#TJMK : Bab 4 “Sweet Sorrow”

BAB 4
Sweet Sorrow
Usia: 30 tahun
Lokasi: Jakarta
Masa: Agustus 2006

Sebuah paket berbentuk bujur sangkar terbungkus kertas hias polos berwarna abu-abu tergeletak manis di meja kerjaku. Diatasnya ada post-it kuning bertuliskan sebaris kalimat informasi: Erik, paket ini buat kamu. Meski tertulis kata Lisa dibawah kalimat itu, aku langsung tahu barang indah ini bukan dari dia. Pasti dari Meri, kakaknya. Meski mereka bersaudara dan hanya setahun berbeda jarak lahir, karakter mereka bagai bumi dan langit. Dan pastinya, sebuah barang yang terbungkus manis minimalis semenawan ini bukan datang dari Lisa.

Kupandangi paket ini untuk beberapa menit kedepan dengan senyum dikulum yang tak kuasa meluruskan kembali lengkung bibirku. Sengaja tak langsung kubuka demi menikmati sensasi bahagia yang meletup-letup dalam dada. Seperti uap panas di ketel air yang beranjak mendidih, kunikmati sensasi kegirangan ini lambat-lambat sampai pada saatnya nanti aku puas merasakannya, barulah akan kubuka paketnya. Saat itu aku pasti akan berada pada puncak bahagia, bagai ketel yang membunyikan peluitnya saat tak kuasa menahan uap yang berdesak melewatinya.

Barang seindah ini hanya bisa muncul dari hati, dari seorang yang mencintaiku, dari kekasih hatiku. Dengan kesibukanku yang maha dahsyat karena Jazz Concert tinggal seminggu lagi, bingkisan ini datang seperti mengguyur air dingin di kepalaku yang panas, meniupkan udara segar pada nafasku yang sesak. Aku senang sekali! Ini adalah kali pertama aku mendapat bingkisan dari Meri sepanjang kami berkenalan sudah hampir tiga bulan ini. Selama ini selalu aku yang menyirami romantisme kami dengan kado-kado istimewa yang kusiapkan khusus untuknya. Dari coklat sampai bunga, dari buku hingga film. Diapun menerimanya dengan suka cita dan rasa terima kasih yang tinggi kepadaku. Setidaknya dia tampak sangat menghargai aku sebagai kekasihnya, meski masih berstatus kekasih gelapnya. Aku biarkan saja. Aku tak peduli. Selama dia masih mencintaiku – setidaknya itulah yang kupercaya di hatiku – tak kupedulikan kondisi apapun yang menyertainya.

Tapi kali ini aku merasa lebih dicintai. Dia pasti mengirim bingkisan ini sebagai tanda cintanya, tanda kangennya padaku yang akhir-akhir ini sibuk tertimbun pekerjaan. Aku sunguh sangat bahagia. Tak ada yang lebih indah daripada rasa dicintai yang terbukti dengan tindakan yang mengukuhkannya. Dan kali ini – akhirnya – aku mendapatkannya dari Meri, kekasih hatiku. Entah kapan terakhir kali aku merasa dicintai oleh wanita yang juga kucintai. Sepertinya sudah lama sekali. Dua tahun belakangan ini rasanya aku sudah capek dengan perjodohan-perjodohan yang tak ada hasilnya, yang tak membuatku jatuh cinta, yang tak memunculkan getar dalam dada. Dan saat ini, untuk pertama kalinya sejak sekian lamanya, aku mencinta dan dicinta dengan sebenar-benarnya.

