Sejarah Singkat AL-QUR’AN: Perjalanan Sebuah KITAB SUCI Abadi

galaxia-660x350Alkisah, pada masa sebelum segala sesuatunya ada, Allah SWT mencipta ”pena” dan memerintahkannya menulis pada sebuah “lempeng” yang disebut Lauh Mahfuz. Tulisan itu berisi semua kejadian dari penciptaan hingga hari pembalasan kelak. Pada sebuah malam yang kemudian dinamai sebagai Lailatul Qadar, Al-Qur’an – yang merupakan Kalamullah atau Firman Allah sebagai bagian dari Lauh Mahfuz – diturunkan secara lengkap ke Baitul Izzah atau surga terendah, siap disampaikan kepada umat manusia. Adalah Malaikat Jibril yang diperintah langsung oleh Allah SWT untuk menyampaikan Al-Qur’an tersebut pada saatnya nanti.

Pada tahun 610 Masehi di daratan Arab, tepatnya di Gua Hiro tak jauh dari kota Mekah, pada suatu malam di bulan Ramadhan seorang manusia laki-laki berusia empat puluh tahun, berhati baik namun buta huruf bernama Muhammad, sedang melakukan ritual kontemplasi pribadi demi memperoleh ketenangan jiwa diantara hiruk pikuk dan biadabnya penduduk kota Mekah yang jahiliyah. Terkejut amat sangat, Muhammad tiba-tiba mendapati suara Malaikat Jibril memekakkan telinga, berseru Iqra’! atau Bacalah! Meski Muhammad menolak karena tak bisa membaca, tak pelak dia menyerah saat perintah itu terulang untuk ketiga kalinya. Apa yang harus kubaca, dia tanya. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantara wahyu. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-Alaq: 1-5)

cave-hira-e1283692201380Malam itu dipercaya sebagai malam yang sama – meski berbeda masa – dengan turunnya Al-Qur’an ke Baitul Izzah, yaitu malam Lailatul Qadar. Dan sejak saat itu hingga dua puluh tiga tahun berikutnya, sejarah Islampun terbentuk melalui dua hal penting, yaitu masa kenabian seorang Rasul terakhir utusan Allah, Nabi Muhammad SAW, dan turunnya kitab suci abadi, sebuah mukjizat bagi seluruh umat manusia sepanjang masa, Al-Qur’an.

 

NARASUMBER DAN BATASAN TULISAN SAYA

Sebelum saya lanjutkan tulisan ini, ada baiknya saya sampaikan terlebih dahulu sumber video YouTube yang mendasari pengetahuan saya. Adalah tiga ulama yang kebetulan saya temukan videonya di YouTube saat saya mencari informasi tentang bagaimana Al-Qur’an diturunkan dan dibukukan sebagaimana yang kita miliki sekarang ini. Yang pertama saya temukan adalah video dari Dr. Haithan Al Haddad, seorang ulama Inggris yang sedang berceramah dengan tema “Is The Qur’an Authentic?” pada ajang Peace Conference Scandinavia 2014 di Norwegia. Video kedua adalah dari Dr. Shabir Ally, seorang ulama terkemuka Canada yang sedang berceramah tentang “A Brief History Of Text And Recitation Of Qur’an” yang diselenggarakan oleh IPCI atau Islamic Propagation Centre International yang berkedudukan di kota Durban, Afrika Selatan. Link kedua video tersebut ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=cnYaMv2IWic dan https://www.youtube.com/watch?v=hFzBM8wJZNU .

PhotoGrid_1465826408995Yang ketiga dan utama adalah Dr. Yasir Qadhi, yang mana tiga belas episode video serialnya bertajuk ”The Sciences Of Qur’an” mendasari detail tulisan saya. Seorang Muslim warga negara Amerika berdarah Pakistan ini awalnya adalah seorang Sarjana Teknik Kimia dari University of Houston. Ketertarikannya pada Islam membawanya pada jenjang edukasi yang jauh lebih tinggi pada area Bahasa Arab dan Studi Keislaman di Islamic University of Madinah dan Yale University di America, dimana gelar PhD dan Master of Philosophy berhasil diraihnya. Link dari tiga belas episode tersebut ada disini: https://www.youtube.com/playlist?list=PLACEB19198355B61C . Sedangkan dakwah beliau tentang keajaiban Al-Qur’an ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=WHz4eNssQYw .

