Kisah Nabi Muhammad SAW: Biografi Kritis BBC – The Life Of Muhammad [Part Three: Holy Peace]

Catatan: Ini adalah bagian ke-3 dari 3 tulisan saya atas film dokumenter “The Life Of Muhammad” produksi BBC. Sebelum membaca tulisan ini, silakan membaca tulisan saya tentang “Pengantar” terlebih dahulu. Hal ini penting untuk menghindari kesalah pahaman yang mungkin terjadi. Terima kasih. Link-nya disini: https://primasantika.wordpress.com/2015/12/21/kisah-nabi-muhammad-saw-biografi-kritis-bbc-the-life-of-muhammad-pengantar/

Link Youtube untuk Part Three ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=lQazfcaalp8

PART THREE: HOLY PEACE

  1. SPIRITUALISME ISLAM

[Menit: 03.00 – 12.00] Selama masa kenabian beliau, Nabi Muhammad SAW selalu merasa sakit secara fisik saat memperoleh wahyu dari Tuhan, baik yang berbentuk ucapan yang terdengar maupun cahaya yang terlihat. Wajah beliau berubah pucat, berkeringat walau di musim dingin, bagaikan jiwa yang tercabik cari tubuhnya. Tidak pernah mudah mendapatkan wahyu dari Tuhan. Dipercaya bahwa Sang Nabi telah benar-benar merasakan – walau sejenak – kekuatan Tuhan yang kemudian tertuang sebagai ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang keluar dari ucapan Sang Nabi. Di sisi lain, bagi mereka yang tidak mempercayai Al-Qur’an, pewahyuan ini hanyalah dipandang sebagai hasil dari kemampuan seseorang yang kebetulan punya tingkat kesucian dan spiritualisme sangat tinggi  hingga mampu memasuki alam para malaikat. Ahli sejarah yang menganut paham tersebut menilai bahwa di masa kehidupan Sang Nabi, kemampuan seperti itu sudah diremehkan oleh pemeluk Yahudi, Nasrani dan Zoroastrian (agama monotheis minoritas yang lahir di Persia (Iran) sekitar tahun 2000 sebelum Masehi yang hingga kini masih diakui keberadaannya oleh negara Iran), sedangkan orang Arab disekitar Sang Nabi justru mau mempercayai apapun yang diucapkan beliau dengan spiritualisme setinggi itu.

PhotoGrid_1461994762953Di masa modern ini, spiritualisme seperti itu sudah tidak lagi dikaitkan dengan Islam. Namun demikian, berbagai bentuk ajaran spiritualisme yang muncul setelah wafatnya Sang Nabi masih dilestarikan hingga kini. Salah satunya adalah aliran Sufi. Di Turki, para penganut spiritualisme Sufi ini kerap berkumpul dan berdzikir bersama memuji kebesaran Tuhan dengan gerakan tubuh, bahkan tarian. Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling sempurna, yang melalui suri tauladan beliau para umatnya bisa mengerti dan mendekat pada Tuhan. Sang Nabi kerap berdzikir, tentu saja. Itulah inti yang diteladani disini demi mendekatkan diri kepada Tuhan, meski tak ada bukti sejarah yang menyatakan bahwa beliau melakukan ritual tarian seperti itu.

Sufi hanyalah satu dari sekian banyak praktek ibadah yang beragam dalam Islam, seperti juga terjadi pada semua agama. Dan meskipun ibadah adalah aktivitas penting dalam Islam, namun yang tak kalah pentingnya adalah berbuat baik. Melakukan ibadah kepada Tuhan dan berbuat baik untuk kemanusiaan adalah inti dari ajaran Nabi Muhammad SAW.

Pada dasarnya ajaran spiritualisme Sang Nabi bagi umatnya adalah ajaran yang membumi, penuh dengan petunjuk praktis untuk memperbaiki kehidupan bermasyarakat, khususnya bagi warga Arab pada masa itu. Beliau tidak menjauhi dunia dengan terlalu fokus pada meditasi spiritualisme semata demi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta agar mendapatkan surga di akhir jaman kelak, namun yang beliau lakukan justru mencoba mencipta kondisi ideal dalam hidup keseharian bermasyarakat dan bernegara. Di tahun 627 Masehi, Sang Nabi telah menjadi pemimpin kuat di Madinah, namun beliau masih mempertahankan pola hidup sederhana, tidak berfoya-foya dengan harta dan perhiasan bahkan seringkali disumbangkan bagi rakyatnya, serta tinggal di rumah kecil dekat masjid yang beliau bangun, yang merupakan tempat ibadah sekaligus tempat aktivitas beliau bertemu dengan semua penduduk Madinah, baik umat Muslim, Yahudi, Kristen, Atheis, bahkan dengan para budak.

Nabi Muhammad SAW adalah karakter kharismatik. Beliau selalu bersikap adil, seorang pendengar yang baik, berhati lembut, sopan dan ramah, serta tak ingin mencari kesalahan orang lain. Dalam kepemimpinannya, beliau tidak didorong oleh nafsu untuk berkuasa namun tetap menjadi pemimpin yang baik, sangat berperikemanusiaan, tidak pernah bermewah-mewah yang tentunya menjauhkan beliau dari korupsi, dan integritas moralnya tak diragukan lagi. Sang Nabi adalah teladan sejati, seorang manusia yang berhasil memadukan kemampuan kepemimpinan dan moralitas yang tinggi selama hidupnya. Beliau adalah Sang Pencari Kebenaran, yang melalui ajaran dan tauladannya  mampu merubah bangsa Arab dan membuka wawasan seluruh umat manusia.

