Sejarah Singkat AL-QUR’AN: Perjalanan Sebuah KITAB SUCI Abadi

galaxia-660x350Alkisah, pada masa sebelum segala sesuatunya ada, Allah SWT mencipta ”pena” dan memerintahkannya menulis pada sebuah “lempeng” yang disebut Lauh Mahfuz. Tulisan itu berisi semua kejadian dari penciptaan hingga hari pembalasan kelak. Pada sebuah malam yang kemudian dinamai sebagai Lailatul Qadar, Al-Qur’an – yang merupakan Kalamullah atau Firman Allah sebagai bagian dari Lauh Mahfuz – diturunkan secara lengkap ke Baitul Izzah atau surga terendah, siap disampaikan kepada umat manusia. Adalah Malaikat Jibril yang diperintah langsung oleh Allah SWT untuk menyampaikan Al-Qur’an tersebut pada saatnya nanti.

Pada tahun 610 Masehi di daratan Arab, tepatnya di Gua Hiro tak jauh dari kota Mekah, pada suatu malam di bulan Ramadhan seorang manusia laki-laki berusia empat puluh tahun, berhati baik namun buta huruf bernama Muhammad, sedang melakukan ritual kontemplasi pribadi demi memperoleh ketenangan jiwa diantara hiruk pikuk dan biadabnya penduduk kota Mekah yang jahiliyah. Terkejut amat sangat, Muhammad tiba-tiba mendapati suara Malaikat Jibril memekakkan telinga, berseru Iqra’! atau Bacalah! Meski Muhammad menolak karena tak bisa membaca, tak pelak dia menyerah saat perintah itu terulang untuk ketiga kalinya. Apa yang harus kubaca, dia tanya. “Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantara wahyu. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-Alaq: 1-5)

cave-hira-e1283692201380Malam itu dipercaya sebagai malam yang sama – meski berbeda masa – dengan turunnya Al-Qur’an ke Baitul Izzah, yaitu malam Lailatul Qadar. Dan sejak saat itu hingga dua puluh tiga tahun berikutnya, sejarah Islampun terbentuk melalui dua hal penting, yaitu masa kenabian seorang Rasul terakhir utusan Allah, Nabi Muhammad SAW, dan turunnya kitab suci abadi, sebuah mukjizat bagi seluruh umat manusia sepanjang masa, Al-Qur’an.

 

NARASUMBER DAN BATASAN TULISAN SAYA

Sebelum saya lanjutkan tulisan ini, ada baiknya saya sampaikan terlebih dahulu sumber video YouTube yang mendasari pengetahuan saya. Adalah tiga ulama yang kebetulan saya temukan videonya di YouTube saat saya mencari informasi tentang bagaimana Al-Qur’an diturunkan dan dibukukan sebagaimana yang kita miliki sekarang ini. Yang pertama saya temukan adalah video dari Dr. Haithan Al Haddad, seorang ulama Inggris yang sedang berceramah dengan tema “Is The Qur’an Authentic?” pada ajang Peace Conference Scandinavia 2014 di Norwegia. Video kedua adalah dari Dr. Shabir Ally, seorang ulama terkemuka Canada yang sedang berceramah tentang “A Brief History Of Text And Recitation Of Qur’an” yang diselenggarakan oleh IPCI atau Islamic Propagation Centre International yang berkedudukan di kota Durban, Afrika Selatan. Link kedua video tersebut ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=cnYaMv2IWic dan https://www.youtube.com/watch?v=hFzBM8wJZNU .

PhotoGrid_1465826408995Yang ketiga dan utama adalah Dr. Yasir Qadhi, yang mana tiga belas episode video serialnya bertajuk ”The Sciences Of Qur’an” mendasari detail tulisan saya. Seorang Muslim warga negara Amerika berdarah Pakistan ini awalnya adalah seorang Sarjana Teknik Kimia dari University of Houston. Ketertarikannya pada Islam membawanya pada jenjang edukasi yang jauh lebih tinggi pada area Bahasa Arab dan Studi Keislaman di Islamic University of Madinah dan Yale University di America, dimana gelar PhD dan Master of Philosophy berhasil diraihnya. Link dari tiga belas episode tersebut ada disini: https://www.youtube.com/playlist?list=PLACEB19198355B61C . Sedangkan dakwah beliau tentang keajaiban Al-Qur’an ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=WHz4eNssQYw .

Selain membeberkan kredibilitas para narasumber diatas, yang perlu dan lebih penting saya sampaikan adalah bahwa apa yang saya tulis disini semua mengacu pada Al-Qur’an, Hadist, dan teori keilmuan agama Islam sebagaimana disampaikan oleh para narasumber dalam video mereka masing-masing, meskipun tidak saya tulis satu persatu. Saya tidak sedang memproklamirkan diri sebagai seorang ahli agama disini. Oleh karena itu, semisal pembaca merasa perlu mencari acuan Al-Qur’an atau Hadist dari apa yang saya tulis, silakan lihat dan dengar video-video dari narasumber diatas.

 

TURUNNYA WAHYU

Screenshot_2016-01-22-00-48-51Al-Qur’an diturunkan tidak dalam satu waktu tertentu, melainkan sedikit demi sedikit. Allah SWT sendiri berfirman bahwa hal ini dilakukan agar hati manusia bisa merasakan dan memahami isi dan perintah dalam Al-Qur’an. Pewahyuan dalam bentuk surat yang panjang maupun ayat yang pendek, turun kepada Nabi Muhammad SAW dari Malaikat Jibril, terus menerus selama dua puluh tiga tahun masa kenabian beliau, namun tidak secara periodik. Wahyu tidak bisa dipastikan waktu kedatangannya, maupun bentuk penyampaiannya. Konsep dasar pewahyuan yang berlaku sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad SAW, adalah bahwa hanya Sang Nabi sendirilah yang bisa merasakan kehadirannya. Pewahyuan bisa melalui mimpi, bisa juga melalui wujud nyata Malaikat Jibril yang menjelma manusia meski hanya Sang Nabi yang bisa melihat dan berbincang dengannya. Namun yang paling berat adalah melalui suara. Sang Nabi akan sangat kesakitan mendengarnya, tubuh beliau bagai menahan beban teramat berat. Jika beliau sedang bepergian, maka Unta yg beliau tunggangi akan terduduk keberatan. Terkadang beliau bercucuran keringat meski cuaca sedang dingin sekalipun. Menerima wahyu tidaklah mudah, namun Sang Nabi rela menanggung itu semua demi tugas mulia yang diembannya.

Screenshot_2015-12-21-16-09-30Sang Nabi bertugas menerima wahyu, menghafalkan, dan menyampaikan kepada masyarakat di sekitarnya. Konon, orang Arab adalah bangsa badui dan kaum penghafal yang luar biasa. Puisi dan dongeng yang mereka miliki sangat jarang tertulis, kebanyakan teringat dalam hati dan terucap lewat lisan. Bahasa Arab sendiri sungguh kaya makna, hingga tiada satupun kata yang tak ada padanannya dalam bahasa lain di dunia. Allah SWT sendiri berfirman bahwa Dia menurunkan Al-Qur’an dalam bahasa Arab agar manusia dapat memahaminya. Dan diturunkannya pun kepada seorang Arab bernama Muhammad yang pandai menghafal meski tak bisa membaca.

Kenyataan bahwa Sang Nabi seorang buta huruf bukanlah aib bagi umat Islam. Justru hal itu adalah bagian dari mukjizat Al-Qur’an. Manusia tak perlu bisa baca untuk mengerti, mengamalkan, dan melantunkan firman-firman Allah SWT. Al-Qur’an bukanlah buku sebagaimana pengertian manusia menciptakan buku, yang mana manusia lain harus bisa baca untuk memahami isinya. Al-Qur’an bukanlah ciptaan atau mahluk. Sekali lagi, Al-Qur’an adalah firman, ucapan, perkataan, atau kalimat-kalimat yang asalnya langsung dari Allah SWT, tanpa rekayasa, tanpa intepretasi ulang, tanpa sedikitpun perubahan. Allah SWT sendiri yang menjamin keasliannya, dan Dia pula yg akan menjaga kelestariannya sepanjang masa.

Screenshot_2016-01-22-00-57-53Nabi Muhammad SAW selama masa kenabiannya berada di Mekah selama 13 tahun, kemudian hijrah ke Madinah selama 10 tahun hingga akhir hayat beliau. Dalam kurun 23 tahun tersebut, ayat-ayat Al-Qur’an yang diturunkan kepada Sang Nabi berbeda topik pembahasannya disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan Sang Nabi dan umatnya pada masa terkait. Para ahli agama setelah masa kenabian kemudian melakukan penggolongan surat demi memperluas wawasan dan analisa sejarah maupun dakwah. Surat yang diturunkan di Mekah disebut Surat Makiyah, sedangkan yang turun di Madinah disebut Surat Madaniyah.

Penggolongan surat biasanya didasarkan pada Hadist atau cerita Sang Nabi sendiri tentang lokasi dan masa turunnya surat. Namun jika tak ada petunjuk dari Hadist, maka para ahli agama menggolongkannya melalui perkiraan ilmiah sesuai karakter dari setiap golongan surat. Karakter Surat Makiyah biasanya berisi tentang Tauhid, atau perintah untuk menyembah satu Tuhan, mengingat pada masa di Mekah Sang Nabi memperkenalkan konsep keimanan dan Teologi baru bagi rakyat Mekah. Disini termasuk pengenalan pada Malaikat dan Iblis, Surga dan Neraka, konsep hari kiamat, kisah para Nabi terdahulu, dan perihal serupa lainnya terkait dasar keimanan yang bersifat luas, bukan aturan-aturan spesifik. Sedangkan Surat Madaniyah banyak berbicara tentang hukum-hukum Islam dalam berkehidupan sosial, seperti hak waris, pernikahan, perceraian, tata cara beribadah, berkurban, dan lain sebagainya sesuai dengan peran Sang Nabi yang pada masa itu bertindak sebagai kepala negara dan pimpinan politik bagi rakyat Madinah.

Secara garis besar kita dapat simpulkan, bahwa ajaran Islam secara kronologis dimulai dari menanamkan dasar keagamaan terlebih dahulu, yaitu mengenal dan memahami konsep keimanan dan keislaman sebagaimana di Mekah, kemudian lambat laun meningkat ke arah hukum yang berisi aturan-aturan dalam berkehidupan sosial sebagaimana di Madinah. Islam memulai dengan pendidikan dan pemahaman. Maka tak dibenarkan jika ada sekelompok umat yang menguasai wilayah dan memaksakan penerapan hukum Islam dengan paksaan dan tanpa diawali dengan edukasi.

800px-IslamicGalleryBritishMuseuSecara spesifik, wahyu diturunkan dalam salah satu dari dua kondisi, yaitu dengan sebab atau tanpa sebab, yang dalam ilmu agama dikenal sebagai asbabun nuzul. Sebagian wahyu bisa diketahui pada saat kejadian apa diturunkannya sehingga kita bisa mendalami sejarah dan perintah yang tersirat dalam tiap ayat, namun sebagian yang lain tidak. Surat Al-Fatihah misalnya, tak diketahui diturunkan saat kejadian apa. Bisa kita pahami secara umum bahwa surat itu diturunkan untuk memperkuat keimanan umat manusia. Namun pada kesempatan lain, beberapa ayat diturunkan sebagai jawaban atas sebuah kejadian atau masalah. Misalnya saat salah satu istri Sang Nabi bernama Ummu Salamah bertanya, mengapa Al-Qur’an hanya menyebut “laki-laki” saja, tak pernah “perempuan”. Maka setelah itu turunlah beberapa ayat Al-Qur’an yang secara spesifik menyebut kata laki-laki dan perempuan secara setara dalam berbagai topik.

Mempelajari asbabun nuzul ini sangat penting untuk memahami isi Al-Qur’an, namun – tidak seperti penggolongan lokasi turunnya wahyu di Mekah atau Madinah – disini para ahli tidak bisa melakukan perkiraan ilmiah. Jika tak ada dasar Hadist yang menceritakannya, maka tak ada yang bisa menduga atas kejadian apa pewahyuan tersebut terjadi.

Demikianlah pewahyuan yang terjadi pada Nabi Muhammad SAW dari turunnya ayat pertama hingga turunnya semua ayat dan surat dalam Al-Qur’an. Bagian berikutnya akan memaparkan bagaimana redaksional Al-Qur’an dilakukan hingga tertulis lengkap dan menjadi “buku” yang kita miliki hingga kini. Mukjizat Sang Nabi secara harfiah benar-benar ada di tangan kita hingga kini, dan Insyaa Allah selamanya. Betapa mengagumkan!

 

REDAKSIONAL AL-QUR’AN DI MASA KENABIAN

Screenshot_2015-12-21-03-55-41Al-Qur’an tersusun dalam Ayat dan Surat. Sebuah surat berisi kumpulan beberapa ayat. Arti kata Ayat adalah mukjizat, pertanda wahyu, atau titik refleksi bagi pembacanya. Sedangkan Surat adalah tembok pembatas yang dibangun untuk melindungi isinya. Jika digabungkan, maka secara linguistik Al-Qur’an merupakan kumpulan mukjizat yang terlindungi dalam masing-masing segmennya. Adalah Allah SWT sendiri yang berfirman bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bentuk Ayat dan Surat, bukan hasil karya Sang Nabi, dan bukan pula hasil pandangan intelektual para ahli agama.

Allah SWT pula lah yang menentukan surat beserta namanya yang tercantum dalam masing-masing ayatnya. Isi ayat dalam setiap surat sudah ditetapkan dari Allah SWT, dan tak bisa ditukar atau dipindah antar surat. Jumlah surat adalah 114 dalam Al-Qur’an, ini sudah paten tidak bisa diganggu gugat. Adapun letak urutan surat dalam Al-Qur’an tidaklah kronologis berdasarkan periode diturunkannya surat tersebut kepada Nabi Muhammad SAW. Alhasil, dalam mengurutkan surat ini pernah terjadi sedikit perbedaan pendapat antar ahli agama setelah masa kenabian. Urutan surat biasanya diceritakan oleh Nabi Muhammad SAW dari hasil pewahyuannya dengan Malaikat Jibril, namun untuk beberapa surat tidak dijelaskan dimana seharusnya letak urutannya. Maka disini penentuan letak surat dilakukan oleh para ahli agama secara ilmiah dengan mempertimbangkan aliran tema surat sebelum dan sesudahnya.

Lain lagi halnya dengan pembagian jumlah ayat dalam setiap surat. Ayat biasanya ditetapkan berdasarkan ajaran Nabi Muhammad SAW dalam membaca Al-Qur’an. Dimana beliau berhenti, disitulah tanda henti sebuah ayat. Tapi adakalanya sebuah surat terlalu panjang hingga Sang Nabi kehabisan nafas dalam membacanya. Mungkin di satu waktu beliau bisa membaca satu ayat dalam satu tarikan nafas, mungkin juga di lain waktu untuk ayat yang sama beliau membacanya dalam dua tarikan nafas. Disinilah terjadi perbedaan penghitungan jumlah ayat dalam Al-Qur’an oleh para ahli agama, meski bedanya hanya sekitar 20an ayat saja. Kebanyakan menyatakan bahwa jumlahnya 6235 ayat, tapi ada juga yang berbeda. Namun demikian, ini tidak menjadikan isi Al-Qur’an berbeda-beda. Al-Qur’an tetap satu dengan ayat-ayat yang sama dan tak mungkin tertukar letaknya diantara beberapa surat.

Screenshot_2015-12-21-16-05-48Dari sisi Bahasa, daratan Arabia adalah peninsula luas di wilayah Timur Tengah dengan beraneka bahasa Arab yang serupa namun tak sama. Pada masa kenabian, berbagai suku bangsa menguasai wilayahnya masing-masing yang tersebar di seantero Arabia, dan mereka berbicara dengan bahasa Arab yang antara satu dan lain suku berbeda dialek dan penggunaan kosakatanya. Al-Qur’an pada mulanya diturunkan hanya dalam bahasa Arab dengan dialek suku Qurais dimana Nabi Muhammad SAW berada. Namun dalam perjalanan pewahyuannya, dikarenakan penyebaran Al-Qur’an yang luas mencakup seluruh daratan Arab, Sang Nabi meminta Allah SWT untuk menurunkan wahyu-Nya dalam dialek dan kosakata lain yang bisa dimengerti oleh suku-suku diluar Qurais. Allah SWT mengabulkan, maka Malaikat Jibril pun menurunkan wahyu hingga tujuh jenis dialek, atau dikenal sebagai tujuh Ahruf.

Salah satu contoh perbedaan tujuh ahruf adalah diturunkannya surat Al-Fatihah dengan salah satu cuplikan ayat yang berbunyi “ihdinash shirootol mustaqiim”, yang mana pada ahruf lain diturunkan juga dengan kalimat “arsyidinash shirootol mustaqiim”. Pernah pula terjadi pada suatu kesempatan, diriwayatkan bahwa Umar Bin Khattab sahabat terdekat Sang Nabi melaporkan dengan emosi bahwa dia mendengar seorang yang membaca surat Al-Furqon dengan cara yang berbeda namun mengaku ajaran tersebut datangnya langsung dari Nabi Muhammad SAW sendiri. Disinilah kemudian Sang Nabi menjelaskan bahwa Al-Qur’an telah diturunkan kepadanya dalam tujuh ahruf, dan para umat dipersilakan memilih sendiri bacaan yang lebih mudah dimengerti. Yang sangat penting dipahami adalah, bahwa tujuh ahruf tersebut tidak membedakan makna, hanya berbeda dalam dialek dan pemilihan kosakatanya.

280px-Early_Kufic_script_-_Qur'aSepanjang masa kenabian, Al-Qur’an tidak hanya diingat saja, namun sudah juga dituangkan dalam bentuk tulisan. Tulisan yang dimaksud berbentuk seperti prasasti, yang ditulis di berbagai media kuno yang tersedia pada masa itu, seperti kulit unta, daun lontar, batu, tulang, dan lain sebagainya. Konon Sang Nabi memiliki juru tulis hingga dua puluh lima orang. Salah satu yang terkenal adalah Zaid Bin Tsabit, seorang anak muda berbakat dalam bidang bahasa pada masa itu. Semua tulisan yang dibuat pada masa kenabian tidak pernah dikumpulan dalam satu kesatuan tunggal, apalagi dalam bentuk buku, mengingat saat itu kertas belum tercipta. Nabi Muhammad SAW pun tidak pernah memerintahkan para sahabat untuk membuat kumpulan lengkap Al-Qur’an mengingat proses pewahyuan masih terus berlangsung dan beliau tidak tahu kapan akan berhenti, bahkan diriwayatkan bahwa ayat-ayat terakhir Al-Qur’an masih diturunkan beberapa hari sebelum meninggalnya Sang Nabi.

Terkait pula dalam mengatur redaksional Al-Qur’an ini, diriwayatkan bahwa Malaikat Jibril mendatangi Nabi Muhammad SAW secara khusus setahun sekali di bulam Ramadhan untuk memastikan pewahyuan telah diterima, diurutkan, dihafalkan dengan baik dan benar, dan untuk ayat-ayat tertentu dihapus dari Al-Qur’an. Misalnya, kalimat “arsyidinash shirootol mustaqiim” akhirnya dihapus dari surat Al-Fatihah. Penghapusan bisa disebabkan oleh pilihan kalimat seperti contoh diatas, atau karena perubahan kondisi umat. Allah SWT sendiri berfirman bahwa setiap ayat yang dihapus oleh-Nya pastilah diganti dengan yang setara atau lebih baik dari sebelumnya. Kebanyakan ayat-ayat yang dihapus atau diperbaiki terkait dengan hukum-hukum sosial kemasyarakatan, bukan tentang dasar-dasar keimanan kepada Allah SWT. Alasannya sederhana, yaitu karena manusia tidak sempurna. Perubahan dari pola hidup biadab menjadi beradab tidak bisa dilakukan semalam suntuk saja. Butuh waktu dan proses untuk merubah suatu kaum, dan Allah SWT mengakomodir proses ini.

Pada tahun dimana Nabi Muhammad SAW meninggal dunia (632 Masehi), Malaikat Jibril secara khusus datang dua kali untuk melakukan review Al-Qur’an, yang biasanya hanya setahun sekali. Adalah seorang ahli bahasa dan penghafal Al-Qur’an terbaik bernama Zaid Bin Tsabit, salah seorang juru tulis Sang Nabi, yang dipilih untuk menemani beliau saat Malaikat Jibril datang me-review Al-Qur’an untuk terakhir kali. Oleh karena itu, nantinya pada masa kepemimpinan Khalifah-Khalifah Islam sepeninggal Sang Nabi, peran Zaid Bin Tsabit sangatlah penting dalam perjalanan Al-Qur’an menjadi buku seperti yang kita miliki saat ini.

