#TJMK : Bab 3 “Match Making”

BAB 3
Match Making
Usia: 29 tahun
Lokasi: Jakarta
Masa: 2005 – 2006

‘Erik, sepertinya ada tamu tuh di depan, tolong bukakan pintu ya.’
‘Baik, Budhe.’
‘Selamat siang, Ibu Tris ada? Saya Ima dari Jogja.’
‘Oh, silakan masuk, Mbak. Saya Erik, keponakannya Budhe Tris. Duduk dulu ya Mbak, memang sudah ditunggu sama Budhe Tris sejak kemarin. Saya panggilkan Budhe dulu ya.’

Budhe Tris adalah kakak kandung ibuku. Beliau anak nomer dua, sedangkan ibuku anak nomer tujuh dari sepuluh bersaudara. Suami beliau sudah meninggal lima tahun lalu. Anak beliau tiga, laki-laki semua sudah berkeluarga dan tinggal di rumah mereka masing-masing. Tahun ini beliau berusia 70, namun kondisi kesehatan beliau sangatlah prima, macam Titik Puspa, artis legendaris kebanggan Indonesia. Olah raga selalu beliau jaga, pergaulan dengan teman masih beliau lakukan, dan sedikit bekerja juga ada meski tak setiap hari datang ke tempat usaha. Beliau memiliki dua perusahaan kecil menengah di bidang konveksi dan transportasi, yang saat ini dilanjutkan operasionalnya oleh anak-anak beliau. Dengan rumah cukup besar yang tadinya ditinggali oleh lima orang, beliau tidak keberatan merawatnya dan tinggal didalamnya sendirian, hanya ditemani seorang pembantu rumah tangga. Dan tentunya sekarang ada aku yang beberapa tahun belakangan ini tinggal bersama Budhe, ngekost istilahnya meski gratis, menempati salah satu dari kamar para kakak sepupuku itu.

Budhe Tris sangat sayang kepadaku. Aku diperlakukan selayaknya anak beliau sendiri. Dan jika kedekatan sudah terjalin sangat erat, seperti halnya hubungan ibu dan anak, maka akupun mendapatkan perlakuan istimewa, seperti dimarahi, dinasehati, diatur ini, disuruh itu, dan termasuk didalamnya dijodohkan. Ima adalah salah satu kandidatnya.

‘Ima, apa kabar sayang?’
‘Baik Budhe. Semoga Budhe juga baik kabarnya.’
‘Oh, Budhe baik-baik saja, syukurlah. Eh, ini Erik, kenalin. Udah ketemu ya tadi? Erik ini anaknya Tante Atik di Jogja. Kalian sebetulnya tinggal di satu kota lho, sayangnya belum pernah kenal aja. Atau mungkin sudah kenal? Kalian kan seumuran, siapa tahu sekolahnya sama waktu di Jogja.’
‘Saya sih tidak merasa pernah ketemu ya Budhe sama Mas Erik. Tapi nggak tahu juga sih kalau Mas Eriknya kenal sama saya tapi saya lupa, hahahaha…sok artis terkenal banget ya, hahaha.’
‘Hahaha…kalaupun Mbak Ima ini artis, selama domisilinya masih di Jogja bukan di Jakarta, nggak bakal masuk infotainment Mbak, jadi saya juga susah kenalnya, hahahaha…’
‘Panggil saja saya Ima, Mas.’
‘Kalau begitu, panggil juga saya Erik. Toh kata Budhe kita kan seumuran, dan tak ada silsilah keluarga yang mengharuskan saya dipanggil Mas, bukan?’
‘Baiklah Erik, if you say so.’

Ima cukup lucu, terkesan cerdas dan berwawasan luas dari obrolan dia seputar pekerjaannya di laboratorium pabrik obat dan tentang industri farmasi di Indonesia. Penampilannya menarik dan sangat mandiri. Dia datang membawa mobil sendiri. Dia tinggal bersama kakaknya di Jakarta yang berada tak jauh dari pabrik lokasi kerjanya, tapi sangat jauh jaraknya dari rumah Budhe Tris disini.

Aku sudah tahu bahwa Budhe Tris menjodohkanku dengan Ima ini. Beliau menjelaskan jauh hari sebelumnya. Dan aku tak punya pilihan selain menyetujuinya dengan jawaban diplomatis yang sangat standar seperti ini, “Baiklah Budhe, kenalin aja. Saya sih nggak masalah kalau cuma kenalan. Kalaupun nggak cocok, kan bisa jadi teman.” Meski akupun sadar dari pengalamanku berkenalan di iklan Biro Jodoh, bahwa tak ada yang namanya berteman setelah ketemuan dalam dunia perjodohan. Kalaupun kedua belah pihak cukup bisa menjaga kesopanan untuk saling berkomunikasi lewat telpon atau SMS, itupun tak akan berlangsung lama, kecuali salah satu pihak punya pengharapan untuk pacaran sedangkan yang lain punya kesopanan untuk menjaga komunikasi. Kalau tidak, maka perkenalan itu hanya akan menambah daftar kontak di hape saja.

