BEAUTY AND THE BEAST: Reuni Perak Dengan Animasi Disney Terbaik

eu_batb_flex-hero_header_r_430eac8d

Alkisah, seperempat abad silam, saya jatuh sakit. Demam biasa. Penyebabnya yang tidak biasa, yaitu hanya karena kecewa film kartun “Beauty And The Beast” mundur tayang di bioskop Surabaya. Pada masa itu distribusi film belum secepat masa kini. Antisipasi saya waktu itu sungguh setinggi langit menanti kehadiran film bersejarah ini, yaitu film animasi pertama yang berhasil menduduki nominasi Film Terbaik di ajang Oscar, meski kalah oleh “The Silence Of The Lambs” pada akhirnya. Setelah menontonnya – dan berulang kali setelahnya – tak pelak film musikal itu singgah di hati saya selamanya. Saya masih hafal semua lagunya, dan ingat hampir semua adegannya.

Dan kini, Disney membuat ulang film itu dengan media live action. Teknologi canggih perfilman masa kini memungkinkan hal ini. Antisipasi saya muncul lagi sebulan belakangan, dan makin kuat menuju tanggal tayang. Ekspektasi saya pun tinggi luar biasa. Film ini harus bagus, nggak boleh jelek, pikir saya. Lalu, setelah nonton, kecewakah saya? Alhamdulillah, tidak! Tapi sempurnakah film ini? Siapapun yang mencintai film kartun aslinya setinggi langit seperti saya, pasti akan membandingkan keduanya. Dan hasilnya, pastilah tidak sempurna.

THE MUSICAL IS BACK!

Saya senang dengan masa kini, dimana Hollywood sudah merangkul kembali film musikal yang sempat boleh dibilang “hilang pamor” di era 70 hingga 90 an. “Oliver!” adalah film musikal terakhir di abad ke-20 yang berhasil meraih gelar Film Terbaik Oscar di tahun 1968. Setelah itu barulah lambat laun film musikal unjuk gigi. Di tahun 2001 muncul “Moulin Rouge!” yang masuk nominasi Film Terbaik Oscar namun gagal menang. Kemudian diikuti “Chicago” yang berhasil menggondol Film Terbaik Oscar 2002. Film musikal pun terus diproduksi meski tak semua berhasil menjebol Oscar. Ada “Phantom Of The Opera” di tahun 2004, “Dreamgirls” di 2006, “Mammamia!” di 2008, dan seterusnya. “The Musical Is Back!” bahkan menjadi tagline perhelatan Oscar 2009 saat Hugh Jackman menjadi host dan bersama Beyonce menyanyikannya lantang dalam penampilan medley film-film musikal ternama diatas panggung. Film musikal sedang berjaya hingga tahun ini – terbukti “La La Land” mengukir sejarah nominasi Oscar terbanyak sepanjang masa – dan kemungkinan besar akan tetap berjaya di tahun mendatang dengan kemunculan “Beauty And The Beast” ini.

PhotoGrid_1490243411520Dalam kebanyakan film musikal Hollywood di abad ke-21, para aktor tidak harus memiliki suara indah sempurna. Yang penting mereka bisa nyanyi, lebih penting bisa akting, dan paling penting mereka ternama. Maka muncullah Nicole Kidman dan Ewan McGregor di “Moulin Rouge!”, lalu Meryl Streep dan Pierce Brosnan di “Mammamia!”, lalu Emma Stone dan Ryan Gosling di “La La Land”, dan tak luput dari metode ini adalah Emma Watson dan Dan Stevens dalam “Beauty And The Beast”. Tapi mohon digarisbawahi, saya disini tidak menilai penampilan mereka jelek. Sama sekali tidak! Sejak pertama kali saya mendengar suara Emma Watson melantunkan lagu “Belle/Bonjour”, saya langsung maklum dengan kenyataan bahwa suaranya tak seindah Paige O’Hara, sang pengisi suara Belle di versi animasi. Bagaimanapun, saya tetap menikmati Emma Watson, sebagaimana saya juga menyukai acting/singing dari Nicole Kidman, Meryl Streep dan Emma Stone di film-film musikal mereka.

Saya juga tidak akan membandingkan satu per satu suara aktor ternama pemeran masing-masing karakter dalam film ini dengan pengisi suara versi animasinya, karena memang keduanya tak layak banding. Kedua versi film ini dibuat menggunakan media berbeda dengan kebutuhan yang beda pula. Misalnya, pemeran Belle di versi live action ini haruslah cantik jelita luar biasa dan terkenal seantero dunia demi memuaskan ekspektasi penonton yang sudah terlanjur cinta pada Belle versi animasi. Maka pilihan tepat sasaran jatuhlah pada Emma Watson. Dan saya pun jatuh cinta sekali lagi pada Belle di versi terbaru ini.

CERITA DAN PENDALAMAN KARAKTER

Salah satu yang mandatori dalam menerjemahkan film kartun menjadi live action adalah cerita dan adegan yang believable. Tidak seperti animasi yang disana-sini bisa bebas bermain fantasi dan menyingkat pendalaman karakter, versi live action harus bisa menanam alasan dan latar belakang lebih kuat agar penonton terbawa sempurna emosinya. Disinilah alasan Disney membuat film “Cinderella” yang jauh beda dari versi kartun klasiknya, dan film “Maleficent” yang harus dirombak sudut pandangnya dari kisah klasik “Sleeping Beauty”. Beruntung film “Beauty And The Beast” tidak sedrastis itu penyesuaiannya. Materi dasar film ini memang sudah solid sejak awal. Namun demikian beberapa tambahan cerita dan pendalaman karakter tetap dicipta demi meningkatkan kualitas drama didalamnya. Saya akan analisa beberapa diantaranya, dan peringatan buat yang anti spoiler, this is SPOILER ALERT!!

PhotoGrid_1490242056104Dahulu kala – yang mana di film ini artinya pertengahan abad ke-19 – hiduplah seorang piatu bernama Belle dengan ayahnya, Maurice, di sebuah desa kecil di jantung negeri Perancis. Hubungan Belle dan ayahnya ini amat dekat, penuh cinta. Di versi animasi, Maurice adalah seorang ahli mesin, kreatif dalam mencipta alat-alat aplikatif, karakternya linglung dan seringkali jadi bahan bully-an orang sedesa. Di versi baru Maurice adalah seniman, pelukis dan pembuat pernak-pernik romantis seperti music box. Jadi, jangan harap ada adegan banyolan yang sama dengan versi animasi. Belle dan Mourice disini lebih melankoli, dan di akhir kisah akan lebih dramatis dengan impact haru-biru yang dalam. Pertanyaannya, dimanakah ibunda Belle? Di versi animasi tidak disebut sedikitpun tentang Sang Bunda yang telah meninggal dunia, namun di versi ini akan muncul kisahnya. Ini penting untuk menggali kedalaman emosi dalam keluarga mereka. Kevin Kline sebagai Maurice bermain luar biasa indah. Anak perempuan akan senang punya ayah seperti Maurice versi Kevin Kline ini.

Tersebutlah seorang pria tegap berwajah tampan berhati jahat bernama Gaston yang tinggal di desa yang sama. Sahabatnya – atau lebih tepatnya side kick-nya – bernama Lefou sangatlah setia menemani Gaston kemana saja dan rela melakukan apa saja untuk Gaston, meski dia dipandang rendah olehnya. Disinilah kontroversi mencuat, karena Disney memutuskan untuk memberi identitas tambahan bagi Lefou sebagai seorang homoseksual yang tertarik pada – atau bahkan mencintai – Gaston. Dari sudut pandang cerita, keputusan ini masuk akal karena jatuh cinta – atau setidaknya jatuh suka – adalah alasan kuat bagi seseorang untuk memperbudak diri sendiri demi orang lain. Versi animasi tak harus menampilkan alasan ini, karena cukup dengan adegan konyol saja akan menampakkan bahwa bodoh merupakan alasan dan karakter dasar si Lefou. Versi live action butuh lebih karena Disney tidak mau terjebak dalam penggambaran karakter yang terlalu kartunis.

Pertanyaannya adalah: bijaksanakah keputusan ini? Tergantung seberapa besar toleransi kita pada komunitas minoritas ini. Kondisi di setiap negara berbeda. Rusia dan Malaysia dikabarkan mencekal, dan bahkan di Amerika pun konon di negara bagian Alabama ada bioskop yang menolak penayangan film ini. Indonesia hanya meningkatkan batas usia penonton menjadi 13 tahun keatas tanpa memotong adegannya. Mengingat ini tayangan keluarga, Disney pun tidak vulgar menampakkan adegan para karekter gay di film ini. Seingat saya hanya ada dua atau tiga adegan, masing-masing hanya dalam durasi detik, dan semua ditayangkan sebagai bahan komedi fisik. Menurut saya tidak berbahaya, namun sebagai orangtua kita musti siap jika sang anak bertanya, tak hanya di film ini, namun di semua film Hollywood yang sedikit atau banyak memasukkan karakter homoseksual didalamnya.

PhotoGrid_1490242134853Luke Evans sebagai Gaston dan Josh Gad sebagai Lefou tampil memesona baik dalam segi akting maupun suara. Luke Evans adalah mantan aktor musikal West End – setara Broadway di New York yang berlokasi di London – dan Josh Gad berlatar belakang musikal Broadway, sehingga kemampuan vokal mereka tak diragukan lagi. Gaston dalam versi live action digambarkan manis di awal dan bengis di akhir. Kita dibuat kasihan pada Gaston yang ditolak lamarannya oleh Belle, dan lalu membencinya saat dia akan membunuh Beast. Perjalanan karakternya mengalir mulus. Ini lebih masuk akal ketimbang versi animasi yang sejak awal memperlihatkan Gaston yang jahat lewat adegan kartunis melempar dan menampar Lefou seenaknya. Bayangkan betapa anehnya jika adegan itu diterjemahkan secara percis sama dalam versi live action.

