Kisah Nabi Muhammad SAW: Biografi Kritis BBC – The Life Of Muhammad [Part One: The Seeker]

Catatan: Ini adalah bagian ke-1 dari 3 tulisan saya atas film dokumenter “The Life Of Muhammad” produksi BBC. Sebelum membaca tulisan ini, silakan membaca tulisan saya tentang “Pengantar” terlebih dahulu. Hal ini penting untuk menghindari kesalah pahaman yang mungkin terjadi. Terima kasih. Link-nya disini: https://primasantika.wordpress.com/2015/12/21/kisah-nabi-muhammad-saw-biografi-kritis-bbc-the-life-of-muhammad-pengantar/

Link Youtube untuk Part One ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=oVGieY0W6lY

PART ONE: THE SEEKER

  1. PENGANTAR TENTANG ISLAM

[Menit: 02.00 – 05.00] Selamat datang di Ka’bah, bangunan berbentuk kubus yang berdiri megah di jantung Masjidil Haram di kota Mekah, Saudi Arabia, adalah kiblat sholat bagi umat Muslim di seluruh dunia. Dari sini sang reporter BBC bernama Rageh Omaar memulai kisahnya tentang Nabi Muhammad SAW, atau dalam bahasa Inggris biasa diterjemahkan sebagai Prophet Muhammad PBUH – Peace Be Upon Him.

PhotoGrid_1450680678635Sebagai seorang yang terlahir Muslim, dia memulai kisah Sang Nabi dari pengalamannya yang juga dialami semua Muslim sedunia, yaitu mendengar nama Muhammad sebagai nama ‘manusia’ pertama di telinganya, terlantun sebagai ’kalimat syahadat’ dalam rangkaian adzan yang dibisikkan oleh sang ayah di menit pertama kelahirannya. Mengakui dua hal utama – yaitu mengakui hanya ada ‘satu’ Tuhan (disebut Allah dalam bahasa Arab) dan mengakui Muhammad sebagai Sang Rasul penyambung firman Allah – adalah inti dari segala inti dalam memeluk agama Islam.

Dan kini, Ragih berdiri di hadapan Ka’bah, tempat umat Islam diwajibkan beribadah haji jika mampu. Berhaji secara fisik adalah melakukan ritual ibadah di tanah suci sebagaimana dilakukan dan diajarkan oleh Sang Nabi. Lebih daripada itu, berhaji – atas kaitannya dengan Nabi Muhammad SAW – adalah mendekati jejak sejarah, memaknai kejadian, dan mengimplementasi suri tauladan dari kehidupan Sang Nabi dalam kehidupan setiap Muslim. Namun ada satu hal yang wajib dipegang tentang Nabi Muhammad SAW, yaitu bahwa Sang Nabi ini adalah ‘manusia’, bukan Tuhan.

  1. PENGGAMBARAN SANG NABI

[Menit: 05.00 – 12.00] Nabi Muhammad SAW terlahir empat belas abad lalu di wilayah Arabia, sebuah daratan sepi hampir tak berpenghuni mengingat topologi geografisnya yang sangat tidak menarik untuk dihuni. Gunung dan bukit batu serta padang pasir yang menghampar luas, ditambah terik panas yang menyengat, adalah penggambaran wilayah Arabia tanpa modernisasi apapun pada masa itu. Meski demikian, letak Arabia berada diantara dua kekaisaran kuno besar dunia, yaitu kerajaan Kristiani yang disebut Byzantine Empire dengan ibukotanya Constantinopel, dan bekas kerajaan Persia yang disebut Sassanid Empire. Diantara keduanya terdapat banyak suku-suku Arab yang saling bertarung, baik untuk memperebutkan kekuasaan maupun untuk bertahan hidup. Hanya ada sedikit kota di daratan Arabia, salah satunya adalah Mekah, kota lahir Nabi Muhammad SAW pada tahun 570 Masehi.

PhotoGrid_1450681098231Tidak diketahui lokasi tepatnya dimana Sang Nabi lahir. Beliau adalah manusia biasa yang terlahir biasa, tidak seperti Nabi Isa atau Yesus yang dipercaya oleh pemeluk Kristiani dan Islam terlahir dari seorang wanita perawan bernama Maria. Pada masa Sang Nabi, tak ada tanda2 khusus akan datangnya manusia suci yang dikirim Tuhan untuk manusia di dunia. Sang Nabi bahkan terlahir yatim dengan sang ayah Abdullah yang sudah tiada dan sang bunda Aminah yang sangat miskin. Nabi Muhammad SAW bukanlah siapa-siapa saat beliau lahir, sehingga tak ada catatan sejarah yang menandai lokasi dimana tempat kelahiran beliau.

