#TJMK : Bab 2 “Marketing Me”

BAB 2
Marketing Me
Usia: 28 tahun
Lokasi: Jakarta
Masa: 2004 – 2005

Pernikahan adalah tujuan akhir dari jatuh bangunnya usahaku mencari cinta. Dan aku telah melakukan apa saja untuk mencapainya, termasuk mencarinya di tempat yang tadinya kupikir adalah lokasi yang mustahil mendapatkan cinta disana. Iklan Biro Jodoh!

Usiaku kini sudah 28, berstatus jomblo dengan kondisi capek menuruti kata hati melulu. Kucobalah mengiklankan diriku di koran lokal Jakarta.

Pria, lajang, Islam, Jawa, 28th, 170cm/70kg, berkacamata, pendidikan S1, karyawan swasta, mendambakan wanita lajang, S1, Islam, 25-28th, karyawati, berkulit terang, ingin serius menikah.

Tapi aku tak merasa cukup hanya dengan menuliskan sederet kata singkat yang bagiku tak menjelaskan apapun, kecuali informasi bahwa aku seorang bujang lapuk yang putus asa ingin segera menikah. Aku bisa menulis, sehingga kubuatlah sebuah karangan bebas yang menggambarkan kondisi lajangku saat itu, meski aku harus membayar sedikit ekstra untuk bisa memuat tulisanku di halaman iklan jodoh. Kuceritakan tentang cinta pertamaku, kupaparkan definisiku tentang cinta yang kutahu, dan kumasukkan musik jazz didalamnya. Kalau saja koran bisa memunculkan suara saat kita membacanya, pasti akan menyenangkan mendengar ilustrasi musik yang mengiringinya. Setidaknya itulah bayanganku saat memasukkan unsur musik dalam tulisanku, berharap pembaca hanyut sepertiku dalam adonan kalimat, lirik dan musik yang aku sajikan. Tampak terlalu berlebihan? Mungkin memang berlebihan. Tapi aku maunya begitu. Jadi, aku tulis saja seperti yang kumau, tak peduli hasilnya nanti seperti apa. Aku tidak mentargetkan berapa banyak surat yang masuk untuk melamarku dari iklan jodoh ini. Yang terpenting adalah aku sudah membuat sebuah presentasi diri sejujur diriku sendiri.

Lagu yang kusajikan adalah Let’s Do It, Let’s Fall In Love ciptaan Cole Porter di tahun 1928. Sengaja tak kupilih lagu sendu yang mengiringiku, karena kuingin ada semangat dalam menyikapi kesendirianku ini, dan menyongsong harapan bahwa dari aktivitas iklan jodoh inipun aku akan mendapatkan cinta dan – jika aku beruntung – pernikahan. Lagu ini – meski terangkai panjang lirik lagunya dan unik pemilihan katanya hanya untuk menyamakan rima – sebetulnya hanya mengemukakan satu perihal, bahwa semua mahluk di bumi ini melakukan sesuatu yang sama, yaitu jatuh cinta dan beranak-pinak.

But that’s why birds do it, bees do it
Even educated fleas do it
Let’s do it, let’s fall in love

In Spain, the best upper sets do it
Lithuanians and Lats do it
Let’s do it, let’s fall in love

Itulah mengapa burung, juga lebah, melakukannya
Bahkan kutu yang cerdaspun melakukannya
Jadi, marilah kita lakukan, marilah jatuh cinta

Di Spanyol, orang-orang kaya melakukannya
Orang Lithuania dan Latvia juga melakukannya
Jadi, marilah kita lakukan, marilah jatuh cinta

Ternyata banyak juga yang mengirimkan surat kepadaku melalui PO BOX koran itu. Kiriman pertama berupa segepok surat kuterima dua minggu setelah tanggal tayang iklan biro jodohku itu. Jumlahnya ada 18 surat. Cukup membuatku terkejut. Lalu seminggu kemudian aku mendapatkan lagi 10 surat. Lalu dua minggu kemudian, yang terakhir, 6 surat. Total 34 surat dalam sebulan menurutku sudah sangat banyak. Mana mungkin aku bisa kenalan dengan wanita sebanyak dan secepat itu dalam kondisi normal? Satu saja belum tentu! Dalam mencapai cita-cita, sebuah tindakan harus dilakukan untuk memulainya. Iklan biro jodoh ini boleh juga ternyata, pikirku bersenang hati tanpa ingin membandingkan jumlah surat lebih banyak yang mungkin diterima orang lain dengan iklan serupa. Aku tak peduli. Sebaiknya aku fokus diri melakukan seleksi atas surat-surat ini.