FANTASI DAN LAGU

Istana adalah tempat semua fantasi dihidupkan dan special effect dipamerkan. Alkisah, Pangeran Beast beserta semua abdi dalem nya berubah wujud menjadi manusia binatang dan manusia benda, akibat perilaku buruk Sang Pangeran kepada seorang Peri yang menyamar sebagai nenek buruk rupa. Meski kedua film sama-sama diawali dengan narasi prologue latar belakang dongeng, versi live action memberi tambahan materi cerita beserta visualisasinya. Sungguh indah sekaligus mencekam. Sebuah pembuka film yang memukau!

PhotoGrid_1490242386249Dan Stevens sebagai Beast musti rela wajah dan badannya tertutup bulu sepanjang film, namun aktingnya cukup memuaskan. Digitalisasi sang Beast meski banyak dikritik tidak sempurna, bagi saya samasekali tidak mengganggu. Kita bisa melihat ekspresi marah, takut dan jatuh cinta dengan jelas dari raut muka. Beast dalam versi ini juga diberi tambahan muatan emosi. Satu lagu baru bertajuk “Evermore” dicipta khusus bagi sang Beast untuk mengungkap rasa cintanya pada Belle saat dia dibebaskan pergi dari Istana untuk menolong ayahnya. Bagi saya lagu ini indah luar biasa, hingga tak terasa menitikkan air mata. Sekali lagi, jangan bandingkan suara Dan Stevens dengan misalnya Hugh Jackman yang seorang penyanyi Broadway profesional. Jauh kualitasnya, namun tak kalah bagus dalam penghayatannya. Josh Groban pun kemudian dipilih melantunkan lagu ini untuk versi credit title-nya.

PhotoGrid_1490242325052Para abdi dalem sangatlah memukau dan menarik perhatian. Betapa tidak, tak satu aktorpun yang tidak ternama dipilih untuk memerankannya. Ada Ewan McGregor dan Ian McKellen yang tak perlu dikenalkan lagi, berakting kompak sebagai duo sahabat berbentuk tempat lilin dan jam meja. Ada Emma Thompson sebagai Ibu Teko atau Mrs Potts yang menyayikan lagu utama “Beauty And The Beast”. Ada Gugu Mbatha Raw, aktris muda Inggris yang dipuja lewat film “Belle”, berperan sebagai alat bulu-bulu pembersih debu. Dan yang paling saya suka adalah pasangan suami istri penyanyi dan pianis yang berubah wujud menjadi lemari dan piano. Stanley Tucci berperan sebagai Bapak Piano, dan Audra McDonald sebagai Ibu Lemari. Audra McDonald bisa dibilang Meryl Streep-nya Broadway. Peraih enam Tony Award – penghargaan tertinggi di bidang teater panggung Amerika – dan satu Emmy Award ini suaranya sungguh memukau. Kala membuka film ini lewat lagu “Aria” – yang mana merupakan istilah untuk suatu bagian lagu dalam sebuah opera – dengan suara a la seriosa, saya langsung terpesona. Saya sering kali melihat penampilan Audra di Youtube, tapi seingat saya tak ada yang seriosa. Aktris ini sungguh serba bisa!

Selain special effect tingkat tinggi yang wajib ada untuk menghidupkan film ini, lagu adalah komponen terpenting. Dan kolaborasi keduanya menghasilkan sebuah adegan mewah dan megah yang akan dikenang sepanjang masa. Lagu “Be Our Guest” menampilkan fantasi tinggi di kedua versi film, dan merupakan bagian yang saya nanti-nanti di film ini. Dan saya pun sangat puas melihat hasilnya, hingga terharu rasanya. Oscar untuk Best Special Effect di ajang Oscar tahun depan? Saya dukung. Kita lihat saja.

PhotoGrid_1490242233343Lagu dalam sebuah film musikal adalah sarana untuk mengungkap rasa, menyampaikan cerita, sekaligus memperdalam karakter. Dan untuk itu, beberapa lagu baru dimunculkan dalam versi ini yang tak ada di versi animasi. Durasi film pun harus diperpanjang menjadi 120 menit, tak bisa 90 menit lagi seperti aslinya. Selain lagu “Evermore”, ada lagi lagu “How Does A Moment Last Forever” dan “Days In The Sun”. Lagu pertama dinyanyikan oleh Belle dalam adegan yang tak ada di versi animasinya, ditujukan untuk menceritakan Belle semasa bayi di kota Paris, sekaligus untuk menumbuhkan rasa cinta antara Belle dan Beast. Celine Dion dipilih untuk menyanyikan versi credit title-nya. Sedangkan lagu kedua dibuat untuk mendalami derita para abdi dalem yang menjalani hari-harinya tanpa kepastian apakah mereka akan menjadi manusia lagi nantinya. Kedua lagu ini akan membawa emosi penonton secara halus, dan kemudian memuncak saat film menuju akhir. Belle akan mendapat jawaban atas masa lalu yang selama ini tak pernah diceritakan ayahnya tentang ibunya. Dan kitapun akan terbawa haru saat para abdi dalem bertransformasi menjadi manusia lagi, mengingat derita yang sempat mereka nyanyikan sebelumnya.

Dengan adanya tiga lagu baru ini, maka “Beauty And The Beast” akan berkesempatan untuk menggondol piala Oscar Best Original Song tahun depan. Semoga berhasil!

REUNI PERAK

Dua puluh lima tahun telah berlalu sejak saya sakit demam dikarenakan film musikal versi animasi “Beauty And The Beast” ini. Dan kini, saya membawa anak dan istri ke bioskop untuk menonton sebuah film yang telah seperempat abad melekat di hati. Tak harus sempurna hasilnya bagi keluarga saya. Kata istri saya film ini biasa aja, dan anak laki-laki saya tidak suka. Bagi anak usia delapan tahun itu, film-film superhero pasti jauh lebih keren. Tapi saya tak melihat dia kebosanan selama menontonnya, apalagi ketiduran. Matanya selalu menatap layar sambil makan pop corn, dari awal hingga akhir film. Tapi tetap saja kalau ditanya dia akan jawab tidak suka. Mungkin dia gengsi karena diajak nonton film bertema princess. Saya hanya berharap, setidaknya dia tidak alergi sama film-film musikal.

PhotoGrid_1490243968429Ya sudah lah Nak, silakan saja kalau tidak suka. Kamu bebas memilih dan menilai sebuah karya seni. Semoga kalau sudah besar nanti kamu baca resensi Papah ini, dan menemukan kenyataan bahwa Papah sangat suka. Papah hanya berharap suatu saat kamu mau nonton film ini lagi dan melihat dengan hati, bahwa tak ada salahnya menjadi orang yang beda, selama moral baik dan cinta ada di hati kita. Belle dan Beast adalah orang-orang terbuang karena mereka beda. Orang kebanyakan tak suka pada mereka berdua hanya karena kulit luarnya saja. Belle dibenci karena kutu buku dan suka mengajar baca para gadis di masa pendidikan hanya disediakan untuk pria. Sedangkan Beast yang buruk rupa dinista dan dituduh membahayakan manusia tanpa bukti perusakan apapun. Kamu harus tahu lebih baik, Nak. Kamu harus bisa membedakan antara baik dan buruk, antara benar dan salah, tanpa disertai rasa sombong dan merasa diri paling benar seperti Gaston di film ini.

Jadilah penebar cinta damai dan kemanusiaan pada setiap pendapat dan keputusan yang kamu ambil dalam kehidupan, wahai Anakku. Maka, Insyaa Allah, Tuhan melindungimu. Amin.

La La Land: Revolutionary By Being Traditionalist

c0xx3k0Film ini jauh dari orisinil. Bagi penggemar akut film musikal macam saya, tidak butuh waktu lama saat nonton untuk sadar, bahwa film bernuansa jazz ini sarat akan “remake” dari puluhan film yang sebelumnya ada. Pertanyaannya adalah: apakah saya membencinya? Oh, tentu tidak!! Saya bahkan bahagia tak terkira. Pertanyaan selanjutnya: apakah Hollywood mencacinya? Sama sekali tidak!! Bahkan, the whole movie industry embraces it. Tujuh Golden Globes pun disabet habis. Kesimpulannya: orisinil tak lagi penting kala sebuah karya seni dibuat dengan penuh kesungguhan dan disajikan dalam konteks kekinian.

Adalah Swing Time, Shall We Dance, Singing In The Rain, An American In Paris, Funny Face, dan sederet panjang film klasik singing-and-dancing lainnya – sejak era film hitam putih hingga masa teknologi warna Technicolor ditemukan dalam industri perfilman Hollywood – yang dijadikan rujukan dalam membuat film ini. Sang Sutradara pun terang terangan, bahkan konsisten, menerapkan konsep film musikal klasik sebagai nyawa penggeraknya. Saat film ini dimulai, dari detik pertama pun sudah terasa nuansa klasiknya. “Presented in CinemaScope” terpampang di layar lebar, yang bagi saya penggemar film Hollywood klasik di Indonesia hanya bisa mimpi melihat tulisan itu di bioskop sini di masa hidup saya. CinemaScope berhenti digunakan di tahun 1967. Dan film ini pun diakhiri dengan tulisan “The End” berhuruf latin yang menghilang pelan-pelan dalam lingkaran mengecil berwarna hitam. Sungguh old school nan jadul film ini.

photogrid_1484469122345Kisahnya pun – meski dibalut modernisasi dan tambahan muatan emosi – sebenarnya tak jauh dari tema klasik. Boy and girl meet, benci pada awalnya, lalu cinta di akhirnya. Kisah cinta yang seklasik AADC kalau di Indonesia. Cemen? Silakan berpendapat demikian. Bosankah kita? Ternyata tidak juga. Tidak di Amerika karena film ini sukses meraup dollar maupun prestasi, dan tidak pula di Indonesa yang mana AADC 2 terbukti masih dibanjiri penonton seantero nusantara. Jadi, salahkah kalau sebuah karya seni dibilang tidak orisinil tapi berhasil? Seperti banyak hal dalam hidup kita, tak ada yang pasti selain matematika. Di dunia perfilman, tidak ada rumus 1+1=2. Dalam hal ini, “tidak orisinil” ditambah “kisah cemen”, ternyata tidak sama dengan “film jelek”.

