#TJMK : Bab 1 “Mission: Impossible”

BAB 1
Mission: Impossible
Usia: 30 tahun
Lokasi: Jakarta
Masa: Agustus 2006

Ini adalah cinta.
Karena aku ingin menamainya cinta.
Bukan karena aku tahu kelakuanku saat jatuh cinta.
Tapi karena aku berkuasa atas rasa dan logika untuk bilang cinta.

‘Meri, thanks a lot ya sudah mau aku ajak makan malam barusan.’
‘You’re welcome, Erik. And happy birthday lagi ya. Sekarang skor kita satu sama. Sama-sama menghadiri birthday dinner masing-masing. Temen-temen kantormu seru juga ya. Dari teman kamu itu saja, seharusnya Lisa bisa milih salah satu buat dipacarin.’
’Sebetulnya mereka bukannya nggak ada yang naksir sama Lisa. Lisanya aja yang nggak sadar. Atau mungkin cowoknya yang sudah mundur duluan sebelum ngajak pacaran. Gosipnya sih, standar Lisa mencari pacar agak ketinggian. Yang tadi balik ke kantor sama Lisa kan pernah naksir dia juga.’
’Iya juga sih. Tapi Lisa emang maunya begitu, ya mau bilang apa. Untungnya aku nggak sekaku dia.’
’Sekarang maksudmu kan. Dari ceritamu, kamu dulu bahkan sempat menutup hati melebihi kakunya Lisa, bukan?’
’Hahaha, iya juga sih. Untung sekarang sudah nggak.’
’Berarti aku datang di saat yang tepat. Aku parkirin mobil disini sebentar ya. I need to talk to you.’
[Sambil memarkir mobil di pinggir jalanan perumahan yang sepi itu, hatiku berdebar kencang. Aku akan menyatakan cinta pada Meri.]
‘Ada apa Rik?’
‘I wanna give you this.’
‘Apa ini? Bukankah kamu yang ulang tahun? Kok aku yang dapet kado?’
’Just open it.’
‘Ini CD apa? Soundtrack De-lovely. Filmnya bagus ya?’
‘Bagus. Musikal pastinya, dan Jazz musiknya, karena ceritanya tentang kisah nyata Cole Porter.’
‘Wah, harus nyari DVD-nya nih. Makasih ya, Rik. Ini ada kartunya. Aku buka ya?’
‘Bacalah. CD-nya aku putar disini dulu ya.’
[Lagu So In Love mengalun.]

Dear Meri,
I can not begin to tell you how lucky I am to have met you.
To know you. To be close to you.
I’m not good with words, so I’m giving you this song to represent what I feel about you.

SO IN LOVE

Strange Dear, but true Dear
When I’m close to you Dear, the stars fill the sky
So in love with you am I

Even without you, my arms fold about you
You know darling why
So in love with you am I

In love with the night, mysterious
The night when you first were there
In love with my joy, delirious
When I knew that you could care

So taunt me, and hurt me, deceive me, desert me
I’m yours till I die
So in love with you, my love, am I

Meri, I love you.

On my thirtieth birthday,
Erik.