  1. HUKUM SYARIAH

[Menit: 12.00 – 19.00] Peran Nabi Muhammad SAW di Madinah sangat jauh berbeda dengan keberadaannya di Mekah. Pewahyuan dari Tuhan yang beliau terima pun berbeda. Di Mekah, ayat-ayat yang diturunkan kepada beliau adalah mengenai ketuhanan, seperti tentang hari kiamat, tentang moral, keadilan, keagamaan dan semisalnya. Sedangkan di Madinah, Sang Nabi memperoleh petunjuk yang lebih praktikal untuk kemanusiaan dalam berkehidupan keseharian, seperti tentang pembagian warisan, pernikahan, kewajiban zakat bagi fakir miskin, keadilan dalam hukum, dan sebagaianya, bahkan sampai bagaimana sebaiknya bertegur sapa. Hal ini sesuai dengan peran beliau sebagai pemimpin masyarakat di Madinah yang harus mengatur kendali atas politik dan sosial dalam bermasyarakat. Prinsip-prinsip moral ini dalam perkembangannya menjadi dasar tata cara pencapaian keadilan sosial bagi seluruh masyarakat, yang mana dalam Al-Qur’an disebut sebagai Syariah, yang artinya adalah jalan untuk mengerti kehendak Tuhan.

Sebetulnya implementasi atas Syariah yang dilakukan Sang Nabi dan para Sahabat pada masa itu adalah murni melakukan apapun yang bisa mendekatkan mereka kepada Tuhan. Itu saja. Disinilah istilah Syariah menjadi problematik, karena dalam perkembangannya para penerus Sang Nabi – terutama para ahli dan penegak hukum yang selalu berkutat pada hukum – mengartikan Syariah sebagai Hukum Tuhan.

Sebetulnya yang ditekankan dalam Syariah adalah perihal dasar kemanusiaan, seperti persatuan, kesetaraan, keadilan, kemerdekaan, dan semisalnya. Namun apa yang dimaknai sebagai Syariah di masa kini sangatlah berbeda. Yang dipandang sebagai Syariah saat ini sebetulnya adalah sebuah perangkat hukum ciptaan para ahli hukum yang muncul sekitar dua abad setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW, yang mana pada masa itu keberadaannya memang sangat dibutuhkan sebagai bagian dari makin luasnya wilayah kekuasaan Islam. Mereka memadukan ajaran dari Al-Qur’an dengan teladan dari masa hidup Sang Nabi. Versi itulah yang saat ini oleh sebagian kalangan Muslim dipandang sebagai hukum Islam yang tak boleh diubah.

Prinsip dasar dari hukum Islam adalah Al-Qur’an. Bahkan tak jarang Al-Qur’an menjelaskan sangat detail atas hukum yang diinginkan Tuhan, seperti misalnya tata cara membagi warisan. Namun secara keseluruhan, hukum Syariah adalah sebuah sistem buatan manusia yang dibuat sesuai dengan kondisi yang menyertainya. Hukum Syariah adalah hasil intepretasi manusia dalam usahanya untuk mengerti kehendak Tuhan. Dalam hukum Syariah itu sendiri pun ada banyak versi dari beberapa ulama, yang bahkan bisa kontradiktif aturannya satu sama lain. Yang pasti adalah, hukum Syariah bukanlah sesuatu yang turun langsung dari Tuhan, melainkan sesuatu yang bisa fleksibel disesuaikan dengan kondisi pada masanya.

Selama di Madinah, Nabi Muhammad SAW telah merubah secara radikal pola berkehidupan warga Arab jahiliyah, seperti menghentikan kebiasaan perang antar suku, dan memberi wanita hak dalam warisan serta diperbolehkan memiliki harta. Namun di sisi lain, Al-Qur’an juga memuat ayat terkait hukuman yang dipandang kuno di masa kini, seperti memotong tangan untuk pencurian, meski tak ada bukti nyata bahwa Sang Nabi pernah melakukannya. (Tambahan informasi pribadi: sepanjang yang saya tahu, ada satu hadist yang menyatakan Nabi Muhammad SAW pernah menerapkan hukum potong tangan pada satu kasus, namun saya tidak tahu setinggi apa derajad hadist tersebut. Ini FYI saja.)

Arab Saudi dan Iran adalah contoh negara yang mendasarkan perangkat hukum di negaranya dari hukum Syariah. Beberapa aturan dan hukuman yang diimplementasi disana dinilai banyak pihak sebagai sesuatu yang kuno dan terbelakang. Maka pada saat beberapa kalangan ekstrimis Muslim menuntut implementasi hukum Syariah di Eropa dan Inggris Raya, tak pelak terjadilah penolakan dari warga setempat.

PhotoGrid_1461995031041Kontroversi: Sangat mudah bagi kritisi non Muslim menyatakan bahwa hukum Syariah adalah hukum yang brutal dan tak berperikemanusiaan. Hukuman-hukuman kuno yang tidak cocok dengan kondisi masa kini masih dilakukan dalam hukum Syariah, seperti hukum potong tagan bagi pencuri, rajam batu dan hukum mati bagi pezina, dll.

Argumentasi: Hukum, secara teori sewajarnya adala institusi yang berkembang dan berubah sesuai dengan kondisi yang melingkunginya. Sayangnya, apa yang kita sebut sebagai hukum Syariah saat ini adalah sebuah hukum yang beku dari masa lalu. Mengimplementasikan hukum Syariah seperti itu di masa kini berarti sama saja dengan mencipta ulang kondisi abad 8 dan 9 Masehi. Yang perlu dilakukan para Ulama jika dipandang perlu adalah melakukan penyesuaian atas hukum Syariah secara konsisten dan berkesinambungan. Kata Syariah secara harfiah berarti jalan mengalirnya air ke tempat penampungan air (watering hole). Kita bisa menafsirkan kata ini dengan kebutuhan untuk selalu menjaga jalur air ini. Di beberapa titik air, perlu adanya pembersihan dan penyegaran agar air yang sampai di penampungan tetap layak minum.