Umat Muslim mengakui penuh kemanusiaan Sang Nabi, bahkan adalah dosa besar yang disebut ’syirik’  bagi umat Muslim jika mereka menyembah beliau seperti menyembah Tuhan. Ini adalah dasar dari ilmu ‘tauhid’ atau Keesaan Tuhan dalam Islam. Oleh karena itu, sejak beliau meninggal hingga kini beberapa titik lokasi yang pernah beliau lalui dihapus dari sejarah untuk menghindari pengkultusan Sang Nabi. Dan yang terpenting dari usaha ini adalah larangan tentang visualisasi Sang Nabi, termasuk juga penggambaran Nabi-Nabi lain dalam Al-Quran. Alhasil, di masa modern sekarang ini yang menjunjung tinggi kebebasan berbicara, larangan ini menjadi sebuah kontroversi. Kasus Charlie Hebdoe di Perancis yang tak hanya menggambar wajah Sang Nabi tapi juga merendahkan beliau sebagai teroris dalam penggambarannya, adalah salah satu kasus nyata.

Sumber kisah Nabi Muhammad SAW diperoleh dari tiga jenis sumber, yaitu dari kitab suci AlQur’an, dari ’Hadist’ atau kumpulan perkataan dan perilaku Sang Nabi yang diabadikan oleh para ulama setelah beliau meninggal, dan dari tulisan sejarawan non Muslim.

Kontroversi: Hadist paling kuno ditulis sekitar tahun 820-an, padahal Sang Nabi meninggal tahun 632. Jauhnya rentang waktu tersebut diduga mempengaruhi kebenaran dari cerita yang disampaikan. Dan bahkan sampai saat inipun para ulama masih sibuk memperdebatkan kebenaran isi dalam mengklasifikasi ribuan hadist yang ada.

Argumentasi: Orang Arab di masa itu punya kemampuan tinggi dalam mengingat, dan memang dengan cara itulah mereka mengabadikan sejarah mereka sendiri, salah satunya tentu saja sejarah terkait Nabi Muhammad. Setelah Sang Nabi meninggal, banyak pengikutnya – dan juga mungkin musuhnya – mengabadikan kisah-kisah yang mereka ketahui. Bagaimanapun juga, kisah mereka adalah bukti sejarah. Kita tidak bisa menghapusnya hanya karena bertentangan dengan pendapat kita atau karena rentang waktu penulisannya lama berselang setelah wafatnya Sang Nabi.

Sumber kisah Nabi Muhammad SAW dari sejarawan non Muslim ditemukan dalam bahasa Yunani, Syiria dan Armenia. Di Armenia bahkan ditemukan kisah yang ditulis 24 tahun setelah meninggalnya Sang Nabi, yang mana si penulis menuliskan kejadian yang dialaminya sekitar tahun 630, di masa Sang Nabi masih hidup. Ini adalah temuan yang sangat mendukung keberadaan Sang Nabi dalam ilmu Sejarah, yang berarti mendukung tulisan sejarah para Muslim yang tertuang dalam Hadist. Dengan demikian, berdasarkan tiga sumber tersebut, maka kisah Sang Nabi versi BBC ini dimulai.

  1. MASA KECIL SANG NABI

[Menit: 12.00 – 20.00] Nabi Muhammad SAW terlahir sebagai suku Qurais, sebuah suku utama di Arabia yang menguasai kota Mekah. Karena yatim dan miskin, Nabi Muhammad bayi belum setahun terpaksa dititipkan pada suku pengembara Badui yang hidup di pinggiran kota Mekah. Selama beberapa tahun Sang Nabi balita mengikuti pola hidup mengembara. Di masa itu, kehidupan di Arabia sangat keras, keadilan dan kemakmuran tidak merata. Rakyat miskin tidak punya kemungkinan perbaikan hidup. Umat Muslim menyebut masa ini sebagai jaman Jahiliyah.

PhotoGrid_1450689313447Dalam hal spiritual, Mekah adalah kota pusat penyembahan berhala, Tuhannya orang Arab yang berbentuk patung beraneka rupa dan diberi beragam nama. Masing-masing suku bahkan punya Tuhan pelindung sendiri-sendiri. Konsep ketuhanan mereka biasanya terkait dengan kepentingan domestik, misalnya ada Tuhan untuk kekayaan, atau untuk peperangan, atau untuk kesuburan hasil bumi, dan sebagainya. Dan Ka’bah adalah pusat segala pemujaan berhala di seantero Arabia, tak kurang dari 350 berhala tersimpan didalamnya saat itu. Dengan adanya Ka’bah, Mekah menjadi kota yang damai. Tak boleh ada peperangan di Mekah, bahkan antar suku yang saling bertarungpun ada perjanjian khusus yang memungkinkan mereka beribadah di Mekah di waktu yang sama dalam damai.