 

MEMBUKUKAN AL-QUR’AN DI MASA KEKHALIFAHAN

khalifah-1Khalifah adalah sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW yang memimpin umat Islam setelah beliau wafat. Tersebutlah empat masa Khalifah dalam dunia Islam yang terkenal dengan gelar Khulafaur Rasyidin, yang secara urut, singkat dan mudah dihafal adalah sebagai berikut: Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali. Masa kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shidiq bertahan selama 2 tahun setelah meninggalnya Sang Nabi. Kemudian dilanjutkan oleh Umar Bin Khattab yang memimpin selama 10 tahun, Utsman Bin Affan selama 12 tahun, dan diakhiri oleh Ali Bin Abu Thalib selama 5 tahun. Dalam masa kepemimpinan para Khalifah inilah, ajaran Islam berhasil menyebar hingga ke Mesir, Afrika Utara, dan Spanyol di Eropa Selatan.

Al-Qur’an pertama kali dikumpulkan berbentuk tulisan dalam satu tempat dari berbagai media kuno (tulang, batu, kulit unta, daun lontar dan sebagainya), secara lengkap dari surat pertama Al-Fatihah sampai surat terakhir An-Naas, adalah pada masa kepemimpinan Abu Bakar, hanya sekitar satu setengah tahun setelah wafatnya Sang Nabi. Ini sangat luar biasa dalam pembuatan sebuah kitab suci dipandang dari segi otentifikasi atau keasliannya dalam ilmu sejarah, mengingat sangat dekatnya jarak waktu antara turunnya wahyu dengan pendokumentasiannya. Kumpulan ayat-ayat Al-Qur’an ini bisa disebut sebagai “buku” meski bentuknya tidak berupa kertas. Pelestarian Al-Qur’an ini menjadi penting dilakukan pada masa itu dikarenakan banyak para penghafal Al-Qur’an yang gugur dalam Perang Yamamah di akhir tahun 632 Masehi. Para sahabat Sang Nabi memaksa Abu Bakar untuk membukukan Al-Qur’an agar bisa diwariskan kepada generasi berikutnya.

Pengumpulan Al-Qur’an yang pertama tersebut dipimpin oleh Zaid Bin Tsabit dengan cara meminta koleksi pribadi dari umat Muslim, dengan syarat membawa dua orang saksi bahwa ayat tersebut pernah dilafalkan langsung oleh Sang Nabi, baik dalam dakwah maupun dalam sholat. Meskipun Zaid Bin Tsabit adalah seorang penghafal Al-Qur’an, beliau tidak ingin mengambil keputusan seorang diri, melainkan melibatkan semua sahabat Sang Nabi untuk mengambil keputusan bersama. Setelah selesai, kumpulan ayat-ayat Al-Qur’an tersebut disimpan oleh Abu Bakar. Sepeninggal Abu Bakar, penyimpanan dilakukan oleh Khalifah berikutnya, yaitu Umar Bin Khattab. Dan kemudian sepeninggal Umar, Al-Qur’an tersebut disimpan oleh Hafshah, puteri beliau yang juga merupakan salah satu dari istri-istri Sang Nabi.

Screenshot_2016-05-01-15-19-20Disinilah, pada masa kepemimpinan Utsman Bin Affan (644-656 Masehi), proses pembukuan Al-Qur’an kembali dilakukan. Kali ini pemicunya adalah terjadinya perkelahian antar umat Islam sendiri. Saat itu para Muslim dari berbagai suku dan lokasi yang tersebar di daratan Arabia dan sekitarnya dikumpulkan untuk berperang di perbatasan Azerbaijan. Disanalah mereka menyadari bahwa cara baca mereka atas Al-Qur’an berbeda satu sama lain. Mereka adalah para muda yang tidak tahu bahwa Al-Qur’an sebetulnya diturunkan dalam tujuh cara baca, atau tujuh ahruf sebagaimana sudah dikethui dan dimaklumi oleh semua sahabat Sang Nabi. Masing-masing mereka saling tuduh bahwa cara baca merekalah yang terbenar, sedangkan yang cara bacanya berbeda pastilah salah.

Berita inipun sampai ke telinga Utsman Bin Affan yang kemudian memerintahkan kembali Zaid Bin Tsabit untuk membukukan Al-Qur’an dalam satu ahruf atau dialek yang dinilai original dan terbaik, yaitu Qurais. Kumpulan ayat-ayat Al-Qur’an yang saat itu berada di tangan Hafshah dipinjam oleh beliau, dan mereka memulai penyeragaman Al-Qur’an dari situ. Maka mulailah mereka menulis ulang Al-Qur’an ayat demi ayat dengan teliti. Dikisahkan bahwa pada saat mereka sampai pada suatu kata yang sama-sama dalam dialek Qurais namun berbeda cara bacanya dan keasliannya bisa dibuktikan dengan kesaksian minimal dua orang bahwa Nabi Muhammad SAW pernah membacanya seperti itu, maka Utsman memerintahkan agar mereka menuliskan satu lagi versi buku (disebut juga mushaf) Al-Qur’an yang lengkap. Demikian seterusnya, hingga akhirnya terciptalah tujuh versi atau tujuh mushaf (ada juga yang menyatakan lima, atau empat) yang masing-masing memuat cara baca yang sedikit berbeda meski maknanya sama. Ini adalah bukti kehati-hatian para pemelihara Al-Qur’an pada masa itu, mengingat yang mereka hadapi ini adalah kalimat yang turun langsung dari Allah SWT.

Uthmans-noble_quran_mss1Maka kemudian disebarluaskanlah ketujuh (atau empat, atau lima) mushaf tersebut, masing-masing ke wilayah utama yang bebeda di daratan Arabia, disertai dengan satu orang guru yang akan mengajarkan bagaimana mushaf tersebut harus dibaca dengan benar. Dalam perkembangannya di kemudian hari, beberapa ahli baca Al-Qur’an mengajarkan versi-versi baca Al-Qur’an tersebut sebagai salah satu ilmu Al-Qur’an dan menjulukinya dengan versi nama mereka masing-masing. Inilah yang kemudian terkenal dengan sebutan tujuh Qira’at. Meskipun berjumlah sama, yaitu tujuh, jangan sampai kita keliru memaknai tujuh Qira’at ini sebagai tujuh Ahruf, karena pengertian keduanya sangat berbeda. Tujuh Ahruf adalah dialek bahasa Arab yang diturunkan langsung dari Allah SWT untuk membantu umat Muslim agar lebih mudah membaca dan memahami isi Al-Qur’an. Sedangkan tujuh Qira’at adalah cara baca yang dikembangkan setelah masa kenabian.

Setelah semua mushaf Al-Qur’an disebar ke seluruh suku bangsa kaum Muslim, Utsman kemudian mengumumkan, bahwa jika mereka masih menyimpan mushaf-mushaf Al-Qur’an yang lain, maka mereka harus membakarnya. Dengan kata lain, tujuh Ahruf yang tadinya diturunkan oleh Allah SWT, kini hanya ada satu. Tindakan ini meski terkesan radikal harus dimaknai secara positif, yaitu tujuannya untuk menyatukan umat Muslim. Jika semua Ahruf dibiarkan ada, maka dipastikan akan terjadi perpecahan yang nyata diantara umat Islam. Dengan adanya standarisasi ini, maka pelestarian Al-Qur’an akan terjaga selamanya.

 

AL-QUR’AN HINGGA KINI DAN NANTI
Screenshot_2015-12-21-04-08-36Al-Qur’an pada awalnya ditulis tanpa menggunakan tanda titik maupun vokal. Bangsa Arab tidak kesulitan membacanya meskipun beberapa huruf mempunyai bentuk yang persis sama. Mereka menggunakan konteks kata yang memungkinkan huruf-huruf tersebut tidak mungkin tertukar satu dengan yang lain. Namun pada perkembangannya ajaran agama Islam secara cepat menyebar ke seluruh penjuru dunia. Orang-orang non Arab pun mulai belajar membaca Al-Qur’an, dan mereka tentu saja kesulitan membaca huruf-huruf yang serupa dan tanpa tanda vokal. Bahasa Arabpun lambat laun berkembang dengan tulisan yang disempurnakan, hingga semua orang dari belahan dunia manapun bisa mempelajari cara bacanya dengan lebih mudah.

Hingga kini Al-Qur’an telah dicetak dalam bentuk buku dengan berbagai ukuran, diterjemahkan dalam berbagai bahasa untuk membantu pemahaman, serta diajarkan, dibaca dan dihafalkan oleh umat Islam di seluruh dunia. Al-Qur’an akan selalu tertulis dalam bahasa aslinya, yaitu Arab, dengan satu standar Aruf meski terdapat beberapa perbedaan sangat minor pada beberapa Qira’at yang berbeda. Oleh karena itu, dengan mengetahui sejarah turunnya Al-Qur’an dan pelestariannya, diharapkan makin meningkat keimanan kita pada kitab suci Al-Qur’an yang kita cintai. Adapun yang saya tulis disini hanyalah rangkuman dari sebagian kecil saja ilmu-ilmu Al-Qur’an yang bisa diperdalam pada masing-masing temanya, seperti mengenai penggolongan surat-surat Al-Qur’an, sebab-sebab turunnya Al-Qur’an, ilmu qira’at, tafsir Al-Qur’an, dan masih banyak lagi. Semua itu adalah bagian dari keajaiban Al-Qur’an yang bisa kita rasakan sejak masa kenabian hingga kini dan nanti.

Screenshot_2015-12-21-03-58-50Al-Qur’an adalah satu-satunya mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW. Tak seperti mukjizat yang diturunkan kepada para Nabi sebelumnya yang bersifat sementara hanya pada saat kejadiannya saja, seperti Nabi Musa yang membelah laut Merah, atau Nabi Nuh yang membuat kapal raksasa, atau Nabi Isa yang menyembuhkan orang buta, mukjizat Nabi Muhammad SAW berlaku abadi di depan mata kita semua para umatnya, kapanpun dan dimanapun.

Adalah tugas Allah SWT untuk menjaga keabadian Al-Qur’an hingga akhir jaman sebagaimana Dia janjikan. Tugas kita hanyalah beriman, yaitu mempercayai dan mengamalkan Al-Qur’an. Caranya adalah dengan membaca, mempelajari, dan mengajarkan. Jika sudah, mari kita lanjutkan. Jika belum, mari kita mulai dari sekarang. Mari, mencintai Al-Qur’an.

 

*** T A M A T ***

Kisah Nabi Muhammad SAW: Biografi Kritis BBC – The Life Of Muhammad [Part Three: Holy Peace]

Catatan: Ini adalah bagian ke-3 dari 3 tulisan saya atas film dokumenter “The Life Of Muhammad” produksi BBC. Sebelum membaca tulisan ini, silakan membaca tulisan saya tentang “Pengantar” terlebih dahulu. Hal ini penting untuk menghindari kesalah pahaman yang mungkin terjadi. Terima kasih. Link-nya disini: https://primasantika.wordpress.com/2015/12/21/kisah-nabi-muhammad-saw-biografi-kritis-bbc-the-life-of-muhammad-pengantar/

Link Youtube untuk Part Three ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=lQazfcaalp8

PART THREE: HOLY PEACE

  1. SPIRITUALISME ISLAM

[Menit: 03.00 – 12.00] Selama masa kenabian beliau, Nabi Muhammad SAW selalu merasa sakit secara fisik saat memperoleh wahyu dari Tuhan, baik yang berbentuk ucapan yang terdengar maupun cahaya yang terlihat. Wajah beliau berubah pucat, berkeringat walau di musim dingin, bagaikan jiwa yang tercabik cari tubuhnya. Tidak pernah mudah mendapatkan wahyu dari Tuhan. Dipercaya bahwa Sang Nabi telah benar-benar merasakan – walau sejenak – kekuatan Tuhan yang kemudian tertuang sebagai ayat-ayat dalam Al-Qur’an yang keluar dari ucapan Sang Nabi. Di sisi lain, bagi mereka yang tidak mempercayai Al-Qur’an, pewahyuan ini hanyalah dipandang sebagai hasil dari kemampuan seseorang yang kebetulan punya tingkat kesucian dan spiritualisme sangat tinggi  hingga mampu memasuki alam para malaikat. Ahli sejarah yang menganut paham tersebut menilai bahwa di masa kehidupan Sang Nabi, kemampuan seperti itu sudah diremehkan oleh pemeluk Yahudi, Nasrani dan Zoroastrian (agama monotheis minoritas yang lahir di Persia (Iran) sekitar tahun 2000 sebelum Masehi yang hingga kini masih diakui keberadaannya oleh negara Iran), sedangkan orang Arab disekitar Sang Nabi justru mau mempercayai apapun yang diucapkan beliau dengan spiritualisme setinggi itu.

PhotoGrid_1461994762953Di masa modern ini, spiritualisme seperti itu sudah tidak lagi dikaitkan dengan Islam. Namun demikian, berbagai bentuk ajaran spiritualisme yang muncul setelah wafatnya Sang Nabi masih dilestarikan hingga kini. Salah satunya adalah aliran Sufi. Di Turki, para penganut spiritualisme Sufi ini kerap berkumpul dan berdzikir bersama memuji kebesaran Tuhan dengan gerakan tubuh, bahkan tarian. Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW adalah manusia paling sempurna, yang melalui suri tauladan beliau para umatnya bisa mengerti dan mendekat pada Tuhan. Sang Nabi kerap berdzikir, tentu saja. Itulah inti yang diteladani disini demi mendekatkan diri kepada Tuhan, meski tak ada bukti sejarah yang menyatakan bahwa beliau melakukan ritual tarian seperti itu.

Sufi hanyalah satu dari sekian banyak praktek ibadah yang beragam dalam Islam, seperti juga terjadi pada semua agama. Dan meskipun ibadah adalah aktivitas penting dalam Islam, namun yang tak kalah pentingnya adalah berbuat baik. Melakukan ibadah kepada Tuhan dan berbuat baik untuk kemanusiaan adalah inti dari ajaran Nabi Muhammad SAW.

Pada dasarnya ajaran spiritualisme Sang Nabi bagi umatnya adalah ajaran yang membumi, penuh dengan petunjuk praktis untuk memperbaiki kehidupan bermasyarakat, khususnya bagi warga Arab pada masa itu. Beliau tidak menjauhi dunia dengan terlalu fokus pada meditasi spiritualisme semata demi mendekatkan diri kepada Sang Pencipta agar mendapatkan surga di akhir jaman kelak, namun yang beliau lakukan justru mencoba mencipta kondisi ideal dalam hidup keseharian bermasyarakat dan bernegara. Di tahun 627 Masehi, Sang Nabi telah menjadi pemimpin kuat di Madinah, namun beliau masih mempertahankan pola hidup sederhana, tidak berfoya-foya dengan harta dan perhiasan bahkan seringkali disumbangkan bagi rakyatnya, serta tinggal di rumah kecil dekat masjid yang beliau bangun, yang merupakan tempat ibadah sekaligus tempat aktivitas beliau bertemu dengan semua penduduk Madinah, baik umat Muslim, Yahudi, Kristen, Atheis, bahkan dengan para budak.

Nabi Muhammad SAW adalah karakter kharismatik. Beliau selalu bersikap adil, seorang pendengar yang baik, berhati lembut, sopan dan ramah, serta tak ingin mencari kesalahan orang lain. Dalam kepemimpinannya, beliau tidak didorong oleh nafsu untuk berkuasa namun tetap menjadi pemimpin yang baik, sangat berperikemanusiaan, tidak pernah bermewah-mewah yang tentunya menjauhkan beliau dari korupsi, dan integritas moralnya tak diragukan lagi. Sang Nabi adalah teladan sejati, seorang manusia yang berhasil memadukan kemampuan kepemimpinan dan moralitas yang tinggi selama hidupnya. Beliau adalah Sang Pencari Kebenaran, yang melalui ajaran dan tauladannya  mampu merubah bangsa Arab dan membuka wawasan seluruh umat manusia.

  1. HUKUM SYARIAH

[Menit: 12.00 – 19.00] Peran Nabi Muhammad SAW di Madinah sangat jauh berbeda dengan keberadaannya di Mekah. Pewahyuan dari Tuhan yang beliau terima pun berbeda. Di Mekah, ayat-ayat yang diturunkan kepada beliau adalah mengenai ketuhanan, seperti tentang hari kiamat, tentang moral, keadilan, keagamaan dan semisalnya. Sedangkan di Madinah, Sang Nabi memperoleh petunjuk yang lebih praktikal untuk kemanusiaan dalam berkehidupan keseharian, seperti tentang pembagian warisan, pernikahan, kewajiban zakat bagi fakir miskin, keadilan dalam hukum, dan sebagaianya, bahkan sampai bagaimana sebaiknya bertegur sapa. Hal ini sesuai dengan peran beliau sebagai pemimpin masyarakat di Madinah yang harus mengatur kendali atas politik dan sosial dalam bermasyarakat. Prinsip-prinsip moral ini dalam perkembangannya menjadi dasar tata cara pencapaian keadilan sosial bagi seluruh masyarakat, yang mana dalam Al-Qur’an disebut sebagai Syariah, yang artinya adalah jalan untuk mengerti kehendak Tuhan.

Sebetulnya implementasi atas Syariah yang dilakukan Sang Nabi dan para Sahabat pada masa itu adalah murni melakukan apapun yang bisa mendekatkan mereka kepada Tuhan. Itu saja. Disinilah istilah Syariah menjadi problematik, karena dalam perkembangannya para penerus Sang Nabi – terutama para ahli dan penegak hukum yang selalu berkutat pada hukum – mengartikan Syariah sebagai Hukum Tuhan.

Sebetulnya yang ditekankan dalam Syariah adalah perihal dasar kemanusiaan, seperti persatuan, kesetaraan, keadilan, kemerdekaan, dan semisalnya. Namun apa yang dimaknai sebagai Syariah di masa kini sangatlah berbeda. Yang dipandang sebagai Syariah saat ini sebetulnya adalah sebuah perangkat hukum ciptaan para ahli hukum yang muncul sekitar dua abad setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW, yang mana pada masa itu keberadaannya memang sangat dibutuhkan sebagai bagian dari makin luasnya wilayah kekuasaan Islam. Mereka memadukan ajaran dari Al-Qur’an dengan teladan dari masa hidup Sang Nabi. Versi itulah yang saat ini oleh sebagian kalangan Muslim dipandang sebagai hukum Islam yang tak boleh diubah.

Prinsip dasar dari hukum Islam adalah Al-Qur’an. Bahkan tak jarang Al-Qur’an menjelaskan sangat detail atas hukum yang diinginkan Tuhan, seperti misalnya tata cara membagi warisan. Namun secara keseluruhan, hukum Syariah adalah sebuah sistem buatan manusia yang dibuat sesuai dengan kondisi yang menyertainya. Hukum Syariah adalah hasil intepretasi manusia dalam usahanya untuk mengerti kehendak Tuhan. Dalam hukum Syariah itu sendiri pun ada banyak versi dari beberapa ulama, yang bahkan bisa kontradiktif aturannya satu sama lain. Yang pasti adalah, hukum Syariah bukanlah sesuatu yang turun langsung dari Tuhan, melainkan sesuatu yang bisa fleksibel disesuaikan dengan kondisi pada masanya.

Selama di Madinah, Nabi Muhammad SAW telah merubah secara radikal pola berkehidupan warga Arab jahiliyah, seperti menghentikan kebiasaan perang antar suku, dan memberi wanita hak dalam warisan serta diperbolehkan memiliki harta. Namun di sisi lain, Al-Qur’an juga memuat ayat terkait hukuman yang dipandang kuno di masa kini, seperti memotong tangan untuk pencurian, meski tak ada bukti nyata bahwa Sang Nabi pernah melakukannya. (Tambahan informasi pribadi: sepanjang yang saya tahu, ada satu hadist yang menyatakan Nabi Muhammad SAW pernah menerapkan hukum potong tangan pada satu kasus, namun saya tidak tahu setinggi apa derajad hadist tersebut. Ini FYI saja.)

Arab Saudi dan Iran adalah contoh negara yang mendasarkan perangkat hukum di negaranya dari hukum Syariah. Beberapa aturan dan hukuman yang diimplementasi disana dinilai banyak pihak sebagai sesuatu yang kuno dan terbelakang. Maka pada saat beberapa kalangan ekstrimis Muslim menuntut implementasi hukum Syariah di Eropa dan Inggris Raya, tak pelak terjadilah penolakan dari warga setempat.

PhotoGrid_1461995031041Kontroversi: Sangat mudah bagi kritisi non Muslim menyatakan bahwa hukum Syariah adalah hukum yang brutal dan tak berperikemanusiaan. Hukuman-hukuman kuno yang tidak cocok dengan kondisi masa kini masih dilakukan dalam hukum Syariah, seperti hukum potong tagan bagi pencuri, rajam batu dan hukum mati bagi pezina, dll.

Argumentasi: Hukum, secara teori sewajarnya adala institusi yang berkembang dan berubah sesuai dengan kondisi yang melingkunginya. Sayangnya, apa yang kita sebut sebagai hukum Syariah saat ini adalah sebuah hukum yang beku dari masa lalu. Mengimplementasikan hukum Syariah seperti itu di masa kini berarti sama saja dengan mencipta ulang kondisi abad 8 dan 9 Masehi. Yang perlu dilakukan para Ulama jika dipandang perlu adalah melakukan penyesuaian atas hukum Syariah secara konsisten dan berkesinambungan. Kata Syariah secara harfiah berarti jalan mengalirnya air ke tempat penampungan air (watering hole). Kita bisa menafsirkan kata ini dengan kebutuhan untuk selalu menjaga jalur air ini. Di beberapa titik air, perlu adanya pembersihan dan penyegaran agar air yang sampai di penampungan tetap layak minum.