Selain membeberkan kredibilitas para narasumber diatas, yang perlu dan lebih penting saya sampaikan adalah bahwa apa yang saya tulis disini semua mengacu pada Al-Qur’an, Hadist, dan teori keilmuan agama Islam sebagaimana disampaikan oleh para narasumber dalam video mereka masing-masing, meskipun tidak saya tulis satu persatu. Saya tidak sedang memproklamirkan diri sebagai seorang ahli agama disini. Oleh karena itu, semisal pembaca merasa perlu mencari acuan Al-Qur’an atau Hadist dari apa yang saya tulis, silakan lihat dan dengar video-video dari narasumber diatas.

 

TURUNNYA WAHYU

Screenshot_2016-01-22-00-48-51Al-Qur’an diturunkan tidak dalam satu waktu tertentu, melainkan sedikit demi sedikit. Allah SWT sendiri berfirman bahwa hal ini dilakukan agar hati manusia bisa merasakan dan memahami isi dan perintah dalam Al-Qur’an. Pewahyuan dalam bentuk surat yang panjang maupun ayat yang pendek, turun kepada Nabi Muhammad SAW dari Malaikat Jibril, terus menerus selama dua puluh tiga tahun masa kenabian beliau, namun tidak secara periodik. Wahyu tidak bisa dipastikan waktu kedatangannya, maupun bentuk penyampaiannya. Konsep dasar pewahyuan yang berlaku sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW, adalah bahwa hanya Sang Nabi sendirilah yang bisa merasakan kehadirannya. Pewahyuan bisa melalui mimpi, bisa juga melalui wujud nyata Malaikat Jibril yang menjelma manusia meski hanya Sang Nabi yang bisa melihat dan berbincang dengannya. Namun yang paling berat adalah melalui suara. Sang Nabi akan sangat kesakitan mendengarnya, tubuh beliau bagai menahan beban teramat berat. Jika beliau sedang bepergian, maka Unta yg beliau tunggangi akan terduduk keberatan. Terkadang beliau bercucuran keringat meski cuaca sedang dingin sekalipun. Menerima wahyu tidaklah mudah, namun Sang Nabi rela menanggung itu semua demi tugas mulia yang diembannya.

Screenshot_2015-12-21-16-09-30Sang Nabi bertugas menerima wahyu, menghafalkan, dan menyampaikan kepada masyarakat di sekitarnya. Konon, orang Arab adalah bangsa badui dan kaum penghafal yang luar biasa. Puisi dan dongeng yang mereka miliki sangat jarang tertulis, kebanyakan teringat dalam hati dan terucap lewat lisan. Bahasa Arab sendiri sungguh kaya makna, hingga tiada satupun kata yang tak ada padanannya dalam bahasa lain di dunia. Allah SWT sendiri berfirman bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab agar manusia dapat memahaminya. Dan diturunkannya pun kepada seorang Arab bernama Muhammad yang pandai menghafal meski tak bisa membaca.

Kenyataan bahwa Sang Nabi seorang buta huruf bukanlah aib bagi umat Islam. Justru hal itu adalah bagian dari mukjizat Al-Qur’an. Manusia tak perlu bisa baca untuk mengerti, mengamalkan, dan melantunkan firman-firman Allah SWT. Al-Qur’an bukanlah buku sebagaimana pengertian manusia menciptakan buku, yang mana manusia lain harus bisa baca untuk memahami isinya. Al-Qur’an bukanlah ciptaan atau mahluk. Sekali lagi, Al-Qur’an adalah firman, ucapan, perkataan, atau kalimat-kalimat yang asalnya langsung dari Allah SWT, tanpa rekayasa, tanpa intepretasi ulang, tanpa sedikitpun perubahan. Allah SWT sendiri yang menjamin keasliannya, dan Dia pula yg akan menjaga kelestariannya sepanjang masa.

