#TJMK : Bab 4 “Sweet Sorrow”

BAB 4
Sweet Sorrow
Usia: 30 tahun
Lokasi: Jakarta
Masa: Agustus 2006

Sebuah paket berbentuk bujur sangkar terbungkus kertas hias polos berwarna abu-abu tergeletak manis di meja kerjaku. Diatasnya ada post-it kuning bertuliskan sebaris kalimat informasi: Erik, paket ini buat kamu. Meski tertulis kata Lisa dibawah kalimat itu, aku langsung tahu barang indah ini bukan dari dia. Pasti dari Meri, kakaknya. Meski mereka bersaudara dan hanya setahun berbeda jarak lahir, karakter mereka bagai bumi dan langit. Dan pastinya, sebuah barang yang terbungkus manis minimalis semenawan ini bukan datang dari Lisa.

Kupandangi paket ini untuk beberapa menit kedepan dengan senyum dikulum yang tak kuasa meluruskan kembali lengkung bibirku. Sengaja tak langsung kubuka demi menikmati sensasi bahagia yang meletup-letup dalam dada. Seperti uap panas di ketel air yang beranjak mendidih, kunikmati sensasi kegirangan ini lambat-lambat sampai pada saatnya nanti aku puas merasakannya, barulah akan kubuka paketnya. Saat itu aku pasti akan berada pada puncak bahagia, bagai ketel yang membunyikan peluitnya saat tak kuasa menahan uap yang berdesak melewatinya.

Barang seindah ini hanya bisa muncul dari hati, dari seorang yang mencintaiku, dari kekasih hatiku. Dengan kesibukanku yang maha dahsyat karena Jazz Concert tinggal seminggu lagi, bingkisan ini datang seperti mengguyur air dingin di kepalaku yang panas, meniupkan udara segar pada nafasku yang sesak. Aku senang sekali! Ini adalah kali pertama aku mendapat bingkisan dari Meri sepanjang kami berkenalan sudah hampir tiga bulan ini. Selama ini selalu aku yang menyirami romantisme kami dengan kado-kado istimewa yang kusiapkan khusus untuknya. Dari coklat sampai bunga, dari buku hingga film. Diapun menerimanya dengan suka cita dan rasa terima kasih yang tinggi kepadaku. Setidaknya dia tampak sangat menghargai aku sebagai kekasihnya, meski masih berstatus kekasih gelapnya. Aku biarkan saja. Aku tak peduli. Selama dia masih mencintaiku – setidaknya itulah yang kupercaya di hatiku – tak kupedulikan kondisi apapun yang menyertainya.

Tapi kali ini aku merasa lebih dicintai. Dia pasti mengirim bingkisan ini sebagai tanda cintanya, tanda kangennya padaku yang akhir-akhir ini sibuk tertimbun pekerjaan. Aku sunguh sangat bahagia. Tak ada yang lebih indah daripada rasa dicintai yang terbukti dengan tindakan yang mengukuhkannya. Dan kali ini – akhirnya – aku mendapatkannya dari Meri, kekasih hatiku. Entah kapan terakhir kali aku merasa dicintai oleh wanita yang juga kucintai. Sepertinya sudah lama sekali. Dua tahun belakangan ini rasanya aku sudah capek dengan perjodohan-perjodohan yang tak ada hasilnya, yang tak membuatku jatuh cinta, yang tak memunculkan getar dalam dada. Dan saat ini, untuk pertama kalinya sejak sekian lamanya, aku mencinta dan dicinta dengan sebenar-benarnya.

Aha! Kenapa aku tak menikahi Meri saja? Selama ini menikahi Meri memang belum pernah terpikir olehku karena statusku yang masih selingkuhannya. Tapi dengan adanya bingkisan ini, dengan adanya bukti bahwa dia membalas cintaku dengan sepenuh hatinya, aku akan maju tak gentar! Aku akan memperjuangkan hubunganku dengan Meri sampai titik darah pernikahan. Oh, betapa aku sangat bersemangat! Akhirnya perjuanganku mencari istri selama dua tahun inipun terjawab lewat pertemuanku dengan Meri. Selamat tinggal Biro Jodoh! Selamat tinggal dijodoh-jodohin! Aku telah mendapat cinta dari seorang wanita, dan aku bertekat menikahinya!

Bingkisan itu masih kugenggam di tanganku, masih juga kupandangi. Tak terasa, pasti sudah beberapa menit lamanya aku berdiri sambil senyum-senyum sendiri. Kuhempaskan diriku di kursi kerjaku dan kuhela nafas dalam-dalam sebelum mulai membukanya. Dilihat dari ukurannya, paket ini pasti berisi CD, entah musik entah film. Selera kami tak berbeda, sehingga apapun yang diberinya untukku kemungkinan besar akan aku suka. Dan memang aku tak salah duga, sebuah CD album musik jazz karya penyanyi Rod Stewart yang aku belum punya. Senyumku yang tadinya terkulum, sekarang menjadi terbuka lebar sebagai efek dari teramat girang. Tak sabar aku langsung membukanya dan memutarnya di CD-ROM laptopku di meja. Ada surat kecil terlipat rapih didalam CD itu, sengaja tak langsung kubaca sebelum kuputar dulu CD-nya. Pasti akan sangat romantis kalau surat ini kubaca dengan ilustrasi musik jazz di telinga, kataku dalam hati. Maka kupasanglah earphone di telingaku, dan mulailah kubaca surat itu.

Dear Erik,

Tak ada yang lebih berat sepanjang hidupku selain menulis surat ini buat kamu, kuharap kamu tahu itu. Kuharap kamu tahu juga betapa aku sangat bahagia selama berhubungan sedekat ini sama kamu. And last but not least, aku sangat berterima kasih atas rasa cinta yang kauberi untukku dengan baik dan tulus. Aku menghargai semua yang telah kita lakukan ini dengan sepenuh hati.

Erik, hubungan kita harus berhenti sampai disini.

Aku tak sanggup melanjutkan surat ini. Pada intinya, tetaplah menjadi teman buatku. Kita mungkin tidak bisa sedekat dulu lagi, tapi please jangan saling membenci. Kita memiliki pengalaman yang indah untuk dikenang di masa depan jika kita masih berteman.

Sincerely,
Meri

PS: This song is for you. It best represents my feelings about you right now.

I WISH YOU LOVE

Goodbye
No use leading with our chins
This is where our story ends
Never lover, ever friends

Goodbye
Let our hearts call it a day
But before you walk away
I sincerely want to say

I wish you bluebirds in the spring
To give your heart a song to sing
And then a kiss
But more than this
I wish you love

And in July a lemonade
To cool you in some leafy glade
I wish you health
And more than wealth
I wish you love

My breaking heart and I agree
That you and I could never be
So with my best, my very best, I set you free

I wish you shelter from the storm
A cozy fire to keep you warm
But most of all
When snowflakes fall
I wish you love

Senyumkupun menghilang seketika. Bagai jatuh dari surga ke neraka, lonjakan perasaan ini menghantam keras hatiku, mengaduk-aduk perutku. Seketika aku merasa mual. Sesuatu dalam perutku pastilah berkontraksi menarik ulur usus dan ginjal. Aku tahu itu hanya kiasan, tapi yang kurasa sungguh menyengat dahsyat. Kekuatannya jauh melebihi kuasaku menolaknya. Aku ingin menangis tapi tak bisa. Kontraksi dalam perutku menjalar ke arah kepala, seakan memerintahkan mata untuk mengeluarkan airnya. Tapi tak begitu cara kerja mataku. Air di mataku tak bisa terproduksi tergesa-gesa. Getaran itupun turun lagi ke arah leher dan mencekik tenggorokanku, hingga aku berasa mau muntah. Mulutku terbuka menyebut beberapa huruf vokal hanya untuk meredam ledakan rasa yang hendak menyeruak dari mulutku. O saat menahan muntah, A untuk mengambil nafas, dan I kala mengeluarkan nafas. Semua kulakukan dalam desis. Kepalaku menunduk diatas meja. Satu tanganku menutup kepala dari kening berharap tak terlihat kernyit-kernyit di wajahku, dan satunya lagi menutup mulutku. Aku bukannya bersendawa. Aku mau muntah, tapi tak ada yang keluar dari mulutku selain getaran dahsyat yang menyebabkannya. Hanya getaran itu. Getaran kesedihanku.

Meski tak menangis, mataku berair sebagai akibat radiasi getar perasaan yang terhambat ledakannya di tenggorokan. Nafaskupun tersengal bagai kehabisan udara meski di ruang terbuka. Sedikit demi sedikit wajahku berkeringat. Kurasakan produksi air keluar dari sudut-sudut mata dan hidung, dari kening, dari kulit kepala diantara rambut, serta dari balik telinga menuju leher. Wajahku pasti memerah. Semoga tak ada yang benar-benar memperhatikanku di meja kerjaku, yang mana banyak orang lalu lalang di sekitarnya.

Aku tersadar akan keberadaanku diantara banyak orang. Dari sudut mata kulihat suasana tampak biasa, tak ada yang berbeda, tak ada yang menghampiriku. Aku harus membenahi wajahku yang kusut ini. Kuambil tisu dari meja sebelah, meja milik teman perempuan yang sedang tak di tempat. Kuseka kepalaku dengan tisu, terutama mata dan leherku. Kudehem-dehemkan kerongkonganku agar tak tergetar suaraku, untuk persiapan jika terpaksa diajak bicara. Aku memang bukan cowok macho yang takut menunjukkan sensitifitas di muka umum. Tapi bagaimanapun juga aku tak mau terlihat konyol ketahuan menangis di jam kantor tanpa ada yang tahu penyebabnya. Aku harus bisa secepat mungkin mengendalikan diriku sendiri. Kucoba duduk dalam posisi tegak dan menenangkan diri. Barulah tersadar olehku bahwa earphone masih menggantung dan musik jazz masih terdengar di telingaku.

Aku memang belum menangiskan air mata. Tapi aku tahu dimana batas kemampuan mataku menahannya, yaitu saat terdengar musik di telingaku. Seketika kucopot earphone itu dengan gegabah hingga terlempar diatas meja. Untung tak ada yang mendengar dentingnya yang bagi telingaku terdengar kencang. Aku tak mau meneruskan lagu yang sedang mengalun saat ini, entah apa judulnnya. Aku tak mau menangis disini. Nanti saja di kamarku sendiri.

Kumasukkan CD itu beserta suratnya ke dalam tas kerjaku. Kuputuskan untuk menjauh dari meja kerjaku dan mengerjakan apapun selama tidak menghadap laptop dan diatas meja. Kubenamkan diriku sedalam-dalamnya pada pekerjaan agar tak kuingat surat sedih itu hari ini, setidaknya selama aku di kantor. Siangpun berganti petang, dan petangpun berubah malam. Waktu akan mempertemukanku dengan apapun yang kuhindari.

Aku sudah berada di kamar. Sendirian. Tak ada yang bisa kukerjakan selain tidur, kalau saja aku bisa memejamkan mata. Tak ada guna menjauh dari masalah. Kupandangi tas kerjaku bagai bisa kulihat tembus kedalamnya, dimana terletak surat dan CD bingkisan dari Meri. Percuma menjauh darinya, sebaiknya kuhadapi saja kesedihan ini secara jantan, yaitu menangis sejadi-jadinya. Aku tahu itu yang akan terjadi kalau aku berhadapan dengan kesedihan cintaku. Ah, biarlah! Sebaiknya kuceburi saja kesedihan ini sebasah yang kumau, kuselami sedalam-dalamnya, lalu mentas dengan mengangkat kepala, meski membawa derita luka. Andai semudah itu melakukannya!

Kuambil laptop dari tas kerjaku, kutaruh di atas meja, kubuka, lalu start up. Kupandangi cover CD-nya. Album keempat dari serial The Great American Song Book milik Rod Stewat ini berjudul Thanks For The Memory, seperti sengaja dipilih Meri untuk mengungkapkan perpisahannya. Kuputar CD Rod Stewart yang masih tersimpan didalam CD ROM laptopku sejak dari kantor tadi siang. Kupilih lagu I Wish You Love sebagaimana ditulis Meri dalam suratnya, lalu aku klik repeat di software player-nya, sehingga tak ada lagu lain yang akan kudengar malam itu selain lagu ini. Lagu itupun mengalun indah. Mulailah kubaca lagi surat sedih itu.

Tak lama berselang, kuputuskan untuk menulis surat balasan.

Dear Meri,

Kamu tentunya tahu bahwa aku mencintaimu. Tapi kamu tidak. Cintamu tetap buat Mas Bimo meski kamu berselingkuh denganku. Aku tahu itu. Aku hanya memilih untuk tidak mengakuinya. Aku terlalu cinta padamu hingga yang kumau tahu cuma membuat kamu senang. Karena senangmu adalah bahagiaku. Aku tak peduli isi hatimu, yang pasti hatiku terisi penuh olehmu.

Kemudian kuterima surat putus darimu. Tentu saja ini sangat mengecewakanku!

Aku menangis, Meri, asal kamu tahu. Aku menangis bahkan saat menulis surat ini dengan “I Wish You Love” terngiang di telingaku. Aku menangis meski aku tak tahu isi sebenarnya dari perasaanku saat ini. Semua berada di perbatasan negatifitas. Aku merasa sedih dan marah, marah dan benci, benci dan bodoh, bodoh dan sedih lagi. Ini lingkaran setan yang tak berhenti, Meri. Kamu tega sekali melakukan perpisahan ini!

Kusangka ada harapan buat kita bersatu. Kusangka kalau kamu selalu bahagia olehku, maka kamu akan memilihku. Kusangka aku menang karena waktuku bersamamu lebih banyak dibanding Mas Bimo yang tidak merhatiin kamu. Kusangka cintaku bakal cukup buat kita berdua. Kusangka intensitas hubungan kita meningkat seiring hatimu mencipta buatku cinta. Prasangka sialan! Ternyata semakin tinggi aku berprasangka, semakin bodoh aku terjatuh. Dan kalau suatu hari nanti kamu ternyata menikah dengan Mas Bimo, di hari itulah aku akan berhenti mempercayai cinta. Buat apa? Ternyata cinta tak mendekatkanmu padaku, dan bahkan cinta tidak mendekatkanku pada pernikahan. Aku benci itu!

Tapi kenyataannya, kamu justru memberiku lagu “I Wish You Love” yang adalah salah satu lagu terbaik sepanjang masa di benak musikalitasku. Aku jadi sedih, Meri. Sedih tak terkira karena dalam lagu itu terlukis kelembutan hatimu untukku. Tersirat nilai-nilai positif yang kau harapkan terjadi untukku disaat otakku justru dipenuhi pikiran negatif buat kamu. Lagu yang biasanya mendorongku menemukan cinta baru, dan meninggalkan masa lalu. Andai kondisinya bisa semudah itu!

Meri, tinggalkan Mas Bimo! Pilihlah aku! Aku terlanjur cinta padamu, aku tak bisa putus darimu. Jujurlah pada dirimu sendiri, Meri. Lihatlah hatimu! Kamu mencintaiku, aku tahu itu! Ciuman kita tak mungkin berbohong. Tatap matamu tak pernah mengisyaratkan perpisahan. Kedekatan perasaan kita pastilah mencipta kenyamanan buatmu dan bagiku untuk melanjutkan hubungan kita ke arah yang lebih membahagiakan. Apa lagi yang kamu cari? Tidakkah kita hidup untuk mencari bahagia? Dan justru di puncak bahagia kita ini, kamu mencampakkan aku begitu saja! Ini sama saja kamu membuang bahagiamu sendiri, Meri, tidakkah kamu menyadarinya?