Suku Qurais adalah pengelola Ka’bah dan penguasa Mekah. Dengan pajak dan perdagangan yang berpusat di Mekah, tak heran suku Qurais menjadi kaya raya. Ka’bah dan spiritualisme penyembah berhala adalah sumber utama kekayaan dan kekuasaan suku Qurais. Meski demikian, hanyalah kelompok pengelola saja yang kaya raya, kelompok lain dalam suku yang sama tidak seberuntung itu, termasuk Nabi Muhammad SAW dan keluarganya yang miskin papa.

Nabi Muhammad SAW kembali pada ibunya Aminah di usianya yang lima tahun di Mekah. Pada saat mereka memutuskan pergi ke rumah kerabat di Madinah, di tengah perjalanan sang bunda yang sedang sakit justru meninggal dunia. Sang Nabipun menjadi yatim piatu di usia enam tahun. Sang Nabi kemudian diasuh oleh kakeknya, yang kemudian meninggal juga dua tahun setelah itu. Sebelum meninggal, sang kakek sempat menitipkan Nabi Muhammad SAW kepada paman beliau, Abu Thalib, seorang yang berpengaruh diantara penguasa Mekah. Abu Thalib adalah pedagang yang pengangkut barang dagangan menggunakan karavan sejauh Siria, Mesir, Palestina, dan daerah lain di sekitarnya. Pedagang dengan karavan inilah yang menghubungkan Arabia dengan peradaban dunia lainnya.

Kontroversi: Bagi sejarawan Muslim, Mekah dipandang sebagai kota perdagangan yang vital, namun sayangnya beberapa sejarawan non Muslim tidak memandang demikian, dikarenakan pendapat tersebut tidak disukung oleh penemuan arkeologi. Bahkan kota Mekahpun baru dikenal setelah munculnya peradaban Islam di Timur Tengah. Diduga, para sejarawan Muslim sengaja membesar-besarkan kota Mekah agar terkesan bahwa Nabi Muhammad SAW mengembangkan agama Islam secara mandiri tanpa terpengaruh oleh ajaran Yahudi dan Kristiani yang sudah tersebar luas sebelumnya di Timur Tengah dan sekitarnya.

Argumentasi: Mekah berada di tengah padang pasir dan perbukitan batu, maka wajar jika sejarawan non Arab tidak mau bersusah payah melewati wilayah kering dan mematikan itu. Kalaupun mereka mengunjungi daratan Arabia, kemungkinan besar mereka hanya menelusuri daerah pantainya saja. Hanya karena tidak ada sejarawan yang menyebut Mekah, bukan berarti kota itu tidak ada.

  1. MASA SEBELUM KENABIAN

[Menit: 20.00 – 27.00] Keterlibatan Nabi Muhammad SAW dalam perdagangan menggunakan karavan sangat penting dalam kehidupan Sang Nabi, baik dalam perkembangan kepribadian maupun keilmuannya. Sepanjang perjalanannya berdagang pastilah Sang Nabi mengetahui peradaban lain diluar Arab, termasuk keragaman budaya dan keyakinan spiritual masyarakat daratan Arabia dan sekitarnya. Disini, beberapa ulama Muslim justru berpendapat lain, bahwasanya Sang Nabi sepanjang hidupnya sebelum menjadi Nabi pastilah tidak mengetahui sedikitpun tentang dunia luar, apalagi tentang adanya keyakinan dan agama lain. Atas kesuksesannya dalam berdagang yang membawa perbaikan di sisi ekonomi, pada usianya yang ke 21 Nabi Muhammad SAW mendapat julukan Al Amin, yang berarti dia yang bisa dipercaya.

PhotoGrid_1450678748942Dalam sebuah kesaksian, seorang sejarawan menuliskan deskripsi fisik Sang Nabi di usia muda tersebut, yaitu tingginya diatas rata-rata, perawakannya kokoh, lengannya dan jemarinya panjang dan kuat, rambutnya panjang tebal berombak, matanya bulat berwarna hitam kecoklatan, jenggotnya tebal, kulitnya terang, Dan kini, Sang Nabi siap mencari istri. Usaha pertama meminang wanita mengalami kegagalan karena status beliau yang yatim piatu. Namun kemudian dia bertemu seorang janda kaya bernama Khadijah yang menugaskannya berdagang ke Siria. Sekembalinya Sang Nabi dengan kesuksesan untuk Khadijah, maka wanita itupun kemudian meminang Sang Nabi. Ya, Nabi Muhammad SAW ‘dipinang’ oleh Siti Khadijah yang berusia 15 tahun lebih tua dari  Sang Nabi.