Screenshot_2016-01-22-00-57-53Nabi Muhammad SAW selama masa kenabiannya berada di Mekah selama 13 tahun, kemudian hijrah ke Madinah selama 10 tahun hingga akhir hayat beliau. Dalam kurun 23 tahun tersebut, ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepada Sang Nabi berbeda topik pembahasannya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan Sang Nabi dan umatnya pada masa terkait. Para ahli agama setelah masa kenabian kemudian melakukan penggolongan surat demi memperluas wawasan dan analisa sejarah maupun dakwah. Surat yang diturunkan di Mekah disebut Surat Makiyah, sedangkan yang turun di Madinah disebut Surat Madaniyah.

Penggolongan surat biasanya didasarkan pada Hadist atau cerita Sang Nabi sendiri tentang lokasi dan masa turunnya surat. Namun jika tak ada petunjuk dari Hadist, maka para ahli agama menggolongkannya melalui perkiraan ilmiah sesuai karakter dari setiap golongan surat. Karakter Surat Makiyah biasanya berisi tentang Tauhid, atau perintah untuk menyembah satu Tuhan, mengingat pada masa di Mekah Sang Nabi memperkenalkan konsep keimanan dan Teologi baru bagi rakyat Mekah. Disini termasuk pengenalan pada Malaikat dan Iblis, Surga dan Neraka, konsep hari kiamat, kisah para Nabi terdahulu, dan perihal serupa lainnya terkait dasar keimanan yang bersifat luas, bukan aturan-aturan spesifik. Sedangkan Surat Madaniyah banyak berbicara tentang hukum-hukum Islam dalam berkehidupan sosial, seperti hak waris, pernikahan, perceraian, tata cara beribadah, berkurban, dan lain sebagainya sesuai dengan peran Sang Nabi yang pada masa itu bertindak sebagai kepala negara dan pimpinan politik bagi rakyat Madinah.

Secara garis besar kita dapat simpulkan, bahwa ajaran Islam secara kronologis dimulai dari menanamkan dasar keagamaan terlebih dahulu, yaitu mengenal dan memahami konsep keimanan dan keislaman sebagaimana di Mekah, kemudian lambat laun meningkat ke arah hukum yang berisi aturan-aturan dalam berkehidupan sosial sebagaimana di Madinah. Islam memulai dengan pendidikan dan pemahaman. Maka tak dibenarkan jika ada sekelompok umat yang menguasai wilayah dan memaksakan penerapan hukum Islam dengan paksaan dan tanpa diawali dengan edukasi.

800px-IslamicGalleryBritishMuseuSecara spesifik, wahyu diturunkan dalam salah satu dari dua kondisi, yaitu dengan sebab atau tanpa sebab, yang dalam ilmu agama dikenal sebagai asbabun nuzul. Sebagian wahyu bisa diketahui pada saat kejadian apa diturunkannya sehingga kita bisa mendalami sejarah dan perintah yang tersirat dalam tiap ayat, namun sebagian yang lain tidak. Surat Al-Fatihah misalnya, tak diketahui diturunkan saat kejadian apa. Bisa kita pahami secara umum bahwa surat itu diturunkan untuk memperkuat keimanan umat manusia. Namun pada kesempatan lain, beberapa ayat diturunkan sebagai jawaban atas sebuah kejadian atau masalah. Misalnya saat salah satu istri Sang Nabi bernama Ummu Salamah bertanya, mengapa Al-Qur’an hanya menyebut “laki-laki” saja, tak pernah “perempuan”. Maka setelah itu turunlah beberapa ayat Al-Qur’an yang secara spesifik menyebut kata laki-laki dan perempuan secara setara dalam berbagai topik.