Pendapat Kritis: Pendapat sebagian Muslim yang selalu mengedepankan perangkat hukum kuno sebagai Syariah yang paling benar, sejatinya adalah sebuah pemahaman yang sempit tentang Syariah itu sendiri. Bagi umat Muslim yang hidup di suatu negara yang punya hukum sendiri dan diterima umum oleh warganya, maka hukum yang berlaku itulah Syariah mereka. Tak perlu lagi umat Muslim memaksakan implementasi pola hukuman kuno pada lingkungan yang sudah terbangun dan tertata. Dan bagi para ekstrimis yang memaksakan implementasi hukuman radikal pada komunitas mereka, selayaknya dipertanyakan: apakah kepemimpinan mereka dipilih dan dikehendaki oleh warga setempat? Hukum tidak bisa seenaknya diberlakukan – apalagi mengatasnamakan Islam – kalau keberadaan mereka tidak secara layak dan sah dipilih oleh rakyat. Lalu bagaimana dengan keadilan, kesetaraan hak, dan apakah mereka sudah melakukan pembelajaran pada masyarakat sebelum implementasi hukum dilakukan? Islam tidak mengajarkan pemaksaan. Islam memulai dengan pendidikan. Dan tentang hukuman, jangan dulu bicara tentang implementasi hukuman jika belum memulai dengan pendidikan hak asasi dan harga diri. Karena sejatinya implementasi hukuman radikal hanyalah cara para ekstrimis memaksakan keabsahan mereka sebagai penguasa, padahal warga setempat tidak menghendakinya.

  1. POLIGAMI

[Menit: 19.00 – 27.00] Pada tahun 627 Masehi, Nabi Muhammad SAW bersama pengikutnya sudah punya basis kekuatan yang kokoh di Madinah. Di sisi lain kaum Qurais masih menguasai Mekah, meskipun dalam beberapa peperangan tak bisa mengalahkan Sang Nabi yang mereka benci. Jika Sang Nabi ingin menyebar ajaran Islam ke seluruh daratan Arabia, maka mau tak mau beliau harus menguasai Mekah. Namun beliau juga sadar, bahwa mengalahkan Mekah dengan kekuatan militer amatlah berat. Satu-satunya alternatif penaklukan Mekah adalah melalui jalur politik, yaitu menggandeng semua suku di daratan Arabia untuk menjadi aliansi. Dan salah satu cara cepat membangun kekuatan politik ini adalah dengan mengikat tali pernikahan.

Poligami adalah salah satu kritik terbesar dari para pembenci Sang Nabi, sejak dulu hingga kini. Pada masa itu poligami dipandang wajar, tapi Nabi Muhammad SAW tidak pernah melukannya semasa istri pertama beliau masih hidup, Siti Khadijah. Barulah di Madinah ini Sang Nabi mempersunting banyak istri. Beberapa sumber sejarah ada yang mencatat sembilan, atau sebelas, atau bahkan tiga belas jumlahnya. Beberapa diantaranya adalah janda, beberapa lainnya adalah wanita tawanan perang yang mendapat kebebasan saat menikahi Sang Nabi, dan ada juga seorang budak beragama Kristiani yang dipersembahkan oleh penguasa Mesir pada masa itu. Namun yang paling kontroversial adalah pernikahan Sang Nabi dengan seorang gadis sangat muda bernama Siti Aisha.

PhotoGrid_1461995647165Kontroversi: Beberapa sumber sejarah mengatakan bahwa Siti Aisha ditawarkan untuk menikah kepada Nabi Muhammad SAW pada usia 6 atau 7 tahun, lalu diperistri pada usia 9 tahun. Ada pula yang menyatakan Siti Aisha menikah diusia 16 atau 17 tahun. Bagi Sang Nabi yang melakukannya pada usia 53 tahun, moralitas seperti ini sangat tidak pantas di periode sejarah manapun, baik dahulu maupun sekarang.

Argumentasi: Dalam seabad belakangan, hal ini memang menjadi kontroversi. Kenyataan bahwa kisah ini tidak tercantum dalam Al Qur’an namun tercatat di beberapa sumber sejarah dengan angka usia yang berbeda satu sama lain, menjadikannya problematik dalam Islam dan perlu diteliti lebih lanjut. Namun jika kontroversi ini bisa – dan sebaiknya – dikesampingkan, maka yang jauh lebih penting disini adalah mendalami siapa sebenarnya Siti Aisha, bagaimana dia tumbuh dewasa di rumah tangga Sang Nabi, dan apa sumbangsihnya terhadap Islam. Jika tak ada Siti Aisha, maka sebagian informasi tentang Nabi Muhammad SAW akan sirna, karena dialah yang paling mengetahui seluk beluk keseharian dan pribadi Sang Nabi. Siti Aisha adalah istri beliau hingga akhir hayat. Siti Aisha tumbuh sebagai wanita yang cerdas dan mandiri, berwawasan luas dan memahami politik, bahkan manjadi pemimpin pada masanya dengan hak-hak khusus sebagai janda Sang Nabi. Sumber sejarah menyatakan bahwa perbedaan pandangan antara Siti Aisha dengan sepupu sekaligus menantu Sang Nabi bernama Ali lah yang memecah Islam menjadi dua aliran, yaitu Sunni dan Shiah.

Kontroversi: Nabi Muhammad SAW diijinkan berpoligami dengan banyak istri, sedangkan umat Islam dalam Al Qur’an hanya diijinkan menikahi empat istri. Ini sangat tidak adil. Beberapa kejanggalan dalam rumah tangga Sang Nabi patut dipertanyakan, seperti kontroversi saat Sang Nabi menikahi janda cerai dari anak lelaki adopsi beliau sendiri, dan juga saat Siti Aisha ditemukan sendiri bersama seorang teman lelakinya tanpa ada saksi.