‘Kamu sudah makan siang Ima? Budhe ada makanan lho, meskipun sederhana aja ya.’
‘Belum Budhe. Nanti saja saya makan di luar. Ini kan hari Minggu, sekalian jalan-jalan.’
‘Kalau begitu biar ditemenin Erik saja jalan-jalannya! Daripada sendirian, mending ada temen ngobrol, kan.’
[Kulihat Ima agak kebingungan di raut wajahnya. Maka akupun langsung angkat bicara.]
‘Yaaa…kalau Ima nggak keberatan sih, saya mau aja jalan-jalan. Ada Mall baru di deket sini, pastinya tadi lewat dalam perjalanan kemari. Sudah pernah kesitu belum?’
‘Iya, saya tadi lewat, kayaknya bagus ya Mallnya. Saya memang berencana mau kesitu sih sepulang dari sini. Saya tidak keberatan ditemenin makan siang, kalau Erik nggak ada acara lain. Jangan sampai saya merepotkan ya, tentunya.’
‘Ah, tentu tidak! Sama sekali tidak merepotkan. Dan kalaupun kita nggak jalan, mungkin siang ini saya tetap akan ke Mall itu daripada bengong di kamar.’
‘Wah, untungnya kita bisa keluar bareng dari sini ya, Rik. Jangan sampai saya sudah pamitan disini, tiba-tiba ketemu kamu lagi disana. Bisa malu ati saya, pamitnya pulang kok malah nge-mall, hahaha.’

Wanita biasanya tak mau mendahului sebuah ajakan meski hal itu sangat dia inginkan. Ima tampak sekali masih menjaga prinsip itu. Meski mungkin dia tahu juga bahwa aku dikenalkan untuk perjodohan buat dia, tapi dia tidak mau tampak memimpin aktivitas ini. Dia menunggu pihak pria untuk berinisiatif, dan akupun tak keberatan. Ima cukup enak diajak ngobrol, dan di lain pihak, aku punya kewajiban menyenangkan hati Budhe Tris dalam perjodohan ini. Jangan sampai aku terlihat tidak antusias pada pertemuan pertama. Itu tidak sopan. Dan benar saja, kulihat Budhe Trispun tersenyum gembira.

‘Kamu suka makan apa, Ima? Di lantai foodcourt ini semua makanan tersedia, dari yang nusantara sampai western punya, dari ayam betutu sampai steak wagyu, dari yang seringan bakso sampai yang seberat nasi kapau ada semua disini’
‘Wah, bakso termasuk ringan ya, Rik? Buat saya sudah berat tuh, hehehe. Saya mau Sushi aja, kalau kamu nggak keberatan.’
‘Tentu saja nggak keberatan! Malah justru keringanan! Hahahaha. Then, Sushi it is! Saya juga suka Sushi.’

Pertemuan pertama yang menyenangkan bersama Ima. Sepanjang waktu kami makan Sushi, obrolan kami tak pernah berhenti. Selalu saja ada topik baru yang bisa kami bicarakan. Dari masalah keseharian, cerita ringan tentang keluarga, teman, Jogja, sampai diskusi seputar politik, olahraga dan sedikit gosip artis. Untunglah kami tidak terlalu berseberangan dalam menyikapi kejadian sosial politik di negeri ini. Politik memang agak beresiko dalam sebuah obrolan. Masalah ras, kesukuan atau agama bisa sangat mudah dihindari dalam pertemuan pertama karena biasanya akan tampak jelas dan kasat mata. Sedangkan politik tidaklah berbentuk label yang jelas terlihat dari bentuk fisik, atau cara berpakaian, atau terdengar dalam pilihan kata saat berbincang, atau tercetak dalam KTP yang bersangkutan. Politik memang tidak termasuk dalam SARA, tapi efek ketersinggungannya bisa sama besar kalau seorang lawan bicara kebetulan fanatik dan berseberangan pendapatnya. Ima tidaklah fanatik, dan hanya memilih topik politik yang umum diterima oleh kebanyakan orang. Maka amanlah obrolan kami di kedai Sushi ini selama – tak terasa – lebih tiga jam.

Obrolan tentang hobi tentunya tak pernah ketinggalan dalam sebuah perkenalan. Jika kebetulan sama akan mempercepat proses kedekatan, namun jika beda akan menjadi bahan penyesauaian dalam sebuah hubungan, baik berteman atau pacaran. Dengan Ima – tak hanya masalah politik saja ternyata – semua hal dia kuasai dengan porsi secukupnya. Seperti halnya aku, dia juga suka film, buku dan musik. Aku suka film drama, terutama yang penuh makna, hingga tak heran jika aku kemudian menggali lebih dalam sebuah film dan keterkaitannya dengan berbagai penghargaan perfilman. Ima juga suka film, suka semua genre selama direkomendasikan bagus oleh teman atau berita di infotainment. Dia tahu Oscar maupun Cannes Film Festival, meski tak hafal film-film apa saja yang masuk nominasi sampai menang. Ima suka buku, tahu beberapa pengarang terkenal kegemaranku pada masa kami muda dulu, seperti Enid Blyton, Agatha Christie dan Sidney Sheldon, tapi tidak membaca lebih dari satu buku dari para pengarang itu. Dia lebih suka membaca buku tentang manajemen dan pengembangan kepribadian sejak dia kuliah. Tak heran kalau dia sekarang sedang menjalani kuliah S2-nya. Ima memang hobi menuntut ilmu.

