Asian Games dan IMF-WBG Meeting 2018: Pencitraan Penting Indonesia

Belum genap dua bulan Indonesia memasuki usia tujuh puluh tiga, dua perhelatan kelas dunia digelar di negara kita di tahun 2018 ini, yaitu Asian Games di Jakarta dan Palembang, serta IMF and World Bank Group Annual Meeting di Bali. Bukannya tanpa drama, dua bencana besar menimpa saudara kita di Lombok dan Sulawesi, dan di saat yang sama mata uang Rupiah semakin melemah terhadap Dolar Amerika Serikat. Namun singkat cerita, kedua acara besar ini menuai puji dan mengharumkan nama bangsa di mata dunia. Dengan budget melejit, meski seimbang dengan kreasi dan fasilitas berkelas yang berhasil ditunjukkan, tak pelak perhelatan ini menuai kontroversi di dalam negri. Iklim politik menjelang Pilpres 2019 pun makin memanaskan suasana. Pentingkah mahakarya pencitraan dilakukan Indonesia dalam suasana seperti ini?

ASIAN GAMES DAN PARA GAMES 2018

Alkisah, saya termasuk warga negara yang bangga tiada tara kala Asian Games dibuka. Pertunjukan Mahakarya Indonesia yang luar biasa malam itu rasanya tak akan saya lupa. Seolah mata dan hati saya terbuka untuk kali pertama, bahwa Indonesia adalah negara besar yang setara dengan negara-negara kelas satu dunia. Ini mungkin bukti kepicikan saya, yang meski bisa bilang “Cinta Indonesia” namun tanpa sadar meremehkan negri sendiri. It was truly a wake-up call for me. Bahkan sampai sekarang saat saya menulis ini, setiap hari saya selalu intip YouTube hanya untuk mencari reaction video terbaru dari para YouTuber luar negri tentang opening ceremony -nya Asian Games dan Para Games 2018. Haus puji untuk bangsa ini sudah bagai candu di dalam hati. Dan sayapun bersedia mengakui, bahwa di usia matang ini saya bertingkah sangat naif dalam hal ini, dan sengaja memeliharanya untuk guilty pleasure pribadi. Hahaha…

Dalam perjalanan saya “mabok reaction video” saya mendapati link-link video lain tentang pembangunan dan pariwisata Indonesia. Saya klik satu dua, lalu tanpa sadar setelah beberapa hari ternyata banyak juga video-video itu. Saya baru tahu bahwa pemerintah selama ini telah membuat video-video pendek tentang pembangunan di Indonesia, terkait banyak bidang namun utamanya infrastruktur, dengan kualitas bagus seolah melaporkan pada rakyatnya bahwa kami sudah membangun dan melakukan ini itu. Dan tak usah diragukan lagi tentang video-video pariwisatanya. Indahnya negri kita ini tiada tara terbalut dalam video-video tourism advertising berkualitas tinggi. Search saja Wonderful Indonesia di YouTube, lalu jika memungkinkan tontonlah di layar tv ukuran besar beresolusi tinggi. Experience menontonnya saja sudah luar biasa! Dan jangan salah, reaction video -nya dari YouTubers luar negri bahkan jauh lebih banyak daripada Asian Games!

IMF AND WORLD BANK GROUP ANNUAL MEETING

Saya masih belum “sembuh” dari Asian Games, ternyata Indonesia menghelat lagi sebuah international event di bidang Keuangan. Rapat tahunan Dana Moneter Internasional dan Bank Dunia ini dilakukan setiap tahun di Washington DC, Amerika Serikat, mengingat kedua badan keuangan ini kantornya saling berhadapan di Washington sana. Namun di setiap tahun ketiga, penyelenggaraan rapat ini selalu ditawarkan kepada negara anggota yang bersedia. Tercatat di tahun 2012 Jepang menjadi tuan rumah, kemudian disusul Peru di tahun 2015. Konon untuk tahun 2012 rapat ini sedianya dilakukan di Mesir, namun gagal mengingat munculnya Arab Spring pada saat itu, sehingga diganti oleh Jepang. Untuk tahun 2018 ini sebetulnya Mesir mencalonkan diri lagi, namun konsensus dari jajaran Direksi IMF dan World Bank lebih memilih Indonesia sebagai tuan rumahnya.