Argumentasi: Adalah salah jika memandang Sang Nabi memperistri banyak wanita hanya demi kesenangan seksual semata. Beliau melakukannya untuk mengikat hubungan politik dengan berbagai suku di Arabia, yang mana ikatannya bukan berdasarkan hubungan darah atau kesamaan agama. Poligami di masa Arab jahiliyah adalah wajar dan tanpa batas. Setelah Sang Nabi berpoligami, barulah turun ayat Al Qur’an yang membatasi umat Islam menikahi maksimal empat istri, sedangkan Sang Nabi diijinkan tetap menjadi suami dari semua istrinya, namun tidak diperkenankan menikah lagi setelahnya. Pernikahan Sang Nabi dengan mantan menantu beliau bahkan dianggap sebagai hubungan sedarah yang bisa memecah belah umat Islam, namun nyatanya tidaklah demikian. Sedangkan kecurigaan Sang Nabi terhadap Siti Aisha disangkal lewat turunnya ayat Al Qur’an yang menyatakan bahwa Siti Aisha tidak bersalah. Hukuman atas para pezinapun tidak seradikal yang diterapkan para extrimis Islam seperti Taliban. Konon hukuman rajam batu hingga mati adalah hukuman yang termuat di kitab suci Taurat atau Perjanjian Lama dalam agama Yahudi dan Kristiani. Sedangkan dalam Islam, hukumannya adalah rajam pecut seratus kali di punggung, hanya jika ada empat orang yang bersaksi melihat hubungan badan sebagaimana dituntutkan.

  1. HIJAB

[Menit: 26.00 – 32.00] Istri-istri Nabi Muhammad SAW tinggal di rumah yang tak jauh dari masjid Sang Nabi di Madinah. Kondisinya ramai orang lalu lalang, dan privasi pun sulit didapat. Dengan makin banyaknya pihak yang tak suka pada Sang Nabi, istri-istri beliau pun seringkali dijadikan obyek fitnah untuk menjatuhkan beliau. Oleh karenanya, turunlah ayat Al-Qur’an yang memerintahkan para istri Sang Nabi untuk berbusana santun dengan menggunakan “penutup”, agar menjadi pembeda diantara masyarakat di sekitarnya. Dalam perkembangannya hingga kini, tata cara berbusana tersebut menjadi panutan penting bagi para Muslimah, dan menjadi dasar sudut pandang utama bagi dunia dalam menilai perlakuan Islam terhadap wanita.

PhotoGrid_1461995338487Kontroversi: Dunia memandang penggunaan hijab ini sebagai perilaku Islam yang menindas hak asasi perempuan. Secara ekstrim, bahkan beberapa wanita menggunakan tak sekedar hijab, namun juga cadar yang menutupi seluruh wajah kecuali mata. Beberapa negara Barat tidak mentolerir hal tersebut dan melarang penggunaan hijab dan cadar di negara mereka. Sedangkan di dalam Islam sendiri terdapat perbedaan pendapat tentang wajib atau tidaknya penggunaan hijab bagi para Muslimah.

Argumentasi: Memang terdapat ayat dalam Al-Qur’an yang menyarankan pengunaan “penutup” bagi wanita, terutama bagi para istri Sang Nabi. Wajib atau tidaknya saran tersebut masih menjadi perdebatan, namun jenis “penutup” itu sendiri tidak dijelaskan rinci dalam Al-Qur’an. Sejarah mencatat bahwa kebiasaan memakai hijab secara luas dalam kehidupan umat Islam baru muncul sekitar seabad setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW. Sebuah sudut pandang ahli sejarah dalam topik hijab ini menyatakan bahwa pendapat mewajibkan berhijab adalah hasil dari intepretasi para wanita Islam dalam memandang ayat Al-Qur’an, sedangkan para prianya mengesahkan intepretasi tersebut dalam ranah hukum. Disini terlihat bahwa politik “identitas” untuk membedakan diri dengan komunitas lain dalam masyarakat memegang peran penting dalam implementasinya. Dalam dua puluh tahun terakhir ini saja, di Inggris sebagaimana juga terjadi di beberapa negara barat lainnya, tercatat penggunaan hijab yang meningkat untuk pengukuhan identitas keislaman para wanita. Namun sejatinya yang ada dalam Al-Qur’an adalah saran, bukan kewajiban, dan tentunya tidak berupa paksaan bagi wanita Islam.

Wanita bebas memilih busana, selama menjaga santun dalam memakainya. Priapun dituntut demikian dalam Islam. Apapun intepretasi dalam memenuhi standar “santun” ini masih menjadi bahan diskusi, namun tidak seharusnya digunakan untuk menilai tingkat keimanan seseorang sebagai umat Islam. Bagi wanita yang memilih untuk menggunakan jenis penutup apapun, baik hijab maupun cadar dalam berbusana santun, sebaiknya dipandang bahwa mereka melakukannya atas kehendak sendiri, bukan karena paksaan dalam Islam. Wawancara dengan seorang penulis wanita Inggris menyatakan bahwa dirinya memilih bercadar karena dia percaya hal itu bisa lebih mendekatkannya kepada Tuhan. Sedangkan bagi wanita yang menjaga kesantunan berbusana tanpa hijab dan cadar, sebaiknya tidak dianggap sebagai wanita Islam yang meremehkan agamanya. Putri Kerajaan Jordania, Badiya binti El Hassan, dalam wawancaranya menyatakan bahwa dirinya tetap memegang teguh keimanan Islamnya meski memilih untuk tidak memakai hijab atau cadar. Kita tidak bisa menilai keimanan seseorang hanya dari busana yang dipakainya.

  1. PERJANJIAN HUBAIDIYAH: DAMAI MELEBIHI EGO

[Menit: 32.00 – 37.00] Meski para musuh Nabi Muhammad SAW menggunakan para istri untuk fitnah demi menjatuhkan beliau, Sang Nabi tetap mempergunakan para istri untuk membantu beliau dalam memperluas wilayah kekuasaan di daratan Arab. Dengan makin bertambahnya aliansi Sang Nabi, maka beliaupun bisa kembali memfokuskan diri pada Mekah. Di tahun 628 Masehi, Nabi Muhammad SAW mengumumkan rencana beliau kepada umat Muslim bahwa mereka akan melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Mekah, tempat dimana mereka menghadap setiap sholat, dan dimana Ka’bah berdiri sebagai simbol utama atas Keesaan Tuhan yang diajarkan sejak Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad SAW. Pemasalahannya adalah, kaum Qurais masih menguasai kota Mekah dan mengisi Ka’bah dengan berhala-berhala yang tak layak disembah. Hal ini berarti Sang Nabi akan menantang pihak Qurais untuk menerima beliau beserta umat Muslim dalam beribadah haji, yang mana berarti pula mereka akan memasuki wilayah kekuasaan musuh tanpa membawa senjata apapun.