Dia ternyata suka musik juga, meski tak spesifik pada salah satu aliran. Selama bisa nyaman dia dengar, musik apapun akan dinikmatinya dengan baik. Aku bilang bahwa aku suka Jazz, dia bisa menyebutkan beberapa nama musisi Jazz muda masa kini seperti Michael Buble dan Jamie Cullum, dan saat aku menyebut nama penyanyi Jazz legendaris yang usianya seangkatan bapak-ibu kami, Frank Sinatra, ternyata dia kenal dengan lagu My Way-nya yang justru tidak nge-jazz, sedangkan Nat King Cole-pun dikenalnya sebagai ayah Natalie Cole dengan lagu remake duet maya mereka Unforgettable, yang albumnya sempat terkenal dan meraih penghargaan tertinggi Record and Album Of The Year pada Grammy Award di tahun 1992. Lagu-lagu lainnya dia tak kenal. Akupun kemudian tidak melanjutkan lagi pembicaraan tenatang musik Jazz ini, karena aku bisa membahasnya berjam-jam dengan lagu-lagu indah karya Cole Porter atau George dan Ira Gershwin yang bahkan dirilis pertama kali di era masa mudanya kakek-nenek kami.

Aku sungguh tidak keberatan dengan hal ini. Meski dia cuma tahu sekilas, tapi dia tahu segalanya. Ima bagaikan sumber informasi pengetahuan umum yang sangat luas, meski tak menemukan kedalamannya pada hal-hal yang sesuai dengan hobiku. Tapi tak mengapa. Akupun tak juga mendalami informasi seputar dunia farmasi dan ilmu manajemen yang dipelajarinya di bangku kuliah. Aku bisa memakluminya, dan sangat menghargai kecerdasan otaknya dan keluasan wawasannya. Akupun mengakui bahwa aku tertarik padanya, pada kemandirian penampilannya dan kenyamanan obrolan kami. Ini adalah awal yang sangat baik dalam sebuah perkenalan. Aku memang tidak merasakan ketertarikan berlebih padanya, tapi sesuatu di otak dan hatiku bilang bahwa hubungan ini layak dilanjutkan. Dan aku akan mengusahakan terjadinya hubungan ini.

Aku kemudian teringat akan lagu Nice Work If You Can Get It karya dua pria bersaudara di tahun 1937, George Gershwin sebagai komposer dan Ira Gerswin sebagai penulis lirik. Lagu-lagu Jazz Standards – sebuah istilah untuk lagu-lagu legendaris yang banyak dinyanyikan ulang oleh para penyanyi Jazz dari dulu hingga kini – seperti ini memang adalah kegemaranku. Para musisi besar, seperti Irving Berlin, Cole Porter, duet musisi Richard Rodgers dan Oscar Hammerstein II, duet musisi George dan Ira Gershwin, serta beberapa lainnya pada masa itu, biasanya membuat lagu-lagu ini untuk dinyanyikan dalam sebuah film musikal atau drama panggung musikal yang dipentaskan di teater-teater ternama di jalan Broadway di kota New York, Amerika Serikat, yang kemudian terkenal dengan istilah Broadway Musicals.

Lagu Nice Work If You Can Get It inipun pada awalnya diciptakan untuk sebuah film musikal berjudul A Damsel In Distress yang dibintangi oleh aktor sekaligus penyanyi sekaligus penari ternama pada masa itu, Fred Astaire. Dan setelah dinyanyikan ulang oleh banyak penyanyi dari masa ke masa, pada tahun 1992 sebuah drama musikal berjudul Crazy For You dipentaskan di Broadway, berisikan lagu-lagu Gershwin legendaris, termasuk lagu ini. Dan aku punya CD-nya.

Sebuah lagu biasanya terbagi menjadi tiga bagian, yaitu intro sebagai pengantarnya, verse sebagai bagian utamanya, dan chorus atau refrain sebagai bagian yang dinyanyikan berulang dalam sebuah lagu. Terkadang ada juga lagu yang dilengkapi dengan bridge sebagai penghubung antara verse dan refrain. Dalam lagu ini, bagian intro-nya mengisahkan betapa penting mencari cinta selain mencari harta. Lagu-lagu Jazz Standards biasanya memang begitu, mengandung kalimat-kalimat cerdas dalam liriknya, baik dalam kondisi serius maupun saat melempar canda. Kalimat-kalimatnya mungkin tak terlalu berbunga-bunga atau mengharu biru, tapi biasanya mementingkan rima dan makna dalam deretan lirik yang tidak terlalu panjang. Aku sangat menikmatinya! Kecerdasannya memuaskan pikirku, maknanya menyentuh hatiku, dan melodinya memanjakan telingaku. Ah, betapa lezat musik Jazz bagiku!

