Menikahlah Wahai Para Lajang

IMG_20150112_091510

Menikah adalah pilihan. Sebaiknya kita camkan itu baik-baik agar tak terjebak pada  prasangka atas karakter seseorang, terutama yang buruk. Menikah atau tidak menikah atau ingin menikah adalah hak manusia dalam menjalani hidupnya. Tak ada satupun hukum yang memaksa siapapun untuk menikah. Norma dan agama mungkin menganjurkan, keluarga dan orang tua mungkin mengharapkan, kerabat dan sahabat mungkin menjodoh-jodohkan, namun sejatinya sang pelaku sendirilah yang akan menentukan keinginannya. Menikah adalah murni hak asasi manusia.

Namun setidaknya, wahai para lajang, mari kita membuka hati dan pikiran lebih pada sesuatu yang secara umum dilakukan oleh kebanyakan manusia. Daripada sibuk menimbun pembenaran untuk tidak menikah, atau berpikir sinis pada institusi pernikahan, atau menjauhi ajang perjodohan, ada baiknya kita memupuk harapan untuk mendapat pasangan hidup, membuka diri pada perkenalan, dan kemudian melegalisirnya melalui pernikahan.

Mari berkenalan dengan Jane Austen, seorang penulis novel. Seperti kita yang hidup di perbatasan abad, Jane Austen juga sama hanya beda abadnya. Perempuan Inggris ini lahir tahun 1775, dan meninggal 41 tahun kemudian di tahun 1817. Dalam kurun singkat hidupnya itu, Jane Austen telah menghasilkan enam novel yang digemari jutaan orang di seluruh dunia hingga kini. Secara urutan terbit, novel-novelnya bertajuk Sense And Sensibility, Pride And Prejudice, Mansfield Park, Emma, Persuasion, dan Northanger Abbey.

Dalam semua kisah rekaannya, Jane Austen selalu bercerita tentang perjuangan perempuan lajang dalam menjalani hidup dan cinta, hingga menemukan pernikahan di akhir cerita. Padahal dalam kisah nyata hidupnya, konon Jane Austen tidak pernah menikah. Meski kenyataan ini diketahui oleh banyak penggemarnya, namun tak lantas menyurutkan semangat mereka untuk larut dalam kisah yang tersaji dengan bahasa cerdas dalam novel-novelnya, dan pada akhirnya tetap menginginkan pernikahan. Seusai membaca novelnya, para wanita akan bermimpi menikahi pria sekaya Mr Darcy dalam Pride And Prejudice, atau segagah Captain Wentworth dalam Persuasion, atau sesabar Edward Ferras dalam Sense And Sensibility, atau sebijaksana Mr Khightley dalam Emma.

Jangan kuatir, kita tidak harus membaca novel Jane Austen untuk menumbuhkan keinginan menikah. Kita cukup menyadari bahwa sejak ratusan tahun yang lalu, pencarian cinta dan jodoh ini sudah menjadi masalah utama – kalaupun tidak disebut terbesar – dalam perjalanan hidup manusia. Jane Austen cukup cerdas melukis potret kehidupan wanita pada jamannya terkait suka duka mengalami cinta dan menemukan jodoh. Dan bahkan cukup bijaksana menempatkan tercapainya pernikahan di akhir cerita.

Menikah adalah salah satu tahapan hidup penentu dalam sebuah perjalanan seorang manusia. Dalam kondisi normal – baik secara moral, hukum dan agama – hanya dengan  pernikahanlah seseorang dapat melakukan hubungan seksual, memiliki keturunan, dan membangun sendiri sebuah keluarga. Setelah menikah, hidup akan berubah. Itu pasti. Menyatukan dua jiwa yang berbeda tentu akan membutuhkan penyesuaian dalam mencapai kesepakatan. Namun demikian, menikah bukanlah sebuah kondisi absolut, tidak seperti kelahiran, bertambah usia, dan kematian. Menikah juga bukanlah air atau udara yang tanpanya kehidupan tak akan berlangsung lama. Menikah bukan kewajiban. Menikah adalah pilihan. Manusia boleh memilih untuk merubah jalan hidupnya melalui pernikahan, atau mempertahankan pola nyaman hidupnya tanpa menikah.