PhotoGrid_1461995432242Maka berangkatlah Sang Nabi dan pengikut beliau pada saat yang sudah ditetapkan. Dalam perjalanan, mereka dihentikan paksa oleh tentara dan utusan dari kaum Qurais di kota Hubaidiyah, sekitar 13 km dari kota Mekah. Negosiasipun kemudian berlangsung antara utusan Sang Nabi dengan utusan kaum Qurais. Kesepakatan akhirnya diperoleh, yaitu rombongan umat Muslim akan kembali ke Madinah tanpa beribadah haji, dan Sang Nabi diminta menghentikan serangan-serangan umat Muslim pada kereta dagang milik kaum Qurais. Sebagai gantinya, mereka akan mengijinkan Sang Nabi dan umat Muslim untuk menjalankan ibadah haji di Mekah pada tahun berikutnya. Meski tersirat kekalahan di sisi umat Muslim, ksepakatan yang kemudian disebut sebagai Perjanjian Hubaidiyah ini akhirnya disetujui oleh Sang Nabi. Dan yang lebih merendahkan lagi, kaum Qurais tidak mau membubuhkan kata tambahan “Rasul Allah” di belakang nama Nabi Muhammad SAW. Tapi Sang Nabi tidak keberatan. Beliau tetap menanatangani perjanjian tersebut.

Inilah salah satu suri tauladan terbaik dari Nabi Muhammad SAW, yaitu atas kondisi seburuk apapun, ajakan untuk berdamai harus diterima dengan baik. Al-Qur’an pun menuliskan ajaran itu, salah satunya dalam surat An-Nisa ayat 40. Ego harus dikalahkan, damai harus ditegakkan. Namun bagaimanapun juga, para pengikut Sang Nabi merasa kecewa. Hal ini sungguh memalukan menurut mereka. Kebiasaan di Arab pada masa itu, kejadian semacam ini akan diikuti dengan pertumpahan darah untuk menjunjung tinggi harga diri seorang pemimpin. Namun Sang Nabi tidak melakukan itu. Niatan Sang Nabi adalah menaklukkan Mekah tidak melalui perang, namun secara damai. Islam mengajarkan nilai itu, dan Sang Nabi menjalankannya. Jika ditelaah lebih lanjut, perjanjian itu justru memberi keleluasaan umat Muslim Madinah untuk berkunjung ke Mekah dan berhaji di masa-masa mendatang, serta sekaligus membuktikan bahwa kaum Qurais sudah memandang Sang Nabi dan umat Muslim sebagai pihak yang setara, bukan lagi kaum terbuang yang dulu mereka lecehkan.

Suri Tauladan: Dalam perjalanan pulang menuju Madinah, Tuhan menurunkan wahyu kepada Sang Nabi bahwa hal ini bukan kekalahan, melainkan kemenangan yang tertunda. Dan memang demikianlah adanya. Kaum Qurais sebagaimana orang Arab jahiliyah pada masa itu, tetap bersikap angkuh dan penuh dendam, siap menghadapi perang kapan saja dibutuhkan. Umat Muslim di sisi lain tidaklah demikian. Sang Nabi mengajarkan perdamaian, mereda amarah dan ego yang tertumpah, serta menghindari perang selama kondisi memungkinkan. Kadang umat Islam sendiri di masa kini lupa akan nilai-nilai damai ini, hingga muncullah teroris dari umat Muslim ekstrimis yang selalu unjuk gigi.

Sang Nabi mengajarkan diplomasi. Beliau membangun komunitas melalui pendekatan dan hubungan baik kepada para pemimpin suku di daratan Arab, memberi ruang bagi penganut agama lain untuk beribadah, dan berusaha menghindari perang meskipun di saat yang benar-benar dibutuhkan perang tak bisa dihindarkan. Tidak pernah tercatat dalam sejarah bahwa Sang Nabi digambarkan sebagai orang yang kasar, penuh dendam, serta melakukan pembunuhan masal kepada kaum-kaum yang berbeda pendapat dan keyakinan. Perjanjian Hubaidiyah adalah salah satu contoh nyata betapa Sang Nabi sangat menjunjung tinggi perdamaian jauh diatas egonya sendiri. Namun sayangnya, di masa kini dunia justru melihat Sang Nabi sebagai suri tauladan terorisme dalam ajaran Islam, terutama melalui ajaran yang terkenal denga sebutan jihad, yang sering disalah diartikan hanya sebagai perang suci.

  1. JIHAD: SEBUAH KESALAHPAHAMAN

[Menit: 37.00 – 44.00] Ribuan nyawa telah melayang akibat ulah para ekstrimis yang menamakan diri mereka Jihadi, yang mana istilah tersebut bahkan tidak pernah dikenal di masa hidup Sang Nabi. Namun hal itu tak menghalangi mereka untuk menyeru lantang bahwa tindakan mereka adalah meniru suri tauladan Nabi Muhammad SAW dan mengikuti ayat-ayat dalam Al-Qur’an.

PhotoGrid_1461995542406Argumentasi: Kalau kita membaca Al-Qur’an, tak bisa disangkal bahwa ayat-ayat tentang perang itu memang ada didalamnya. Hanya saja, yang patut kita pahami disini adalah bahwa Al-Qur’an adalah sebuah buku yang terkait dengan sejarah. Kita harus meneliti lebih jauh konteks waktu dan tempat dimana ayat tersebut diturunkan. Ayat-ayat tersebut diwahyukan Tuhan di saat umat muslim berada pada posisi terjajah dan tertekan, sehingga tindakan untuk melawan dan melindungi diri sendiri diperintahkan oleh Tuhan dengan kalimat yang mengobarkan semangat. Semua tafsir Al-Qur’an – baik yang berasal dari golongan Sunni maupun Shyiah – menjelaskan pengertian yang sama, yaitu bahwa ayat-ayat tersebut tidak boleh dipergunakan untuk menciptakan peperangan dan membunuh orang-orang tak bersalah.