The man who only live for making money
Lives a life that isn’t necessarily sunny
Likewise the man who works for fame
There’s no guarantee that time won’t erase his name

The fact is …

The only work that really brings enjoyment
Is the kind that is for girl and boy meant
Fall in love … you won’t regret it
That’s the best work of all … if you can get it

Seorang yang hidup untuk bekerja
Kekayaannya tak selalu bikin dia bahagia
Seperti halnya seorang yang ingin tenar
Tak ada jaminan namanya terus bersinar

Sesungguhnya …

Pekerjaan yang membuat hati riang
Adalah yang bikin pria dan wanita senang
Jatuh cinta … tiada sesal akan kau ingat
Itulah pekerjaan hebat … kalau kau dapat

Sekali lagi aku disuruh mencari pasangan hidup. Tak harus lewat jatuh cinta – apalagi lewat pandangan pertama – namun aku tak menutup kemungkinan bahwa nantinya akan kudapatkan perasaan jatuh cinta itu jika aku lebih mengenalnya. Ima adalah seorang yang layak kuperjuangkan untuk kudapatkan, dan aku akan mengusahakan sebaik-baik kemampuanku untuk membuatnya singgah dihatiku, dan membuatku diterima oleh hatinya. Sejauh ini aku tak memiliki keberatan apapun dengannya, tidak di fisiknya, parasnya, apalagi obrolannya. Semuanya menarik bagiku. Aku hanya butuh waktu untuk lebih dekat dengannya, mencari kenyamanan yang lebih dalam bersamanya, dan kemudian aku akan jatuh cinta padanya. Ah, jatuh cinta lagi, betapa senangnya, seperti masa-masa pacaranku dulu sebelum mencoba Biro Jodoh. Tampaknya sebuah rencana yang bagus dan tak terlalu muluk untuk dicapai. Sebaiknya segera kumulai saja seranganku sejak sekarang!

Menelpon dan berkirim pesan. Aku tak mau buang waktu. Sore itu juga sepulang dari kencan pertama kami makan siang Sushi, aku langsung mengirim SMS kepadanya, menyatakan betapa senangnya aku meluangkan waktu bersamanya. Dan bagai gayung bersambut, kamipun bertukar pesan singkat melalui handphone dengan antusias yang sama.

Hi Ima… Thanks for a great time behind Sushi bar! 🙂 Aku senang kita tadi memutuskan makan siang bersama. Ternyata tiga jam nggak terasa dibuat ngobrolin banyak rupa, hahaha.

Ah, tak ada yang perlu di-diet-kan dari badan kamu itu. Kalau lebih kurus lagi, kamu akan terbang tertiup angin, hahaha.

Ah, yang penting sehat! Eh, Sabtu depan kita nonton yuk! Aku yakin, dengan film yang tepat, kita akan bisa mendiskusikannya selama berjam-jam di kedai kopi. 🙂

I’ll call you tomorrow, then. Drive safely! 🙂

I had a great time too! Meski Sushinya tak terlalu memuaskan, ternyata nikmat juga dimakan sambil berkelakar. Tapi jadinya dietku kacau balau, karena nggak terasa makanku nambah melulu, hahaha.

Hahaha…kamu bisa aja. Itu nasi di Sushi isinya carbo semua ya. Bisa gendut aku! 🙂

That’ll be lovely! 🙂 Aku sedang setir nih. See you later ya! 🙂

Selama seminggu berikutnya, akupun selalu menelponnya, meski tak ada yang istimewa dibicarakan. SMS juga kulakukan untuk menjaga komunikasi agar tak terputus. Bukan SMS romantis yang kukirim padanya. Cukup berucap selamat pagi, atau melontarkan sebuah topik berita, atau mengabarkan apa yang sedang kumakan, atau yang sedang kupikir atau kukerjakan. Tak ada yang istimewa, tapi aku menikmati kesederhanaan ini. Mungkin memang tak harus berlebihan dalam berkomunikasi dengan pasangan. Tak perlu juga ada rasa yang menggebu-gebu dalam dada hanya karena ingin bertemu dengannya, atau kangen-kangenan istilahnya. Ah, tidak perlu itu! Kami kan sudah dewasa, sudah menjelang tiga puluh di tahun depan, masak masih perlu kangen-kangenan segala. Kayak anak remaja aja!

Nonton bioskop, ngafe dan ngemall. Akhirnya kami jadi nonton berdua. Film drama action yang ternyata bisa sama-sama kami nikmati. Kami kemudian nongkrong di cafe terdekat dengan bioskop, ngobrol selama tiga jam sampai lupa makan malam, lalu jalan mengitari mall sebentar sambil menuju tempat Ima memarkir mobilnya. Kami memang bisa lupa diri kalau sudah membicarakan sebuah topik yang sangat menarik. Obrolan tentang film itu lama-lama berkembang menjadi banyak hal, dari masalah sosial sampai kesehatan dan wisata alam. Dari masalah danau, hutan, pegunungan, sampai tujuan wisata luar negri dan makanan khas berbagai negara. Sampai disini kami baru sadar kalau belum makan dan memutuskan untuk pulang saja karena sudah malam. Meski aku sebetulnya bebas untuk tidak segera pulang, namun aku sadar bahwa Ima tak bisa pulang terlalu malam. Aku memakluminya, karena dia masih tinggal sama kakaknya, karena dia harus menjaga citra diri sebagai wanita yang punya batasan etika dalam bepergian dengan teman pria, dan karena aku memang tak sedang mencari-cari kekurangannya untuk menyudahi hubungan ini. Tidak, aku tidak akan memberi label negatif pada keengganannya pulang malam, meski aku masih sangat ingat bahwa keengganan yang sama justru aku nilai negatif dalam menimbang karakter wanita lain. Semua hal tergantung dari niat. Dan kali ini niatku memang kuat untuk membangun hubungan dengan Ima, bukan menyudahinya.

