Catatan Tentang BIOGRAFI NABI MUHAMMAD SAW

Buku ini ada sudah sejak lama… Hadiah dari sahabatku sewindu yang lalu… Tapi baru sekarang aku membacanya… Dan kini Sang Rasul tercinta bagai terlahir baru di pikiran dan hatiku…

Karen Armstrong menulisnya sebagai ilmu, bukan kepercayaan… Tiga agama utama dunia dikuasainya dengan mendalam… Yahudi, Kristen dan Islam dipakainya sebagai landasan… Maka lahirlah kisah hidup Nabi Muhammad sebagai sejarah Islam…

Sebagai manusia biasa, Nabi Muhammad sangatlah luar biasa… Karen memaparkannya secara ekonomi, politik, dan pribadi… Seorang yang cerdas dan karismatik, tegas dan bijaksana, lembut dan penuh cinta… Buta huruf adalah kekurangan Sang Nabi, tapi disitulah terletak mukjizat Ilahi…

Pewahyuan demi pewahyuan dilukiskan… Perang demi perang dijabarkan… Sahabat demi sahabat diperkenalkan… Istri demi istri dikisahkan…

Islam bukan agama pedang, Islam adalah agama kemenangan… Ummat semakin kuat seiring dakwah Nabi yang berkesinambungan… Meski tak satupun Nabi-Nabi yang tidak melalui penderitaan… Tapi Nabi kita Muhammad SAW meninggal di tengah kejayaan…

Karen menuliskannya sebagai temuan ilmiah yang nyata… Pujiannya terhadap Islam dan Nabi bukan karena agama yang dia yakini… Landasan sejarah diambilnya dari berbagai sumber yang tersedia… Al-Qur’an dan Al-Hadist-pun dipakainya sebagai bahan observasi…

“Pada Abad ke-8 dan ke-9 kaum terpelajar Muslim mulai memproses pencarian dan pengumpulan koleksi besar ucapan Muhammad [Hadis] dan praktik tradisi [Sunnah]. Mereka berkelana ke seluruh kerajaan Islam untuk menemukan sebanyak mungkin catatan otentik mengenai hal-hal yang pernah diucapkan atau dilakukan Muhammad pada peristiwa-peristiwa tertentu. Ini, bersama dengan Al-Qur’an, membentuk dasar-dasar Hukum Suci Islam [Syariat]. Keduanya juga menjadi dasar bagi kehidupan dan spiritualitas setiap ummat Muslim. Sunnah mengajari kaum Muslim meneladani cara Muhammad berbicara, makan, mencinta, membersihkan diri, shalat. Sehingga dalam detil-detil terkecil kehidupan, semua ummat Muslim mereproduksi hidup Nabi di dunia dan dalam realita. Dan rasa simbolis itu menghidupkan Nabi kembali.”

Karen juga melihat bagaimana Ummat mencintai Muhammad… Menjelang akhir buku dia menuliskannya dengan cermat… Akupun tersadar dan Insya Allah akan selalu kuingat… Bahwa Sunnah Rasul adalah bagian dari mencintai Allah dengan khidmat…

“Dengan menirukan diri mereka sedekat mungkin dengan Nabi, umat Muslim bukan hanya membawa Nabi ke dalam diri, tetapi juga berusaha menanamkan sikap diri Muhammad dan mendekatkan diri mereka kepada Tuhan, yang mereka temukan berada dalam kedalaman diri sendiri. Sebuah Hadis Qudsi [Hadis Suci yang diucapkan langsung dari Allah melalui bibir Nabi], menekankan bahwa Tuhan bukan Sosok metafisikal ‘di luarsana’, melainkan sesuatu yang secara misterius diidentifikasikan dengan keberadaan mereka sendiri. Hadis terkenal ini menyusun tingkat pemahaman seseorang akan kehadiran dirinya: engkau harus mulai dengan melaksanakan perintah dan kemudian maju ke tindak kesalehan suka rela [nafilah].”

“Selama hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah yang lebih Aku senangi dari ibadah-ibadah yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan selama hamba-Ku tetap mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah [nafilah], sampai Aku mencintainya. Maka ketika Aku mencintainya, Akulah yang menjadi ‘telinga’ yang ia gunakan untuk mendengar, ‘mata’ yang ia gunakan untuk melihat, ‘tangan’ yang ia gunakan untuk memegang, dan ‘kaki’ yang ia gunakan untuk berjalan. Apabila ia meminta kepada-Ku, sungguh aku akan memberinya, dan apabila ia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh aku akan memberikan perlindungan.”

Aku secara pribadi pernah menulis tentang Cinta Allah yang harus kucari… Akan kuingat bahwa pada suatu malam aku menutup sholat dengan doa seperti ini…

Wahai Maha Perkasa, Maha Bijaksana, Maha Pengampun, Maha Penyayang, Yaa Allah… Cintailah aku, dan aku berjanji untuk selalu mencari Cinta-Mu, Insya Allah…

— Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1432 Hijriah, 15 Februari 2011 —