Aku tahu kamu bukan orang jahat. Kamupun bukan wanita murahan meski menyelingkuhi pacarmu sendiri. Aku tak pernah memandang rendah padamu. Dan akupun berjanji tak akan mengingat kepahitan surat ini di masa depan kita nanti. Aku sudah makan asam garamnya percintaan, hal beginian akan mudah aku maklumi selama alasannya jelas kupahami. Patah hati hanyalah bagian dari kisah cinta sejati, tak perlu kita ungkit di kemudian hari, asal kesalahannya tak lagi kita ulangi. Tetaplah bersamaku, Meri. Sekarang dan selamanya, hingga maut memisahkan kita. Menikahlah denganku!

Setulus hatiku,
Erik

Kupandangi lagi suratku itu. Kubaca lagi berulang kali. Lalu kubaca lagi surat dari Meri. Lama aku baca surat singkatnya itu. Akhirnya aku ambil kembali suratku buat Meri yang baru saja kutulis dengan segenap kekuatan diri itu, yang kubuat dengan berlinang air mata dan ungkapan sejujur hati itu. Lalu aku merobeknya. Membakarnya. Hingga tak berbekas.

~~~ * ~~~ * ~~~ * ~~~

Hari-hari berlalu setelah itu. Kutenggelamkan diri dalam pekerjaan berkepanjangan. Tak sulit bagiku, mengingat pekerjaanku memang menumpuk. Sengaja aku tak mengubungi Meri. Bertemu Lisapun di kantor tak lantas aku menyinggung tentang kakaknya. Justru kalau bisa aku menghindar dari Lisa atau bicara seperlunya. Siang hari – kalaupun tak bisa disebut mudah – selalu bisa kulewati. Tak begitu halnya dengan malam hari.

Keesokan malam setelah kubakar suratku sendiri itu, aku sangat kebingungan. Apa yang harus kulakukan? Tidur pastinya tak mudah, tapi bekerja juga tak mungkin. Saat pilihan aktivitas cenderung terbatas akupun menyerah pada hati. Hatiku yang patah ini sangat ingin didengarkan, dipahami, dirasakan. Dan bagiku, tak ada pilihan untuk setengah-setengah melakukannya. Aku harus basah sebasah-basahnya, jatuh sejatuh-jatuhnya. Kembali kualunkan lagu I Wish You Love di atmosfer kamarku. Kubaca lagi surat dari Meri. Lagi, dan lagi, dan lagi. Akan kuikuti rasa sedih ini sampai pada ujungnya.

Aku menangisi hilangnya Meri, aku meratapi nasibku sendiri. Dimana cinta untukku? Apakah ada suatu saat nanti? Umurku sudah tiga puluh dan masih juga melajang, padahal beberapa teman seangkatan sudah mulai beranak pinak. Akankah aku begini selamanya? Mungkin aku ditakdirkan untuk tidak menikah. Membujang selamanya, mencari cinta hanya untuk kehilangannya, mencari jodoh yang tak pernah kudapati. Menikah mungkin tidak untuk semua orang. Banyak pria maupun wanita tetap melajang sampai usia senja. Mungkin aku salah satu diantara mereka. Pemikiran itu memang mengerikan, tapi mungkin aku dituntut untuk berbesar hati menerimanya.

Aku teringat suratku yang kubakar malam itu. Aku sadar betul mengapa aku melakukannya. Surat itu adalah ungkapan perasaanku yang telanjang. Terlalu jujur aku menulisnya tanpa pemikiran lebih lanjut akan konsekuensinya. Disitu cuma hatiku yang bicara, logikaku tak menampakkan batang hidungnya. Dan menurutku itu sangat tidak bijaksana.

Cinta tak bisa dipaksa. Butuh waktu beberapa saat bagiku menyadarinya diantara gejolak yang berkecamuk di ruang pikir dan rasa. Kulihat kejernihannya justru setelah kubaca suratku dan surat Meri silih berganti. Kucermati keduanya yang merupakan lukisan hati dan kehendak masing-masing pihak. Surat Meri – walau singkat – menampakkan kejelasan tekadnya. Sedangkan suratku yang berisi luapan emosi dan curahan hati, seperti mengemis cinta kepada Meri. Bukan! Ini bukan masalah harga diri! Aku bukannya merasa terinjak-injak meski memohon. Ini hanyalah perbedaan antara pemaksaan kehendak dari aku, dan keputusan masa depan bagi Meri.

Meri adalah wanita baik-baik. Dia mencintai Mas Bimo, pacarnya yang super sabar itu. Tapi dia juga mencintai aku – kalau aku boleh menamainya cinta – yang menenggelamkannya dalam kolam romantisme cipataanku. Tak heran kalau dia menikmatinya, karena akupun tak kenal pamrih melakukannya. Ketulusanku telah mencipta kenyamanan bagi Meri untuk membuka sebelah pintu hatinya buatku. Tapi hanya sebelah, tak pernah seluruhnya, karena sebetulnya pemilik rumah di hati Meri tetaplah Mas Bimo. Aku sebetulnya maklum kalau dia tak pernah bilang cinta padaku, karena memang cintanya cuma buat Mas Bimo. Aku sesekali bisa merasakan itu, meski selalu aku ingkari keberadaannya. Dan kali ini – entah apa yang merasuki hati dan pikirannya – Meri telah memutuskan untuk menata kembali cintanya sebelum terlambat. Dia harus mengusirku dari rumah hatinya, dan mentas dari kolam romantismeku.

Aku tak punya pilihan lain yang lebih bijaksana selain membiarkan Meri melakukan niatnya itu. Kalaupun surat itu kukirim untuk mendapatkan kembali cinta Meri, aku tak yakin dia akan sepenuhnya ikhlas melepas Mas Bimo yang dicintainya. Dia sudah membulatkan tekad dalam suratnya, dan itu adalah keputusan yang pasti dilakukannya dengan pemikiran panjang. Mas Bimo adalah pilihan Meri, pemilik dirinya seutuhnya, jiwa dan raga, selamanya. Untuk wanita baik-baik seperti Meri, pasti sebuah beban berat melepas cintanya padaku, meski cuma selingkuhannya, apapun alasannya. Aku hanya bisa – dan harus bisa – menghargai keputusannya tanpa perlu membebaninya dengan pilihan lain.

Aku mencintainya sebesar itu. Sebesar bahagia yang akan diperolehnya kalau aku tak berada di sampingnya. Maka kubakarlah suratku untuk Meri, laksana membakar hatiku sendiri dengan bara ikhlas dan api tabah.

Tapi apa mau dikata, akupun manusia biasa. Kalaupun aku sudah mengikhlaskannya, patah hati tak lalu hilang begitu saja. Ada rasa yang harus ditanggung untuk sebuah keikhlasan, dan itu tak murah harganya, tak pula ada pilihan lain selain menghadapinya. Maka jadilah aku setiap malam menagisi kesendirian, meratapi kehampaan. Menangis dan berhenti menangis sudah seperti tarik dan lepas nafas. Caranya mudah, cukup ambil surat singkat dari Meri, lantunkan lagu I Wish You Love yang diulang-ulang sepanjang malam, dan baca suratnya sambil mengingat masa-masa indah kami berdua. Akupun tak menghalangi mata memproduksi air mata, dan tak menahan tubuh bergejolak mengikuti getar akibat getirnya perih.

Seminggupun berlalu rasa seabad. Jazz Concert-pun sudah saatnya terhelat. Kemungkinan besar Meri akan ada mendampingi Mas Bimo yang bertugas sebagai fotografer disana. Meri pasti akan kutemui, cepat atau lambat. Semoga aku kuat.

’Meri, bisa ikut aku sebentar ke belakang panggung? Aku ingin bicara. Disini terlalu bising.’
[Aku datang dengan suaraku yang kubuat seserius dan setertata mungkin, hasil latihanku di belakang panggung setengah jam sebelumnya.]
’Baiklah, Erik.’
[Aku tak memegang tangannya. Kutunjukkan jalan menuju belakang panggung sambil berjalan dengan jarak yang cukup aman jika sampai terlihat Mas Bimo yang sedang bertugas sebagai fotografer. Sesampainya di belakang panggung yang cenderung gelap dan tak banyak orang lalu lalang, akupun berhenti, lalu berdiri berhadapan dengan Meri. Kupegang satu tangannya, kutatap matanya, kukumpulkan segenap kekuatan, dan mulailah aku berpidato diplomasi untuk menegaskan perpisahan ini. ]
‘Meri, aku minta maaf.’
‘Bukankah aku yang seharusnya minta maaf?’
‘Nggak Mer. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah menyebabkan semua kebingungn yang kaualami saat ini.’
‘Nggak begitu Erik…’
‘Dengerin aku dulu Mer. Aku perlu menjelaskan ini padamu biar kamu juga mengerti aku. Kamu sudah mengirimkan surat dan lagu itu untukku. Surat itu sudah cukup menjelasakan kebingungan kamu atas cinta yang kuberi buat kamu. Melihatmu menderita adalah cukup siksaan bagiku. Dan sekarang aku perlu menjelaskan sesuatu kepadamu.’
’Baiklah Erik.’
’Meri, aku ingin kamu tahu bahwa aku juga merasakan kebahagiaan sebesar yang kamu rasakan. Apapun yang telah kita lakukan selama ini, benar atau salah, berselingkuh atau berteman, akan aku simpan sebagai bagian indah kehidupan aku di masa depan. Aku tak akan pernah membenci kamu. Aku mencintaimu dengan tulus. Tak ada yang akan mampu membuatku berpikir bahwa hanya dengan perpisahan ini cintaku akan berubah menjadi benci. Tak akan, Meri.’
‘Erik, I really don’t deserve this. Aku…’
[Aku tak mau disela. Pidatoku ini harus tersampaikan dengan rapi dan seksama agar tujuanku terungkap jelas dan tak ada lagi yang tertinggal. Aku maklum Meri pasti ingin mengungkapkan sesuatu juga sebagai komentar atas beberapa kalimat yang telah kuucap, tapi aku tak mau konsentrasiku terganggu. Secara reflek kupegang bibirnya dengan ujung jemariku untuk menghentikan ucapannya agar tidak terkesan kasar.]
‘Ssshh…aku belum selesai Meri. Timing kamu memang tepat, Mer. Seminggu sebelum acara ini memang waktu yang ideal buat kita untuk meredam perasaan masing-masing dan datang kesini dengan sebuah lembaran baru dalam hubungan kita. Aku mengerti itu. Sayangnya, I’ve been very very busy. Setiap hari urusanku datang bertubi, dan setiap malam hanya surat kamu yang aku cari. Aku sangat ingin membalasnya, atau membuat sebuah romantisme trakhir yang mungkin bisa kita berdua kenang sepanjang masa. Tapi aku tak kuasa. SMS atau telpon tak akan ada gunanya. Yang kuinginkan adalah bertatap muka, namun waktu sangat tidak memungkinkan bagiku. Maafkan aku Meri. Aku ngerti kamu pasti tersiksa memikirkan tanggapanku terhadap surat kamu. Kamu pasti berpikir aku marah sama kamu. Well, sayangku, aku masih cinta sama kamu.’
‘Oh, Erik…’
[Meri tiba-tiba mengangkat kedua tangannya dan merangkulku. Aku baru sadar kalau dia ternyata menangis. Isakannya tak tersembunyi. Dia kemudian membisikkan sebuah kalimat di telingaku yang secara resmi mengakhiri hubungan cinta kami berdua.]
‘Selamat tinggal Erik. Thanks for being a friend.’
[Aku mengangguk dan membalas pelukannya, tepat pada saat terdengar kilatan blitz kamera…ZAP! Mas Bimo berdiri tak jauh dari tempat kami berpelukan, memotret kami dengan kameranya. Aku kaget setengah mati. Oh, tidak, pikirku. Tidak di saat kami sudah mengakhiri hubungan ini! Ini terlalu buruk untuk terjadi padaku dan Meri!]
‘Mas Bimo, aku bisa jelaskan ini…’
[Meri berupaya menjelaskan. Sebuah usaha yang sia-sia karena Mas Bimo justru berjalan mendekat untuk menghampiriku, bukan ke arah Meri. Matanya bahkan tidak memandang Meri sedikitpun. Matanya menusuk tajam ke mataku.]
’Erik, ini tanda panitiaku. I quit! Biar anak-anak yang nerusin.’
[Hanya itu yang dilakukan Mas Bimo. Menyerahkan tanda panitianya dan menatap mataku tajam-tajam. Aku bahkan sudah menyiapkan wajahku untuk berubah warna menjadi biru lebam kalau dia sampai meninjuku, dan aku tak akan membalasnya. Dia sangat punya hak untuk itu.]
’Mas, this is not what it’s like…’
[Meri berusaha menjelaskan kepada Mas Bimo yang masih menusuk-nusuk mataku dengan tatapan tajamnya itu. Tiba-tiba Mas Bimo membalikkan tubuhnya menghadap Meri dengan wajah amarah yang tak pernah kubayangkan tersirat di wajah Mas Bimo yang konon kabarnya super sabar.]
‘THIS!…is not what I like.’
[Suara Mas Bimo begitu lantang dan tegas. Kalau aku saja begidik mendengar suaranya, tak kubayangkan bagaimana takutnya Meri. Tapi tampaknya Meri tak mau kehilangan pria yang amat dicintainya itu begitu saja. Mas Bimo berlalu menjauh dari kami dengan langkah lebar dan cepat. Meripun berlari mengejarnya, tak ingin kehilangan momen untuk menjelaskan situasi sebenarnya. Mas Bimo tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Meri.]
‘Meri, jangan kejar aku lagi. Kita pustus!’
[Dari jarak yang tak lagi dekat denganku, sayup-sayup kudengar kalimat mutlak itu dari mulut Mas Bimo. Meri berdiri terpaku, dia pasti hancur lebur. Mas Bimo berlari meninggalkannya, Meri tetap berdiri. Aku hendak melangkah mendekatinya, namun kuurungkan niatku. Lisa tiba-tiba datang menghampiri kakaknya itu. Dia pasti melihat semua drama yang baru terjadi ini. Dia memeluknya tanpa bertanya apa yang terjadi, kemuadian membawanya keluar dari area belakang panggung. Lisa tahu kebaradaanku disitu. Dia menatap mataku – meski tak setajam tatapan Mas Bimo – seolah menghujat, “Lihat akibat dari perbuatanmu!”]

Akupun berdiri terpaku, tak beranjak, tak berlalu.

Link Lagu “I Wish You Love”

Advertisements

#TJMK : Bab 3 “Match Making”

BAB 3
Match Making
Usia: 29 tahun
Lokasi: Jakarta
Masa: 2005 – 2006

‘Erik, sepertinya ada tamu tuh di depan, tolong bukakan pintu ya.’
‘Baik, Budhe.’
‘Selamat siang, Ibu Tris ada? Saya Ima dari Jogja.’
‘Oh, silakan masuk, Mbak. Saya Erik, keponakannya Budhe Tris. Duduk dulu ya Mbak, memang sudah ditunggu sama Budhe Tris sejak kemarin. Saya panggilkan Budhe dulu ya.’

Budhe Tris adalah kakak kandung ibuku. Beliau anak nomer dua, sedangkan ibuku anak nomer tujuh dari sepuluh bersaudara. Suami beliau sudah meninggal lima tahun lalu. Anak beliau tiga, laki-laki semua sudah berkeluarga dan tinggal di rumah mereka masing-masing. Tahun ini beliau berusia 70, namun kondisi kesehatan beliau sangatlah prima, macam Titik Puspa, artis legendaris kebanggan Indonesia. Olah raga selalu beliau jaga, pergaulan dengan teman masih beliau lakukan, dan sedikit bekerja juga ada meski tak setiap hari datang ke tempat usaha. Beliau memiliki dua perusahaan kecil menengah di bidang konveksi dan transportasi, yang saat ini dilanjutkan operasionalnya oleh anak-anak beliau. Dengan rumah cukup besar yang tadinya ditinggali oleh lima orang, beliau tidak keberatan merawatnya dan tinggal didalamnya sendirian, hanya ditemani seorang pembantu rumah tangga. Dan tentunya sekarang ada aku yang beberapa tahun belakangan ini tinggal bersama Budhe, ngekost istilahnya meski gratis, menempati salah satu dari kamar para kakak sepupuku itu.

Budhe Tris sangat sayang kepadaku. Aku diperlakukan selayaknya anak beliau sendiri. Dan jika kedekatan sudah terjalin sangat erat, seperti halnya hubungan ibu dan anak, maka akupun mendapatkan perlakuan istimewa, seperti dimarahi, dinasehati, diatur ini, disuruh itu, dan termasuk didalamnya dijodohkan. Ima adalah salah satu kandidatnya.

‘Ima, apa kabar sayang?’
‘Baik Budhe. Semoga Budhe juga baik kabarnya.’
‘Oh, Budhe baik-baik saja, syukurlah. Eh, ini Erik, kenalin. Udah ketemu ya tadi? Erik ini anaknya Tante Atik di Jogja. Kalian sebetulnya tinggal di satu kota lho, sayangnya belum pernah kenal aja. Atau mungkin sudah kenal? Kalian kan seumuran, siapa tahu sekolahnya sama waktu di Jogja.’
‘Saya sih tidak merasa pernah ketemu ya Budhe sama Mas Erik. Tapi nggak tahu juga sih kalau Mas Eriknya kenal sama saya tapi saya lupa, hahahaha…sok artis terkenal banget ya, hahaha.’
‘Hahaha…kalaupun Mbak Ima ini artis, selama domisilinya masih di Jogja bukan di Jakarta, nggak bakal masuk infotainment Mbak, jadi saya juga susah kenalnya, hahahaha…’
‘Panggil saja saya Ima, Mas.’
‘Kalau begitu, panggil juga saya Erik. Toh kata Budhe kita kan seumuran, dan tak ada silsilah keluarga yang mengharuskan saya dipanggil Mas, bukan?’
‘Baiklah Erik, if you say so.’