Aha! Kenapa aku tak menikahi Meri saja? Selama ini menikahi Meri memang belum pernah terpikir olehku karena statusku yang masih selingkuhannya. Tapi dengan adanya bingkisan ini, dengan adanya bukti bahwa dia membalas cintaku dengan sepenuh hatinya, aku akan maju tak gentar! Aku akan memperjuangkan hubunganku dengan Meri sampai titik darah pernikahan. Oh, betapa aku sangat bersemangat! Akhirnya perjuanganku mencari istri selama dua tahun inipun terjawab lewat pertemuanku dengan Meri. Selamat tinggal Biro Jodoh! Selamat tinggal dijodoh-jodohin! Aku telah mendapat cinta dari seorang wanita, dan aku bertekat menikahinya!

Bingkisan itu masih kugenggam di tanganku, masih juga kupandangi. Tak terasa, pasti sudah beberapa menit lamanya aku berdiri sambil senyum-senyum sendiri. Kuhempaskan diriku di kursi kerjaku dan kuhela nafas dalam-dalam sebelum mulai membukanya. Dilihat dari ukurannya, paket ini pasti berisi CD, entah musik entah film. Selera kami tak berbeda, sehingga apapun yang diberinya untukku kemungkinan besar akan aku suka. Dan memang aku tak salah duga, sebuah CD album musik jazz karya penyanyi Rod Stewart yang aku belum punya. Senyumku yang tadinya terkulum, sekarang menjadi terbuka lebar sebagai efek dari teramat girang. Tak sabar aku langsung membukanya dan memutarnya di CD-ROM laptopku di meja. Ada surat kecil terlipat rapih didalam CD itu, sengaja tak langsung kubaca sebelum kuputar dulu CD-nya. Pasti akan sangat romantis kalau surat ini kubaca dengan ilustrasi musik jazz di telinga, kataku dalam hati. Maka kupasanglah earphone di telingaku, dan mulailah kubaca surat itu.

Dear Erik,

Tak ada yang lebih berat sepanjang hidupku selain menulis surat ini buat kamu, kuharap kamu tahu itu. Kuharap kamu tahu juga betapa aku sangat bahagia selama berhubungan sedekat ini sama kamu. And last but not least, aku sangat berterima kasih atas rasa cinta yang kauberi untukku dengan baik dan tulus. Aku menghargai semua yang telah kita lakukan ini dengan sepenuh hati.

Erik, hubungan kita harus berhenti sampai disini.

Aku tak sanggup melanjutkan surat ini. Pada intinya, tetaplah menjadi teman buatku. Kita mungkin tidak bisa sedekat dulu lagi, tapi please jangan saling membenci. Kita memiliki pengalaman yang indah untuk dikenang di masa depan jika kita masih berteman.

Sincerely,
Meri

PS: This song is for you. It best represents my feelings about you right now.

I WISH YOU LOVE

Goodbye
No use leading with our chins
This is where our story ends
Never lover, ever friends

Goodbye
Let our hearts call it a day
But before you walk away
I sincerely want to say

I wish you bluebirds in the spring
To give your heart a song to sing
And then a kiss
But more than this
I wish you love

And in July a lemonade
To cool you in some leafy glade
I wish you health
And more than wealth
I wish you love

My breaking heart and I agree
That you and I could never be
So with my best, my very best, I set you free

I wish you shelter from the storm
A cozy fire to keep you warm
But most of all
When snowflakes fall
I wish you love

Senyumkupun menghilang seketika. Bagai jatuh dari surga ke neraka, lonjakan perasaan ini menghantam keras hatiku, mengaduk-aduk perutku. Seketika aku merasa mual. Sesuatu dalam perutku pastilah berkontraksi menarik ulur usus dan ginjal. Aku tahu itu hanya kiasan, tapi yang kurasa sungguh menyengat dahsyat. Kekuatannya jauh melebihi kuasaku menolaknya. Aku ingin menangis tapi tak bisa. Kontraksi dalam perutku menjalar ke arah kepala, seakan memerintahkan mata untuk mengeluarkan airnya. Tapi tak begitu cara kerja mataku. Air di mataku tak bisa terproduksi tergesa-gesa. Getaran itupun turun lagi ke arah leher dan mencekik tenggorokanku, hingga aku berasa mau muntah. Mulutku terbuka menyebut beberapa huruf vokal hanya untuk meredam ledakan rasa yang hendak menyeruak dari mulutku. O saat menahan muntah, A untuk mengambil nafas, dan I kala mengeluarkan nafas. Semua kulakukan dalam desis. Kepalaku menunduk diatas meja. Satu tanganku menutup kepala dari kening berharap tak terlihat kernyit-kernyit di wajahku, dan satunya lagi menutup mulutku. Aku bukannya bersendawa. Aku mau muntah, tapi tak ada yang keluar dari mulutku selain getaran dahsyat yang menyebabkannya. Hanya getaran itu. Getaran kesedihanku.

