tinggalnya – sebagai lokasi syuting film ini. Pada musim panas tahun 1983, terpilihlah seorang mahasiswa pria usia 25 asal Amerika bernama Oliver untuk tinggal selama enam minggu di rumah keluarga Perlman. Minggu demi minggu berlalu, pertemanan Elio dan Oliver pun berevolusi sesuai tuntutan hati dan kedewasaan usia mereka masing-masing.

Elio yang masih muda meski cerdas pandai, tetap saja buta tentang apa yang dirasa hatinya dan apa yang musti diperbuatnya. Sedangkan Oliver yang lebih senior, yang sudah makan asam garamnya cinta dan melek situasi, selalu hati-hati dalam menjalin kedekatan dengan Elio. Masa eksperimental seorang remaja Elio menjadi prioritas sepanjang film, baik secara perasaan maupun fisik. Bermain-main dengan cinta pada umumnya, mendekati gadis dan menciumnya, mencoba seks dengannya, menikmati masturbasi, semua diberi porsi visualisasi yang cukup tanpa kesan murahan. Tapi bagaimanapun juga, beberapa adegan disini tergolong sebagai pornografi, yang mana Lembaga Sensor Film akan dengan senang hati memangkas habis kalau sampai edar di bioskop Indonesia.

Call Me By Your Name-006Tak banyak dialog yang terucap untuk menunjukkan tahapan afeksi diantara Elio dan Oliver. Maka, film ini sangat bergantung pada kemampuan akting para aktornya, terutama pada Timothee Chalamet yang memerankan Elio, dan Armie Hammer yang memerankan Oliver. Salahkan novelnya yang memilih narasi sudut pandang orang pertama yaitu hanya dari Elio seorang, dan diperparah dengan nuansa nostalgia yang melingkupinya. Hal ini jadi memperbanyak porsi narasi hati Elio ketimbang dialognya dengan orang lain, padahal film ini mengharamkan penambahan narasi apapun diluar dialog para karakternya. Bayangkan saja film Ada Apa Dengan Cinta (2002), tapi dikisahkan hanya dari sudut pandang Rangga saja tanpa narasi puisi yang dia rasa untuk Cinta. Alhasil, film ini terasa lambat dan butuh usaha ekstra untuk memahami situasi hati yang dialami para karakternya. Tapi jangan khawatir, kelambatan alur itu justru berkontribusi tinggi dalam menyajikan kesan realistis dari sebuah cinta pertama, yang pada akhirnya mampu mencipta bangunan emosi para penontonnya.

Call Me By Your Name-004Film ini sejatinya amat sederhana, sedikit beda dengan novelnya yang memunculkan karakter-karakter tambahan untuk proses pendewasaan Elio. Mungkin kita bisa berharap menikmati kisahnya nanti  di sequel filmnya yang kabarnya sudah santer akan dibuat. Porsi yang dihilangkan dari novelnya di film ini adalah semalam sebelum perpisahan Elio dan Oliver, serta kejadian selama dua puluh tahun berikutnya. Sedangkan porsi yang ada di film ini hanyalah tentang cinta pertama, itu saja. Sesederhana AADC misalnya, namun tanpa hiruk pikuk tawuran dan aksi kejar-kejaran. Cukup perasaan Rangga dan Cinta saja, yang dituangkan dalam durasi dua jam, dengan lokasi di sebuah desa terpencil di Jogja, misalnya. Tak ada karakter antagonis disini, tidak pula isu LGBT dan HIV yang marak di era 80-an diangkat untuk mencipta drama konflik melawan norma sekitar atau kepercayaan mereka, meski dikisahkan bahwa Keluarga Perlman adalah penganut agama Yahudi. Yang jahat hanya waktu, yang hanya enam minggu, yang setengahnya terbuang percuma karena ketakutan mereka sendiri. Takut mengungkap cinta karena prasangka – persis Rangga dan Cinta – dan takut atas kondisi homoseksual yang tetap harus jadi rahasia.