[Aku memegang tangan Meri.]
‘Meri, aku tahu posisiku dalam kehidupanmu. Aku tahu masih ada Mas Bimo di hatimu. Aku disini tidak menawarkan pacaran. At least tidak sekarang. Aku hanya ingin kamu tahu bahwa aku sayang sama kamu.’
[Meri tersenyum. Senyum yang tampak sekali terpaksa. Dia memaksa senyumnya muncul di kala matanya menahan tangis.]
’Oow, Meri, jangan sedih Sayang.’
[Untuk pertama kalinya aku memanggilnya Sayang. Kepalanya tertunduk seperti tak ingin ketahuan kalau dia menangis. Kupegang lehernya dengan harapan dia mau mendongak. Dia tidak bergeming.]
’I love you because I want to make you happy. Bukannya malah bikin kamu sedih.’
[Wajah Meri tak bisa kulihat, tapi nafasnya tak menyembunyikan isakannya.]
‘Hushh…hushh…sudah sudah Sayangku…sudah nangisnya…’
[Aku berusaha menenangkan tangisnya. Kucoba mendekatkan tubuhku ke arahnya agar dia bisa menangis di pundakku, tapi tanpa kusangka dia malah memelukku erat dengan gerakan cepat. Meski setengah kaget, akupun memeluk balik sebagai ekspresi rasa sayangku padanya.]
’Erik, I’m so sorry.’
[Suaranya tersedak. Terisak. Tapi aku tahu satu kepastian. Aku tidak diinginkan. Aku tertolak.]
’Hushh…hushh…udah ya…udah ya…nangisnya udah.’
[Aku melepaskan pelukanku perlahan. Kupegang kepalanya dan kuseka air matanya dengan ibu jari tanganku. Tapi dia tak kunjung mendongak, seolah sengaja menolak tatapan mataku. Dan memang itulah yang mungkin sedang dilakukannya sebagai akibat dari rasa bersalahnya. Aku paham. Tapi aku tetap ingin memandang matanya saat aku bicara padanya.]
’Look at me, Meri. Look at me!’
[Ucapanku sedikit menghentak yang memang kusengaja. Aku harus tahu isi hatinya, meski mungkin tak akan pernah terucap olehnya. Akan kucari rasa cinta itu. Cinta darinya yang ada untukku. Cinta yang tersirat dari tatapan matanya. Diapun mendongak. Matanya menatapku meski aku tahu baginya amat berat. Dan ternyata aku tidak salah. Hatiku berkata, dia mencintaiku. Aku tetap tertolak, aku tahu itu. Tapi aku juga tahu, dia mencintaiku. Dan itu saja, cukup bagiku.]
‘Meri, listen to me. You have nothing to be sorry about. Nothing, Sayangku. Nothing.’
[Suaraku melemah seiring dengan terpacunya adrenalinku. Kulihat cinta di matanya dan aku tak akan menyia-nyiakannya. Kalaupun ini akan menjadi yang pertama dan satu-satunya, akupun rela. Aku harus menciumnya.]
‘Nothing…’
[Sekali lagi, aku tahu aku tertolak. Tapi cintaku tak bertepuk sebelah tangan. Dan bibirkupun tak melumat sebelah ciuman.]

Malam itu menandai resminya Meri berselingkuh denganku. Meri adalah gadis cantik yang berusia sama denganku. Adiknya, Lisa namanya, bekerja sekantor denganku. Aku adalah Editor, sedangkan Lisa, Reporter. Suatu hari secara tak sengaja Lisa memintaku mengantarnya pulang di sela istirahat makan malam saat ada rapat penting di kantor majalah kami. Alasannya adalah karena aku jago ngebut kalau setir mobil. Akupun tak menolak tawaran makan malam gratis itu. Saat itu adalah ulang tahun Meri, yang ternyata usianya hanya terpaut setahun dari Lisa, tapi cantiknya terpaut berlipat ganda di mataku. Kalau menurutku Lisa itu cukup menarik meski tidak kubilang cantik, maka Meri ini sangat tidak layak kuberi predikat hanya menarik. Dia adalah definisi ideal dari kata cantik. Sayangnya – atau mungkin untungnya bagiku – pacarnya yang berprofesi fotografer, namanya Mas Bimo, mendadak tidak bisa datang. Meski aku tak duduk disamping Meri – yang pasti disengaja olehnya yang meminta Lisa duduk di sampingnya sebagai pertanda bahwa dia perempuan baik-baik – namun kedekatan kami tak bisa dihindari. Kami sama-sama menyukai musik Jazz, dan kesamaan hobi dalam hal ini adalah tanda bahaya. Akupun seperti tak rela kalau komunikasi kami berhenti sampai di acara makan malam keluarga itu. Aku jadi agak berlebihan menawarkan kondisi-kondisi lanjutan agar kami bisa selalu terhubungkan. Pertama, menawarkan tiket gratis untuk Jazz Concert yang dalam waktu dekat akan diselenggarakan oleh majalah tempatku bekerja. Kedua – dan ini adalah tindakan bodohku yang fatal akibat ketertarikanku pada Meri yang luar biasa – aku menawarkan tugas fotografi Jazz Concert itu kepada Mas Bimo, pacarnya Meri. Dan ketiga, malam itupun berakhir dengan kami saling bertukar nomer handphone. Lengkaplah sudah. Sejak saat itu, secara resmi, komplikasi hubunganku dengan Meri dimulai.