Mempelajari asbabun nuzul ini sangat penting untuk memahami isi Al-Qur’an, namun – tidak seperti penggolongan lokasi turunnya wahyu di Mekah atau Madinah – disini para ahli tidak bisa melakukan perkiraan ilmiah. Jika tak ada dasar Hadist yang menceritakannya, maka tak ada yang bisa menduga atas kejadian apa pewahyuan tersebut terjadi.

Demikianlah pewahyuan yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW dari turunnya ayat pertama hingga turunnya semua ayat dan surat dalam Al-Qur’an. Bagian berikutnya akan memaparkan bagaimana redaksional Al-Qur’an dilakukan hingga tertulis lengkap dan menjadi “buku” yang kita miliki hingga kini. Mukjizat Sang Nabi secara harfiah benar-benar ada di tangan kita hingga kini, dan Insyaa Allah selamanya. Betapa mengagumkan!

 

REDAKSIONAL AL-QUR’AN DI MASA KENABIAN

Screenshot_2015-12-21-03-55-41Al-Qur’an tersusun dalam Ayat dan Surat. Sebuah surat berisi kumpulan beberapa ayat. Arti kata Ayat adalah mukjizat, pertanda wahyu, atau titik refleksi bagi pembacanya. Sedangkan Surat adalah tembok pembatas yang dibangun untuk melindungi isinya. Jika digabungkan, maka secara linguistik Al-Qur’an merupakan kumpulan mukjizat yang terlindungi dalam masing-masing segmennya. Adalah Allah SWT sendiri yang berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bentuk Ayat dan Surat, bukan hasil karya Sang Nabi, dan bukan pula hasil pandangan intelektual para ahli agama.

Allah SWT pula lah yang menentukan surat beserta namanya yang tercantum dalam masing-masing ayatnya. Isi ayat dalam setiap surat sudah ditetapkan dari Allah SWT, dan tak bisa ditukar atau dipindah antar surat. Jumlah surat adalah 114 dalam Al-Qur’an, ini sudah paten tidak bisa diganggu gugat. Adapun letak urutan surat dalam Al-Qur’an tidaklah kronologis berdasarkan periode diturunkannya surat tersebut kepada Nabi Muhammad SAW. Alhasil, dalam mengurutkan surat ini pernah terjadi sedikit perbedaan pendapat antar ahli agama setelah masa kenabian. Urutan surat biasanya diceritakan oleh Nabi Muhammad SAW dari hasil pewahyuannya dengan Malaikat Jibril, namun untuk beberapa surat tidak dijelaskan dimana seharusnya letak urutannya. Maka disini penentuan letak surat dilakukan oleh para ahli agama secara ilmiah dengan mempertimbangkan aliran tema surat sebelum dan sesudahnya.

Lain lagi halnya dengan pembagian jumlah ayat dalam setiap surat. Ayat biasanya ditetapkan berdasarkan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam membaca Al-Qur’an. Dimana beliau berhenti, disitulah tanda henti sebuah ayat. Tapi adakalanya sebuah surat terlalu panjang hingga Sang Nabi kehabisan nafas dalam membacanya. Mungkin di satu waktu beliau bisa membaca satu ayat dalam satu tarikan nafas, mungkin juga di lain waktu untuk ayat yang sama beliau membacanya dalam dua tarikan nafas. Disinilah terjadi perbedaan penghitungan jumlah ayat dalam Al-Qur’an oleh para ahli agama, meski bedanya hanya sekitar 20an ayat saja. Kebanyakan menyatakan bahwa jumlahnya 6235 ayat, tapi ada juga yang berbeda. Namun demikian, ini tidak menjadikan isi Al-Qur’an berbeda-beda. Al-Qur’an tetap satu dengan ayat-ayat yang sama dan tak mungkin tertukar letaknya diantara beberapa surat.