Meski tak sama dengan novelnya, ending film ini konon dinilai lebih bagus daripada bukunya, sebagaimana diakui sendiri oleh Sang Penulis, Andre Aciman. Dan adegan paling akhir dalam film ini sungguh menghantui, sampai-sampai saya menjagokan Timothee Chalamet sebagai pemenang Oscar Aktor Terbaik, meski kemudian ternyata kalah. Demi mendengar kabar dari Oliver sendiri via telpon dari Amerika pada suatu hari di musim dingin, bahwa dia akan menikah dua musim yang akan datang, Elio spontan memberi selamat buat Oliver, demikian juga Bapak Ibu Perlman. Tak lama seusai obrolan telpon tersebut, Elio berjalan santai menuju perapian dan jongkok didepannya untuk menghangatkan badan. Kamera kemudian menyorot close-up wajah Elio yang sedang memandang api. Evolusi ekspresi bisu Elio yang tersaji di layar selama empat menit itu sungguh powerful. Air matanya pun berlinang bersamaan dengan air mata saya yang tak mampu menahan rasa.

 

PARENTING

Call Me By Your Name-007Sepanjang saya menonton kisah Elio dan Oliver sejak mereka bertemu hingga berpisah, saya bisa turut merasakan naik turunnya emosi sepasang kekasih ini. Pertama, karena filmnya memang bagus, dari skenario menyayat hati, cinematography yang memukau mata, hingga musik dan lagu yang menusuk kalbu. Kedua, karena saya tak lagi muda. Saya pernah hidup di tahun 80-an, pernah mengalami cinta pertama, dan patah hati kala saya ditinggal kawin oleh pacar saya dengan lelaki lain. Tak pelak lagi, film ini menjadi sebuah nostalgia rasa yang mengingatkan saya pada masa-masa pendewasaan diri. Cinta tak harus memiliki, dan film ini memang sesederhana istilah umumnya itu. Sampai disini saya sudah merasa puas. Film ini untuk semua orang yang pernah jatuh cinta dan ditinggal cinta, tak peduli orientasi seksualnya. Film yang bagus, pikir saya sambil siap-siap menjelang akhir film. Tapi ternyata cerita tak berhenti. Bagian akhir kisah ini menaikkan derajat film jauh lebih tinggi dari sebelumnya.

Dikisahkan Elio mengantar Oliver ke luar kota untuk urusan universitas, sekalian jalan-jalan beberapa hari bersama Oliver hingga dia pulang ke Amerika. Kepergian mereka adalah ide Ayah dan Ibu Elio untuk mengisi liburan Sang Anak beserta temannya, bahkan di novel tertera bahwa Sang Ayahlah yang membiayai hotel untuk mereka. Setelah berpisah di stasiun kereta api, Elio minta dijemput pulang oleh ibunya. Mendapati Elio menangis disampingnya, sambil setir mobil Sang Ibu hanya bisa mengelus rambutnya, tanda turut sedih dan mengerti kondisi hati Sang Anak. Malam harinya, Elio menemui ayahnya di ruang kerja beliau. Sang Ayahpun menyambut dengan senyum lebar. Diawali dengan dialog ringan seputar kabar Elio selama liburan berdua bersama Oliver, Eliopun menjawab singkat dengan senyum terpaksa. Dialog kemudian berlanjut dengan keterbukaan Elio dan nasihat hebat dari Sang Ayah, diantaranya tentang cinta dan bagaimana menghadapi patah hati.

PhotoGrid_1520931028440Rasa yang kalian berdua miliki itu langka, kata Sang Ayah, tidak semua orang pernah punya. Ayahpun hampir memiliki rasa itu, tapi tak pernah tercapai. Selalu saja ada yang menghadang di hati, atau Ayah biarkan berlalu. Kalau sekarang rasa itu bikin kamu sedih, perih, jangan dipaksa hilang. Karena bersama itu, sejatinya ada bahagia yang kamu rasa.

Itu hanya sepenggal saja dari monologue lima menit yang dinasihatkan Sang Ayah untuk anaknya. Dilengkapi nasihat lain tentang filosofi kehidupan, masa lalu Sang Ayah, serta  keinginan beliau untuk selalu ada buat anaknya, narasi bijaksana itu sungguh luar biasa. Di novelnya ada kalimat yang tidak disertakan dalam adegan tersebut namun sangat berarti buat saya. Akan saya tulis disini, berharap suatu hari nanti anak saya akan baca, supaya dia mengerti keinginan saya untuk selalu bicara dengannya.

“I will have been a terrible father if, one day, you’d want to speak to me and felt that the door was shut, or not sufficiently open.”

maxresdefault (2)

***  T  A  M  A T  ***

Advertisements