Ima cukup lucu, terkesan cerdas dan berwawasan luas dari obrolan dia seputar pekerjaannya di laboratorium pabrik obat dan tentang industri farmasi di Indonesia. Penampilannya menarik dan sangat mandiri. Dia datang membawa mobil sendiri. Dia tinggal bersama kakaknya di Jakarta yang berada tak jauh dari pabrik lokasi kerjanya, tapi sangat jauh jaraknya dari rumah Budhe Tris disini.

Aku sudah tahu bahwa Budhe Tris menjodohkanku dengan Ima ini. Beliau menjelaskan jauh hari sebelumnya. Dan aku tak punya pilihan selain menyetujuinya dengan jawaban diplomatis yang sangat standar seperti ini, “Baiklah Budhe, kenalin aja. Saya sih nggak masalah kalau cuma kenalan. Kalaupun nggak cocok, kan bisa jadi teman.” Meski akupun sadar dari pengalamanku berkenalan di iklan Biro Jodoh, bahwa tak ada yang namanya berteman setelah ketemuan dalam dunia perjodohan. Kalaupun kedua belah pihak cukup bisa menjaga kesopanan untuk saling berkomunikasi lewat telpon atau SMS, itupun tak akan berlangsung lama, kecuali salah satu pihak punya pengharapan untuk pacaran sedangkan yang lain punya kesopanan untuk menjaga komunikasi. Kalau tidak, maka perkenalan itu hanya akan menambah daftar kontak di hape saja.

‘Kamu sudah makan siang Ima? Budhe ada makanan lho, meskipun sederhana aja ya.’
‘Belum Budhe. Nanti saja saya makan di luar. Ini kan hari Minggu, sekalian jalan-jalan.’
‘Kalau begitu biar ditemenin Erik saja jalan-jalannya! Daripada sendirian, mending ada temen ngobrol, kan.’
[Kulihat Ima agak kebingungan di raut wajahnya. Maka akupun langsung angkat bicara.]
‘Yaaa…kalau Ima nggak keberatan sih, saya mau aja jalan-jalan. Ada Mall baru di deket sini, pastinya tadi lewat dalam perjalanan kemari. Sudah pernah kesitu belum?’
‘Iya, saya tadi lewat, kayaknya bagus ya Mallnya. Saya memang berencana mau kesitu sih sepulang dari sini. Saya tidak keberatan ditemenin makan siang, kalau Erik nggak ada acara lain. Jangan sampai saya merepotkan ya, tentunya.’
‘Ah, tentu tidak! Sama sekali tidak merepotkan. Dan kalaupun kita nggak jalan, mungkin siang ini saya tetap akan ke Mall itu daripada bengong di kamar.’
‘Wah, untungnya kita bisa keluar bareng dari sini ya, Rik. Jangan sampai saya sudah pamitan disini, tiba-tiba ketemu kamu lagi disana. Bisa malu ati saya, pamitnya pulang kok malah nge-mall, hahaha.’

Wanita biasanya tak mau mendahului sebuah ajakan meski hal itu sangat dia inginkan. Ima tampak sekali masih menjaga prinsip itu. Meski mungkin dia tahu juga bahwa aku dikenalkan untuk perjodohan buat dia, tapi dia tidak mau tampak memimpin aktivitas ini. Dia menunggu pihak pria untuk berinisiatif, dan akupun tak keberatan. Ima cukup enak diajak ngobrol, dan di lain pihak, aku punya kewajiban menyenangkan hati Budhe Tris dalam perjodohan ini. Jangan sampai aku terlihat tidak antusias pada pertemuan pertama. Itu tidak sopan. Dan benar saja, kulihat Budhe Trispun tersenyum gembira.

‘Kamu suka makan apa, Ima? Di lantai foodcourt ini semua makanan tersedia, dari yang nusantara sampai western punya, dari ayam betutu sampai steak wagyu, dari yang seringan bakso sampai yang seberat nasi kapau ada semua disini’
‘Wah, bakso termasuk ringan ya, Rik? Buat saya sudah berat tuh, hehehe. Saya mau Sushi aja, kalau kamu nggak keberatan.’
‘Tentu saja nggak keberatan! Malah justru keringanan! Hahahaha. Then, Sushi it is! Saya juga suka Sushi.’

Pertemuan pertama yang menyenangkan bersama Ima. Sepanjang waktu kami makan Sushi, obrolan kami tak pernah berhenti. Selalu saja ada topik baru yang bisa kami bicarakan. Dari masalah keseharian, cerita ringan tentang keluarga, teman, Jogja, sampai diskusi seputar politik, olahraga dan sedikit gosip artis. Untunglah kami tidak terlalu berseberangan dalam menyikapi kejadian sosial politik di negeri ini. Politik memang agak beresiko dalam sebuah obrolan. Masalah ras, kesukuan atau agama bisa sangat mudah dihindari dalam pertemuan pertama karena biasanya akan tampak jelas dan kasat mata. Sedangkan politik tidaklah berbentuk label yang jelas terlihat dari bentuk fisik, atau cara berpakaian, atau terdengar dalam pilihan kata saat berbincang, atau tercetak dalam KTP yang bersangkutan. Politik memang tidak termasuk dalam SARA, tapi efek ketersinggungannya bisa sama besar kalau seorang lawan bicara kebetulan fanatik dan berseberangan pendapatnya. Ima tidaklah fanatik, dan hanya memilih topik politik yang umum diterima oleh kebanyakan orang. Maka amanlah obrolan kami di kedai Sushi ini selama – tak terasa – lebih tiga jam.

Obrolan tentang hobi tentunya tak pernah ketinggalan dalam sebuah perkenalan. Jika kebetulan sama akan mempercepat proses kedekatan, namun jika beda akan menjadi bahan penyesauaian dalam sebuah hubungan, baik berteman atau pacaran. Dengan Ima – tak hanya masalah politik saja ternyata – semua hal dia kuasai dengan porsi secukupnya. Seperti halnya aku, dia juga suka film, buku dan musik. Aku suka film drama, terutama yang penuh makna, hingga tak heran jika aku kemudian menggali lebih dalam sebuah film dan keterkaitannya dengan berbagai penghargaan perfilman. Ima juga suka film, suka semua genre selama direkomendasikan bagus oleh teman atau berita di infotainment. Dia tahu Oscar maupun Cannes Film Festival, meski tak hafal film-film apa saja yang masuk nominasi sampai menang. Ima suka buku, tahu beberapa pengarang terkenal kegemaranku pada masa kami muda dulu, seperti Enid Blyton, Agatha Christie dan Sidney Sheldon, tapi tidak membaca lebih dari satu buku dari para pengarang itu. Dia lebih suka membaca buku tentang manajemen dan pengembangan kepribadian sejak dia kuliah. Tak heran kalau dia sekarang sedang menjalani kuliah S2-nya. Ima memang hobi menuntut ilmu.

Dia ternyata suka musik juga, meski tak spesifik pada salah satu aliran. Selama bisa nyaman dia dengar, musik apapun akan dinikmatinya dengan baik. Aku bilang bahwa aku suka Jazz, dia bisa menyebutkan beberapa nama musisi Jazz muda masa kini seperti Michael Buble dan Jamie Cullum, dan saat aku menyebut nama penyanyi Jazz legendaris yang usianya seangkatan bapak-ibu kami, Frank Sinatra, ternyata dia kenal dengan lagu My Way-nya yang justru tidak nge-jazz, sedangkan Nat King Cole-pun dikenalnya sebagai ayah Natalie Cole dengan lagu remake duet maya mereka Unforgettable, yang albumnya sempat terkenal dan meraih penghargaan tertinggi Record and Album Of The Year pada Grammy Award di tahun 1992. Lagu-lagu lainnya dia tak kenal. Akupun kemudian tidak melanjutkan lagi pembicaraan tenatang musik Jazz ini, karena aku bisa membahasnya berjam-jam dengan lagu-lagu indah karya Cole Porter atau George dan Ira Gershwin yang bahkan dirilis pertama kali di era masa mudanya kakek-nenek kami.

Aku sungguh tidak keberatan dengan hal ini. Meski dia cuma tahu sekilas, tapi dia tahu segalanya. Ima bagaikan sumber informasi pengetahuan umum yang sangat luas, meski tak menemukan kedalamannya pada hal-hal yang sesuai dengan hobiku. Tapi tak mengapa. Akupun tak juga mendalami informasi seputar dunia farmasi dan ilmu manajemen yang dipelajarinya di bangku kuliah. Aku bisa memakluminya, dan sangat menghargai kecerdasan otaknya dan keluasan wawasannya. Akupun mengakui bahwa aku tertarik padanya, pada kemandirian penampilannya dan kenyamanan obrolan kami. Ini adalah awal yang sangat baik dalam sebuah perkenalan. Aku memang tidak merasakan ketertarikan berlebih padanya, tapi sesuatu di otak dan hatiku bilang bahwa hubungan ini layak dilanjutkan. Dan aku akan mengusahakan terjadinya hubungan ini.

Aku kemudian teringat akan lagu Nice Work If You Can Get It karya dua pria bersaudara di tahun 1937, George Gershwin sebagai komposer dan Ira Gerswin sebagai penulis lirik. Lagu-lagu Jazz Standards – sebuah istilah untuk lagu-lagu legendaris yang banyak dinyanyikan ulang oleh para penyanyi Jazz dari dulu hingga kini – seperti ini memang adalah kegemaranku. Para musisi besar, seperti Irving Berlin, Cole Porter, duet musisi Richard Rodgers dan Oscar Hammerstein II, duet musisi George dan Ira Gershwin, serta beberapa lainnya pada masa itu, biasanya membuat lagu-lagu ini untuk dinyanyikan dalam sebuah film musikal atau drama panggung musikal yang dipentaskan di teater-teater ternama di jalan Broadway di kota New York, Amerika Serikat, yang kemudian terkenal dengan istilah Broadway Musicals.

Lagu Nice Work If You Can Get It inipun pada awalnya diciptakan untuk sebuah film musikal berjudul A Damsel In Distress yang dibintangi oleh aktor sekaligus penyanyi sekaligus penari ternama pada masa itu, Fred Astaire. Dan setelah dinyanyikan ulang oleh banyak penyanyi dari masa ke masa, pada tahun 1992 sebuah drama musikal berjudul Crazy For You dipentaskan di Broadway, berisikan lagu-lagu Gershwin legendaris, termasuk lagu ini. Dan aku punya CD-nya.

Sebuah lagu biasanya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu intro sebagai pengantarnya, verse sebagai bagian utamanya, dan chorus atau refrain sebagai bagian yang dinyanyikan berulang dalam sebuah lagu. Terkadang ada juga lagu yang dilengkapi dengan bridge sebagai penghubung antara verse dan refrain. Dalam lagu ini, bagian intro-nya mengisahkan betapa penting mencari cinta selain mencari harta. Lagu-lagu Jazz Standards biasanya memang begitu, mengandung kalimat-kalimat cerdas dalam liriknya, baik dalam kondisi serius maupun saat melempar canda. Kalimat-kalimatnya mungkin tak terlalu berbunga-bunga atau mengharu biru, tapi biasanya mementingkan rima dan makna dalam deretan lirik yang tidak terlalu panjang. Aku sangat menikmatinya! Kecerdasannya memuaskan pikirku, maknanya menyentuh hatiku, dan melodinya memanjakan telingaku. Ah, betapa lezat musik Jazz bagiku!

The man who only live for making money
Lives a life that isn’t necessarily sunny
Likewise the man who works for fame
There’s no guarantee that time won’t erase his name

The fact is …

The only work that really brings enjoyment
Is the kind that is for girl and boy meant
Fall in love … you won’t regret it
That’s the best work of all … if you can get it

Seorang yang hidup untuk bekerja
Kekayaannya tak selalu bikin dia bahagia
Seperti halnya seorang yang ingin tenar
Tak ada jaminan namanya terus bersinar

Sesungguhnya …

Pekerjaan yang membuat hati riang
Adalah yang bikin pria dan wanita senang
Jatuh cinta … tiada sesal akan kau ingat
Itulah pekerjaan hebat … kalau kau dapat

Sekali lagi aku disuruh mencari pasangan hidup. Tak harus lewat jatuh cinta – apalagi lewat pandangan pertama – namun aku tak menutup kemungkinan bahwa nantinya akan kudapatkan perasaan jatuh cinta itu jika aku lebih mengenalnya. Ima adalah seorang yang layak kuperjuangkan untuk kudapatkan, dan aku akan mengusahakan sebaik-baik kemampuanku untuk membuatnya singgah dihatiku, dan membuatku diterima oleh hatinya. Sejauh ini aku tak memiliki keberatan apapun dengannya, tidak di fisiknya, parasnya, apalagi obrolannya. Semuanya menarik bagiku. Aku hanya butuh waktu untuk lebih dekat dengannya, mencari kenyamanan yang lebih dalam bersamanya, dan kemudian aku akan jatuh cinta padanya. Ah, jatuh cinta lagi, betapa senangnya, seperti masa-masa pacaranku dulu sebelum mencoba Biro Jodoh. Tampaknya sebuah rencana yang bagus dan tak terlalu muluk untuk dicapai. Sebaiknya segera kumulai saja seranganku sejak sekarang!

Menelpon dan berkirim pesan. Aku tak mau buang waktu. Sore itu juga sepulang dari kencan pertama kami makan siang Sushi, aku langsung mengirim SMS kepadanya, menyatakan betapa senangnya aku meluangkan waktu bersamanya. Dan bagai gayung bersambut, kamipun bertukar pesan singkat melalui handphone dengan antusias yang sama.

Hi Ima… Thanks for a great time behind Sushi bar! 🙂 Aku senang kita tadi memutuskan makan siang bersama. Ternyata tiga jam nggak terasa dibuat ngobrolin banyak rupa, hahaha.

Ah, tak ada yang perlu di-diet-kan dari badan kamu itu. Kalau lebih kurus lagi, kamu akan terbang tertiup angin, hahaha.

Ah, yang penting sehat! Eh, Sabtu depan kita nonton yuk! Aku yakin, dengan film yang tepat, kita akan bisa mendiskusikannya selama berjam-jam di kedai kopi. 🙂

I’ll call you tomorrow, then. Drive safely! 🙂

I had a great time too! Meski Sushinya tak terlalu memuaskan, ternyata nikmat juga dimakan sambil berkelakar. Tapi jadinya dietku kacau balau, karena nggak terasa makanku nambah melulu, hahaha.

Hahaha…kamu bisa aja. Itu nasi di Sushi isinya carbo semua ya. Bisa gendut aku! 🙂

That’ll be lovely! 🙂 Aku sedang setir nih. See you later ya! 🙂

Selama seminggu berikutnya, akupun selalu menelponnya, meski tak ada yang istimewa dibicarakan. SMS juga kulakukan untuk menjaga komunikasi agar tak terputus. Bukan SMS romantis yang kukirim padanya. Cukup berucap selamat pagi, atau melontarkan sebuah topik berita, atau mengabarkan apa yang sedang kumakan, atau yang sedang kupikir atau kukerjakan. Tak ada yang istimewa, tapi aku menikmati kesederhanaan ini. Mungkin memang tak harus berlebihan dalam berkomunikasi dengan pasangan. Tak perlu juga ada rasa yang menggebu-gebu dalam dada hanya karena ingin bertemu dengannya, atau kangen-kangenan istilahnya. Ah, tidak perlu itu! Kami kan sudah dewasa, sudah menjelang tiga puluh di tahun depan, masak masih perlu kangen-kangenan segala. Kayak anak remaja aja!

Nonton bioskop, ngafe dan ngemall. Akhirnya kami jadi nonton berdua. Film drama action yang ternyata bisa sama-sama kami nikmati. Kami kemudian nongkrong di cafe terdekat dengan bioskop, ngobrol selama tiga jam sampai lupa makan malam, lalu jalan mengitari mall sebentar sambil menuju tempat Ima memarkir mobilnya. Kami memang bisa lupa diri kalau sudah membicarakan sebuah topik yang sangat menarik. Obrolan tentang film itu lama-lama berkembang menjadi banyak hal, dari masalah sosial sampai kesehatan dan wisata alam. Dari masalah danau, hutan, pegunungan, sampai tujuan wisata luar negri dan makanan khas berbagai negara. Sampai disini kami baru sadar kalau belum makan dan memutuskan untuk pulang saja karena sudah malam. Meski aku sebetulnya bebas untuk tidak segera pulang, namun aku sadar bahwa Ima tak bisa pulang terlalu malam. Aku memakluminya, karena dia masih tinggal sama kakaknya, karena dia harus menjaga citra diri sebagai wanita yang punya batasan etika dalam bepergian dengan teman pria, dan karena aku memang tak sedang mencari-cari kekurangannya untuk menyudahi hubungan ini. Tidak, aku tidak akan memberi label negatif pada keengganannya pulang malam, meski aku masih sangat ingat bahwa keengganan yang sama justru aku nilai negatif dalam menimbang karakter wanita lain. Semua hal tergantung dari niat. Dan kali ini niatku memang kuat untuk membangun hubungan dengan Ima, bukan menyudahinya.

Holding hands at midnight
Beneath a starry sky
Nice work if you can get it
And you can get it if you try