Aku adalah pria romantis. Aku tidak suka nge-gombal, tapi tak kusangkal juga bahwa seringkali ucapanku terangkai indah dan tindakanku terkesan manis. Resepnya cuma satu, yaitu aku melakukannya dengan tulus. Aku tak tahu apakah itu resep yang mujarab, atau justru akan membuatku terjerembab, tapi dalam sebuah hubungan dengan wanita yang aku suka, aku tak akan setengah-setengah melakukannya, termasuk meyerahkan seluruh hatiku padanya. Ini mungkin terdengar klise, tapi aku tak tahu cara lain saat menghadapi situasi seperti ini. I’m hopelessly romantic, mungkin begitu istilahnya dalam bahasa Inggris yang susah mendapat terjemahan tepatnya dalam bahasa Indonesia secara singkat. Dan Meri telah menghidupkan kembali romantisme dalam diriku setelah sekian lama terkubur cukup dalam. Ya, cukup dalam, karena rasa itu tak akan muncul begitu saja meski ada wanita tersedia di hadapan.

Rasa itu sementara ini kunamai sebagai cinta. Cinta bukanlah seks, meski sensasi nikmatnya akan saling mempengaruhi di dua lokasi tubuh yang terhimpit, yaitu diantara dada dan diantara paha. Tidak, aku tidak sedang bicara tentang seks. Tapi… ah, apa boleh buat! Mau diakui atau tidak, menurutku dalam mencari cinta, semua pria pasti menginginkan – entah sedikit atau banyak – sensasi yang mampu memacu adrenalin mereka sampai ke pangkal pahanya. Sensasi itu akan tinggi derajatnya kalau diberi label cinta dengan pembuktian tulus dan setia, tapi akan sangat hina kalau hanya birahi semata. Setidaknya kebanyakan wanita akan memandangnya seperti itu.

Aku tentu saja pria normal yang sudah cukup umur untuk melakukannya. Dan kalau aku tidak takut dosa, akan lebih gampang kalau aku membelinya saja, atau mendapatkannya gratis dari wanita yang menyukaiku. Free sex bukanlah kegiatan rekreatif yang memancing gembiraku. Dan meski aktivitasnya tidak sampai dinamai sebagai prostitusi, tapi tetap saja nilainya menjadi sangat rendah di mataku. Ada semacam penghargaan kepada wanita yang dihilangkan mentah-mentah saat seks dilakukan tanpa tujuan yang bertanggung jawab, dalam hal ini adalah pernikahan.

Kalau hanya seks yang kucari, maka aku tak perlu segala kontemplasi ini, dan aku tak perlu juga mencari rasa yang namanya cinta. Aku akui bahwa di usia segini dorongan seksualku semakin memuncak, dan aku juga tak mengelak bahwa aku menikmati sensasi seksualitas berbatas yang kulakukan saat hubunganku dengan seorang wanita sudah sangat dekat, apalagi jika didukung dengan rasa cinta yang membara. Aku hanya tak mau melakukannya tanpa batas saat pernikahan belum dilaksanakan, setinggi apapun cintaku padanya. Itulah prinsipku saat ini. Usiaku sudah tiga puluh, sudah waktunya aku lebih bijaksana dalam berprinsip dibanding saat masa remaja dulu.

