Kisah Nabi Muhammad SAW: Biografi Kritis BBC – The Life Of Muhammad [Part Two: The Holy Wars]

Catatan: Ini adalah bagian ke-2 dari 3 tulisan saya atas film dokumenter “The Life Of Muhammad” produksi BBC. Sebelum membaca tulisan ini, silakan membaca tulisan saya tentang “Pengantar” terlebih dahulu. Hal ini penting untuk menghindari kesalah pahaman yang mungkin terjadi. Terima kasih. Link-nya disini: https://primasantika.wordpress.com/2015/12/21/kisah-nabi-muhammad-saw-biografi-kritis-bbc-the-life-of-muhammad-pengantar/

Link Youtube untuk Part Two ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=lQazfcaalp8

 

PART TWO: THE HOLY WARS

  1. JERUSALEM: PERJALANAN ISRA’ MI’RAJ

[Menit: 03.00 – 12.00] Tahun 620 M adalah masa berkabung yang paling suram bagi Nabi Muhammad SAW. Di tahun yang sama Sang Nabi kehilangan sang istri Siti Khadijah dan sang paman Abu Thalib, yang keduanya merupakan pendukung dan pelindung utama gerakan kenabian beliau. Namun di masa yang sama itulah Nabi Muhammad SAW mengalami kejadian spiritual yang luar biasa. Dikisahkan pada suatu malam kala Sang Nabi sedang tertidur di Ka’bah di kota Mekah, beliau tiba-tiba diterbangkan ratusan kilometer ke arah utara Mekah, ke sebuah tempat yang sangat sakral bagi kaum Yahudi dan Kristiani. Jerusalem.

Screenshot_2016-01-22-00-29-07

Di masa sekarang ini Jerusalem merupakan pusat konflik berkepanjangan di Timur Tengah, terutama antara Yahudi dan Islam. Secara teritorial kenegaraan, perang di wilayah yang di awal sejarahnya secara keseluruhan disebut sebagai Palestina itu sejatinya bukanlah  perang antar agama, melainkan perang memperebutkan sejengkal tanah yang sama antara warga Israel yang dominan Yahudi, dengan warga Palestina yang dominan Islam. Dan karena Jerusalem dipandang sangat penting – yang mana baik Israel maupun Palestina sama-sama memperebutkannya sebagai ibukota negara – dan hingga kini masih terus dibawah pengawasan militer Israel, hal itu membuat umat Muslim di seluruh dunia mengecam penjajahan Israel, baik di Jerusalem maupun di berbagai wilayah Palestina..

Bagi umat Islam, kejadian yang dikenal dengan nama Isra’ Mi’raj itu – dalam bahasa Inggris disebut sebagai “the night journey” – menjadikan Jerusalem sebagai kota tersuci ketiga setelah Mekah dan Madinah. Isra’ Mi’raj adalah bagian dari keimanan umat Muslim meskipun secara logika kejadian tersebut tidak bisa diterima akal. Alkisah Nabi Muhammad SAW pada malam itu dibangunkan oleh Malaikat Jibril, lalu dinaikkan ke punggung kuda bersayap bernama bouraq yang membawa Sang Nabi dalam sekejap mata ke Jerusalem. Sesampainya disana Sang Nabi dipertemukan dengan semua Nabi yang pernah hidup di dunia, dan mereka berdoa bersama dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW. Kemudian kepada Sang Nabi tiga jenis minuman ditawarkan, yaitu segelas air putih, susu dan anggur. Sang Nabi memilih susu yang secara simbolis melambangkan pilihan beliau atas keseimbangan, atau menjalani kehidupan di posisi tengah, bukan yang ekstrim. Lalu muncullah tangga menuju langit ketujuh, yang pada akhirnya membawa beliau ke hadapan Tuhan Yang Esa dan mendapat perintah langsung dari-Nya. Perintah tersebut adalah sholat lima waktu, sebuah kewajiban yang merupakan salah satu dari lima pilar utama dalam peribadatan umat Islam.

Isra’ Mi’raj adalah sebuah mukjizad. Dan mukjizad adalah bagian dari kepercayaan umat dalam mengimani agama, tanpa memandang sisi ilmiah dan logika terhadapnya. Umat Islam mengimani dan mempercainya karena kisah ini tertulis dalam Al-Qur’an dan kumpulan Hadist atau kumpulan perkataan Nabi Muhammad SAW. Meskipun beberapa pihak mempercayainya sebagai perjalanan spiritual yang ajaib dan tidak nyata, sebagian lain percaya bahwa perjalanan itu nyata dan terjadi secara fisik. Oleh karena itu, di Jerusalem, tempat naiknya Sang Nabi ke langit diabadikan dengan dibangunnya Kubah Batu atau The Dome Of The Rock, sebuah tempat suci berbentuk serupa masjid dengan kubah emas yang megah memesona. Meski bangunan ini bukanlah masjid, namun umat Muslim bisa melaksanakan sholat disini.

PhotoGrid_1453398831862Kontroversi: Dalam Al-Qur’an kejadian Isra’ Mi’raj ini hanya dikisahkan dalam beberapa ayat saja. Itupun tidak menceritakan rinci perjalanan Sang Nabi dengan buraq, naik ke surga, menjadi imam sholat atas semua Nabi, dan kejadian hebat lainnya. Kemungkinan itu semua ditambahkan agar menjadikan kisah ini menjadi luar biasa megah.