Strolling with the one girl
Sighing sigh after sigh
Nice work if you can get it
And you can get it if you try

Berjalan bergandeng tangan
Di malam penuh bintang bertaburan
Sungguh hebat kalau kamu bisa dapat
Dan kamu pasti bisa kalau ada niat

Dengan seorang gadis kamu riang berlenggang
Kamu terus menghela napas menahan senang
Sungguh hebat kalau kamu bisa dapat
Dan kamu pasti bisa kalau ada niat

Kira-kira sudah sebulan kami berhubungan, datanglah bulan puasa, yang kemudian diakhiri dengan lebaran. Selama bulan suci itu, frekuensi pertemuan kamipun berkurang secara drastis. Di siang hari tak ada tempat untuk ngobrol, karena biasanya kondisi ngobrol yang nyaman adalah sambil makan atau ngopi. Di malam harinya, ada ibadah-ibadah khusus – meski tak wajib hukumnya – yang kami lakukan selain berpuasa sepanjang siang hingga petang. Kalaupun kami memaksakan diri untuk jalan ke mall di masa menjelang lebaran, keramaiannnya tak tertahankan hingga rasanya akan jauh dari nyaman.

Aku menjalankan ibadah keagamaan sesuai standar kewajiban yang dituntut dalam beragama. Sholat dan puasa hampir selalu kujalankan sejak kecil sebagai bagian kehidupan yang wajar karena memang aku dibesarkan dalam keluarga Islam. Zakat kemudian menjadi wajib bagiku sejak bisa cari uang sendiri. Kalau puasa dan zakat bisa kulakukan nyaris tak terlewat, tak demikian halnya dengan sholat. Ibadah yang satu ini butuh kekuatan iman yang ekstra konsisten untuk tetap menjalankannya lima kali dalam sehari. Dan dengan pola hidupku yang masih suka kelayapan sampai lewat tengah malam, bisa ditebak seberapa tinggi keimananku dalam bidang sholat ini. Yang pasti bagun pagi selalu kesiangan, dan dugem akan lebih kupilih daripada sholat malam. Ada masanya aku rajin sholat lima waktu terus menerus selama beberapa tahun dalam hidupku, namun kalau kukilas balik selama dua puluh sembilan tahun tahun hidupku saat ini, prosentasenya tampak lebih banyak masa bolong-bolong sholatnya daripada masa rajinnya. Di masa bulan suci begini biasanya bolong-bolong sholat bisa banyak berkurang karena eforia ibadah yang berlaku masal. Tapi aku tahu batas keimananku dalam beribadah, yang mana biasanya selepas lebaran bolong-bolong itu akan makin meluas. Atau bahkan mungkin bisa berubah jadi satu lubang besar, alias tidak sholat sama sekali. Cukup seminggu sekali saat Jumatan ditambah dua kali sholat lebaran dalam setahun, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Itu saja!

Memang kuakui bahwa kuantitas ibadahku dalam beragama sangatlah kurang. Namun sebetulnya dalam menghargai Tuhan sebagai penentu takdir kehidupan manusia di dunia ini, hatiku tetap memanjatkan doa kepada-Nya dalam berbagai aktivitas yang kulakukan. Ada semacam keinginan untuk diperlancar, apapun tujuan yang hendak kita capai. Dan untuk memastikan bahwa sebuah faktor diluar kemampuan duniawi kita sebagai manusia itu ada untuk membantu kita, maka kulakukanlah berdoa kepada Tuhan, minta dikabulkan segala keinginan. Pola pikir seperti ini adalah pembenaranku untuk tidak sholat. Toh, aku sudah dekat dengan Tuhan melalui doa-doaku, pikirku. Meski aku sadar bahwa tak seorang ulamapun akan menyetujui pola pikir seperti ini, tapi aku tetap bersikukuh. Hubunganku dengan Tuhan adalah urusanku sendiri. Aku juga tak berkewajiban membuka forum perdebatan untuk pembenaran metode kenyamananku ini. Dan tanpa mengurangi rasa hormat, bagiku agama hanyalah sekumpulan rambu-rambu untuk mendekatkan manusia dengan Tuhan. Seseorang di masa lalu pernah bilang begitu padaku, dan kini aku memaknainya dengan caraku sendiri. Kalau aku sudah merasa dekat dengan Tuhan, ya sudah, mission accomplished.

Ima, di sisi lain, ternyata sungguh taat beragama. Dia memang tidak berjilbab untuk mengukuhkan taraf tinggi keimannya kepada Tuhan, tapi yang pasti dia rajin sholat. Dalam setiap kesempatan dia selalu tak lupa sholat, bahkan dia membawa mukena di dalam tasnya kemanapun dia pergi. Ima berpenampilan modern. Dia tampak menarik dengan kaos ramping lengan pendek dan rok sebatas lutut. Dan memang sebatas itulah dia akan memperlihatkan kulit tubuhnya. Tak akan pernah dia memakai baju tanpa lengan, kaos super ketat, belahan dada rendah, atau rok mini setengah paha. Baju yang dikenakannya bermodel klasik, menampakkan kelas tersendiri pada dirinya. Tak heran jika dia selalu tampil cerdas, secerdas otaknya. Aku suka cara dia berpakaian. Tapi entah mengapa aku tak lantas serta merta jatuh cinta padanya. Aku harus berhati-hati memainkan hubungan ini. Jangan terburu-buru naik kelas dari berteman jadi pacaran, tapi jangan juga sampai kelamaan hingga dia lepas dari genggaman. Aku biarkan waktu menjadi temanku. Komunikasi tetap terjaga, semua jadwal hariannya – sebisa mungkin – tetap termonitor untuk memastikan tak ada pria lain yang sedang mendekatinya. Dan memang sepanjang pantauanku, aku tak punya saingan untuk saat ini.

Lebaran tiba. Akupun mudik sebagaimana jutaan penduduk Jakarta lainnya. Jogja adalah kota tujuanku, tempat tinggal orang tuaku. Imapun melakukan hal yang persis sama. Hanya alamat rumah kami yang berbeda, meski jaraknya tak sejauh lokasi tempat tinggal kami di Jakarta. Secara tata krama kesopanan, sepantasnyalah aku berkunjung ke rumah Ima, meski tak ada yang mengharuskan. Aku ingin menampakkan keseriusanku berteman dengannya. Aku juga siap bertemu kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya. Aku akan bertindak sesopan mungkin kepada mereka, dan menebar pesona agar mereka bisa nyaman berbincang-bincang denganku. Mungkin dengan mendekatkan diriku kepada keluarga Ima, aku akan merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga lain, dan hal itu akan menjadi pendorongku untuk jatuh cinta pada Ima. Tak ada yang lebih nyaman dalam sebuah hubungan pertemanan daripada kedekatan kita dengan keluarga sang teman. Merasa diri berada di lingkungan yang tidak asing meski sedang berkunjung ke rumah orang lain, adalah sebuah kenikmatan.

Kunjunganku ke rumah Ima berjalan dengan lancar. Aku dengan mudahnya berbincang santai dengan orang tua Ima, terutama ibunya. Ibu-ibu memang mudah merasa dekat denganku. Mungkin karena aku ini berwajah melankolis, sangat jauh dari gahar. Tutur kataku teratur, perbincanganku aman dengan bahasa yang kupilih agar terkesan sopan. Aku tidak merokok, gigikupun putih tak bernoda saat kulempar senyum terlebar. Caraku berpakaian cenderung rapi, bukannya sporty, tampak santai elegan dengan sandal kulit di kaki. Topik pembicaraanku cenderung pribadi, seperti hobi, makanan, pakaian, sedikit gosip artis, bukannya topik berat seperti berita politik atau olah raga, kecuali jika memang mereka mengarahkan kesana. Ibu-ibu memang gampang disenangkan, tak seperti bapak-bapak yang seringkali terlihat kaku, baik dalam penampilan maupun obrolan.

Tapi orang tuanya Ima sangatlah jauh dari kaku. Mereka berdua sangat ramah dan menerimaku sebagai tamu keluarga yang masih ada hubungan saudara dengan Budhe Tris. Kedekatan hubungan itu membuatku layak diperlakukan lebih dari teman Ima biasanya. Aku datang dan disambut langsung oleh Ima dan kedua orang tuanya, kemudian kamipun ngobrol berempat cukup lama di ruang tamu. Adiknya Ima hanya lewat sekilas untuk berkenalan dan kembali ke kamar melanjutkan aktivitasnya. Setelah kira-kira setengah jam kami ngobrol sambil makan kue lebaran dan minum es sirup yang menyegarkan, aku dan Ima kemudian pamit untuk jalan-jalan berdua sembari makan siang. Kencan makan siang itupun berjalan dengan nyaman. Kami seperti biasa sangat menikmati acara ngobrol berdua, dimanapun tempatnya.

Akupun merasa bahagia di dalam dada. Merasa senang atas makin dekatnya aku dengan Ima, dan merasa puas dengan diriku sendiri karena berhasil merebut hati orang tua Ima. Aku seperti baru keluar dari sebuah wawancara kerja dengan hasil memuaskan. Begitu besar pengharapan untuk diterima, dan begitu yakin akan dipanggil lagi untuk tes berikutnya.

Just imagine someone
Waiting at the cottage door
Where two hearts become one
Who could ask for anything more?

Bayangkan seorang wanita
Duduk santai bersamamu di beranda
Betapa indah dua hati jika sudah bersatu
Ditukar dengan apapun kau pasti tak mau

Kembali ke Jakarta, kamipun berhubungan seperti biasa. Telpon, SMS, dan jalan berdua hampir setiap akhir minggu menjadi agenda tetap kami. Dua bulanpun kemudian berlalu sejak lebaran tahun itu. Kami memang berhasil mempertahankan kedekatan hubungan kami. Sayangnya mempertahankan saja ternyata tak cukup untuk sebuah pertemanan yang ingin ditingkatkan menjadi pacaran. Ada dua hal yang tak berhasil kulakukan untuk merubah kondisi kami, yaitu obrolan tentang hati dan sentuhan fisik. Menurutku, tanpa keduanya, atau setidaknya salah satu diantaranya, maka sebuah hubungan antara sepasang pria dan wanita akan tetap disebut sebagai berteman.

Obrolan kami tak pernah lebih dari sekedar informasi kegiatan harian dan diskusi masalah sosial atau ilmu pengetahuan. Tak pernah aku menyatakan kangen padanya, misalnya. Kalaupun aku sampai memuji penampilannya, mengagumi kecerdasannya, atau mengakui kenyamanan bersamanya, aku hanya mengatakannya sebatas kenyataan yang memang begitu adanya. Tak ada bunga-bunga dalam pilihan kalimatku, yang mana aku sangat bisa melakukannya kalau aku mau. Tak ada muatan sepenuh hati dalam ucapanku meski aku berkata jujur. Aku tak pernah bilang bahwa aku melihatnya sangat cantik, memujinya sangat cerdas, atau menunjukkan ekspresi sangat bahagia saat berjumpa dengannya. Aku terjebak dalam hubungan standar, yang meski kunikmati keberadaannya, namun tak bisa kumasukkan hatiku kedalamnya. Aku tidak merasa terpacu untuk mengembangkan semua fakta itu menjadi ungkapan kesungguhan hati dan romantisasi. Aku memang tulus saat mendekatkan diriku padanya, bahkan pada keluarganya. Setidaknya niat yang kubuat tak pernah jahat. Tapi apa boleh buat, hatiku tak mau terlibat.

Aku bukannya haus seks, kalaupun aku menginginkan sentuhan kedekatan saat berpacaran. Bahkan bagi sebagian orang hal itu akan dianggap tabu secara norma, hingga perlu dihindari agar tidak dosa. Tidak, aku tidak mencari pemuasan nafsu semata dengan wanita. Tapi aku menyadari kebiasaanku sendiri saat berpacaran. Biasanya, begitu serifikat pacaran sudah dalam genggaman, maka tak hanya obrolan yang butuh pendalaman. Pegangan tangan dan ciuman akan otomatis menjadi langkah selanjutnya saat berdekatan. Dengan Ima, aku tak kuasa melakukannya. Bukan karena aku tak ingin, tapi aku tak tahu cara memulainya. Dengan mantan-mantan pacarku dulu rasanya tak sulit memulai aktivitas ini. Bahkan sebelum resmi pacaranpun, aku akan mulai curi-curi pandang, coba-coba pegang, bahkan iseng-iseng peluk kalau aku berani. Tapi dengan Ima aku tak bisa! Mungkin karena kita berdua sama-sama tak lagi remaja? Atau mungkin akunya tak terpacu? Atau mungkin dianya yang terlalu protektif? Aku tak melihat sedikitpun celah dalam perilaku kesehariannya, bahwa dia menginginkan – atau setidaknya membuka kesempatan – untuk aktivitas bersentuhan ini. Maka akupun tak pernah mencobanya.

Ima adalah karakter yang sangat mandiri. Meski saat ngobrol perilakunya akan tampak mengalir dengan lembut, tapi dalam berargumentasi dia bisa tegas, dalam berprinsip dia bisa keras. Aku tak terlalu tahu masa lalunya, dia tak banyak cerita tentang hal itu. Tapi aku bisa menangkap proteksi diri yang agak berlebihan dalam dirinya. Sejak awal, aku tahu bahwa dia selalu menjaga kesopanan dan harga diri sebagai wanita untuk tidak memulai apapun kecuali aku yang minta. Wanita memang terkadang tak mau dianggap sebagai pihak yang suka duluan, atau terlihat sebagai pengejar dalam sebuah hubungan. Dia akan duduk diam memasang pagar, sambil menunggu seorang pria yang datang dan mendobrak bangunan pagarnya itu. Sayangnya – untuk kasus Ima ini – pria itu bukanlah aku. Aku tak tahu bagaimana caranya menembus pertahanan dirinya. Nuansa kuasa diri Ima tampak sangat kuat, bagai tak ada celah kerapuhan dalam dirinya. Sangat jarang aku mendengarnya berkeluh kesah, atau menceritakan secara detail permasalahan yang sedang dihadapinya. Tak ada kesedihan, tak pernah putus asa, tak pula dia larut dalam kegembiraan yang memuncak. Semuanya seperti tertata rapi, dalam takaran yang tepat, dan berada pada tempatnya sebagaimana mestinya. Dan walaupun aku tak pernah secara eksplisit menanyakan pendapatnya tentang batas sentuhan fisik saat berpacaran, aku bisa menduga bahwa dia tidak mendukung aktivitas itu. Aku bahkan hampir yakin bahwa tak ada seorang priapun yang pernah berhasil mencium bibirnya, tak terkecuali mantan pacarnya sekalipun, kalau ada.

Ima memang susah ditembus. Dan akupun tak merasa terdorong untuk berusaha lebih jauh lagi. Satu hal yang aku tahu pasti, adalah pendapatku tentang isi hati, bahwa aku tak bisa membohongi diri. Aku tak bisa, jatuh cinta sama Ima.

Betapa sayang harus melepas hubunganku dengan Ima. Tapi memang tak ada pilihan lain. Aku sebaiknya menjauh meski tak berpindah lokasi, menjaga jarak dengannya sejauh sambungan komunikasi. Tak ada gunanya berteman, dan tak akan adil buat dia kalau aku tetap dalam jangkauan. Waktu, sebaiknya dia peruntukkan buat pria lain saja. Seorang pria yang akan berhasil meruntuhkan pertahanan diri Ima, membuatnya terpesona, mencipta kenyamanan saat bersama, hingga tanpa sadar Ima akan rela menampakkan sisi rapuh dalam dirinya untuk dipersembahkan kepada pria terbaik pilihannya. Dan tanpa rasa malu yang tersisa, Ima akan sanggup bilang lantang kepada kekasihnya, bahwa dia membutuhkan pria itu dalam hidupnya.

Aku tak dibutuhkan oleh Ima. Aku bukan sumber bahagianya, bukan pula tempat dia mencurahkan keluh kesahnya. Dia mungkin menikmati hubungan pertemanan denganku. Tapi menurutku, siapapun pria di sampingnya – asal dia cukup cerdas dan berwawasan luas – akan bisa mencapai tingkat kedekatan seperti yang kumiliki. Tak harus aku. Dan yang pasti bukanlah aku yang akan mencapai tingkat kedekatan dengan Ima yang lebih dari ini. Semoga suatu saat nanti Ima akan mendapatkannya. Akupun tulus mendoakannya.

Lagu Nice Work If You Can Get It kembali terngiang di kepalaku. Bagian penghabisan dari lagu ini seperti menyimpulkan akhir dari masa perjuanganku di arena perjodohan. Berawal dengan pengharapan, berusaha dengan sepenuh niatan, dan ditutup dengan kegagalan. Akupun kembali pada kondisi melajang sekali lagi. Dan tetap tak tahu bagaimana caranya mendapatkan istri.

Loving one who loves you
And then taking that vow
Nice work if you can get it
And if you get it…

…won’t you tell me how?

Mencintai seorang yang mencintaimu
Kemudian berjanji sehidup semati bersamamu
Sungguh hebat kalau kamu bisa dapat
Dan kalau kamu sudah dapat…

…tolong kasih tahu aku bagaimana caranya!