Beberapa negara yang merasa siap akan saling berebut ingin menjadi tuan rumah rapat bergengsi ini. Terpilihnya Indonesia sebagai penyelenggara untuk 2018 setidaknya menjadi bukti kepercayaan dunia pada perekonomian Indonesia, selain mungkin juga keinginan pribadi mereka berwisata ke Indonesia. Dalam benak saya terbayang, mereka nonton dan terkesima dengan video-video Wonderful Indonesia di YouTube seperti saya, lalu memutuskan tujuan perjalanan dinas berikutnya yang dibiayai kantor mereka, untuk rapat sambil jalan-jalan ke Indonesia. “Wah, pasti seru nih!” begitu mungkin pikiran modus mereka, hahaha… Dan Pemerintah Indonesia pun tak menyia-nyiakan “modus” itu. Program Voyage to Indonesia 2018 pun dicanangkan untuk tak hanya memfasilitasi delegasi dari 189 negara anggota IMF dan World Bank ke Bali untuk rapat dan wisata, tapi juga menyiapkan paket-paket perjalanan ke beberapa lokasi wisata utama lainnya di Indonesia seusai acara rapat mereka di Bali. Maka, Yogyakarta, Tanah Toraja, Labuhan Bajo dan Danau Toba pun saat ini sudah siap sedia menerima limpahan wisatawan kaya berkelas bintang lima ke kota mereka.

Fun Facts -nya disini adalah, jumlah delegasi dari 189 negara yang tadinya sekitar 15.000 orang membengkak tinggi hingga 39.000 orang, yang terdiri dari beberapa Pemimpin Negara, semua Menteri Keuangan dan Direktur Bank Sentral dari masing-masing negara, para Pelaku Bisnis dan Perbankan, serta Awak Media. Sebagai perbandingan, Asian Games 2018 di Jakarta diperkirakan dihadiri oleh sekitar 12.000 orang, namun kenyataannya yang datang bertambah menjadi sekitar 17.000 orang. Dampaknya bagi perekonomian Bali tak perlu diragukan lagi mengingat acara ini dilakukan di periode wisata yang low season, sehingga hampir bisa dipastikan pendapatan sektor wisata Bali di tahun 2018 ini akan meningkat sangat siknifikan.

PENCITRAAN INDONESIA

Pembentukan Citra Indonesia di mata dunia adalah misi utama, dan alhamdulillah tercapailah cita-cita mulia itu. Pembentuknya tak hanya datang dari yang kasat mata, seperti Opening Ceremoni yang megah atau akomodasi rapat yang mewah, namun berbagai substansi pembangunan pun turut berkontribusi. Pengumpulan medali terbanyak dan posisi klasemen terbaik bagi kontingen Indonesia selama Asian Games berlangsung menandai pembangunan insan muda dan olahraga yang baik hingga mampu menyetarakan Indonesia dengan atlit olah raga dunia. Industri kreatif dan budaya bangsa mendapat sorotan internasional berkat acara pembukaan berkualitas setara Olimpiade. Serta tak kalah pentingnya adalah terbangunnya berbagai sarana dan prasarana olahraga berstandard internasional untuk kemajuan olahraga kita di masa datang. Semua substansi itu menjadi bagian penting terbentuknya fondasi peningkatan indikator-indikator pembangunan negara kita yang akan dilihat dunia.

Adalah IMF dan World Bank yang getol menyoroti indikator makro pembangunan semua negara di dunia, terutama negara-negara yang membutuhkan bantuan mereka, demi tercapainya perbaikan ekonomi di negara terkait. Konon 20 tahun lalu IMF datang ke Indonesia untuk memberi pinjaman saat krisis moneter melanda, yang kemudian berakhir dengan tumbangnya rezim Orde Baru kala itu. Citra IMF saat itu terkesan arogan di mata rakyat Indonesia, bagai rentenir yang siap menginjak kedaulatan negara dengan segepok uang ditangannya. Alhamdulillah masa itu sudah berlalu, utang itu pun sudah lunas, dan sekarang IMF datang lagi dengan Direktur baru dan attitude baru. Lebih friendly dan lebih respect pada Indonesia, sebuah negara kuat yang menurut dia memiki indikator ekonomi makro bagus dan sehat. Pendapat yang sama juga dilontarkan Direktur Bank Dunia disamping kepercayaannya pada mantan teman kantor, yaitu Menteri Keuangan Ibu Sri Mulyani, dalam mengelola keuangan bangsa dibawah arahan Presiden Jokowi yang juga dikaguminya.

Sekilas tentang IMF dan World Bank, keduanya didirikan setelah Perang Dunia Kedua, seperti halnya PBB, dengan tujuan awalnya merevitalisasi kehancuran pasca perang. Dalam perkembangannya hingga kini, peran IMF lebih fokus pada pembenahan regulasi ekonomi dan membantu penyelesaian krisis ekonomi di negara anggotanya, sedangkan World Bank bertujuan membantu negara-negara miskin dan berkembang melalui pembangunan di sektor-sektor yang dibutuhkan. Meski sekilas tampak mulia visi misinya, namun keduanya tak luput dari protes dan kritik sepanjang perjalanan sejarahnya, mulai dari isu pengekangan gerak bagi negara peminjam dana, hingga korupsi yang dilakukan oleh oknum dari negara peminjam dana. Namun demikian, sebagaimana PBB pun yang tak sempurna, kedua institusi ini masih berdiri dan dimanfaatkan oleh semua negara, demi terciptanya perdamaian dan kemakmuran umat manusia.