Meski tak menangis, mataku berair sebagai akibat radiasi getar perasaan yang terhambat ledakannya di tenggorokan. Nafaskupun tersengal bagai kehabisan udara meski di ruang terbuka. Sedikit demi sedikit wajahku berkeringat. Kurasakan produksi air keluar dari sudut-sudut mata dan hidung, dari kening, dari kulit kepala diantara rambut, serta dari balik telinga menuju leher. Wajahku pasti memerah. Semoga tak ada yang benar-benar memperhatikanku di meja kerjaku, yang mana banyak orang lalu lalang di sekitarnya.

Aku tersadar akan keberadaanku diantara banyak orang. Dari sudut mata kulihat suasana tampak biasa, tak ada yang berbeda, tak ada yang menghampiriku. Aku harus membenahi wajahku yang kusut ini. Kuambil tisu dari meja sebelah, meja milik teman perempuan yang sedang tak di tempat. Kuseka kepalaku dengan tisu, terutama mata dan leherku. Kudehem-dehemkan kerongkonganku agar tak tergetar suaraku, untuk persiapan jika terpaksa diajak bicara. Aku memang bukan cowok macho yang takut menunjukkan sensitifitas di muka umum. Tapi bagaimanapun juga aku tak mau terlihat konyol ketahuan menangis di jam kantor tanpa ada yang tahu penyebabnya. Aku harus bisa secepat mungkin mengendalikan diriku sendiri. Kucoba duduk dalam posisi tegak dan menenangkan diri. Barulah tersadar olehku bahwa earphone masih menggantung dan musik jazz masih terdengar di telingaku.

Aku memang belum menangiskan air mata. Tapi aku tahu dimana batas kemampuan mataku menahannya, yaitu saat terdengar musik di telingaku. Seketika kucopot earphone itu dengan gegabah hingga terlempar diatas meja. Untung tak ada yang mendengar dentingnya yang bagi telingaku terdengar kencang. Aku tak mau meneruskan lagu yang sedang mengalun saat ini, entah apa judulnnya. Aku tak mau menangis disini. Nanti saja di kamarku sendiri.

Kumasukkan CD itu beserta suratnya ke dalam tas kerjaku. Kuputuskan untuk menjauh dari meja kerjaku dan mengerjakan apapun selama tidak menghadap laptop dan diatas meja. Kubenamkan diriku sedalam-dalamnya pada pekerjaan agar tak kuingat surat sedih itu hari ini, setidaknya selama aku di kantor. Siangpun berganti petang, dan petangpun berubah malam. Waktu akan mempertemukanku dengan apapun yang kuhindari.

Aku sudah berada di kamar. Sendirian. Tak ada yang bisa kukerjakan selain tidur, kalau saja aku bisa memejamkan mata. Tak ada guna menjauh dari masalah. Kupandangi tas kerjaku bagai bisa kulihat tembus kedalamnya, dimana terletak surat dan CD bingkisan dari Meri. Percuma menjauh darinya, sebaiknya kuhadapi saja kesedihan ini secara jantan, yaitu menangis sejadi-jadinya. Aku tahu itu yang akan terjadi kalau aku berhadapan dengan kesedihan cintaku. Ah, biarlah! Sebaiknya kuceburi saja kesedihan ini sebasah yang kumau, kuselami sedalam-dalamnya, lalu mentas dengan mengangkat kepala, meski membawa derita luka. Andai semudah itu melakukannya!