Argumentasi: Sejarah dalam agama manapun, banyak diceritakan tidak lengkap dan membutuhkan berbagai penafsiran. Oleh karena itu, tidaklah penting seberapa sering kisah Isra’ Mi’raj  dimunculkan dalam Al-Qur’an. Selama kisah itu pernah disebut dalam Al-Qur’an, itu sudah cukup sebagai jawaban kepastian.

Perjalanan Isra’ Mi’raj ini bagi umat Muslim merupakan titik legitimasi bahwa agama Islam merupakan bagian dari agama-agama lain warisan Nabi Ibrahim – yang mana termasuk di dalamnya Yahudi dan Kristiani – dan juga sebagai titik pengakuan dari Tuhan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah penutup dari jajaran para Nabi yang pernah diturunkan-Nya ke dunia. Namun bagi Sang Nabi sendiri, kejadian ini merupakan pertanda bahwa beliau harus membawa ajaran Islam lebih dari sekedar Mekah, membawanya ke wilayah dan masyarakat lain jauh diluar sana. Oleh karenanya, beliau harus siap melakukan sesuatu yang dipandang sangat radikal di masa itu, yaitu meninggalkan adat kesukuan – satu-satunya cara berkehidupan yang diketahui dan dijalani oleh beliau – dan pergi dari kota kelahiran yang dicintainya.

  1. MADINAH: HIJRAH SEBAGAI AWAL TAHUN HIJRIYAH

[Menit: 12.00 – 20.00] Alkisah, pada suatu hari Nabi Muhammad SAW bertemu dengan sekelompok orang dari kota Yastrib di sebuah oasis di luar kota Mekah. Mereka bercerita tentang kondisi di kota dimana mereka tinggal, yaitu sering terjadi pertempuran antar suku yang membuat kehidupan disana tidak nyaman. Sang Nabi mendengar dengan seksama, dan kemudian beliaupun bercerita tentang wahyu Tuhan yang diterima dan disebarkan oleh beliau. Tidak seperti orang Mekah pada umumnya, orang-orang Yastrib ini mendengarkan dengan seksama dan pertemuanpun berakhir dengan mereka mengucapkan kalimat Syahadat, dan berjanji untuk bertemu kembali dengan beliau. Di sisi lain, kondisi di Mekah sendiri semakin membahayakan bagi umat Muslim. Sang Nabipun tak punya pilihan selain menyuruh para pengikutnya meninggalkan Mekah menuju Yastrib.

Tidak seperti Mekah, Yastrib adalah sebuah oasis yang tanahnya subur diantara dataran padang pasir luas di Arabia. Penduduk Yastrib adalah kumpulan dari beberapa suku – ada suku Yahudi dan suku penyembah berhala – yang tinggal berkelompok di masing-masing desa di wilayah tersebut. Disinilah mereka merasa butuh seorang mediator yang adil untuk menengahi perselisihan disana. Nama Nabi Muhammad SAW pun muncul sebagai seorang pendakwah, seorang yang terkenal baik dan dapat dipercaya, yang mereka pikir tepat untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di Yastrib. Merekapun datang untuk kedua kalinya menemui Sang Nabi, dan kali ini mereka benar-benar meminta Sang Nabi untuk menjadi bagian dari komunitas mereka di Yastrib. Sang Nabipun menerima tawaran tersebut.

Perlu diperhatikan disini bahwa kesepakatan ini sangat baru pada masanya, bahkan sangat radikal dan dianggap sebagai penyelewengan atas norma sosial yang berlaku. Belum pernah ada sebelumnya orang yang mau berpindah tempat tinggal dan hidup di suku lain. Namun ini adalah sebuat kejeniusan yang dilakukan oleh Sang Nabi. Penyatuan kelompok-kelompok masyarakat –disebut sebagai ummah dalam bahasa Arab – yang tidak dilandaskan atas garis darah atau kesamaan suku melainkan lebih berlandaskan pada sebuah ideologi, adalah awal mula terjadinya penyebaran ajaran yang universal sifatnya. Nabi Muhammad SAW bisa dibilang berani dan jenius dalam keputusannya untuk meninggalkan suku dan kota dimana beliau lahir dan dibesarkan, untuk menjadi bagian dari komunitas lain yang lebih beragam.

Rencana kepindahan Sang Nabipun kemudian dilakukan secara diam-diam untuk menghindari halangan dari kaum Qurais. Tiap malam sedikit demi sedikit kaum Muslim meninggalkan Mekah agar tidak terlihat mencolok, sampai pada akhirnya Sang Nabilah yang terakhir meninggalkan Mekah bersama sahabat beliau Abu Bakar dan sepupu beliau Ali. Dalam usaha beliau keluar dari Mekah, para petinggi Quraish sempat mengetahui rencana tersebut dan mengejar Sang Nabi yang sudah terlebih dulu meninggalkan rumah. Bersama para pencari jejak, orang Quraish mengejar Nabi hingga ke bukit Tsaur yang tinggi. Namun sesampainya di puncak, jejak Sang Nabi tak lagi ditemukan yang pada akhirnya membuat orang-orang Qurais menyerah, padahal sebetulnya Sang Nabi dan Abu Bakar bersembunyi dibalik gua disana. Sepulangnya orang-orang Qurais, Sang Nabipun melanjutkan perjalanan ke Yastrib.