Tentunya tak semua surat aku balas, meski aku baca semua surat itu dan aku teliti satu per satu. Karena memang tak ada keharuskan mengirim foto, dan fotoku sendiri juga tidak ada di koran itu, maka sebisa mungkin aku menganalisa karakter setiap wanita “penggemarku” itu melalui tulisannya. Banyak hal bisa disimpulkan dari cara seseorang saat menuangkan pendapat, maksud dan tujuan dalam sebuah tulisan. Bahkan konon kabarnya ada ilmu khusus yang bisa menilai karakter seseorang dari tulisan tangan dan tanda tangannya. Aku tentu saja tidak sampai sejauh itu menganalisa. Aku cukup melihat dari informasi yang disampaikan, pilihan kata, dan rangkaiannya dalam kalimat hingga memunculkan kesan tertentu pada diriku. Yang kucari adalah kesan cerdas, jujur dan tulus. Dan ternyata memang tak banyak surat yang berhasil memunculkan kesan itu pada diriku. Maka kubalaslah hanya beberapa surat dari mereka. Tentunya tak lagi melalui surat tertulis, melainkan melalui telpon atau SMS ke nomer kontak yang mereka tulis dalam surat.

Adalah Yeni, Dewi, Putri dan Linda, empat wanita yang hanya kutemui satu kali dan tak kuhubungi lagi. Alasannya sederhana, kulitnya kurang terang. Aku tidak mengharapkan kuning langsat atau putih bersinar, hanya saja entah kenapa aku tak pernah bisa tertarik secara fisik dengan wanita berkulit sawo matang, meski banyak orang menyebutnya sebagai eksotik. Dan bagiku, ketertarikan fisik adalah pintu depan menuju sebuah hubungan. Aku sadar ini dangkal, bahkan ada salah satu surat dari wanita bernama Dona yang isinya hanya mencaci maki diriku lantaran mencantumkan prasyarat berkulit terang di iklan biro jodoh, yang baginya sangat bodoh dan tolol. Akupun hanya bisa membacanya dengan rasa malu hati tanpa bisa mendebat atau meminta maaf, karena dia sepertinya sengaja tidak mencantumkan nomer kontak dalam suratnya. Dalam hati aku berkata, untung aku tidak mencantumkan prasyarat langsing semampai. Semakin dangkal saja kesannya aku nanti, meskipun kenyataan membuktikan bahwa para mantanku biasanya berstatus fisik putih langsing semampai.

Namun apa boleh buat. Meskipun aku sudah meluangkan waktu bertemu dan bercengkrama dengan keempat wanita itu, aku tak merasakan adanya keinginan untuk bertemu yang kedua kali. Aku tahu batasan diriku dalam menyukai wanita. Dalam sekali pertemuan saja aku bisa merasakan ada atau tidaknya getar hati yang menumbuhkan keinginanku untuk memenangkan hati wanita itu. Dengan mereka aku tidak mendapati getar itu, meski bereka terkesan lucu dan cerdas. Warna kulit – seperti halnya paras wajah dan bentuk tubuh – memang samasekali tidak mencermin karakter seorang wanita. Tidak pula hal itu akan menjadi jaminan kelanggengan hubungan pria dan wanita. Tapi apa mau dikata, pintu depan harus tetap dilewati untuk bisa masuk kedalam hubungan yang lebih dekat ke arah pacaran. Dan bagiku, jika ketertarikan fisik itu tidak terpenuhi, maka pintu depanpun tak bisa kubuka. Atau mungkin lebih tepatnya adalah tak ingin kubuka, karena toh sebetulnya aku sendirilah yang pegang kuasa atas pintu depan itu.

Kalau ada yang bisa kusimpulkan dari situasi ini adalah bahwa jatuh cinta tidaklah mudah. Terlalu banyak pilihan – atau merasa diri masih punya banyak kesempatan – justru membuatku menjunjung tinggi prasyarat yang kubuat sendiri, meski hal itu tidak relevan dengan keberhasilan sebuah hubungan. Bahkan kesan bodoh dan tolol yang secara vulgar disampaikan Dona, tak lalu membuatku perlu melepaskan diri dari prasyarat itu. Dan akupun tetap semangat mencari cinta lagi. Masih ada beberapa surat yang bisa kutindaklanjuti.