Holding hands at midnight
Beneath a starry sky
Nice work if you can get it
And you can get it if you try

Strolling with the one girl
Sighing sigh after sigh
Nice work if you can get it
And you can get it if you try

Berjalan bergandeng tangan
Di malam penuh bintang bertaburan
Sungguh hebat kalau kamu bisa dapat
Dan kamu pasti bisa kalau ada niat

Dengan seorang gadis kamu riang berlenggang
Kamu terus menghela napas menahan senang
Sungguh hebat kalau kamu bisa dapat
Dan kamu pasti bisa kalau ada niat

Kira-kira sudah sebulan kami berhubungan, datanglah bulan puasa, yang kemudian diakhiri dengan lebaran. Selama bulan suci itu, frekuensi pertemuan kamipun berkurang secara drastis. Di siang hari tak ada tempat untuk ngobrol, karena biasanya kondisi ngobrol yang nyaman adalah sambil makan atau ngopi. Di malam harinya, ada ibadah-ibadah khusus – meski tak wajib hukumnya – yang kami lakukan selain berpuasa sepanjang siang hingga petang. Kalaupun kami memaksakan diri untuk jalan ke mall di masa menjelang lebaran, keramaiannnya tak tertahankan hingga rasanya akan jauh dari nyaman.

Aku menjalankan ibadah keagamaan sesuai standar kewajiban yang dituntut dalam beragama. Sholat dan puasa hampir selalu kujalankan sejak kecil sebagai bagian kehidupan yang wajar karena memang aku dibesarkan dalam keluarga Islam. Zakat kemudian menjadi wajib bagiku sejak bisa cari uang sendiri. Kalau puasa dan zakat bisa kulakukan nyaris tak terlewat, tak demikian halnya dengan sholat. Ibadah yang satu ini butuh kekuatan iman yang ekstra konsisten untuk tetap menjalankannya lima kali dalam sehari. Dan dengan pola hidupku yang masih suka kelayapan sampai lewat tengah malam, bisa ditebak seberapa tinggi keimananku dalam bidang sholat ini. Yang pasti bagun pagi selalu kesiangan, dan dugem akan lebih kupilih daripada sholat malam. Ada masanya aku rajin sholat lima waktu terus menerus selama beberapa tahun dalam hidupku, namun kalau kukilas balik selama dua puluh sembilan tahun tahun hidupku saat ini, prosentasenya tampak lebih banyak masa bolong-bolong sholatnya daripada masa rajinnya. Di masa bulan suci begini biasanya bolong-bolong sholat bisa banyak berkurang karena eforia ibadah yang berlaku masal. Tapi aku tahu batas keimananku dalam beribadah, yang mana biasanya selepas lebaran bolong-bolong itu akan makin meluas. Atau bahkan mungkin bisa berubah jadi satu lubang besar, alias tidak sholat sama sekali. Cukup seminggu sekali saat Jumatan ditambah dua kali sholat lebaran dalam setahun, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Itu saja!

Memang kuakui bahwa kuantitas ibadahku dalam beragama sangatlah kurang. Namun sebetulnya dalam menghargai Tuhan sebagai penentu takdir kehidupan manusia di dunia ini, hatiku tetap memanjatkan doa kepada-Nya dalam berbagai aktivitas yang kulakukan. Ada semacam keinginan untuk diperlancar, apapun tujuan yang hendak kita capai. Dan untuk memastikan bahwa sebuah faktor diluar kemampuan duniawi kita sebagai manusia itu ada untuk membantu kita, maka kulakukanlah berdoa kepada Tuhan, minta dikabulkan segala keinginan. Pola pikir seperti ini adalah pembenaranku untuk tidak sholat. Toh, aku sudah dekat dengan Tuhan melalui doa-doaku, pikirku. Meski aku sadar bahwa tak seorang ulamapun akan menyetujui pola pikir seperti ini, tapi aku tetap bersikukuh. Hubunganku dengan Tuhan adalah urusanku sendiri. Aku juga tak berkewajiban membuka forum perdebatan untuk pembenaran metode kenyamananku ini. Dan tanpa mengurangi rasa hormat, bagiku agama hanyalah sekumpulan rambu-rambu untuk mendekatkan manusia dengan Tuhan. Seseorang di masa lalu pernah bilang begitu padaku, dan kini aku memaknainya dengan caraku sendiri. Kalau aku sudah merasa dekat dengan Tuhan, ya sudah, mission accomplished.