Kata Jihad itu sendiri oleh sebagian besar ahli teologi tidak dimaknakan sebagai perang suci, melainkan lebih kepada perjuangan melawan nafsu diri sendiri dalam menuju kebaikan dan menjauhi keburukan. Jihad adalah berjuang, dan memang perjuangan bisa dimaksudkan juga sebagai melindungi diri melawan pihak jahat dalam peperangan, namun dalam Al-Qur’an kata Jihad bukanlah berarti berperang. Nabi Muhammad SAW pun dalam berperang selalu berada pada konteks perang yang wajar pada masanya. Dan yang pasti, tak pernah tercatat beliau menyerang langsung kepada penduduk yang tak berdosa. Dalam sejarah Islam, baik pada masa hidup Sang Nabi maupun masa kekhalifahan setelahnya, terminologi berperang memang mengalami penyesuaian, namun tetap berada pada konteks perang yang wajar diantara para pejuang saja, tidak menyerang penduduk tak berdosa, wanita, anak-anak, orang tua, dan para pemuka agama apapun.

Sayangnya di masa sekarang ini konteks perang yang wajar itu telah banyak diabaikan. Bom bunuh diri seringkali dilakukan tidak hanya di negara-negara barat, namun juga di negara-negara Islam sendiri. Wawancara dengan dua mantan narapidana teroris di Inggris mengungkapkan bahwa dari para ahli tafsir yang mereka yakini kebenarannya, konsep Jihad tidak hanya memerangi kaum non-Muslim dan memaksa mereka menjadi Muslim, namun lebih dari itu adalah memerangi semua yang menghalagi terciptanya dunia yang diinginkan Tuhan – yaitu sebuah dunia yang berjalan diatas hukum Syariah – dan menyebarluaskan Islam ke seluruh dunia. Dan jika ada negara-negara yang melakukan pembunuhan dan penjajahan, maka masyarakat yang menjadi bagian dari negara tersebut sama bersalahnya sebagai kaum penjajah, yang mana berarti mereka semua layak diperangi.

Pernyataan seperti itu tentu sangatlah mengerikan baik bagi umat Muslim maupun non-Muslim, dan konsep tersebut tak pernah dikenal di masa hidup Nabi Muhammad SAW.

  1. KEMENANGAN: MEMBERI MAAF DAN KEBAIKAN

[Menit: 44.00 – 49.00] Jihad damai Sang Nabi melalui Perjanjian Hubaidiah akhirnya membuahkan hasil. Nabi Muhammad SAW akan kembali mendatangi Mekah, kota kelahiran yang telah ditinggalkan selama tujuh tahun akibat kekejaman dan penindasan dari kaum Qurais kepada beliau bersama para pengikutnya. Namun kini, beliau siap datang kembali ke Mekah sebagai seorang penguasa hampir seluruh daratan Arabia. Pada bulan Februari 629 Masehi, pihak Quraish mengijinkan Sang Nabi bersama umat Muslim untuk beribadah di Ka’bah selama tiga hari. Disinilah orang-orang Qurais di Mekah melihat perilaku menakjubkan dari Sang Nabi bersama para pengikutnya. Perilaku yang sopan dan tulus dalam bersosialisasi dan beribadah. Hal ini merubah persepsi mereka terhadap umat Muslim, dan lambat laun meruntuhkan pagar-pagar kekuasaan Qurais terhadap Ka’bah dan Mekah.

Setahun kemudian pihak Qurais melanggar perjanjian, yaitu menyerang salah satu suku aliansi Sang Nabi. Kesalahan ini berakibat fatal bagi kaum Qurais. Pada bulan Januari 630 Masehi, Nabi Muhammad SAW membawa sepuluh ribu orang bala tentara menuju Mekah. Pihak Qurais tak kuasa menolak, dan memperkirakan terjadinya serangan brutal yang bakal meluluhlantahkan kota Mekah dan semua penduduknya.  Mereka pikir umat Muslim akan membalas dendam atas kekejaman dan penindasan yang mereka lakukan selama ini. Namun ternyata yang terjadi tidaklah demikian.

Sang Nabi berkata kepada masyarakat Qurais di kota Mekah bahwa beliau memberi maaf kepada mereka semua tanpa kecuali, namun tidak memaksa mereka untuk masuk Islam. Terlihat disini bahwa Sang Nabi tidak pernah memerintahkan balas dendam, namun selalu mengedepankan rekonsiliasi dalam perdamaian.

PhotoGrid_1462272373351Suri Tauladan: Menguasai Mekah sebagai kota suci agama Islam, agama baru yang diajarkan oleh Sang Nabi, adalah pencapaian mutlak dari sebuah perjuangan panjang. Dan kala hal itu sudah diraih, maka tak ada gunanya melakukan perang dalam bentuk apapun, maupun memaksakan sebuah keyakinan agama. Nabi Muhammad SAW justru memberi amnesti kepada semua penduduk Mekah. Umat Muslim pun kemudian mendatangi Ka’bah sebagai pusat ibadah agama Islam, agama terakhir dalam ajaran monotheis. Demi menyelaraskan Ka’bah sebagai rumah Tuhan Yang Esa, maka umat Muslim menghancurkan semua berhala yang berdiri didalamnya.

Inilah titik puncak perjuangan Sang Nabi. Inilah esensi dari ajaran yang digaungkan Sang Nabi. Inilah cermin nyata karakter terbaik Sang Nabi. Beliau bukanlah orang yang penuh dendam. Ajaran beliaupun tidak mengarah pada pertumpahan darah. Perjalanan hidup beliau tak lain adalah serangkaian proses yang konstruktif dan reformatif, untuk membangun masyarakat yang berdaulat, dengan melibatkan seluruh umat. Kemenangan damai beliau atas Mekah adalah teladan tertinggi bagi seluruh umat manusia.