PhotoGrid_1453401580225Saat itu adalah tahun 622 Masehi. Telah berlalu sepuluh tahun sejak wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Perjalanan dakwah yang tak mudah selama di Mekah, penuh dengan caci maki dan pertumpahan darah kepada pengikutnya yang berjumlah lebih kurang 200 orang, meninggalnya sang istri dan paman tercinta, serta dikejarnya beliau sebagai sasaran pembunuhan oleh kaum Qurais, telah membawa beliau pada keputusan untuk meninggalkan Mekah, kota kelahiran yang amat beliau cinta. Kepindahan Sang Nabi ini kemudian disebut sebagai Hijrah, yang artinya meninggalkan masa lalu.

Pandangan Negatif: Nabi Miuhammad SAW pindah ke Yastrib pastilah karena beliau sadar bahwa pengikut yang jumlahnya tak sampai 200 orang saja – meski beliau sudah mendakwahkan Islam selama sepuluh tahun lebih – tak akan mampu mengalahkan orang Mekah dari dalam. Oleh karena itu, beliau berpindah hanya agar bisa menyakiti dan mengalahkan orang Mekah dari luar.

Pandangan Positif: Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Yastrib adalah sebuah tonggak sejarah dalam kehidupan Sang Nabi dan bagi sejarah Islam, karena pada tahun 622 Masehi itulah ditetapkan dimulainya perhitungan kalender Islam yang dikenal sebagai Tahun Hijriyah. Semua penetapan hari ibadah dan hari raya Islam hingga saat ini ditetapkan berdasarkan kalender Hijriyah. Inilah masa dimana Islam benar-benar memutuskan diri dengan pola hidup kesukuan.

Yastrib kemudian berubah nama sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW menjadi Madinah, yang berarti kota Sang Nabi.

  1. MASJID: PUSAT KOMUNITAS MULTI KULTURAL

[Menit: 20.00 – 26.00] Pengikut Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah nyaris tanpa harta. Mereka harus merubah gaya hidup yang tadinya kebanyakan adalah pedagang, kini harus bekerja di ladang di area oasis yang subur dan kaya hasil bumi di Madinah. Merekapun akhirnya bisa menyesuaikan diri. Sang Nabi bersama pengikutnya tinggal di pusat wilayah Madihah dimana suku Ansar mendominasi wilayah tersebut. Adapun desa-desa lain yang berada di wilayah Madinah dihuni oleh berbagai macam suku dengan komunitas dan kepercayaannya masing-masing. Diantaranya adalah suku-suku Yahudi, yaitu Banu Quraiza dan Banu An Nadir di wilayah timur dan selatan Madinah.

PhotoGrid_1453400793807Sang Nabi kemudian membangun masjid pertama yang terletak tak jauh dari rumah beliau. Berukuran kecil, berbentuk bujur sangkar 45×45 meter persegi, terbuat dari batu dan lumpur kering, masjid ini memiliki area yang diberi atap dan tidak beratap, sama seperti bangunan-bangunan lain di sekitarnya pada masa itu. Namun kini, masjid pertama di Madinah itu telah berubah wujud menjadi Masjid Nabawi, masjid terbesar kedua di dunia setelah Masjidil Haram di Mekah, mampu menampung hingga setengah juta orang untuk beribadah disana.

Di masa Sang Nabi, masjid ini berfungsi sebagai pusat kumunitas multi kultural. Selain untuk  sholat dan berkotbah, masjid ini juga dipakai sebagai tempat berkumpul, wahana diskusi, tempat penyelesaian masalah, dan juga lokasi berdebat untuk semua orang dari semua suku dan kepercayaan, baik bagi umat muslim sendiri, umat Yahudi, Kristiani, bahkan untuk penyembah berhala dan para budak yang tinggal di Madinah.

Sebagai tempat ibadah, yang mana sholat harus dilaksanakan lima kali dalam sehari, muncullah masalah tentang bagaimana cara panggil masal bagi umat Muslim untuk sholat bersama di masjid. Beberapa alternatifnya adalah apa yang sudah dilakukan terlebih dahulu oleh umat beragama sebelum Islam, yaitu menggunakan semacam terompet sepeti Yahudi, atau membunyikan lonceng seperti Kristiani. Maka diputuskanlah panggilan ibadah dalam Islam menggunakan suara manusia, yaitu melalui adzan. Adapun orang pertama yang mengumandangkan adzan adalah seorang budak berkulit hitam yang sudah merdeka bernama Bilal, sebuah pilihan yang secara ideologi dan politik mencerminkan kesetaraan hak manusia dalam ajaran Islam. Meskipun selama masa kenabiannya Sang Nabi tidak menghapus perbudakan yang terjadi di Arabia, beliau dan para sahabat seringkali melakukan pembebasan para budak.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Mari tegakkan sholat. Mari meraih kemenangan. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah.