Kalau pencitraan Indonesia di ajang Asian Games berharga trilyunan Rupiah diambil dari dana APBN, maka perhelatan rapat IMF-WBG di Bali mendapat budget dari sumber sama sebesar 850 milyar Rupiah saja, yang bisa dianggap cukup “murah” jika dilihat dari sisi jumlah delegasi dan kualitas money spending mereka dibanding Asian Games. Yang sama dari keduanya adalah sebagian besar penggunaan budget dipakai untuk pembangunan infrastruktur. Pada Asian Games untuk membangun sarana prasarana olah raga di Jaka, sedangkan pada rapat IMF-WBG dipakai untuk membangun underpass dan bandara Ngurah Rai Bali. Dan tentunya kualitas entertainment negara kita dalam menjamu tamu tak bisa murahan juga. Fasilitas dan perjamuan premium untuk kedua perhelatan itu bisa diumpamakan selayaknya diri kita sendiri menjamu tamu di rumah kita. Konon kita boleh berharap, Insyaa Allah dengan menjamu dan menghormati tamu secara maksimal lagi ikhlas, maka rejeki kita juga akan dimudahkan, amin.

#GameOfThrones

Kenyataannya, perekonomian Indonesia bukanlah yang terbaik di dunia, meski juga jauh dari yang terburuk. Import kita yang lebih tinggi dari Eksport masih membebani Rupiah yang terus melemah terhadap Dolar Amerika Serikat, yang juga diperburuk oleh krisis keuangan global imbas perang dagang USA dengan Cina. PR-PR lain pun masih berjejer untuk diselesaikan oleh pemerintah. Namun demikian, itu semua tak lantas membawa Indonesia ke titik butuh duit hingga harus pinjam ke IMF, misalnya. Saat ditanya dalam sebuah wawancara apakah Indonesia butuh utang kepasa IMF, Direktur IMF menyatakan dengan penuh keyakinan bahwa, satu: Indonesia tidak minta, dan dua: Indonesia tidak butuh, karena indikator makro ekonominya kuat.

Berbagai faktor penunjang ekonomi dibahas dalam forum rapat tahunan tersebut. Selain agenda rapat pleno dan forum bank sentral, agendapun membengkak dengan berbagai seminar yang diharapkan bisa memperkaya wawasan perekonomian para perancang kebijakan ekonomi setiap negara peserta, seperti pemberdayaan wanita, keuangan digital, perubahan iklim dan penanggulangan bencana, dan sebagainya. Pembicara yang para ahli dibidangnya datang dengan biaya sendiri ke Bali, semacam “gratisan” jika dibandingkan dengan biaya mengundang mereka dalam sebuah acara seminar. Ini semua adalah agenda sisipan dimana topiknya disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia dalam perencanaan pembangunan bangsa, begitu ungkap Ibu Sri Mulyani. Dan Pak Jomowi pun mendukung penuh dengan menyampaikan kata sambutan di beberapa acara seminar, selain tentunya berpidato pada pembukaan rapat pleno sebagai agenda utama.

Tak pelak, Pak Jokowi adalah pembangun citra utama bagi Indonesia di mata dunia. Rangkaian pidato beliau dinilai memukau justru karena membumi dan manusiawi, informatif dan inovatif, serta berbagi filosofi dengan sangat hati-hati dengan bantuan analogi. Penggunaan serial tv Game Of Thrones saat pidato beliau di Rapat Pleno yang menganalogikan kondisi ekonomi dunia terpecah belah sangatlah efektif dan kekinian tanpa meninggalkan substansi filosofi yang dibawanya. Sebuah kreatifitas tinggi yang langsung dipuji oleh Direktur IMF dan Direktur Bank Dunia diatas panggung saat mereka pidato setelah Pak Jokowi. Dilengkapi dengan cuplikan film di layar presentasi, sontak hadirin terpukai sampai melakukan dua kali standing ovation, suatu penghormatan yang konon kabarnya belum pernah terjadi di ajang rapat tahunan ini.

Fixed. Dunia terpana pada Indonesia. Pada kita rakyatnya yang ramah, pada budaya dan alamnya yang sangat bhinneka, pada pembangunan beserta hasilnya, serta pada para pemimpinnya. Dan kini, Sang Pemimpin Bangsa ingin menyatukan para Pemuka Ekonomi Dunia. Bersatulah wahai kalian Negara Kaya! Karena, “Tidak ada artinya kemenangan yang dirayakan ditengah kehancuran. Tidak ada artinya menjadi kekuatan ekonomi terbesar ditengah dunia yang tenggelam.”

# T A M A T #

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s