Perkenalan Saya Dengan JANE AUSTEN

* IMPIAN MUNCUL BELAKANGAN

Ya, Three Weddings And Jane Austen [TW&JA] adalah novel perdana saya, sekaligus karya tulis pertama saya yang pernah diterbitkan. Kalau yang tidak diterbitkan – dan kalau layak disebut sebagai karya tulis – ya hanya sebatas puisi atau kontemplasi pendek di Facebook dan Blog, seputar kehidupan pribadi saya dan sedikit resensi film. Sejauh yang saya ingat, sejak SMP saya sudah suka menulis puisi. Dan saat itu PR yang menyenangkan bagi saya adalah tugas Bahasa Inggris membuat dialog. Mungkin karena saya suka nonton film, jadi saya suka berandai-andai dialog itu adalah adegan film, hehehe. Sedangkan untuk memasuki “dunia” tulis-menulis sih, saya rasa momennya ya baru sekarang ini, saat saya berhasil menerbitkan buku pertama saya. And I might add, it’s a whole new ‘wonderful’ world here! 🙂

Mungkin memang ini impian saya, meski saya tidak memilikinya sejak kecil. Lebih tepatnya, ini adalah impian saya sejak mulai menulis buku ini. Tentu saja saya sangat senang mendapati buku saya terpampang di toko buku. Di hari pertama penerbitannya tanggal 12 Januari 2012 , saya mengunjungi Gramedia Grand Indonesia dan menemukan buku saya tertumpuk banyak sekali di samping rak buku bertajuk “Best Seller”, meski tentunya buku saya belum jadi best seller ya. Saking senangnya, saya dan beberapa teman langsung berfoto-foto ria disana, tak peduli dilihatin dari jauh oleh petugas keamanannya, hahaha. Alay deh pokoknya! “Dasar first-timer!” pikir saya menghujat diri sendiri, hehehe. Namun yang paling mencengangkan adalah pajangan buku saya di Gramedia Mal Kelapa Gading. Saat itu masih di hari pertama penerbitannya, seorang teman mencari buku saya disana berputar-putar di seksi “Buku Baru” tapi tak ketemu. Begitu dia mau menulis di komputer informasi, dilihatnya disamping komputer tersebut buku saya dipajang setinggi dinding dibawah tanda “Informasi Buku”.  Dia foto memakai hapenya dan mengirimkannya ke milis kami. Waktu itu malam hari, saya membaca email di rumah sepulang dari kantor, dan saya terkejut luar biasa melihat foto itu sampai menangis! Saya langsung ambil wudhu dan bersujud syukur kepada Yang Maha Pemberi Nikmat atas kebahagiaan teramat sangat yang sedang saya rasakan saat itu. Pengalaman yang tak terlupakan bagi saya. Ya itu tadi: dasar first-timer! Hahaha.


* BERTEMU JANE AUSTEN

Semua berawal dari hobby saya menonton film. Saya penggemar film drama dan musikal. Sejak SMP saya sudah suka film-film klasik dan film-film baru yang berlatar belakang jaman klasik. Alhasil saya mengenal Jane Austen melalui film Emma, yang diperankan Gwyneth Paltrow. Lalu disusul film Sense and Sensibility yang diperankan Emma Thomson dan Kate Winslet. Saya sangat suka dengan kedua film tersebut, baik dari segi ceritanya maupun karakter para tokohnya. Lalu pada suatu hari, kira-kira di tahun 2000 atau 2001 [waktu itu saya masih tinggal di Surabaya], di salah satu toko buku Gramedia di Surabaya saya menemukan buku Jane Austen edisi asli [bukan edisi dipersingkat atau dipermudah bahasanya] yang ternyata harganya murah, yaitu 30.000 rupiah saja per buku. Saya buka pengantar bukunya, ternyata disana dijelaskan bahwa Jane Austen mempunya enam novel utama, dan kebetulan saat itu di Gramedia tersedia semua. Jadilah saya membeli keenam buku itu dengan tujuan supaya koleksinya lengkap. Masalah membacanya nanti saja kalau sempat, pikir saya. Benar saja, buku itu terpajang rapi di rak buku saya lengkap dengan kemasan plastiknya selama bertahun-tahun tak tersentuh oleh saya, hehehe. Meanwhile, saya kemudian menemukan film-film lepas maupun miniseri adaptasi Jane Austen yang lain, yaitu Persuasion, Pride and Prejudice, dan Mansfield Park. Sedangkan adaptasi untuk Northanger Abbey saya temukan belakangan saat saya sudah mulai menulis novel ini, karena memang tampaknya novel ini tak sepopuler novel lainnya. Dari film-film tersebut saya bisa melihat benang merahnya yang menyeragamkan semua buku Jane Austen, yaitu karakter utamanya wanita muda yang lajang, cerdas dan berbudi pekerti luhur, serta ending cerita yang selalu menempatkan mereka pada pernikahan yang baik, bukan yang dipaksa. Saya suka itu! Saya suka kisah-kisah Jane Austen ini!