Perempuan di jaman Jahiliyah dinilai sangat rendah. Mereka tak memiliki hak-hak asasi yang mendasar sekalipun. Poligami tanpa batas adalah salah satunya. Khadijah termasuk yang beruntung mendapat warisan usaha perdagangan oleh mendiang suaminya, dan dengan kepandaian yang dimiliki bisa menanganinya sendiri secara mandiri sampai datangnya Nabi Muhammad SAW yang kemudian dipinangnya. Di masa itu, wanita meminang pria, dan wanita menikahi pria dibawah usianya, adalah sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Di masa kinipun hal itu masih dianggap aneh. Kebanyakan pria akan terintimidasi atas kesuksesan wanita, dan menghindar menikahi mereka. Sang Nabi adalah sebuah contoh nyata, bahwa pernikahan semacam itu diperbolehkan dan terbukti berhasil dengan baik. Emansipasi wanita pun terbukti dilakukan oleh Sang Nabi bahkan sebelum masa kenabian, dan kemudian berlanjut dalam ajaran agama Islam. Wanita adalah partner setara dalam membangun peradaban Islam, bukan direndahkan.

Pernikahan Sang Nabi dengan Siti Khadijah bertahan 24 tahun. Dan meski poligami adalah sesuatu yang lumrah di jaman Jahiliyah, Sang Nabi tidak pernah menikahi wanita lain sepanjang perjalanan hidupnya dengan Siti Khadijah. Beliau hidup bahagia dengan empat anak perempuan dan dua anak lelaki yang meninggal setelah lahir. Namun secara pribadi, Sang Nabi ternyata bersedih hati. Kehidupan sosial di Mekah di masa Jahiliyah yang jauh dari manusiawi mengganggu hati dan pikirannya.

  1. WAHYU PERTAMA

[Menit: 27.00 – 34.00] Di usianya yang tak lagi belia, 40 tahun, Nabi Muhammad SAW telah mendapat semua yang dibutuhkan untuk mencapai kebahagiaan duniawi, namun ternyata materi dan keluarga milik pribadi saja tidak cukup. Beliau mencari jawaban atas pertanyaan spiritual dan alasan mengapa terjadi beragam kebejatan moral, seperti kejahatan, penindasan, ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, dan keburukan lainnya di sekitarnya saat itu. Pemikiran ini membuatnya resah setiap hari, hingga beliau menyisihkan waktu untuk  menyendiri, merenungi dan bermeditasi, menjauh dari kehidupan keseharian yang dijalaninya. Maka secara berkala beliau menaiki bukit Jabal Nur dengan ketinggian yang cukup jauh dari lingkungan kota dibawahnya, berharap mendapati damai di dalam Gua Hira. Semakin lama kebutuhan meditasi beliau semakin meningkat, semakin sering, semakin lama, semakin khusyu. Hingga suatu hari di tahun 610, sesuatu terjadi pada beliau, menandai awal berubahnya sejarah dunia.

PhotoGrid_1450677548889Dikisahkan, Nabi Muhammad SAW yang sedang tertidur di Gua Hira tiba-tiba terbangun dengan rasa takut dan sakit yang luar biasa. Beliau menceritakan rasanya bagai dipeluk terlalu kuat hingga berpafaspun tak kuasa. Adalah Malaikat Jibril yang melakukan itu pada Sang Nabi. Dan kemudian muncullah wahyu pertama yang didengarnya. Suara tersebut memerintahkan Sang Nabi, “Iqra’!” “Bacalah!” Lalu beliau menjawab “Aku tidak bisa membaca.” Perintah itu terdengar lagi, “Bacalah!” Sang Nabipun mengulang jawaban yang sama. Lalu perintah itupun berulang untuk ketiga kalinya, “Bacalah!” Kali ini Sang Nabi menjawab, “Apa yang harus kubaca?” Maka turunlah wahyu pertama dari Tuhan.