~~~ * ~~~ * ~~~ * ~~~

Tahunpun berganti. Aku menjomblo lagi. Aku tak pandai membuat resolusi. Biasanya gagal tak berarti tanpa alasan pasti. Mungkin itu adalah bukti nyata bahwa aku tak pernah tuntas melakukan sesuatu. Atau tidak fokus dengan cita-cita yang kumau. Atau jadi seperti takut bermimpi karena tercapai atau tidaknya tak ada yang tau.

Usiaku sudah dua puluh sembilan. Sebentar lagi tiga puluh, dan aku masih begini-begini aja. Pacar tak punya, karirpun belum maksimal. Sudah empat tahun sejak kepindahanku ke Jakarta aku bekerja di kantor majalah berita mingguan ini. Setahun menjalani Staff dan tiga tahun menjabat Associate Editor, sepertinya sudah waktunya bagiku untuk cari kerja di tempat lain. Posisi Managing Editor tampaknya tak bisa kucapai di kantor ini, mengingat atasanku yang menjabatnya sudah sangat nyaman berada di posisinya sekarang. Diapun tak tampak seperti ingin mengejar karir yang lebih tinggi atau mencarinya di tempat lain. Hubungan kami dekat meski usianya lima tahun diatasku. Dia memang membuka diri demi kedekatannya dengan semua anak buah. Dalam beberapa kesempatan dia sempat menyarankan aku untuk mencari lowogan bekerja di tempat lain agar jabatan dan pendapatan bisa meningkat dibanding yang kumiliki sekarang. Kalau aku tak sangat mengenal karakternya yang bijaksana dan baik hati, pasti kupikir dia sedang ingin mengusirku sebagai anak buahnya. Kenyataannya adalah dia tulus menyarankan itu padaku. Dia bilang aku bekerja sangat baik dan sudah sepantasnya naik kelas jika memungkinkan, yang mana tidak di kantor ini selama ada dia. Sejujurnya, aku merasa diriku sangat beruntung bekerja disini. Atasanku baik, rekan kerjakupun menyenangkan. Aku kerasan di kantor ini. Namun dari sudut pandang mengejar karir, kenyamanan adalah bumerang paling mematikan. Nyaman seringkali tak beda dengan malas mencari peluang. Dan memang itulah yang terjadi padaku empat tahun belakangan ini.

Sisi baik dari masa kerjaku yang lama disana adalah seringkali aku dipercaya memegang pekerjaan penting. Jazz Concert adalah salah satunya, dimana aku ditunjuk sebagai ketua panitia, mengingat majalahku menjadi sponsor utamanya. Tak pelak kerjaanku membludak. Tiga bulan lagi acara ini berlangsung, makin hari makin banyak saja masalahnya. Namun terkadang hidup memberi penyeimbang. Aku bagai tak bernapas dengan pekerjaan yang memacu kaki menyesak kepala, tiba-tiba angin segar datang menerpa. Hatikupun berbunga.

Aku dipertemukan dengan Meri. Aku langsung jatuh hati.

Link Lagu “Nice Work If You Can Get It”

#TJMK : Bab 2 “Marketing Me”

BAB 2
Marketing Me
Usia: 28 tahun
Lokasi: Jakarta
Masa: 2004 – 2005

Pernikahan adalah tujuan akhir dari jatuh bangunnya usahaku mencari cinta. Dan aku telah melakukan apa saja untuk mencapainya, termasuk mencarinya di tempat yang tadinya kupikir adalah lokasi yang mustahil mendapatkan cinta disana. Iklan Biro Jodoh!

Usiaku kini sudah 28, berstatus jomblo dengan kondisi capek menuruti kata hati melulu. Kucobalah mengiklankan diriku di koran lokal Jakarta.

Pria, lajang, Islam, Jawa, 28th, 170cm/70kg, berkacamata, pendidikan S1, karyawan swasta, mendambakan wanita lajang, S1, Islam, 25-28th, karyawati, berkulit terang, ingin serius menikah.

Tapi aku tak merasa cukup hanya dengan menuliskan sederet kata singkat yang bagiku tak menjelaskan apapun, kecuali informasi bahwa aku seorang bujang lapuk yang putus asa ingin segera menikah. Aku bisa menulis, sehingga kubuatlah sebuah karangan bebas yang menggambarkan kondisi lajangku saat itu, meski aku harus membayar sedikit ekstra untuk bisa memuat tulisanku di halaman iklan jodoh. Kuceritakan tentang cinta pertamaku, kupaparkan definisiku tentang cinta yang kutahu, dan kumasukkan musik jazz didalamnya. Kalau saja koran bisa memunculkan suara saat kita membacanya, pasti akan menyenangkan mendengar ilustrasi musik yang mengiringinya. Setidaknya itulah bayanganku saat memasukkan unsur musik dalam tulisanku, berharap pembaca hanyut sepertiku dalam adonan kalimat, lirik dan musik yang aku sajikan. Tampak terlalu berlebihan? Mungkin memang berlebihan. Tapi aku maunya begitu. Jadi, aku tulis saja seperti yang kumau, tak peduli hasilnya nanti seperti apa. Aku tidak mentargetkan berapa banyak surat yang masuk untuk melamarku dari iklan jodoh ini. Yang terpenting adalah aku sudah membuat sebuah presentasi diri sejujur diriku sendiri.

Lagu yang kusajikan adalah Let’s Do It, Let’s Fall In Love ciptaan Cole Porter di tahun 1928. Sengaja tak kupilih lagu sendu yang mengiringiku, karena kuingin ada semangat dalam menyikapi kesendirianku ini, dan menyongsong harapan bahwa dari aktivitas iklan jodoh inipun aku akan mendapatkan cinta dan – jika aku beruntung – pernikahan. Lagu ini – meski terangkai panjang lirik lagunya dan unik pemilihan katanya hanya untuk menyamakan rima – sebetulnya hanya mengemukakan satu perihal, bahwa semua mahluk di bumi ini melakukan sesuatu yang sama, yaitu jatuh cinta dan beranak-pinak.

But that’s why birds do it, bees do it
Even educated fleas do it
Let’s do it, let’s fall in love

In Spain, the best upper sets do it
Lithuanians and Lats do it
Let’s do it, let’s fall in love

Itulah mengapa burung, juga lebah, melakukannya
Bahkan kutu yang cerdaspun melakukannya
Jadi, marilah kita lakukan, marilah jatuh cinta

Di Spanyol, orang-orang kaya melakukannya
Orang Lithuania dan Latvia juga melakukannya
Jadi, marilah kita lakukan, marilah jatuh cinta

Ternyata banyak juga yang mengirimkan surat kepadaku melalui PO BOX koran itu. Kiriman pertama berupa segepok surat kuterima dua minggu setelah tanggal tayang iklan biro jodohku itu. Jumlahnya ada 18 surat. Cukup membuatku terkejut. Lalu seminggu kemudian aku mendapatkan lagi 10 surat. Lalu dua minggu kemudian, yang terakhir, 6 surat. Total 34 surat dalam sebulan menurutku sudah sangat banyak. Mana mungkin aku bisa kenalan dengan wanita sebanyak dan secepat itu dalam kondisi normal? Satu saja belum tentu! Dalam mencapai cita-cita, sebuah tindakan harus dilakukan untuk memulainya. Iklan biro jodoh ini boleh juga ternyata, pikirku bersenang hati tanpa ingin membandingkan jumlah surat lebih banyak yang mungkin diterima orang lain dengan iklan serupa. Aku tak peduli. Sebaiknya aku fokus diri melakukan seleksi atas surat-surat ini.

Tentunya tak semua surat aku balas, meski aku baca semua surat itu dan aku teliti satu per satu. Karena memang tak ada keharuskan mengirim foto, dan fotoku sendiri juga tidak ada di koran itu, maka sebisa mungkin aku menganalisa karakter setiap wanita “penggemarku” itu melalui tulisannya. Banyak hal bisa disimpulkan dari cara seseorang saat menuangkan pendapat, maksud dan tujuan dalam sebuah tulisan. Bahkan konon kabarnya ada ilmu khusus yang bisa menilai karakter seseorang dari tulisan tangan dan tanda tangannya. Aku tentu saja tidak sampai sejauh itu menganalisa. Aku cukup melihat dari informasi yang disampaikan, pilihan kata, dan rangkaiannya dalam kalimat hingga memunculkan kesan tertentu pada diriku. Yang kucari adalah kesan cerdas, jujur dan tulus. Dan ternyata memang tak banyak surat yang berhasil memunculkan kesan itu pada diriku. Maka kubalaslah hanya beberapa surat dari mereka. Tentunya tak lagi melalui surat tertulis, melainkan melalui telpon atau SMS ke nomer kontak yang mereka tulis dalam surat.