Kuambil laptop dari tas kerjaku, kutaruh di atas meja, kubuka, lalu start up. Kupandangi cover CD-nya. Album keempat dari serial The Great American Song Book milik Rod Stewat ini berjudul Thanks For The Memory, seperti sengaja dipilih Meri untuk mengungkapkan perpisahannya. Kuputar CD Rod Stewart yang masih tersimpan didalam CD ROM laptopku sejak dari kantor tadi siang. Kupilih lagu I Wish You Love sebagaimana ditulis Meri dalam suratnya, lalu aku klik repeat di software player-nya, sehingga tak ada lagu lain yang akan kudengar malam itu selain lagu ini. Lagu itupun mengalun indah. Mulailah kubaca lagi surat sedih itu.

Tak lama berselang, kuputuskan untuk menulis surat balasan.

Dear Meri,

Kamu tentunya tahu bahwa aku mencintaimu. Tapi kamu tidak. Cintamu tetap buat Mas Bimo meski kamu berselingkuh denganku. Aku tahu itu. Aku hanya memilih untuk tidak mengakuinya. Aku terlalu cinta padamu hingga yang kumau tahu cuma membuat kamu senang. Karena senangmu adalah bahagiaku. Aku tak peduli isi hatimu, yang pasti hatiku terisi penuh olehmu.

Kemudian kuterima surat putus darimu. Tentu saja ini sangat mengecewakanku!

Aku menangis, Meri, asal kamu tahu. Aku menangis bahkan saat menulis surat ini dengan “I Wish You Love” terngiang di telingaku. Aku menangis meski aku tak tahu isi sebenarnya dari perasaanku saat ini. Semua berada di perbatasan negatifitas. Aku merasa sedih dan marah, marah dan benci, benci dan bodoh, bodoh dan sedih lagi. Ini lingkaran setan yang tak berhenti, Meri. Kamu tega sekali melakukan perpisahan ini!

Kusangka ada harapan buat kita bersatu. Kusangka kalau kamu selalu bahagia olehku, maka kamu akan memilihku. Kusangka aku menang karena waktuku bersamamu lebih banyak dibanding Mas Bimo yang tidak merhatiin kamu. Kusangka cintaku bakal cukup buat kita berdua. Kusangka intensitas hubungan kita meningkat seiring hatimu mencipta buatku cinta. Prasangka sialan! Ternyata semakin tinggi aku berprasangka, semakin bodoh aku terjatuh. Dan kalau suatu hari nanti kamu ternyata menikah dengan Mas Bimo, di hari itulah aku akan berhenti mempercayai cinta. Buat apa? Ternyata cinta tak mendekatkanmu padaku, dan bahkan cinta tidak mendekatkanku pada pernikahan. Aku benci itu!

Tapi kenyataannya, kamu justru memberiku lagu “I Wish You Love” yang adalah salah satu lagu terbaik sepanjang masa di benak musikalitasku. Aku jadi sedih, Meri. Sedih tak terkira karena dalam lagu itu terlukis kelembutan hatimu untukku. Tersirat nilai-nilai positif yang kau harapkan terjadi untukku disaat otakku justru dipenuhi pikiran negatif buat kamu. Lagu yang biasanya mendorongku menemukan cinta baru, dan meninggalkan masa lalu. Andai kondisinya bisa semudah itu!

