BEAUTY AND THE BEAST: Reuni Perak Dengan Animasi Disney Terbaik

eu_batb_flex-hero_header_r_430eac8d

Alkisah, seperempat abad silam, saya jatuh sakit. Demam biasa. Penyebabnya yang tidak biasa, yaitu hanya karena kecewa film kartun “Beauty And The Beast” mundur tayang di bioskop Surabaya. Pada masa itu distribusi film belum secepat masa kini. Antisipasi saya waktu itu sungguh setinggi langit menanti kehadiran film bersejarah ini, yaitu film animasi pertama yang berhasil menduduki nominasi Film Terbaik di ajang Oscar, meski kalah oleh “The Silence Of The Lambs” pada akhirnya. Setelah menontonnya – dan berulang kali setelahnya – tak pelak film musikal itu singgah di hati saya selamanya. Saya masih hafal semua lagunya, dan ingat hampir semua adegannya.

Dan kini, Disney membuat ulang film itu dengan media live action. Teknologi canggih perfilman masa kini memungkinkan hal ini. Antisipasi saya muncul lagi sebulan belakangan, dan makin kuat menuju tanggal tayang. Ekspektasi saya pun tinggi luar biasa. Film ini harus bagus, nggak boleh jelek, pikir saya. Lalu, setelah nonton, kecewakah saya? Alhamdulillah, tidak! Tapi sempurnakah film ini? Siapapun yang mencintai film kartun aslinya setinggi langit seperti saya, pasti akan membandingkan keduanya. Dan hasilnya, pastilah tidak sempurna.

THE MUSICAL IS BACK!

Saya senang dengan masa kini, dimana Hollywood sudah merangkul kembali film musikal yang sempat boleh dibilang “hilang pamor” di era 70 hingga 90 an. “Oliver!” adalah film musikal terakhir di abad ke-20 yang berhasil meraih gelar Film Terbaik Oscar di tahun 1968. Setelah itu barulah lambat laun film musikal unjuk gigi. Di tahun 2001 muncul “Moulin Rouge!” yang masuk nominasi Film Terbaik Oscar namun gagal menang. Kemudian diikuti “Chicago” yang berhasil menggondol Film Terbaik Oscar 2002. Film musikal pun terus diproduksi meski tak semua berhasil menjebol Oscar. Ada “Phantom Of The Opera” di tahun 2004, “Dreamgirls” di 2006, “Mammamia!” di 2008, dan seterusnya. “The Musical Is Back!” bahkan menjadi tagline perhelatan Oscar 2009 saat Hugh Jackman menjadi host dan bersama Beyonce menyanyikannya lantang dalam penampilan medley film-film musikal ternama diatas panggung. Film musikal sedang berjaya hingga tahun ini – terbukti “La La Land” mengukir sejarah nominasi Oscar terbanyak sepanjang masa – dan kemungkinan besar akan tetap berjaya di tahun mendatang dengan kemunculan “Beauty And The Beast” ini.

PhotoGrid_1490243411520Dalam kebanyakan film musikal Hollywood di abad ke-21, para aktor tidak harus memiliki suara indah sempurna. Yang penting mereka bisa nyanyi, lebih penting bisa akting, dan paling penting mereka ternama. Maka muncullah Nicole Kidman dan Ewan McGregor di “Moulin Rouge!”, lalu Meryl Streep dan Pierce Brosnan di “Mammamia!”, lalu Emma Stone dan Ryan Gosling di “La La Land”, dan tak luput dari metode ini adalah Emma Watson dan Dan Stevens dalam “Beauty And The Beast”. Tapi mohon digarisbawahi, saya disini tidak menilai penampilan mereka jelek. Sama sekali tidak! Sejak pertama kali saya mendengar suara Emma Watson melantunkan lagu “Belle/Bonjour”, saya langsung maklum dengan kenyataan bahwa suaranya tak seindah Paige O’Hara, sang pengisi suara Belle di versi animasi. Bagaimanapun, saya tetap menikmati Emma Watson, sebagaimana saya juga menyukai acting/singing dari Nicole Kidman, Meryl Streep dan Emma Stone di film-film musikal mereka.