Pendapat Kritis: Pendapat sebagian Muslim yang selalu mengedepankan perangkat hukum kuno sebagai Syariah yang paling benar, sejatinya adalah sebuah pemahaman yang sempit tentang Syariah itu sendiri. Bagi umat Muslim yang hidup di suatu negara yang punya hukum sendiri dan diterima umum oleh warganya, maka hukum yang berlaku itulah Syariah mereka. Tak perlu lagi umat Muslim memaksakan implementasi pola hukuman kuno pada lingkungan yang sudah terbangun dan tertata. Dan bagi para ekstrimis yang memaksakan implementasi hukuman radikal pada komunitas mereka, selayaknya dipertanyakan: apakah kepemimpinan mereka dipilih dan dikehendaki oleh warga setempat? Hukum tidak bisa seenaknya diberlakukan – apalagi mengatasnamakan Islam – kalau keberadaan mereka tidak secara layak dan sah dipilih oleh rakyat. Lalu bagaimana dengan keadilan, kesetaraan hak, dan apakah mereka sudah melakukan pembelajaran pada masyarakat sebelum implementasi hukum dilakukan? Islam tidak mengajarkan pemaksaan. Islam memulai dengan pendidikan. Dan tentang hukuman, jangan dulu bicara tentang implementasi hukuman jika belum memulai dengan pendidikan hak asasi dan harga diri. Karena sejatinya implementasi hukuman radikal hanyalah cara para ekstrimis memaksakan keabsahan mereka sebagai penguasa, padahal warga setempat tidak menghendakinya.

  1. POLIGAMI

[Menit: 19.00 – 27.00] Pada tahun 627 Masehi, Nabi Muhammad SAW bersama pengikutnya sudah punya basis kekuatan yang kokoh di Madinah. Di sisi lain kaum Qurais masih menguasai Mekah, meskipun dalam beberapa peperangan tak bisa mengalahkan Sang Nabi yang mereka benci. Jika Sang Nabi ingin menyebar ajaran Islam ke seluruh daratan Arabia, maka mau tak mau beliau harus menguasai Mekah. Namun beliau juga sadar, bahwa mengalahkan Mekah dengan kekuatan militer amatlah berat. Satu-satunya alternatif penaklukan Mekah adalah melalui jalur politik, yaitu menggandeng semua suku di daratan Arabia untuk menjadi aliansi. Dan salah satu cara cepat membangun kekuatan politik ini adalah dengan mengikat tali pernikahan.

Poligami adalah salah satu kritik terbesar dari para pembenci Sang Nabi, sejak dulu hingga kini. Pada masa itu poligami dipandang wajar, tapi Nabi Muhammad SAW tidak pernah melukannya semasa istri pertama beliau masih hidup, Siti Khadijah. Barulah di Madinah ini Sang Nabi mempersunting banyak istri. Beberapa sumber sejarah ada yang mencatat sembilan, atau sebelas, atau bahkan tiga belas jumlahnya. Beberapa diantaranya adalah janda, beberapa lainnya adalah wanita tawanan perang yang mendapat kebebasan saat menikahi Sang Nabi, dan ada juga seorang budak beragama Kristiani yang dipersembahkan oleh penguasa Mesir pada masa itu. Namun yang paling kontroversial adalah pernikahan Sang Nabi dengan seorang gadis sangat muda bernama Siti Aisha.

PhotoGrid_1461995647165Kontroversi: Beberapa sumber sejarah mengatakan bahwa Siti Aisha ditawarkan untuk menikah kepada Nabi Muhammad SAW pada usia 6 atau 7 tahun, lalu diperistri pada usia 9 tahun. Ada pula yang menyatakan Siti Aisha menikah diusia 16 atau 17 tahun. Bagi Sang Nabi yang melakukannya pada usia 53 tahun, moralitas seperti ini sangat tidak pantas di periode sejarah manapun, baik dahulu maupun sekarang.

Argumentasi: Dalam seabad belakangan, hal ini memang menjadi kontroversi. Kenyataan bahwa kisah ini tidak tercantum dalam Al Qur’an namun tercatat di beberapa sumber sejarah dengan angka usia yang berbeda satu sama lain, menjadikannya problematik dalam Islam dan perlu diteliti lebih lanjut. Namun jika kontroversi ini bisa – dan sebaiknya – dikesampingkan, maka yang jauh lebih penting disini adalah mendalami siapa sebenarnya Siti Aisha, bagaimana dia tumbuh dewasa di rumah tangga Sang Nabi, dan apa sumbangsihnya terhadap Islam. Jika tak ada Siti Aisha, maka sebagian informasi tentang Nabi Muhammad SAW akan sirna, karena dialah yang paling mengetahui seluk beluk keseharian dan pribadi Sang Nabi. Siti Aisha adalah istri beliau hingga akhir hayat. Siti Aisha tumbuh sebagai wanita yang cerdas dan mandiri, berwawasan luas dan memahami politik, bahkan manjadi pemimpin pada masanya dengan hak-hak khusus sebagai janda Sang Nabi. Sumber sejarah menyatakan bahwa perbedaan pandangan antara Siti Aisha dengan sepupu sekaligus menantu Sang Nabi bernama Ali lah yang memecah Islam menjadi dua aliran, yaitu Sunni dan Shiah.

Kontroversi: Nabi Muhammad SAW diijinkan berpoligami dengan banyak istri, sedangkan umat Islam dalam Al Qur’an hanya diijinkan menikahi empat istri. Ini sangat tidak adil. Beberapa kejanggalan dalam rumah tangga Sang Nabi patut dipertanyakan, seperti kontroversi saat Sang Nabi menikahi janda cerai dari anak lelaki adopsi beliau sendiri, dan juga saat Siti Aisha ditemukan sendiri bersama seorang teman lelakinya tanpa ada saksi.

Argumentasi: Adalah salah jika memandang Sang Nabi memperistri banyak wanita hanya demi kesenangan seksual semata. Beliau melakukannya untuk mengikat hubungan politik dengan berbagai suku di Arabia, yang mana ikatannya bukan berdasarkan hubungan darah atau kesamaan agama. Poligami di masa Arab jahiliyah adalah wajar dan tanpa batas. Setelah Sang Nabi berpoligami, barulah turun ayat Al Qur’an yang membatasi umat Islam menikahi maksimal empat istri, sedangkan Sang Nabi diijinkan tetap menjadi suami dari semua istrinya, namun tidak diperkenankan menikah lagi setelahnya. Pernikahan Sang Nabi dengan mantan menantu beliau bahkan dianggap sebagai hubungan sedarah yang bisa memecah belah umat Islam, namun nyatanya tidaklah demikian. Sedangkan kecurigaan Sang Nabi terhadap Siti Aisha disangkal lewat turunnya ayat Al Qur’an yang menyatakan bahwa Siti Aisha tidak bersalah. Hukuman atas para pezinapun tidak seradikal yang diterapkan para extrimis Islam seperti Taliban. Konon hukuman rajam batu hingga mati adalah hukuman yang termuat di kitab suci Taurat atau Perjanjian Lama dalam agama Yahudi dan Kristiani. Sedangkan dalam Islam, hukumannya adalah rajam pecut seratus kali di punggung, hanya jika ada empat orang yang bersaksi melihat hubungan badan sebagaimana dituntutkan.

  1. HIJAB

[Menit: 26.00 – 32.00] Istri-istri Nabi Muhammad SAW tinggal di rumah yang tak jauh dari masjid Sang Nabi di Madinah. Kondisinya ramai orang lalu lalang, dan privasi pun sulit didapat. Dengan makin banyaknya pihak yang tak suka pada Sang Nabi, istri-istri beliau pun seringkali dijadikan obyek fitnah untuk menjatuhkan beliau. Oleh karenanya, turunlah ayat Al-Qur’an yang memerintahkan para istri Sang Nabi untuk berbusana santun dengan menggunakan “penutup”, agar menjadi pembeda diantara masyarakat di sekitarnya. Dalam perkembangannya hingga kini, tata cara berbusana tersebut menjadi panutan penting bagi para Muslimah, dan menjadi dasar sudut pandang utama bagi dunia dalam menilai perlakuan Islam terhadap wanita.

PhotoGrid_1461995338487Kontroversi: Dunia memandang penggunaan hijab ini sebagai perilaku Islam yang menindas hak asasi perempuan. Secara ekstrim, bahkan beberapa wanita menggunakan tak sekedar hijab, namun juga cadar yang menutupi seluruh wajah kecuali mata. Beberapa negara Barat tidak mentolerir hal tersebut dan melarang penggunaan hijab dan cadar di negara mereka. Sedangkan di dalam Islam sendiri terdapat perbedaan pendapat tentang wajib atau tidaknya penggunaan hijab bagi para Muslimah.

Argumentasi: Memang terdapat ayat dalam Al-Qur’an yang menyarankan pengunaan “penutup” bagi wanita, terutama bagi para istri Sang Nabi. Wajib atau tidaknya saran tersebut masih menjadi perdebatan, namun jenis “penutup” itu sendiri tidak dijelaskan rinci dalam Al-Qur’an. Sejarah mencatat bahwa kebiasaan memakai hijab secara luas dalam kehidupan umat Islam baru muncul sekitar seabad setelah meninggalnya Nabi Muhammad SAW. Sebuah sudut pandang ahli sejarah dalam topik hijab ini menyatakan bahwa pendapat mewajibkan berhijab adalah hasil dari intepretasi para wanita Islam dalam memandang ayat Al-Qur’an, sedangkan para prianya mengesahkan intepretasi tersebut dalam ranah hukum. Disini terlihat bahwa politik “identitas” untuk membedakan diri dengan komunitas lain dalam masyarakat memegang peran penting dalam implementasinya. Dalam dua puluh tahun terakhir ini saja, di Inggris sebagaimana juga terjadi di beberapa negara barat lainnya, tercatat penggunaan hijab yang meningkat untuk pengukuhan identitas keislaman para wanita. Namun sejatinya yang ada dalam Al-Qur’an adalah saran, bukan kewajiban, dan tentunya tidak berupa paksaan bagi wanita Islam.

Wanita bebas memilih busana, selama menjaga santun dalam memakainya. Priapun dituntut demikian dalam Islam. Apapun intepretasi dalam memenuhi standar “santun” ini masih menjadi bahan diskusi, namun tidak seharusnya digunakan untuk menilai tingkat keimanan seseorang sebagai umat Islam. Bagi wanita yang memilih untuk menggunakan jenis penutup apapun, baik hijab maupun cadar dalam berbusana santun, sebaiknya dipandang bahwa mereka melakukannya atas kehendak sendiri, bukan karena paksaan dalam Islam. Wawancara dengan seorang penulis wanita Inggris menyatakan bahwa dirinya memilih bercadar karena dia percaya hal itu bisa lebih mendekatkannya kepada Tuhan. Sedangkan bagi wanita yang menjaga kesantunan berbusana tanpa hijab dan cadar, sebaiknya tidak dianggap sebagai wanita Islam yang meremehkan agamanya. Putri Kerajaan Jordania, Badiya binti El Hassan, dalam wawancaranya menyatakan bahwa dirinya tetap memegang teguh keimanan Islamnya meski memilih untuk tidak memakai hijab atau cadar. Kita tidak bisa menilai keimanan seseorang hanya dari busana yang dipakainya.

  1. PERJANJIAN HUBAIDIYAH: DAMAI MELEBIHI EGO

[Menit: 32.00 – 37.00] Meski para musuh Nabi Muhammad SAW menggunakan para istri untuk fitnah demi menjatuhkan beliau, Sang Nabi tetap mempergunakan para istri untuk membantu beliau dalam memperluas wilayah kekuasaan di daratan Arab. Dengan makin bertambahnya aliansi Sang Nabi, maka beliaupun bisa kembali memfokuskan diri pada Mekah. Di tahun 628 Masehi, Nabi Muhammad SAW mengumumkan rencana beliau kepada umat Muslim bahwa mereka akan melaksanakan ibadah haji ke tanah suci Mekah, tempat dimana mereka menghadap setiap sholat, dan dimana Ka’bah berdiri sebagai simbol utama atas Keesaan Tuhan yang diajarkan sejak Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad SAW. Pemasalahannya adalah, kaum Qurais masih menguasai kota Mekah dan mengisi Ka’bah dengan berhala-berhala yang tak layak disembah. Hal ini berarti Sang Nabi akan menantang pihak Qurais untuk menerima beliau beserta umat Muslim dalam beribadah haji, yang mana berarti pula mereka akan memasuki wilayah kekuasaan musuh tanpa membawa senjata apapun.

PhotoGrid_1461995432242Maka berangkatlah Sang Nabi dan pengikut beliau pada saat yang sudah ditetapkan. Dalam perjalanan, mereka dihentikan paksa oleh tentara dan utusan dari kaum Qurais di kota Hubaidiyah, sekitar 13 km dari kota Mekah. Negosiasipun kemudian berlangsung antara utusan Sang Nabi dengan utusan kaum Qurais. Kesepakatan akhirnya diperoleh, yaitu rombongan umat Muslim akan kembali ke Madinah tanpa beribadah haji, dan Sang Nabi diminta menghentikan serangan-serangan umat Muslim pada kereta dagang milik kaum Qurais. Sebagai gantinya, mereka akan mengijinkan Sang Nabi dan umat Muslim untuk menjalankan ibadah haji di Mekah pada tahun berikutnya. Meski tersirat kekalahan di sisi umat Muslim, ksepakatan yang kemudian disebut sebagai Perjanjian Hubaidiyah ini akhirnya disetujui oleh Sang Nabi. Dan yang lebih merendahkan lagi, kaum Qurais tidak mau membubuhkan kata tambahan “Rasul Allah” di belakang nama Nabi Muhammad SAW. Tapi Sang Nabi tidak keberatan. Beliau tetap menanatangani perjanjian tersebut.

Inilah salah satu suri tauladan terbaik dari Nabi Muhammad SAW, yaitu atas kondisi seburuk apapun, ajakan untuk berdamai harus diterima dengan baik. Al-Qur’an pun menuliskan ajaran itu, salah satunya dalam surat An-Nisa ayat 40. Ego harus dikalahkan, damai harus ditegakkan. Namun bagaimanapun juga, para pengikut Sang Nabi merasa kecewa. Hal ini sungguh memalukan menurut mereka. Kebiasaan di Arab pada masa itu, kejadian semacam ini akan diikuti dengan pertumpahan darah untuk menjunjung tinggi harga diri seorang pemimpin. Namun Sang Nabi tidak melakukan itu. Niatan Sang Nabi adalah menaklukkan Mekah tidak melalui perang, namun secara damai. Islam mengajarkan nilai itu, dan Sang Nabi menjalankannya. Jika ditelaah lebih lanjut, perjanjian itu justru memberi keleluasaan umat Muslim Madinah untuk berkunjung ke Mekah dan berhaji di masa-masa mendatang, serta sekaligus membuktikan bahwa kaum Qurais sudah memandang Sang Nabi dan umat Muslim sebagai pihak yang setara, bukan lagi kaum terbuang yang dulu mereka lecehkan.

Suri Tauladan: Dalam perjalanan pulang menuju Madinah, Tuhan menurunkan wahyu kepada Sang Nabi bahwa hal ini bukan kekalahan, melainkan kemenangan yang tertunda. Dan memang demikianlah adanya. Kaum Qurais sebagaimana orang Arab jahiliyah pada masa itu, tetap bersikap angkuh dan penuh dendam, siap menghadapi perang kapan saja dibutuhkan. Umat Muslim di sisi lain tidaklah demikian. Sang Nabi mengajarkan perdamaian, mereda amarah dan ego yang tertumpah, serta menghindari perang selama kondisi memungkinkan. Kadang umat Islam sendiri di masa kini lupa akan nilai-nilai damai ini, hingga muncullah teroris dari umat Muslim ekstrimis yang selalu unjuk gigi.

Sang Nabi mengajarkan diplomasi. Beliau membangun komunitas melalui pendekatan dan hubungan baik kepada para pemimpin suku di daratan Arab, memberi ruang bagi penganut agama lain untuk beribadah, dan berusaha menghindari perang meskipun di saat yang benar-benar dibutuhkan perang tak bisa dihindarkan. Tidak pernah tercatat dalam sejarah bahwa Sang Nabi digambarkan sebagai orang yang kasar, penuh dendam, serta melakukan pembunuhan masal kepada kaum-kaum yang berbeda pendapat dan keyakinan. Perjanjian Hubaidiyah adalah salah satu contoh nyata betapa Sang Nabi sangat menjunjung tinggi perdamaian jauh diatas egonya sendiri. Namun sayangnya, di masa kini dunia justru melihat Sang Nabi sebagai suri tauladan terorisme dalam ajaran Islam, terutama melalui ajaran yang terkenal denga sebutan jihad, yang sering disalah diartikan hanya sebagai perang suci.

  1. JIHAD: SEBUAH KESALAHPAHAMAN

[Menit: 37.00 – 44.00] Ribuan nyawa telah melayang akibat ulah para ekstrimis yang menamakan diri mereka Jihadi, yang mana istilah tersebut bahkan tidak pernah dikenal di masa hidup Sang Nabi. Namun hal itu tak menghalangi mereka untuk menyeru lantang bahwa tindakan mereka adalah meniru suri tauladan Nabi Muhammad SAW dan mengikuti ayat-ayat dalam Al-Qur’an.

PhotoGrid_1461995542406Argumentasi: Kalau kita membaca Al-Qur’an, tak bisa disangkal bahwa ayat-ayat tentang perang itu memang ada didalamnya. Hanya saja, yang patut kita pahami disini adalah bahwa Al-Qur’an adalah sebuah buku yang terkait dengan sejarah. Kita harus meneliti lebih jauh konteks waktu dan tempat dimana ayat tersebut diturunkan. Ayat-ayat tersebut diwahyukan Tuhan di saat umat muslim berada pada posisi terjajah dan tertekan, sehingga tindakan untuk melawan dan melindungi diri sendiri diperintahkan oleh Tuhan dengan kalimat yang mengobarkan semangat. Semua tafsir Al-Qur’an – baik yang berasal dari golongan Sunni maupun Shyiah – menjelaskan pengertian yang sama, yaitu bahwa ayat-ayat tersebut tidak boleh dipergunakan untuk menciptakan peperangan dan membunuh orang-orang tak bersalah.

Kata Jihad itu sendiri oleh sebagian besar ahli teologi tidak dimaknakan sebagai perang suci, melainkan lebih kepada perjuangan melawan nafsu diri sendiri dalam menuju kebaikan dan menjauhi keburukan. Jihad adalah berjuang, dan memang perjuangan bisa dimaksudkan juga sebagai melindungi diri melawan pihak jahat dalam peperangan, namun dalam Al-Qur’an kata Jihad bukanlah berarti berperang. Nabi Muhammad SAW pun dalam berperang selalu berada pada konteks perang yang wajar pada masanya. Dan yang pasti, tak pernah tercatat beliau menyerang langsung kepada penduduk yang tak berdosa. Dalam sejarah Islam, baik pada masa hidup Sang Nabi maupun masa kekhalifahan setelahnya, terminologi berperang memang mengalami penyesuaian, namun tetap berada pada konteks perang yang wajar diantara para pejuang saja, tidak menyerang penduduk tak berdosa, wanita, anak-anak, orang tua, dan para pemuka agama apapun.

Sayangnya di masa sekarang ini konteks perang yang wajar itu telah banyak diabaikan. Bom bunuh diri seringkali dilakukan tidak hanya di negara-negara barat, namun juga di negara-negara Islam sendiri. Wawancara dengan dua mantan narapidana teroris di Inggris mengungkapkan bahwa dari para ahli tafsir yang mereka yakini kebenarannya, konsep Jihad tidak hanya memerangi kaum non-Muslim dan memaksa mereka menjadi Muslim, namun lebih dari itu adalah memerangi semua yang menghalagi terciptanya dunia yang diinginkan Tuhan – yaitu sebuah dunia yang berjalan diatas hukum Syariah – dan menyebarluaskan Islam ke seluruh dunia. Dan jika ada negara-negara yang melakukan pembunuhan dan penjajahan, maka masyarakat yang menjadi bagian dari negara tersebut sama bersalahnya sebagai kaum penjajah, yang mana berarti mereka semua layak diperangi.

Pernyataan seperti itu tentu sangatlah mengerikan baik bagi umat Muslim maupun non-Muslim, dan konsep tersebut tak pernah dikenal di masa hidup Nabi Muhammad SAW.

  1. KEMENANGAN: MEMBERI MAAF DAN KEBAIKAN

[Menit: 44.00 – 49.00] Jihad damai Sang Nabi melalui Perjanjian Hubaidiah akhirnya membuahkan hasil. Nabi Muhammad SAW akan kembali mendatangi Mekah, kota kelahiran yang telah ditinggalkan selama tujuh tahun akibat kekejaman dan penindasan dari kaum Qurais kepada beliau bersama para pengikutnya. Namun kini, beliau siap datang kembali ke Mekah sebagai seorang penguasa hampir seluruh daratan Arabia. Pada bulan Februari 629 Masehi, pihak Quraish mengijinkan Sang Nabi bersama umat Muslim untuk beribadah di Ka’bah selama tiga hari. Disinilah orang-orang Qurais di Mekah melihat perilaku menakjubkan dari Sang Nabi bersama para pengikutnya. Perilaku yang sopan dan tulus dalam bersosialisasi dan beribadah. Hal ini merubah persepsi mereka terhadap umat Muslim, dan lambat laun meruntuhkan pagar-pagar kekuasaan Qurais terhadap Ka’bah dan Mekah.