Screenshot_2015-12-21-16-05-48Dari sisi Bahasa, daratan Arabia adalah peninsula luas di wilayah Timur Tengah dengan beraneka bahasa Arab yang serupa namun tak sama. Pada masa kenabian, berbagai suku bangsa menguasai wilayahnya masing-masing yang tersebar di seantero Arabia, dan mereka berbicara dengan bahasa Arab yang antara satu dan lain suku berbeda dialek dan penggunaan kosakatanya. Al-Qur’an pada mulanya diturunkan hanya dalam bahasa Arab dengan dialek suku Qurais dimana Nabi Muhammad SAW berada. Namun dalam perjalanan pewahyuannya, dikarenakan penyebaran Al-Qur’an yang luas mencakup seluruh daratan Arab, Sang Nabi meminta Allah SWT untuk menurunkan wahyu-Nya dalam dialek dan kosakata lain yang bisa dimengerti oleh suku-suku diluar Qurais. Allah SWT mengabulkan, maka Malaikat Jibril pun menurunkan wahyu hingga tujuh jenis dialek, atau dikenal sebagai tujuh Ahruf.

Salah satu contoh perbedaan tujuh ahruf adalah diturunkannya surat Al-Fatihah dengan salah satu cuplikan ayat yang berbunyi “ihdinash shirootol mustaqiim”, yang mana pada ahruf lain diturunkan juga dengan kalimat “arsyidinash shirootol mustaqiim”. Pernah pula terjadi pada suatu kesempatan, diriwayatkan bahwa Umar Bin Khattab sahabat terdekat Sang Nabi melaporkan dengan emosi bahwa dia mendengar seorang yang membaca surat Al-Furqon dengan cara yang berbeda namun mengaku ajaran tersebut datangnya langsung dari Nabi Muhammad SAW sendiri. Disinilah kemudian Sang Nabi menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah diturunkan kepadanya dalam tujuh ahruf, dan para umat dipersilakan memilih sendiri bacaan yang lebih mudah dimengerti. Yang sangat penting dipahami adalah, bahwa tujuh ahruf tersebut tidak membedakan makna, hanya berbeda dalam dialek dan pemilihan kosakatanya.

280px-Early_Kufic_script_-_Qur'aSepanjang masa kenabian, Al-Qur’an tidak hanya diingat saja, namun sudah juga dituangkan dalam bentuk tulisan. Tulisan yang dimaksud berbentuk seperti prasasti, yang ditulis di berbagai media kuno yang tersedia pada masa itu, seperti kulit unta, daun lontar, batu, tulang, dan lain sebagainya. Konon Sang Nabi memiliki juru tulis hingga dua puluh lima orang. Salah satu yang terkenal adalah Zaid Bin Tsabit, seorang anak muda berbakat dalam bidang bahasa pada masa itu. Semua tulisan yang dibuat pada masa kenabian tidak pernah dikumpulan dalam satu kesatuan tunggal, apalagi dalam bentuk buku, mengingat saat itu kertas belum tercipta. Nabi Muhammad SAW pun tidak pernah memerintahkan para sahabat untuk membuat kumpulan lengkap Al-Qur’an mengingat proses pewahyuan masih terus berlangsung dan beliau tidak tahu kapan akan berhenti, bahkan diriwayatkan bahwa ayat-ayat terakhir Al-Qur’an masih diturunkan beberapa hari sebelum meninggalnya Sang Nabi.