Sekembalinya Sang Nabi ke Madinah dari kemenangan beliau di Mekah, tak ada perjuangan lanjutan untuk mendirikan negara Islam, atau memaksa semua penduduk di wilayah kekuasaan Sang Nabi untuk memeluk agama Islam. Perjuangan Sang Nabi bukanlah bersifat pemaksaan sebuah doktrin keagamaan, namun lebih pada menghapus nilai-nilai penyembahan berhala dan kesukuan yang membuat mereka saling berperang.

Dengan penaklukan Mekah, maka semua mata tertuju pada Sang Nabi dan agama Islam yang diajarkan beliau. Ajaran kemanusiaan dan keadilan, menghindari perang, mengedepankan rekonsiliasi, menjunjung tinggi perdamaian, adalah nilai-nilai yang dipandang baru dan menarik perhatian banyak pihak pada masa itu, hingga tak jarang beberapa suku beserta penduduknya memilih untuk menganut ajaran Islam secara masal. Pada tahun 631 Masehi suku Arab penyembah berhala terakhir mengalami kehancuran, dan Sang Nabi pun menjadi pemimpin atas seluruh daratan Arabia yang mayoritas beragama Islam.

  1. HAJI DAN KOTBAH UNTUK BERPISAH

[Menit: 49.00 – 55.00] Saat itu telah lebih dari dua puluh tahun sejak wahyu pertama diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Sepuluh tahun diantaranya setelah terusir dari Mekah, Sang Nabi dan pengikutnya harus menghadapi ancaman dan peperangan yang datang silih berganti membahayakan kehidupan mereka. Namun pada akhirnya mereka mampu bertahan. Adalah kepemimpinan Sang Nabi – baik secara spiritual, militer maupun politik – yang berhasil membawa umat Muslim melalui segala halang rintang, dan akhirnya menang. Kemenangan dalam damai.

Sang Nabi adalah contoh nyata sebuah sosok kepemimpinan yang bersifat universal, yang berlaku sejak dulu hingga sekarang di belahan dunia manapun. Sikap-sikap terbaik berhasil beliau tunjukkan, yaitu antusias dan integritas, serta perpaduan yang tepat antara tegas, teguh pendirian, tinggi tuntutan, namun tetap mengedepankan keadilan. Sifat-sifat pribadi beliau pun turut menunjang suksesnya perjuangan, yaitu hangat, berperikemanusiaan, serta berbudi pekerti luhur. Sungguh, kisah hidup beliau adalah suri tauladan nyata sebuah karakter manusia dalam kualitas terbaiknya.

PhotoGrid_1462091879196Pada tahun 632 Masehi, Nabi Muhammad SAW sudah menuntaskan hampir semua yang ditugaskan Tuhan kepada beliau. Daratan Arabia pun mencapai puncak perdamaian dan keamanan yang tak pernah terjadi sebelumnya. Beliau telah meletakkan landasan fundamental dalam ajaran Islam untuk terciptanya komunitas Muslim bagi para pengikutnya. Namun pada saat itu Sang Nabi sudah berusia 60 tahun, dan kesehatan beliaupun semakin menurun. Pada tahun itu pula, beliau menjalankan ibadah Haji, yang pertama dan satu-satunya bagi beliau. Disinilah beliau dikisahkan memberi kotbah perpisahan di hadapan ribuan pengikutnya.

Duduk diatas Unta, di Padang Arafah yang gersang, Sang Nabi mengucap kotbah dengan kata-kata rangkaian beliau sendiri. Kotbah ini diucap penuh perasaan dan cinta kasih bagi seluruh umat, menggambarkan apa yang telah beliau capai bersama para kaumnya selama ini.

“Wahai umat Muslim, dengarkan baik-baik, karena aku tak yakin apakah selepas tahun ini aku masih bersama kalian. Perhatikan apa yang aku ucapkan, dan sampaikan berita ini kepada siapapun yang tidak berada disini hari ini.”

Dalam kotbah terakhir ini, Sang Nabi memohon kepada seluruh umatnya untuk memperhatikan ajaran-ajaran yang disampaikan kepada mereka. Beliau terkesan khawatir akan masa depan kaumnya, sehingga dalam kotbah ini beliau menekankan nilai-nilai yang harus dicatat dan diingat selalu oleh umat Muslim dimanapun dan kapanpun.

“Janganlah kalian merusak diri sendiri. Ingatlah bahwa pada akhirnya kalian akan bertemu Allah dan menceritakan semua amalan yang kalian perbuat. Maka berhati-hatilah. Jangan berdiri di luar jalan yang benar sepeninggalku nanti.”

Sang Nabi berpesan untuk berpegang teguh pada ajaran monotheis, sebagaimana yang diajarkan-Tuhan kepada Nabi Musa, Nabi Isa, serta nabi-nabi lainnya. Beliau menegaskan kenyataan bahwa Tuhan adalah Maha Esa, Maha Memberi Kehidupan, dan satu-satunya Penegak Keadilan atas seluruh alam semesta.

“Semua manusia berasal dari Adam dan Hawa. Seorang Arab tidaklah lebih tinggi derajatnya daripada yang bukan Arab, demikian pula sebaliknya.Dan juga, seorang berkulit putih tidaklah lebih baik dari mereka yang berkulit hitam, demikian pula sebaliknya. Derajat manusia hanyalah ditimbang dari ketaatan dan amal baiknya.”

Sang Nabi mengatakan bahwa semua manusia adalah satu. Tuhan telah mengangkat semua umat dari perang kesukuan dan penyembahan pada berhala. Semua manusia berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Kemudian beliau mengutip sebuah ayat Al Qur’an yang sangat tepat mencerminkan kondisi dunia saat ini, yaitu “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13) Disini Sang Nabi tidak mengajarkan kita untuk berperang, menjajah, menteror, maupun memaksakan ajaran agama kepada orang lain.