SANG PEMIMPI

gallery-item04Mia bermimpi jadi aktris. Sebastian atau Seb bermimpi punya jazz night club. Masing-masing berusaha menggapai mimpi di kota La La Land, alias Los Angeles. Tak saling kenal, mereka beberapa kali bertemu tak sengaja, namun selalu saling benci. Keduanya mulai saling suka sejak bernyanyi tengkar dan berduel tap dance dalam lagu “A Lovely Night”. Tips menikmati film musikal: jangan tanya soal masuk akal atau tidaknya sebuah adegan tari dan nyanyi. Itu sudah hukum alam. Terima saja kenyataan bahwa mereka bisa saling suka melalui pertengkaran dalam lagu, lalu sekonyong-konyong menari tap dance berdua di pinggir jalan, bahkan si Mia pun sudah menyiapkan sepatu khusus tap dance di dalam tasnya. Mari kita sepakati saja bahwa “malam nan indah” yang tercipta pada saat itu, turut menumbuhkan benih-benih cinta diantara mereka berdua. Lagunya keren, tarian merekapun bagus. Luar biasa? Tidak juga.

Koreografi dan lagu-lagu dalam film ini sangat “disesuaikan” dengan kemampuan kedua aktor ternama para pemeran utamanya. Jelekkah? Sama sekali tidak! Baik Ryan Gosling maupun Emma Stone yang sama-sama bukan penari dan penyanyi profesional, berhasil melaksanakan tugas musikal dan tari-menari mereka dengan baik. Bahkan konon Ryan Gosling yang bukan pianis, musti kursus kilat belajar piano untuk melakoni perannya disini. Tapi bagaimanapun juga, mereka bukanlah pasangan legendaris Fred Astaire dan Ginger Roberts yang berjaya dengan tarian tap dance dan ballroom dance keahlian mereka, membintangi sepuluh film musikal bersama di masa film masih hitam putih. Atau, mereka bukan pula pasangan Gene Kelly dan Leslie Caron yang mampu menari semi ballet di film An American In Paris yang sudah mulai berwarna. Apakah Ryan dan Emma harus sebagus mereka? Tentu tidak! Yang dibutuhkan oleh Hollywood masa kini dalam sebuah film musikal, adalah aktor yang bisa tari dan nyanyi, bukan penari yang bisa akting.

gallery-item07Hasilnya akhirnya, luar biasa! Mari kita nikmati akting kedua pemeran utama ini. Ryan Gosling patut diacungi jempol atas usaha tari, nyanyi dan pianonya. Tidak mudah bermain piano – apalagi jazz piano – dan tampak meyakinkan selayaknya profesional. Sedangkan Emma Stone sunggung memesona dengan mata beloknya yang “otomatis basah” saat dibutuhkan, baik itu saat karakternya memang sedang sedih, maupun saat dia harus “pura-pura akting” dalam beberapa kali adegan audisi. Dan sebagai pasangan, mereka berdua sangat meyakinkan. Skenario yang bagus membuat penonton tak sadar akan dibawa kemana arah dialog mereka, dan keduanyapun mampu menghadirkan impact yang luar biasa tanpa harus melakukan dramatisasi yang berlebihan terhadap adegan yang dimainkan. Bagi penonton yang level sensitifitas di hatinya “menengah” saja, menurut saya dialog sederhana ditambah ekspresi wajah pasangan kekasih ini cukuplah pemicu untuk meneteskan air mata. Apalagi buat yang sensitifitas hatinya tinggi, bersiaplah untuk menangis selama lima belas menit terakhir film ini. Sad ending kah? Bagi saya, menangis kala nonton film tak harus karena sad ending. Jadi, silakan ditonton sendiri. Saya menghindari spoiler alert disini.

MERAIH MIMPI

gallery-item06Dalam sebuah dialog, teman Sebastian yang diperankan oleh John Legend memberi kritik yang bagi Seb terasa bagai tertusuk sembilu mendengarnya. Diceritakan bahwa Seb adalah seorang musisi jazz yang sangat menjunjung tinggi musisi jazz klasik beserta hasil karya mereka. Lalu temannya mengkritik seperti ini: “How can you be a revolutionary, if you’re such a traditionalist? You hold on to the past, but jazz is about the future!” Kritik ini terdengar membangun dan sempat mengubah arah hidup Sam, menjauhkannya dari idealisme diri sendiri, dan mulai merintis sukses secara material dengan merubah aliran musik yang dimainkannya agar lebih “menjual”. Dia rela melakukan pengorbanan ini demi Mia yang dicintainya, agar mereka punya banyak uang dan bisa menikah untuk membangun rumah tangga. Menurutnya, “melepas mimpi” adalah cara untuk menjadi dewasa dan mulai mengambil tanggung jawab hidup, untuk bisa mandiri, dan tak lagi bergantung pada bantuan finansial dari orang tua dan kakaknya yang mulai merongrong hidup Seb dengan perjodohan yang tak diinginkan. Terkadang idealisme harus dikorbankan untuk bisa melanjutkan hidup pada “tahapan berikutnya”.

Terlepas dari apa yang akan menjadi akhir cerita bagi Seb, secara realita film ini merupakan bukti yang menentang kritik tersebut. Film ini sungguh sangat tradisional dan tidak orisinil sampai ke setiap detil, terutama di bagian tari dan lagu. Meski jelas-jelas “hold on to the past” di saat semua film box office saling berlomba untuk lebih futuristik dengan teknologi tercanggih, film ini sungguh amat revolusioner justru lewat keberhasilannya melakukan rekonstruksi film klasik yang hampir seabad tak pernah lagi diangkat. Berbeda dengan film musikal masa kini lainnya seperti Les Miserables, Dream Girls, bahkan Moulin Rouge dan yang terbaru Into The Woods yang semuanya juga mendapat sambutan positif, La La Land membawa cerita kekinian, problem yang membumi dialami manusia berusia produktif jaman sekarang, dalam kemasan klasik yang terasa baru walau aslinya kuno. Kalau konteksnya makanan, film ini adalah ramuan bahan sayur daging yang tersedia di supermarket, dibuat  dalam resep tradisional, menggunakan alat masak modern, yang hasilnya untuk lidah masa kini terasa lezat dan inovatif, sangking lamanya resep itu tidak pernah dibuat. Pertanyaannya: apa kita mau nambah? Kita lihat saja nanti, apakah ada film serupa yang mengikuti.

2400Di akhir cerita, Seb dan Mia pun menjalani apa yang mereka sebut sebagai “dewasa”. Ada tulisan “musim” di sepanjang film, yang jika diperhatikan bukanlah penunjuk periode waktu, atau bukan pula informasi perubahan cuaca yang sedang terjadi di LA. Musim-musim itu menunjukkan kondisi hidup dan hati kedua tokoh utama. Dimulai dengan Winter kala mereka sedang gagal meraih mimpi, Spring kala cinta bersemi, Summer saat mereka bersama, Fall saat mereka berantem, dan diakhiri dengan musim yang tak akan saya jadikan spoiler alert disini, karena musim terakhir akan berada setelah kurun waktu lima tahun berlalu.  Dalam periode setengah dekade itu, kehidupan tak lagi sama. Keduanya sama-sama berada pada “tahapan berikutnya” dalam hidup mereka. Jika mimpi tercapai, itu adalah buah dari usaha mereka. Dan jikapun tidak, salah satu kunci menjadi dewasa adalah melepas ikhlas yang kini dimiliki, berharap suatu saat mimpi akan menemukan caranya sendiri untuk dicapai.

Uniknya dalam film ini, ada porsi Epilogue di akhir film yang menutur ulang alur alternatif dari semua kejadian, sejak awal pertemuan Seb dan Mia hingga akhir dimana kini mereka berada. Diiringi ilustrasi musik yang indah tiada tara bagi telinga saya, tak ada pilihan selain keluar dari bioskop dengan mata sembab dan senyum dikulum, serta musik dan lagu yang terngiang selalu.

*** THE END ***

The “BEFORE” Trilogy: The Complete Look Of LOVE

before-midnight (1) - Copy

It’s LOVE in your twenties, and then thirties, and then fourties. From love you can call the first which seems to be grander than life at that time, goes to the one when you think you either doubt or master the term love itself, and finally to the one that prevails when your life [and your body] is no longer pretty. The “BEFORE” trilogy wonderfully explores them all.