Terkait pula dalam mengatur redaksional Al-Qur’an ini, diriwayatkan bahwa Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW secara khusus setahun sekali di bulam Ramadhan untuk memastikan pewahyuan telah diterima, diurutkan, dihafalkan dengan baik dan benar, dan untuk ayat-ayat tertentu dihapus dari Al-Qur’an. Misalnya, kalimat “arsyidinash shirootol mustaqiim” akhirnya dihapus dari surat Al-Fatihah. Penghapusan bisa disebabkan oleh pilihan kalimat seperti contoh diatas, atau karena perubahan kondisi umat. Allah SWT sendiri berfirman bahwa setiap ayat yang dihapus oleh-Nya pastilah diganti dengan yang setara atau lebih baik dari sebelumnya. Kebanyakan ayat-ayat yang dihapus atau diperbaiki terkait dengan hukum-hukum sosial kemasyarakatan, bukan tentang dasar-dasar keimanan kepada Allah SWT. Alasannya sederhana, yaitu karena manusia tidak sempurna. Perubahan dari pola hidup biadab menjadi beradab tidak bisa dilakukan semalam suntuk saja. Butuh waktu dan proses untuk merubah suatu kaum, dan Allah SWT mengakomodir proses ini.

Pada tahun dimana Nabi Muhammad SAW meninggal dunia (632 Masehi), Malaikat Jibril secara khusus datang dua kali untuk melakukan review Al-Qur’an, yang biasanya hanya setahun sekali. Adalah seorang ahli bahasa dan penghafal Al-Qur’an terbaik bernama Zaid Bin Tsabit, salah seorang juru tulis Sang Nabi, yang dipilih untuk menemani beliau saat Malaikat Jibril datang me-review Al-Qur’an untuk terakhir kali. Oleh karena itu, nantinya pada masa kepemimpinan Khalifah-Khalifah Islam sepeninggal Sang Nabi, peran Zaid Bin Tsabit sangatlah penting dalam perjalanan Al-Qur’an menjadi buku seperti yang kita miliki saat ini.

 

MEMBUKUKAN AL-QUR’AN DI MASA KEKHALIFAHAN

khalifah-1Khalifah adalah sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW yang memimpin umat Islam setelah beliau wafat. Tersebutlah empat masa Khalifah dalam dunia Islam yang terkenal dengan gelar Khulafaur Rasyidin, yang secara urut, singkat dan mudah dihafal adalah sebagai berikut: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Masa kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shidiq bertahan selama 2 tahun setelah meninggalnya Sang Nabi. Kemudian dilanjutkan oleh Umar Bin Khattab yang memimpin selama 10 tahun, Utsman Bin Affan selama 12 tahun, dan diakhiri oleh Ali Bin Abu Thalib selama 5 tahun. Dalam masa kepemimpinan para Khalifah inilah, ajaran Islam berhasil menyebar hingga ke Mesir, Afrika Utara, dan Spanyol di Eropa Selatan.

Al-Qur’an pertama kali dikumpulkan berbentuk tulisan dalam satu tempat dari berbagai media kuno (tulang, batu, kulit unta, daun lontar dan sebagainya), secara lengkap dari surat pertama Al-Fatihah sampai surat terakhir An-Naas, adalah pada masa kepemimpinan Abu Bakar, hanya sekitar satu setengah tahun setelah wafatnya Sang Nabi. Ini sangat luar biasa dalam pembuatan sebuah kitab suci dipandang dari segi otentifikasi atau keasliannya dalam ilmu sejarah, mengingat sangat dekatnya jarak waktu antara turunnya wahyu dengan pendokumentasiannya. Kumpulan ayat-ayat Al-Qur’an ini bisa disebut sebagai “buku” meski bentuknya tidak berupa kertas. Pelestarian Al-Qur’an ini menjadi penting dilakukan pada masa itu dikarenakan banyak para penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam Perang Yamamah di akhir tahun 632 Masehi. Para sahabat Sang Nabi memaksa Abu Bakar untuk membukukan Al-Qur’an agar bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pengumpulan Al-Qur’an yang pertama tersebut dipimpin oleh Zaid Bin Tsabit dengan cara meminta koleksi pribadi dari umat Muslim, dengan syarat membawa dua orang saksi bahwa ayat tersebut pernah dilafalkan langsung oleh Sang Nabi, baik dalam dakwah maupun dalam sholat. Meskipun Zaid Bin Tsabit adalah seorang penghafal Al-Qur’an, beliau tidak ingin mengambil keputusan seorang diri, melainkan melibatkan semua sahabat Sang Nabi untuk mengambil keputusan bersama. Setelah selesai, kumpulan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut disimpan oleh Abu Bakar. Sepeninggal Abu Bakar, penyimpanan dilakukan oleh Khalifah berikutnya, yaitu Umar Bin Khattab. Dan kemudian sepeninggal Umar, Al-Qur’an tersebut disimpan oleh Hafshah, puteri beliau yang juga merupakan salah satu dari istri-istri Sang Nabi.