Saya juga tidak akan membandingkan satu per satu suara aktor ternama pemeran masing-masing karakter dalam film ini dengan pengisi suara versi animasinya, karena memang keduanya tak layak banding. Kedua versi film ini dibuat menggunakan media berbeda dengan kebutuhan yang beda pula. Misalnya, pemeran Belle di versi live action ini haruslah cantik jelita luar biasa dan terkenal seantero dunia demi memuaskan ekspektasi penonton yang sudah terlanjur cinta pada Belle versi animasi. Maka pilihan tepat sasaran jatuhlah pada Emma Watson. Dan saya pun jatuh cinta sekali lagi pada Belle di versi terbaru ini.

CERITA DAN PENDALAMAN KARAKTER

Salah satu yang mandatori dalam menerjemahkan film kartun menjadi live action adalah cerita dan adegan yang believable. Tidak seperti animasi yang disana-sini bisa bebas bermain fantasi dan menyingkat pendalaman karakter, versi live action harus bisa menanam alasan dan latar belakang lebih kuat agar penonton terbawa sempurna emosinya. Disinilah alasan Disney membuat film “Cinderella” yang jauh beda dari versi kartun klasiknya, dan film “Maleficent” yang harus dirombak sudut pandangnya dari kisah klasik “Sleeping Beauty”. Beruntung film “Beauty And The Beast” tidak sedrastis itu penyesuaiannya. Materi dasar film ini memang sudah solid sejak awal. Namun demikian beberapa tambahan cerita dan pendalaman karakter tetap dicipta demi meningkatkan kualitas drama didalamnya. Saya akan analisa beberapa diantaranya, dan peringatan buat yang anti spoiler, this is SPOILER ALERT!!

PhotoGrid_1490242056104Dahulu kala – yang mana di film ini artinya pertengahan abad ke-19 – hiduplah seorang piatu bernama Belle dengan ayahnya, Maurice, di sebuah desa kecil di jantung negeri Perancis. Hubungan Belle dan ayahnya ini amat dekat, penuh cinta. Di versi animasi, Maurice adalah seorang ahli mesin, kreatif dalam mencipta alat-alat aplikatif, karakternya linglung dan seringkali jadi bahan bully-an orang sedesa. Di versi baru Maurice adalah seniman, pelukis dan pembuat pernak-pernik romantis seperti music box. Jadi, jangan harap ada adegan banyolan yang sama dengan versi animasi. Belle dan Mourice disini lebih melankoli, dan di akhir kisah akan lebih dramatis dengan impact haru-biru yang dalam. Pertanyaannya, dimanakah ibunda Belle? Di versi animasi tidak disebut sedikitpun tentang Sang Bunda yang telah meninggal dunia, namun di versi ini akan muncul kisahnya. Ini penting untuk menggali kedalaman emosi dalam keluarga mereka. Kevin Kline sebagai Maurice bermain luar biasa indah. Anak perempuan akan senang punya ayah seperti Maurice versi Kevin Kline ini.

Tersebutlah seorang pria tegap berwajah tampan berhati jahat bernama Gaston yang tinggal di desa yang sama. Sahabatnya – atau lebih tepatnya side kick-nya – bernama Lefou sangatlah setia menemani Gaston kemana saja dan rela melakukan apa saja untuk Gaston, meski dia dipandang rendah olehnya. Disinilah kontroversi mencuat, karena Disney memutuskan untuk memberi identitas tambahan bagi Lefou sebagai seorang homoseksual yang tertarik pada – atau bahkan mencintai – Gaston. Dari sudut pandang cerita, keputusan ini masuk akal karena jatuh cinta – atau setidaknya jatuh suka – adalah alasan kuat bagi seseorang untuk memperbudak diri sendiri demi orang lain. Versi animasi tak harus menampilkan alasan ini, karena cukup dengan adegan konyol saja akan menampakkan bahwa bodoh merupakan alasan dan karakter dasar si Lefou. Versi live action butuh lebih karena Disney tidak mau terjebak dalam penggambaran karakter yang terlalu kartunis.

Pertanyaannya adalah: bijaksanakah keputusan ini? Tergantung seberapa besar toleransi kita pada komunitas minoritas ini. Kondisi di setiap negara berbeda. Rusia dan Malaysia dikabarkan mencekal, dan bahkan di Amerika pun konon di negara bagian Alabama ada bioskop yang menolak penayangan film ini. Indonesia hanya meningkatkan batas usia penonton menjadi 13 tahun keatas tanpa memotong adegannya. Mengingat ini tayangan keluarga, Disney pun tidak vulgar menampakkan adegan para karekter gay di film ini. Seingat saya hanya ada dua atau tiga adegan, masing-masing hanya dalam durasi detik, dan semua ditayangkan sebagai bahan komedi fisik. Menurut saya tidak berbahaya, namun sebagai orangtua kita musti siap jika sang anak bertanya, tak hanya di film ini, namun di semua film Hollywood yang sedikit atau banyak memasukkan karakter homoseksual didalamnya.