What’s called the “BEFORE” trilogy is the three movies entitled BEFORE SUNRISE [1995], BEFORE SUNSET [2004] dan BEFORE MIDNIGHT [2013]. These three movies are made possible by three people, the Director Richard Linklater, the Actor Ethan Hawke and the Actress Julie Delpy, who co-write the movies together [except for the first one where Ethan and Julie are only acting]. I don’t really know how they do it technically, but all I can personally say for them is that they must be the best team in making a movie imitation from real life. You will feel connected to these movies. Not to the characters or to the stories, but merely to the conversations, which is a lot! So, if you’re not a big fan of listening to what characters are talking in a movie, then these movies will put you asleep in five minutes, guaranteed. But if you have a keen interest in life [not only, but mostly about, love], then these ones will feed your hunger head and touch your tender heart.

tumblr_mmis71PPRb1qmz9d7o1_500Throughout the trilogy, the movies follow the two main characters, Jesse and Celine. A boy and a girl in the first movie, who become a man and a woman in the last one. That’s exactly what they are as characters, no more and no less, simply male and female. What they do for living doesn’t really matter, and even in their fourty with a son and a twin daughters, they’re not referred to as a husband and a wife. It’s interesting, actually.

One more thing we should aware about these movies is that all of them are made in approximately real-time storyline. In the first movie, it happens from an afternoon to the next morning in Vienna. The second one is set in around two hours of one afternoon in Paris. And the third one is within several hours of an evening in Greece. Yes, they’re all located in those beautiful places in Europe. Maybe they deliberately compensate the high effort of your ear with a few beauty shots for your eyes.

So what happen to them in those three decades of their lives? Let’s start talking about them, Jesse and Celine.

BEFORE SUNRISE [1995]

before_sunriseIn summer 1994, a 23 years old American boy Jesse spends the holiday in Europe, only to find that his girlfriend who goes to school in Madrid cares very little about him while he’s there, and then he breaks up with her. In spending several days before he gets on his airplane to go back to America from Vienna, he buys a Eurail ticket and travels around Europe alone. In his last train journey to Vienna, he meets a beautiful French girl named Celine.

Celine, slightly younger than Jesse, travels on the same train. She’s going back to Paris where she lives after visiting her grandma in Budapest. They meet and start talking to each other because a married couple who sit near to Celine are arguing loudly in German language. So loud that forces Celine to move away and sit across to Jesse’s. Driven by the same curiosity of what the couple are arguing about, Jesse and Celine, who both talk no German language, exchange glances and quickly start introducing themselves. They talk about the German couple for a minute or two, then change the subject, and before they know it, they never stop talking afterward. Celine is smart, and Jesse is destined to be a writer. None of them can resist the attraction. A perfect combination that makes all their clever conversations possible.

The train finally stops in Vienna where Jesse should go off and Celine should stay inside. Jesse who feels empty and originally romantic, offers a proposal to Celine. He asks her to get off the train with him, spend the rest of the day and night without any hotel reservation because there’s no money for it, and wander about the city of Vienna until the morning comes, when she will catch the train back to Paris and he to America by airplane. A crazy idea it is, but the most romantic one indeed. The attraction is there to play their games, and their youth agrees to play with destiny. It’s called experiment!

They may not grow liking each other better if it were only physical attraction between them. They both go beyond that, far beyond, and yet only by the simplest way possible. Talking. And walking. And talking again. They kiss once in a while, and eventually have sex after a long liberation on much discussed possibilities, but their true intimacy lies beneath each word they exchange.

before_sunrise__1995_-fanartThe morning finally arrives, their journey has to end. Love is there between them, but they realize it can’t do much to keep them close while apart half across the world. On the last minute at the train station, suddenly they feel the urge to meet again. They promise to each other that six months from that day, at the same morning hour, at the same spot in that train station in Vienna, they will meet. But before the time comes, no contact will take place, as they both believe that long distance communications will drive them away. They exchange no numbers, no addresses, and not even their last names.

BEFORE SUNSET [2004]

before+sunset_poster-2Jesse is a writer. Based on his experience of one night love with Celine on the streets of Vienna, his novel gains a big success. One afternoon in 2003, he travels to Paris on a book tour. Celine still lives in Paris and works in an environmental organization. She knows about the book tour and she goes to it, particularly to meet Jesse, an old friend she met nine years ago in Vienna. Yes, they never see each other again after that morning in the train station, not even after the six months as they promised. Celine could not make it because her most loved Grandma in Budapest died right on that day, while Jesse…well, Jesse made it, actually. Brokenhearted as he was finding Celine was not there in Vienna, he went back home and wrote a novel to commemorate that one loveliest night of his life. That is how they meet again. A casual meeting as a friend visiting another friend in Paris. An old friend with the whole nine years to catch up.

By the time they meet, Jesse only has few hours before his plane will take him home to his wife and son. Jesse is married, while Celine is always between relationships. They share information and experiences just like good friends do. By talking. And walking. And talking again. But there’s no kissing this time. Good friends don’t do that. They’re not trying to rekindle their long overdue love here. No respectable woman would offer her love, and no good husband would ask for it. And that’s just what they are, a couple of lovers trapped in an awkward condition, because they know that for whatever situation they’re in right now, their love is still there. Each of them lets it out from their guts, admitting their miserable lives without each other. It’s depressing, but in the same time sets them free from hiding it all along. They just don’t want to act anything upon their love – if it’s still can be named as love. Or to be precise, they’re trying so hard avoiding it.

tumblr_lv1ggeuEYF1qbyozeo1_500The time is approaching to end, it’s time to take Celine home. A small, unarousing hug marks their goodbye in front of Celine’s apartment, but apparently there’s still time for a song Jesse asks Celine to play. They get inside Celine’s apartment, still talking, nothing physically more. In there, Celine plays a guitar and sings a beautiful waltz she wrote herself, which is about her one-night-stand love with Jesse. Afterward, Jesse sits very relax, no hurry, on the sofa, smiling and still mesmerized by the singing performace, while Celine dancing alone imitating Nina Simone played on the CD, and reminds him playfully “Baby, you are gonna miss that plane”. The movie closed with Jesse’s reply “I know”.

BEFORE MIDNIGHT [2013]

before_midnight_international_poster_1-2It’s 2012 now, Jesse and Celine are an unmarried couple, who live together and raise together their biological twin daughters. They’re like married without the wedding ring. They live in Paris. Jesse is divorced now, and he has only limited time, once every while, to see Henry, his son who lives with his mother in Chicago.

The movie sets in one evening in Peloponnese, south of Greece, where they all, Jesse, Celine, Henry and the twins are having a summer vacation. It opens at the airport where Jesse drops Henry there because he has to go back home to his mother, after spending several weeks of great times in Greek. There’s a father-son dialogue which seems like nothing at first, but turns out to be everything that matters eventually. It will become one of the central problems in the movie.

The scene then move to Celine and Jesse in the car, on their way back from the airport to Patrick’s house. Patrick is a Greek fellow writer of Jesse’s who invites them over to Greece for the vacation. In the car, Celine and Jesse talk about things. From little things like how Jesse forgets to shave, to heavy issues like Celine’s stressful career situation. It’s a perfectly casual conversation, just like what married couple do, but if you’re sensitive – or if you’ve been married long enough – you will sense a problem or two emerging from this dialogue.

In Patrick’s house up in the hill with a breathtaking view down the ocean, they have the last luncheon with Patrick’s friend and family, as Jesse and Celine will be back to Paris the next day. There are three generations of couples, dining and talking at the same table. There’s a husband and wife just about Jesse’s age, a younger couple in their early twenties, and a senior couple – Patrick and his woman best friend – who both are maybe thirty years older than Jesse. There, they talk about life and love and how they’re different for each generation. It’s interesting to listen to, and it gives a background of how Jesse and Celine perceive a relationship, and also how they argue decently in a social event. And once again, it’s just like what married couple do.

The middle aged couple give a gift for Jesse and Celine, a one night fully-paid hotel room downhill near the beach. It’s intended only for Jesse and Celine alone, with a promise that they will look after the twins for the night. They insist upon it although Celine is not really up to the idea. However, they take it anyway.

ºñÆ÷¹Ìµå³ªÀÕ1 - CopyThe afternoon is lovely, Jesse and Celine walk to the hotel. It’s a long walk and they do it gladly, marking that this is the first time in a very long time they have the time for their own. And yes, it’s also just what married couple do, loosing intimate time over their busy daily life. They end the afternoon sitting in a cafe, watching the sunset across the bay, and then check in to the hotel.

In the hotel room is what this movie all about. They start the evening in easy cozy state of mind, making out as a prelude to sexual intercourse, but suddenly a call from Henry arrives, which sets everything off and turns the night into hell. They have a big fight over whatever feelings they’re obliged to keep from each other to maintain their family – or in this case “their arrangement” – going well. It ends with Celine flies off the room, saying to Jesse that she doesn’t love him enough.

Celine sits in the cafe where they saw the sunset earlier. Jesse then comes with a play, pretending he’s been traveling time and has a letter from the 82-years-old Celine in the future. Being a writer he definitely can pull out something like that. But life is no play right now for both of them. There’s a resentment from Celine, followed by letting go from Jesse, saying that if Celine doesn’t find his devotion to their family as LOVE, then she must be blind and he might as well give everything up. Silent is bound to happen for a minute where Celine puts herself together and finally comes around, asking about the time-traveling as an offer of peace. The movie ends in that point, with a hope of a better reconciliation.

Now, Let’s TALK!

That’s what Celine and Jesse do throughout the trilogy, and at the same time that’s what so wonderful about these movies. Talking! The conversations are just marvelous! Smart and funny, deep and heartbreaking, but never over-dramatized, even when they’re angry at each other. They make it so real! It’s just like the way we talk in our everyday lives. And those dialogues are the ones that put you glued in your seat, feeling happy, feeling sad, putting a grinned face, amazed face, agreed face, and probably even producing a bit of tears in your eyes. It’s all done only by both of them talking. It’s simply amazing!

I’m not going to reveal in detail what they’re talking about. Not that I don’t want to, but more because I can’t. You just have to experience yourself to feel what they ping-pong each other that brings you all kinds of feelings. However, here I’d like to address these three movies without any particular order, and conjunct them with what I personally understand about life.