Screenshot_2016-05-01-15-19-20Disinilah, pada masa kepemimpinan Utsman Bin Affan (644-656 Masehi), proses pembukuan Al-Qur’an kembali dilakukan. Kali ini pemicunya adalah terjadinya perkelahian antar umat Islam sendiri. Saat itu para Muslim dari berbagai suku dan lokasi yang tersebar di daratan Arabia dan sekitarnya dikumpulkan untuk berperang di perbatasan Azerbaijan. Disanalah mereka menyadari bahwa cara baca mereka atas Al-Qur’an berbeda satu sama lain. Mereka adalah para muda yang tidak tahu bahwa Al-Qur’an sebetulnya diturunkan dalam tujuh cara baca, atau tujuh ahruf sebagaimana sudah dikethui dan dimaklumi oleh semua sahabat Sang Nabi. Masing-masing mereka saling tuduh bahwa cara baca merekalah yang terbenar, sedangkan yang cara bacanya berbeda pastilah salah.

Berita inipun sampai ke telinga Utsman Bin Affan yang kemudian memerintahkan kembali Zaid Bin Tsabit untuk membukukan Al-Qur’an dalam satu ahruf atau dialek yang dinilai original dan terbaik, yaitu Qurais. Kumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang saat itu berada di tangan Hafshah dipinjam oleh beliau, dan mereka memulai penyeragaman Al-Qur’an dari situ. Maka mulailah mereka menulis ulang Al-Qur’an ayat demi ayat dengan teliti. Dikisahkan bahwa pada saat mereka sampai pada suatu kata yang sama-sama dalam dialek Qurais namun berbeda cara bacanya dan keasliannya bisa dibuktikan dengan kesaksian minimal dua orang bahwa Nabi Muhammad SAW pernah membacanya seperti itu, maka Utsman memerintahkan agar mereka menuliskan satu lagi versi buku (disebut juga mushaf) Al-Qur’an yang lengkap. Demikian seterusnya, hingga akhirnya terciptalah tujuh versi atau tujuh mushaf (ada juga yang menyatakan lima, atau empat) yang masing-masing memuat cara baca yang sedikit berbeda meski maknanya sama. Ini adalah bukti kehati-hatian para pemelihara Al-Qur’an pada masa itu, mengingat yang mereka hadapi ini adalah kalimat yang turun langsung dari Allah SWT.

Uthmans-noble_quran_mss1Maka kemudian disebarluaskanlah ketujuh (atau empat, atau lima) mushaf tersebut, masing-masing ke wilayah utama yang bebeda di daratan Arabia, disertai dengan satu orang guru yang akan mengajarkan bagaimana mushaf tersebut harus dibaca dengan benar. Dalam perkembangannya di kemudian hari, beberapa ahli baca Al-Qur’an mengajarkan versi-versi baca Al-Qur’an tersebut sebagai salah satu ilmu Al-Qur’an dan menjulukinya dengan versi nama mereka masing-masing. Inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan tujuh Qira’at. Meskipun berjumlah sama, yaitu tujuh, jangan sampai kita keliru memaknai tujuh Qira’at ini sebagai tujuh Ahruf, karena pengertian keduanya sangat berbeda. Tujuh Ahruf adalah dialek bahasa Arab yang diturunkan langsung dari Allah SWT untuk membantu umat Muslim agar lebih mudah membaca dan memahami isi Al-Qur’an. Sedangkan tujuh Qira’at adalah cara baca yang dikembangkan setelah masa kenabian.