Adalah Yeni, Dewi, Putri dan Linda, empat wanita yang hanya kutemui satu kali dan tak kuhubungi lagi. Alasannya sederhana, kulitnya kurang terang. Aku tidak mengharapkan kuning langsat atau putih bersinar, hanya saja entah kenapa aku tak pernah bisa tertarik secara fisik dengan wanita berkulit sawo matang, meski banyak orang menyebutnya sebagai eksotik. Dan bagiku, ketertarikan fisik adalah pintu depan menuju sebuah hubungan. Aku sadar ini dangkal, bahkan ada salah satu surat dari wanita bernama Dona yang isinya hanya mencaci maki diriku lantaran mencantumkan prasyarat berkulit terang di iklan biro jodoh, yang baginya sangat bodoh dan tolol. Akupun hanya bisa membacanya dengan rasa malu hati tanpa bisa mendebat atau meminta maaf, karena dia sepertinya sengaja tidak mencantumkan nomer kontak dalam suratnya. Dalam hati aku berkata, untung aku tidak mencantumkan prasyarat langsing semampai. Semakin dangkal saja kesannya aku nanti, meskipun kenyataan membuktikan bahwa para mantanku biasanya berstatus fisik putih langsing semampai.

Namun apa boleh buat. Meskipun aku sudah meluangkan waktu bertemu dan bercengkrama dengan keempat wanita itu, aku tak merasakan adanya keinginan untuk bertemu yang kedua kali. Aku tahu batasan diriku dalam menyukai wanita. Dalam sekali pertemuan saja aku bisa merasakan ada atau tidaknya getar hati yang menumbuhkan keinginanku untuk memenangkan hati wanita itu. Dengan mereka aku tidak mendapati getar itu, meski bereka terkesan lucu dan cerdas. Warna kulit – seperti halnya paras wajah dan bentuk tubuh – memang samasekali tidak mencermin karakter seorang wanita. Tidak pula hal itu akan menjadi jaminan kelanggengan hubungan pria dan wanita. Tapi apa mau dikata, pintu depan harus tetap dilewati untuk bisa masuk kedalam hubungan yang lebih dekat ke arah pacaran. Dan bagiku, jika ketertarikan fisik itu tidak terpenuhi, maka pintu depanpun tak bisa kubuka. Atau mungkin lebih tepatnya adalah tak ingin kubuka, karena toh sebetulnya aku sendirilah yang pegang kuasa atas pintu depan itu.

Kalau ada yang bisa kusimpulkan dari situasi ini adalah bahwa jatuh cinta tidaklah mudah. Terlalu banyak pilihan – atau merasa diri masih punya banyak kesempatan – justru membuatku menjunjung tinggi prasyarat yang kubuat sendiri, meski hal itu tidak relevan dengan keberhasilan sebuah hubungan. Bahkan kesan bodoh dan tolol yang secara vulgar disampaikan Dona, tak lalu membuatku perlu melepaskan diri dari prasyarat itu. Dan akupun tetap semangat mencari cinta lagi. Masih ada beberapa surat yang bisa kutindaklanjuti.

The Dutch in Old Amsterdam do it
Not to mention the Finns
Folks in Siam do it
Think of Siamese twins

Some Argentines, without means, do it
People say, in Boston, even beans do it
Let’s do it, let’s fall in love

Orang Belanda di kota tua Amsterdam melakukannya
Demikian juga orang Finlandia
OrangThailand juga melakukannya
Buktinya ada banyak anak kembar disana

Orang Argentina, meski miskin, juga melakukannya
Katanya, di Boston bahkan kacangpun melakukannya
Jadi, marilah kita lakukan, marilah jatuh cinta

‘Hai Rani, saya Erik.’
‘Hai Mas Erik. Akhirnya kita bertemu juga ya.’

Rani berkulit terang, tidak terlalu tinggi namun tak juga pendek, tidak gemuk tapi agak besar perawakannya, mungkin karena tulang tubuhnya tergolong tebal. Oke lah, meski tak ideal tapi aku tak keberatan dengan fisiknya, tapi tampaknya ada sesuatu yang menghalangiku untuk langsung tertarik padanya. Apa ya? Aku mencarinya sambil melanjutkan perbincangan.

‘Ooo…begitu. Ternyata tak mudah menjadi guru TK jaman sekarang ya Ran. Jadi, setelah kamu lulus menjadi Sarjana Hukum, sekarang kamu kuliah lagi pendidikan guru TK yang setara S1 juga?’
‘Iya Mas. Soalnya aku sudah terlanjur suka menjadi guru TK, jadi mau tak mau harus kujalani syarat-syarat yang harus dilalui. Mungkin karena sejak lulus kuliah Hukum aku langsung dapet kerjanya jadi guru TK, nggak pernah ngrasain kerja kantoran, jadinya ya inilah pekerjaan yang aku pilih dan akan aku seriusin.’
‘Orang tuamu tidak keberatan? Mereka kan sudah membiayaimu kuliah sampai lulus sarjana, dan sekarang kamu malah sekolah setara yang lain lagi. Tidakkah mereka merasa rugi?’
‘Untunglah orang tuaku cukup modern dan demokratis mendidik anak-anaknya. Mereka bilang, kalau aku memang mau serius di jalan yang kupilih sendiri, ya silakan saja asal sudah dipertimbangkan secara matang dan tidak main-main. Tak ada istilah merugi dalam hal pendidikan, apapun pelajarannya.’
‘Orang tua yang bijaksana.’
‘Iya memang, terimakasih Mas. Lagipula, apa sih yang kita cari dalam bekerja kalau bukan kenyamanan dalam melakukannya? Dan kalau sudah pada tingkatan sangat nyaman, maka rasanya sudah tak lagi seperti bekerja. Rasanya ya seperti kegiatan menyenangkan yang kita lakukan setiap hari. Begitulah kira-kira yang kurasa saat mengajar anak-anak di sekolah TK.’
‘Pilihan yang benar dan berani, Rani. Salut deh sama kamu.’

Rani tentu saja cerdas, dan mandiri, dan berasal dari keluarga ideal. Akupun tak berkendala ngobrol bersamanya. Hanya saja semakin lama kami ngobrol semakin aku sadar bahwa ketidakcepatanku dalam menyukai dia ternyata terletak pada wajahnya. Parasnya kurang cantik. Ataupun kalau cantik bisa dipoles memakai make up, kecantikan yang akan muncul dari wajahnya mungkin bukan sesuai seleraku. Tapi setelah ngobrol santai kira-kira dua jam bersamanya sepanjang makan siang, aku putuskan untuk mencoba bertemu lagi dengan dia. Siapa tahu kali ini aku akan lebih tertarik padanya. Mungkin ketertarikanku padanya bisa berkembang seiring berjalannya waktu, pikirku. Maka kuajaklah dia bertemu lagi minggu depan untuk nonton bioskop.

Dalam kurun waktu seminggu tersebut tentunya aku tidak memutus komunikasi dengan Rani. Telpon dan SMS hadir setiap hari dengan intensitas sedang dan kata-kata ringan. Akupun tak merasa perlu untuk mengumbar rayu atau berucap syahdu. Semuanya kulakukan dengan standar kesopanan yang menurutku sepantasnya kulakukan untuk menghargai seorang teman baru. Ranipun membalasnya dengan respon yang sama dalam bertutur kata. Hanya saja kurasakan ada sedikit ketertarikan dia kepadaku yang lebih banyak ketimbang ketertarikanku padanya. Kalau kucermati, jumlahnya lebih banyak dia memulai telpon atau SMS kepadaku daripada sebaliknya, meskipun aku tak pernah melewatkannya tak terjawab. Kami selalu kemudian ngobrol dengan santai dan bercanda ria sebagaimana mestinya, tak peduli siapapun yang memulai kontak. Dan sungguh aku tak keberatan dia menyukaiku lebih dulu. Mungkin nanti aku akan bisa juga menyukainya, pikirku.

Tenyata aku tak bisa menyukainya. Dan kesimpulan itu kuambil agak lama, yaitu setelah empat kali pertemuan dalam kurun waktu satu bulan. Sekali makan siang, sekali nonton dan dua kali nongkrong di kafe. Aku tak bisa menyukainya. Dan tentu saja aku belum mengajaknya pacaran. Wajahnya – meski tak mempengaruhi komunikasi diantara kami – tetap saja tak bisa membuatku suka padanya. Dan semakin lama aku berhubungan dengannya, semakin aku menemukan kekurangan-kekurangan baru pada dirinya. Ini mungkin efek samping dari ketidaktertarikan diriku pada wajahnya, sehingga secara tidak sadar aku mencari-cari kekurangan lain dari dirinya, setidaknya sebagai pembenaran diriku bahwa aku tak meninggalkannya hanya karena parasnya semata. Oh, betapa hujatan Dona itu sangat membekas dalam hatiku, hingga aku susah mengaku diri bodoh dan tolol, walau cuma aku sendiri yang tahu!

Dia ternyata suka film horror, yang mana aku sama sekali tak bisa menikmatinya, dan betapa sangat kebetulan film-film yang diputar pada saat itu, kalau tidak lebih buruk, ya sudah pernah kami tonton sebelumnya. Tinggallah satu film horor itu, yang ternyata dia merasa puas selesai menontonnya. Dia agak kaku dalam bergaul dan membatasi waktu bersosialisasinya, sehingga aku tak bisa mengajaknya clubbing di malam hari atau menonton midnite show. Sedangkan aku sebagai anak kost di Jakarta mempunyai kemerdekaan penuh untuk menjelajahi malam tanpa batas. Terbayanglah dalam pikiranku bahwa Rani ini akan sulit menggabungkan diri diantara teman-temanku nantinya kalau sudah kukenalkan. Kemudian masih ada lagi pernak-pernik ketidaksempurnaannya dimataku, seperti caranya berpakaian, cara dia makan, seleranya berbelanja, aliran musiknya, hobinya memelihara kucing, dan lain-lain yang secara otomatis tertolak di hatiku hanya karena berseberangan dengan kesukaanku. Dan tak sedikitpun terpikir olehku untuk mentolerir hal-hal kecil itu untuk menyelaraskannya denganku. Buat apa, pikirku, toh aku tak menyukainya. Ya, sesempit itulah jalan pikiranku, karena menurutku masihlah seluas samudra pilihan cintaku.

Electric eels, I might add, do it
Though it shocks them, I know
Why ask if shad do it?
Waiter, bring me shad roe!

In shallow shoals, English soles do it
Goldfish, in the privacy of bowls, do it
Let’s do it, let’s fall in love

Perlu kutambahkan, Belut Listrikpun melakukannya
Meski mereka sampai kesetrum satu sama lain
Dan kenapa pula ditanya apakah ikan melakukannya?
Oh, Pelayan, saya pesan masakan Telur Ikan ya!

Di tepian sungai, ikan-ikan pipih-pun melakukannya
Sepasang Ikan Mas di aquarium juga melakukannya
Jadi, marilah kita lakukan, marilah jatuh cinta

Kegagalanku menyukai Rani ternyata memberiku kesulitan baru, yaitu bagaimana caranya melepas hubungan dengan seorang wanita yang sudah terlanjur menyukaiku. Aku tentunya tidak akan melakukan tindakan drastis seperti bertingkah selayaknya kami tak pernah saling kenal. Bagaimanapun juga dia seorang yang bisa kujadikan teman kalau dia tak keberatan. Tapi tampaknya itu tak mungkin terjadi. Tidak akan nyaman bagiku dan baginya. Aku masih butuh kebebasan untuk bertemu dengan kandidat-kandidat baru yang masih antri untuk kuajak ketemuan, sedangkan dia tentunya tak akan nyaman mengetahui hal itu. Kalaupun aku terus menerus menemuinya, akupun akan kasihan padanya karena aku merasa bahwa dia mengharapkan perkembangan hubungan yang mengarah pada keseriusan. Aku tak bisa memberi itu. Maka kuputuskan saja untuk selalu mengelak.

Aku tak tega untuk tidak menerima telpon darinya, atau tidak membalas SMS-nya. Teknik mengelakku hanya satu, yaitu menjawab semua serangannya dengan jawaban tidak. Tidak enak badan, tidak ada waktu, tidak ingin jalan, tidak ingin nonton, tidak lapar, dan sederet tidak-tidak lainnya yang pada intinya menolak sebuah pertemuan. Tapi semua kujawab, tak ada serangan yang kulewatkan. Setidaknya aku merasa lebih sopan dan menghargainya dengan cara itu, berharap dia tidak menambah intensitas ketertarikannya padaku dan berhenti menghubungiku dengan sendirinya. Dan setelah tiga minggu berlalu, serangannya akhirnya berhenti juga. Ah, syukurlah! Semoga dia tidak membenciku atas penolakan ini.

Selama tiga minggu itu, aku menjajaki kemungkinan bertemu dengan dua kandidat berikutnya, yaitu Lola dan Maya. Dengan berbekal pengalamanku bertemu Rani, aku sudah bertekat untuk tak lagi mengulur-ngulur waktu jika nantinya kudapati bahwa mereka tidak menarik saat pertemuan pertama. Mengulur waktu hanya akan menambah beban hidupku saja, toh menjadikan mereka teman setelah bertemu dengan sebuah pengharapan, tak akan mungkin terjadi. Ingatlah, ini adalah ajang Biro Jodoh, bukan Biro Teman! Berawal dari orang asing, sebaiknya segera kembali menjadi orang asing. Kalau mau menambah teman, bukan disini tempatnya.

Sayangnya, itu jugalah yang terjadi dengan Lola dan Maya, yang kutemui sendiri-sendiri di waktu yang berbeda. Aku tak bisa menyukai mereka. Kekurangannya ada pada banyak hal-hal kecil, yang mana kalau semua itu disatukan, kesan yang kudapat adalah tidak menarik. Lola langsing semampai berkulit terang. Secara tersurat dia memenuhi prasyarat dasar fisik yang kumau, namun secara kasat mata tak kuperoleh kesan sehat. Dia terlalu kurus, ditambah dengan penyakit Asma yang masih suka kambuh setiap pergantian musim, aku dengan tulus berharap semoga dia mendapatkan pasangan hidup seorang Dokter yang bisa merawatnya. Dan kalau bisa segera. Amin! Sedangkan Maya kelewat sehat. Dia seorang instruktur senam paruh waktu sambil bekerja sebagai staf pegawai negri sipil. Posturnya sempurna dengan bagian dada membusung dan bagian pantat menyembul. Diapun berkulit putih bahkan terlihat terawat dengan wajah penuh make up melekat. Tapi ternyata kecintaannya pada perawatan tubuh dan wajah berbading terbalik dengan minatnya pada musik, film, buku, dan macam seni lainnya, bahkan pada tingkatan umum sekalipun.