Di sisi lain, akupun paham betapa kota Jakarta tempatku tinggal ini sangatlah kosmopolitan. Bagi sebagian penduduknya, seks tak lagi dipandang sebagai barang tabu yang musti ditutupi. Beberapa bahkan terang-terangan tinggal seatap, atau se-apartemen, atau sekamar-kost, atau selokasi lainnya yang memungkinkan mereka berkehidupan layaknya suami-istri tanpa ada tanggapan negatif apapun dari lingkungan tempat mereka tinggal. Jakarta memang sekosmopolitan itu, dan aku bukannya naif, atau sok suci, yang kemudian menutup mata dan menghardik mentah-mentah atas kenyataan itu. Tidak. Aku juga warga Jakarta, yang meski tak menyetujui aktivitas negatif itu, namun cukup paham bahwa besar kemungkinan aku akan terkena efek samping dari perilaku seks pranikah yang merajalela, yaitu mendapatkan pacar yang tak lagi perawan.

Di masa lalu, jamannya kakek-nenekku, keperawanan seorang wanita mungkin masih layak menjadi bahan pertimbangan untuk menilai karakter seorang wanita saat melangkah ke jenjang pernikahan. Seks sangatlah tabu pada masanya, dan masyarakat tidak mentolerir sedikitpun hubungan seks pranikah. Seorang wanita kalau sudah kehilangan keperawanan sebelum menikah, maka dia bukanlah wanita baik-baik. Itu sudah harga mati, tak bisa ditawar. Di jaman sekarang, menurutku sangatlah tidak bijaksana memandang nilai seorang wanita hanya dari keperawanannya saja. Tidaklah adil kalau wanita dipandang rendah hanya karena sebuah bukti sebercak darah yang tidak muncul saat pertama kali bersenggama, sedangkan di sisi lain kaum pria tak perlu membuktikan keperjakaannya sebagai pertanda kebaikan karakternya. Sekali lagi, usiaku sudah tiga puluh. Aku sudah makan asam garamnya percintaan. Maka akupun berprinsip bahwa satu-satunya cara menilai seseorang – baik pria maupun wanita – adalah dari kedewasaan dirinya saat ini, bukan dari kesalahannya di masa lalu.

Tapi aku disini tak hendak bicara tentang seks. Aku mau bicara tentang hubungan pria dan wanita. Hubungan yang nyata. Hubungan yang sangat aku hargai dan juga dihargai dengan baik oleh pasanganku. Hubungan yang membuat para pihak merasa tersambung dalam perbincangan, terkesan dalam penampilan, dan tergetar dalam kedekatan. Mendapati semua itu dalam rutinitas keseharian, maka akan timbul kesenangan, atau kebahagiaan, atau kerinduan, atau apapun labelnya yang sifatnya sama, yaitu adiktif. Cinta, dengan segala ketulusanku dan curahan romantismeku, akan menjadi sebuah zat adiktif yang tak henti berkembang. Dan aku akan terus menambah intensitasnya, terus dan terus, bagai tak ada ujung pada bukit yang kudaki. Sampai di suatu saat yang tak kuduga – atau lebih tepatnya tak ingin kuduga – sang wanita akan pergi meninggalkanku. Lalu aku akan berusaha mengikhlaskannya, dan akhirnya aku akan kembali berstatus jomblo. Itulah rutinitas kisah cintaku. Meski kunyatakan bahwa aku sudah makan asam garamnya percintaan dengan beberapa wanita, tapi tetap saja belum kudapati sebuah hubungan yang bertahan cukup lama untuk diteruskan ke arah pernikahan.