“Wahai kalian yang berdiri disini, sampaikan pesanku ini kepada yang lain, dan yang lain kepada yang lainnya lagi. Semoga yang terakhir menerima kabar ini, mengerti dan memahami bahkan lebih baik dari kalian yang berdiri disini. Saksikan ya Allah, bahwa aku telah menyampaikan semua ajaran-Mu kepada umat-Mu.”

Lalu Sang Nabi bertanya kepada seluruh Umat yang mendengar dan meresapi kotbah beliau, “Wahai umatku, apakah aku telah menjalankan semua tugasku kepadamu?” Serentak mereka berteriak “Ya!” Sang Nabi lalu mengulang pertanyaan yang sama, “Apakah aku telah menjalankan semua tugasku kepadamu?” Serentak lagi mereka menjawab, “Ya!” Pertanyaan tersebut diulang tiga kali, dan semua umat menjawab sama, dengan penuh keyakinan dan rasa haru dalam dada.

Catatan Pribadi: Saya menangis menonton bagian khotbah ini (menit 51-55). BBC berhasil memadu gambar, kata dan musik dalam sebuah rangkaian audio visual yang menggetarkan hati. Lautan manusia di Arafah dan Ka’bah, berdoa dan bersujud, berserah diri pada Sang Pencipta, mengingatkan saya akan betapa kecilnya manusia dihadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Kotbah perpisahan Nabi Muhammad SAW merangkum semua ajaran yang beliau dedikasikan sepanjang masa kenabian. Kalaupun kita tidak membaca seluruh Al-Qur’an, membaca kotbah perpisahan ini saja kita akan mendapat esensi kehidupan Sang Nabi. Untuk masyarakat Muslim kontemporer masa kini pada khususnya, dengan segala tantangan baru yang harus dihadapi, kotbah ini bisa dipandang sebagai cermin refleksi diri. Kita patut mempertanyakan dimana letak kesalahan, dan sekaligus kemana arah melangkah. Sejatinya, disitulah letak misi transformatif yang dijalankan seumur hidup kenabian Nabi Muhammad SAW.

  1. TANTANGAN ISLAM MODERN

[Menit: 55.00 – 59.00] Seperti diperkirakan oleh Sang Nabi sendiri, tak lama sepulang dari ibadah haji beliaupun wafat. Di Madinah, setelah beberapa waktu beliau dirawat oleh Siti Aisya karena kesehatan beliau yang makin memburuk, beliau menghembuskan nafas terakhir di rumah sang istri tercinta. Beliau dimakamkan disamping masjid beliau di Madinah, yang kini dikenal sebagai Masjid Nabawi.

Seluruh umat Muslim terkejut. Bagaimana mungkin seorang utusan Tuhan bisa meninggal dunia? Abu Bakar, salah satu sahabat terdekat Sang Nabi yang paling disegani serta dihormati, menyeru kepada semua umat, mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah menyatakan diri beliau apapun selain manusia biasa. Sang Nabi bukan Tuhan. Meski bagi umat Muslim beliau adalah manusia paling sempurna, namun Sang Nabi bukanlah Tuhan. Beliau tidak patut disembah.

Dalam seratus tahun setelah wafatnya Sang Nabi, ajaran Islam menyebar ke seluruh penjuru bumi. Di timur mencapai daratan India dan Cina, serta di barat mencapai Afrika Utara, Perancis dan Spayol. Namun hanya dalam satu generasi saja setelah beliau wafat, konsep jihad damai sudah mulai bergeser tidak pada tempatnya. Para sahabat terdekat Sang Nabi berseteru dengan anggota keluarga beliau, meruncing hingga berakibat pada pertumpahan darah hingga perang, yang memecah Islam menjadi dua golongan sampai saat ini, yaitu Sunni dan Syiah.

PhotoGrid_1462092041284Tantangan Islam di masa kini bisa dibilang mencapai puncak yang tak pernah terjadi sebelumnya. Umat Muslim merasa direndahkan dan dilecehkan oleh para penguasa politik dan militer, serta budaya yang berkembang di negara-negara Barat. Sedangkan warga Barat sendiri umumnya memandang Islam sebagai agama yang ajarannya diadopsi oleh negara-negara yang paling terbelakang dalam kemanusiaan, yaitu negara yang paling biadab, sangat mengekang warganya dan jauh dari toleransi. Pertanyaannya disini adalah: sejauh mana aksi radikal para ekstimis – baik manusia, organisasi maupun negara – bisa dipersalahkan kepada Nabi Muhammad SAW?

Nabi Muhammad SAW mewariskan tiga hal, yaitu ketaatan pada Tuhan Yang Esa, suri tauladan sepanjang hidup beliau, dan yang paling utama adalah Al-Qur’an. Manusia selalu bisa memilih bagian mana dalam Al-Qur’an dan suri tauladan Sang Nabi untuk dijadikan dasar atas sikap dan pilihan hidup yang dijalani tanpa melihat konteksnya secara luas. Namun sejatinya, jika kita melihat keseluruhan perjalanan hidup Sang Nabi, kita akan sadari bahwa Nabi Muhammad SAW meninggalkan daratan Arab dalam kondisi damai dan sejahtera.

Saat dihadapkan dengan pelecehan, penghinaan dan tekanan dari musuh, Sang Nabi memilih untuk menahan derita, serta tidak membalas balik. Meski Sang Nabi menjalani banyak perang, beliau selalu memilih damai jika kondisi memungkinkan. Kemenangan hakiki Sang Nabi tercipta melalui jalan damai, bukan dengan mencipta konflik. Dan dalam kondisi menang sekalipun, jalan rekonsiliasi beliau pilih daripada pelampiasan dendam.

Akhirnya, dalam kotbah perpisahan beliau, Sang Nabi memberi nasihat yang paling penting, yaitu bahwa semua manusia sama derajatnya. Tak peduli bangsa Arab maupun non Arab, umat Muslim maupun non Muslim, kulit hitam maupun putih. Sebuah pesan moral yang masih valid sejak abad ketujuh Masehi hingga kini. Inilah, warisan sejati Sang Nabi.

****  T  A  M  A  T  ****

 PhotoGrid_1462092430492