Setahun kemudian pihak Qurais melanggar perjanjian, yaitu menyerang salah satu suku aliansi Sang Nabi. Kesalahan ini berakibat fatal bagi kaum Qurais. Pada bulan Januari 630 Masehi, Nabi Muhammad SAW membawa sepuluh ribu orang bala tentara menuju Mekah. Pihak Qurais tak kuasa menolak, dan memperkirakan terjadinya serangan brutal yang bakal meluluhlantahkan kota Mekah dan semua penduduknya.  Mereka pikir umat Muslim akan membalas dendam atas kekejaman dan penindasan yang mereka lakukan selama ini. Namun ternyata yang terjadi tidaklah demikian.

Sang Nabi berkata kepada masyarakat Qurais di kota Mekah bahwa beliau memberi maaf kepada mereka semua tanpa kecuali, namun tidak memaksa mereka untuk masuk Islam. Terlihat disini bahwa Sang Nabi tidak pernah memerintahkan balas dendam, namun selalu mengedepankan rekonsiliasi dalam perdamaian.

PhotoGrid_1462272373351Suri Tauladan: Menguasai Mekah sebagai kota suci agama Islam, agama baru yang diajarkan oleh Sang Nabi, adalah pencapaian mutlak dari sebuah perjuangan panjang. Dan kala hal itu sudah diraih, maka tak ada gunanya melakukan perang dalam bentuk apapun, maupun memaksakan sebuah keyakinan agama. Nabi Muhammad SAW justru memberi amnesti kepada semua penduduk Mekah. Umat Muslim pun kemudian mendatangi Ka’bah sebagai pusat ibadah agama Islam, agama terakhir dalam ajaran monotheis. Demi menyelaraskan Ka’bah sebagai rumah Tuhan Yang Esa, maka umat Muslim menghancurkan semua berhala yang berdiri didalamnya.

Inilah titik puncak perjuangan Sang Nabi. Inilah esensi dari ajaran yang digaungkan Sang Nabi. Inilah cermin nyata karakter terbaik Sang Nabi. Beliau bukanlah orang yang penuh dendam. Ajaran beliaupun tidak mengarah pada pertumpahan darah. Perjalanan hidup beliau tak lain adalah serangkaian proses yang konstruktif dan reformatif, untuk membangun masyarakat yang berdaulat, dengan melibatkan seluruh umat. Kemenangan damai beliau atas Mekah adalah teladan tertinggi bagi seluruh umat manusia.

Sekembalinya Sang Nabi ke Madinah dari kemenangan beliau di Mekah, tak ada perjuangan lanjutan untuk mendirikan negara Islam, atau memaksa semua penduduk di wilayah kekuasaan Sang Nabi untuk memeluk agama Islam. Perjuangan Sang Nabi bukanlah bersifat pemaksaan sebuah doktrin keagamaan, namun lebih pada menghapus nilai-nilai penyembahan berhala dan kesukuan yang membuat mereka saling berperang.

Dengan penaklukan Mekah, maka semua mata tertuju pada Sang Nabi dan agama Islam yang diajarkan beliau. Ajaran kemanusiaan dan keadilan, menghindari perang, mengedepankan rekonsiliasi, menjunjung tinggi perdamaian, adalah nilai-nilai yang dipandang baru dan menarik perhatian banyak pihak pada masa itu, hingga tak jarang beberapa suku beserta penduduknya memilih untuk menganut ajaran Islam secara masal. Pada tahun 631 Masehi suku Arab penyembah berhala terakhir mengalami kehancuran, dan Sang Nabi pun menjadi pemimpin atas seluruh daratan Arabia yang mayoritas beragama Islam.

  1. HAJI DAN KOTBAH UNTUK BERPISAH

[Menit: 49.00 – 55.00] Saat itu telah lebih dari dua puluh tahun sejak wahyu pertama diterima oleh Nabi Muhammad SAW. Sepuluh tahun diantaranya setelah terusir dari Mekah, Sang Nabi dan pengikutnya harus menghadapi ancaman dan peperangan yang datang silih berganti membahayakan kehidupan mereka. Namun pada akhirnya mereka mampu bertahan. Adalah kepemimpinan Sang Nabi – baik secara spiritual, militer maupun politik – yang berhasil membawa umat Muslim melalui segala halang rintang, dan akhirnya menang. Kemenangan dalam damai.

Sang Nabi adalah contoh nyata sebuah sosok kepemimpinan yang bersifat universal, yang berlaku sejak dulu hingga sekarang di belahan dunia manapun. Sikap-sikap terbaik berhasil beliau tunjukkan, yaitu antusias dan integritas, serta perpaduan yang tepat antara tegas, teguh pendirian, tinggi tuntutan, namun tetap mengedepankan keadilan. Sifat-sifat pribadi beliau pun turut menunjang suksesnya perjuangan, yaitu hangat, berperikemanusiaan, serta berbudi pekerti luhur. Sungguh, kisah hidup beliau adalah suri tauladan nyata sebuah karakter manusia dalam kualitas terbaiknya.

PhotoGrid_1462091879196Pada tahun 632 Masehi, Nabi Muhammad SAW sudah menuntaskan hampir semua yang ditugaskan Tuhan kepada beliau. Daratan Arabia pun mencapai puncak perdamaian dan keamanan yang tak pernah terjadi sebelumnya. Beliau telah meletakkan landasan fundamental dalam ajaran Islam untuk terciptanya komunitas Muslim bagi para pengikutnya. Namun pada saat itu Sang Nabi sudah berusia 60 tahun, dan kesehatan beliaupun semakin menurun. Pada tahun itu pula, beliau menjalankan ibadah Haji, yang pertama dan satu-satunya bagi beliau. Disinilah beliau dikisahkan memberi kotbah perpisahan di hadapan ribuan pengikutnya.

Duduk diatas Unta, di Padang Arafah yang gersang, Sang Nabi mengucap kotbah dengan kata-kata rangkaian beliau sendiri. Kotbah ini diucap penuh perasaan dan cinta kasih bagi seluruh umat, menggambarkan apa yang telah beliau capai bersama para kaumnya selama ini.

“Wahai umat Muslim, dengarkan baik-baik, karena aku tak yakin apakah selepas tahun ini aku masih bersama kalian. Perhatikan apa yang aku ucapkan, dan sampaikan berita ini kepada siapapun yang tidak berada disini hari ini.”

Dalam kotbah terakhir ini, Sang Nabi memohon kepada seluruh umatnya untuk memperhatikan ajaran-ajaran yang disampaikan kepada mereka. Beliau terkesan khawatir akan masa depan kaumnya, sehingga dalam kotbah ini beliau menekankan nilai-nilai yang harus dicatat dan diingat selalu oleh umat Muslim dimanapun dan kapanpun.

“Janganlah kalian merusak diri sendiri. Ingatlah bahwa pada akhirnya kalian akan bertemu Allah dan menceritakan semua amalan yang kalian perbuat. Maka berhati-hatilah. Jangan berdiri di luar jalan yang benar sepeninggalku nanti.”

Sang Nabi berpesan untuk berpegang teguh pada ajaran monotheis, sebagaimana yang diajarkan-Tuhan kepada Nabi Musa, Nabi Isa, serta nabi-nabi lainnya. Beliau menegaskan kenyataan bahwa Tuhan adalah Maha Esa, Maha Memberi Kehidupan, dan satu-satunya Penegak Keadilan atas seluruh alam semesta.

“Semua manusia berasal dari Adam dan Hawa. Seorang Arab tidaklah lebih tinggi derajatnya daripada yang bukan Arab, demikian pula sebaliknya.Dan juga, seorang berkulit putih tidaklah lebih baik dari mereka yang berkulit hitam, demikian pula sebaliknya. Derajat manusia hanyalah ditimbang dari ketaatan dan amal baiknya.”

Sang Nabi mengatakan bahwa semua manusia adalah satu. Tuhan telah mengangkat semua umat dari perang kesukuan dan penyembahan pada berhala. Semua manusia berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah. Kemudian beliau mengutip sebuah ayat Al Qur’an yang sangat tepat mencerminkan kondisi dunia saat ini, yaitu “Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13) Disini Sang Nabi tidak mengajarkan kita untuk berperang, menjajah, menteror, maupun memaksakan ajaran agama kepada orang lain.

“Wahai kalian yang berdiri disini, sampaikan pesanku ini kepada yang lain, dan yang lain kepada yang lainnya lagi. Semoga yang terakhir menerima kabar ini, mengerti dan memahami bahkan lebih baik dari kalian yang berdiri disini. Saksikan ya Allah, bahwa aku telah menyampaikan semua ajaran-Mu kepada umat-Mu.”

Lalu Sang Nabi bertanya kepada seluruh Umat yang mendengar dan meresapi kotbah beliau, “Wahai umatku, apakah aku telah menjalankan semua tugasku kepadamu?” Serentak mereka berteriak “Ya!” Sang Nabi lalu mengulang pertanyaan yang sama, “Apakah aku telah menjalankan semua tugasku kepadamu?” Serentak lagi mereka menjawab, “Ya!” Pertanyaan tersebut diulang tiga kali, dan semua umat menjawab sama, dengan penuh keyakinan dan rasa haru dalam dada.

Catatan Pribadi: Saya menangis menonton bagian khotbah ini (menit 51-55). BBC berhasil memadu gambar, kata dan musik dalam sebuah rangkaian audio visual yang menggetarkan hati. Lautan manusia di Arafah dan Ka’bah, berdoa dan bersujud, berserah diri pada Sang Pencipta, mengingatkan saya akan betapa kecilnya manusia dihadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Kotbah perpisahan Nabi Muhammad SAW merangkum semua ajaran yang beliau dedikasikan sepanjang masa kenabian. Kalaupun kita tidak membaca seluruh Al-Qur’an, membaca kotbah perpisahan ini saja kita akan mendapat esensi kehidupan Sang Nabi. Untuk masyarakat Muslim kontemporer masa kini pada khususnya, dengan segala tantangan baru yang harus dihadapi, kotbah ini bisa dipandang sebagai cermin refleksi diri. Kita patut mempertanyakan dimana letak kesalahan, dan sekaligus kemana arah melangkah. Sejatinya, disitulah letak misi transformatif yang dijalankan seumur hidup kenabian Nabi Muhammad SAW.

  1. TANTANGAN ISLAM MODERN

[Menit: 55.00 – 59.00] Seperti diperkirakan oleh Sang Nabi sendiri, tak lama sepulang dari ibadah haji beliaupun wafat. Di Madinah, setelah beberapa waktu beliau dirawat oleh Siti Aisya karena kesehatan beliau yang makin memburuk, beliau menghembuskan nafas terakhir di rumah sang istri tercinta. Beliau dimakamkan disamping masjid beliau di Madinah, yang kini dikenal sebagai Masjid Nabawi.

Seluruh umat Muslim terkejut. Bagaimana mungkin seorang utusan Tuhan bisa meninggal dunia? Abu Bakar, salah satu sahabat terdekat Sang Nabi yang paling disegani serta dihormati, menyeru kepada semua umat, mengingatkan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak pernah menyatakan diri beliau apapun selain manusia biasa. Sang Nabi bukan Tuhan. Meski bagi umat Muslim beliau adalah manusia paling sempurna, namun Sang Nabi bukanlah Tuhan. Beliau tidak patut disembah.

Dalam seratus tahun setelah wafatnya Sang Nabi, ajaran Islam menyebar ke seluruh penjuru bumi. Di timur mencapai daratan India dan Cina, serta di barat mencapai Afrika Utara, Perancis dan Spayol. Namun hanya dalam satu generasi saja setelah beliau wafat, konsep jihad damai sudah mulai bergeser tidak pada tempatnya. Para sahabat terdekat Sang Nabi berseteru dengan anggota keluarga beliau, meruncing hingga berakibat pada pertumpahan darah hingga perang, yang memecah Islam menjadi dua golongan sampai saat ini, yaitu Sunni dan Syiah.

PhotoGrid_1462092041284Tantangan Islam di masa kini bisa dibilang mencapai puncak yang tak pernah terjadi sebelumnya. Umat Muslim merasa direndahkan dan dilecehkan oleh para penguasa politik dan militer, serta budaya yang berkembang di negara-negara Barat. Sedangkan warga Barat sendiri umumnya memandang Islam sebagai agama yang ajarannya diadopsi oleh negara-negara yang paling terbelakang dalam kemanusiaan, yaitu negara yang paling biadab, sangat mengekang warganya dan jauh dari toleransi. Pertanyaannya disini adalah: sejauh mana aksi radikal para ekstimis – baik manusia, organisasi maupun negara – bisa dipersalahkan kepada Nabi Muhammad SAW?

Nabi Muhammad SAW mewariskan tiga hal, yaitu ketaatan pada Tuhan Yang Esa, suri tauladan sepanjang hidup beliau, dan yang paling utama adalah Al-Qur’an. Manusia selalu bisa memilih bagian mana dalam Al-Qur’an dan suri tauladan Sang Nabi untuk dijadikan dasar atas sikap dan pilihan hidup yang dijalani tanpa melihat konteksnya secara luas. Namun sejatinya, jika kita melihat keseluruhan perjalanan hidup Sang Nabi, kita akan sadari bahwa Nabi Muhammad SAW meninggalkan daratan Arab dalam kondisi damai dan sejahtera.

Saat dihadapkan dengan pelecehan, penghinaan dan tekanan dari musuh, Sang Nabi memilih untuk menahan derita, serta tidak membalas balik. Meski Sang Nabi menjalani banyak perang, beliau selalu memilih damai jika kondisi memungkinkan. Kemenangan hakiki Sang Nabi tercipta melalui jalan damai, bukan dengan mencipta konflik. Dan dalam kondisi menang sekalipun, jalan rekonsiliasi beliau pilih daripada pelampiasan dendam.

Akhirnya, dalam kotbah perpisahan beliau, Sang Nabi memberi nasihat yang paling penting, yaitu bahwa semua manusia sama derajatnya. Tak peduli bangsa Arab maupun non Arab, umat Muslim maupun non Muslim, kulit hitam maupun putih. Sebuah pesan moral yang masih valid sejak abad ketujuh Masehi hingga kini. Inilah, warisan sejati Sang Nabi.

****  T  A  M  A  T  ****

 PhotoGrid_1462092430492

Kisah Nabi Muhammad SAW: Biografi Kritis BBC – The Life Of Muhammad [Part Two: The Holy Wars]

Catatan: Ini adalah bagian ke-2 dari 3 tulisan saya atas film dokumenter “The Life Of Muhammad” produksi BBC. Sebelum membaca tulisan ini, silakan membaca tulisan saya tentang “Pengantar” terlebih dahulu. Hal ini penting untuk menghindari kesalah pahaman yang mungkin terjadi. Terima kasih. Link-nya disini: https://primasantika.wordpress.com/2015/12/21/kisah-nabi-muhammad-saw-biografi-kritis-bbc-the-life-of-muhammad-pengantar/

Link Youtube untuk Part Two ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=lQazfcaalp8

 

PART TWO: THE HOLY WARS

  1. JERUSALEM: PERJALANAN ISRA’ MI’RAJ

[Menit: 03.00 – 12.00] Tahun 620 M adalah masa berkabung yang paling suram bagi Nabi Muhammad SAW. Di tahun yang sama Sang Nabi kehilangan sang istri Siti Khadijah dan sang paman Abu Thalib, yang keduanya merupakan pendukung dan pelindung utama gerakan kenabian beliau. Namun di masa yang sama itulah Nabi Muhammad SAW mengalami kejadian spiritual yang luar biasa. Dikisahkan pada suatu malam kala Sang Nabi sedang tertidur di Ka’bah di kota Mekah, beliau tiba-tiba diterbangkan ratusan kilometer ke arah utara Mekah, ke sebuah tempat yang sangat sakral bagi kaum Yahudi dan Kristiani. Jerusalem.

Screenshot_2016-01-22-00-29-07

Di masa sekarang ini Jerusalem merupakan pusat konflik berkepanjangan di Timur Tengah, terutama antara Yahudi dan Islam. Secara teritorial kenegaraan, perang di wilayah yang di awal sejarahnya secara keseluruhan disebut sebagai Palestina itu sejatinya bukanlah  perang antar agama, melainkan perang memperebutkan sejengkal tanah yang sama antara warga Israel yang dominan Yahudi, dengan warga Palestina yang dominan Islam. Dan karena Jerusalem dipandang sangat penting – yang mana baik Israel maupun Palestina sama-sama memperebutkannya sebagai ibukota negara – dan hingga kini masih terus dibawah pengawasan militer Israel, hal itu membuat umat Muslim di seluruh dunia mengecam penjajahan Israel, baik di Jerusalem maupun di berbagai wilayah Palestina..

Bagi umat Islam, kejadian yang dikenal dengan nama Isra’ Mi’raj itu – dalam bahasa Inggris disebut sebagai “the night journey” – menjadikan Jerusalem sebagai kota tersuci ketiga setelah Mekah dan Madinah. Isra’ Mi’raj adalah bagian dari keimanan umat Muslim meskipun secara logika kejadian tersebut tidak bisa diterima akal. Alkisah Nabi Muhammad SAW pada malam itu dibangunkan oleh Malaikat Jibril, lalu dinaikkan ke punggung kuda bersayap bernama bouraq yang membawa Sang Nabi dalam sekejap mata ke Jerusalem. Sesampainya disana Sang Nabi dipertemukan dengan semua Nabi yang pernah hidup di dunia, dan mereka berdoa bersama dipimpin oleh Nabi Muhammad SAW. Kemudian kepada Sang Nabi tiga jenis minuman ditawarkan, yaitu segelas air putih, susu dan anggur. Sang Nabi memilih susu yang secara simbolis melambangkan pilihan beliau atas keseimbangan, atau menjalani kehidupan di posisi tengah, bukan yang ekstrim. Lalu muncullah tangga menuju langit ketujuh, yang pada akhirnya membawa beliau ke hadapan Tuhan Yang Esa dan mendapat perintah langsung dari-Nya. Perintah tersebut adalah sholat lima waktu, sebuah kewajiban yang merupakan salah satu dari lima pilar utama dalam peribadatan umat Islam.

Isra’ Mi’raj adalah sebuah mukjizad. Dan mukjizad adalah bagian dari kepercayaan umat dalam mengimani agama, tanpa memandang sisi ilmiah dan logika terhadapnya. Umat Islam mengimani dan mempercainya karena kisah ini tertulis dalam Al-Qur’an dan kumpulan Hadist atau kumpulan perkataan Nabi Muhammad SAW. Meskipun beberapa pihak mempercayainya sebagai perjalanan spiritual yang ajaib dan tidak nyata, sebagian lain percaya bahwa perjalanan itu nyata dan terjadi secara fisik. Oleh karena itu, di Jerusalem, tempat naiknya Sang Nabi ke langit diabadikan dengan dibangunnya Kubah Batu atau The Dome Of The Rock, sebuah tempat suci berbentuk serupa masjid dengan kubah emas yang megah memesona. Meski bangunan ini bukanlah masjid, namun umat Muslim bisa melaksanakan sholat disini.

PhotoGrid_1453398831862Kontroversi: Dalam Al-Qur’an kejadian Isra’ Mi’raj ini hanya dikisahkan dalam beberapa ayat saja. Itupun tidak menceritakan rinci perjalanan Sang Nabi dengan buraq, naik ke surga, menjadi imam sholat atas semua Nabi, dan kejadian hebat lainnya. Kemungkinan itu semua ditambahkan agar menjadikan kisah ini menjadi luar biasa megah.

Argumentasi: Sejarah dalam agama manapun, banyak diceritakan tidak lengkap dan membutuhkan berbagai penafsiran. Oleh karena itu, tidaklah penting seberapa sering kisah Isra’ Mi’raj  dimunculkan dalam Al-Qur’an. Selama kisah itu pernah disebut dalam Al-Qur’an, itu sudah cukup sebagai jawaban kepastian.

Perjalanan Isra’ Mi’raj ini bagi umat Muslim merupakan titik legitimasi bahwa agama Islam merupakan bagian dari agama-agama lain warisan Nabi Ibrahim – yang mana termasuk di dalamnya Yahudi dan Kristiani – dan juga sebagai titik pengakuan dari Tuhan bahwa Nabi Muhammad SAW adalah penutup dari jajaran para Nabi yang pernah diturunkan-Nya ke dunia. Namun bagi Sang Nabi sendiri, kejadian ini merupakan pertanda bahwa beliau harus membawa ajaran Islam lebih dari sekedar Mekah, membawanya ke wilayah dan masyarakat lain jauh diluar sana. Oleh karenanya, beliau harus siap melakukan sesuatu yang dipandang sangat radikal di masa itu, yaitu meninggalkan adat kesukuan – satu-satunya cara berkehidupan yang diketahui dan dijalani oleh beliau – dan pergi dari kota kelahiran yang dicintainya.