The Dutch in Old Amsterdam do it
Not to mention the Finns
Folks in Siam do it
Think of Siamese twins

Some Argentines, without means, do it
People say, in Boston, even beans do it
Let’s do it, let’s fall in love

Orang Belanda di kota tua Amsterdam melakukannya
Demikian juga orang Finlandia
OrangThailand juga melakukannya
Buktinya ada banyak anak kembar disana

Orang Argentina, meski miskin, juga melakukannya
Katanya, di Boston bahkan kacangpun melakukannya
Jadi, marilah kita lakukan, marilah jatuh cinta

‘Hai Rani, saya Erik.’
‘Hai Mas Erik. Akhirnya kita bertemu juga ya.’

Rani berkulit terang, tidak terlalu tinggi namun tak juga pendek, tidak gemuk tapi agak besar perawakannya, mungkin karena tulang tubuhnya tergolong tebal. Oke lah, meski tak ideal tapi aku tak keberatan dengan fisiknya, tapi tampaknya ada sesuatu yang menghalangiku untuk langsung tertarik padanya. Apa ya? Aku mencarinya sambil melanjutkan perbincangan.

‘Ooo…begitu. Ternyata tak mudah menjadi guru TK jaman sekarang ya Ran. Jadi, setelah kamu lulus menjadi Sarjana Hukum, sekarang kamu kuliah lagi pendidikan guru TK yang setara S1 juga?’
‘Iya Mas. Soalnya aku sudah terlanjur suka menjadi guru TK, jadi mau tak mau harus kujalani syarat-syarat yang harus dilalui. Mungkin karena sejak lulus kuliah Hukum aku langsung dapet kerjanya jadi guru TK, nggak pernah ngrasain kerja kantoran, jadinya ya inilah pekerjaan yang aku pilih dan akan aku seriusin.’
‘Orang tuamu tidak keberatan? Mereka kan sudah membiayaimu kuliah sampai lulus sarjana, dan sekarang kamu malah sekolah setara yang lain lagi. Tidakkah mereka merasa rugi?’
‘Untunglah orang tuaku cukup modern dan demokratis mendidik anak-anaknya. Mereka bilang, kalau aku memang mau serius di jalan yang kupilih sendiri, ya silakan saja asal sudah dipertimbangkan secara matang dan tidak main-main. Tak ada istilah merugi dalam hal pendidikan, apapun pelajarannya.’
‘Orang tua yang bijaksana.’
‘Iya memang, terimakasih Mas. Lagipula, apa sih yang kita cari dalam bekerja kalau bukan kenyamanan dalam melakukannya? Dan kalau sudah pada tingkatan sangat nyaman, maka rasanya sudah tak lagi seperti bekerja. Rasanya ya seperti kegiatan menyenangkan yang kita lakukan setiap hari. Begitulah kira-kira yang kurasa saat mengajar anak-anak di sekolah TK.’
‘Pilihan yang benar dan berani, Rani. Salut deh sama kamu.’

Rani tentu saja cerdas, dan mandiri, dan berasal dari keluarga ideal. Akupun tak berkendala ngobrol bersamanya. Hanya saja semakin lama kami ngobrol semakin aku sadar bahwa ketidakcepatanku dalam menyukai dia ternyata terletak pada wajahnya. Parasnya kurang cantik. Ataupun kalau cantik bisa dipoles memakai make up, kecantikan yang akan muncul dari wajahnya mungkin bukan sesuai seleraku. Tapi setelah ngobrol santai kira-kira dua jam bersamanya sepanjang makan siang, aku putuskan untuk mencoba bertemu lagi dengan dia. Siapa tahu kali ini aku akan lebih tertarik padanya. Mungkin ketertarikanku padanya bisa berkembang seiring berjalannya waktu, pikirku. Maka kuajaklah dia bertemu lagi minggu depan untuk nonton bioskop.

Dalam kurun waktu seminggu tersebut tentunya aku tidak memutus komunikasi dengan Rani. Telpon dan SMS hadir setiap hari dengan intensitas sedang dan kata-kata ringan. Akupun tak merasa perlu untuk mengumbar rayu atau berucap syahdu. Semuanya kulakukan dengan standar kesopanan yang menurutku sepantasnya kulakukan untuk menghargai seorang teman baru. Ranipun membalasnya dengan respon yang sama dalam bertutur kata. Hanya saja kurasakan ada sedikit ketertarikan dia kepadaku yang lebih banyak ketimbang ketertarikanku padanya. Kalau kucermati, jumlahnya lebih banyak dia memulai telpon atau SMS kepadaku daripada sebaliknya, meskipun aku tak pernah melewatkannya tak terjawab. Kami selalu kemudian ngobrol dengan santai dan bercanda ria sebagaimana mestinya, tak peduli siapapun yang memulai kontak. Dan sungguh aku tak keberatan dia menyukaiku lebih dulu. Mungkin nanti aku akan bisa juga menyukainya, pikirku.