Pendapat Kritis: Masjid bukan hanya tempat untuk beribadah. Masjid seharusnya adalah pusat perwujudan misi transformasi komunitas Islam yang harus dilakukan secara nyata, melalui sumbangan bagi fakir miskin, layanan bagi masyarakat sekitar, dibentuknya pusat pendidikan, serta aktivitas-aktivitas lain untuk mencapai cita-cita Islam. Tidak seperti kabanyakan masjid yang ada sekarang ini, masjid seharusnya terbuka untuk umum, merangkul semua agama, kepercayaan dan budaya, karena misi transformatif dan cita-cita keadilan sosial Islam sejatinya bukan hanya untuk umat muslim saja, melainkan untuk seluruh umat manusia.

  1. KONSTITUSI MADINAH: MERANGKUL SEMUA AGAMA

[Menit: 26.00 – 32.00] Posisi Nabi Muhammad SAW di Madinah tak hanya sebagai seorang rasul dari sebuah agama baru bernama Islam, namun lebih dari itu Sang Nabi juga adalah pemimpin wilayah yang memiliki kapasitas politik dan administrasi. Sejalan dengan kebutuhan kepemimpinan yang makin meningkat, maka sebagai formalitas pengukuhan kepemimpinan Sang Nabi dan kesepakatan antar suku dalam mengatur tata cara hidup bersama dalam sebuah komunitas di wilayah Madinah, maka dibuatlah Konstitusi Madinah. Konstitusi ini adalah konstitusi pertama dan tertua di belahan dunia manapun, yang membuktikan diterimanya pluraisme dan ditegakkannya toleransi atas keragaman sosial budaya – bahkan agama – dalam ajaran Islam.

PhotoGrid_1453399836625Konstitusi Madinah memuat hak dan kewajiban dalam hidup berdampingan, saling menghormati terutama untuk beribadah sesuai kepercayaan masing-masing bagi Yahudi, Kristiani dan Islam sebagai agama warisan Nabi Ibrahim, saling melindungi antar manusia dan juga melindungi bangunan yang ada di Madinah termasuk tempat-tempat ibadah, dan sebagainya. Konstitusi ini mendasari berkembangnya Madinah sebagai sebuah negara berdasar hukum – bukan berdasar Islam – yang memandang semua penduduk berposisi sama di mata hukum.

Kontroversi: Hanya ada satu sumber yang menyatakan tentang Konstitusi Madinah, dan kemungkinan sumber tersebut tidak layak dipercaya karena ada unsur kepentingan di dalamnya. Lagipula isi dari Konstitusi Madinah ini sebetulnya tak ada yang istimewa. Kalau kita tahu bagaimana cara hidup masyarakat pada masa itu, maka seperti itulah isi Konstitusi Madinah.

Argumentasi: Dokumen Konstitusi Madinah yang berhasil ditemukan tergolong asli, didukung oleh huruf-huruf yang khas dipakai pada masa itu. Dan isinya memang memuat hal-hal yang sangat praktikal sesuai kebutuhan saat itu, bukan sebuah visi misi  akan terbentuknya sebuah kekaisaran baru. Dalam konstitusi itu semua anggota masyarakat – baik Muslim maupun non Muslim yang disebut sebagai ummah – menandatangani dan menyetujui. Terbukti hal ini berhasil dilaksanakan dengan keadilan yang baik dan tanpa paksaan, misalnya jika ada dua orang Yahudi yang berselisih paham, maka mereka akan diadili mengggunakan hukum Yahudi, bukan hukum Islam. Dan segala bentuk balas dendam maupun kekerasan pribadi diluar hukum yang berlaku sangat dilarang. Dari situ muncullah perdamaian dan kemakmuran dalam berkehidupan di Madinah.

Pendapat Kritis: Madinah merupakan prototipe negara pertama di masa kepemimpinan Islam yang berhasil dibangun Nabi Muhammad SAW. Sayangnya di masa kini unsur-unsur kenegaraan yang dicontohkan Sang Nabi itu banyak dilupakan oleh umat Muslim sendiri, terutama dalam hal merangkul semua komunitas sebagai bagian dari membangun sebuah negara. Menerima keberagaman dan hidup berdampingan dalam satu kesatuan ummah yang damai adalah hal terpenting dalam kepemimpinan Islam. Maka jika seorang pemimpin Islam menolak implementasi hal tersebut, itu sama saja dengan menentang ajaran Sang Nabi.

  1. PERANG PERTAMA: PERANG BADAR UNTUK MENUNTUT KEADILAN

[Menit: 32.00 – 38.00] Di Madinah, umat Muslim pengungsi dari Mekah tidak datang membawa harta benda. Maka di Mekah pun kaum Qurais menjarah rumah dan harta benda yang ditinggalkan umat Muslim sebagai penghinaan bagi kaum yang menentang sukunya sendiri. Umat Muslim pun merasa terhina dan marah dengan perlakuan tersebut. Mereka menuntut balas untuk mendapatkan kembali hak atas harta benda yang dijarah oleh kaum Qurais. Dalam kondisi inilah Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu yang mengijinkan umat Muslim menuntut balas atas ketidakadilan yang telah dilakukan suku Qurais terhadap mereka. Konon kelak di kemudian hari bahkan hingga kini, ayat-ayat inilah yang dipakai oleh para teroris dalam melegalisir aksi-aksi brutal mereka. Ayat yang sejatinya diperuntukkan hanya bagi kaum tertindas demi membela diri ini, kini dipakai untuk menentang siapa saja yang tidak sepaham dengan ajaran Islam.