I’m at the age not far from Celine and Jesse in every movie, so I practically grow up feeling and understanding the same stage they are. Having said that, I must conclude that the most heart throbbing of the three is the last one, Before Midnight. The movie is like stabbing you right to the core of your heart. It’s so real, I have goosebumps watching it. And you don’t have to be in the exact same problems they’re facing in the movie to feel connected to them. You just BE in a long term relationship and living together. That alone will put you right in their shoes. It’s not like single people can not enjoy it, because they can, they really can because this movie is THAT good, and it will broaden everyone’s knowledge about being married. But there’s a different feeling between watching this movie as the outsider, with watching it as the real player. That’s just how close this movie in portraying real life problems. And I’m so glad I have the chance to see it as a player.

628x471The previous movies, Before Sunrise and Before Sunset, are just as good as the last one in the writing and acting, but in both movies Celine and Jesse don’t face a real problem together. They have individual problems and they try to communicate them throughout the movies. You can still feel the happiness or sadness, and love or resentment in their dialogues, but it can easily be put aside if they want to. There’s no string attached between them. Nothing they say or do will push the button that sets them angry at each other. There are angry scenes in both movies, but it mainly because they’re not happy with their lives or with the situation they’re in. The button doesn’t exist until you’re in a relationship, and more over, when you’re married.

Marriage is both the strong part of the movie Before Midnight, and – for me personally – the lack of the couple, Celine and Jesse. The movie is so good and realistic in portraying married life, while at the same time the couple in the story are not married. But maybe, we can see this movie as a testimony of how fragile a relationship between man and woman – with children I might add – if they’re not married.

This movie is not meant to like or dislike marriage, just like it’s not meant to defend the man or the woman character in a relationship. It merely puts on a plate a bunch of problems that real people are facing. There’s no suggestion of practical solution in this movie, so the audience will be left empty handed if they’re looking for a solution. However, one little part of their problems is solved and confirmed here, and it might be considered as the most important part, assuming that if this part is saved then the other problems will find a way. That one part is LOVE.

Love is always the one strong string between Celine and Jesse, since the day they first met in Vienna, until the day they die – if they’re not going to marry ever – somewhere, most probably in Europe [just kidding about the Europe part, hahaha]. Marriage is the product of law or religion, which they certainly don’t have a unity on both. Celine is French, Jesse is American, and they both do not attach themselves to any system that devotes to God. It’s not like marriage is impossible for them. They just don’t want to embrace the idea. And without marriage, nothing can bound them together but love, and it makes their relationship very VERY fragile. A fight, a jealousy, a boring daily routine, a little discomfort of living together can break their relationship easily, just like what Celine and Jesse are arguing for about half an hour in the hotel room. And if Celine doesn’t come around after fleeing off the room by saying “I don’t love you anymore!”, or if Jesse doesn’t come after her to the cafe and says “I love you no matter what!”, their marriage-like relationship will certainly end without any hesitations and consequences what so ever.

beforesunsetI’m not saying that marriage will  guarantee a long lasting relationship til the day you die, but it certainly will set up boundaries that make everyone harder to leave. Love is indeed an important ingredient in a marriage, but believe it or not, without love marriage can start and survive. Love is always in a vague definition, while marriage is more formative. In Before Sunset, Jesse says about the kind of love he felt for his wife when he decided to marry her, “What is love if not respect, trust and admiration? And I felt all those things.” And there he was, getting married as a form of “a simple action of committing yourself and meeting your responsibility that matters” as he tells Celine about it. People can get married for different reasons. Love, money, sex, duty, tradition, law, religion, and so on. And there are also more reasons to stay in a marriage, like children and family. In Before Sunrise, Jesse tells Celine that their parents could’ve been divorced had his mother not been pregnant with him. They stayed in a marriage for the better life of their kids. Marriage embodies a family. It puts rights and duties for the husband and the wife, which love is entirely without. Marriage can work without love. It’s a system. Love is not.

Having said all that, Before Midnight is once again a movie about love, not about marriage, just like its presedence, Before Sunrise and Before Sunset. It works best when they question about “do you still love me” or “do you still want to live with me” which are the questions for the heart and their honesty, rather than “if you leave me, you’re obliged to do this” which is more practical. But the problems are all about married life, so married people will appreciate Before Midnight a lot better – just like I do – than single people. And talking about love in a married life, it’s no longer similar to what they feel while they’re single.

0837 - CopyIn Before Sunrise, they meet and they love, all flowery, all brand new experience. In Before Sunset, they meet and they flirt, playing with forbidden love because Jesse is married, admitting their long lasting love to each other. It’s heartbreaking yet sexy in the same time. Before Midnight is one hundred and eighty degrees different. It will complete their understanding about love.

In Before Midnight, Jesse apparently has more advantage in experiencing love in-and-out of a marriage, while Celine is still connecting love to romance, something that she admits in the luncheon as going down after they have the twins. What this movie wants to highlight is that love comes as an acceptance to both sides – the brilliant and the miserable – of life with your partner, especially the miserable. In the course of nine years for Celine and Jesse, romance has gone, sexy is overrated, and each of them is growing to become somebody they’ve never expected. Feelings spared, sacrifices made, fightings unavoided, and yet they still want to share life with each other. If it’s not love, then what is?

THE GREAT GATSBY: Novelnya, Filmnya dan Maknanya

great_gatsby_ver24_xlg

Pada saat saya dengar bahwa Baz Luhrmann akan mengadaptasi novel klasik ini menjadi sebuah film, saya sangat gembira dan tak sabar menanti penayangannya. Singkat cerita, setelah menontonnya di hari pertama pemutarannya di Indonesia, 17 Mei 2013, saya keluar dari gedung dengan rasa puas tiada tara. Baz Luhrmann memang hebat! Saya suka sekali film ini!

great_gatsby_ver15_xlgSaya sadar bahwa banyak kritikus film yang berpendapat sebaliknya, bisa jadi karena pemunduran jadwal tayang yang semula pada hari Natal tahun lalu, kemudian adanya kekhawatiran bahwa adaptasi versi Luhrmann ini PASTI akan lebih mementingkan style daripada esensi cerita apalagi dengan menggunakan 3D dan musik hiphop  untuk mengadaptasi kisah drama berlatar tahun 1920-an ini, dan yang terakhir adalah adanya beda pendapat diantara penonton film ini saat ditayangkan sebagai film pembuka di ajang The 66th Cannes Film Festival 2013. Dengan semua kondisi itu [bahkan lebih] yang membebani film ini, saya secara pribadi hanya bisa berpendapat: bahwa setiap orang berhak mengungkapkan apa yang DIRASA! Bagimanapun juga film adalah sebuah karya seni! Seperti halnya buku atau musik atau lukisan, jika kita suka ya kita beli, dan kalaupun tidak suka ya sudah, karena setiap orang pasti punya selera berbeda. Sesederhana itu, menurut saya.

Tapi sudahlah, sebaiknya sekarang kita bicarakan tentang THE GREAT GATSBY: bukunya, filmnya, dan nilai yang terkandung didalamnya. Namun demikian, sebaiknya saya infokan sedikit tentang diri saya, bahwa saya adalah penggemar berat Jane Austen. Oleh karenanya, bukunya F. Scott Fitzgerald ini sebetulnya bukan jenis buku yang biasa saya baca. Hanya saja, setelah menonton filmya, saya jadi ingin membaca novelnya untuk mengetahui struktur asli dari kisah ini. Selain itu, saya juga membongkar koleksi film untuk mencari video versi tahun 1974 yang dibintangi Robert Redford dan Mia Farrow. Sayapun menemukannya dan segera menontonnya. Dan inilah RASA yang saya peroleh.

 

NOVELNYA

great_gatsby_ver16_xlgNovelnya berisi sembilan bab. Berlokasi di New York pada masa kejayaan ekonomi dunia di tahun 1920-an yang kerap disebut “The Roaring Twenties” pasca Perang Dunia Pertama, novel ini dinarasi oleh seorang pria bernama Nick Carraway. Dia baru saja pindah ke New York dan tinggal di suatu area bernama “Telur Barat” di Long Islan dekat kota New York tempat dia bekerja sebagai Pialang Saham. Dia menyewa rumah kecil yang kebetulan bertetangga dengan rumah mewah bak istana milik seorang pria misterius bernama Jay Gatsby, yang mana hampir setiap malam selama musim panas itu selalu menghelat pesta besar-besaran. Berada diantara cara hidup metropolitan New York, di sepanjang novel dikisahkan bagaimana Nick mengalami hal-hal yang berbeda dengan kebiasaannya. Ini nantinya akan menjadi penerapan atas nasihat ayahnya yang selalu dia kenang, tertulis di halaman pertama di novel ini, yang mana menetapkan karakter seorang Nick yang bisa dipercaya memegang rahasia, dan juga tidak terlalu cepat berprasangka saat mengamati karakter orang lain.

“Jika kamu merasa hendak mengkritik orang lain, ingatlah selalu bahwa tidak semua orang di dunia ini seberuntung diri kamu.”