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantara wahyu. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-Alaq: 1-5)

Menerima wahyu adalah siksaan secara fisik dan mental bagi semua Nabi dan Rasul, tak terkecuali Nabi Muhammad SAW. Sang Nabi sekonyong-konyong berlari menuruni bukit dan pulang menghampiri istrinya, Siti Khadijah. Beliaulah yang menenangkan Sang Nabi yang ketakutan teramat sangat, dan mempercayai semua pengakuan suaminya tercinta, bahkan mungkin sebelum Sang Nabi sendiri percaya akan apa yang beliau alami. Akhirnya, “Sang Pencari” telah mendapatkan apa yang dicarinya.

Namun setelah itu, wahyu berhenti. Tak terjadi apapun selama beberapa bulan berikutnya.

Sang Nabipun semakin bimbang ragu dengan apa yang telah dialaminya, dan apa yang tak lagi terjadi. Di tengah kebimbangan beliau itulah, wahyu berikutnya datang.

“Demi waktu kala matahari naik sepenggalan, dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkanmu, dan tidak pula membencimu. Dan sesungguhnya yang akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan, dan kelak pasti Tuhanmu akan memberi karunianya kepadamu hingga hatimu merasa puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan lalu Dia memberi kecukupan. Maka, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang, dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah kamu menghardiknya, dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah kamu bersyukur.” (QS Ad-Dhuha)

Sejak itu Sang Nabi sadar akan tugas khusus yang harus dilakukannya kedepan. Wahyu dari Tuhan ini adalah petunjuk – berisi nilai dan tuntunan bagi manusia – menuju kehidupan yang lebih baik, dan tugas beliau adalah menyebarluaskan wahyu tersebut. Wahyu itu adalah Al-Qur’an.

  1. AL – QUR’AN

[Menit: 34.00 – 38.00] Bagi semua umat Islam, Al-Qur’an – yang artinya adalah “bacaan” – dipercaya sebagai kata-kata yang langsung datang dari Tuhan. Nabi Muhammad SAW hanyalah perantaranya, seorang manusia biasa – bahkan buta huruf – yang menyampaikan wahyu Tuhan kepada umat manusia. Al-Qur’an – dalam setiap kata yang tertulis dan terbaca – adalah keajaiban Tuhan bagi umat manusia yang akan abadi sepanjang masa, begitulah setiap Muslim memandangnya. Nabi Muhammad SAW pun tidak pernah menyampaikan dirinya memiliki mukjizat apapun kecuali Al-Qur’an yang datangnya dari Tuhan.

PhotoGrid_1450680198318Kontroversi: Kondisi Sang Nabi yang “buta huruf” sangat penting bagi umat Muslim. Beberapa pengkritisi Islam berpendapat bahwa pendapat itu hanya untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an agar tidak dianggap terpengaruh ajaran Yahudi dan Kristiani. Sang Nabi pastilah tidak buta huruf dan sengaja dikisahkan berasal dari tengah daratan Arabia, jauh dari pusat-pusat ajaran keagamaan yang saat itu sedang berkembang. Jika beliau tidak buta huruf dan berasal dari – atau setidaknya punya pengalaman berkelana hingga ke – kota-kota pusat keagamaan, maka bisa jadi beliau bertemu dengan ajaran-ajaran agama lain – terutama Yahudi dan Kristiani – yang kemuadian mempengaruhi spiritualitas beliau dan menyebarluaskannya sebagai ajarannya sendiri dalam Islam.

Argumentasi: Baik Al-Qur’an maupun Hadist menyatakan bahwa Sang Nabi memang berkondisi buta huruf, oleh karenanya semua umat Muslim mempercayainya. Sebetulnya kata “ummi” dalam bahasa Arab tak hanya berarti buta huruf saja, bahkan artinya bisa mencakup seorang yang tidak mempelajari, baik itu sejarah, sastra, maupun kitab suci. Dan mengenai pengaruh ajaran Yahudi dan Kristiani dalam Islam, hal itu memanglah sudah semestinya. Jelas tertuang dalam Al-Qur’an bahwa Islam adalah kelanjutan dari ajaran-ajaran sebelumnya, termasuk Yahudi dan Kristiani, sebagai bagian dari ajaran Monotheisme, atau Satu Tuhan, yang diwariskan sejak Nabi Ibrahim.

  1. AWAL KENABIAN

[Menit: 38.00 – 44.00] Pada awal masa kenabiannya, Nabi Muhammad SAW menyebarkan wahyu Tuhan yang diterimanya kepada sanak dan kerabat terdekat. Siti Khadijah adalah yang pertama, kemudian sepupu beliau Ali yang masih remaja, lalu menyebar kepada orang-oang lain dari berbagai kalangan, baik dari rakyat jelata yang miskin papa, hingga para ningrat dan pengusaha. Abu Bakar adalah seorang pedagang dan kepala suku yang menerima ajaran Islam yang disampaikan Sang Nabi di masa-masa awal ini.