Kontroversi: Dalam surat Al Baqarah ayat 191 dan 218 misalnya, bisa diartikan bahwa menyiksa itu lebih kejam daripada pembantaian. Maka membantai orang Qurais yang telah menyiksa kaum Muslim selama di Mekah, diperbolehkan dalam Islam. Tak heran jika ayat ini kemudian digunakan sebagai alasan yang elastis dalam moral umat Islam untuk memerangi kaum lain, hanya dengan alasan bahwa mereka tidak sepaham dengan Islam. Dan juga dalam beberapa hadis diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW seringkali berkata “perang adalah membohongi lawan” (saya terjemahkan dari kalimat “war is deceit” sebagaimana dikatakan narasumber dalam film ini), justru membangun landasan pencitraan yang buruk bagi Islam dari sudut pandang toleransi bermasyarakat.

Argumentasi: Dalam Al Qur’an hanya ada satu hal yang membolehkan Muslim menyerang, yaitu jika ada pihak yang melakukan tekanan atau bahkan menyerang lebih dulu, maka kaum Muslim berhak untuk melawan, karena hal ini sifatnya memperjuangkan hak diri sendiri. Begitulah cara pandang sebagian besar Ulama dan ilmuwan keagamaan Islam dalam menerjemahkan ayat-ayat terkait perang yang tertuang di Al Qur’an. Jadi jika ada yang memandang bahwa ayat tersebut menghalalkan mereka untuk semaunya sendiri membunuh orang lain, itu adalah kesalahan besar. Umat Muslim harus dalam posisi tertekan terlebih dahulu untuk kemudian melawan, karena adalah hak semua manusia untuk mempertahankan kehidupan, bukan merusak perdamaian.

PhotoGrid_1453405129708Sang Nabi pun kemudian memilih strategi berperangnya untuk mengecoh lawan, yaitu mencegat kaum Qurais dalam perjalanan dagang mereka dari Siria menuju Mekah. Pada bulan Maret 624 Masehi, Nabi Muhammad SAW menyiapkan pasukannya untuk menghadang dan merampas harta dagangan kaum Qurais, namun pihak Qurais sudah menduganya. Mereka merubah rute perjalanannya tidak melewati Madinah, dan menyiapkan sekitar 900 orang pasukan yang diluncurkan dari Mekah menuju Madinah. Pasukan Sang Nabi di sisi lain mulai bergerak menuju Mekah, dan keduanya bertemu di kota Badar. Disinilah mereka berperang selama beberapa jam saja, dan berakhir dengan kemenangan pasukan Sang Nabi meski berjumlah hanya sekitar 300 orang.

Kemenangan ini sangat berarti bagi kaum Muslim terutama, karena disinilah mereka untuk pertama kalinya berperang atas dasar agama Islam yang mereka imani, dan berhasil mengalahkan kaum Qurais yang berjumlah lebih banyak. Mereka bahkan menganggap kemenangan ini sebagai keajaiban dari Tuhan, setara dengan diselamatkannya kaum Yahudi dari kejaran tentara Firaun di masa Nabi Musa di Laut Merah. Keimanan merekapun makin kuat. Sedangkan bagi Nabi Muhammad SAW, kemenangan ini mengharumkan reputasi dan memperkuat posisi beliau sebagai pemimpin Madinah.

Namun di sisi lain, pihak Qurais tentu saja tidak akan tinggal diam. Kekalahan ini membuahkan rasa malu yang tidak akan mereka lupakan, dan balas dendampun harus segera dilaksanakan.

  1. KIBLAT SHOLAT: BERUBAH DARI JERUSALEM MENJADI MEKAH

[Menit: 38.00 – 41.00] Di Madinah pada suatu hari Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu baru, yaitu merubah arah sholat dari Masjidil Aqsa di Jerusalem menjadi Masjidil Haram atau Ka’bah di Mekah. Beribadah menghadap ke arah Jerusalem adalah sesuatu yang sama dilakukan oleh umat Yahudi dan Kristiani pada masa itu. Namun setelah mendapat wahyu terbaru, Sang Nabi dan para pengikutnya segera melaksanakan perintah tersebut dan berpaling 180 derajat dari kiblat semula ke arah kiblat yang baru. Salah satu Masjid di Madinah mengabadikan kejadian ini, yang mana hingga kini masjid tersebut dikenal sebagai Masjid Qiblatain atau Masjid Dua Kiblat.

PhotoGrid_1453399017957Perubahan yang tampak sederhana ini sejatinya merupakan tonggak sejarah yang luar biasa bagi umat Muslim, karena disinilah Tuhan menciptakan sebuah identitas mandiri bagi agama Islam, yang menjadi pembeda dengan dua agama serumpun lainnya, yaitu Yahudi dan Kristiani. Dan sejak saat itu pulalah semua Muslim seluruh dunia dimanapun mereka berada diwajibkan sholat lima waktu menghadap Ka’bah di kota Mekah.