Ima, di sisi lain, ternyata sungguh taat beragama. Dia memang tidak berjilbab untuk mengukuhkan taraf tinggi keimannya kepada Tuhan, tapi yang pasti dia rajin sholat. Dalam setiap kesempatan dia selalu tak lupa sholat, bahkan dia membawa mukena di dalam tasnya kemanapun dia pergi. Ima berpenampilan modern. Dia tampak menarik dengan kaos ramping lengan pendek dan rok sebatas lutut. Dan memang sebatas itulah dia akan memperlihatkan kulit tubuhnya. Tak akan pernah dia memakai baju tanpa lengan, kaos super ketat, belahan dada rendah, atau rok mini setengah paha. Baju yang dikenakannya bermodel klasik, menampakkan kelas tersendiri pada dirinya. Tak heran jika dia selalu tampil cerdas, secerdas otaknya. Aku suka cara dia berpakaian. Tapi entah mengapa aku tak lantas serta merta jatuh cinta padanya. Aku harus berhati-hati memainkan hubungan ini. Jangan terburu-buru naik kelas dari berteman jadi pacaran, tapi jangan juga sampai kelamaan hingga dia lepas dari genggaman. Aku biarkan waktu menjadi temanku. Komunikasi tetap terjaga, semua jadwal hariannya – sebisa mungkin – tetap termonitor untuk memastikan tak ada pria lain yang sedang mendekatinya. Dan memang sepanjang pantauanku, aku tak punya saingan untuk saat ini.

Lebaran tiba. Akupun mudik sebagaimana jutaan penduduk Jakarta lainnya. Jogja adalah kota tujuanku, tempat tinggal orang tuaku. Imapun melakukan hal yang persis sama. Hanya alamat rumah kami yang berbeda, meski jaraknya tak sejauh lokasi tempat tinggal kami di Jakarta. Secara tata krama kesopanan, sepantasnyalah aku berkunjung ke rumah Ima, meski tak ada yang mengharuskan. Aku ingin menampakkan keseriusanku berteman dengannya. Aku juga siap bertemu kedua orang tuanya dan adik laki-lakinya. Aku akan bertindak sesopan mungkin kepada mereka, dan menebar pesona agar mereka bisa nyaman berbincang-bincang denganku. Mungkin dengan mendekatkan diriku kepada keluarga Ima, aku akan merasa menjadi bagian dari sebuah keluarga lain, dan hal itu akan menjadi pendorongku untuk jatuh cinta pada Ima. Tak ada yang lebih nyaman dalam sebuah hubungan pertemanan daripada kedekatan kita dengan keluarga sang teman. Merasa diri berada di lingkungan yang tidak asing meski sedang berkunjung ke rumah orang lain, adalah sebuah kenikmatan.

Kunjunganku ke rumah Ima berjalan dengan lancar. Aku dengan mudahnya berbincang santai dengan orang tua Ima, terutama ibunya. Ibu-ibu memang mudah merasa dekat denganku. Mungkin karena aku ini berwajah melankolis, sangat jauh dari gahar. Tutur kataku teratur, perbincanganku aman dengan bahasa yang kupilih agar terkesan sopan. Aku tidak merokok, gigikupun putih tak bernoda saat kulempar senyum terlebar. Caraku berpakaian cenderung rapi, bukannya sporty, tampak santai elegan dengan sandal kulit di kaki. Topik pembicaraanku cenderung pribadi, seperti hobi, makanan, pakaian, sedikit gosip artis, bukannya topik berat seperti berita politik atau olah raga, kecuali jika memang mereka mengarahkan kesana. Ibu-ibu memang gampang disenangkan, tak seperti bapak-bapak yang seringkali terlihat kaku, baik dalam penampilan maupun obrolan.

Tapi orang tuanya Ima sangatlah jauh dari kaku. Mereka berdua sangat ramah dan menerimaku sebagai tamu keluarga yang masih ada hubungan saudara dengan Budhe Tris. Kedekatan hubungan itu membuatku layak diperlakukan lebih dari teman Ima biasanya. Aku datang dan disambut langsung oleh Ima dan kedua orang tuanya, kemudian kamipun ngobrol berempat cukup lama di ruang tamu. Adiknya Ima hanya lewat sekilas untuk berkenalan dan kembali ke kamar melanjutkan aktivitasnya. Setelah kira-kira setengah jam kami ngobrol sambil makan kue lebaran dan minum es sirup yang menyegarkan, aku dan Ima kemudian pamit untuk jalan-jalan berdua sembari makan siang. Kencan makan siang itupun berjalan dengan nyaman. Kami seperti biasa sangat menikmati acara ngobrol berdua, dimanapun tempatnya.

Akupun merasa bahagia di dalam dada. Merasa senang atas makin dekatnya aku dengan Ima, dan merasa puas dengan diriku sendiri karena berhasil merebut hati orang tua Ima. Aku seperti baru keluar dari sebuah wawancara kerja dengan hasil memuaskan. Begitu besar pengharapan untuk diterima, dan begitu yakin akan dipanggil lagi untuk tes berikutnya.

Just imagine someone
Waiting at the cottage door
Where two hearts become one
Who could ask for anything more?

Bayangkan seorang wanita
Duduk santai bersamamu di beranda
Betapa indah dua hati jika sudah bersatu
Ditukar dengan apapun kau pasti tak mau

Kembali ke Jakarta, kamipun berhubungan seperti biasa. Telpon, SMS, dan jalan berdua hampir setiap akhir minggu menjadi agenda tetap kami. Dua bulanpun kemudian berlalu sejak lebaran tahun itu. Kami memang berhasil mempertahankan kedekatan hubungan kami. Sayangnya mempertahankan saja ternyata tak cukup untuk sebuah pertemanan yang ingin ditingkatkan menjadi pacaran. Ada dua hal yang tak berhasil kulakukan untuk merubah kondisi kami, yaitu obrolan tentang hati dan sentuhan fisik. Menurutku, tanpa keduanya, atau setidaknya salah satu diantaranya, maka sebuah hubungan antara sepasang pria dan wanita akan tetap disebut sebagai berteman.