Diantara beberapa hal yang dialaminya adalah melihat dengan jelas, bahwa bagi seorang pria bernama Gatsby, cinta benar-benar tak pernah padam. Gatsby jatuh cinta kepada sepupu Nick yang bernama Daisy lima tahun yang lalu sebelum perang dimulai. Saat itu Gatsby bergabung dengan Angkatan Bersenjata untuk ikut berperang. Setelah sekian lama menunggu namun Gatsby tak kunjung tiba, Daisy kemudian menikahi Tom. Tom ternyata adalah suami yang buruk karena sering kali berselingkuh dibelakang Daisy. Namun meski Daisy mengetahuinya, dia tetap tak meninggalkan suaminya dan hidup bersama di rumah mewah mereka di area “Telur Timur” bersama anak perempuan mereka. Di lain pihak, Gatsby berhasil menjadi orang kaya. Dia sengaja membeli rumah di “Telur Timur” agar bisa hidup dekat dengan Daisy yang lokasinya hanya terpisah teluk. Gatsbypun sengaja membuat pesta besar di rumahnya dengan harapan Daisy akan muncul di salah satu pesta tersebut. Namun hal itu tak pernah terjadi.

great_gatsby_ver17_xlgSebesar itulah cinta Gatsby kepada Daisy, dari seorang pemuda miskin menjadi kaya raya hanya agar bisa sejajar dengan Daisy dan menikahinya suatu hari kelak. Nick kemudian menjadi penghubung diantara mereka berdua, dimana dia bisa melihat cinta maha besar yang mereka miliki satu sama lain. Tapi Gatsby meminta lebih jauh dari sekedar cinta yang diberikan Daisy untuknya. Daisy tidak bisa mengulang masa lalu karena saat ini dia sudah menikah dengan Tom dan tak semudah itu meninggalkan suaminya. Tapi Gatsby tak hendak menyerah begitu saja untuk mencapai mimpinya menikahi Daisy dengan jalur yang benar, BUKAN hanya perselingkuhan. Hingga suatu saat terjadi sebuah tragedi yang menyudahi semua usahanya.

Dari sudut pandang Nick, kehidupan di New Yor sangat dipenuhi orang-orang munafik, dari para pendatang pesta sampai para pejabat dan pesohornya, dan bahkan Daisy sepupunyapun bertindak demikian karena tak mampu menghargai Gatsby yang telah mencintainya begitu besar. Nick bahkan harus rela kehilangan Jordan, seorang wanita yang dia suka, hanya karena Nick merasa muak dengan hal-hal lain yang terjadi di sekelilingnya. Di sisi lain, Gatsby adalah satu-satunya orang yang dipandangnya sebagai baik dan jujur. Meski bisnis yang dijalaninya tidak halal dan dia kerap kali berbohong kepada orang lain tentang sejarah dirinya menjadi orang kaya, namun Nick tetap menghargai kesungguhan Gatsby mencintai Daisy dan kebaikannya berteman dengan Nick. Pada akhir kisah, Nick tak tahan dengan kehidupan di New York dan memilih pindah ke kota lain.

 

FILMNYA

great_gatsby_ver19_xlgSebetulnya saya menonton tiga film adaptasi novel ini. Versi tahun 1974 yang dibintangi Robert Redford dan Mia Farrow, versi film televisinya di tahun 2000 yang dibintangi Toby Stephens dan Mira Sorvino dan Paul Rudd sebagai Nick, dan yang terakhir versi 2013 hasil karya Sutradara favorit saya Baz Luhrmann dan dibintangi oleh Leonardo DiCaprio dan Carey Mulligan. Masing-masing versi mungkin bersinar pada masanya, namun bagi saya tentu saja yang terakhir inilah yang paling benderang. Saya bahkan tak bisa membayangkan dalam satu atau dua dekade mendatang novel ini akan diproduksi ulang – terutama di layar lebar – setelah adaptasi tingkat tinggi yang dipamerkan Baz Luhrmann ini. Film ini sangat luar biasa menghadirkan visualisasi dan proyeksi karakter, hingga Hollywood tak akan berani membuatnya lagi dalam bentuk “film drama biasa”.

Disini saya tidak hanya menyoroti penggunaan teknologi 3D dan musik dari Jay-Z, yang mana sangat efektif menghadirkan glamorisasi dalam mengemas film ini. Tidak, tidak hanya itu yang membuatnya bagus! Yang menarik perhatian saya justru kepandaian skenario film ini untuk setia dengan novelnya, dan bahkan memberi warna yang kontras pada tiap adegan maupun karakter. Dramatisasinya luar biasa! Kita tidak perlu menebak apa yang dirasa oleh para aktornya, karena semua itu ditampakkan. Saat Baz ingin suatu adegan terkesan vulgar dan menjijikkan namun tetap kontemplatif buat Nick, dia benar-benar membuatnya seperti itu, simak saja adagan pesta kecil di sebuah apartemen di New York. Kita bisa benar-benar merasa bahwa Nick pastilah muak dengan ke-vulgar-an seperti itu, dan sebagai warna kontrasnya dibuatlah sebuah adegan sebagaimana tertulis dalam novel tentang kontemplasi Nick terhadap kehidupan di New York, yang mana Baz berhasil mem-visual-kannya dengan sempurna. Adegan ini tidak ada di versi film tahun 1974. Di akhir cerita kita akan “sungguh” mengerti betapa kehidupan di New York sangatlah menjijikkan bagi Nick. Dan saat Baz menginginkan adegan pesta extravaganza di rumah mewah milik Gatsby di Long Island, kita tak perlu lagi mempertanyakan kepiawaian sang maestro untuk mewujudkannya. Sungguh luar biasa! Dan yang terakhir adalah adegan-adegan romantis. Indahnya tak terkira! Glamornya tahun duapuluhan, rumah-rumah mewah, selambu yang beterbangan, mawar putih yang memenuhi ruangan, semua ditampakkan pada level terbaiknya! Ini adalah film kencan yang sempurna, meski tragis di akhir kisahnya.

great_gatsby_ver21_xlg

Setiap karakter diberi ruang dan waktu untuk menampakkan dirinya. Para aktor bermain cemerlang, terutama Leonardo DiCaprio yang menurut saya terlahir untuk menjadi Gatsby. Saya tidak mengatakan bahwa mereka akan mendapat nominasi Oscar di film ini, namun saya bisa bilang bahwa tak ada satupun dari mereka yang bermain buruk. Dan jika dibandingkan dengan versi adaptasi yang lain, saya lebih bisa mengenal Gatsby lebih baik di film ini. Leo dengan skenarionya dengan sinematografinya, telah membuat visualisasi yang jelas untuk Gatsby, tentang kebodohannya, kebaikannya, dan obsesinya terhadap cinta.

Satu-satunya yang tidak dimunculkan disini dari novelnya adalah munculnya ayah Gatsby di penghujung kisah. Menurut saya pribadi, hal ini tak terlalu mempengaruhi inti cerita. Kalaupun ada, itu hanyalah menambah deretan kebaikan Gatsby yang  kita sudah kenali sepanjang film, karena disini dia dikisahkan sebagaia anak yang berbakti kepada orang tua dan meminta maaf serta menyantuni mereka saat dia sudah jadi orang kaya dan sukses. Keputusan Baz untuk menghilangkan adegan ini cukup bisa dimengerti, mengingat durasi film ini sudah cukup lama yaitu 140 menit tanpa adegan tersebut. Dia mungkin juga mempertimbangkan untuk tidak memperpanjang antiklimaks setelah cerita berada pada puncaknya saat tragedi terjadi.

great_gatsby_ver7_xlg

Dengan segala kematangan di setiap aspek, menurut saya ini adalah film yang sangat baik dalam kaitannya untuk memahami sebuah karya sastra klasik. Film ini sangat efektif untuk memperkenalkan novel klasik yang berat kepada generasi yang lebih muda. Dan keberanian yang ditunjukkan oleh pihak distributor untuk meluncurkan film ini di musim panas berbarengan dengan film-film blockbuster seperti Ironman dan Startrek, adalah sebuah bukti optimisme mereka bahwa film “drama” ini benar-benar sebuah tontonan yang menghibur.

 

MAKNANYA

Dalam membaca buku atau menonton film, menurut saya penting bagi kita untuk mendapat makna darinya, baik yang baik maupun yang buruk. Dengan melakukan hal itu, kita akan bisa memperkaya diri dengan sensitifitas atas apapun yang terjadi dalam hidup kita maupun di dunia ini. Kita bisa memperluas wawasan dan mempertajam penilaian kita atas sesuatu, yang mana pada akhirnya akan membawa kita pada kebijaksanaan yang lebih baik. Saya biasanya dengan mudah mendapatkannya dari buku-buku Jane Austen, yang saking sukanya sampai saya buat sebuah novel terhadapnya. Dan sekarang, meskipun kisah di novel ini berbeda dengan novel-novel Jane Austen, saya akan coba mengemukaan beberapa makna disini.

great_gatsby_ver10_xlgCinta tak pernah padam, terutama bagi Gatsby. Nah, kalau saya masih di usia dua puluhan dulu saat sedang mengalami cinta pertama, saya mungkin akan mengusahakan sejauh itu untuk mendapatkan kembali cinta dari gadis yang meninggalkan saya. Tapi karena saya menontonnya sekarang di usia yang sudah menjelang empat puluh, saya cuma bisa bilang bahwa tindakan seperti itu tidak bijaksana. Satu hal yang tidak dimiliki Gatsby adalah kemampuan meng-IKHLAS-kan, meski jelas terlihat bahwa dia seorang yang baik hati dan penyayang. Dia percaya bahwa cinta Daisy untuknya tak pernah berubah dan tetap SAMA seperti dulu kala. Dia tidak mempertimbangkan bahwa kehidupan telah membentuk Daisy selama lima tahun mereka berpisah. Daisy sudah menikah! Dan PERNIKAHAN adalah sebuah konsep yang sagat berbeda dengan CINTA. Gatsby tidak mengerti itu.

great_gatsby_ver9_xlgDi sisi lai, Daisy adalah seorang yang “cantik nan bodoh”, seperti ungkapan yang dipakainya saat dia mendoakan anak perempuannya kelak jika sudah besar nanti. Namun demikian, sebagaimana cermin atau koin yang punya dua sisi, untuk kebahagiaan hidupnya sendiri Daisy justru adalah seorang yang bisa dengan cepat meng-IKHLAS-kan rasa sedihnya. Dia mencintai Gatsby sepenuh hati, dan bahkan hampir membatalkan pernikahannya dengan Tom saat mendapat surat dari Gatsby sehari sebelumnya. Tapi setelah kembali dari bulan madunya, Daisy berubah menjadi istri yang sangat mencintai suaminya. Nah, meskipun disini terkesan bahwa Daisy adalah karakter yang jahat, bodoh dan tak berperasaan karena begitu cepatnya berpaling hati dari Gatsby kepada Tom, saya secara pribadi berpendapat bahwa: berusaha sebaik mungkin untuk mencintai seorang yang kita nikahi adalah tindakan yang sangat bijaksana. Semua orang punya masa lalu yang ingin kita kesampingkan dari hidup kita. Bukan karena kita membenci masa lalu itu, namun lebih pada kesadaran kita bahwa masa lalu itu tak ada kaitannya dengan masa depan yang akan kita bangun. Sayangnya dalam kasus ini, Tom adalah seorang karakter yang buruk dibanding Gatsby, sehingga penonton akan dengan mudahnya lebih berpendapat bahwa Daisy adalah wanita bodoh karena tetap setia pada Tom, daripada melihatnya sebagai seorang bijaksana yang berusaha mempertahankan keutuhan rumah tangga.