Tenyata aku tak bisa menyukainya. Dan kesimpulan itu kuambil agak lama, yaitu setelah empat kali pertemuan dalam kurun waktu satu bulan. Sekali makan siang, sekali nonton dan dua kali nongkrong di kafe. Aku tak bisa menyukainya. Dan tentu saja aku belum mengajaknya pacaran. Wajahnya – meski tak mempengaruhi komunikasi diantara kami – tetap saja tak bisa membuatku suka padanya. Dan semakin lama aku berhubungan dengannya, semakin aku menemukan kekurangan-kekurangan baru pada dirinya. Ini mungkin efek samping dari ketidaktertarikan diriku pada wajahnya, sehingga secara tidak sadar aku mencari-cari kekurangan lain dari dirinya, setidaknya sebagai pembenaran diriku bahwa aku tak meninggalkannya hanya karena parasnya semata. Oh, betapa hujatan Dona itu sangat membekas dalam hatiku, hingga aku susah mengaku diri bodoh dan tolol, walau cuma aku sendiri yang tahu!

Dia ternyata suka film horror, yang mana aku sama sekali tak bisa menikmatinya, dan betapa sangat kebetulan film-film yang diputar pada saat itu, kalau tidak lebih buruk, ya sudah pernah kami tonton sebelumnya. Tinggallah satu film horor itu, yang ternyata dia merasa puas selesai menontonnya. Dia agak kaku dalam bergaul dan membatasi waktu bersosialisasinya, sehingga aku tak bisa mengajaknya clubbing di malam hari atau menonton midnite show. Sedangkan aku sebagai anak kost di Jakarta mempunyai kemerdekaan penuh untuk menjelajahi malam tanpa batas. Terbayanglah dalam pikiranku bahwa Rani ini akan sulit menggabungkan diri diantara teman-temanku nantinya kalau sudah kukenalkan. Kemudian masih ada lagi pernak-pernik ketidaksempurnaannya dimataku, seperti caranya berpakaian, cara dia makan, seleranya berbelanja, aliran musiknya, hobinya memelihara kucing, dan lain-lain yang secara otomatis tertolak di hatiku hanya karena berseberangan dengan kesukaanku. Dan tak sedikitpun terpikir olehku untuk mentolerir hal-hal kecil itu untuk menyelaraskannya denganku. Buat apa, pikirku, toh aku tak menyukainya. Ya, sesempit itulah jalan pikiranku, karena menurutku masihlah seluas samudra pilihan cintaku.

Electric eels, I might add, do it
Though it shocks them, I know
Why ask if shad do it?
Waiter, bring me shad roe!

In shallow shoals, English soles do it
Goldfish, in the privacy of bowls, do it
Let’s do it, let’s fall in love

Perlu kutambahkan, Belut Listrikpun melakukannya
Meski mereka sampai kesetrum satu sama lain
Dan kenapa pula ditanya apakah ikan melakukannya?
Oh, Pelayan, saya pesan masakan Telur Ikan ya!

Di tepian sungai, ikan-ikan pipih-pun melakukannya
Sepasang Ikan Mas di aquarium juga melakukannya
Jadi, marilah kita lakukan, marilah jatuh cinta

Kegagalanku menyukai Rani ternyata memberiku kesulitan baru, yaitu bagaimana caranya melepas hubungan dengan seorang wanita yang sudah terlanjur menyukaiku. Aku tentunya tidak akan melakukan tindakan drastis seperti bertingkah selayaknya kami tak pernah saling kenal. Bagaimanapun juga dia seorang yang bisa kujadikan teman kalau dia tak keberatan. Tapi tampaknya itu tak mungkin terjadi. Tidak akan nyaman bagiku dan baginya. Aku masih butuh kebebasan untuk bertemu dengan kandidat-kandidat baru yang masih antri untuk kuajak ketemuan, sedangkan dia tentunya tak akan nyaman mengetahui hal itu. Kalaupun aku terus menerus menemuinya, akupun akan kasihan padanya karena aku merasa bahwa dia mengharapkan perkembangan hubungan yang mengarah pada keseriusan. Aku tak bisa memberi itu. Maka kuputuskan saja untuk selalu mengelak.