Kontroversi: Tidak semua warga Madinah menyambut baik perubahan ini. Umat Yahudi dan Nasrani memandang hal ini dengan penuh curiga. Mereka yang tadinya menerima Islam sebagai agama serumpun mulai menyangsikan keyakinan tersebut. Berpaling dari Jerusalem adalah sebuah pembangkangan atas ajaran Tuhan menurut mereka. Tak pelak perubahan kiblat ini menandai dimulainya keretakan hubungan baik antara umat Muslim dengan Yahudi di Madinah.

Argumantasi: Perubahan arah kiblat bukanlah satu-satunya alasan retaknya hubungan Islam dengan Yahudi. Di masa itu perebutan harta dan kekuasaanpun menjadi pemicu utama. Konon kesuksesan Sang Nabi dan para pengikutnya yang adalah kaum pendatang dari Mekah dengan keahlian utama berdagang, memunculkan rasa iri dan cemburu di hati kaum Yahudi khususnya, terutama dalam memperebutkan posis penguasa di pasar perdagangan kota Madinah

  1. YAHUDI: AWAL MULA PENGKHIANATAN

[Menit: 41.00 – 45.00] Setelah Perang Badar berlalu, Nabi Muhammad SAW mendapati masalah baru. Sudah sejak lama suku-suku Yahudi di Madinah mempunyai kerjasama bisnis yang menguntungkan dengan orang-orang Mekah. Oleh karenanya, saat Sang Nabi mengharapkan kerjasama dari suku-suku Yahudi untuk bertempur melawan Mekah, mereka tidak mau. Demikian pula halnya dengan beberapa suku penyembah berhala yang tadinya sudah memeluk agama Islam. Kini Sang Nabi menghadapi masalah yang berat, baik dari luar maupun dari dalam komunitas yang dipimpinnya.

Lambat laun Sang Nabipun mengetahui adanya pertemuan-pertemuam rahasia yang dilakukan oleh beberapa suku Yahudi dengan suku Qurais. Sang Nabipun khawatir mereka akan mengkhianati komunitas Madinah dengan cara membantu suku Qurais menyerang Madinah dari dalam. Maka pada suatu hari Sang Nabi dan pasukannya mengepung salah satu desa suku Yahudi yang terbukti bersalah membantu pihak Qurais. Pengepungan berlangsung selama dua minggu hingga pada akhirnya suku tersebut menyerah kalah. Sebagai hukuman, Sang Nabi kemudian mengusir suku tersebut keluar dari Madinah.

PhotoGrid_1453400378724Dalam Konstitusi Madinah dinyatakan bahwa semua suku yang ada di Madinah, termasuk Yahudi, bebas melakukan semua kegiatan ekonomi, sosial, maupun keagamaan dengan kewajiban untuk selalu setia membela komunitas bersama di Madinah. Berdasarkan hal ini, berarti beberapa suku Yahudi yang berkhianat telah bekerjasama dan membantu musuh mereka tersebut, bisa dinyatakan bersalah. Meskipun hukuman yang lazim dan diterima umum pada masa itu bagi pengkhianat adalah hukum mati, namun Nabi Muhammad SAW hanya mengusir mereka keluar dari Madinah, berharap suku yang lain mengerti dan tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Sayangnya, harapan itu tidak pernah terwujud. Dan Sang Nabipun akan mengalami permasalahan yang lebih besar pada waktu mendatang.

Kontroversi: Sebagian sejarawan dan orang Yahudi masa kini berpendapat bahwa Konstitusi Madinah hanyalah sebuah cerita yang dikarang sendiri oleh umat Muslim untuk membuat pembenaran atas kejadian buruk yang dilakukan Sang Nabi kepada umat Yahudi, padahal sebetulnya perjanjian itu tidak pernah ada. Sejarawan Yahudi bahkan tidak pernah menemukan kisah tentang Konstitusi Madinah itu dari sumber Yahudi yang independen.

Argumentasi: Situasi ini harus dilihat dari sudut pandang Parpolitics (Participatory Politics) – termasuk didalamnya Parecon (Participatory Economy) – yang mendasari kehidupan komunitas di Madinah. Sang Nabi datang dari Mekah dengan membawa pengikutnya yang tanpa harta benda, menuju ke Madinah yang penduduknya kaya dari hasil bumi dan perdagangan. Beliau datang dan ditunjuk oleh komunitas Madinah sendiri untuk menengahi segala pertikaian, dengan kesepakatan bahwa mereka bisa hidup bersama berdampingan dengan keadilan sosial yang merata. Jika pada perkembangannya suku-suku Yahudi kemudian keberatan untuk berbagi secara ekonomi dan kekuasaan, dan lalu bekerjasama dengan pihak lawan untuk mengamankan posisi mereka, maka hal ini jelaslah sebuah pengkhianatan.