Demikianlah RASA yang saya punya tentang THE GREAT GATSBY. Film adaptasinya tentunya sangat memanjakan mata, dan novelnya adalah karya klasik yang perlu kita baca. Dan di akhir novel ini, sebagaimana dikatakan oleh Nick di filmnya, kita bisa menarik pelajaran yang bagus dari Gatsby, yaitu bahwa apapun yang terjadi jangan pernah berputus asa untuk meraih kembali kebahagiaan yang dulu pernah kita rasakan. Hanya saja, pastikan kita melakukannya dengan cara yang baik, dan untuk tujuan yang baik pula.

“…esok kita akan lari lebih kencang, ulurkan tangan lebih panjang, sampai suatu hari nanti…kita akan terjang apapun, naiki kapal dan tentanglah arus, berusaha tak kenal lelah untuk kembali ke masa lalu.”

THE GREAT GATSBY

 

THE GREAT GATSBY: The Book, The Movies And The Values

great_gatsby_ver24_xlg

When I heard that Baz Luhrmann was taking on this classic novel into his production, I was thrilled with great expectations. And to put a long story short, after seeing the movie at its first day screening in Indonesia, May 17th 2013, I walked out from the cinema with a GREAT satisfaction. Baz Luhrmann did a remarkable job! I do LOVE the movie!

Now, I understand that some critics might have opposite opinions about it, from the movie’s delayed release date on Christmas last year, the suspicions that Luhrmann’s adaptation MUST be “style over substance” especially with the use of 3D and hiphop music for this 1920s drama, to the recent event regarding the divided acceptance from the audience after seeing it as the opening film in The 66th Cannes Film Festival 2013. So, with all those stuffs [and even more] going on surrounding this movie, I personally can only say this: everybody is free to speak what they FEEL! After all, it’s ART! Just like books, or music, or paintings. You like it, you buy it. And if you don’t, that’s fine, everyone has preference. As simple as that, I think.

great_gatsby_ver15_xlgAnyhow, let’s now talk about THE GREAT GATSBY: the book, the movies, and the values. First of all, if you should know me, I’m a Jane Austen kind of guy. So this F. Scott Fitzgerald’s story is not really my cup of tea. It’s not heartwarming enough for my usual reading material. However, after seeing the movie, I had an urge to read it in order to get the original pattern of the story. And also, I looked back to my video collection, trying to find the 1974 adaptation of the novel, starring Robert Redford and Mia Farrow. I found it, and then saw it again right away. So here’s what I FEEL.

THE BOOK

great_gatsby_ver16_xlgThe book contains nine chapters. Set in New York, in the period so called “The Roaring Twenties” after the World War One, the book is narrated by a guy named Nick Carraway. He’s just moved to the area called West Egg in Long Island near New York city where he works selling bonds. He rents a small house just next door to the big house that belongs to a mysterious man named Jay Gatsby, who throws great parties all summer. Being new in New York way of living, throughout the book Nick has to experience things beyond his ordinary living theme. This will eventually be the implementation to the advice his father once gave him, written in the first page of the novel, that sets the character of Nick as a reliable person in keeping secrets, and not easily falls into judgment in observing people.

“Whenever you feel like criticizing anyone, just remember that all the people in the world haven’t had the advantages that you’ve had.”

Among the things he experienced, is to see that for a guy named Gatsby, love indeed never dies. Gatsby was in love with his cousin Daisy five years earlier before the war. After a considerably long time of waiting, Daisy then married Tom. But Tom is a bad husband who cheats on her many times. Although she knows her husband’s bad habit, she still lives with him anyway in a big house at East Egg with their one little daughter. On the other hand, Gatsby has made his fortune and becomes a rich man. He deliberately buys a house at West Egg so that he can live across the bay from where Daisy lives, and he throws open parties hoping Daisy would come someday, but she never appears.

great_gatsby_ver17_xlgThat’s just how much love Gatsby has in store for Daisy, from a penniless boy to becoming a rich man, just to be her equal in order to marry her someday. Nick then happens to be the bridge that reunites the two, where he witnesses the grand love they have for each other. But Gatsby wants too much love from Daisy that she can’t possibly give him. She can’t repeat the past, now that she’s married to Tom and can’t easily leave him. But Gatsby never gives up on his dream to marry Daisy APPROPRIATELY, until one tragic event happens to him and puts a stop at everything.

From Nick’s point of view, the world in New York where he lives is full of hypocrite people, from the party goers, to the public figures, and even to his cousin Daisy who can’t pay respect to Gatsby who loves her that much. Nick even has to loose Jordan, the woman he’s attracted to, only because he’s fed up with everything else that’s going on around him. On the other side, Gatsby is the only person he sees as kind and true. He may be doing dirty business and lying about who he really is, but Nick highly values the purity of Gatsby’s love to Daisy and how Gatsby treats Nick as a friend. At the end, he’s fed up with New York lifestyle and moves elsewhere.

THE MOVIES

great_gatsby_ver19_xlgActually, I have seen three adaptations of the book. The 1974 movie starring Robert Redford and Mia Farrow, the 2000 telemovie starring Toby Stephens and Mira Sorvino and Paul Rudd as Nick, and then the latest piece in 2013 made by my favorite Director Baz Luhrmann, starring Leonardo DiCaprio and Carey Mulligan. They probably shone in their own time, but of course for me the latest one is by far the brightest. I even can’t see the possibility in another decade or two, that one will do the remake of this book again – especially into the big screen – after the lavish adaptation Baz Luhrmann just did. It’s so over the top in both visual and character projection, that Hollywood will not dare to remake it back again into “just another drama movie”.

Now I’m not only talking about the use of 3D and the music from Jay-Z, which effectively marvel the whole package of the movie. No, not only that! It’s also about the cleverness of the screenplay to stay true to the book, yet it makes the most contrast coloring in every scene and character. The dramatization is fantastic! You don’t have to guess what they feel, it’s shown. When Baz wants a scene to be vulgar and disgusting yet contemplative to Nick, he made it clear that it is so, like the scene where there’s a small party in an apartment in New York. You can perfectly sense that Nick is not happy with the vulgarity, and to contrast his feeling, there’s a scene written in the book about his contemplation of the New York life that Baz delivers perfectly. This scene was not projected in 1974 adaptation. At the end of the movie you will “completely” understand the idea of how revolting New York life is for Nick. And when Baz wants an extravaganza party in a Long Island majestic house of Gatsby’s, you don’t question his capability of him doing so. It’s simply magnificent! And last but not least, the romance. It’s drop dead gorgeous! The glamor of the twenties, the big houses, the flying curtains, the white roses, everything is worked up to the most! It’s a perfect date-movie although it ends tragically.

great_gatsby_ver21_xlg

Each character is given their scenes to show their parts. It’s a well-acted movie, especially for Leonardo DiCaprio who I think is born to play Gatsby. I don’t talk about Oscar potential here for any actor in this movie, but I assure you that nobody’s acting badly. And compared to other adaptations, I can understand Gatsby better in this movie. Leo and the screenplay and the cinematography, have made a clear vision to Gatsby’s foolishness, kindness, and obsession for love.

The only thing omitted from the book in this movie is the coming of Gatsby’s father towards the end of the book. From my personal point of view, it has little to do with the whole story. If any, it’s only adding to the greater Gatsby as we already know him to be, for he acknowledges his duty to his parents by making up to them while he’s all rich and successful. Baz’s decision to omit this part is fair enough, considering the movie runs already long enough for about 140 minutes without it. He also might consider to avoid the longer anticlimax after the story has reached it’s peak at the tragedy.

great_gatsby_ver7_xlg

Given all the above splendors in every aspect, I think it’s a perfect movie in regard to understanding a classic literature. It’s certainly effective in conveying the old stuffy classic novel to the younger generation. And the fact that it was launched in summer among the big blockbuster movies like Ironman and Startrek, I think it shows the optimism that this “drama” movie is indeed fun to watch.