PhotoGrid_1450690351859Satu hal yang tidak berubah dari masa awal kenabian hingga detik ini adalah, bahwa untuk menjadi seorang Muslim yang dibutuhkan hanyalah mengucapkan dua hal, yaitu percaya bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad SAW adalah penyebar wahyu Allah. Itu saja, tak lebih dan tak kurang. Ucapan itu dikenal sebagai “Kalimat Syahadat”. Hanya saja, ucapan itu haruslah berasal dari niatan terdalam dan kebebasan dalam menentukan pilihan, bukan paksaan. Bahkan konon, Sang Nabipun seumur hidupnya tidak pernah berhasil membuat sang paman Abu Thalib – orang terdekat yang membesarkan Nabi Muhammad SAW hingga dewasa serta melindungi beliau dari ancaman petinggi Qurais – untuk mengucapkan kalimat Syahadat sampai sang paman tersebut meninggal dunia.

Kritik: Dalam Al-Qur’an tertulis lakum dinukum waliyadin yang artinya untukmu agamamu dan bagiku agamaku. Jelas disini Islam mementingkan toleransi beragama. Sayangnya, tak sedikit diantara umat Muslim di seluruh dunia yang mengabaikan hal ini. Terorisme dan perang di Timur Tengah adalah bukti nyata lemahnya toleransi di tataran politik dan militer.

Ajaran Sang Nabi yang perintahnya didapat langsung dari Tuhan ini kemudian disebut sebagai ISLAM, yang artinya adalah “berserah diri”. Asal katanya adalah “salaam” yang artinya “damai”. Muslim adalah penganut Islam, yang mana berarti seorang yang berserah diri kepada Tuhan.

Pada awalnya, Nabi Muhammad SAW menyebarkan ajaran yang sama dan sebangun dengan agama warisan Nabi Ibrahim lainnya, Yahudi dan Kristiani, yaitu mempercayai Tuhan Yang Esa, kemudian ditambah dengan menentang segela bentuk ketidakadilan dan penjajahan dalam kehidupan di Arabia pada saat itu. Tentunya hal ini tidak disukai para penguasa Mekah. Kesetaraan hak asasi manusia adalah ajaran yang mengancam kekuasaan mereka. Namun itulah tugas seorang Rasul, yaitu merubah pola dan struktur sosial ke arah yang lebih baik sesuai ajaran Tuhan, yang mana dalam hal ini berarti transformasi yang sangat radikal.

Semakin bertambah intensitas ajaran Sang Nabi, semakin benci pula para penguasa Mekah kepada beliau. Mulailah mereka menawarkan uang, kekuasaan dan apapun yang diinginkan Sang Nabi asal beliau mau menghentikan ajarannya. Tentu saja beliau menolaknya. Bagi Nabi Muhammad SAW, beliau hanyalah menyebarkan apa yang diwahyukan Tuhan, dan tidak memaksa siapapun mengikutinya. Jika mereka ikut berarti beruntunglah kehidupan mereka di mata Tuhan, namun jikalaupun tidak, maka Sang Nabi tidak memaksa. Tunggu saja sendiri pembalasan dari Yang Maha Kuasa jika segala keburukan masa jahiliyah itu masih mereka pertahankan.

Maka tak ada pilihan lain bagi pemimpin Qurais. Sang Nabi harus dihentikan dengan paksa. Bahkan kejam.

  1. MASA SULIT

[Menit: 44.00 – 49.00] Bagi para pengikut Sang Nabi yang termasuk golongan minoritas, seperti budak dan fakir miskin, adalah sasaran empuk di awal masa sulit ini karena mereka biasanya tidak termasuk dalam keanggotaan suku manapun, sehingga tak ada yang bisa melindungi mereka. Tak jarang mereka dipukul dan dicambuk bahkan sampai mati – tak peduli pria maupun wanita – hanya karena teguh menerima ajaran Sang Nabi.

Di samping itu, siksaan sosial berupa cemoohan dan larangan beribadah menimbulkan kesulitan tersendiri bagi pengikut Sang Nabi. Untuk menyikapi hal ini, Sang Nabi menyarankan beberapa pengikutnya keluar dari Mekah – termasuk meninggalkan rumah dan harta benda demi mencari perlindungan sebagai pengungsi – jauh menyeberangi Laut Merah sampai ke pesisir timur benua Afrika, tepatnya di Ethiopia, di kerajaan Axum yang dipimpin oleh Raja Nagus, seorang Kristiani. Saat itu tahun 615 Masehi.