Meri, tinggalkan Mas Bimo! Pilihlah aku! Aku terlanjur cinta padamu, aku tak bisa putus darimu. Jujurlah pada dirimu sendiri, Meri. Lihatlah hatimu! Kamu mencintaiku, aku tahu itu! Ciuman kita tak mungkin berbohong. Tatap matamu tak pernah mengisyaratkan perpisahan. Kedekatan perasaan kita pastilah mencipta kenyamanan buatmu dan bagiku untuk melanjutkan hubungan kita ke arah yang lebih membahagiakan. Apa lagi yang kamu cari? Tidakkah kita hidup untuk mencari bahagia? Dan justru di puncak bahagia kita ini, kamu mencampakkan aku begitu saja! Ini sama saja kamu membuang bahagiamu sendiri, Meri, tidakkah kamu menyadarinya?

Aku tahu kamu bukan orang jahat. Kamupun bukan wanita murahan meski menyelingkuhi pacarmu sendiri. Aku tak pernah memandang rendah padamu. Dan akupun berjanji tak akan mengingat kepahitan surat ini di masa depan kita nanti. Aku sudah makan asam garamnya percintaan, hal beginian akan mudah aku maklumi selama alasannya jelas kupahami. Patah hati hanyalah bagian dari kisah cinta sejati, tak perlu kita ungkit di kemudian hari, asal kesalahannya tak lagi kita ulangi. Tetaplah bersamaku, Meri. Sekarang dan selamanya, hingga maut memisahkan kita. Menikahlah denganku!