Aha! Aku ternyata tak sedangkal yang Dona hujatkan kepadaku! Aku ternyata masih membutuhkan wanita yang menarik diluar putih semampai dan paras cantik. Masih butuh wanita cerdas yang ngobrolnya nyambung diluar prasyarat fisik. Ah, tapi tak ada guna mengelak dari kenyataan diri! Yang namanya prasyarat tetap saja prasyarat! Bentuknya adalah standar yang minta dipenuhi di awal perkenalan. Lama-lama aku memandang prasyarat ini tak ubahnya seperti jebakan dalam memulai sebuah hubungan. Fisik, cantik, dan menarik. Sudah kudapat tiga jebakan dalam perjalanan karirku yang menyedihkan di Biro Jodoh ini. Dan sudah tiba saatnya mendeklarasikan bahwa secara resmi proyek pencarian cintaku di Biro Jodoh ini berakhir gagal!

The most refined ladybugs do it
When a gentleman calls
Moths in your rugs do it
What’s the use of moth balls?

Mosquitoes, heaven forbid, do it
So does every katydid do it
Let’s do it, let’s fall in love
Let’s do it, let’s fall in love
Let’s do it, let’s fall in love

Bahkan Ibu Kepik yang anggunpun melakukannya
Saat sang Bapak Kepik meminangnya
Ngengat di karpetmu juga melakukannya
Emang apa gunanya diciptakan kapur barus?

Nyamukpun, amit-amit, melakukannya
Sebagaimana belalang juga melakukannya
Jadi, marilah kita lakukan, marilah jatuh cinta
Jadi, marilah kita lakukan, marilah jatuh cinta
Jadi, marilah kita lakukan, marilah jatuh cinta

Link Lagu “Let’s Do It, Let’s Fall In Love”

#TJMK : Bab 1 “Mission: Impossible”

BAB 1
Mission: Impossible
Usia: 30 tahun
Lokasi: Jakarta
Masa: Agustus 2006

Ini adalah cinta.
Karena aku ingin menamainya cinta.
Bukan karena aku tahu kelakuanku saat jatuh cinta.
Tapi karena aku berkuasa atas rasa dan logika untuk bilang cinta.

‘Meri, thanks a lot ya sudah mau aku ajak makan malam barusan.’
‘You’re welcome, Erik. And happy birthday lagi ya. Sekarang skor kita satu sama. Sama-sama menghadiri birthday dinner masing-masing. Temen-temen kantormu seru juga ya. Dari teman kamu itu saja, seharusnya Lisa bisa milih salah satu buat dipacarin.’
’Sebetulnya mereka bukannya nggak ada yang naksir sama Lisa. Lisanya aja yang nggak sadar. Atau mungkin cowoknya yang sudah mundur duluan sebelum ngajak pacaran. Gosipnya sih, standar Lisa mencari pacar agak ketinggian. Yang tadi balik ke kantor sama Lisa kan pernah naksir dia juga.’
’Iya juga sih. Tapi Lisa emang maunya begitu, ya mau bilang apa. Untungnya aku nggak sekaku dia.’
’Sekarang maksudmu kan. Dari ceritamu, kamu dulu bahkan sempat menutup hati melebihi kakunya Lisa, bukan?’
’Hahaha, iya juga sih. Untung sekarang sudah nggak.’
’Berarti aku datang di saat yang tepat. Aku parkirin mobil disini sebentar ya. I need to talk to you.’
[Sambil memarkir mobil di pinggir jalanan perumahan yang sepi itu, hatiku berdebar kencang. Aku akan menyatakan cinta pada Meri.]
‘Ada apa Rik?’
‘I wanna give you this.’
‘Apa ini? Bukankah kamu yang ulang tahun? Kok aku yang dapet kado?’
’Just open it.’
‘Ini CD apa? Soundtrack De-lovely. Filmnya bagus ya?’
‘Bagus. Musikal pastinya, dan Jazz musiknya, karena ceritanya tentang kisah nyata Cole Porter.’
‘Wah, harus nyari DVD-nya nih. Makasih ya, Rik. Ini ada kartunya. Aku buka ya?’
‘Bacalah. CD-nya aku putar disini dulu ya.’
[Lagu So In Love mengalun.]

Dear Meri,
I can not begin to tell you how lucky I am to have met you.
To know you. To be close to you.
I’m not good with words, so I’m giving you this song to represent what I feel about you.

SO IN LOVE

Strange Dear, but true Dear
When I’m close to you Dear, the stars fill the sky
So in love with you am I

Even without you, my arms fold about you
You know darling why
So in love with you am I

In love with the night, mysterious
The night when you first were there
In love with my joy, delirious
When I knew that you could care

So taunt me, and hurt me, deceive me, desert me
I’m yours till I die
So in love with you, my love, am I

Meri, I love you.

On my thirtieth birthday,
Erik.

[Aku memegang tangan Meri.]
‘Meri, aku tahu posisiku dalam kehidupanmu. Aku tahu masih ada Mas Bimo di hatimu. Aku disini tidak menawarkan pacaran. At least tidak sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku sayang sama kamu.’
[Meri tersenyum. Senyum yang tampak sekali terpaksa. Dia memaksa senyumnya muncul di kala matanya menahan tangis.]
’Oow, Meri, jangan sedih Sayang.’
[Untuk pertama kalinya aku memanggilnya Sayang. Kepalanya tertunduk seperti tak ingin ketahuan kalau dia menangis. Kupegang lehernya dengan harapan dia mau mendongak. Dia tidak bergeming.]
’I love you because I want to make you happy. Bukannya malah bikin kamu sedih.’
[Wajah Meri tak bisa kulihat, tapi nafasnya tak menyembunyikan isakannya.]
‘Hushh…hushh…sudah sudah Sayangku…sudah nangisnya…’
[Aku berusaha menenangkan tangisnya. Kucoba mendekatkan tubuhku ke arahnya agar dia bisa menangis di pundakku, tapi tanpa kusangka dia malah memelukku erat dengan gerakan cepat. Meski setengah kaget, akupun memeluk balik sebagai ekspresi rasa sayangku padanya.]
’Erik, I’m so sorry.’
[Suaranya tersedak. Terisak. Tapi aku tahu satu kepastian. Aku tidak diinginkan. Aku tertolak.]
’Hushh…hushh…udah ya…udah ya…nangisnya udah.’
[Aku melepaskan pelukanku perlahan. Kupegang kepalanya dan kuseka air matanya dengan ibu jari tanganku. Tapi dia tak kunjung mendongak, seolah sengaja menolak tatapan mataku. Dan memang itulah yang mungkin sedang dilakukannya sebagai akibat dari rasa bersalahnya. Aku paham. Tapi aku tetap ingin memandang matanya saat aku bicara padanya.]
’Look at me, Meri. Look at me!’
[Ucapanku sedikit menghentak yang memang kusengaja. Aku harus tahu isi hatinya, meski mungkin tak akan pernah terucap olehnya. Akan kucari rasa cinta itu. Cinta darinya yang ada untukku. Cinta yang tersirat dari tatapan matanya. Diapun mendongak. Matanya menatapku meski aku tahu baginya amat berat. Dan ternyata aku tidak salah. Hatiku berkata, dia mencintaiku. Aku tetap tertolak, aku tahu itu. Tapi aku juga tahu, dia mencintaiku. Dan itu saja, cukup bagiku.]
‘Meri, listen to me. You have nothing to be sorry about. Nothing, Sayangku. Nothing.’
[Suaraku melemah seiring dengan terpacunya adrenalinku. Kulihat cinta di matanya dan aku tak akan menyia-nyiakannya. Kalaupun ini akan menjadi yang pertama dan satu-satunya, akupun rela. Aku harus menciumnya.]
‘Nothing…’
[Sekali lagi, aku tahu aku tertolak. Tapi cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Dan bibirkupun tak melumat sebelah ciuman.]

Malam itu menandai resminya Meri berselingkuh denganku. Meri adalah gadis cantik yang berusia sama denganku. Adiknya, Lisa namanya, bekerja sekantor denganku. Aku adalah Editor, sedangkan Lisa, Reporter. Suatu hari secara tak sengaja Lisa memintaku mengantarnya pulang di sela istirahat makan malam saat ada rapat penting di kantor majalah kami. Alasannya adalah karena aku jago ngebut kalau setir mobil. Akupun tak menolak tawaran makan malam gratis itu. Saat itu adalah ulang tahun Meri, yang ternyata usianya hanya terpaut setahun dari Lisa, tapi cantiknya terpaut berlipat ganda di mataku. Kalau menurutku Lisa itu cukup menarik meski tidak kubilang cantik, maka Meri ini sangat tidak layak kuberi predikat hanya menarik. Dia adalah definisi ideal dari kata cantik. Sayangnya – atau mungkin untungnya bagiku – pacarnya yang berprofesi fotografer, namanya Mas Bimo, mendadak tidak bisa datang. Meski aku tak duduk disamping Meri – yang pasti disengaja olehnya yang meminta Lisa duduk di sampingnya sebagai pertanda bahwa dia perempuan baik-baik – namun kedekatan kami tak bisa dihindari. Kami sama-sama menyukai musik Jazz, dan kesamaan hobi dalam hal ini adalah tanda bahaya. Akupun seperti tak rela kalau komunikasi kami berhenti sampai di acara makan malam keluarga itu. Aku jadi agak berlebihan menawarkan kondisi-kondisi lanjutan agar kami bisa selalu terhubungkan. Pertama, menawarkan tiket gratis untuk Jazz Concert yang dalam waktu dekat akan diselenggarakan oleh majalah tempatku bekerja. Kedua – dan ini adalah tindakan bodohku yang fatal akibat ketertarikanku pada Meri yang luar biasa – aku menawarkan tugas fotografi Jazz Concert itu kepada Mas Bimo, pacarnya Meri. Dan ketiga, malam itupun berakhir dengan kami saling bertukar nomer handphone. Lengkaplah sudah. Sejak saat itu, secara resmi, komplikasi hubunganku dengan Meri dimulai.

Aku adalah pria romantis. Aku tidak suka nge-gombal, tapi tak kusangkal juga bahwa seringkali ucapanku terangkai indah dan tindakanku terkesan manis. Resepnya cuma satu, yaitu aku melakukannya dengan tulus. Aku tak tahu apakah itu resep yang mujarab, atau justru akan membuatku terjerembab, tapi dalam sebuah hubungan dengan wanita yang aku suka, aku tak akan setengah-setengah melakukannya, termasuk meyerahkan seluruh hatiku padanya. Ini mungkin terdengar klise, tapi aku tak tahu cara lain saat menghadapi situasi seperti ini. I’m hopelessly romantic, mungkin begitu istilahnya dalam bahasa Inggris yang susah mendapat terjemahan tepatnya dalam bahasa Indonesia secara singkat. Dan Meri telah menghidupkan kembali romantisme dalam diriku setelah sekian lama terkubur cukup dalam. Ya, cukup dalam, karena rasa itu tak akan muncul begitu saja meski ada wanita tersedia di hadapan.

Rasa itu sementara ini kunamai sebagai cinta. Cinta bukanlah seks, meski sensasi nikmatnya akan saling mempengaruhi di dua lokasi tubuh yang terhimpit, yaitu diantara dada dan diantara paha. Tidak, aku tidak sedang bicara tentang seks. Tapi… ah, apa boleh buat! Mau diakui atau tidak, menurutku dalam mencari cinta, semua pria pasti menginginkan – entah sedikit atau banyak – sensasi yang mampu memacu adrenalin mereka sampai ke pangkal pahanya. Sensasi itu akan tinggi derajatnya kalau diberi label cinta dengan pembuktian tulus dan setia, tapi akan sangat hina kalau hanya birahi semata. Setidaknya kebanyakan wanita akan memandangnya seperti itu.

Aku tentu saja pria normal yang sudah cukup umur untuk melakukannya. Dan kalau aku tidak takut dosa, akan lebih gampang kalau aku membelinya saja, atau mendapatkannya gratis dari wanita yang menyukaiku. Free sex bukanlah kegiatan rekreatif yang memancing gembiraku. Dan meski aktivitasnya tidak sampai dinamai sebagai prostitusi, tapi tetap saja nilainya menjadi sangat rendah di mataku. Ada semacam penghargaan kepada wanita yang dihilangkan mentah-mentah saat seks dilakukan tanpa tujuan yang bertanggung jawab, dalam hal ini adalah pernikahan.

Kalau hanya seks yang kucari, maka aku tak perlu segala kontemplasi ini, dan aku tak perlu juga mencari rasa yang namanya cinta. Aku akui bahwa di usia segini dorongan seksualku semakin memuncak, dan aku juga tak mengelak bahwa aku menikmati sensasi seksualitas berbatas yang kulakukan saat hubunganku dengan seorang wanita sudah sangat dekat, apalagi jika didukung dengan rasa cinta yang membara. Aku hanya tak mau melakukannya tanpa batas saat pernikahan belum dilaksanakan, setinggi apapun cintaku padanya. Itulah prinsipku saat ini. Usiaku sudah tiga puluh, sudah waktunya aku lebih bijaksana dalam berprinsip dibanding saat masa remaja dulu.

Di sisi lain, akupun paham betapa kota Jakarta tempatku tinggal ini sangatlah kosmopolitan. Bagi sebagian penduduknya, seks tak lagi dipandang sebagai barang tabu yang musti ditutupi. Beberapa bahkan terang-terangan tinggal seatap, atau se-apartemen, atau sekamar-kost, atau selokasi lainnya yang memungkinkan mereka berkehidupan layaknya suami-istri tanpa ada tanggapan negatif apapun dari lingkungan tempat mereka tinggal. Jakarta memang sekosmopolitan itu, dan aku bukannya naif, atau sok suci, yang kemudian menutup mata dan menghardik mentah-mentah atas kenyataan itu. Tidak. Aku juga warga Jakarta, yang meski tak menyetujui aktivitas negatif itu, namun cukup paham bahwa besar kemungkinan aku akan terkena efek samping dari perilaku seks pranikah yang merajalela, yaitu mendapatkan pacar yang tak lagi perawan.

Di masa lalu, jamannya kakek-nenekku, keperawanan seorang wanita mungkin masih layak menjadi bahan pertimbangan untuk menilai karakter seorang wanita saat melangkah ke jenjang pernikahan. Seks sangatlah tabu pada masanya, dan masyarakat tidak mentolerir sedikitpun hubungan seks pranikah. Seorang wanita kalau sudah kehilangan keperawanan sebelum menikah, maka dia bukanlah wanita baik-baik. Itu sudah harga mati, tak bisa ditawar. Di jaman sekarang, menurutku sangatlah tidak bijaksana memandang nilai seorang wanita hanya dari keperawanannya saja. Tidaklah adil kalau wanita dipandang rendah hanya karena sebuah bukti sebercak darah yang tidak muncul saat pertama kali bersenggama, sedangkan di sisi lain kaum pria tak perlu membuktikan keperjakaannya sebagai pertanda kebaikan karakternya. Sekali lagi, usiaku sudah tiga puluh. Aku sudah makan asam garamnya percintaan. Maka akupun berprinsip bahwa satu-satunya cara menilai seseorang – baik pria maupun wanita – adalah dari kedewasaan dirinya saat ini, bukan dari kesalahannya di masa lalu.