Aku tak tega untuk tidak menerima telpon darinya, atau tidak membalas SMS-nya. Teknik mengelakku hanya satu, yaitu menjawab semua serangannya dengan jawaban tidak. Tidak enak badan, tidak ada waktu, tidak ingin jalan, tidak ingin nonton, tidak lapar, dan sederet tidak-tidak lainnya yang pada intinya menolak sebuah pertemuan. Tapi semua kujawab, tak ada serangan yang kulewatkan. Setidaknya aku merasa lebih sopan dan menghargainya dengan cara itu, berharap dia tidak menambah intensitas ketertarikannya padaku dan berhenti menghubungiku dengan sendirinya. Dan setelah tiga minggu berlalu, serangannya akhirnya berhenti juga. Ah, syukurlah! Semoga dia tidak membenciku atas penolakan ini.

Selama tiga minggu itu, aku menjajaki kemungkinan bertemu dengan dua kandidat berikutnya, yaitu Lola dan Maya. Dengan berbekal pengalamanku bertemu Rani, aku sudah bertekat untuk tak lagi mengulur-ngulur waktu jika nantinya kudapati bahwa mereka tidak menarik saat pertemuan pertama. Mengulur waktu hanya akan menambah beban hidupku saja, toh menjadikan mereka teman setelah bertemu dengan sebuah pengharapan, tak akan mungkin terjadi. Ingatlah, ini adalah ajang Biro Jodoh, bukan Biro Teman! Berawal dari orang asing, sebaiknya segera kembali menjadi orang asing. Kalau mau menambah teman, bukan disini tempatnya.

Sayangnya, itu jugalah yang terjadi dengan Lola dan Maya, yang kutemui sendiri-sendiri di waktu yang berbeda. Aku tak bisa menyukai mereka. Kekurangannya ada pada banyak hal-hal kecil, yang mana kalau semua itu disatukan, kesan yang kudapat adalah tidak menarik. Lola langsing semampai berkulit terang. Secara tersurat dia memenuhi prasyarat dasar fisik yang kumau, namun secara kasat mata tak kuperoleh kesan sehat. Dia terlalu kurus, ditambah dengan penyakit Asma yang masih suka kambuh setiap pergantian musim, aku dengan tulus berharap semoga dia mendapatkan pasangan hidup seorang Dokter yang bisa merawatnya. Dan kalau bisa segera. Amin! Sedangkan Maya kelewat sehat. Dia seorang instruktur senam paruh waktu sambil bekerja sebagai staf pegawai negri sipil. Posturnya sempurna dengan bagian dada membusung dan bagian pantat menyembul. Diapun berkulit putih bahkan terlihat terawat dengan wajah penuh make up melekat. Tapi ternyata kecintaannya pada perawatan tubuh dan wajah berbading terbalik dengan minatnya pada musik, film, buku, dan macam seni lainnya, bahkan pada tingkatan umum sekalipun.

Aha! Aku ternyata tak sedangkal yang Dona hujatkan kepadaku! Aku ternyata masih membutuhkan wanita yang menarik diluar putih semampai dan paras cantik. Masih butuh wanita cerdas yang ngobrolnya nyambung diluar prasyarat fisik. Ah, tapi tak ada guna mengelak dari kenyataan diri! Yang namanya prasyarat tetap saja prasyarat! Bentuknya adalah standar yang minta dipenuhi di awal perkenalan. Lama-lama aku memandang prasyarat ini tak ubahnya seperti jebakan dalam memulai sebuah hubungan. Fisik, cantik, dan menarik. Sudah kudapat tiga jebakan dalam perjalanan karirku yang menyedihkan di Biro Jodoh ini. Dan sudah tiba saatnya mendeklarasikan bahwa secara resmi proyek pencarian cintaku di Biro Jodoh ini berakhir gagal!

The most refined ladybugs do it
When a gentleman calls
Moths in your rugs do it
What’s the use of moth balls?

Mosquitoes, heaven forbid, do it
So does every katydid do it
Let’s do it, let’s fall in love
Let’s do it, let’s fall in love
Let’s do it, let’s fall in love

Bahkan Ibu Kepik yang anggunpun melakukannya
Saat sang Bapak Kepik meminangnya
Ngengat di karpetmu juga melakukannya
Emang apa gunanya diciptakan kapur barus?

Nyamukpun, amit-amit, melakukannya
Sebagaimana belalang juga melakukannya
Jadi, marilah kita lakukan, marilah jatuh cinta
Jadi, marilah kita lakukan, marilah jatuh cinta
Jadi, marilah kita lakukan, marilah jatuh cinta

Link Lagu “Let’s Do It, Let’s Fall In Love”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s