  1. PERANG LAINNYA: STRATEGI MELAWAN DAN BERTAHAN BUKAN MENYERANG

[Menit: 45.00 – 51.00] Setahun setelah Perang Badar, orang Mekah datang kembali menuntut balas dengan kekuatan tiga kali lebih besar dari pasukan Nabi Muhammad SAW. Sang Nabi kemudian memutuskan untuk membawa pasukannya keluar dari Madinah dan melakukan perlawanan di Bukit Uhud. Namun sebelum perang berlangsung, kekuatan pasukan Sang Nabi berkurang drastis. Penyebabnya adalah penolakan suku-suku Yahudi yang tidak mau berperang di hari Sabath atau hari Sabtu yang bagi kaum Yahudi merupakan hari khusus untuk beribadah, dan juga adanya pengunduran diri dari salah satu komandan perang Sang Nabi yang menolak berperang bersama pasukannya yang berjumlah tiga ratus orang.

Perang Uhud berakhir tanpa kemenangan mutlak di kedua pihak, mengingat kenyataannya komunitas di Madinah masih bisa bertahan dan melanjutkan kehidupan mereka tanpa adanya pendudukan militer oleh pasukan Mekah. Salah satu yang berbeda hanyalah terus berlangsungnya pengkhianatan kaum Yahudi Madinah yang secara aktif membantu musuh Sang Nabi di Mekah.

Lima tahun setelah hijrahnya Sang Nabi ke Madinah, tepatnya tahun 627 Masehi, terjadilah perang ketiga dan terakhir dalam kehidupan Sang Nabi. Kali ini pihak Mekah sudah siap dengan mengerahkan sekitar sepuluh ribu tentara perang menuju Madinah. Sedangkan di sisi Sang Nabi, pihak Madinah hanya mampu mengumpulkan tiga ribu tentara saja. Kali ini tak ada pilihan. Sang Nabi dituntut untuk siap menghadapi perang terbuka tanpa perlawanan yang setara. Satu-satunya usaha yang bisa dilakukan Sang Nabi hanyalah membentengi kota Madinah dari serangan tentara Mekah.

PhotoGrid_1453400990712Beruntung bahwa Madinah ternyata adalah sebuah kota yang pada dasarnya sudah terlindungi. Tanpa mendirikan bangunan benteng yang tinggi dan kokoh, Madinah sudah dikelilingi oleh perbukitan vulkanik di segala penjuru kecuali di arah utara. Oleh karenanya, Sang Nabi kemudian melakukan taktik yang sangat  sederhana, yaitu menggali parit yang dalam dan luas di sepanjang area utara Madinah untuk menghalangi masuknya tentara Mekah ke dalam Madinah. Strategi kecil ini ternyata berdampak luar biasa besar bagi pasukan Mekah.

Tentara Mekah tentunya tidak menduga hal ini dan pasukannya tidak dilengkapi dengan peralatan yang cukup untuk menyeberangi parit besar yang menghadang mereka. Sang Nabi dan pasukannya hanya besiap siaga dan menunggu di balik dinding kota Madinah sampai pasukan Mekah berhenti mencoba segala cara untuk melewati parit tersebut dan akhirnya pulang dengan tangan hampa. Dua minggu berlalu, dan pasukan Mekahpun mulai kehabisan bahan pangan untuk bertahan. Maka tak ada pilihan bagi mereka selain meminta pertolongan dari dalam Madinah sendiri, yaitu dari kaum Yahudi.

Adalah Banu Quraiza, salah satu suku Yahudi di wilayah selatan Madinah, yang setuju membantu pihak Mekah untuk melakukan serangan ke pasukan Sang Nabi. Suku Banu Quraiza yang tadinya hanya berdagang rahasia dengan pihak Mekah atau menolak ikut berperang dengan umat Muslim, kini benar-benar angkat senjata dan menyerang pasukan Sang Nabi dari dalam Madinah sendiri.

Kontroversi: Beberapa sejarawan medern memandang tindakan Yahudi itu bisa dimaklumi, karena Banu Quraiza melihat pengusiran Sang Nabi terhadap suku Yahudi yang lain. Wajar saja kalau mereka memilih untuk menjadi sekutu pihak Mekah. Bahkan sejarawan Yahudi berpendapat bahwa pengkhianatan itu belum tentu terjadi sebagaimana diceritakan, karena mereka tidak menemukan bukti arkeologi yang mendukungnya. Adapun cerita yang mereka miliki adalah kaum Yahudi justru meminjamkan senjata mereka kepada pasukan Sang Nabi selama pertempuran. Lagipula berdagang dan bersekutu adalah hal yang wajar bagi kaum Yahudi. Bahkan di masa diaspora atau pengasingan – yaitu beberapa masa dimana kaum Bani Israel terusir dari tanah tempat tinggal mereka oleh kerajaan-kerajaan yang berkuasa pada masanya – kaum Yahudi yang tersebar di berbagai penjuru pastilah mencari aliansi untuk dapat bertahan dan melangsungkan kehidupan mereka. Salah satu semboyan politik mereka saat itu adalah bersekutulah dengan pihak manapun meski kelihatannya mereka tidak mungkin menjadi sekutumu.

Argumentasi: Sejarawan lain dan kisah dari kaum Muslim menyatakan bahwa kesalahan Yahudi kali ini sungguh besar, sampai-sampai kaum Muslim saat itu sangat terkejut dan tak menduga pengkhianatan sebesar itu akan tega mereka lakukan. Jika saja serangan itu berhasil terwujud, maka tentara Mekah akan bisa masuk dan memusnahkan komunitas Muslim yang sudah terbangun di Madinah, dan agama Islampun akan terhenti berkumandang pada saat itu juga.