PhotoGrid_1450677685991Mengetahui hal ini, beberapa orang Qurais mengejar mereka sampai ke Ethiopia, dan menghadap langsung kepada Sang Raja, meminta beliau mendeportasi para pengungsi dari Mekah tersebut. Sang Raja tidak serta merta mengusir, namun memanggil para pengungsi itu terlebih dahulu untuk mendengar penjelasan mereka. Disinilah Sang Raja mendengar langsung cerita tentang adanya seorang Nabi dari daratan Arabia bernama Muhammad yang menyebarkan wahyu dari Tuhan dan mengajarkan tentang keesaan Tuhan. Si pengungsi kemudian membacakan beberapa ayat Al-Qur’an yang menceritakan kelahiran Nabi Isa dari seorang perawan bernama Maryam, serta mengakui Nabi Isa sebagai salah satu Rasul utusan Tuhan. Seketika Sang Raja terharu, meneteskan air mata dan mengijinkan para pengungsi Muslim itu tinggal disana.

Sementaera itu di Mekah, para petinggi Qurais melanjutkan siksaan mereka kepada Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya. Mereka memerintahkan semua penduduk Mekah untuk melakukan boikot terhadap kaum Muslim. Mereka dilarang berbisnis apapun dengan orang Muslim, dilarang menikahi orang Muslim, bahkan dilarang menjual makanan di pasar kepada orang Muslim. Tujuan dari semua ini hanya satu, yaitu memaksa Sang Nabi dan pengikutnya untuk setidaknya mau menyembah beberapa Tuhan Berhala yang dimiliki kaum Qurais. Sang Nabi tentu saja menolak, dan penindasanpun berlanjut.

Diantara kondisi ketertindasan umat Muslim inilah terjadi sesuatu yang kontroversial, sesuatu yang selalu dipakai para pembenci Sang Nabi untuk menyerang ajaran Islam hingga kini. Disinilah munculnya apa yang kemudian terkenal dengan sebutan “ayat-ayat setan”.

  1. AYAT-AYAT SETAN

[Menit: 49.00 – 54.00] Sebagian besar umat Muslim tidak mengakui kisah ini benar-benar terjadi, namun beberapa sumber sejarah mencatatnya. Ada beberapa versi cerita dari sumber-sumber berbeda tentang hal ini, namun pada dasarnya adalah sebagai berikut: alkisah, suatu hari Nabi Muhammad yang sedang berada di sekitar Ka’bah mendapat wahyu yang menyatakan bahwa beliau diminta berkompromi dengan kaum Qurais. Komprominya adalah mengijinkan kaum Qurais menyembah Tuhan Berhala mereka. Kaum Qurais pun bersuka cita mendengar kabar ini. Namun kemudian, datanglah wahyu berikutnya yang menyatakan bahwa wahyu yang baru saja diterima Sang Nabi tersebut adalah hasutan setan semata. Oleh karenanya, wahyu tersebut disebut sebagai “ayat-ayat setan”. Kalau cerita ini benar, maka Nabi Muhammad SAW akan tertuduh sebagai seorang pembohong yang bisa merubah wahyu sekehendak hatinya.

Kontroversi: Meski umat Muslim tidak mengakui cerita ini karena dipercaya bahwa cerita ini berasal dari musuh-musuh Islam, kenyataan yang sulit dijawab adalah mengapa cerita ini tertuang di sumber-sumber sejarah yang hilang, yang berasal dari kaum Muslim sendiri, bahkan yang periodenya relatif dekat dengan masa kenabian, dan bagaimana mungkin kisah ini bisa masuk dalam catatan sejarah Muslim kalau yang mencatatnya adalah seorang umat Muslim yang taat.

Argumentasi: Ada tiga referensi atas kisah ini – dimana satu sama lain saling bertentangan – yang ditulis dan dikumpulkan setelah Sang Nabi wafat. Kisah ini tidak pernah disebutkan secara langsung dan jelas dalam Al-Qur’an maupun sumber sejarah Islam yang tertua dan paling dipercaya, yaitu dari Ibn Ishaq. Dan juga, dalam Hadist-Hadist besar yang muncul di abad ke-9 pun kisah ini tidak tercatat. Umat Muslim biasanya tidak keberatan menceritakan kisah yang berpotensi mengkritisi Nabi Muhammad SAW, hanya saja kisah yang satu ini tidak bisa diterima karena kurangnya verifikasi dari sumber-sumber utama dalam sejarah dan ajaran Islam.