Hubunganku dengan Meri adalah salah satu bukti terkini bahwa cinta telah sekali lagi berhasil membutakanku. Membutakanku dari cita-cita luhurku untuk mendapatkan hubungan yang mengarah pada pernikahan. Status jomblo adalah yang sedang kusandang saat bertemu dengan Meri. Dan akupun sadar sepenuhnya bahwa saat itu Meri berstatus sebaliknya. Namun hal itu tak sedikitpun menghalangiku untuk memunculkan rasa cinta ini untuknya. Tak sedikitpun. Sangat tidak bijaksana membiarkan perasaan dan hubungan kami berkembang dalam kondisi seperti itu. Sangat tidak bijaksana. Jodoh memang di tangan Tuhan. Tapi bukan berarti kita boleh berasumsi bahwa hanya karena kita mencintai seorang wanita, maka dialah jodoh yang diturunkan Tuhan untuk kita. Mendapat jodoh tidak begitu caranya. Percayalah – sekali lagi – aku sudah makan asam garamnya percintaan.

Aih aih, betapa sombongnya aku! Kenyataan membuktikan bahwa akupun tak lalu pandai dalam menemukan jodoh buat diriku sendiri. Aku tak pernah bisa keluar dari rutinitas tingkah lakuku saat menghadapi cinta. Tidak pula kali ini saat usiaku sudah bulat tiga puluh. Meski aku tahu pasti – sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen yakin – bahwa tak akan ada masa depan pernikahan antara aku dengan Meri, aku tetap saja menjalani percintaku ini dengan sebaik-baiknya.

Setelah malam itu, malam saat kami berciuman untuk yang pertama kalinya, Meri dan aku bukannya saling menjauh, kami justru saling mendekat. Intensitas pertemuan makin bertambah, pernak-pernik romantismepun makin kutebar. Dari aktivitas standar seperti ber-SMS mesra, kirim kado sebuah CD, setangkai bunga, sekotak coklat, lengkap dengan kartu-kartu cinta yang seringkali tak murah harganya. Aku tak peduli harga saat jatuh cinta, dan aku punya selera. Perpaduan yang mematikan buat pemuda tidak kaya sepertiku ini. Tapi toh, aku bersedia memaksimalkan semua yang kupunya, sepenuh jiwa dan raga. Satu-satunya yang tidak maksimal adalah sentuhan fisik, meski tentunya sama-sama kami nikmati. Bukan, ini bukan hanya dalam rangka memuaskan selangkangan semata. Dan aku tetap membuatnya berbatas, bukan tanpa batas. Meripun tak akan mau melakukannya tanpa batas. Dia wanita baik-baik yang tahu sampai dimana dia membatasi diri dalam hubungan fisik sebelum menikah. Tidak, aku tidak mendekati Meri untuk tujuan itu. Aku benar-benar mencintainya, dan akupun tahu dia menikmati cintaku secara fisik maupun metafisik.

‘Meri, kalau aku memintamu untuk menikahiku, bisakah kamu melepas Mas Bimo?’
[Hati-hati sekali aku menanyakan hal ini. Aku tak mau dia terbebani dan lalu menjauhiku karena rasa bersalahnya. Aku tak mau kehilangan Meri. Mending jadi selingkuhannya daripada tidak sama sekali.]
‘Oh Erik, jangan tanya begitu dong, please. Kamu kan tahu aku sayang sama kamu.’
[Sayang adalah kata yang ambigu. Bagiku sayang dan cinta itu sama saja. I love you juga jadinya kalau di-bahasa-Inggris-kan. Tapi bagi orang lain mungkin kata ‘sayang’ digunakan untuk menghindar dari kewajiban bilang ‘cinta’ yang memang tak dia rasa. Tapi ah, biarkan saja, tak perlu aku memperpanjang masalah sepele itu. Toh dia disini bersamaku.]
‘Iya Sayang, aku tahu.’
‘Tapi aku nggak bisa nglepasin Mas Bimo gitu aja. Dia nggak salah apa-apa. Keluarganya sudah dekat denganku, dan juga keluargaku sama dia. Aku nggak mungkin mutusin itu dalam sekejap.’
[Kenapa musti mikirin itu semua? Kalian kan belum menikah? Mas Bimo nggak harus bersalah dulu baru kamu putus kan? Kalau kamu cinta aku, tinggalin dia dong! Jadilah sepenuhnya milikku! Toh, kamu sangat menikmati aku!]
‘Iya Sayang, aku ngerti. Let’s not talk about it, then! Let’s…just…kiss…’
[Aku tak mau konflik. Kalau ada pilihan antara konflik dan bahagia, aku akan pilih bahagia. Sebaiknya berciuman saja daripada berantem.]