Kembali pada kisah Sang Nabi, setelah mendapati pengkhianatan yang sedemikian buruk dari kaum Yahudi saat berlangsungnya Perang Parit ini, maka Nabi Muhammad SAW akan menghadapi dilema terberat dan harus mengambil keputusan paling kontroversial seumur hidupnya.

  1. MENGHUKUM YAHUDI: BUKAN MEMBENCI YAHUDI

[Menit: 51.00 – 57.00] Setelah Perang Parit, Nabi Muhammad SAW memerintahkan pasukannya mengepung desa Banu Quraiza. Pengepungan terjadi selama dua puluh lima hari sampai pada akhirnya kaum Yahudi itu menyerah. Sang Nabipun kini menghadapi dilema berat. Jika beliau membebaskan Banu Quraiza dan mengusir mereka keluar dari Madinah, kemungkinannya mereka akan bergabung dengan pihak Mekah dan turut serta menyerang Madinah. Sang Nabipun kemudian meminta bantuan seorang pemuka kaum Yahudi di Madinah bernama Sa’d ibn Mu’adh – yang juga ditunjuk sendiri oleh kaum Yahudi yang akan dihukum – untuk mengambil keputusan, apa yang sebaiknya dilakukan oleh Sang Nabi kepada kaum Yahudi yang berkhianat tersebut. Sa’d ibn Mu’adh memutuskan bahwa semua orang laki-laki suku Banu Quraiza harus dibunuh, sedangkan wanita dan anak-anak dibiarkan hidup sebagai tahanan. Sang Nabi menyetujuinya, demikian pula kaum Yahudi menerima hukuman itu. Semua orang Madinah pun tidak terkejut dengan keputusan itu, karena mereka sudah maklum atas konsekuensi hukuman yang lumrah dilakukan pada saat itu.

Kontroversi: Ini adalah Holocaust (pembunuhan massal kaum Yahudi) pertama terhadap kaum Yahudi. Bagaimana mungkin seorang Rasul memerintahkan membunuh sekitar 800 orang meskipun mereka terbukti berencana membunuh beliau. Bisa saja beliau mengusir mereka keluar dari Madinah, atau memberi hukuman yang lain, tapi bukan  membunuh mereka. Beberapa pembenci Sang Nabi hingga kini bahkan menuduh Sang Nabi sebagai seorang yang haus darah, kegemarannya berperang dan tak segan membunuh siapa saja yang tak sepaham dengan beliau.

Argumentasi: Hukuman ini tidak dilakukan dengan gegabah. Buktinya, ini sudah ketiga kalinya kaum Yahudi mengkhianati komunitas Madinah melalui persekutuan mereka dengan pihak lawan. Dan juga, Sang Nabipun menunjuk orang lain – bahkan orang yang ditunjuk berasal dari suku Yahudi dan penunjukannyapun disetujui oleh para tawanan itu sendiri – untuk memutuskan hukuman yang layak dilakukan. Ini bukan pembunuhan massal, dan bukan ditargetkan untuk menghapus warga Yahudi. Islam tidak membenci Yahudi. Jika Islam membenci Yahudi, maka tidak akan ada catatan sejarah tentang masa keemasan Yahudi di Spanyol dibawah kekuasaan kerajaan Islam sekitar tahun 900 sampai 1000 Masehi.

PhotoGrid_1453401510835Memang tak bisa disangkal, bahwa jika kisah ini dipandang dari sudut kemanusiaan modern masa kini, maka kejadian itu sangatlah brutal dan tak bermoral. Namun dalam setiap kejadian sejarah, kita tidak bisa memandang sebuah kejadian tanpa menyelami latar belakang yang mendasarinya. Kita juga harus menempatkan kejadian itu pada konteks lingkungan sosial budaya pada masa terjadinya, yaitu masa jahiliyah yang amat biadab yang merupakan lingkungan tempat kehidupan Sang Nabi.

Mau tak mau, kejadian ini juga mendasari sudut pandang negatif bagi sebagian umat Islam dalam menilai karakter kaum Yahudi hingga saat ini. Beberapa pemuka agama Islam bahkan tak segan-segan menunjukkan posisi antisemit (memusuhi Yahudi) kepada publik. Berdasarkan kisah dan pemahaman kisah Sang Nabi diatas, maka sikap antisemit itu sama sekali tidak dibenarkan dalam Islam dan tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kita tidak bisa mengakui dua hal yang bertentangan, yaitu bahwa di dalam Al Qur’an kaum Yahudi dan Kristiani dianggap sebagai ahlul kitab (sesama penganut ajaran monotheis warisan Nabi Ibrahim), namun di sisi lain membenci mereka dalam konteks rasisme dan perbedaan agama. Bahkan Sang Nabi kala membangun kumunitas Madinah, beliau menyatakan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani disana adalah bagian dari ummah atau masyarakat dalam komunitas yang sama dengan para Muslim di Madinah. Maka bisa disimpulkan bahwa kaum Yahudi bukanlah musuh, melainkan saudara umat Islam dalam ajaran monotheis dan kemanusiaan.

 

… bersambung …