  1. MADINAH: HIJRAH SEBAGAI AWAL TAHUN HIJRIYAH

[Menit: 12.00 – 20.00] Alkisah, pada suatu hari Nabi Muhammad SAW bertemu dengan sekelompok orang dari kota Yastrib di sebuah oasis di luar kota Mekah. Mereka bercerita tentang kondisi di kota dimana mereka tinggal, yaitu sering terjadi pertempuran antar suku yang membuat kehidupan disana tidak nyaman. Sang Nabi mendengar dengan seksama, dan kemudian beliaupun bercerita tentang wahyu Tuhan yang diterima dan disebarkan oleh beliau. Tidak seperti orang Mekah pada umumnya, orang-orang Yastrib ini mendengarkan dengan seksama dan pertemuanpun berakhir dengan mereka mengucapkan kalimat Syahadat, dan berjanji untuk bertemu kembali dengan beliau. Di sisi lain, kondisi di Mekah sendiri semakin membahayakan bagi umat Muslim. Sang Nabipun tak punya pilihan selain menyuruh para pengikutnya meninggalkan Mekah menuju Yastrib.

Tidak seperti Mekah, Yastrib adalah sebuah oasis yang tanahnya subur diantara dataran padang pasir luas di Arabia. Penduduk Yastrib adalah kumpulan dari beberapa suku – ada suku Yahudi dan suku penyembah berhala – yang tinggal berkelompok di masing-masing desa di wilayah tersebut. Disinilah mereka merasa butuh seorang mediator yang adil untuk menengahi perselisihan disana. Nama Nabi Muhammad SAW pun muncul sebagai seorang pendakwah, seorang yang terkenal baik dan dapat dipercaya, yang mereka pikir tepat untuk menyelesaikan masalah yang terjadi di Yastrib. Merekapun datang untuk kedua kalinya menemui Sang Nabi, dan kali ini mereka benar-benar meminta Sang Nabi untuk menjadi bagian dari komunitas mereka di Yastrib. Sang Nabipun menerima tawaran tersebut.

Perlu diperhatikan disini bahwa kesepakatan ini sangat baru pada masanya, bahkan sangat radikal dan dianggap sebagai penyelewengan atas norma sosial yang berlaku. Belum pernah ada sebelumnya orang yang mau berpindah tempat tinggal dan hidup di suku lain. Namun ini adalah sebuat kejeniusan yang dilakukan oleh Sang Nabi. Penyatuan kelompok-kelompok masyarakat –disebut sebagai ummah dalam bahasa Arab – yang tidak dilandaskan atas garis darah atau kesamaan suku melainkan lebih berlandaskan pada sebuah ideologi, adalah awal mula terjadinya penyebaran ajaran yang universal sifatnya. Nabi Muhammad SAW bisa dibilang berani dan jenius dalam keputusannya untuk meninggalkan suku dan kota dimana beliau lahir dan dibesarkan, untuk menjadi bagian dari komunitas lain yang lebih beragam.

Rencana kepindahan Sang Nabipun kemudian dilakukan secara diam-diam untuk menghindari halangan dari kaum Qurais. Tiap malam sedikit demi sedikit kaum Muslim meninggalkan Mekah agar tidak terlihat mencolok, sampai pada akhirnya Sang Nabilah yang terakhir meninggalkan Mekah bersama sahabat beliau Abu Bakar dan sepupu beliau Ali. Dalam usaha beliau keluar dari Mekah, para petinggi Quraish sempat mengetahui rencana tersebut dan mengejar Sang Nabi yang sudah terlebih dulu meninggalkan rumah. Bersama para pencari jejak, orang Quraish mengejar Nabi hingga ke bukit Tsaur yang tinggi. Namun sesampainya di puncak, jejak Sang Nabi tak lagi ditemukan yang pada akhirnya membuat orang-orang Qurais menyerah, padahal sebetulnya Sang Nabi dan Abu Bakar bersembunyi dibalik gua disana. Sepulangnya orang-orang Qurais, Sang Nabipun melanjutkan perjalanan ke Yastrib.

PhotoGrid_1453401580225Saat itu adalah tahun 622 Masehi. Telah berlalu sepuluh tahun sejak wahyu pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW. Perjalanan dakwah yang tak mudah selama di Mekah, penuh dengan caci maki dan pertumpahan darah kepada pengikutnya yang berjumlah lebih kurang 200 orang, meninggalnya sang istri dan paman tercinta, serta dikejarnya beliau sebagai sasaran pembunuhan oleh kaum Qurais, telah membawa beliau pada keputusan untuk meninggalkan Mekah, kota kelahiran yang amat beliau cinta. Kepindahan Sang Nabi ini kemudian disebut sebagai Hijrah, yang artinya meninggalkan masa lalu.

Pandangan Negatif: Nabi Miuhammad SAW pindah ke Yastrib pastilah karena beliau sadar bahwa pengikut yang jumlahnya tak sampai 200 orang saja – meski beliau sudah mendakwahkan Islam selama sepuluh tahun lebih – tak akan mampu mengalahkan orang Mekah dari dalam. Oleh karena itu, beliau berpindah hanya agar bisa menyakiti dan mengalahkan orang Mekah dari luar.

Pandangan Positif: Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Yastrib adalah sebuah tonggak sejarah dalam kehidupan Sang Nabi dan bagi sejarah Islam, karena pada tahun 622 Masehi itulah ditetapkan dimulainya perhitungan kalender Islam yang dikenal sebagai Tahun Hijriyah. Semua penetapan hari ibadah dan hari raya Islam hingga saat ini ditetapkan berdasarkan kalender Hijriyah. Inilah masa dimana Islam benar-benar memutuskan diri dengan pola hidup kesukuan.

Yastrib kemudian berubah nama sebagai penghormatan kepada Nabi Muhammad SAW menjadi Madinah, yang berarti kota Sang Nabi.

  1. MASJID: PUSAT KOMUNITAS MULTI KULTURAL

[Menit: 20.00 – 26.00] Pengikut Nabi Muhammad SAW datang ke Madinah nyaris tanpa harta. Mereka harus merubah gaya hidup yang tadinya kebanyakan adalah pedagang, kini harus bekerja di ladang di area oasis yang subur dan kaya hasil bumi di Madinah. Merekapun akhirnya bisa menyesuaikan diri. Sang Nabi bersama pengikutnya tinggal di pusat wilayah Madihah dimana suku Ansar mendominasi wilayah tersebut. Adapun desa-desa lain yang berada di wilayah Madinah dihuni oleh berbagai macam suku dengan komunitas dan kepercayaannya masing-masing. Diantaranya adalah suku-suku Yahudi, yaitu Banu Quraiza dan Banu An Nadir di wilayah timur dan selatan Madinah.

PhotoGrid_1453400793807Sang Nabi kemudian membangun masjid pertama yang terletak tak jauh dari rumah beliau. Berukuran kecil, berbentuk bujur sangkar 45×45 meter persegi, terbuat dari batu dan lumpur kering, masjid ini memiliki area yang diberi atap dan tidak beratap, sama seperti bangunan-bangunan lain di sekitarnya pada masa itu. Namun kini, masjid pertama di Madinah itu telah berubah wujud menjadi Masjid Nabawi, masjid terbesar kedua di dunia setelah Masjidil Haram di Mekah, mampu menampung hingga setengah juta orang untuk beribadah disana.

Di masa Sang Nabi, masjid ini berfungsi sebagai pusat kumunitas multi kultural. Selain untuk  sholat dan berkotbah, masjid ini juga dipakai sebagai tempat berkumpul, wahana diskusi, tempat penyelesaian masalah, dan juga lokasi berdebat untuk semua orang dari semua suku dan kepercayaan, baik bagi umat muslim sendiri, umat Yahudi, Kristiani, bahkan untuk penyembah berhala dan para budak yang tinggal di Madinah.

Sebagai tempat ibadah, yang mana sholat harus dilaksanakan lima kali dalam sehari, muncullah masalah tentang bagaimana cara panggil masal bagi umat Muslim untuk sholat bersama di masjid. Beberapa alternatifnya adalah apa yang sudah dilakukan terlebih dahulu oleh umat beragama sebelum Islam, yaitu menggunakan semacam terompet sepeti Yahudi, atau membunyikan lonceng seperti Kristiani. Maka diputuskanlah panggilan ibadah dalam Islam menggunakan suara manusia, yaitu melalui adzan. Adapun orang pertama yang mengumandangkan adzan adalah seorang budak berkulit hitam yang sudah merdeka bernama Bilal, sebuah pilihan yang secara ideologi dan politik mencerminkan kesetaraan hak manusia dalam ajaran Islam. Meskipun selama masa kenabiannya Sang Nabi tidak menghapus perbudakan yang terjadi di Arabia, beliau dan para sahabat seringkali melakukan pembebasan para budak.

Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Mari tegakkan sholat. Mari meraih kemenangan. Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada Tuhan selain Allah.

Pendapat Kritis: Masjid bukan hanya tempat untuk beribadah. Masjid seharusnya adalah pusat perwujudan misi transformasi komunitas Islam yang harus dilakukan secara nyata, melalui sumbangan bagi fakir miskin, layanan bagi masyarakat sekitar, dibentuknya pusat pendidikan, serta aktivitas-aktivitas lain untuk mencapai cita-cita Islam. Tidak seperti kabanyakan masjid yang ada sekarang ini, masjid seharusnya terbuka untuk umum, merangkul semua agama, kepercayaan dan budaya, karena misi transformatif dan cita-cita keadilan sosial Islam sejatinya bukan hanya untuk umat muslim saja, melainkan untuk seluruh umat manusia.

  1. KONSTITUSI MADINAH: MERANGKUL SEMUA AGAMA

[Menit: 26.00 – 32.00] Posisi Nabi Muhammad SAW di Madinah tak hanya sebagai seorang rasul dari sebuah agama baru bernama Islam, namun lebih dari itu Sang Nabi juga adalah pemimpin wilayah yang memiliki kapasitas politik dan administrasi. Sejalan dengan kebutuhan kepemimpinan yang makin meningkat, maka sebagai formalitas pengukuhan kepemimpinan Sang Nabi dan kesepakatan antar suku dalam mengatur tata cara hidup bersama dalam sebuah komunitas di wilayah Madinah, maka dibuatlah Konstitusi Madinah. Konstitusi ini adalah konstitusi pertama dan tertua di belahan dunia manapun, yang membuktikan diterimanya pluraisme dan ditegakkannya toleransi atas keragaman sosial budaya – bahkan agama – dalam ajaran Islam.

PhotoGrid_1453399836625Konstitusi Madinah memuat hak dan kewajiban dalam hidup berdampingan, saling menghormati terutama untuk beribadah sesuai kepercayaan masing-masing bagi Yahudi, Kristiani dan Islam sebagai agama warisan Nabi Ibrahim, saling melindungi antar manusia dan juga melindungi bangunan yang ada di Madinah termasuk tempat-tempat ibadah, dan sebagainya. Konstitusi ini mendasari berkembangnya Madinah sebagai sebuah negara berdasar hukum – bukan berdasar Islam – yang memandang semua penduduk berposisi sama di mata hukum.

Kontroversi: Hanya ada satu sumber yang menyatakan tentang Konstitusi Madinah, dan kemungkinan sumber tersebut tidak layak dipercaya karena ada unsur kepentingan di dalamnya. Lagipula isi dari Konstitusi Madinah ini sebetulnya tak ada yang istimewa. Kalau kita tahu bagaimana cara hidup masyarakat pada masa itu, maka seperti itulah isi Konstitusi Madinah.

Argumentasi: Dokumen Konstitusi Madinah yang berhasil ditemukan tergolong asli, didukung oleh huruf-huruf yang khas dipakai pada masa itu. Dan isinya memang memuat hal-hal yang sangat praktikal sesuai kebutuhan saat itu, bukan sebuah visi misi  akan terbentuknya sebuah kekaisaran baru. Dalam konstitusi itu semua anggota masyarakat – baik Muslim maupun non Muslim yang disebut sebagai ummah – menandatangani dan menyetujui. Terbukti hal ini berhasil dilaksanakan dengan keadilan yang baik dan tanpa paksaan, misalnya jika ada dua orang Yahudi yang berselisih paham, maka mereka akan diadili mengggunakan hukum Yahudi, bukan hukum Islam. Dan segala bentuk balas dendam maupun kekerasan pribadi diluar hukum yang berlaku sangat dilarang. Dari situ muncullah perdamaian dan kemakmuran dalam berkehidupan di Madinah.

Pendapat Kritis: Madinah merupakan prototipe negara pertama di masa kepemimpinan Islam yang berhasil dibangun Nabi Muhammad SAW. Sayangnya di masa kini unsur-unsur kenegaraan yang dicontohkan Sang Nabi itu banyak dilupakan oleh umat Muslim sendiri, terutama dalam hal merangkul semua komunitas sebagai bagian dari membangun sebuah negara. Menerima keberagaman dan hidup berdampingan dalam satu kesatuan ummah yang damai adalah hal terpenting dalam kepemimpinan Islam. Maka jika seorang pemimpin Islam menolak implementasi hal tersebut, itu sama saja dengan menentang ajaran Sang Nabi.

  1. PERANG PERTAMA: PERANG BADAR UNTUK MENUNTUT KEADILAN

[Menit: 32.00 – 38.00] Di Madinah, umat Muslim pengungsi dari Mekah tidak datang membawa harta benda. Maka di Mekah pun kaum Qurais menjarah rumah dan harta benda yang ditinggalkan umat Muslim sebagai penghinaan bagi kaum yang menentang sukunya sendiri. Umat Muslim pun merasa terhina dan marah dengan perlakuan tersebut. Mereka menuntut balas untuk mendapatkan kembali hak atas harta benda yang dijarah oleh kaum Qurais. Dalam kondisi inilah Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu yang mengijinkan umat Muslim menuntut balas atas ketidakadilan yang telah dilakukan suku Qurais terhadap mereka. Konon kelak di kemudian hari bahkan hingga kini, ayat-ayat inilah yang dipakai oleh para teroris dalam melegalisir aksi-aksi brutal mereka. Ayat yang sejatinya diperuntukkan hanya bagi kaum tertindas demi membela diri ini, kini dipakai untuk menentang siapa saja yang tidak sepaham dengan ajaran Islam.

Kontroversi: Dalam surat Al Baqarah ayat 191 dan 218 misalnya, bisa diartikan bahwa menyiksa itu lebih kejam daripada pembantaian. Maka membantai orang Qurais yang telah menyiksa kaum Muslim selama di Mekah, diperbolehkan dalam Islam. Tak heran jika ayat ini kemudian digunakan sebagai alasan yang elastis dalam moral umat Islam untuk memerangi kaum lain, hanya dengan alasan bahwa mereka tidak sepaham dengan Islam. Dan juga dalam beberapa hadis diceritakan bahwa Nabi Muhammad SAW seringkali berkata “perang adalah membohongi lawan” (saya terjemahkan dari kalimat “war is deceit” sebagaimana dikatakan narasumber dalam film ini), justru membangun landasan pencitraan yang buruk bagi Islam dari sudut pandang toleransi bermasyarakat.

Argumentasi: Dalam Al Qur’an hanya ada satu hal yang membolehkan Muslim menyerang, yaitu jika ada pihak yang melakukan tekanan atau bahkan menyerang lebih dulu, maka kaum Muslim berhak untuk melawan, karena hal ini sifatnya memperjuangkan hak diri sendiri. Begitulah cara pandang sebagian besar Ulama dan ilmuwan keagamaan Islam dalam menerjemahkan ayat-ayat terkait perang yang tertuang di Al Qur’an. Jadi jika ada yang memandang bahwa ayat tersebut menghalalkan mereka untuk semaunya sendiri membunuh orang lain, itu adalah kesalahan besar. Umat Muslim harus dalam posisi tertekan terlebih dahulu untuk kemudian melawan, karena adalah hak semua manusia untuk mempertahankan kehidupan, bukan merusak perdamaian.

PhotoGrid_1453405129708Sang Nabi pun kemudian memilih strategi berperangnya untuk mengecoh lawan, yaitu mencegat kaum Qurais dalam perjalanan dagang mereka dari Siria menuju Mekah. Pada bulan Maret 624 Masehi, Nabi Muhammad SAW menyiapkan pasukannya untuk menghadang dan merampas harta dagangan kaum Qurais, namun pihak Qurais sudah menduganya. Mereka merubah rute perjalanannya tidak melewati Madinah, dan menyiapkan sekitar 900 orang pasukan yang diluncurkan dari Mekah menuju Madinah. Pasukan Sang Nabi di sisi lain mulai bergerak menuju Mekah, dan keduanya bertemu di kota Badar. Disinilah mereka berperang selama beberapa jam saja, dan berakhir dengan kemenangan pasukan Sang Nabi meski berjumlah hanya sekitar 300 orang.

Kemenangan ini sangat berarti bagi kaum Muslim terutama, karena disinilah mereka untuk pertama kalinya berperang atas dasar agama Islam yang mereka imani, dan berhasil mengalahkan kaum Qurais yang berjumlah lebih banyak. Mereka bahkan menganggap kemenangan ini sebagai keajaiban dari Tuhan, setara dengan diselamatkannya kaum Yahudi dari kejaran tentara Firaun di masa Nabi Musa di Laut Merah. Keimanan merekapun makin kuat. Sedangkan bagi Nabi Muhammad SAW, kemenangan ini mengharumkan reputasi dan memperkuat posisi beliau sebagai pemimpin Madinah.

Namun di sisi lain, pihak Qurais tentu saja tidak akan tinggal diam. Kekalahan ini membuahkan rasa malu yang tidak akan mereka lupakan, dan balas dendampun harus segera dilaksanakan.

  1. KIBLAT SHOLAT: BERUBAH DARI JERUSALEM MENJADI MEKAH

[Menit: 38.00 – 41.00] Di Madinah pada suatu hari Nabi Muhammad SAW mendapat wahyu baru, yaitu merubah arah sholat dari Masjidil Aqsa di Jerusalem menjadi Masjidil Haram atau Ka’bah di Mekah. Beribadah menghadap ke arah Jerusalem adalah sesuatu yang sama dilakukan oleh umat Yahudi dan Kristiani pada masa itu. Namun setelah mendapat wahyu terbaru, Sang Nabi dan para pengikutnya segera melaksanakan perintah tersebut dan berpaling 180 derajat dari kiblat semula ke arah kiblat yang baru. Salah satu Masjid di Madinah mengabadikan kejadian ini, yang mana hingga kini masjid tersebut dikenal sebagai Masjid Qiblatain atau Masjid Dua Kiblat.

PhotoGrid_1453399017957Perubahan yang tampak sederhana ini sejatinya merupakan tonggak sejarah yang luar biasa bagi umat Muslim, karena disinilah Tuhan menciptakan sebuah identitas mandiri bagi agama Islam, yang menjadi pembeda dengan dua agama serumpun lainnya, yaitu Yahudi dan Kristiani. Dan sejak saat itu pulalah semua Muslim seluruh dunia dimanapun mereka berada diwajibkan sholat lima waktu menghadap Ka’bah di kota Mekah.

Kontroversi: Tidak semua warga Madinah menyambut baik perubahan ini. Umat Yahudi dan Nasrani memandang hal ini dengan penuh curiga. Mereka yang tadinya menerima Islam sebagai agama serumpun mulai menyangsikan keyakinan tersebut. Berpaling dari Jerusalem adalah sebuah pembangkangan atas ajaran Tuhan menurut mereka. Tak pelak perubahan kiblat ini menandai dimulainya keretakan hubungan baik antara umat Muslim dengan Yahudi di Madinah.

Argumantasi: Perubahan arah kiblat bukanlah satu-satunya alasan retaknya hubungan Islam dengan Yahudi. Di masa itu perebutan harta dan kekuasaanpun menjadi pemicu utama. Konon kesuksesan Sang Nabi dan para pengikutnya yang adalah kaum pendatang dari Mekah dengan keahlian utama berdagang, memunculkan rasa iri dan cemburu di hati kaum Yahudi khususnya, terutama dalam memperebutkan posis penguasa di pasar perdagangan kota Madinah

  1. YAHUDI: AWAL MULA PENGKHIANATAN

[Menit: 41.00 – 45.00] Setelah Perang Badar berlalu, Nabi Muhammad SAW mendapati masalah baru. Sudah sejak lama suku-suku Yahudi di Madinah mempunyai kerjasama bisnis yang menguntungkan dengan orang-orang Mekah. Oleh karenanya, saat Sang Nabi mengharapkan kerjasama dari suku-suku Yahudi untuk bertempur melawan Mekah, mereka tidak mau. Demikian pula halnya dengan beberapa suku penyembah berhala yang tadinya sudah memeluk agama Islam. Kini Sang Nabi menghadapi masalah yang berat, baik dari luar maupun dari dalam komunitas yang dipimpinnya.