Setelah semua mushaf Al-Qur’an disebar ke seluruh suku bangsa kaum Muslim, Utsman kemudian mengumumkan, bahwa jika mereka masih menyimpan mushaf-mushaf Al-Qur’an yang lain, maka mereka harus membakarnya. Dengan kata lain, tujuh Ahruf yang tadinya diturunkan oleh Allah SWT, kini hanya ada satu. Tindakan ini meski terkesan radikal harus dimaknai secara positif, yaitu tujuannya untuk menyatukan umat Muslim. Jika semua Ahruf dibiarkan ada, maka dipastikan akan terjadi perpecahan yang nyata diantara umat Islam. Dengan adanya standarisasi ini, maka pelestarian Al-Qur’an akan terjaga selamanya.

 

AL-QUR’AN HINGGA KINI DAN NANTI
Screenshot_2015-12-21-04-08-36Al-Qur’an pada awalnya ditulis tanpa menggunakan tanda titik maupun vokal. Bangsa Arab tidak kesulitan membacanya meskipun beberapa huruf mempunyai bentuk yang persis sama. Mereka menggunakan konteks kata yang memungkinkan huruf-huruf tersebut tidak mungkin tertukar satu dengan yang lain. Namun pada perkembangannya ajaran agama Islam secara cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Orang-orang non Arab pun mulai belajar membaca Al-Qur’an, dan mereka tentu saja kesulitan membaca huruf-huruf yang serupa dan tanpa tanda vokal. Bahasa Arabpun lambat laun berkembang dengan tulisan yang disempurnakan, hingga semua orang dari belahan dunia manapun bisa mempelajari cara bacanya dengan lebih mudah.

Hingga kini Al-Qur’an telah dicetak dalam bentuk buku dengan berbagai ukuran, diterjemahkan dalam berbagai bahasa untuk membantu pemahaman, serta diajarkan, dibaca dan dihafalkan oleh umat Islam di seluruh dunia. Al-Qur’an akan selalu tertulis dalam bahasa aslinya, yaitu Arab, dengan satu standar Aruf meski terdapat beberapa perbedaan sangat minor pada beberapa Qira’at yang berbeda. Oleh karena itu, dengan mengetahui sejarah turunnya Al-Qur’an dan pelestariannya, diharapkan makin meningkat keimanan kita pada kitab suci Al-Qur’an yang kita cintai. Adapun yang saya tulis disini hanyalah rangkuman dari sebagian kecil saja ilmu-ilmu Al-Qur’an yang bisa diperdalam pada masing-masing temanya, seperti mengenai penggolongan surat-surat Al-Qur’an, sebab-sebab turunnya Al-Qur’an, ilmu qira’at, tafsir Al-Qur’an, dan masih banyak lagi. Semua itu adalah bagian dari keajaiban Al-Qur’an yang bisa kita rasakan sejak masa kenabian hingga kini dan nanti.

Screenshot_2015-12-21-03-58-50Al-Qur’an adalah satu-satunya mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Tak seperti mukjizat yang diturunkan kepada para Nabi sebelumnya yang bersifat sementara hanya pada saat kejadiannya saja, seperti Nabi Musa yang membelah laut Merah, atau Nabi Nuh yang membuat kapal raksasa, atau Nabi Isa yang menyembuhkan orang buta, mukjizat Nabi Muhammad SAW berlaku abadi di depan mata kita semua para umatnya, kapanpun dan dimanapun.

Adalah tugas Allah SWT untuk menjaga keabadian Al-Qur’an hingga akhir jaman sebagaimana Dia janjikan. Tugas kita hanyalah beriman, yaitu mempercayai dan mengamalkan Al-Qur’an. Caranya adalah dengan membaca, mempelajari, dan mengajarkan. Jika sudah, mari kita lanjutkan. Jika belum, mari kita mulai dari sekarang. Mari, mencintai Al-Qur’an.

 

*** T A M A T ***

Advertisements