PhotoGrid_1450677853188Pada tahun 1989, sebuah novel berjudul “The Satanic Verses” karya Salman Rushdie menceritakan secara fiksi topik yang sensitif ini. Isinya adalah penggambaran Sang Nabi sebagai seseorang yang haus kekuasaan, dan Al-Qur’an sebagai hasil karya setan. Hasilnya adalah aliran protes membanjir dari berbagai komunitas Muslim di seluruh dunia. Satu kejadian yang bahkan sebagian Sejarawan tidak percaya pernah terjadi, telah dipakai untuk menghina dan mempertanyakan kesucian karakter Sang Nabi: apakah Nabi Muhammad SAW seorang penyeru kebaikan, atau kejahatan. Inilah perbedaan nyata yang menjadi jurang pemisah antara budaya Barat yang sangat Liberal dengan aliran freedom of speech, dengan komunitas Muslim yang merasa punya hak untuk tidak dilecehkan.

Di saat seperti inilah muncul rasa persatuan diantara sesama Muslim, khususnya komunitas Muslim Inggris. Mereka yang tadinya tak terlihat, saat itu memunculkan jumlahnya yang signifikan. Ribuan British Muslim melakukan protes di jalanan London. Di belahan dunia lain, tak ketinggalan – secara ekstrim – pemimpin Iran Ayatullah Khomaeni meluncurkan fatwa untuk membunuh Salman Rushdie bagaimanapun caranya. Uniknya, disini muncul pula perbedaan sudut pandang antar komunitas Muslim sendiri. Meskipun semua Muslim bersatu mengutuk buku karangan Salman Rushdie itu, sebagian dari mereka tidak setuju dengan fatwa pembunuhan Rushdie. Maka Salman Rushdie pun masih hidup hingga kini. Terlihat disini bahwa sudut pandang tradisional keagamaan yang ekstrim tidaklah mencerminkan pendapat  keseluruhan umat Muslim di seluruh dunia.

  1. MASA BERKABUNG

[Menit: 54.00 – selesai] Boikot dari kaum Qurais bagi umat Muslim masih berlanjut. Meski demikian, senjata umat Muslim saat itu hanyalah sabar dan ikhlas, tak ada sedikitpun usaha untuk penyerangan secara fisik. Jumlah merekapun tak banyak, maka akan sama dengan bunuh diri namanya kalau mereka hilang kesabaran dan menyerang kaum Qurais. Dan sabarpun menuai hasil. Masyarakat Quraispun melunak dalam pemboikotan mereka, karena toh orang-orang yang mereka boikot tersebut tak lain adalah saudara-saudara mereka sendiri. Boikotpun berhenti setelah berjalan dua tahun.

PhotoGrid_1450690422913Namun, di masa yang lebih lunak ini, justru Sang Nabi mendapat cobaan pribadi yang jauh lebih berat. Sang istri tercinta, Siti Khadijah, meninggal dunia. Beliau amat terpukul dengan hilangnya sebuah karakter yang tak hanya menjadi labuhan cinta, namun lebih dari itu seorang teman, penasihat, pendukung, pelindung, bahkan setara dengan karakter seorang ibu yang hampir tak pernah dirasakan Sang Nabi sepanjang hidupnya yang yatim piatu sejak usia 6 tahun. Bahkan bisa dibilang bhwa Siti Khadijah adalah Muslim pertama, karena beliau mempercayai cerita pewahyuan Sang Nabi, bahkan sebelum Sang Nabi sendiri percaya apa yang sedang terjadi pada dirinya kala pertama kali menerima wahyu.

Sang Nabi sangat mencintai istri pertamanya ini. Tak seperti pendapat para pembencinya yang hingga kini menuduh Sang Nabi sebagai pencari harta semata, Sang Nabi tidak menikahi Siti Khadijah yang jauh lebih tua usianya hanya karena kekayaannya semata. Terbukti tercatat dalam sejarah, bahwa tak jarang istri-istri lain beliau di kemudian hari merasa cemburu kala Sang Nabi bercerita tentang Siti Khadijah, karena mereka merasa tak akan bisa menandingi posisi sang istri pertama di hati Sang Nabi.

Tak lama setelah itu, cobaan lain datang beberapa bulan setelahnya. Sang Paman tercinta – pelindung Sang Nabi dari ancaman kaum Qurais – Abu Thalib, meninggal dunia. Ini adalah cobaan besar bagi Sang Nabi karena kaum Qurais setelah itu melihat peluang untuk melenyapkan seutuhnya Sang Nabi beserta para pengikut beliau. Nabi Muhammad SAW pun kini menjadi target pembunuhan nomer satu di Mekah.

 

… bersambung …