Lambat laun Sang Nabipun mengetahui adanya pertemuan-pertemuam rahasia yang dilakukan oleh beberapa suku Yahudi dengan suku Qurais. Sang Nabipun khawatir mereka akan mengkhianati komunitas Madinah dengan cara membantu suku Qurais menyerang Madinah dari dalam. Maka pada suatu hari Sang Nabi dan pasukannya mengepung salah satu desa suku Yahudi yang terbukti bersalah membantu pihak Qurais. Pengepungan berlangsung selama dua minggu hingga pada akhirnya suku tersebut menyerah kalah. Sebagai hukuman, Sang Nabi kemudian mengusir suku tersebut keluar dari Madinah.

PhotoGrid_1453400378724Dalam Konstitusi Madinah dinyatakan bahwa semua suku yang ada di Madinah, termasuk Yahudi, bebas melakukan semua kegiatan ekonomi, sosial, maupun keagamaan dengan kewajiban untuk selalu setia membela komunitas bersama di Madinah. Berdasarkan hal ini, berarti beberapa suku Yahudi yang berkhianat telah bekerjasama dan membantu musuh mereka tersebut, bisa dinyatakan bersalah. Meskipun hukuman yang lazim dan diterima umum pada masa itu bagi pengkhianat adalah hukum mati, namun Nabi Muhammad SAW hanya mengusir mereka keluar dari Madinah, berharap suku yang lain mengerti dan tidak mengulangi perbuatan tersebut.

Sayangnya, harapan itu tidak pernah terwujud. Dan Sang Nabipun akan mengalami permasalahan yang lebih besar pada waktu mendatang.

Kontroversi: Sebagian sejarawan dan orang Yahudi masa kini berpendapat bahwa Konstitusi Madinah hanyalah sebuah cerita yang dikarang sendiri oleh umat Muslim untuk membuat pembenaran atas kejadian buruk yang dilakukan Sang Nabi kepada umat Yahudi, padahal sebetulnya perjanjian itu tidak pernah ada. Sejarawan Yahudi bahkan tidak pernah menemukan kisah tentang Konstitusi Madinah itu dari sumber Yahudi yang independen.

Argumentasi: Situasi ini harus dilihat dari sudut pandang Parpolitics (Participatory Politics) – termasuk didalamnya Parecon (Participatory Economy) – yang mendasari kehidupan komunitas di Madinah. Sang Nabi datang dari Mekah dengan membawa pengikutnya yang tanpa harta benda, menuju ke Madinah yang penduduknya kaya dari hasil bumi dan perdagangan. Beliau datang dan ditunjuk oleh komunitas Madinah sendiri untuk menengahi segala pertikaian, dengan kesepakatan bahwa mereka bisa hidup bersama berdampingan dengan keadilan sosial yang merata. Jika pada perkembangannya suku-suku Yahudi kemudian keberatan untuk berbagi secara ekonomi dan kekuasaan, dan lalu bekerjasama dengan pihak lawan untuk mengamankan posisi mereka, maka hal ini jelaslah sebuah pengkhianatan.

  1. PERANG LAINNYA: STRATEGI MELAWAN DAN BERTAHAN BUKAN MENYERANG

[Menit: 45.00 – 51.00] Setahun setelah Perang Badar, orang Mekah datang kembali menuntut balas dengan kekuatan tiga kali lebih besar dari pasukan Nabi Muhammad SAW. Sang Nabi kemudian memutuskan untuk membawa pasukannya keluar dari Madinah dan melakukan perlawanan di Bukit Uhud. Namun sebelum perang berlangsung, kekuatan pasukan Sang Nabi berkurang drastis. Penyebabnya adalah penolakan suku-suku Yahudi yang tidak mau berperang di hari Sabath atau hari Sabtu yang bagi kaum Yahudi merupakan hari khusus untuk beribadah, dan juga adanya pengunduran diri dari salah satu komandan perang Sang Nabi yang menolak berperang bersama pasukannya yang berjumlah tiga ratus orang.

Perang Uhud berakhir tanpa kemenangan mutlak di kedua pihak, mengingat kenyataannya komunitas di Madinah masih bisa bertahan dan melanjutkan kehidupan mereka tanpa adanya pendudukan militer oleh pasukan Mekah. Salah satu yang berbeda hanyalah terus berlangsungnya pengkhianatan kaum Yahudi Madinah yang secara aktif membantu musuh Sang Nabi di Mekah.

Lima tahun setelah hijrahnya Sang Nabi ke Madinah, tepatnya tahun 627 Masehi, terjadilah perang ketiga dan terakhir dalam kehidupan Sang Nabi. Kali ini pihak Mekah sudah siap dengan mengerahkan sekitar sepuluh ribu tentara perang menuju Madinah. Sedangkan di sisi Sang Nabi, pihak Madinah hanya mampu mengumpulkan tiga ribu tentara saja. Kali ini tak ada pilihan. Sang Nabi dituntut untuk siap menghadapi perang terbuka tanpa perlawanan yang setara. Satu-satunya usaha yang bisa dilakukan Sang Nabi hanyalah membentengi kota Madinah dari serangan tentara Mekah.

PhotoGrid_1453400990712Beruntung bahwa Madinah ternyata adalah sebuah kota yang pada dasarnya sudah terlindungi. Tanpa mendirikan bangunan benteng yang tinggi dan kokoh, Madinah sudah dikelilingi oleh perbukitan vulkanik di segala penjuru kecuali di arah utara. Oleh karenanya, Sang Nabi kemudian melakukan taktik yang sangat  sederhana, yaitu menggali parit yang dalam dan luas di sepanjang area utara Madinah untuk menghalangi masuknya tentara Mekah ke dalam Madinah. Strategi kecil ini ternyata berdampak luar biasa besar bagi pasukan Mekah.

Tentara Mekah tentunya tidak menduga hal ini dan pasukannya tidak dilengkapi dengan peralatan yang cukup untuk menyeberangi parit besar yang menghadang mereka. Sang Nabi dan pasukannya hanya besiap siaga dan menunggu di balik dinding kota Madinah sampai pasukan Mekah berhenti mencoba segala cara untuk melewati parit tersebut dan akhirnya pulang dengan tangan hampa. Dua minggu berlalu, dan pasukan Mekahpun mulai kehabisan bahan pangan untuk bertahan. Maka tak ada pilihan bagi mereka selain meminta pertolongan dari dalam Madinah sendiri, yaitu dari kaum Yahudi.

Adalah Banu Quraiza, salah satu suku Yahudi di wilayah selatan Madinah, yang setuju membantu pihak Mekah untuk melakukan serangan ke pasukan Sang Nabi. Suku Banu Quraiza yang tadinya hanya berdagang rahasia dengan pihak Mekah atau menolak ikut berperang dengan umat Muslim, kini benar-benar angkat senjata dan menyerang pasukan Sang Nabi dari dalam Madinah sendiri.

Kontroversi: Beberapa sejarawan medern memandang tindakan Yahudi itu bisa dimaklumi, karena Banu Quraiza melihat pengusiran Sang Nabi terhadap suku Yahudi yang lain. Wajar saja kalau mereka memilih untuk menjadi sekutu pihak Mekah. Bahkan sejarawan Yahudi berpendapat bahwa pengkhianatan itu belum tentu terjadi sebagaimana diceritakan, karena mereka tidak menemukan bukti arkeologi yang mendukungnya. Adapun cerita yang mereka miliki adalah kaum Yahudi justru meminjamkan senjata mereka kepada pasukan Sang Nabi selama pertempuran. Lagipula berdagang dan bersekutu adalah hal yang wajar bagi kaum Yahudi. Bahkan di masa diaspora atau pengasingan – yaitu beberapa masa dimana kaum Bani Israel terusir dari tanah tempat tinggal mereka oleh kerajaan-kerajaan yang berkuasa pada masanya – kaum Yahudi yang tersebar di berbagai penjuru pastilah mencari aliansi untuk dapat bertahan dan melangsungkan kehidupan mereka. Salah satu semboyan politik mereka saat itu adalah bersekutulah dengan pihak manapun meski kelihatannya mereka tidak mungkin menjadi sekutumu.

Argumentasi: Sejarawan lain dan kisah dari kaum Muslim menyatakan bahwa kesalahan Yahudi kali ini sungguh besar, sampai-sampai kaum Muslim saat itu sangat terkejut dan tak menduga pengkhianatan sebesar itu akan tega mereka lakukan. Jika saja serangan itu berhasil terwujud, maka tentara Mekah akan bisa masuk dan memusnahkan komunitas Muslim yang sudah terbangun di Madinah, dan agama Islampun akan terhenti berkumandang pada saat itu juga.

Kembali pada kisah Sang Nabi, setelah mendapati pengkhianatan yang sedemikian buruk dari kaum Yahudi saat berlangsungnya Perang Parit ini, maka Nabi Muhammad SAW akan menghadapi dilema terberat dan harus mengambil keputusan paling kontroversial seumur hidupnya.

  1. MENGHUKUM YAHUDI: BUKAN MEMBENCI YAHUDI

[Menit: 51.00 – 57.00] Setelah Perang Parit, Nabi Muhammad SAW memerintahkan pasukannya mengepung desa Banu Quraiza. Pengepungan terjadi selama dua puluh lima hari sampai pada akhirnya kaum Yahudi itu menyerah. Sang Nabipun kini menghadapi dilema berat. Jika beliau membebaskan Banu Quraiza dan mengusir mereka keluar dari Madinah, kemungkinannya mereka akan bergabung dengan pihak Mekah dan turut serta menyerang Madinah. Sang Nabipun kemudian meminta bantuan seorang pemuka kaum Yahudi di Madinah bernama Sa’d ibn Mu’adh – yang juga ditunjuk sendiri oleh kaum Yahudi yang akan dihukum – untuk mengambil keputusan, apa yang sebaiknya dilakukan oleh Sang Nabi kepada kaum Yahudi yang berkhianat tersebut. Sa’d ibn Mu’adh memutuskan bahwa semua orang laki-laki suku Banu Quraiza harus dibunuh, sedangkan wanita dan anak-anak dibiarkan hidup sebagai tahanan. Sang Nabi menyetujuinya, demikian pula kaum Yahudi menerima hukuman itu. Semua orang Madinah pun tidak terkejut dengan keputusan itu, karena mereka sudah maklum atas konsekuensi hukuman yang lumrah dilakukan pada saat itu.

Kontroversi: Ini adalah Holocaust (pembunuhan massal kaum Yahudi) pertama terhadap kaum Yahudi. Bagaimana mungkin seorang Rasul memerintahkan membunuh sekitar 800 orang meskipun mereka terbukti berencana membunuh beliau. Bisa saja beliau mengusir mereka keluar dari Madinah, atau memberi hukuman yang lain, tapi bukan  membunuh mereka. Beberapa pembenci Sang Nabi hingga kini bahkan menuduh Sang Nabi sebagai seorang yang haus darah, kegemarannya berperang dan tak segan membunuh siapa saja yang tak sepaham dengan beliau.

Argumentasi: Hukuman ini tidak dilakukan dengan gegabah. Buktinya, ini sudah ketiga kalinya kaum Yahudi mengkhianati komunitas Madinah melalui persekutuan mereka dengan pihak lawan. Dan juga, Sang Nabipun menunjuk orang lain – bahkan orang yang ditunjuk berasal dari suku Yahudi dan penunjukannyapun disetujui oleh para tawanan itu sendiri – untuk memutuskan hukuman yang layak dilakukan. Ini bukan pembunuhan massal, dan bukan ditargetkan untuk menghapus warga Yahudi. Islam tidak membenci Yahudi. Jika Islam membenci Yahudi, maka tidak akan ada catatan sejarah tentang masa keemasan Yahudi di Spanyol dibawah kekuasaan kerajaan Islam sekitar tahun 900 sampai 1000 Masehi.

PhotoGrid_1453401510835Memang tak bisa disangkal, bahwa jika kisah ini dipandang dari sudut kemanusiaan modern masa kini, maka kejadian itu sangatlah brutal dan tak bermoral. Namun dalam setiap kejadian sejarah, kita tidak bisa memandang sebuah kejadian tanpa menyelami latar belakang yang mendasarinya. Kita juga harus menempatkan kejadian itu pada konteks lingkungan sosial budaya pada masa terjadinya, yaitu masa jahiliyah yang amat biadab yang merupakan lingkungan tempat kehidupan Sang Nabi.

Mau tak mau, kejadian ini juga mendasari sudut pandang negatif bagi sebagian umat Islam dalam menilai karakter kaum Yahudi hingga saat ini. Beberapa pemuka agama Islam bahkan tak segan-segan menunjukkan posisi antisemit (memusuhi Yahudi) kepada publik. Berdasarkan kisah dan pemahaman kisah Sang Nabi diatas, maka sikap antisemit itu sama sekali tidak dibenarkan dalam Islam dan tidak pernah diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW. Kita tidak bisa mengakui dua hal yang bertentangan, yaitu bahwa di dalam Al Qur’an kaum Yahudi dan Kristiani dianggap sebagai ahlul kitab (sesama penganut ajaran monotheis warisan Nabi Ibrahim), namun di sisi lain membenci mereka dalam konteks rasisme dan perbedaan agama. Bahkan Sang Nabi kala membangun kumunitas Madinah, beliau menyatakan bahwa kaum Yahudi dan Nasrani disana adalah bagian dari ummah atau masyarakat dalam komunitas yang sama dengan para Muslim di Madinah. Maka bisa disimpulkan bahwa kaum Yahudi bukanlah musuh, melainkan saudara umat Islam dalam ajaran monotheis dan kemanusiaan.

 

… bersambung …

 

 

Kisah Nabi Muhammad SAW: Biografi Kritis BBC – The Life Of Muhammad [Part One: The Seeker]

Catatan: Ini adalah bagian ke-1 dari 3 tulisan saya atas film dokumenter “The Life Of Muhammad” produksi BBC. Sebelum membaca tulisan ini, silakan membaca tulisan saya tentang “Pengantar” terlebih dahulu. Hal ini penting untuk menghindari kesalah pahaman yang mungkin terjadi. Terima kasih. Link-nya disini: https://primasantika.wordpress.com/2015/12/21/kisah-nabi-muhammad-saw-biografi-kritis-bbc-the-life-of-muhammad-pengantar/

Link Youtube untuk Part One ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=oVGieY0W6lY

PART ONE: THE SEEKER

  1. PENGANTAR TENTANG ISLAM

[Menit: 02.00 – 05.00] Selamat datang di Ka’bah, bangunan berbentuk kubus yang berdiri megah di jantung Masjidil Haram di kota Mekah, Saudi Arabia, adalah kiblat sholat bagi umat Muslim di seluruh dunia. Dari sini sang reporter BBC bernama Rageh Omaar memulai kisahnya tentang Nabi Muhammad SAW, atau dalam bahasa Inggris biasa diterjemahkan sebagai Prophet Muhammad PBUH – Peace Be Upon Him.

PhotoGrid_1450680678635Sebagai seorang yang terlahir Muslim, dia memulai kisah Sang Nabi dari pengalamannya yang juga dialami semua Muslim sedunia, yaitu mendengar nama Muhammad sebagai nama ‘manusia’ pertama di telinganya, terlantun sebagai ’kalimat syahadat’ dalam rangkaian adzan yang dibisikkan oleh sang ayah di menit pertama kelahirannya. Mengakui dua hal utama – yaitu mengakui hanya ada ‘satu’ Tuhan (disebut Allah dalam bahasa Arab) dan mengakui Muhammad sebagai Sang Rasul penyambung firman Allah – adalah inti dari segala inti dalam memeluk agama Islam.

Dan kini, Ragih berdiri di hadapan Ka’bah, tempat umat Islam diwajibkan beribadah haji jika mampu. Berhaji secara fisik adalah melakukan ritual ibadah di tanah suci sebagaimana dilakukan dan diajarkan oleh Sang Nabi. Lebih daripada itu, berhaji – atas kaitannya dengan Nabi Muhammad SAW – adalah mendekati jejak sejarah, memaknai kejadian, dan mengimplementasi suri tauladan dari kehidupan Sang Nabi dalam kehidupan setiap Muslim. Namun ada satu hal yang wajib dipegang tentang Nabi Muhammad SAW, yaitu bahwa Sang Nabi ini adalah ‘manusia’, bukan Tuhan.

  1. PENGGAMBARAN SANG NABI

[Menit: 05.00 – 12.00] Nabi Muhammad SAW terlahir empat belas abad lalu di wilayah Arabia, sebuah daratan sepi hampir tak berpenghuni mengingat topologi geografisnya yang sangat tidak menarik untuk dihuni. Gunung dan bukit batu serta padang pasir yang menghampar luas, ditambah terik panas yang menyengat, adalah penggambaran wilayah Arabia tanpa modernisasi apapun pada masa itu. Meski demikian, letak Arabia berada diantara dua kekaisaran kuno besar dunia, yaitu kerajaan Kristiani yang disebut Byzantine Empire dengan ibukotanya Constantinopel, dan bekas kerajaan Persia yang disebut Sassanid Empire. Diantara keduanya terdapat banyak suku-suku Arab yang saling bertarung, baik untuk memperebutkan kekuasaan maupun untuk bertahan hidup. Hanya ada sedikit kota di daratan Arabia, salah satunya adalah Mekah, kota lahir Nabi Muhammad SAW pada tahun 570 Masehi.

PhotoGrid_1450681098231Tidak diketahui lokasi tepatnya dimana Sang Nabi lahir. Beliau adalah manusia biasa yang terlahir biasa, tidak seperti Nabi Isa atau Yesus yang dipercaya oleh pemeluk Kristiani dan Islam terlahir dari seorang wanita perawan bernama Maria. Pada masa Sang Nabi, tak ada tanda2 khusus akan datangnya manusia suci yang dikirim Tuhan untuk manusia di dunia. Sang Nabi bahkan terlahir yatim dengan sang ayah Abdullah yang sudah tiada dan sang bunda Aminah yang sangat miskin. Nabi Muhammad SAW bukanlah siapa-siapa saat beliau lahir, sehingga tak ada catatan sejarah yang menandai lokasi dimana tempat kelahiran beliau.

Umat Muslim mengakui penuh kemanusiaan Sang Nabi, bahkan adalah dosa besar yang disebut ’syirik’  bagi umat Muslim jika mereka menyembah beliau seperti menyembah Tuhan. Ini adalah dasar dari ilmu ‘tauhid’ atau Keesaan Tuhan dalam Islam. Oleh karena itu, sejak beliau meninggal hingga kini beberapa titik lokasi yang pernah beliau lalui dihapus dari sejarah untuk menghindari pengkultusan Sang Nabi. Dan yang terpenting dari usaha ini adalah larangan tentang visualisasi Sang Nabi, termasuk juga penggambaran Nabi-Nabi lain dalam Al-Quran. Alhasil, di masa modern sekarang ini yang menjunjung tinggi kebebasan berbicara, larangan ini menjadi sebuah kontroversi. Kasus Charlie Hebdoe di Perancis yang tak hanya menggambar wajah Sang Nabi tapi juga merendahkan beliau sebagai teroris dalam penggambarannya, adalah salah satu kasus nyata.

Sumber kisah Nabi Muhammad SAW diperoleh dari tiga jenis sumber, yaitu dari kitab suci AlQur’an, dari ’Hadist’ atau kumpulan perkataan dan perilaku Sang Nabi yang diabadikan oleh para ulama setelah beliau meninggal, dan dari tulisan sejarawan non Muslim.

Kontroversi: Hadist paling kuno ditulis sekitar tahun 820-an, padahal Sang Nabi meninggal tahun 632. Jauhnya rentang waktu tersebut diduga mempengaruhi kebenaran dari cerita yang disampaikan. Dan bahkan sampai saat inipun para ulama masih sibuk memperdebatkan kebenaran isi dalam mengklasifikasi ribuan hadist yang ada.

Argumentasi: Orang Arab di masa itu punya kemampuan tinggi dalam mengingat, dan memang dengan cara itulah mereka mengabadikan sejarah mereka sendiri, salah satunya tentu saja sejarah terkait Nabi Muhammad. Setelah Sang Nabi meninggal, banyak pengikutnya – dan juga mungkin musuhnya – mengabadikan kisah-kisah yang mereka ketahui. Bagaimanapun juga, kisah mereka adalah bukti sejarah. Kita tidak bisa menghapusnya hanya karena bertentangan dengan pendapat kita atau karena rentang waktu penulisannya lama berselang setelah wafatnya Sang Nabi.

Sumber kisah Nabi Muhammad SAW dari sejarawan non Muslim ditemukan dalam bahasa Yunani, Syiria dan Armenia. Di Armenia bahkan ditemukan kisah yang ditulis 24 tahun setelah meninggalnya Sang Nabi, yang mana si penulis menuliskan kejadian yang dialaminya sekitar tahun 630, di masa Sang Nabi masih hidup. Ini adalah temuan yang sangat mendukung keberadaan Sang Nabi dalam ilmu Sejarah, yang berarti mendukung tulisan sejarah para Muslim yang tertuang dalam Hadist. Dengan demikian, berdasarkan tiga sumber tersebut, maka kisah Sang Nabi versi BBC ini dimulai.