PhotoGrid_1490242134853Luke Evans sebagai Gaston dan Josh Gad sebagai Lefou tampil memesona baik dalam segi akting maupun suara. Luke Evans adalah mantan aktor musikal West End – setara Broadway di New York yang berlokasi di London – dan Josh Gad berlatar belakang musikal Broadway, sehingga kemampuan vokal mereka tak diragukan lagi. Gaston dalam versi live action digambarkan manis di awal dan bengis di akhir. Kita dibuat kasihan pada Gaston yang ditolak lamarannya oleh Belle, dan lalu membencinya saat dia akan membunuh Beast. Perjalanan karakternya mengalir mulus. Ini lebih masuk akal ketimbang versi animasi yang sejak awal memperlihatkan Gaston yang jahat lewat adegan kartunis melempar dan menampar Lefou seenaknya. Bayangkan betapa anehnya jika adegan itu diterjemahkan secara percis sama dalam versi live action.

FANTASI DAN LAGU

Istana adalah tempat semua fantasi dihidupkan dan special effect dipamerkan. Alkisah, Pangeran Beast beserta semua abdi dalem nya berubah wujud menjadi manusia binatang dan manusia benda, akibat perilaku buruk Sang Pangeran kepada seorang Peri yang menyamar sebagai nenek buruk rupa. Meski kedua film sama-sama diawali dengan narasi prologue latar belakang dongeng, versi live action memberi tambahan materi cerita beserta visualisasinya. Sungguh indah sekaligus mencekam. Sebuah pembuka film yang memukau!

PhotoGrid_1490242386249Dan Stevens sebagai Beast musti rela wajah dan badannya tertutup bulu sepanjang film, namun aktingnya cukup memuaskan. Digitalisasi sang Beast meski banyak dikritik tidak sempurna, bagi saya samasekali tidak mengganggu. Kita bisa melihat ekspresi marah, takut dan jatuh cinta dengan jelas dari raut muka. Beast dalam versi ini juga diberi tambahan muatan emosi. Satu lagu baru bertajuk “Evermore” dicipta khusus bagi sang Beast untuk mengungkap rasa cintanya pada Belle saat dia dibebaskan pergi dari Istana untuk menolong ayahnya. Bagi saya lagu ini indah luar biasa, hingga tak terasa menitikkan air mata. Sekali lagi, jangan bandingkan suara Dan Stevens dengan misalnya Hugh Jackman yang seorang penyanyi Broadway profesional. Jauh kualitasnya, namun tak kalah bagus dalam penghayatannya. Josh Groban pun kemudian dipilih melantunkan lagu ini untuk versi credit title-nya.

PhotoGrid_1490242325052Para abdi dalem sangatlah memukau dan menarik perhatian. Betapa tidak, tak satu aktorpun yang tidak ternama dipilih untuk memerankannya. Ada Ewan McGregor dan Ian McKellen yang tak perlu dikenalkan lagi, berakting kompak sebagai duo sahabat berbentuk tempat lilin dan jam meja. Ada Emma Thompson sebagai Ibu Teko atau Mrs Potts yang menyayikan lagu utama “Beauty And The Beast”. Ada Gugu Mbatha Raw, aktris muda Inggris yang dipuja lewat film “Belle”, berperan sebagai alat bulu-bulu pembersih debu. Dan yang paling saya suka adalah pasangan suami istri penyanyi dan pianis yang berubah wujud menjadi lemari dan piano. Stanley Tucci berperan sebagai Bapak Piano, dan Audra McDonald sebagai Ibu Lemari. Audra McDonald bisa dibilang Meryl Streep-nya Broadway. Peraih enam Tony Award – penghargaan tertinggi di bidang teater panggung Amerika – dan satu Emmy Award ini suaranya sungguh memukau. Kala membuka film ini lewat lagu “Aria” – yang mana merupakan istilah untuk suatu bagian lagu dalam sebuah opera – dengan suara a la seriosa, saya langsung terpesona. Saya sering kali melihat penampilan Audra di Youtube, tapi seingat saya tak ada yang seriosa. Aktris ini sungguh serba bisa!