THE VALUES

In reading a book or seeing a movie, I think it’s important that we gain value out of them, the good ones or the bad ones. By doing that, we will enrich ourselves with more sensitivity to whatever happen in our lives and in the world. We can broaden our point of view and sharpen our judgment , that eventually lead to a better wisdom. I used to do it easily from Jane Austen books, so much so that I made a novel about it. Now, with this story that’s not very Austenesque, I will try to point out some pointers.

great_gatsby_ver10_xlgLove never dies, especially for Gatsby. Now, if I were seeing this movie in my twenties when I experienced my first love, I probably would’ve gone THAT far to claim back my love for a girl who got away. But seeing it in my age turning fourty, I can only say that it is a foolish act. What Gatsby lacks of is the ability of LETTING GO, although it’s clear that he is a kind and loving person. He believes that he can get Daisy’s love for him just as much as it used to be. He doesn’t count that life has happened for Daisy in the course of five years they’ve been parted. She’s married! And MARRIAGE is a whole different perspective compared to LOVE. Gatsby doesn’t understand that.

great_gatsby_ver9_xlgOn the other hand, Daisy is a “beautiful little fool”, just like the phrase she uses in wishing her daughter someday would be. However, the mirror has two faces, the coin has a head and a tail. For her own good life, Daisy is the one who can easily do the LETTING GO of her despair. She loves Gatsby so terribly, and even almost cancels her wedding with Tom upon receiving a letter from Gatsby one day before it. But when she’s back from the honeymoon, she’s desperately in love with her husband. Now, as much as this sounds rude, fool and heartless of Daisy, to easily convert her love from Gatsby to Tom, I personally think that trying your best to love the one you’re married to is the wisest thing to do. Everybody has some past that sometimes we need to put aside. Not because we hate the past, but more importantly because we understand that sometimes what’s past has no consequence to the future we’re about to build. Unfortunately, Tom is a bad husband compared to Gatsby, so people will easily judge Daisy as a fool for staying with Tom, rather than a wise person who’s trying to save her marriage.

Well, everyone, that’s what I FEEL about THE GREAT GATSBY. The current movie is definitely a lovely sight to see, and the book is a classic you need to read. And at the end of the book, as also spoken in the movie, we all should learn one thing from Gatsby, that whatever happen you should never give up on your dream and regain happiness you once had in your past. Just make sure that you do it the right way and for a good purpose.

“…tomorrow we will run faster, stretch out our arms farther, and one fine morning…so we beat on, boats against the current, borne back ceaselessly into the past.”

THE GREAT GATSBY

LES MISERABLES: Kisah Kemalangan Yang Luar Biasa Indah

les_miserables_ver11Bagi orang seperti saya, Warga Negara Indonesia yang tinggal dalam negri, penggemar berat musik dari panggung musikal Broadway dan West End namun hanya bisa mimpi untuk berkunjung ke New York dan London, menunggu sebuah adaptasi karya musikal panggung ke layar lebar adalah sebuah siksaan. Sebulan sejak saya dapat info bahwa LES MISERABLES akan tayang di bioskop Indonesia, rasanya seperti seabad lamanya. Sama seperti saat saya dulu menunggu Evita, Phantom Of The Opera, Mamma Mia, Chicago  dan Nine. Dengan lagu-lagu yang sudah tak asing di telinga, beberapa bahkan hafal luar kepala, atau sengaja sudah persiapan menghafalkannya sebelum masuk bioskop, penilaian saya terhadap film-film seperti ini – saya akui – sedikit subyektif.

 

Tapi untuk LES MISERABLES ini, saya berani bilang – secara subyektif dan obyektif – bahwa film ini benar-benar BAGUS! Salah satu perbedaan yang nyata dibandingkan dengan film adaptasi musikal serupa adalah keputusan sang sutradara Tom Hooper [Academy Award Winner of Best Director for The King’s Speech] untuk melakukan shooting film dengan kondisi para aktor bernyanyi LIVE ON SET! Keputusan ini menurut saya sangat SANGAT tepat dilakukan untuk mengadaptasi drama musikal yang satu ini, meski belum pernah dilakukan pada film musikal manapun sebelumnya. Saya bahkan tak bisa membayangkan bagaimana jadinya kalau para aktor disini tidak bernyayi LIVE saat mengiterpretasikan lagu-lagu yang butuh pendalaman emosi teramat sangat. Betapa tidak, di sepanjang film, Les Miserables mengedepankan kisah sedih yang tiada henti dari masing-masing karakternya.

 

les_miserables_ver5 les_miserables_ver4Bersetting Perancis di pertengahan abad ke-19, dengan rentang waktu lebih dari 10 tahun, film ini mengisahkan perjalanan hidup Jean Valjean [diperankan luar biasa bagusnya oleh Hugh Jackman] setelah keluar dari hukuman penjara 19 tahun lamanya hanya karena mencuri roti dengan alasan kelaparan. Adalah Javert [diperankan oleh Russel Crowe dengan suara yang – menurut saya pribadi – tak seragam dengan aktor lainnya di film ini], seorang polisi yang pantang menyerah mencari Jean Valjean lantaran dilaporkan telah melarikan diri dari masa percobaan luar tahanan. Hidup kedua karakter utama ini tak pernah tenang sepanjang masa, bagai kucing dan tikus seumur hidup mereka.

 

les_miserables_ver6Tentu bukan mereka berdua saja yang menderita di film Les Miserables ini, yang kalau judulnya diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia kira-kira menjadi “Orang-Orang Yang Menderita”. Ada Fantine [diperankan Anne Hathaway yang rela kehilangan rambut indahnya] yang cantik tapi miskin, terpaksa jadi pelacur karena butuh uang untuk menghidupi anaknya yang masih kecil dan ditinggal raib oleh pria yang menghamilinya. Ada cinta segitiga antara Cosette, Marius dan Eponine. Cosette yang kehilangan masa kecilnya, Marius yang hampir mati di medan laga, dan Eponine yang cintanya pada Marius bertepuk sebelah tangan. Amanda Syfried sebagai Cosette dewasa ternyata punya suara sopran yang indah. Saya tak menyangka demikian, karena saat dia bermain di Mamma Mia, suara melengking itu tak terdengar diantara lagu-lagu ABBA yang hingar bingar.

 

les_miserables_ver7Namun tak dapat disangkal bahwa bintangnya bintang dari film ini adalah Anne Hathaway saat dia menyanyikan lagu “I Dreamed A Dream”. Dilantunkan dengan suara aslinya yang LIVE, ditayangkan dengan tanpa edit apapun sepanjang lagu, diperankan dengan emosi teramat dalam dilengkapi tangis yang menghisap kalbu siapapun, saya tak bisa menghindar dari sesenggukan yang mencekik dada saat menontonnya. Suasana di bioskop seketika senyap, seolah-olah semua penonton menahan nafas. Saya tidak membesar-besarkan penggambaran suasana ini, karena bisa saya jelaskan secara logis. Ini adalah film musikal, yang hampir sepanjang film dipenuhi kemegahan orkestra yang mengiringinya. Sebelum Fantine menyanyikan lagu ini, lagu sebelumnya cukup hingar bingar [judulnya “Lovely Ladies”], lalu langsung berlanjut dengan lagu “I Dreamed A Dream” ini yang diawali secara acapella. Barulah kemudian iringan orkestra masuk, dari sayup hingga sedikit kencang tanpa melampaui suara Anne Hathaway yang dengan tangis lantangnya membawa emosi penonton pada puncaknya. Hebat, bukan?

 

Karya panggung musikalnya sendiri adalah adaptasi dari novel Perancis berjudul sama karangan Victor Hugo di tahun 1862. Diangkat menjadi drama panggung musikal pertama kali dalam bahasa Perancis di Paris tahun 1980, kemudian dibuat versi bahasa Inggrisnya yang dihelat di West End, London tahun 1985, lalu di Broadway, New York tahun 1987. Les Miserables tercatat sebagai salah satu drama panggung musikal dengan masa tayang terlama sepanjang masa, baik di West End maupun di Broadway, sehingga tak heran kalau mengadaptasikannya ke layar lebar merupakan beban berat bagi semua pihak terkait di film ini. Penggemar versi panggungnya pasti akan membandingkan pengalaman menonton mereka di bioskop dengan di gedung opera, dan menurut saya – sekali lagi – keputusan teknis film ini untuk bernyanyi LIVE ON SET sangat menentukan keberhasilannya. Ditambah dengan banyaknya tampilan CLOSE-UP yang menyorot amat dekat wajah para aktornya, membuat kita hanyut dalam emosi yang ditampakkan tiap karakternya. Hasil akhirnya adalah, bahwa semua aspek dalam film ini terekam sangat menawan, dan penggemar setianya tidak kecewa. Buktinya, Les Miserables berhasil masuk dalam jajaran Box Office saat pemutaran perdananya di Inggris dan Amerika pada bulan Desember 2012.

 

amanda-seyfried-eddie-redmayne-les-miserables-photo - SMALLNamun demikian, kalau boleh saya sarankan bagi calon penonton yang tidak terbiasa dengan film musikal, bersiaplah untuk “menyesuaikan diri” selama durasi tayang film yang amat panjang, yaitu dua setengah jam. Di sepanjang film, semua dialog dilantunkan dalam nyanyian. Tak sedikitpun ada komunikasi normal tanpa nada yang dilakukan para pemainnya. Istilahnya dalam bahasa Inggis, it’s a “sung-through” musical. Saya memberi peringatan ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi justru saya mengajak membuka diri untuk sebuah pengalaman menonton yang baru. Beberapa resensi film ini di Amerika menyatakan bahwa penonton akan tetap bisa menikmati keseluruhan film ini meski mereka bukan penggemar film musikal. Jadi, tak ada salahnya mencoba. Lagipula pepatah mengatakan, musik adalah bahasa dunia, bukankah demikian?

 

Selamat menikmati indahnya kisah tentang kemalangan.

JANE AUSTEN Life Story

JANE AUSTEN Modern Spin-Offs

JANE AUSTEN Original Adaptations