  1. MASA KECIL SANG NABI

[Menit: 12.00 – 20.00] Nabi Muhammad SAW terlahir sebagai suku Qurais, sebuah suku utama di Arabia yang menguasai kota Mekah. Karena yatim dan miskin, Nabi Muhammad bayi belum setahun terpaksa dititipkan pada suku pengembara Badui yang hidup di pinggiran kota Mekah. Selama beberapa tahun Sang Nabi balita mengikuti pola hidup mengembara. Di masa itu, kehidupan di Arabia sangat keras, keadilan dan kemakmuran tidak merata. Rakyat miskin tidak punya kemungkinan perbaikan hidup. Umat Muslim menyebut masa ini sebagai jaman Jahiliyah.

PhotoGrid_1450689313447Dalam hal spiritual, Mekah adalah kota pusat penyembahan berhala, Tuhannya orang Arab yang berbentuk patung beraneka rupa dan diberi beragam nama. Masing-masing suku bahkan punya Tuhan pelindung sendiri-sendiri. Konsep ketuhanan mereka biasanya terkait dengan kepentingan domestik, misalnya ada Tuhan untuk kekayaan, atau untuk peperangan, atau untuk kesuburan hasil bumi, dan sebagainya. Dan Ka’bah adalah pusat segala pemujaan berhala di seantero Arabia, tak kurang dari 350 berhala tersimpan didalamnya saat itu. Dengan adanya Ka’bah, Mekah menjadi kota yang damai. Tak boleh ada peperangan di Mekah, bahkan antar suku yang saling bertarungpun ada perjanjian khusus yang memungkinkan mereka beribadah di Mekah di waktu yang sama dalam damai.

Suku Qurais adalah pengelola Ka’bah dan penguasa Mekah. Dengan pajak dan perdagangan yang berpusat di Mekah, tak heran suku Qurais menjadi kaya raya. Ka’bah dan spiritualisme penyembah berhala adalah sumber utama kekayaan dan kekuasaan suku Qurais. Meski demikian, hanyalah kelompok pengelola saja yang kaya raya, kelompok lain dalam suku yang sama tidak seberuntung itu, termasuk Nabi Muhammad SAW dan keluarganya yang miskin papa.

Nabi Muhammad SAW kembali pada ibunya Aminah di usianya yang lima tahun di Mekah. Pada saat mereka memutuskan pergi ke rumah kerabat di Madinah, di tengah perjalanan sang bunda yang sedang sakit justru meninggal dunia. Sang Nabipun menjadi yatim piatu di usia enam tahun. Sang Nabi kemudian diasuh oleh kakeknya, yang kemudian meninggal juga dua tahun setelah itu. Sebelum meninggal, sang kakek sempat menitipkan Nabi Muhammad SAW kepada paman beliau, Abu Thalib, seorang yang berpengaruh diantara penguasa Mekah. Abu Thalib adalah pedagang yang pengangkut barang dagangan menggunakan karavan sejauh Siria, Mesir, Palestina, dan daerah lain di sekitarnya. Pedagang dengan karavan inilah yang menghubungkan Arabia dengan peradaban dunia lainnya.

Kontroversi: Bagi sejarawan Muslim, Mekah dipandang sebagai kota perdagangan yang vital, namun sayangnya beberapa sejarawan non Muslim tidak memandang demikian, dikarenakan pendapat tersebut tidak disukung oleh penemuan arkeologi. Bahkan kota Mekahpun baru dikenal setelah munculnya peradaban Islam di Timur Tengah. Diduga, para sejarawan Muslim sengaja membesar-besarkan kota Mekah agar terkesan bahwa Nabi Muhammad SAW mengembangkan agama Islam secara mandiri tanpa terpengaruh oleh ajaran Yahudi dan Kristiani yang sudah tersebar luas sebelumnya di Timur Tengah dan sekitarnya.

Argumentasi: Mekah berada di tengah padang pasir dan perbukitan batu, maka wajar jika sejarawan non Arab tidak mau bersusah payah melewati wilayah kering dan mematikan itu. Kalaupun mereka mengunjungi daratan Arabia, kemungkinan besar mereka hanya menelusuri daerah pantainya saja. Hanya karena tidak ada sejarawan yang menyebut Mekah, bukan berarti kota itu tidak ada.

  1. MASA SEBELUM KENABIAN

[Menit: 20.00 – 27.00] Keterlibatan Nabi Muhammad SAW dalam perdagangan menggunakan karavan sangat penting dalam kehidupan Sang Nabi, baik dalam perkembangan kepribadian maupun keilmuannya. Sepanjang perjalanannya berdagang pastilah Sang Nabi mengetahui peradaban lain diluar Arab, termasuk keragaman budaya dan keyakinan spiritual masyarakat daratan Arabia dan sekitarnya. Disini, beberapa ulama Muslim justru berpendapat lain, bahwasanya Sang Nabi sepanjang hidupnya sebelum menjadi Nabi pastilah tidak mengetahui sedikitpun tentang dunia luar, apalagi tentang adanya keyakinan dan agama lain. Atas kesuksesannya dalam berdagang yang membawa perbaikan di sisi ekonomi, pada usianya yang ke 21 Nabi Muhammad SAW mendapat julukan Al Amin, yang berarti dia yang bisa dipercaya.

PhotoGrid_1450678748942Dalam sebuah kesaksian, seorang sejarawan menuliskan deskripsi fisik Sang Nabi di usia muda tersebut, yaitu tingginya diatas rata-rata, perawakannya kokoh, lengannya dan jemarinya panjang dan kuat, rambutnya panjang tebal berombak, matanya bulat berwarna hitam kecoklatan, jenggotnya tebal, kulitnya terang, Dan kini, Sang Nabi siap mencari istri. Usaha pertama meminang wanita mengalami kegagalan karena status beliau yang yatim piatu. Namun kemudian dia bertemu seorang janda kaya bernama Khadijah yang menugaskannya berdagang ke Siria. Sekembalinya Sang Nabi dengan kesuksesan untuk Khadijah, maka wanita itupun kemudian meminang Sang Nabi. Ya, Nabi Muhammad SAW ‘dipinang’ oleh Siti Khadijah yang berusia 15 tahun lebih tua dari  Sang Nabi.

Perempuan di jaman Jahiliyah dinilai sangat rendah. Mereka tak memiliki hak-hak asasi yang mendasar sekalipun. Poligami tanpa batas adalah salah satunya. Khadijah termasuk yang beruntung mendapat warisan usaha perdagangan oleh mendiang suaminya, dan dengan kepandaian yang dimiliki bisa menanganinya sendiri secara mandiri sampai datangnya Nabi Muhammad SAW yang kemudian dipinangnya. Di masa itu, wanita meminang pria, dan wanita menikahi pria dibawah usianya, adalah sesuatu yang belum pernah ada sebelumnya. Di masa kinipun hal itu masih dianggap aneh. Kebanyakan pria akan terintimidasi atas kesuksesan wanita, dan menghindar menikahi mereka. Sang Nabi adalah sebuah contoh nyata, bahwa pernikahan semacam itu diperbolehkan dan terbukti berhasil dengan baik. Emansipasi wanita pun terbukti dilakukan oleh Sang Nabi bahkan sebelum masa kenabian, dan kemudian berlanjut dalam ajaran agama Islam. Wanita adalah partner setara dalam membangun peradaban Islam, bukan direndahkan.

Pernikahan Sang Nabi dengan Siti Khadijah bertahan 24 tahun. Dan meski poligami adalah sesuatu yang lumrah di jaman Jahiliyah, Sang Nabi tidak pernah menikahi wanita lain sepanjang perjalanan hidupnya dengan Siti Khadijah. Beliau hidup bahagia dengan empat anak perempuan dan dua anak lelaki yang meninggal setelah lahir. Namun secara pribadi, Sang Nabi ternyata bersedih hati. Kehidupan sosial di Mekah di masa Jahiliyah yang jauh dari manusiawi mengganggu hati dan pikirannya.

  1. WAHYU PERTAMA

[Menit: 27.00 – 34.00] Di usianya yang tak lagi belia, 40 tahun, Nabi Muhammad SAW telah mendapat semua yang dibutuhkan untuk mencapai kebahagiaan duniawi, namun ternyata materi dan keluarga milik pribadi saja tidak cukup. Beliau mencari jawaban atas pertanyaan spiritual dan alasan mengapa terjadi beragam kebejatan moral, seperti kejahatan, penindasan, ketidakadilan, penyalahgunaan kekuasaan, dan keburukan lainnya di sekitarnya saat itu. Pemikiran ini membuatnya resah setiap hari, hingga beliau menyisihkan waktu untuk  menyendiri, merenungi dan bermeditasi, menjauh dari kehidupan keseharian yang dijalaninya. Maka secara berkala beliau menaiki bukit Jabal Nur dengan ketinggian yang cukup jauh dari lingkungan kota dibawahnya, berharap mendapati damai di dalam Gua Hira. Semakin lama kebutuhan meditasi beliau semakin meningkat, semakin sering, semakin lama, semakin khusyu. Hingga suatu hari di tahun 610, sesuatu terjadi pada beliau, menandai awal berubahnya sejarah dunia.

PhotoGrid_1450677548889Dikisahkan, Nabi Muhammad SAW yang sedang tertidur di Gua Hira tiba-tiba terbangun dengan rasa takut dan sakit yang luar biasa. Beliau menceritakan rasanya bagai dipeluk terlalu kuat hingga berpafaspun tak kuasa. Adalah Malaikat Jibril yang melakukan itu pada Sang Nabi. Dan kemudian muncullah wahyu pertama yang didengarnya. Suara tersebut memerintahkan Sang Nabi, “Iqra’!” “Bacalah!” Lalu beliau menjawab “Aku tidak bisa membaca.” Perintah itu terdengar lagi, “Bacalah!” Sang Nabipun mengulang jawaban yang sama. Lalu perintah itupun berulang untuk ketiga kalinya, “Bacalah!” Kali ini Sang Nabi menjawab, “Apa yang harus kubaca?” Maka turunlah wahyu pertama dari Tuhan.

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar manusia dengan perantara wahyu. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-Alaq: 1-5)

Menerima wahyu adalah siksaan secara fisik dan mental bagi semua Nabi dan Rasul, tak terkecuali Nabi Muhammad SAW. Sang Nabi sekonyong-konyong berlari menuruni bukit dan pulang menghampiri istrinya, Siti Khadijah. Beliaulah yang menenangkan Sang Nabi yang ketakutan teramat sangat, dan mempercayai semua pengakuan suaminya tercinta, bahkan mungkin sebelum Sang Nabi sendiri percaya akan apa yang beliau alami. Akhirnya, “Sang Pencari” telah mendapatkan apa yang dicarinya.

Namun setelah itu, wahyu berhenti. Tak terjadi apapun selama beberapa bulan berikutnya.

Sang Nabipun semakin bimbang ragu dengan apa yang telah dialaminya, dan apa yang tak lagi terjadi. Di tengah kebimbangan beliau itulah, wahyu berikutnya datang.

“Demi waktu kala matahari naik sepenggalan, dan demi malam apabila telah sunyi. Tuhanmu tidak meninggalkanmu, dan tidak pula membencimu. Dan sesungguhnya yang akhir itu lebih baik bagimu daripada permulaan, dan kelak pasti Tuhanmu akan memberi karunianya kepadamu hingga hatimu merasa puas. Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim lalu Dia melindungimu, dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan lalu Dia memberi kecukupan. Maka, terhadap anak yatim janganlah kamu berlaku sewenang-wenang, dan terhadap orang yang meminta-minta janganlah kamu menghardiknya, dan terhadap nikmat Tuhanmu hendaklah kamu bersyukur.” (QS Ad-Dhuha)

Sejak itu Sang Nabi sadar akan tugas khusus yang harus dilakukannya kedepan. Wahyu dari Tuhan ini adalah petunjuk – berisi nilai dan tuntunan bagi manusia – menuju kehidupan yang lebih baik, dan tugas beliau adalah menyebarluaskan wahyu tersebut. Wahyu itu adalah Al-Qur’an.

  1. AL – QUR’AN

[Menit: 34.00 – 38.00] Bagi semua umat Islam, Al-Qur’an – yang artinya adalah “bacaan” – dipercaya sebagai kata-kata yang langsung datang dari Tuhan. Nabi Muhammad SAW hanyalah perantaranya, seorang manusia biasa – bahkan buta huruf – yang menyampaikan wahyu Tuhan kepada umat manusia. Al-Qur’an – dalam setiap kata yang tertulis dan terbaca – adalah keajaiban Tuhan bagi umat manusia yang akan abadi sepanjang masa, begitulah setiap Muslim memandangnya. Nabi Muhammad SAW pun tidak pernah menyampaikan dirinya memiliki mukjizat apapun kecuali Al-Qur’an yang datangnya dari Tuhan.

PhotoGrid_1450680198318Kontroversi: Kondisi Sang Nabi yang “buta huruf” sangat penting bagi umat Muslim. Beberapa pengkritisi Islam berpendapat bahwa pendapat itu hanya untuk menjaga kemurnian Al-Qur’an agar tidak dianggap terpengaruh ajaran Yahudi dan Kristiani. Sang Nabi pastilah tidak buta huruf dan sengaja dikisahkan berasal dari tengah daratan Arabia, jauh dari pusat-pusat ajaran keagamaan yang saat itu sedang berkembang. Jika beliau tidak buta huruf dan berasal dari – atau setidaknya punya pengalaman berkelana hingga ke – kota-kota pusat keagamaan, maka bisa jadi beliau bertemu dengan ajaran-ajaran agama lain – terutama Yahudi dan Kristiani – yang kemuadian mempengaruhi spiritualitas beliau dan menyebarluaskannya sebagai ajarannya sendiri dalam Islam.

Argumentasi: Baik Al-Qur’an maupun Hadist menyatakan bahwa Sang Nabi memang berkondisi buta huruf, oleh karenanya semua umat Muslim mempercayainya. Sebetulnya kata “ummi” dalam bahasa Arab tak hanya berarti buta huruf saja, bahkan artinya bisa mencakup seorang yang tidak mempelajari, baik itu sejarah, sastra, maupun kitab suci. Dan mengenai pengaruh ajaran Yahudi dan Kristiani dalam Islam, hal itu memanglah sudah semestinya. Jelas tertuang dalam Al-Qur’an bahwa Islam adalah kelanjutan dari ajaran-ajaran sebelumnya, termasuk Yahudi dan Kristiani, sebagai bagian dari ajaran Monotheisme, atau Satu Tuhan, yang diwariskan sejak Nabi Ibrahim.

  1. AWAL KENABIAN

[Menit: 38.00 – 44.00] Pada awal masa kenabiannya, Nabi Muhammad SAW menyebarkan wahyu Tuhan yang diterimanya kepada sanak dan kerabat terdekat. Siti Khadijah adalah yang pertama, kemudian sepupu beliau Ali yang masih remaja, lalu menyebar kepada orang-oang lain dari berbagai kalangan, baik dari rakyat jelata yang miskin papa, hingga para ningrat dan pengusaha. Abu Bakar adalah seorang pedagang dan kepala suku yang menerima ajaran Islam yang disampaikan Sang Nabi di masa-masa awal ini.

PhotoGrid_1450690351859Satu hal yang tidak berubah dari masa awal kenabian hingga detik ini adalah, bahwa untuk menjadi seorang Muslim yang dibutuhkan hanyalah mengucapkan dua hal, yaitu percaya bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad SAW adalah penyebar wahyu Allah. Itu saja, tak lebih dan tak kurang. Ucapan itu dikenal sebagai “Kalimat Syahadat”. Hanya saja, ucapan itu haruslah berasal dari niatan terdalam dan kebebasan dalam menentukan pilihan, bukan paksaan. Bahkan konon, Sang Nabipun seumur hidupnya tidak pernah berhasil membuat sang paman Abu Thalib – orang terdekat yang membesarkan Nabi Muhammad SAW hingga dewasa serta melindungi beliau dari ancaman petinggi Qurais – untuk mengucapkan kalimat Syahadat sampai sang paman tersebut meninggal dunia.

Kritik: Dalam Al-Qur’an tertulis lakum dinukum waliyadin yang artinya untukmu agamamu dan bagiku agamaku. Jelas disini Islam mementingkan toleransi beragama. Sayangnya, tak sedikit diantara umat Muslim di seluruh dunia yang mengabaikan hal ini. Terorisme dan perang di Timur Tengah adalah bukti nyata lemahnya toleransi di tataran politik dan militer.

Ajaran Sang Nabi yang perintahnya didapat langsung dari Tuhan ini kemudian disebut sebagai ISLAM, yang artinya adalah “berserah diri”. Asal katanya adalah “salaam” yang artinya “damai”. Muslim adalah penganut Islam, yang mana berarti seorang yang berserah diri kepada Tuhan.

Pada awalnya, Nabi Muhammad SAW menyebarkan ajaran yang sama dan sebangun dengan agama warisan Nabi Ibrahim lainnya, Yahudi dan Kristiani, yaitu mempercayai Tuhan Yang Esa, kemudian ditambah dengan menentang segela bentuk ketidakadilan dan penjajahan dalam kehidupan di Arabia pada saat itu. Tentunya hal ini tidak disukai para penguasa Mekah. Kesetaraan hak asasi manusia adalah ajaran yang mengancam kekuasaan mereka. Namun itulah tugas seorang Rasul, yaitu merubah pola dan struktur sosial ke arah yang lebih baik sesuai ajaran Tuhan, yang mana dalam hal ini berarti transformasi yang sangat radikal.

Semakin bertambah intensitas ajaran Sang Nabi, semakin benci pula para penguasa Mekah kepada beliau. Mulailah mereka menawarkan uang, kekuasaan dan apapun yang diinginkan Sang Nabi asal beliau mau menghentikan ajarannya. Tentu saja beliau menolaknya. Bagi Nabi Muhammad SAW, beliau hanyalah menyebarkan apa yang diwahyukan Tuhan, dan tidak memaksa siapapun mengikutinya. Jika mereka ikut berarti beruntunglah kehidupan mereka di mata Tuhan, namun jikalaupun tidak, maka Sang Nabi tidak memaksa. Tunggu saja sendiri pembalasan dari Yang Maha Kuasa jika segala keburukan masa jahiliyah itu masih mereka pertahankan.

Maka tak ada pilihan lain bagi pemimpin Qurais. Sang Nabi harus dihentikan dengan paksa. Bahkan kejam.

  1. MASA SULIT

[Menit: 44.00 – 49.00] Bagi para pengikut Sang Nabi yang termasuk golongan minoritas, seperti budak dan fakir miskin, adalah sasaran empuk di awal masa sulit ini karena mereka biasanya tidak termasuk dalam keanggotaan suku manapun, sehingga tak ada yang bisa melindungi mereka. Tak jarang mereka dipukul dan dicambuk bahkan sampai mati – tak peduli pria maupun wanita – hanya karena teguh menerima ajaran Sang Nabi.

Di samping itu, siksaan sosial berupa cemoohan dan larangan beribadah menimbulkan kesulitan tersendiri bagi pengikut Sang Nabi. Untuk menyikapi hal ini, Sang Nabi menyarankan beberapa pengikutnya keluar dari Mekah – termasuk meninggalkan rumah dan harta benda demi mencari perlindungan sebagai pengungsi – jauh menyeberangi Laut Merah sampai ke pesisir timur benua Afrika, tepatnya di Ethiopia, di kerajaan Axum yang dipimpin oleh Raja Nagus, seorang Kristiani. Saat itu tahun 615 Masehi.

PhotoGrid_1450677685991Mengetahui hal ini, beberapa orang Qurais mengejar mereka sampai ke Ethiopia, dan menghadap langsung kepada Sang Raja, meminta beliau mendeportasi para pengungsi dari Mekah tersebut. Sang Raja tidak serta merta mengusir, namun memanggil para pengungsi itu terlebih dahulu untuk mendengar penjelasan mereka. Disinilah Sang Raja mendengar langsung cerita tentang adanya seorang Nabi dari daratan Arabia bernama Muhammad yang menyebarkan wahyu dari Tuhan dan mengajarkan tentang keesaan Tuhan. Si pengungsi kemudian membacakan beberapa ayat Al-Qur’an yang menceritakan kelahiran Nabi Isa dari seorang perawan bernama Maryam, serta mengakui Nabi Isa sebagai salah satu Rasul utusan Tuhan. Seketika Sang Raja terharu, meneteskan air mata dan mengijinkan para pengungsi Muslim itu tinggal disana.

Sementaera itu di Mekah, para petinggi Qurais melanjutkan siksaan mereka kepada Nabi Muhammad SAW dan para pengikutnya. Mereka memerintahkan semua penduduk Mekah untuk melakukan boikot terhadap kaum Muslim. Mereka dilarang berbisnis apapun dengan orang Muslim, dilarang menikahi orang Muslim, bahkan dilarang menjual makanan di pasar kepada orang Muslim. Tujuan dari semua ini hanya satu, yaitu memaksa Sang Nabi dan pengikutnya untuk setidaknya mau menyembah beberapa Tuhan Berhala yang dimiliki kaum Qurais. Sang Nabi tentu saja menolak, dan penindasanpun berlanjut.

Diantara kondisi ketertindasan umat Muslim inilah terjadi sesuatu yang kontroversial, sesuatu yang selalu dipakai para pembenci Sang Nabi untuk menyerang ajaran Islam hingga kini. Disinilah munculnya apa yang kemudian terkenal dengan sebutan “ayat-ayat setan”.