Setulus hatiku,
Erik

Kupandangi lagi suratku itu. Kubaca lagi berulang kali. Lalu kubaca lagi surat dari Meri. Lama aku baca surat singkatnya itu. Akhirnya aku ambil kembali suratku buat Meri yang baru saja kutulis dengan segenap kekuatan diri itu, yang kubuat dengan berlinang air mata dan ungkapan sejujur hati itu. Lalu aku merobeknya. Membakarnya. Hingga tak berbekas.

~~~ * ~~~ * ~~~ * ~~~

Hari-hari berlalu setelah itu. Kutenggelamkan diri dalam pekerjaan berkepanjangan. Tak sulit bagiku, mengingat pekerjaanku memang menumpuk. Sengaja aku tak mengubungi Meri. Bertemu Lisapun di kantor tak lantas aku menyinggung tentang kakaknya. Justru kalau bisa aku menghindar dari Lisa atau bicara seperlunya. Siang hari – kalaupun tak bisa disebut mudah – selalu bisa kulewati. Tak begitu halnya dengan malam hari.

Keesokan malam setelah kubakar suratku sendiri itu, aku sangat kebingungan. Apa yang harus kulakukan? Tidur pastinya tak mudah, tapi bekerja juga tak mungkin. Saat pilihan aktivitas cenderung terbatas akupun menyerah pada hati. Hatiku yang patah ini sangat ingin didengarkan, dipahami, dirasakan. Dan bagiku, tak ada pilihan untuk setengah-setengah melakukannya. Aku harus basah sebasah-basahnya, jatuh sejatuh-jatuhnya. Kembali kualunkan lagu I Wish You Love di atmosfer kamarku. Kubaca lagi surat dari Meri. Lagi, dan lagi, dan lagi. Akan kuikuti rasa sedih ini sampai pada ujungnya.

Aku menangisi hilangnya Meri, aku meratapi nasibku sendiri. Dimana cinta untukku? Apakah ada suatu saat nanti? Umurku sudah tiga puluh dan masih juga melajang, padahal beberapa teman seangkatan sudah mulai beranak pinak. Akankah aku begini selamanya? Mungkin aku ditakdirkan untuk tidak menikah. Membujang selamanya, mencari cinta hanya untuk kehilangannya, mencari jodoh yang tak pernah kudapati. Menikah mungkin tidak untuk semua orang. Banyak pria maupun wanita tetap melajang sampai usia senja. Mungkin aku salah satu diantara mereka. Pemikiran itu memang mengerikan, tapi mungkin aku dituntut untuk berbesar hati menerimanya.

Aku teringat suratku yang kubakar malam itu. Aku sadar betul mengapa aku melakukannya. Surat itu adalah ungkapan perasaanku yang telanjang. Terlalu jujur aku menulisnya tanpa pemikiran lebih lanjut akan konsekuensinya. Disitu cuma hatiku yang bicara, logikaku tak menampakkan batang hidungnya. Dan menurutku itu sangat tidak bijaksana.

Cinta tak bisa dipaksa. Butuh waktu beberapa saat bagiku menyadarinya diantara gejolak yang berkecamuk di ruang pikir dan rasa. Kulihat kejernihannya justru setelah kubaca suratku dan surat Meri silih berganti. Kucermati keduanya yang merupakan lukisan hati dan kehendak masing-masing pihak. Surat Meri – walau singkat – menampakkan kejelasan tekadnya. Sedangkan suratku yang berisi luapan emosi dan curahan hati, seperti mengemis cinta kepada Meri. Bukan! Ini bukan masalah harga diri! Aku bukannya merasa terinjak-injak meski memohon. Ini hanyalah perbedaan antara pemaksaan kehendak dari aku, dan keputusan masa depan bagi Meri.

Meri adalah wanita baik-baik. Dia mencintai Mas Bimo, pacarnya yang super sabar itu. Tapi dia juga mencintai aku – kalau aku boleh menamainya cinta – yang menenggelamkannya dalam kolam romantisme cipataanku. Tak heran kalau dia menikmatinya, karena akupun tak kenal pamrih melakukannya. Ketulusanku telah mencipta kenyamanan bagi Meri untuk membuka sebelah pintu hatinya buatku. Tapi hanya sebelah, tak pernah seluruhnya, karena sebetulnya pemilik rumah di hati Meri tetaplah Mas Bimo. Aku sebetulnya maklum kalau dia tak pernah bilang cinta padaku, karena memang cintanya cuma buat Mas Bimo. Aku sesekali bisa merasakan itu, meski selalu aku ingkari keberadaannya. Dan kali ini – entah apa yang merasuki hati dan pikirannya – Meri telah memutuskan untuk menata kembali cintanya sebelum terlambat. Dia harus mengusirku dari rumah hatinya, dan mentas dari kolam romantismeku.