Jika ditanya: apa yang kita cari dalam hidup? Jawaban umum yang manusiawi atas pertanyaan ini adalah bahagia. Disinilah kita harus hati-hati memaknainya, karena konon pernikahan tidak selalu identik dengan bahagia.

Di lain pihak, ada sebuah rasa yang namanya cinta, pembawa bahagia jika memilikinya, dan penyebab duka kala terenggut tanpanya. Cinta kepada lawan jenis adalah jalan konvensional menuju pernikahan. Jatuh cinta, pacaran, menikah. Urutannya begitu. Mudah bagi yang beruntung. Sedangkan yang kurang beruntung harus rela melakukan satu dari dua kemungkinan. Pertama, menunggu kesempatan bertemu cinta lagi – entah sampai kapan – berharap setelah jatuh cinta kali berikutnya nanti akan bisa lanjut ke pelaminan. Atau kedua, sibuk mengutak-ngatik teori cinta dan jodoh, kemudian merasa sudah menemukan jawaban yang akan dipegangnya dalam menjalani hidup. Yang kedua ini efeknya bisa positif, bisa negatif. Positif jika masih berharap untuk menikah, negatif jika hasilnya justru menghindari pernikahan.

Dalam efek positifnya, para lajang yang mencari jawaban atas sulitnya mendapatkan jodoh akan mencari kedamaian lewat sabar dan ikhlas, serta mendekatkan diri kepada Sang Maha Pencipta, berharap akan terbuka jalan lagi untuk mencapai pernikahan. Kemungkinannya adalah, Tuhan menjawab. Jawabannya mungkin berupa jalan baru yang jauh dari konvensional, bisa jadi kontroversial. Mungkin bahkan sesuatu yang tak pernah terpikir akan terjadi seumur hidup mereka. Seringkali Tuhan menjawab doa manusia diluar kapasitas pikirnya demi kebaikan hidupnya.

Jalan tersebut – mungkin – adalah menikah tanpa cinta. Disini cinta tak harus ditunggu. Cinta tak harus hadir sebelum menikah. Cinta akan datang sendiri saat hidup berumah tangga sudah dijalani. Tidak percaya? Tak ada yang memaksa untuk percaya, seperti juga halnya tak ada yang memaksa untuk menikah.

Bagi orang yang religius, yang kedalaman sabar dan ikhlasnya sudah mendarah daging, apalagi disertai kedekatan yang tingi kepada Sang Penentu Takdir, perjodohan instan bisa menjadi jawaban. Cinta adalah ciptaan Tuhan yang bisa dimunculkan kapan saja, termasuk setelah sah menjadi suami dan istri. Pepatah bahasa Indonesia berkata, ala bisa karena biasa. Orang Jawa bilang, witing trisno jalaran soko kulino. Keduanya mendukung teori ini, karena dalam pernikahan, hidup satu atap akan menimbulkan kebiasaan baru bersama, berharap akan muncul bahagia daripadanya.

Sedangkan bagi orang yang lebih praktis dan realistis, pendekatan logispun bisa mendukung teori ini. Cinta dan pernikahan adalah dua hal yang sangat berbeda. Cinta adalah rasa, sedangkan pernikahan adalah ikatan. Cinta adalah produk hati dan kebaikan diri, pernikahan adalah produk hukum dan agama. Cinta adalah ilusi yang didasari rasa saling percaya untuk tetap setia, adapun pernikahan berwujud akta berisi hak dan kewajiban para pihak demi kebaikan rumah tangga. Kalaupun sebuah pernikahan tidak diawali dengan cinta, maka setidaknya sudah ada sistem yang siap membantu. Ada agama yang memberi arahan, dan hukum yang melindungi, tinggal bagaimana fasilitas ini digunakan. Dan meski berita kegagalan rumah tangga lebih marak dibicarakan, rumah tangga bahagia yang bebas dari topik pergunjingan pasti ada di sekitar kita. Ini bisa jadi bukti bahwa sistem pernikahan bisa berjalan dengan baik.