Obrolan kami tak pernah lebih dari sekedar informasi kegiatan harian dan diskusi masalah sosial atau ilmu pengetahuan. Tak pernah aku menyatakan kangen padanya, misalnya. Kalaupun aku sampai memuji penampilannya, mengagumi kecerdasannya, atau mengakui kenyamanan bersamanya, aku hanya mengatakannya sebatas kenyataan yang memang begitu adanya. Tak ada bunga-bunga dalam pilihan kalimatku, yang mana aku sangat bisa melakukannya kalau aku mau. Tak ada muatan sepenuh hati dalam ucapanku meski aku berkata jujur. Aku tak pernah bilang bahwa aku melihatnya sangat cantik, memujinya sangat cerdas, atau menunjukkan ekspresi sangat bahagia saat berjumpa dengannya. Aku terjebak dalam hubungan standar, yang meski kunikmati keberadaannya, namun tak bisa kumasukkan hatiku kedalamnya. Aku tidak merasa terpacu untuk mengembangkan semua fakta itu menjadi ungkapan kesungguhan hati dan romantisasi. Aku memang tulus saat mendekatkan diriku padanya, bahkan pada keluarganya. Setidaknya niat yang kubuat tak pernah jahat. Tapi apa boleh buat, hatiku tak mau terlibat.

Aku bukannya haus seks, kalaupun aku menginginkan sentuhan kedekatan saat berpacaran. Bahkan bagi sebagian orang hal itu akan dianggap tabu secara norma, hingga perlu dihindari agar tidak dosa. Tidak, aku tidak mencari pemuasan nafsu semata dengan wanita. Tapi aku menyadari kebiasaanku sendiri saat berpacaran. Biasanya, begitu serifikat pacaran sudah dalam genggaman, maka tak hanya obrolan yang butuh pendalaman. Pegangan tangan dan ciuman akan otomatis menjadi langkah selanjutnya saat berdekatan. Dengan Ima, aku tak kuasa melakukannya. Bukan karena aku tak ingin, tapi aku tak tahu cara memulainya. Dengan mantan-mantan pacarku dulu rasanya tak sulit memulai aktivitas ini. Bahkan sebelum resmi pacaranpun, aku akan mulai curi-curi pandang, coba-coba pegang, bahkan iseng-iseng peluk kalau aku berani. Tapi dengan Ima aku tak bisa! Mungkin karena kita berdua sama-sama tak lagi remaja? Atau mungkin akunya tak terpacu? Atau mungkin dianya yang terlalu protektif? Aku tak melihat sedikitpun celah dalam perilaku kesehariannya, bahwa dia menginginkan – atau setidaknya membuka kesempatan – untuk aktivitas bersentuhan ini. Maka akupun tak pernah mencobanya.

Ima adalah karakter yang sangat mandiri. Meski saat ngobrol perilakunya akan tampak mengalir dengan lembut, tapi dalam berargumentasi dia bisa tegas, dalam berprinsip dia bisa keras. Aku tak terlalu tahu masa lalunya, dia tak banyak cerita tentang hal itu. Tapi aku bisa menangkap proteksi diri yang agak berlebihan dalam dirinya. Sejak awal, aku tahu bahwa dia selalu menjaga kesopanan dan harga diri sebagai wanita untuk tidak memulai apapun kecuali aku yang minta. Wanita memang terkadang tak mau dianggap sebagai pihak yang suka duluan, atau terlihat sebagai pengejar dalam sebuah hubungan. Dia akan duduk diam memasang pagar, sambil menunggu seorang pria yang datang dan mendobrak bangunan pagarnya itu. Sayangnya – untuk kasus Ima ini – pria itu bukanlah aku. Aku tak tahu bagaimana caranya menembus pertahanan dirinya. Nuansa kuasa diri Ima tampak sangat kuat, bagai tak ada celah kerapuhan dalam dirinya. Sangat jarang aku mendengarnya berkeluh kesah, atau menceritakan secara detail permasalahan yang sedang dihadapinya. Tak ada kesedihan, tak pernah putus asa, tak pula dia larut dalam kegembiraan yang memuncak. Semuanya seperti tertata rapi, dalam takaran yang tepat, dan berada pada tempatnya sebagaimana mestinya. Dan walaupun aku tak pernah secara eksplisit menanyakan pendapatnya tentang batas sentuhan fisik saat berpacaran, aku bisa menduga bahwa dia tidak mendukung aktivitas itu. Aku bahkan hampir yakin bahwa tak ada seorang priapun yang pernah berhasil mencium bibirnya, tak terkecuali mantan pacarnya sekalipun, kalau ada.

Ima memang susah ditembus. Dan akupun tak merasa terdorong untuk berusaha lebih jauh lagi. Satu hal yang aku tahu pasti, adalah pendapatku tentang isi hati, bahwa aku tak bisa membohongi diri. Aku tak bisa, jatuh cinta sama Ima.