Sedangkan awal mula saya membaca buku-buku Jane Austen adalah dalam proses penulisan buku ini. Berawal dari kegemaran saya mencari ‘anything Jane Austen’ di dunia maya terutama di Facebook, membuat saya terhubung dengan beberapa penggemar Jane Austen di luar negri. Dari banyak diskusi yang saya lakukan dengan mereka melalui group-group atau fan page di Facebook itu, saya sampai pada kesimpulan bahwa saya tidak akan bisa menangkap karya Jane Austen secara lengkap dan benar hanya dari film adaptasinya. Dikarenakan saat itu saya sudah mulai menulis buku ini, demi mendapatkan esensi dari karya Jane Austen secara lebih mendalam, saya tak punya pilihan lain selain membacanya satu per satu.

 

* INSPIRASI MENULIS NOVEL

Inspirasi menulis novel ini tentu saja dari kecintaan saya pada kisah-kisah Jane Austen. Sedangkan inspirasi pola penulisannya saya dapatkan dari novel Julian Barnes yang berjudul Talking It Over, dimana disitu terdapat tiga tokoh utama, yang mana masing-masing tokoh menceritakan sebuah kejadian dari sudut pandang masing-masing di sepanjang buku. Saya kemudian berpikir, mungkin ini adalah sebuah cara yang ‘unik’ untuk menceritakan sebuah kisah cinta yang ‘sederhana’. Dan ketika saya mulai menulisnya, saya bisa merasakan bahwa pola penulisan seperti ini justru mempermudah saya untuk menggali lebih dalam karakter dan perasaan masing-masing tokoh dalam setiap kejadian yang mereka alami. Mengenai sudut pandang wanita, sebetulnya buku-buku Jane Austen sendiri sudah cukup sebagai bekal saya memahami perasaan wanita dalam konteks mencari cinta dan menemukan jodoh ini. Namun saya tentu saja sangat berterima kasih juga kepada semua kerabat dan sahabat saya yang berjenis kelamin wanita, yang sepanjang hidup saya ini sejak kecil hingga dewasa pernah mempercayai saya dengan curhat-curhatannya, hehehe. It’s part of the “experience and observation” in writing. 🙂

Saya menulis novel ini sejak awal 2008. Saat itu istri saya sedang hamil dan tak lama kemudian lahirlah anak pertama kami. Kehidupan saya kemudian diisi dengan memilah waktu antara pekerjaan di kantor dan perhatian kepada keluarga. Kalaupun ada kesulitan yang saya hadapi saat itu, tak lain adalah kehidupan saya sendiri. Menemukan waktu untuk menulis disela kehidupan saya merupakan usaha yang cukup berat. Namun syukurlah naskah novel ini akhirnya bisa saya selesaikan di akhir tahun 2010. Jadi kira-kira proses penulisannya sendiri memakan waktu 3 tahun. Cukup lama ya! 🙂

 

Saya mengawali proses menulis ini dengan sangat ringan tanpa beban, hanya ingin menuliskan cerita cinta biasa dengan dibumbui kisah-kisah Jane Austen yang saya kenali dari film-film adaptasinya saja. Namun ternyata hal itu tidak memuaskan saya. Menulis buku ternyata membutuhkan banyak kelengkapan, termasuk dalam penulisan buku saya referensi mengenai Jane Austen haruslah cukup mendalam. Alhasil, mulailah saya mengkoleksi semua VCD/DVD terkait dengan Jane Austen, baik cerita adaptasinya maupun kisah biografinya. Beberapa diantaranya bahkan saya peroleh dari kerabat yang tinggal di Australia sehingga saya musti menunggu jadwal mudiknya ke Jakarta. Lalu saya juga mencari artikel-artikel di internet guna memperdalam pemahaman saya tentang cerita di setiap novel Jane Austen.  Dan akhirnya, sebagaimana disarankan oleh sesama penggemar Jane Austen di Facebook, saya harus membaca buku-buku Jane Austen itu satu demi satu. Sempat saya ‘menyerah’ setelah menyelesaikan satu bagian dari naskah novel ini. Namun setelah saya menerima feedback dari beberapa teman bahwa naskah ini lumayan bagus, saya kemudian berusaha sekuat tenaga untuk memulihkan semangat melanjutkan naskah ini sampai tamat. Dan akhirnya, jadi juga. Alhamdulillah. 🙂

 

* PENGALAMAN LUCU

Pengalaman lucunya hanya satu tapi kejadiannya selalu terulang, yaitu ternyata banyak diantara pembaca yang mengira Prima Santika adalah seorang perempuan. Tidak bisa disalahkan juga sih, mengingat nama saya ini sifatnya unisex, hehehe. Yang lebih lucu lagi adalah para pembaca yang sudah membaca buku sayapun terkadang tetap saja mengira saya perempuan. Padahal, di halaman depan buku saya itu tertulis rasa terima kasih saya kepada orang tua dan adik saya, istri saya dan anak saya. Alasannya “oh, saya pikir tulisan itu salah cetak, Mas”.  Hahaha…

Sejauh ini belum ada ibu-ibu yang tergolong senior mengomentari buku saya kecuali ibu saya sendiri, hehehe. Kebanyakan ibu-ibu muda yang menyukai buku saya adalah mereka yang mempunyai anak-anak gadis yang mulai beranjak dewasa. Mereka merasa bisa ‘relate’ dengan karakter sang ibu. Namun saya sangat senang jika ada pembaca yang melaporkan bahwa ibunya turut membaca buku saya itu. Ada perasaan lega karena buku saya ini bisa sampai juga ke salah satu target audience yang saya inginkan, selain tentunya para wanita lajang di usia matang.

 

 

Advertisements