Tapi aku disini tak hendak bicara tentang seks. Aku mau bicara tentang hubungan pria dan wanita. Hubungan yang nyata. Hubungan yang sangat aku hargai dan juga dihargai dengan baik oleh pasanganku. Hubungan yang membuat para pihak merasa tersambung dalam perbincangan, terkesan dalam penampilan, dan tergetar dalam kedekatan. Mendapati semua itu dalam rutinitas keseharian, maka akan timbul kesenangan, atau kebahagiaan, atau kerinduan, atau apapun labelnya yang sifatnya sama, yaitu adiktif. Cinta, dengan segala ketulusanku dan curahan romantismeku, akan menjadi sebuah zat adiktif yang tak henti berkembang. Dan aku akan terus menambah intensitasnya, terus dan terus, bagai tak ada ujung pada bukit yang kudaki. Sampai di suatu saat yang tak kuduga – atau lebih tepatnya tak ingin kuduga – sang wanita akan pergi meninggalkanku. Lalu aku akan berusaha mengikhlaskannya, dan akhirnya aku akan kembali berstatus jomblo. Itulah rutinitas kisah cintaku. Meski kunyatakan bahwa aku sudah makan asam garamnya percintaan dengan beberapa wanita, tapi tetap saja belum kudapati sebuah hubungan yang bertahan cukup lama untuk diteruskan ke arah pernikahan.

Hubunganku dengan Meri adalah salah satu bukti terkini bahwa cinta telah sekali lagi berhasil membutakanku. Membutakanku dari cita-cita luhurku untuk mendapatkan hubungan yang mengarah pada pernikahan. Status jomblo adalah yang sedang kusandang saat bertemu dengan Meri. Dan akupun sadar sepenuhnya bahwa saat itu Meri berstatus sebaliknya. Namun hal itu tak sedikitpun menghalangiku untuk memunculkan rasa cinta ini untuknya. Tak sedikitpun. Sangat tidak bijaksana membiarkan perasaan dan hubungan kami berkembang dalam kondisi seperti itu. Sangat tidak bijaksana. Jodoh memang di tangan Tuhan. Tapi bukan berarti kita boleh berasumsi bahwa hanya karena kita mencintai seorang wanita, maka dialah jodoh yang diturunkan Tuhan untuk kita. Mendapat jodoh tidak begitu caranya. Percayalah – sekali lagi – aku sudah makan asam garamnya percintaan.

Aih aih, betapa sombongnya aku! Kenyataan membuktikan bahwa akupun tak lalu pandai dalam menemukan jodoh buat diriku sendiri. Aku tak pernah bisa keluar dari rutinitas tingkah lakuku saat menghadapi cinta. Tidak pula kali ini saat usiaku sudah bulat tiga puluh. Meski aku tahu pasti – sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen yakin – bahwa tak akan ada masa depan pernikahan antara aku dengan Meri, aku tetap saja menjalani percintaku ini dengan sebaik-baiknya.

Setelah malam itu, malam saat kami berciuman untuk yang pertama kalinya, Meri dan aku bukannya saling menjauh, kami justru saling mendekat. Intensitas pertemuan makin bertambah, pernak-pernik romantismepun makin kutebar. Dari aktivitas standar seperti ber-SMS mesra, kirim kado sebuah CD, setangkai bunga, sekotak coklat, lengkap dengan kartu-kartu cinta yang seringkali tak murah harganya. Aku tak peduli harga saat jatuh cinta, dan aku punya selera. Perpaduan yang mematikan buat pemuda tidak kaya sepertiku ini. Tapi toh, aku bersedia memaksimalkan semua yang kupunya, sepenuh jiwa dan raga. Satu-satunya yang tidak maksimal adalah sentuhan fisik, meski tentunya sama-sama kami nikmati. Bukan, ini bukan hanya dalam rangka memuaskan selangkangan semata. Dan aku tetap membuatnya berbatas, bukan tanpa batas. Meripun tak akan mau melakukannya tanpa batas. Dia wanita baik-baik yang tahu sampai dimana dia membatasi diri dalam hubungan fisik sebelum menikah. Tidak, aku tidak mendekati Meri untuk tujuan itu. Aku benar-benar mencintainya, dan akupun tahu dia menikmati cintaku secara fisik maupun metafisik.

‘Meri, kalau aku memintamu untuk menikahiku, bisakah kamu melepas Mas Bimo?’
[Hati-hati sekali aku menanyakan hal ini. Aku tak mau dia terbebani dan lalu menjauhiku karena rasa bersalahnya. Aku tak mau kehilangan Meri. Mending jadi selingkuhannya daripada tidak sama sekali.]
‘Oh Erik, jangan tanya begitu dong, please. Kamu kan tahu aku sayang sama kamu.’
[Sayang adalah kata yang ambigu. Bagiku sayang dan cinta itu sama saja. I love you juga jadinya kalau di-bahasa-Inggris-kan. Tapi bagi orang lain mungkin kata ‘sayang’ digunakan untuk menghindar dari kewajiban bilang ‘cinta’ yang memang tak dia rasa. Tapi ah, biarkan saja, tak perlu aku memperpanjang masalah sepele itu. Toh dia disini bersamaku.]
‘Iya Sayang, aku tahu.’
‘Tapi aku nggak bisa nglepasin Mas Bimo gitu aja. Dia nggak salah apa-apa. Keluarganya sudah dekat denganku, dan juga keluargaku sama dia. Aku nggak mungkin mutusin itu dalam sekejap.’
[Kenapa musti mikirin itu semua? Kalian kan belum menikah? Mas Bimo nggak harus bersalah dulu baru kamu putus kan? Kalau kamu cinta aku, tinggalin dia dong! Jadilah sepenuhnya milikku! Toh, kamu sangat menikmati aku!]
‘Iya Sayang, aku ngerti. Let’s not talk about it, then! Let’s…just…kiss…’
[Aku tak mau konflik. Kalau ada pilihan antara konflik dan bahagia, aku akan pilih bahagia. Sebaiknya berciuman saja daripada berantem.]

Lagu So In Love karya Cole Porter di tahun 1948 yang pernah kuberi kepada Meri, benar-benar mencerminkan kondisiku. Seolah tak ada yang bisa menghalangiku untuk mencintainya. Tak juga kepedihanku sendiri.

So taunt me, and hurt me
Deceive me, desert me
I’m yours till I die
So in love with you, my love, am I

Aku tak peduli kau mengejekku, atau menyakiti hatiku
Atau mengkhianatiku, bahkan meningalkanku
Aku tetap milikmu sampai maut menjemputku
Karena aku sangat mencintaimu, sayangku

Entah dia mencintaiku atau tidak, aku tak tahu. Dia tak pernah mengucapkannya padaku dengan jelas, dan aku tak peduli itu. Disitulah letak kebutaanku saat mencinta. Aku tak peduli dia mencintaiku atau tidak, selama dia bahagia jalan bersamaku, aku sudah puas. Aku senang bisa membahagiakan orang lain, apalagi membahagiakan seorang wanita yang aku cintai, hingga aku rela cuma berstatus selingkuhan, bukan pacar.

Perselingkuhan adalah yang kami lakukan. Meskipun aku bisa mengelak bahwa aktivitas berselingkuh hanya berlaku bagi mereka yang sudah punya pasangan, bukan yang jomblo sepertiku, tapi ah, sudahlah! Siapa sih yang mau kubohongi? Aku berhubungan dengan wanita yang sudah punya pasangan. Artinya, kesalahanku sama besar dengan kesalahan dia. Artinya juga, akupun berselingkuh. Ini bukan yang pertama kalinya bagiku, atau mungkin juga bukan yang terakhir? Aku tak tahu. Tak hendak juga aku memikirkannya terlalu panjang kedepan. Yang kutahu pasti saat ini adalah bahwa aku sedang terjerembab dalam perangkapku sendiri. Romantisme yang sengaja kubuat dan perhatian yang kuberi setulus hati, telah menumbuhkan kepuasan diri di hatiku, bahwa sekali lagi aku berhasil membahagiakan wanita. Terkadang aku berpikir, sebetulnya untuk siapakah aku mencinta? Untuk wanita yang kusuka, atau untuk kepuasan diriku sendiri mencapai level tertinggi dalam membahagiakan hati?

Oh hati, mengapa engkau selalu minta dipuaskan oleh cinta? Tak bisakah kamu seperti logika, yang cukup puas dengan kondisi sederhana dan mudah diterka? Tak ada yang sederhana tentang cinta. Aku pikir tadinya jalan yang benar adalah mengikuti kata hati. Tapi selalu saja kata hati membawaku ke dalam labirin cinta yang aku tak kuasa mengelaknya. Dan dilihat dari pengalamanku sendiri, cinta tak selalu membawaku ke akhir yang benar. Buktinya, ya statusku ini yang masih jomblo saja di usia yang tak lagi muda.

Bukannya aku tak berusaha menemukan jodohku dengan cara lain di luar cinta. Seperti yang kubilang tadi, aku sudah makan asam garamnya percintaan. Maka, mencari pasangan diluar kebiasaanku mencintapun pernah aku jalani.

Link Lagu “So In Love”

My Blog Novel “Thirty Jazzy Mr Knightley” (#TJMK): Synopsis & Prologue

TJMK Act 1 Cover - Blogvel

TJMK - Blogvel 01-04 TJMK - Blogvel 01-02

 TJMK - Blogvel 01-09

PROLOG
Usia 31, Bali, Desember 2007
How Do You Keep The Music Playing

=================================

Di kamar hotel ini, di Bali
Kamis, 13 Desember 2007

Dear Sayangku…

Terima kasih atas bulan madu yang menyenangkan bersamamu. Tiga malam bagai di khayangan adalah yang terindah yang pernah kurasakan. Hahaha, cliche sekali kedengarannya, tapi toh demikianlah yang sejujurnya. Bahasa cinta-cintaan seperti itu memang seringkali kita ketawain, tapi kali ini aku tak punya pilihan lain. Aku merasa bahagia, dan kamu adalah penanggungjawabnya.

Sayangku…

Sejak terbangun pagi buta tadi, otak dan hatiku tiba-tiba berkontemplasi. Mungkin karena ini hari terakhir kita berada di negeri dongeng. Mungkin karena rasa yang kelewat bahagia ini mesti dinetralisir oleh logika agar lebih membumi. Atau mungkin, simply, karena aku hobi mikir, hahaha. Kamu bahkan pernah bilang padaku, bahwa tidak semua hal perlu pemikiran panjang. Terkadang bertindak impulsif dan membiarkan sesuatu berlalu, justru memudahkan berkehidupan. Meski tak sepenuhnya kusetujui, namun kenyataan berbicara bahwa menikahimu adalah tindakan paling impulsif – untuk sesuatu yang sangat besar – yang pernah kulakukan selama hidupku.

Sayangku…

Diantara pemandangan pantai diluar kamar yang bahkan mataharinyapun belum dimunculkan, pemandangan kamar kita yang “berantakan”, dan pemandangan wajahmu yang mendamaikan, aku putuskan untuk menulis surat ini. Aku ingin memulai kehidupan pernikahan kita dengan sebuah pola pikir sederhana sebagai langkah pertamanya, yaitu bahwa “masa lalu biarlah berlalu dan masa depan butuh penyesuaian”. Aku belum punya teori berumah tangga yang ideal, dan meski aku tak pernah mau mengakui bahwa aku takut menghadapi masa depanku bersamamu, namun aku punya kekhawatiran bahwa permasalahan kehidupan akan segera muncul di hadapan. Dan jika saat itu datang aku ingin kamu ingat sesuatu, bahwa adanya kita berawal dari berteman. Hubungan pertemanan yang nyaman telah membawa kita pada sebuah pernikahan, dan oleh karenanya marilah kita selalu menjaga kenyamanan ini sampai maut memisahkan.

Sayangku…

Aku punya lagu untuk itu. Judulnya How Do You Keep The Music Playing. Aku tahu pasti kamu tidak mengenalnya, karena kita memang seberbeda langit dan bumi, gunung dan laut, burung dan ikan, ibaratnya. Faktanya, aku suka Jazz, kamu suka Rock. Aku penggila film musikal, kamu justru tak tahan menontonnya. Kamu menggemari novel pembunuhan, aku bahkan takut membacanya. Aku doyan kambing kamu demen lalapan, aku minimalis kamu aksesoris, aku oranye kamu hijau, aku pendiam kamu lantang, dan seterusnya dan seterusnya, sampai toh pada akhirnya aku pria kamu wanita. Alhasil aku simpulkan saja, bahwa tak ada gunanya semua perbedaan kecuali untuk disatukan. Bukannya mau sok bijaksana, karena toh aku menyadarinya juga belum lama, yaitu sejak aku terheran-heran menemukan diriku jatuh cinta sama kamu. Dan apalah artinya punya teori kalau aku sendiri punya kekhawatiran dalam implementasinya.

Sayangku…

Lagu ini buat kita berdua. Lagu ini mencerminkan kegalauan sekaligus keyakinan, memikirkan masa lalu dan masa depan, serta melempar pertanyaan yang menempatkan pertemanan sebagai jawaban. Disini, Cinta diibaratkan sebagai Musik. Meski dinyanyikan dalam aliran musik Jazz yang tak kau sukai, kumohon kamu mau menyimak lagu ini dengan baik dan benar, setidaknya untuk merenungi liriknya. CD-nya ada dibawah surat ini, dari set album double-CD and DVD-nya Laura Figy yang bertajuk The Romantic Collection. Asal tahu saja, CD dan DVD ini kubeli minggu lalu sebelum acara pernikahan kita, khusus untuk bulan madu ini. Untungnya kamu tidak keberatan saat aku memutar lagu-lagu Jazz sebagai pengiring dansa-dansi kita di kamar ini setiap malam.

Sayangku, begini liriknya…

How do you keep the music playing, how do you make it last
How do you keep the song from fading too fast
[Bagaimana cara kita mempertahankan cinta? Bagaimana cara agar cinta kita tak akan pudar?]

And how do you lose yourself to someone and never lose your way
How do you not run out of new things to say
[Bagaimana kita bisa hidup bersama tapi tetap menjadi diri sendiri? Tidakkah kita akan bosan?]

And since we know we’re always changing, how can it be the same
And tell me how year after year you’re sure your heart will fall apart each time you hear her/his name
[Jika kita sebagai manusia selalu berubah, bagaimana cinta akan tetap sama? Akankah kita saling mencemburui masa lalu kita?]

I know the way I feel for you is now or never
The more I love the more that I’m afraid, that in your eyes I may not see forever
[Yang kutahu hanyalah cintaku saat ini. Dan semakin kucintai kamu, makin takut aku kehilanganmu.]

If we can be the best of lovers yet be the best of friends
If we can try with everyday to make it better as it grows, with any luck, then I suppose, the music never ends
[Namun jika kita bisa menjadi kekasih sekaligus teman sejati. Mencoba memperbaiki diri hari demi hari. Kurasa cinta kita tak akan pernah mati.]

Sayangku…

Masa laluku tidaklah seindah dongeng. Kamu toh sudah tahu semuanya, karena memang tak ada sesuatu yang perlu disembunyikan kepada seorang teman, meskipun saat itu tak terpikir olehku menjadikanmu istriku. Entah itu sebuah keuntungan atau kerugian bagi rumah tangga kita nantinya, harapanku hanyalah pada rasa percaya kita. Percaya bahwa kita tidak ingin saling menyakiti, dan bahwa kita akan bisa hidup bersama selamanya. Amin.

I love you, Sayangku…
Erik.

PS. Kutunggu kamu di bawah sambil sarapan.

Link Lagu “How Do You Keep The Music Playing”