Betapa sayang harus melepas hubunganku dengan Ima. Tapi memang tak ada pilihan lain. Aku sebaiknya menjauh meski tak berpindah lokasi, menjaga jarak dengannya sejauh sambungan komunikasi. Tak ada gunanya berteman, dan tak akan adil buat dia kalau aku tetap dalam jangkauan. Waktu, sebaiknya dia peruntukkan buat pria lain saja. Seorang pria yang akan berhasil meruntuhkan pertahanan diri Ima, membuatnya terpesona, mencipta kenyamanan saat bersama, hingga tanpa sadar Ima akan rela menampakkan sisi rapuh dalam dirinya untuk dipersembahkan kepada pria terbaik pilihannya. Dan tanpa rasa malu yang tersisa, Ima akan sanggup bilang lantang kepada kekasihnya, bahwa dia membutuhkan pria itu dalam hidupnya.

Aku tak dibutuhkan oleh Ima. Aku bukan sumber bahagianya, bukan pula tempat dia mencurahkan keluh kesahnya. Dia mungkin menikmati hubungan pertemanan denganku. Tapi menurutku, siapapun pria di sampingnya – asal dia cukup cerdas dan berwawasan luas – akan bisa mencapai tingkat kedekatan seperti yang kumiliki. Tak harus aku. Dan yang pasti bukanlah aku yang akan mencapai tingkat kedekatan dengan Ima yang lebih dari ini. Semoga suatu saat nanti Ima akan mendapatkannya. Akupun tulus mendoakannya.

Lagu Nice Work If You Can Get It kembali terngiang di kepalaku. Bagian penghabisan dari lagu ini seperti menyimpulkan akhir dari masa perjuanganku di arena perjodohan. Berawal dengan pengharapan, berusaha dengan sepenuh niatan, dan ditutup dengan kegagalan. Akupun kembali pada kondisi melajang sekali lagi. Dan tetap tak tahu bagaimana caranya mendapatkan istri.

Loving one who loves you
And then taking that vow
Nice work if you can get it
And if you get it…

…won’t you tell me how?

Mencintai seorang yang mencintaimu
Kemudian berjanji sehidup semati bersamamu
Sungguh hebat kalau kamu bisa dapat
Dan kalau kamu sudah dapat…

…tolong kasih tahu aku bagaimana caranya!

~~~ * ~~~ * ~~~ * ~~~

Tahunpun berganti. Aku menjomblo lagi. Aku tak pandai membuat resolusi. Biasanya gagal tak berarti tanpa alasan pasti. Mungkin itu adalah bukti nyata bahwa aku tak pernah tuntas melakukan sesuatu. Atau tidak fokus dengan cita-cita yang kumau. Atau jadi seperti takut bermimpi karena tercapai atau tidaknya tak ada yang tau.

Usiaku sudah dua puluh sembilan. Sebentar lagi tiga puluh, dan aku masih begini-begini aja. Pacar tak punya, karirpun belum maksimal. Sudah empat tahun sejak kepindahanku ke Jakarta aku bekerja di kantor majalah berita mingguan ini. Setahun menjalani Staff dan tiga tahun menjabat Associate Editor, sepertinya sudah waktunya bagiku untuk cari kerja di tempat lain. Posisi Managing Editor tampaknya tak bisa kucapai di kantor ini, mengingat atasanku yang menjabatnya sudah sangat nyaman berada di posisinya sekarang. Diapun tak tampak seperti ingin mengejar karir yang lebih tinggi atau mencarinya di tempat lain. Hubungan kami dekat meski usianya lima tahun diatasku. Dia memang membuka diri demi kedekatannya dengan semua anak buah. Dalam beberapa kesempatan dia sempat menyarankan aku untuk mencari lowogan bekerja di tempat lain agar jabatan dan pendapatan bisa meningkat dibanding yang kumiliki sekarang. Kalau aku tak sangat mengenal karakternya yang bijaksana dan baik hati, pasti kupikir dia sedang ingin mengusirku sebagai anak buahnya. Kenyataannya adalah dia tulus menyarankan itu padaku. Dia bilang aku bekerja sangat baik dan sudah sepantasnya naik kelas jika memungkinkan, yang mana tidak di kantor ini selama ada dia. Sejujurnya, aku merasa diriku sangat beruntung bekerja disini. Atasanku baik, rekan kerjakupun menyenangkan. Aku kerasan di kantor ini. Namun dari sudut pandang mengejar karir, kenyamanan adalah bumerang paling mematikan. Nyaman seringkali tak beda dengan malas mencari peluang. Dan memang itulah yang terjadi padaku empat tahun belakangan ini.

Sisi baik dari masa kerjaku yang lama disana adalah seringkali aku dipercaya memegang pekerjaan penting. Jazz Concert adalah salah satunya, dimana aku ditunjuk sebagai ketua panitia, mengingat majalahku menjadi sponsor utamanya. Tak pelak kerjaanku membludak. Tiga bulan lagi acara ini berlangsung, makin hari makin banyak saja masalahnya. Namun terkadang hidup memberi penyeimbang. Aku bagai tak bernapas dengan pekerjaan yang memacu kaki menyesak kepala, tiba-tiba angin segar datang menerpa. Hatikupun berbunga.

Aku dipertemukan dengan Meri. Aku langsung jatuh hati.

Link Lagu “Nice Work If You Can Get It”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s