Selain special effect tingkat tinggi yang wajib ada untuk menghidupkan film ini, lagu adalah komponen terpenting. Dan kolaborasi keduanya menghasilkan sebuah adegan mewah dan megah yang akan dikenang sepanjang masa. Lagu “Be Our Guest” menampilkan fantasi tinggi di kedua versi film, dan merupakan bagian yang saya nanti-nanti di film ini. Dan saya pun sangat puas melihat hasilnya, hingga terharu rasanya. Oscar untuk Best Special Effect di ajang Oscar tahun depan? Saya dukung. Kita lihat saja.

PhotoGrid_1490242233343Lagu dalam sebuah film musikal adalah sarana untuk mengungkap rasa, menyampaikan cerita, sekaligus memperdalam karakter. Dan untuk itu, beberapa lagu baru dimunculkan dalam versi ini yang tak ada di versi animasi. Durasi film pun harus diperpanjang menjadi 120 menit, tak bisa 90 menit lagi seperti aslinya. Selain lagu “Evermore”, ada lagi lagu “How Does A Moment Last Forever” dan “Days In The Sun”. Lagu pertama dinyanyikan oleh Belle dalam adegan yang tak ada di versi animasinya, ditujukan untuk menceritakan Belle semasa bayi di kota Paris, sekaligus untuk menumbuhkan rasa cinta antara Belle dan Beast. Celine Dion dipilih untuk menyanyikan versi credit title-nya. Sedangkan lagu kedua dibuat untuk mendalami derita para abdi dalem yang menjalani hari-harinya tanpa kepastian apakah mereka akan menjadi manusia lagi nantinya. Kedua lagu ini akan membawa emosi penonton secara halus, dan kemudian memuncak saat film menuju akhir. Belle akan mendapat jawaban atas masa lalu yang selama ini tak pernah diceritakan ayahnya tentang ibunya. Dan kitapun akan terbawa haru saat para abdi dalem bertransformasi menjadi manusia lagi, mengingat derita yang sempat mereka nyanyikan sebelumnya.

Dengan adanya tiga lagu baru ini, maka “Beauty And The Beast” akan berkesempatan untuk menggondol piala Oscar Best Original Song tahun depan. Semoga berhasil!

REUNI PERAK

Dua puluh lima tahun telah berlalu sejak saya sakit demam dikarenakan film musikal versi animasi “Beauty And The Beast” ini. Dan kini, saya membawa anak dan istri ke bioskop untuk menonton sebuah film yang telah seperempat abad melekat di hati. Tak harus sempurna hasilnya bagi keluarga saya. Kata istri saya film ini biasa aja, dan anak laki-laki saya tidak suka. Bagi anak usia delapan tahun itu, film-film superhero pasti jauh lebih keren. Tapi saya tak melihat dia kebosanan selama menontonnya, apalagi ketiduran. Matanya selalu menatap layar sambil makan pop corn, dari awal hingga akhir film. Tapi tetap saja kalau ditanya dia akan jawab tidak suka. Mungkin dia gengsi karena diajak nonton film bertema princess. Saya hanya berharap, setidaknya dia tidak alergi sama film-film musikal.

PhotoGrid_1490243968429Ya sudah lah Nak, silakan saja kalau tidak suka. Kamu bebas memilih dan menilai sebuah karya seni. Semoga kalau sudah besar nanti kamu baca resensi Papah ini, dan menemukan kenyataan bahwa Papah sangat suka. Papah hanya berharap suatu saat kamu mau nonton film ini lagi dan melihat dengan hati, bahwa tak ada salahnya menjadi orang yang beda, selama moral baik dan cinta ada di hati kita. Belle dan Beast adalah orang-orang terbuang karena mereka beda. Orang kebanyakan tak suka pada mereka berdua hanya karena kulit luarnya saja. Belle dibenci karena kutu buku dan suka mengajar baca para gadis di masa pendidikan hanya disediakan untuk pria. Sedangkan Beast yang buruk rupa dinista dan dituduh membahayakan manusia tanpa bukti perusakan apapun. Kamu harus tahu lebih baik, Nak. Kamu harus bisa membedakan antara baik dan buruk, antara benar dan salah, tanpa disertai rasa sombong dan merasa diri paling benar seperti Gaston di film ini.

Jadilah penebar cinta damai dan kemanusiaan pada setiap pendapat dan keputusan yang kamu ambil dalam kehidupan, wahai Anakku. Maka, Insyaa Allah, Tuhan melindungimu. Amin.