Aku tak punya pilihan lain yang lebih bijaksana selain membiarkan Meri melakukan niatnya itu. Kalaupun surat itu kukirim untuk mendapatkan kembali cinta Meri, aku tak yakin dia akan sepenuhnya ikhlas melepas Mas Bimo yang dicintainya. Dia sudah membulatkan tekad dalam suratnya, dan itu adalah keputusan yang pasti dilakukannya dengan pemikiran panjang. Mas Bimo adalah pilihan Meri, pemilik dirinya seutuhnya, jiwa dan raga, selamanya. Untuk wanita baik-baik seperti Meri, pasti sebuah beban berat melepas cintanya padaku, meski cuma selingkuhannya, apapun alasannya. Aku hanya bisa – dan harus bisa – menghargai keputusannya tanpa perlu membebaninya dengan pilihan lain.

Aku mencintainya sebesar itu. Sebesar bahagia yang akan diperolehnya kalau aku tak berada di sampingnya. Maka kubakarlah suratku untuk Meri, laksana membakar hatiku sendiri dengan bara ikhlas dan api tabah.

Tapi apa mau dikata, akupun manusia biasa. Kalaupun aku sudah mengikhlaskannya, patah hati tak lalu hilang begitu saja. Ada rasa yang harus ditanggung untuk sebuah keikhlasan, dan itu tak murah harganya, tak pula ada pilihan lain selain menghadapinya. Maka jadilah aku setiap malam menagisi kesendirian, meratapi kehampaan. Menangis dan berhenti menangis sudah seperti tarik dan lepas nafas. Caranya mudah, cukup ambil surat singkat dari Meri, lantunkan lagu I Wish You Love yang diulang-ulang sepanjang malam, dan baca suratnya sambil mengingat masa-masa indah kami berdua. Akupun tak menghalangi mata memproduksi air mata, dan tak menahan tubuh bergejolak mengikuti getar akibat getirnya perih.

Seminggupun berlalu rasa seabad. Jazz Concert-pun sudah saatnya terhelat. Kemungkinan besar Meri akan ada mendampingi Mas Bimo yang bertugas sebagai fotografer disana. Meri pasti akan kutemui, cepat atau lambat. Semoga aku kuat.

’Meri, bisa ikut aku sebentar ke belakang panggung? Aku ingin bicara. Disini terlalu bising.’
[Aku datang dengan suaraku yang kubuat seserius dan setertata mungkin, hasil latihanku di belakang panggung setengah jam sebelumnya.]
’Baiklah, Erik.’
[Aku tak memegang tangannya. Kutunjukkan jalan menuju belakang panggung sambil berjalan dengan jarak yang cukup aman jika sampai terlihat Mas Bimo yang sedang bertugas sebagai fotografer. Sesampainya di belakang panggung yang cenderung gelap dan tak banyak orang lalu lalang, akupun berhenti, lalu berdiri berhadapan dengan Meri. Kupegang satu tangannya, kutatap matanya, kukumpulkan segenap kekuatan, dan mulailah aku berpidato diplomasi untuk menegaskan perpisahan ini. ]
‘Meri, aku minta maaf.’
‘Bukankah aku yang seharusnya minta maaf?’
‘Nggak Mer. Aku yang seharusnya minta maaf karena sudah menyebabkan semua kebingungn yang kaualami saat ini.’
‘Nggak begitu Erik…’
‘Dengerin aku dulu Mer. Aku perlu menjelaskan ini padamu biar kamu juga mengerti aku. Kamu sudah mengirimkan surat dan lagu itu untukku. Surat itu sudah cukup menjelasakan kebingungan kamu atas cinta yang kuberi buat kamu. Melihatmu menderita adalah cukup siksaan bagiku. Dan sekarang aku perlu menjelaskan sesuatu kepadamu.’
’Baiklah Erik.’
’Meri, aku ingin kamu tahu bahwa aku juga merasakan kebahagiaan sebesar yang kamu rasakan. Apapun yang telah kita lakukan selama ini, benar atau salah, berselingkuh atau berteman, akan aku simpan sebagai bagian indah kehidupan aku di masa depan. Aku tak akan pernah membenci kamu. Aku mencintaimu dengan tulus. Tak ada yang akan mampu membuatku berpikir bahwa hanya dengan perpisahan ini cintaku akan berubah menjadi benci. Tak akan, Meri.’
‘Erik, I really don’t deserve this. Aku…’