Lagu So In Love karya Cole Porter di tahun 1948 yang pernah kuberi kepada Meri, benar-benar mencerminkan kondisiku. Seolah tak ada yang bisa menghalangiku untuk mencintainya. Tak juga kepedihanku sendiri.

So taunt me, and hurt me
Deceive me, desert me
I’m yours till I die
So in love with you, my love, am I

Aku tak peduli kau mengejekku, atau menyakiti hatiku
Atau mengkhianatiku, bahkan meningalkanku
Aku tetap milikmu sampai maut menjemputku
Karena aku sangat mencintaimu, sayangku

Entah dia mencintaiku atau tidak, aku tak tahu. Dia tak pernah mengucapkannya padaku dengan jelas, dan aku tak peduli itu. Disitulah letak kebutaanku saat mencinta. Aku tak peduli dia mencintaiku atau tidak, selama dia bahagia jalan bersamaku, aku sudah puas. Aku senang bisa membahagiakan orang lain, apalagi membahagiakan seorang wanita yang aku cintai, hingga aku rela cuma berstatus selingkuhan, bukan pacar.

Perselingkuhan adalah yang kami lakukan. Meskipun aku bisa mengelak bahwa aktivitas berselingkuh hanya berlaku bagi mereka yang sudah punya pasangan, bukan yang jomblo sepertiku, tapi ah, sudahlah! Siapa sih yang mau kubohongi? Aku berhubungan dengan wanita yang sudah punya pasangan. Artinya, kesalahanku sama besar dengan kesalahan dia. Artinya juga, akupun berselingkuh. Ini bukan yang pertama kalinya bagiku, atau mungkin juga bukan yang terakhir? Aku tak tahu. Tak hendak juga aku memikirkannya terlalu panjang kedepan. Yang kutahu pasti saat ini adalah bahwa aku sedang terjerembab dalam perangkapku sendiri. Romantisme yang sengaja kubuat dan perhatian yang kuberi setulus hati, telah menumbuhkan kepuasan diri di hatiku, bahwa sekali lagi aku berhasil membahagiakan wanita. Terkadang aku berpikir, sebetulnya untuk siapakah aku mencinta? Untuk wanita yang kusuka, atau untuk kepuasan diriku sendiri mencapai level tertinggi dalam membahagiakan hati?

Oh hati, mengapa engkau selalu minta dipuaskan oleh cinta? Tak bisakah kamu seperti logika, yang cukup puas dengan kondisi sederhana dan mudah diterka? Tak ada yang sederhana tentang cinta. Aku pikir tadinya jalan yang benar adalah mengikuti kata hati. Tapi selalu saja kata hati membawaku ke dalam labirin cinta yang aku tak kuasa mengelaknya. Dan dilihat dari pengalamanku sendiri, cinta tak selalu membawaku ke akhir yang benar. Buktinya, ya statusku ini yang masih jomblo saja di usia yang tak lagi muda.

Bukannya aku tak berusaha menemukan jodohku dengan cara lain di luar cinta. Seperti yang kubilang tadi, aku sudah makan asam garamnya percintaan. Maka, mencari pasangan diluar kebiasaanku mencintapun pernah aku jalani.

Link Lagu “So In Love”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s