Jika secara logika, pernikahan adalah sebuah sistem yang tingkat keberhasilannya tinggi, lantas apa yang membuat sebagian lajang berpikiran negatif terhadap pernikahan, bahkan menghindar darinya? Secara umum yang ditakutkan adalah patah hati, kehancuran rumah tangga, kejatuhan nama baik, kekecewaan, dan lain sebagainya yang intinya adalah tidak bahagia. Pernikahan, disamping kemampuannya mencipta kebahagiaan hakiki manusia, membuka peluang pula untuk kejadian sebaliknya. Potensi negatif ini banyak dijadikan pegangan untuk tidak merubah kenyamanan yang sekarang sudah berjalan lancar bagi para lajang. Kalau sekarang sudah bahagia, untuk apa mencari masalah dengan menikah?

Para lajang bahkan lebih mampu berbuat banyak hal baik untuk lingkungannya, seperti membahagiakan orang tua mereka, membantu biaya hidup saudaranya, atau lebih banyak berderma. Haruskah semua itu dikorbankan hanya karena keinginan pribadi berumah tangga? Secara logis dan matematis, kucuran waktu luang dan dana sosial mungkin akan berkurang saat rumah tangga mulai berjalan. Namun perlu diingat, bahwa masa depan adalah misteri hidup terbesar yang kejadiannya tergantung pada keputusan dan usaha yang kita buat sekarang. Tidak menutup kemungkinan keadaan akan membaik bagi semua pihak nantinya, saat rumah tangga membawa bahagia jiwa raga dan harta. Tentunya semua orang berharap pada kemungkinan baik seperti itu, meskipun pada kenyataannya banyak lajang yang – dengan ketakutan dan prediksi logis yang menyertainya – lebih percaya pada kondisi sebaliknya.

Pada akhirnya, kita semua hanyalah manusia, ciptaan Tuhan yang paling sempurna, dan di saat bersamaan tak mungkin mencipta sempurna. Dalam pernikahanpun – dilakukan atau tidak, cinta atau tidak, bahagia atau tidak – manusia hanya bisa berusaha. Akankah hasilnya sebuah bahagia yang sempurna? Konon kesempurnaan hanyalah ilusi atas sejauh mana kita bisa mensyukuri. Maka berbahagialah orang yang selalu berpikir positif dan berikhlas hati.

Jane Austen dalam salah satu novelnya bertajuk Emma, menulis kalimat bijaksana tentang keterbatasan dan usaha manusia dalam menemukan jodohnya.

“A hasty and imprudence attachment may arise, but there is generally time to recover afterwards. It can only be weak, irresolute characters who will suffer an unfortunate acquaintance to be an inconvenience, an oppression forever.”

“Sebuah ikatan yang tergesa-gesa, atau bahkan tidak pada tempatnya, atas hubungan antara pria dan wanita, bisa terjadi pada siapa saja. Namun tentunya akan ada cukup waktu untuk perbaikan setelahnya. Hanya orang yang karakternya lemah dan penuh keraguan saja yang akan menderita, yang merasa bahwa hubungan mereka itu akan membawa kesusahan dan kesengsaraan selamanya.”

Tulisan ini adalah kampanye untuk pernikahan. Mari kita renungkan.

*~*~*~*~*~*~*

PhotoGrid_1421036291772Tulisan ini ditayangkan di surat kabar KABAR PROBOLINGGO pada hari Kamis, tanggal 18 Desember 2014, sebagai bagian dari segmen “Kabar Kita” yang memberi peluang masyarakat untuk menulis singkat tentang apa saja, fiksi maupun non fiksi. “Opini” merupakan salah satu diantaranya.

Probolinggo adalah sebuah kota kecil di Propinsi Jawa Timur, terletak di sisi tenggara dari ibukota Surabaya, berpenduduk sekitar 200.000 warga di wilayah seluas 25 km persegi. Gunung Bromo merupakan tujuan wisata terkenal yang letaknya tak jauh dari kota ini.

Adalah seorang rekan penulis asal Probolinggo, Stebby Julionatan yang memberi kesempatan kepada saya untuk berkontribusi tulisan pada harian lokal tersebut, yang mana untuk itu saya sangat berterimakasih.