[Aku tak mau disela. Pidatoku ini harus tersampaikan dengan rapi dan seksama agar tujuanku terungkap jelas dan tak ada lagi yang tertinggal. Aku maklum Meri pasti ingin mengungkapkan sesuatu juga sebagai komentar atas beberapa kalimat yang telah kuucap, tapi aku tak mau konsentrasiku terganggu. Secara reflek kupegang bibirnya dengan ujung jemariku untuk menghentikan ucapannya agar tidak terkesan kasar.]
‘Ssshh…aku belum selesai Meri. Timing kamu memang tepat, Mer. Seminggu sebelum acara ini memang waktu yang ideal buat kita untuk meredam perasaan masing-masing dan datang kesini dengan sebuah lembaran baru dalam hubungan kita. Aku mengerti itu. Sayangnya, I’ve been very very busy. Setiap hari urusanku datang bertubi, dan setiap malam hanya surat kamu yang aku cari. Aku sangat ingin membalasnya, atau membuat sebuah romantisme trakhir yang mungkin bisa kita berdua kenang sepanjang masa. Tapi aku tak kuasa. SMS atau telpon tak akan ada gunanya. Yang kuinginkan adalah bertatap muka, namun waktu sangat tidak memungkinkan bagiku. Maafkan aku Meri. Aku ngerti kamu pasti tersiksa memikirkan tanggapanku terhadap surat kamu. Kamu pasti berpikir aku marah sama kamu. Well, sayangku, aku masih cinta sama kamu.’
‘Oh, Erik…’
[Meri tiba-tiba mengangkat kedua tangannya dan merangkulku. Aku baru sadar kalau dia ternyata menangis. Isakannya tak tersembunyi. Dia kemudian membisikkan sebuah kalimat di telingaku yang secara resmi mengakhiri hubungan cinta kami berdua.]
‘Selamat tinggal Erik. Thanks for being a friend.’
[Aku mengangguk dan membalas pelukannya, tepat pada saat terdengar kilatan blitz kamera…ZAP! Mas Bimo berdiri tak jauh dari tempat kami berpelukan, memotret kami dengan kameranya. Aku kaget setengah mati. Oh, tidak, pikirku. Tidak di saat kami sudah mengakhiri hubungan ini! Ini terlalu buruk untuk terjadi padaku dan Meri!]
‘Mas Bimo, aku bisa jelaskan ini…’
[Meri berupaya menjelaskan. Sebuah usaha yang sia-sia karena Mas Bimo justru berjalan mendekat untuk menghampiriku, bukan ke arah Meri. Matanya bahkan tidak memandang Meri sedikitpun. Matanya menusuk tajam ke mataku.]
’Erik, ini tanda panitiaku. I quit! Biar anak-anak yang nerusin.’
[Hanya itu yang dilakukan Mas Bimo. Menyerahkan tanda panitianya dan menatap mataku tajam-tajam. Aku bahkan sudah menyiapkan wajahku untuk berubah warna menjadi biru lebam kalau dia sampai meninjuku, dan aku tak akan membalasnya. Dia sangat punya hak untuk itu.]
’Mas, this is not what it’s like…’
[Meri berusaha menjelaskan kepada Mas Bimo yang masih menusuk-nusuk mataku dengan tatapan tajamnya itu. Tiba-tiba Mas Bimo membalikkan tubuhnya menghadap Meri dengan wajah amarah yang tak pernah kubayangkan tersirat di wajah Mas Bimo yang konon kabarnya super sabar.]
‘THIS!…is not what I like.’
[Suara Mas Bimo begitu lantang dan tegas. Kalau aku saja begidik mendengar suaranya, tak kubayangkan bagaimana takutnya Meri. Tapi tampaknya Meri tak mau kehilangan pria yang amat dicintainya itu begitu saja. Mas Bimo berlalu menjauh dari kami dengan langkah lebar dan cepat. Meripun berlari mengejarnya, tak ingin kehilangan momen untuk menjelaskan situasi sebenarnya. Mas Bimo tiba-tiba menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Meri.]
‘Meri, jangan kejar aku lagi. Kita pustus!’
[Dari jarak yang tak lagi dekat denganku, sayup-sayup kudengar kalimat mutlak itu dari mulut Mas Bimo. Meri berdiri terpaku, dia pasti hancur lebur. Mas Bimo berlari meninggalkannya, Meri tetap berdiri. Aku hendak melangkah mendekatinya, namun kuurungkan niatku. Lisa tiba-tiba datang menghampiri kakaknya itu. Dia pasti melihat semua drama yang baru terjadi ini. Dia memeluknya tanpa bertanya apa yang terjadi, kemuadian membawanya keluar dari area belakang panggung. Lisa tahu kebaradaanku disitu. Dia menatap mataku – meski tak setajam tatapan Mas Bimo – seolah menghujat, “Lihat akibat dari perbuatanmu!”]

Akupun berdiri terpaku, tak beranjak, tak berlalu.

Link Lagu “I Wish You Love”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s