  1. AYAT-AYAT SETAN

[Menit: 49.00 – 54.00] Sebagian besar umat Muslim tidak mengakui kisah ini benar-benar terjadi, namun beberapa sumber sejarah mencatatnya. Ada beberapa versi cerita dari sumber-sumber berbeda tentang hal ini, namun pada dasarnya adalah sebagai berikut: alkisah, suatu hari Nabi Muhammad yang sedang berada di sekitar Ka’bah mendapat wahyu yang menyatakan bahwa beliau diminta berkompromi dengan kaum Qurais. Komprominya adalah mengijinkan kaum Qurais menyembah Tuhan Berhala mereka. Kaum Qurais pun bersuka cita mendengar kabar ini. Namun kemudian, datanglah wahyu berikutnya yang menyatakan bahwa wahyu yang baru saja diterima Sang Nabi tersebut adalah hasutan setan semata. Oleh karenanya, wahyu tersebut disebut sebagai “ayat-ayat setan”. Kalau cerita ini benar, maka Nabi Muhammad SAW akan tertuduh sebagai seorang pembohong yang bisa merubah wahyu sekehendak hatinya.

Kontroversi: Meski umat Muslim tidak mengakui cerita ini karena dipercaya bahwa cerita ini berasal dari musuh-musuh Islam, kenyataan yang sulit dijawab adalah mengapa cerita ini tertuang di sumber-sumber sejarah yang hilang, yang berasal dari kaum Muslim sendiri, bahkan yang periodenya relatif dekat dengan masa kenabian, dan bagaimana mungkin kisah ini bisa masuk dalam catatan sejarah Muslim kalau yang mencatatnya adalah seorang umat Muslim yang taat.

Argumentasi: Ada tiga referensi atas kisah ini – dimana satu sama lain saling bertentangan – yang ditulis dan dikumpulkan setelah Sang Nabi wafat. Kisah ini tidak pernah disebutkan secara langsung dan jelas dalam Al-Qur’an maupun sumber sejarah Islam yang tertua dan paling dipercaya, yaitu dari Ibn Ishaq. Dan juga, dalam Hadist-Hadist besar yang muncul di abad ke-9 pun kisah ini tidak tercatat. Umat Muslim biasanya tidak keberatan menceritakan kisah yang berpotensi mengkritisi Nabi Muhammad SAW, hanya saja kisah yang satu ini tidak bisa diterima karena kurangnya verifikasi dari sumber-sumber utama dalam sejarah dan ajaran Islam.

PhotoGrid_1450677853188Pada tahun 1989, sebuah novel berjudul “The Satanic Verses” karya Salman Rushdie menceritakan secara fiksi topik yang sensitif ini. Isinya adalah penggambaran Sang Nabi sebagai seseorang yang haus kekuasaan, dan Al-Qur’an sebagai hasil karya setan. Hasilnya adalah aliran protes membanjir dari berbagai komunitas Muslim di seluruh dunia. Satu kejadian yang bahkan sebagian Sejarawan tidak percaya pernah terjadi, telah dipakai untuk menghina dan mempertanyakan kesucian karakter Sang Nabi: apakah Nabi Muhammad SAW seorang penyeru kebaikan, atau kejahatan. Inilah perbedaan nyata yang menjadi jurang pemisah antara budaya Barat yang sangat Liberal dengan aliran freedom of speech, dengan komunitas Muslim yang merasa punya hak untuk tidak dilecehkan.

Di saat seperti inilah muncul rasa persatuan diantara sesama Muslim, khususnya komunitas Muslim Inggris. Mereka yang tadinya tak terlihat, saat itu memunculkan jumlahnya yang signifikan. Ribuan British Muslim melakukan protes di jalanan London. Di belahan dunia lain, tak ketinggalan – secara ekstrim – pemimpin Iran Ayatullah Khomaeni meluncurkan fatwa untuk membunuh Salman Rushdie bagaimanapun caranya. Uniknya, disini muncul pula perbedaan sudut pandang antar komunitas Muslim sendiri. Meskipun semua Muslim bersatu mengutuk buku karangan Salman Rushdie itu, sebagian dari mereka tidak setuju dengan fatwa pembunuhan Rushdie. Maka Salman Rushdie pun masih hidup hingga kini. Terlihat disini bahwa sudut pandang tradisional keagamaan yang ekstrim tidaklah mencerminkan pendapat  keseluruhan umat Muslim di seluruh dunia.

  1. MASA BERKABUNG

[Menit: 54.00 – selesai] Boikot dari kaum Qurais bagi umat Muslim masih berlanjut. Meski demikian, senjata umat Muslim saat itu hanyalah sabar dan ikhlas, tak ada sedikitpun usaha untuk penyerangan secara fisik. Jumlah merekapun tak banyak, maka akan sama dengan bunuh diri namanya kalau mereka hilang kesabaran dan menyerang kaum Qurais. Dan sabarpun menuai hasil. Masyarakat Quraispun melunak dalam pemboikotan mereka, karena toh orang-orang yang mereka boikot tersebut tak lain adalah saudara-saudara mereka sendiri. Boikotpun berhenti setelah berjalan dua tahun.

PhotoGrid_1450690422913Namun, di masa yang lebih lunak ini, justru Sang Nabi mendapat cobaan pribadi yang jauh lebih berat. Sang istri tercinta, Siti Khadijah, meninggal dunia. Beliau amat terpukul dengan hilangnya sebuah karakter yang tak hanya menjadi labuhan cinta, namun lebih dari itu seorang teman, penasihat, pendukung, pelindung, bahkan setara dengan karakter seorang ibu yang hampir tak pernah dirasakan Sang Nabi sepanjang hidupnya yang yatim piatu sejak usia 6 tahun. Bahkan bisa dibilang bhwa Siti Khadijah adalah Muslim pertama, karena beliau mempercayai cerita pewahyuan Sang Nabi, bahkan sebelum Sang Nabi sendiri percaya apa yang sedang terjadi pada dirinya kala pertama kali menerima wahyu.

Sang Nabi sangat mencintai istri pertamanya ini. Tak seperti pendapat para pembencinya yang hingga kini menuduh Sang Nabi sebagai pencari harta semata, Sang Nabi tidak menikahi Siti Khadijah yang jauh lebih tua usianya hanya karena kekayaannya semata. Terbukti tercatat dalam sejarah, bahwa tak jarang istri-istri lain beliau di kemudian hari merasa cemburu kala Sang Nabi bercerita tentang Siti Khadijah, karena mereka merasa tak akan bisa menandingi posisi sang istri pertama di hati Sang Nabi.

Tak lama setelah itu, cobaan lain datang beberapa bulan setelahnya. Sang Paman tercinta – pelindung Sang Nabi dari ancaman kaum Qurais – Abu Thalib, meninggal dunia. Ini adalah cobaan besar bagi Sang Nabi karena kaum Qurais setelah itu melihat peluang untuk melenyapkan seutuhnya Sang Nabi beserta para pengikut beliau. Nabi Muhammad SAW pun kini menjadi target pembunuhan nomer satu di Mekah.

 

… bersambung …

Kisah Nabi Muhammad SAW: Biografi Kritis BBC – The Life Of Muhammad [Pengantar]

The_Life_of_MuhammadDi tahun 2011, stasiun televisi Inggris BBC menayangkan sebuah film dokumenter bertajuk “The Life Of Muhammad”. Miniseri tiga episode ini mengisahkan kehidupan Nabi Muhammad SAW sejak lahir hingga wafat. Bagi umat Islam, kisah Sang Nabi ini biasa dikenal dengan sebutan Sirah Nabawiyah, atau sejarah kehidupan Sang Nabi. Dari mempelajari kisah Sang Nabi inilah kaum Muslim di seluruh dunia mencontoh apa yang beliau lakukan untuk diimplementasi pada kehidupan sehari-hari. Sedangkan bagi orang non Muslim yang ingin mengenal Sang Nabi, dari sinilah sumber informasi tentang karakter dan sepak terjang beliau. Kisah Nabi Muhammad SAW bersifat universal – bukan monopoli kaum Muslim semata – bercerita tentang kebaikan dan kepemimpinan yang luar biasa. Dan Sirah Nabawiyah yang satu ini sungguh berbeda. Ini adalah hasil karya jurnalistis. Bagi yang ingin membaca tulisan saya sampai akhir, saya mohon hal ini dicamkan baik-baik, karena disinilah letak pembedanya, dan disinilah – bagi saya pribadi – letak daya tariknya.

Beberapa kali saya mundur dari keinginan “mengisahkan ulang” serial ini. Pertama, karena panjangnya film, yaitu 3 kali satu jam tayang. Kedua, karena ada potensi menyinggung perasaan pembaca. Ada tiga sudut pandang yang dimunculkan di film ini. Di satu sisi diceritakan tentang sejarahnya, termasuk beberapa topik yang menuai kontroversi dari segi keakuratan sejarah dan karakterisasi Sang Nabi. Di sisi kedua ditampilkan pendapat para pakar yang mengkritisi, bahkan cenderung menilai negatif. Sedangkan yang terakhir adalah pendapat para pakar lainnya yang mendukung dan menilai positif. Namun secara garis besar, sejarah yang disampaikan cukup akurat  –atau setidaknya sejalan dengan pengetahuan saya tentang Sirah Nabawiyah – dan topik kritis yang diperdebatkan justru menambah wawasan dan kekaguman saya pada Sang Nabi yang saya cintai.

Di film ini kisah hidup Sang Nabi dibagi dalam tiga bagian yang masing-masing diberi judul sebagai berikut: The Seeker, Holy Wars dan Holy Peace. Singkatnya, pembagian ini berfokus pada tiga hal, yaitu: kehidupan Nabi Muhammad SAW sebelum dan awal masa kenabiannya di usia 40 tahun, lalu kepemimpinannya sebagai negarawan yang mengharuskan beliau memimpin beberapa kali peperangan, dan diakhiri dengan kemenangan dalam damai secara keagamaan maupun pemerintahan hingga wafatnya beliau di usia 63 tahun. Rencananya, saya akan membuat tiga tulisan untuk masing-masing episode, agar saya punya ruang untuk menulis tiap topik dengan lebih leluasa. Semoga terlaksana. Insyaa Allah.

RagehAdalah Rageh Omaar, 48 tahun, seorang Jurnalis yang pernah bekerja dalam team pemberitaan di beberapa stasiun televisi terkemuka dunia – BBC, Al Jazeera dan ITV News – yang menahkodai serial ini. Warga negara Inggris kelahiran Somalia berkulit hitam ini mengantarkan film ini secara personal dan profesionalisme tingkat tinggi. Secara pribadi sebagai seorang Muslim yang tinggal di Inggris, tentunya isu terorisme dan pandangan negatif warga Eropa tentang Islam adalah sesuatu yang dialaminya sendiri. Dan jika dilihat dari perjalanan karirnya sebagai seorang reporter berita televisi dan penulis buku, spesialisasi yang dipegangnya adalah seputar sejarah, politik dan sosial di Timur Tengah. Tak heran jika terlihat kekaguman yang tulus di wajahnya kala menceritakan sejarah Sang Nabi yang diliputnya.

Di sisi lain, secara profesional Rageh Omaar berhasil memaparkan dua kutub sudut pandang tanpa menghakimi dengan pendapatnya sendiri. Semua pendapat dibiarkan berdiri sendiri, dan adalah keputusan penonton untuk memutuskan atau bahkan tidak memutuskan, karena toh tak ada salahnya menambah wawasan. Dan disini Rageh dengan reputasi internasionalnya berhasil menyajikan pendapat dari para pakar ilmu sejarah dan agama terkemuka dari berbagai negara, beberapa warga muslim di Inggris, dan bahkan tak kurang dari Putri Kerajaan Jordania pun turut ambil bagian dalam wawancara bersamanya.

Bagi saya pribadi, pengetahuan bagai tabungan dalam karung uang. Semakin banyak sudut pandang yang kita terima, semakin besar pula kantong ilmu yang kita miliki. Membuang ilmu dengan alasan karena tidak sesuai dengan kepercayaan kita, hanya akan memperkecil karung wawasan kita. Dan menurut saya, itu adalah kerugian yang nyata. Pada akhirnya, perbedaan itu sendiri adalah ciptaan Tuhan Yang Maha Mengetahui, agar kita mau saling mengerti, bukan untuk menghakimi.

Begitulah sebaiknya kita memandang film ini, dan begitu pulalah saya seharusnya menerima informasi dan pendapat dari para pembaca. Jadi, apabila diantara pembaca ada yang merasa perlu mengemukakan pendapat/koreksi atas tulisan saya nantinya, silakan disampaikan pada kotak komentar dibawah setiap tulisan. Insyaa Allah kita bisa mendiskusikannya dengan baik dan memberi manfaat.

Demikian ketertarikan saya pada serial ini, yang saya tonton pertama kali beberapa bulan lalu hingga berhasil membuat saya meneteskan air mata di akhir episode ketiga. Perjalanan hidup Nabi Muhammad SAW memang luar biasa, dan film dokumenter pemenang penghargaan Television Premier Award tahun 2012 dari Standford St. Martin Trust ini membeberkannya di layar kaca dengan berani sekaligus indah. Maka saya putuskan untuk membuat tulisan atas serial ini, berharap dapat memberi manfaat bagi diri saya pribadi dan para pembaca. Insyaa Allah.

 

***********************

 

Dibawah ini adalah urutan bagian penulisan yang bisa dipakai sebagai acuan kronologis sederhana atas kisah Nabi Muhammad SAW dalam film ini.

PART ONE: THE SEEKER

Link artikel ada disini: https://primasantika.wordpress.com/2015/12/21/kisah-nabi-muhammad-saw-biografi-kritis-bbc-the-life-of-muhammad-part-one-the-seeker/

Link Youtube untuk Part One ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=oVGieY0W6lY

  1. PENGANTAR TENTANG ISLAM
  2. PENGGAMBARAN SANG NABI
  3. MASA KECIL SANG NABI
  4. MASA SEBELUM KENABIAN
  5. WAHYU PERTAMA
  6. AL – QUR’AN
  7. AWAL KENABIAN
  8. MASA SULIT
  9. AYAT-AYAT SETAN
  10. MASA BERKABUNG

 

PART TWO: THE HOLY WARS

Link Artikel ada disini: https://primasantika.wordpress.com/2016/01/21/kisah-nabi-muhammad-saw-biografi-kritis-bbc-the-life-of-muhammad-part-two-the-holy-wars/

Link Youtube untuk Part Two ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=lQazfcaalp8

  1. JERUSALEM: PERJALANAN ISRA’ MI’RAJ
  2. MADINAH: HIJRAH SEBAGAI AWAL TAHUN HIJRIYAH
  3. MASJID: PUSAT KOMUNITAS MULTI KULTURAL
  4. KONSTITUSI MADINAH: MERANGKUL SEMUA AGAMA
  5. PERANG PERTAMA: PERANG BADAR UNTUK MENUNTUT KEADILAN
  6. KIBLAT SHOLAT: BERUBAH DARI JERUSALEM MENJADI MEKAH
  7. YAHUDI: AWAL MULA PENGKHIANATAN
  8. PERANG LAINNYA: STRATEGI MELAWAN DAN BERTAHAN BUKAN MENYERANG
  9. MENGHUKUM YAHUDI: BUKAN MEMBENCI YAHUDI

 

PART THREE: HOLY PEACE

Link Artikel ada disini: https://primasantika.wordpress.com/2016/05/03/kisah-nabi-muhammad-saw-biografi-kritis-bbc-the-life-of-muhammad-part-three-holy-peace/

Link Youtube untuk Part Three ada disini: https://www.youtube.com/watch?v=t5xts-RLSUk

  1. SPIRITUALISME ISLAM
  2. HUKUM SYARIAH
  3. POLIGAMI
  4. HIJAB
  5. PERJANJIAN HUBAIDIYAH: DAMAI MELEBIHI EGO
  6. JIHAD: SEBUAH KESALAHPAHAMAN
  7. KEMENANGAN: MEMBERI MAAF DAN KEBAIKAN
  8. HAJI DAN KOTBAH UNTUK BERPISAH
  9. TANTANGAN ISLAM MODERN

 

PhotoGrid_1462092430492

Catatan Tentang BIOGRAFI NABI MUHAMMAD SAW

Buku ini ada sudah sejak lama… Hadiah dari sahabatku sewindu yang lalu… Tapi baru sekarang aku membacanya… Dan kini Sang Rasul tercinta bagai terlahir baru di pikiran dan hatiku…

Karen Armstrong menulisnya sebagai ilmu, bukan kepercayaan… Tiga agama utama dunia dikuasainya dengan mendalam… Yahudi, Kristen dan Islam dipakainya sebagai landasan… Maka lahirlah kisah hidup Nabi Muhammad sebagai sejarah Islam…

Sebagai manusia biasa, Nabi Muhammad sangatlah luar biasa… Karen memaparkannya secara ekonomi, politik, dan pribadi… Seorang yang cerdas dan karismatik, tegas dan bijaksana, lembut dan penuh cinta… Buta huruf adalah kekurangan Sang Nabi, tapi disitulah terletak mukjizat Ilahi…

Pewahyuan demi pewahyuan dilukiskan… Perang demi perang dijabarkan… Sahabat demi sahabat diperkenalkan… Istri demi istri dikisahkan…

Islam bukan agama pedang, Islam adalah agama kemenangan… Ummat semakin kuat seiring dakwah Nabi yang berkesinambungan… Meski tak satupun Nabi-Nabi yang tidak melalui penderitaan… Tapi Nabi kita Muhammad SAW meninggal di tengah kejayaan…

Karen menuliskannya sebagai temuan ilmiah yang nyata… Pujiannya terhadap Islam dan Nabi bukan karena agama yang dia yakini… Landasan sejarah diambilnya dari berbagai sumber yang tersedia… Al-Qur’an dan Al-Hadist-pun dipakainya sebagai bahan observasi…

“Pada Abad ke-8 dan ke-9 kaum terpelajar Muslim mulai memproses pencarian dan pengumpulan koleksi besar ucapan Muhammad [Hadis] dan praktik tradisi [Sunnah]. Mereka berkelana ke seluruh kerajaan Islam untuk menemukan sebanyak mungkin catatan otentik mengenai hal-hal yang pernah diucapkan atau dilakukan Muhammad pada peristiwa-peristiwa tertentu. Ini, bersama dengan Al-Qur’an, membentuk dasar-dasar Hukum Suci Islam [Syariat]. Keduanya juga menjadi dasar bagi kehidupan dan spiritualitas setiap ummat Muslim. Sunnah mengajari kaum Muslim meneladani cara Muhammad berbicara, makan, mencinta, membersihkan diri, shalat. Sehingga dalam detil-detil terkecil kehidupan, semua ummat Muslim mereproduksi hidup Nabi di dunia dan dalam realita. Dan rasa simbolis itu menghidupkan Nabi kembali.”

Karen juga melihat bagaimana Ummat mencintai Muhammad… Menjelang akhir buku dia menuliskannya dengan cermat… Akupun tersadar dan Insya Allah akan selalu kuingat… Bahwa Sunnah Rasul adalah bagian dari mencintai Allah dengan khidmat…

“Dengan menirukan diri mereka sedekat mungkin dengan Nabi, umat Muslim bukan hanya membawa Nabi ke dalam diri, tetapi juga berusaha menanamkan sikap diri Muhammad dan mendekatkan diri mereka kepada Tuhan, yang mereka temukan berada dalam kedalaman diri sendiri. Sebuah Hadis Qudsi [Hadis Suci yang diucapkan langsung dari Allah melalui bibir Nabi], menekankan bahwa Tuhan bukan Sosok metafisikal ‘di luarsana’, melainkan sesuatu yang secara misterius diidentifikasikan dengan keberadaan mereka sendiri. Hadis terkenal ini menyusun tingkat pemahaman seseorang akan kehadiran dirinya: engkau harus mulai dengan melaksanakan perintah dan kemudian maju ke tindak kesalehan suka rela [nafilah].”

“Selama hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah yang lebih Aku senangi dari ibadah-ibadah yang telah Aku wajibkan kepadanya, dan selama hamba-Ku tetap mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah [nafilah], sampai Aku mencintainya. Maka ketika Aku mencintainya, Akulah yang menjadi ‘telinga’ yang ia gunakan untuk mendengar, ‘mata’ yang ia gunakan untuk melihat, ‘tangan’ yang ia gunakan untuk memegang, dan ‘kaki’ yang ia gunakan untuk berjalan. Apabila ia meminta kepada-Ku, sungguh aku akan memberinya, dan apabila ia meminta perlindungan kepada-Ku, sungguh aku akan memberikan perlindungan.”

Aku secara pribadi pernah menulis tentang Cinta Allah yang harus kucari… Akan kuingat bahwa pada suatu malam aku menutup sholat dengan doa seperti ini…

Wahai Maha Perkasa, Maha Bijaksana, Maha Pengampun, Maha Penyayang, Yaa Allah… Cintailah aku, dan aku berjanji untuk selalu mencari Cinta-Mu, Insya Allah…

— Maulid Nabi Muhammad SAW, 12 Rabiul Awal 1432 Hijriah, 15 Februari 2011 —